Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Selamat Datang di Ruang Karya Keisya Avicenna... ^___^ Terima kasih atas kunjungannya... Semoga bermanfaat!

Jejak-Jejak Karya

Jejak-Jejak Karya

Langganan Tulisan dari Blog ini yuk!

My Blue Bird

http://www.bluebirdgroup.com/taxi-mobile-reservation

Waktu adalah Pedang


Home » , , , , , , » Dokumentasi Momen “NGISIN-NGISINI”

Dokumentasi Momen “NGISIN-NGISINI”

Mualunyaaa...


Kejadian-kejadian memalukan itu…

SD
Saat kelas 5, ada praktik memasak mie goreng spesial saat pelajaran Muatan Lokal. Saya berbeda kelompok dengan Mbak Thicko, kembaran saya. Saya dan kelompok saya mencoba membuat mie goreng Jawa spesial plus es jeruk. Hiasan dari wortel, cabai, tomat, dll, telah kami siapkan dengan sebaik mungkin. Penataan di piring kami buat dengan menarik. Hingga waktu untuk memasak pun habis dan saatnya penyajian ke dewan juri alias para guru penilai. Kami harus membawa hasil masakan kami ke kantor.

Saat di kantor, saya mendapatkan sebuah pertanyaan dari Pak Mahmud –guru IPS, beliau bertanya dalam bahasa Jawa ngoko alus. Saya lupa pertanyaanya, yang jelas saya harus menjawab dua puluh lima alias 25, tapi… dalam bahasa Kromo Inggil. Saya jawab aja “kalih doso gangsal”. Seketika Pak Mahmud dan para guru yang ada di situ tertawa. Saya bingung apanya yang lucu. Saya pun baru ngeh saat dikasih tahu Pak Mahmud kalau njawabku salah, 25 itu dalam bahasa Jawa Kromo Inggil yang benar adalah “selangkung”. Huahahaha, pengin rasanya krukupan kresek, secara para guru saya waktu SD kenal dekat sama Babe yang notabene sangat pintar bertutur kata dalam bahasa Jawa sampai level Kromo Inggil sekalipun. Maafkan Dik Nung, ya, Be… Hahaha. Ngisin-ngisini tenan ogh! Wong Jowo tapi ra njawani… ^_^

SMP
Setiap pekan pertama di hari Jumat, semua kelas 3 yang muslim mendapatkan jatah Jumatan di sekolah.  Jumat pekan pertama bawaan saya tentu bertambah berat, sudah bawa kamus yang tebal masih bawa mukena dan sajadah. Tapi, saya merasa ada yang aneh dengan bawaan saya Jumat itu. Kenapa berat banget, ya? Nggak seperti biasanya.

Sahabat dekat saya pun terheran-heran saat mencoba mengangkat tas saya karena berat sekali. Saya memakai tas ransel merk ALTO dan tidak membawa tas jinjing. Selidik punya selidik, sebelum saya dan beberapa sahabat saya ke tempat untuk shalat Jumat, saya mengeluarkan barang-barang dari dalam tas satu per satu. Alangkah kagetnya saya, saat saya tahu kalau ada benda aneh yang nyasar di tas. Aaaargh, saya jadi diledekin teman-teman. Ngapain bawa barang kayak gitu, memangnya mati lampu atau mau nyari jangkrik? Ngekngoook. Tahu nggak apa yang ada di dalam tas saya? Heuheu… Lihat gambar di bawah ini!

Sokle alias senter jadul. Gambar dari olx.

Saya tahu, siapa yang sudah berbuat usil memasukkan benda itu ke dalam tas saya. Ya, pasti Mas Dodoy! Kakak sulung saya yang super duper jahilnya nggak ketulungan itu. Mas Dodoy memang suka bikin ulah tujuannya sih seru-seruan sama adik-adiknya. Pernah pas tidur, bibir saya dan Mbak Thicko dikasih garam kasar yang sudah diikat benang, pernah juga di atas pintu dapur ditaruh ember yang tepung, dan lain-lain.

SMA
Saat masih jadi siswa baru di SMA, ada kegiatan Pramuka yang namanya PERPEGAK. Kami harus berkemah selama 3 hari 2 malam. Saya dibekali beberapa tip dari Mas Dodoy yang sejak SMP doi sering memenangkan kejuaraan Pramuka di sekolahnya. Salah satu tip yang doi kasih adalah “letakkan semua perlengkapan yang harus dipakai di sekitar lokasi tidurmu”. Karena waktu itu memang ada syarat, saat tidur tidak boleh pakai sepatu, pakai topi, bahkan pakai seragam Pramuka. Saya pun melaksanakan tip dari Mas Dodoy, karena kata Mas Dodoy bisa jadi ada sidak ke tenda-tenda dan bisa jadi akan dibangunkan secara mendadak saat tengah malam. Saya pun melipat seragam saya dengan rapi lalu saya letakkan di atas kepala saya lengkap dengan topi dan kelengkapan lainnya, sedangkan sepatu saya gunakan sebagai bantal.

Prit… prit… priiiiiiiit!
       
Peluit panjang berbunyi. Saya dan kelompok saya bangun dengan panik. Teriakan-teriakan dari kakak senior menyayat hati dan menambah kepanikan. Beberapa tenda dari kelompok lain ada yang dirobohkan. Alhamdulillah, tenda kami cukup kuat. Hihihi, yeaaay kakak-kakak nggak kuat ya bikin roboh tenda kelompok Manihot utilisima, yeee?! Saya pun bergegas berganti seragam Pramuka, mengenakan topi, peluit, dan tak lupa memakai sepatu.
       
Ayo, Dek… Cepat, Deeek! Lelet ya kalian semua! Bla… bla… bla…      
      
Kakak-kakak senior pada sibuk ngoceh n mbentak-mbentak. Saya pun segera lari turun ke lapangan dan berbaris berdasarkan kelompok masing-masing.

Selanjutnya, saat pengecekan kelengkapan seragam, ada seorang kakak senior cewek yang mendekati saya. Pas di dekat telinga saya, dia bertanya dengan nada tinggi.

“Udah rapi?”     
“Sudah, Kak!” dengan tegas saya menjawab.
“Yakin, sudah rapi???” tanya doi dengan nada makin meninggi.
“Siap! Sudah, Kaaaaak!” nggak mau kalah saingan saya pun menjawab dengan lantang.
“Coba lihat ke bawah!”

Cegluk…

Ealah, ternyata saya memakai sepatunya terbalik. Sepatu kanan saya pakai di kaki kiri, begitu sebaliknya. Saya pun buru-buru membetulkan sepatu saya. Masih dapat hadiah bentakan lagi.
       
“Kalau mau merapikan itu balik kanan dulu. Cepat!”

Dengan pasang tampang tengsin, saya pun buru-buru balik kanan sambil nahan ketawa. Mualu rasanya. Apalagi dilihatin oleh beberapa senior cewek yang lain.

Ya, mungkin 3 momen “ngisin-ngisini” di atas bisa jadi hiburan tersendiri saat saya mengenangnya…

[Kamis, 7 April 2016]
Day#11 One Day One Post FUN BLOGGING




3 komentar:

Arina Mabruroh said...

Hahahah :D

yang kalih doso gangsal itu paling bikin ngakak

Wiwiek Windayana said...

Itu pakai sepatu terbalik, gak berasa ya? Hihihi

Marita Ningtyas said...

Kok bisa pakai sepatu kebalik mbak? Hihihi

Pencarian

Popular Posts

Arsip Blog