Jejak Karya

Jejak Karya

Saturday, December 19, 2009

MAHABAH DI SURAU AL MUKHAROMAH

MAHABAH DI SURAU AL MUKHAROMAH (Part.1)
Oleh : Suli Al Fatih

(Cerpen ini ditulis agar yang baca bisa tersenyum, walaupun senyum kecil..hehe. Perlu pembaca ketahui bahwa cerpen ini ditulis belum selesai karena penulis kehabisan ide. Yang mau melanjutkan cerpen ini dipersilahkan dengan senang hati. Pesan penulis, "Maka Tersenyumlah" :D)


"Jambret..!!! Tolong..Toloooong!!"Suara gadis berjilbab itu melengking tinggi. Seorang pemuda berpakaian preman berlari sekuat tenaga menjauhi teriakan sang gadis. Tas warna coklat sudah ada ditangannya. Siang itu misinya berhasil. Jalanan masih sepi. Sang gadis hanya menangis tak mengeluarkan air mata.
***
"Sudah pulang nak?" tanya seorang ibu pada putra semata wayangnya sambil duduk di sebuah kursi roda yang sudah agak berkarat di beberapa sisi. Tangan kanannya memegang tongkat kayu agak panjang yang kini menjadi pengganti kedua mata tuanya yang sudah tak mampu lagi melihat garis wajah putra kesayangannya.
"Iya Mi..."
"Sana segera ganti baju terus makan. Ummi goreng tempe sama bikin sambel tomat di meja. Faisal sudah sholat dhuhur kan?"
"Iya sudah Mi.."
Ia masuk kamarnya yang sempit dan pengap di dalam sebuah rumah dinding anyaman bambu di pinggiran sungai agak kumuh. Dibukanya sebuah tas coklat yang dirampasnya dari seorang gadis di pinggi jalan tadi. Ia temukan di dalamnya beberapa benda. Pulpen, buku kecil, dan juga dompet. Matanya hanya tertuju pada dompet. Ia buka dompet itu dan ia temukan uang dua ratus ribu rupiah."Alhamdulilah..cukup untuk makan satu minggu" gumamnya.Ia periksa dompet dan ia temukan sebuah foto seorang gadis bersama seorang lelaki paruh baya. Dalam foto itu, sang gadis memakai tongkat. Ia buta. Faisal tersentak. Ia tercengang. Gadis itu mirip dengan keadaan ibunya. Di bagian bawah foto itu terdapat sebuah nama, Azka Humaira. Ia periksa dompet itu sekali lagi. Ada KTP nya. Si pemilik tinggal di dusun Tegalwaru Rt 2 Rw 12, sekitar sepuluh kilometer dari tempat tinggalnya.
***
Cahaya langit sore berpendar. Sang mega merah mulai meredup. Warna gelap mulai menggeliat hendak menyelimuti angkasa raya. Burung-burung beterbangan kembali ke sarang. Senja kembali ke peraduan. Panggilan tuhan berkumandang bersahut-sahutan. Takbir menggelegar. Alam seakan ikut bertasbih memuji kebesaran Sang Pangeran Pemilik Surga.Seorang anak belia tak kalah mengumandangkan adzan di sebuah surau tengah pedesaan. Suaranya nyaring. Merdu. Orang-orang kampung menyambut seruan itu dengan penuh semangat. Anak-anak kecil berlarian ke tempat wudhu dengan riangnya. Sarung kotak-kotak melingkar di leher. Beberapa pancuran air wudhu sudah penuh sesak oleh mereka. Anak-anak putri pun tak kalah semangatnya. Berlomba-lomba menggapai cinta Sang Maha Pencinta.Tak lama kemudian di surau Al Mukharomah sudah berjajar rapi barisan hamba-hamba yang merindukan kenikmatan surga. Sholat maghrib siap ditegakkan.Takbiratul Ihram menggema di setiap sudut surau berukuran sedang itu. Barisan shaf sholat serentak mengikuti gerakan imam. Khusyu berirama pelan mengikuti gerakan demi gerakan, doa demi doa, sujud demi sujud.***"Jamaah yang dirahmati Allah, cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah"Suara Kyai Hasan membuka kajian bada maghrib saat itu."Terkadang cinta itu diuji dengan sesuatu yang menurut akal manusia kelihatan tidak nalar. Contoh seorang hamba yang memiliki cinta tertinggi adalah Nabi Ibrahim Alaihissalam. Allah menguji beliau dengan ujian yang sangat luar biasa. Tidak masuk akal. Bertahun-tahun beliau memohon meminta seorang anak. Allah mengabulkannya. Tapi ketika anak itu lahir, Allah memerintahkannya untuk meninggalkan anak yang baru lahir itu beserta istrinya di padang tandus tak berpenghuni. Coba bayangkan, bagaimana seorang ayah tega meninggalkan bayi mungil dan istri yang amat dicintainya di tempat seperti itu. Tapi itulah namanya ujian. Tak masuk akal memang. Tak hanya itu, setelah putranya menginjak remaja, Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Subhanallah! Cobaan yang sangat teramat berat. Harus menyembelih putra yang sangat shalih dengan tangan sendiri. Dan juga ujian-ujian yang lain yang Allah berikan pada Nabi Ibrahim. Itu semua untuk menguji apakah Ibrahim memang menomorsatukan Allah di atas segalanya""Jamaah yang dirahmati Allah, tapi coba kita lihat, semua cobaan itu berakhir dengan bahagia. Ibrahim yakin bahwa Allah tidak akan membebani hambaNya melebihi batas kemampuannya. Itulah jalan Allah, indah pada waktunya"
***
Malam merangkak perlahan. Bulan beranjak naik ke singgasana langit. Bintang-bintang menghambur memenuhi hamparan semesta. Warga kampung terlarut dalam lelap.Sepertiga malam.Sebuah rumah sederhana tampak bercahayakan lampu minyak. Tidak terang dan juga tidak redup. Seorang pemuda tegak terpaku menghadap kiblat. Sajadah coklat terbentang menemaninya dalam keheningan malam. Hanya suara gemericik air sungai belakang rumahnya yang terdengar melantunkan syair kerinduan.Hati pemuda itu bergetar hebat. Tangis tak henti mengalir deras dari pelupuk matanya. Ia menangis karena kehilangan khusyu yang selama ini ia rasakan. Bayangan dosa yang menggunung menyelimuti hatinya."Rabbana, ampuni hamba..ampuni hamba..astaghfirullah" rintih Faisal dalam hati.Doa demi doanya terbang menembus langit. Ia mengaduh. Air matanya semakin deras. Sesal mendalam tampak terngiang menusuk batinnya.
***
Sementara itu di lain tempat, seorang wanita masih belum mampu memejamkan kelopak mata indahnya. Mata yang kini tak mampu melihat indahnya gemerlap bintang dini hari. Wanita itu adalah Azka Humaira, puteri Kyai Hasan pimpinan pondok pesantren Al Munawaroh."Ya Allah, jika hamba jatuh cinta, cintakanlah hamba pada lelaki yang melabuhkan cintanya pada-Mu" doa kecilnya terlantun perlahan.Pintu-pintu kamar santri berurutan digedor-gedor Kang Sulaiman, salah satu pengurus pesantren.
"Tahajud..!! Tahajud.!! Anak-anak ayo segera bangun!"
Lampu-lampu dalam kamar mulai menyala. Aktivitas pagi itu dimulai. Surau Al Mukharomah mulai bercahaya. Bagian depan santri putra sudah khusyu dalam sholat. Di barisan belakang santri putri turut menyemai barisan. Jutaan malaikat mengintip dari jendela langit seraya ikut bertasbih.
***
"Ummi, Faisal pergi dulu"
"Kemana Nak?"
"Ke dusun Tegalwaru mengembalikan dompet. Kemarin Faisal menemukannya di jalan"
"Ibu bangga padamu nak. Apapun keadaan kita sekarang, selalulah berlaku jujur. Walaupun kita miskin harta, kita tidak boleh miskin iman. Kita boleh miskin di dunia, tapi jangan sampai miskin di akhirat. Pantang bagi kita untuk makan hasil dari yang haram. Lebih baik mati daripada harus makan makanan haram!"Faisal menitikkan air mata. Ia merasa dosanya semakin menumpuk-numpuk, termasuk dosa berkali-kali membohongi ibunya. Juga dosa memberi makan makanan haram untuk ibunya tanpa sepengetahuan sejak ibunya buta dan sakit parah.Pagi itu Faisal berjalan kaki ke dusun Tegalwaru. Suasana pagi masih segar, belum panas. Mentari hangat menemani setiap langkahnya. Suasana pedesaan dan persawahan begitu kental saat kakinya menginjak dusun itu.
"Maaf Pak, dusun Tegalwaru sebelah mana?"
"Oh itu mas, sampeyan lurus saja terus nanti ada pertigaan belok kanan kira-kira dua ratus meter. Disana sudah ada gapura selamat datang di dusun Tegalwaru"
Langkahnya ia percepat. Sepuluh menit kemudian ia sudah sampai. Ia bertanya lagi pada seorang ibu penjual jamu gendong di pinggir jalan."
Maaf Bu, rumahnya Azka Humaira dimana ya?"
"Azka Humaira? Kayaknya ndak ada mas"
"Ini fotonya bu.." seraya menunjukkan foto Azka.Tampak ibu itu tidak mengenali Azka. Tapi ia mengenali lelaki dalam foto itu.
"Kalo bapak dalam foto ini saya tahu, ini Pak Kyai. Rumahnya di pondok pesantren Al Munawaroh. Sampeyan lurus saja. Ada perempatan belok kiri seratus meter. Pesantrennya cat warna hijau."Faisal ragu. Ternyata pemilik tas itu anak kyai. Dalam ragunya, ia bulatkan tekad untuk mengembalikan tas yang di jambretnya kemarin. Langkah kakinya terhenti di depan pesantren. Ia melihat ratusan pemuda belia mondar-mandir di setiap sudut pesantren itu. Ada yang sedang olahraga. Ada yang berkebun. Ada pula yang sedang membaca-baca buku di depan kelasnya. Ia melihat sekeliling. Ia bertanya pada salah satu santri."Mas, saya bisa bertemu Pak Kyai di mana ya?"
"Mas masuk saja ke rumah itu" jawab pemuda itu sambil menunjuk ke sebuah rumah kayu.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Siapa?" suara seorang wanita menyahut dari dalam rumah.Perlahan wanita itu membuka pintu. Faisal tersentak kaget. Wanita itu sama persis yang ada di dalam foto, Azka Humaira. Dengan tongkatnya, ia berjalan ke arah Faisal."Mau bertemu siapa?" tanya Azka pelan."Saya mau mengembalikan tas ini. Permisi"Tas coklat itu ia letakkan di lantai, dekat kaki Azka. Faisal buru-buru pergi tanpa mengucap salam."Mas.....Mas....!" seru Azka memanggil-manggil Faisal yang sudah berada di kejauhan."Mas namanya siapa?" panggilan itu tak berbalas.
***
Bola api raksasa menjilati bumi. Panas tak terkira siang itu. Langkah kaki Faisal menapaki teriknya jalanan."Pak, apa saya bisa bekerja disini? Jadi kuli angkut beras.." tanya Faisal pada lelaki tua berbaju gamis pemilik gudang beras di pasar Gentan. Lelaki itu memandangi Faisal dari ujung rambut hingga ujung kaki."Memangnya mas mau jadi kuli angkut beras? Sampeyan apa ndak malu? Lagipula gaji kuli disini cuma sedikit"
"Tidak pak, yang penting halal. Saya bekerja untuk menghidupi ibu saya"
"Baiklah kalau begitu. Besok mas.....siapa?""Faisal pak"
"Oiya, besok mas Faisal bisa mulai kerja dari jam satu siang sampai jam sembilan malam. Upahnya dua belas ribu per hari"
"Terimakasih pak"Satu minggu kemudian.
"Copet..! Copet.!! Tolong..!!!"
Preman bercelana jeans robek-robek di bagian lutut berlari seperti kuda. Ia berhasil mencopet lelaki agak tua. Faisal spontan mengejar pencopet itu. Mereka saling kejar beberapa menit lamanya. Faisal mampu mengejarnya. Seketika ia menghajar pencopet itu.
"Sal..ini aku! Ini aku!"
"Jafar?"
"Kamu ini kenapa Sal? Bukannya kamu ini temanku? Kita ini sama-sama pencopet Sal!"
"Tidak, aku sudah tidak mencopet lagi. Aku sudah taubat."
"Alah persetan kamu! Sekarang minggir! Aku mau pergi!"
"Pergilah. Tapi serahkan dompet itu. Kembalikan pada yang punya"
"Rupanya sudah jadi ustadz ya kamu sekarang?? Kamu nantang duel?!"
"Sadarlah Far, ini perbuatan dosa"
"Alaah..makan aja tu dosa!!"
Jafar masih tak mau memberikan dompet itu. Perkelahian pun tak terlelakkan. Faisal yang sejak kecil memang sudah terbiasa karate tak kesulitan mengalahkan Jafar. Ia berhasil mengambil kembali dompet itu.
"Awas kamu Sal!"
Jafar pergi sambil memaki-maki Faisal.
***
"Ini pak dompetnya. Lain kali hati-hati pak. Daerah sekitar sini banyak copet"
"Terima kasih nak. Ini ambillah.."
"Tidak perlu pak. Saya tidak mengharapkan ini. Sudah sepantasnya sesama manusia saling menolong"
"Nama saya Pak Hasan. Kamu siapa namanya nak?"
"Faisal"
"Ini kartu nama bapak. Kalau ada waktu mampirlah"
***
"Faisal, besok tolong antarkan beras ke alamat ini" Ibu Fatimah dusun Tegalwaru Rt 2 Rw 12, alamat yang diberikan pada Faisal. Rasanya ia mengenal alamat itu.Keesokan harinya dengan truk beras ia mengantar pesanan. Betapa terkejutnya ia ketika truk itu memasuki pekarangan pondok pesantren Al Munawaroh, tepat di depan rumah Azka Humaira. Lebih terkejut lagi ketika lelaki yang pernah ia tolong adalah pemilik rumah itu, Pak Hasan si pemilik pondok sekaligus ayah dari Azka.
"Kamu Faisal kan?"
"Iya pak"
"Alhamdulilah Allah masih mempertemukan kita"
"Beras ini harusnya pesanan Ibu Fatimah pak. Tapi kok alamatnya sama dengan bapak?"
"Iya Fatimah itu istri saya. Kemarin istri saya yang pesan beras untuk anak-anak santri"
"Nanti kalau sudah selesai menurunkan beras-beras itu masuklah ke rumah sebentar, ada sesuatu yang ingin bapak sampaikan."
"Baiklah pak"
"Langsung saja ya. Nak Faisal ini sudah berkeluarga?"
"Belum pak."
"Di pesantren ini ada seseorang yang harus Nak Faisal tolong"
"Memangnya kenapa dia pak?"
"Ada seorang wanita. InsyaAllah dia sholehah dan juga berbakti pada orangtuanya."
"Kau mau tidak bapak jodohkan dengan dia?"
"Mau..Mau..Mau..hihihi"
"Tapi dia memiliki satu kelemahan yang membuat dia merasa minder ketika dilamar. Gadis itu buta sejak kecil. Ia anak bapak. Namanya Azka Humaira"
"Tapi pak. Apa bapak tahu siapa saya? Saya dulu adalah pencopet lho. Raja Copet Profesional..Hahahaha..Hohohoho"
"Eh nak Faisal, sepertinya penulis cerpennya kehabisan ide tuh"
"Iya pak, kasihan dia. Ah biarin aja lah..haha"

- BELUM BISA SELESAI-

:)Sukoharjo
Lupa kapan tanggal bikinnya
Jam bikinnya juga lupa
****************************************************************************************************************
MAHABAH DI SURAU AL MUKHAROMAH (Part.2)
Oleh : Aisya Avicenna

Preambule (^^v) : Cerpen ini adalah kelanjutan dari cerpen SULI AL FATIH dengan judul yang sama.. Saya LANJUTKAN!!! Sudah melewati proses editing dari SULI AL FATIH lho... Selamat membaca...
***
"Langsung saja ya. Nak Faisal ini sudah berkeluarga?"
"Belum pak."
"Di pesantren ini ada seseorang yang harus Nak Faisal tolong."
"Memangnya kenapa dia, Pak?"
"Ada seorang gadis. Insya Allah dia sholehah dan juga berbakti pada orang tuanya. Kau mau tidak bapak jodohkan dengan dia?"
"Ehmm.. apa saya pantas bersanding dengan dia Pak?"
"Kenapa tidak? Tapi satu hal yang perlu kamu tahu Nak. Gadis itu memiliki satu kelemahan yang membuat dia merasa minder ketika dilamar. Gadis itu buta sejak kecil. Ia anak bapak. Namanya Azka Humaira."
Deg…degup jantung Faisal berdetak semakin kencang.. Tak disangkanya ia mendapat tawaran yang begitu membuatnya terperanjat. Dengan agak terbata-bata, dia berkata
"Ma-aa-af Pak, jujur saya katakan. Saya dulu adalah seorang pencopet."
Pak Hasan agak terkejut.
"Tapi, kamu sekarang sudah tidak mencopet lagi, kan?"
"Alhamdulillah, sekarang saya sudah bekerja menjadi kuli panggul beras. Insya Allah, saya bertekad untuk tidak mencopet lagi, Pak."
"Insya Allah, Bapak percaya dengan kamu. Bapak amanahkan anak bapak, Azka, pada kamu. Kamu bersedia menikahi anak Bapak yang buta?"
"Apakah bapak ridho dengan saya?"
"Insya Allah, Bapak ridho, Nak."
"Pak, bolehkan saya melihat Azka? Bukan untuk apa-apa, hanya untuk memantapkan hati."
"Oh tidak masalah. Kan Rasulullah juga pernah mengatakan dalam hadist Bukhari dan Muslim ‘Lihatlah terlebih dahulu perempuan itu, sebab yang demikian akan lebih menentukan bagi kebaikan hidupmu selanjutnya’"
Kyai Hasan memanggil Azka.
Selang berapa lama, Azka memasuki ruang tamu dengan membawa nampan berisi minuman. Meski tidak bisa melihat, tapi Azka sudah terampil menyajikan jamuan untuk para tamu. Dia sudah hafal setiap sudut rumahnya.
Dengan balutan gamis berwarna krem dipadukan jilbab coklat tua, dengan hati-hati Azka menaruh dua gelas teh manis di meja. Masih hangat. Faisal memperhatikan setiap gerakan Azka. Sebuah desiran halus kini singgah di lubuk hatinya.
"Bagaimana Nak Faisal, kamu siap menjadi pendamping Azka?"Pak Hasan kembali menanyakan
"Bismillahirrahmanirrahim, insya Allah saya siap, Pak!"
"Kalau begitu, besok pagi kita langsungkan akad nikah. Kamu siap?"
"Besok pagi, Pak??? Insya Allah, saya siap. Semoga Allah memudahkan. Lalu, apa mahar yang harus saya berikan?"
Dengan tenang Kyai Hasan menjawab, "Azka pernah bilang, cukuplah ayat Allah yang menjadi maharnya."
"Maksudnya apa Pak?"
"Kamu punya hafalan Al-Qur’an?"
"Insya Allah, surat Ar-Rahman adalah surat yang paling saya sukai, insya Allah saya sudah menghafalnya."
"Baiklah. Itu saja. Semoga Allah memudahkan pernikahan kalian."
***
Setelah Faisal meninggalkan pesantren, Pak Hasan memanggil Azka.
"Azka, Alhamdulillah Abi sudah menemukan pendamping yang cocok untukmu. Dia Faisal, seorang pemuda yang sholeh dan jujur. Insya Allah, besok pagi kita akan melangsungkan akad nikah. Kamu siap Nduk?"
"Alhamdulillah. Insya Allah, lahir dan batin Azka sudah siap. Terima kasih, Abi. Insya Allah, Azka percaya bahwa pilihan Abi adalah yang terbaik untuk Azka."
***
Udara malam ini terasa berbeda. Dinginnya tak biasa. Karena ada pendar-pendar halus dalam jiwa. Terpekur lama dalam sujud panjangnya. Faisal tak kuasa menahan tetesan bening dari matanya. Betapa Allah sangat mencintaiNya, sedang dia masih sering menghianatiNya.
Lantunan doa takzim juga membahana di sudut kecil pesantren AL Munawaroh, putri Kyai Hasan itu sedang menengadahkan kedua tangannya. Meminta pada Sang Pemilik Cinta.
"Ya Allah, jika hamba adalah potongan rusuknya, mudahkanlah jalan menuju pernikahan hamba dengannya. Jika telah Engkau tetapkan dia bagi hamba, bukakan tabir hati hamba untuk menerimanya apa adanya. Ya Allah, hamba mohon… keridhaanMu atas bersatunya hati kami dalam ikatan suci esok hari… Amin Ya Rabbal’alamiin"
***
Keesokan harinya, surau Al Mukharomah mendadak ramai tak seperti hari-hari biasanya. Beberapa santri mondar-mandir menata surau. Sederhana tapi cukup semarak, pertanda akan terjadi peristiwa istimewa di surau itu.
Pukul delapan pagi.
Faisal bersama ibu dan beberapa kerabatnya tiba. Kehadiran mereka langsung disambut hangat oleh Kyai Hasan dan istrinya. Faisal sedikit tegang. Sebentar lagi ia akan menyandang status baru, mengemban amanah baru. Pukul 08.30 acara dimulai. Diawali dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an dan khutbah nikah oleh Kyai Ahmad, salah seorang sahabat karib Kyai Hasan.
Dalam khutbah singkatnya, Kyai Ahmad menyampaikan beberapa nasihat yang dikhususkan untuk calon pengantin.
"…Anakku, Faisal Kurniawan! Istrimu adalah wanita yang dijadikan Allah bagian dari hidupmu. Sambut dia dengan penuh takwa. Terimalah dia apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Istrimu adalah rezekimu. Bersyukurlah dengan kehadirannya. Dan bergaullah dengan mereka dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena kamu mungkin tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. Allah menugaskan kamu untuk melengkapi kekurangannya. Allah memerintahkan kamu untuk memperbaiki kelemahannya. Seperti itulah seharusnya suami. Sehingga andai diperbolehkan seseorang bersujud kepada sesamanya, pasti akan diperintahkan seorang wanita bersujud kepada suaminya. Begitulah sabda Rasulullah SAW. Berperilakulah yang baik pada istrimu. "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya kepada istrinya."
Faisal menyimak khutbah Kyai Ahmad dengan serius. Sementara itu, dari kamarnya Azka juga tengah menyimak khutbah tersebut. Dengan mengenakan busana pengantin muslimah berwarna serba putih berkilauan, ia bagai ratu surga.
Sebelum ijab qabul, juga dilakukan proses pemeriksaaan administrasi oleh petugas KUA. Setelah itu, Faisal melantunkan Ar Rahman sebagai mahar yang ia berikan pada calon istrinya, Semua hening saat Faisal melafazkan surat ke lima puluh lima dalam Al Qur’an itu. Sesaat kemudian, Faisal bersalaman dengan Kyai Hasan. Prosesi ijab qabul-pun dimulai.
"Saudara Faisal Kurniawan, saya nikahkan Anda dengan putri saya, Azka Humaira dengan mahar hafalan Qur’an Surat Ar Rahman dibayar tunai."
Faisalpun menjawab, dengan menjabat tangan Kyai Hasan lebih erat.
"Saya terima nikahnya Azka Humaira binti Hasan Rosyadi dengan mahar hafalan Qur’an Surat Ar Rahman dibayar tunai."
SAH!!!
Dan semua orang yang hadir berucap doa…
"Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakum fii khairin…"
Dengan didampingi ibu Faisal dan Bu Fatimah, Azka dibimbing masuk surau.
Pendar-pendar cinta memenuhi setiap sudut surau Al Mukharomah. Semua turut bersuka cita atas terpautnya dua hati dalam ikatan yang suci. Syukur tak terperi tak hanya membahana di ruang hati Faisal dan Azka, tapi semua yang menjadi saksi mata pernikahan suci mereka. Pagi itu, sang bagaskara menyunggingkan senyumnya. Cerah.. Secerah hati mereka.
***
Sebulan berlalu.
Sudah hampir tiga minggu Faisal disibukkan dengan usaha barunya. Semenjak menikah dengan Azka, Faisal dan ibunya tinggal di lingkungan pesantren. Faisal membuka usaha toko kelontong dengan bermodal uang tabungannya. Dia berusaha untuk tidak terlalu bergantung pada keluarga Kyai Hasan. Sekarang dia adalah qawwam bagi istrinya, bagi keluarga barunya.
***
Suatu malam menjelang jam dua belas, Pesantren Al Mukharomah sudah sepi. Para santri sudah terlelap dalam istirahat malamnya. Malam itu, Faisal masih terjaga. Saat menoleh ke kanan, dilihatnya istrinya sudah terlelap. "Subhanallah, cantiknya bidadariku ini," batin Faisal. Tanpa membuat suara, Faisal beranjak keluar kamar. Ia hendak mengambil wudhu. Sesampai di depan surau Al Mukharomah, Faisal melihat ada bayangan hitam yang berdiri di depan kamar salah satu santri, sedang mencoba membuka jendela kamar itu dengan sebuah alat.
"Hey, siapa kamu?" teriak Faisal.
Bayangan hitam itu kaget dan berlari mendekati Faisal.
"MALING!!!" teriakan Faisal tertahan karena sejurus kemudian, bayangan hitam yang ternyata maling itu sudah berada tak jauh di depannya.
Terjadi perkelahian. Faisal kurang bisa membaca gerakan lawan karena lampu yang temaram. Tapi ia cukup sigap menangkis dan menghindari serangan yang bertubi-tubi tertuju padanya. Agak terkejut Faisal tatkala lawannya itu menghunuskan sebuah pisau ke arahnya. Tangan kanannya mampu menahan tangan lawan. Faisal mencoba memutar tangan lawan dan akhirnya pisau itu terpelanting jatuh. Saat hendak mengambil pisau itu, Faisal mengarahkan tendangannya sekuat tenaga. Maling itu jatuh terjerembab. Faisal berhasil membekuk maling itu. Membuat sang maling tak kuasa berkutik. Faisal mencoba membuka topeng hitam yang dikenakan si maling. Terkejutlah ia. Karena wajah di balik kain topeng itu tak lain adalah sahabatnya.
"Jafar???"
"Faisal???" Jafar pun tak kalah kaget.
"Kenapa kamu ada di sini, Sal?" Jafar penasaran.
"Tak penting buatmu! Kenapa kamu masih mencuri, Far? Tobatlah! Ingatlah akan azab Allah yang akan kau dapatkan nanti jika kau tak mau berhenti dari pekerjaan haram ini."
"Alahh…sok suci kamu! Jangan sok mengajari aku. Biarlah aku menentukan jalan hidupku sendiri. Kalau kau memang temanku, lepaskan aku sekarang sebelum orang-orang pesantren bangun dan mengeroyokku. Aku belum mau mati. Cepat, lepaskan aku!"
"Aku akan melepaskan kamu jika kamu mau berjanji tidak akan mencuri lagi." ujar Faisal
Jafar terdiam sejenak.
"Oke..aku akan berhenti mencuri. Sekarang, lepaskan aku!"
Faisalpun melepaskan cengkeramannya. Jafar mengambil pisaunya yang terjatuh, menyelipkan di ikat pinggangnya, lalu beranjak pergi.
Faisal menatap kepergian Jafar dengan harapan besar bahwa sahabatnya itu akan bertaubat.
Selang berapa saat, Faisal hendak menuju tempat wudhu. Langkahnya tiba-tiba tertahan. Ada yang menikamnya dari belakang. Sebilah pisau menembus rongga perutnya sebelah kiri. Darah segar bercucuran. Bugh!!! Faisal menoleh. Ia tersentak setelah tahu siapa yang menikamnya. Faisal terjatuh di depan Surau Al Mukharomah sebelum sempat berteriak minta tolong.
"Mampus kamu Sal! Cuihh!" si pelaku masih sempat meludahi wajah Faisal.
***
Jam satu malam, Kang Sulaiman berkeliling membangunkan para santri untuk sholat tahajud. Saat melewati depan surau, terperanjatlah ia karena menemukan sesosok laki-laki telungkup dengan perut bersimbah darah. Kang Sulaiman semakin bertambah kaget tatkala dia mengetahui siapa yang terluka itu. Faisal. Seketika itu juga dia berteriak dan para santri menghambur ke arahnya. Faisal sudah tak bernyawa. Sontak semua berucap "Innalillahi wa inna ilaihi roji’un".
Azka bangun hendak sholat tahajud. Saat meraba pembaringan sebelah kirinya, tak ditemukannya sosok yang ia cari. Dia memanggil nama sang belahan jiwanya itu, tapi tak ada sahutan. Azka berjalan keluar. Baru beberapa langkah keluar kamar, Azka dikejutkan dengan kehadiran ibunya yang langsung memeluk dan berkata sambil menangis.
"Tabahkan hatimu Nduk."
"Ada apa, Ummi? Kenapa nangis?"
Dengan terbata-bata, Ibu Fatimah menceritakan kejadian yang menimpa Faisal.
Azka menjerit tertahan dan menangis, "Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. La haula wala quwwata ila billah…"
"Azka, kamu harus kuat. Ini sudah menjadi suratan takdir dariNya. Kamu harus tabah."
Masih sambil menangis, Azka mencoba untuk tabah. "Ummi, antarkan Azka menemui bang Faisal."
Bu Fatimah dan Azka berjalan beriringan menuju surau Al Mukharomah.
Di surau itu, sudah ada Kyai Hasan dan ibunda Faisal. Semua masih syok dengan kejadian yang baru saja menimpa Faisal. Azka tersungkur di samping jasad Faisal. Dia menangis..
"Suamiku…maafkan aku belum bisa menjadi pendamping yang baik bagimu. Maafkan aku belum bisa membahagiakanmu sampai akhir hayatmu. Aku sangat mencintaimu. Sungguh mencintaimu. Selamanya.…"
Azka terisak dalam kesedihan yang memuncak.
"Bang Faisal….!!!"
***
Satu bulan sebelumnya. Tepat satu hari setelah hari pernikahan.
"Sudah lengkap mengisi formulirnya Pak?"
"Iya sudah. Ini Pak," Faisal menyerahkan formulir yang baru diisinya.
Faisal keluar dari RS Aini. Rumah Sakit Mata. Ia mendonorkan kornea matanya. Untuk Azka. Istri tercinta.
***
Sebuah kamar. Kamar yang penuh cinta. Kamar penuh kenangan. Kenangan bersama suami tercinta. Di kamar itu ia memadu kasih dengan Faisal. Di kamar itu ia bercanda dan berbagi cerita dengannya. Di kamar itu ia bercerita berjam-jam dan suaminya hanya mendengarkan kisahnya tanpa banyak berkomentar. Kamar yang indah.
Hari itu hari pertamanya ia bisa melihat dunia. Kamar itu kamar pertama yang ia lihat. Jauh dari yang pertama, ia sangat ingin melihat yang pertama kali, wajah Faisal, suaminya. Tapi ia sadar, itu tak mungkin. Rasanya baru kemarin ia bercanda dengan suaminya. Baru kemarin ia bermesraan dengan suaminya. Baru kemarin ia memadu kasih dengan suaminya. Baru kemarin..
Ia membuka lemari. Hanya satu yang ingin dilihatnya, wajah Faisal. Pandangan Azka seketika melesat pada album foto. Foto pernikahan mereka. Ia buka halaman pertama. Sebuah surat. Kertas warna pink. Surat cinta. Azka bergetar. Ia rasakan kehadiran Faisal begitu dekat dengannya. Perlahan ia buka lipatan surat cinta itu..
Assalamualaikum
Azka sayangku, cintaku, bidadari surgaku..
Adek apa kabar hari ini? Semoga senyum manis adek selalu mengembang setiap hari. Saat adek baca tulisan ini, mungkin abang sudah ndak ada lagi di dunia. Abang sudah di surga dek insya Allah. O iya dek, abang pengen bilang sesuatu nih, dengerin baik-baik ya…
Abang cintaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget sama adek..
Abang sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaanggg banget sama adek.
Abang selalu kangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen sama adek.
Cium jauh untuk Dek Azka-ku tercinta..
Air mata bening meleleh di pipi putih Azka. Air mata itu mengalir dari matanya, mata pemberian Faisal. Itu mata Faisal! Seketika senandung syair rindu bertebaran memenuhi setiap sudut kamar. Rindu pada kekasih hati. Rindu pada suami tercinta. Rindu yang tak mungkin berbalas. Rindu dari surga.
Ia lanjutkan membaca tulisan Faisal.
Adek pasti sekarang lagi bahagia kan bisa melihat dunia lagi?
Adek pasti lagi seneng ini?
Eh dek, jangan kaget ya kalo liat foto abang.
Gimana? Abang ganteng kan? Kata ibu-ibu di kampung sih abang ini paling ganteng sekampung..hehe
Dek, jangan pernah nangis ya, itu pesen abang. Selalu lah ceria. Jadi ustadzah yang baik ya di pesantren. Jadikan mereka seperti adek. Bimbing mereka ke jalan Allah. Abang nitip toko sama nitip ibu sekalian ya. Tolong jagain ibu. Titip mata abang juga ya dek.
Setiap adek membuka mata, maka di situ ada abang.
Abang akan selalu ada untuk adek.
Abang selalu menemani adek.
Dek, abang punya satu permintaan. Abang harap adek bisa memenuhi permintaan abang yang terakhir ini.
Bismillah.
Dek Azka Humaira yang paling cantik, istriku sayang..abang mohon
M-E-N-I-K-A-H-L-A-H L-A-G-I.
Abang selalu mencintai adek. Sampai mati. Abang tunggu di surga ya dek. Insya Allah.
Wassalamualaikum.
Dari yang selalu mencintaimu,
Faisal Kurniawan
Tangis Azka semakin deras tak terbendung. Pipi kemerahannya bagai diguyur derasnya air mata yang mengalir tanpa henti. Rindunya semakin besar pada Faisal. Cintanya semakin menggunung. Bagaimana mungkin ia bisa memenuhi permintaan terakhir suaminya. Azka tidak mau mengkhianati cintanya pada Faisal, meski Faisal telah tiada. Ia tak mau mengkhianati mata Faisal. Ia tak mau!
"Maafkan adek, Bang.." kata-katanya mengiringi isak tangis.
"Cinta adek hanya untuk Bang Faisal seorang."
-SELESAI-


Jakarta,131209
Aisya Avicenna

1 comment:

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Salam,


Keisya Avicenna