Jejak Karya

Jejak Karya

Sunday, November 07, 2010

“TENTANG AKU, EMBUN, DAN KERINDUAN INI”

Sunday, November 07, 2010 0 Comments


By : Keisya Avicenna

Kuberdiri di penghujung malam
Kupasang sayap rapuhku
Dengan sisa kekuatan
Mencoba mengepakkan, arungi mimpi yang hampir tak meninggalkan jeda
Sejenak, meluangkan waktu
Semakin terasa kerinduan yang mendera
Hingga ku tak bisa bedakan pagi atau senja

Setetes embun jatuh di penghujung malam
Menyejukkan panasnya rindu yag tlah berubah menjadi sembilu
Menumbuhkan tunas-tunas harapan yang terlanjur layu…

Kerinduanku pada gemercik air wudhu yang membasahi wajahku
Kerinduanku pada takbiratul ihram yang meluncur dari bibirku
Kerinduanku pada hamparan sajadah yang menjadi alas pengabdianku
Aku rindu sujud panjangku…
Aku rindu tangisan taubatku….

Duhai Ya Rabbi…..
Aku rindu saat-saat menghadap-Mu…

***

Dan sang pagi menjelang…
Masih ada tetes kerinduan dari gemericik air sisa hujan tadi malam…
Hawa sejuk yang menyelinap relung kalbu
Menghadirkan kembali kemilau cinta dalam ruang khayalan...
Mensketsa imajinasi dalam inspirasi tanpa batas..
Tentang aku, embun ,dan kerinduan ini..

Embun pagi yang bersahaja…
Menambah kemewahan romantisme pagi
Iringi rona jingga sang bagas yang perlahan meninggi tuk terangi hari
Lisan mengucap penuh kesyukuran tiada henti
Atas kesempatan luar biasa yang telah Allah SWT beri
Sajian pagi yang harus ku syukuri

Dan kubiarkan embun tetap mengeja keheningan
Menetes sampai sang bagas habis menguapkannya
Ia mencoba memecah kebekuan dengan denting melodi...
mengatasnamakan CINTA dari setiap tetesan suaranya
masih “tentang aku, embun, dan kerinduan ini..."


[Zona Nostalgia RoMAntic, 7 November 2010…di sepertiga malam terakhir, aku merindu-Mu…SANGAT! Teruntuk “MANUSIA CAHAYA” : “Ingatkan engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya…”]

Friday, November 05, 2010

Sebuah “PELEPASAN” : GALAKSI KINANTHI (Tasaro GK)

Friday, November 05, 2010 0 Comments


Galaksi Kinanthi menjadi salah satu novel yang wajib saya baca ketika saya ‘mbolang’ di Jakarta. Kebetulan Mbak Thicko ‘mysupertwin yang sangat rajin membaca, rajin koleksi buku, koleksi benda-benda Doraemon sampai koleksi kaos kaki 10.000 tiga…xixixi…,yang rajin menabung, pintar menulis, cerdas, SMART n VISIONER lah!! Aku bangga padamu mysup, aku bersyukur lahir bareng kamu…!!! hehe, ia dapat pinjaman rekan penulisnya (anak FLP Jakarta). Kesempatan ikutan baca juga nih!!!

Sekali lihat langsung terpikat, apalagi pas baca endorsment yang bertebaran di novel itu, dari mulai nama Helvy Tiana Rosa (mimpi 133 : belum terwujud), Dewi Lestari, Bambang Trim (mimpi 141 : Alhamdulillah sudah terwujud…suatu kebahagiaan luar biasa bisa bertemu bapak!!!), Ahmad Tohari, Imam Tantowi, Gola Gong (mimpi 133 : belum terwujud), hingga Inu Kencana (sudah pernah ketemu di FKIP UNS). Endorsment yang menguatkan tidak biasanya novel ini. Sip…tapi sebelum membaca novel ini, saya pun mengkhatamkan 2 novel Tere Liye dulu : “DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN” dan “BIDADARI-BIDADARI SURGA”. Wow, luar biasa!!! Novel yang menguras air mata…T_T (coz dah penasaran duluan ma 2 novel ini)

Novel Galaksi Kinanthi menjadi sahabat perjalanan saya saat membelah belantara Jakarta pada tanggal 31 Oktober 2010 (tak bawa ke Senayan –sempet tak baca di depan pintu sector 12 pas nunggu seseorang, cuek aja padahal orang-orang di sekitar saya pada sibuk OR fisik saya sibuk olahraga otak..xixixi-, siangnya ikut tak bawa ke Monas, Masjid Istiqlal, naik busway, naik kereta ke Depok, yang akhirnya nginep di rumah Mbak Fadhil –gak belajar soal CPNS malah baca novel.hehe-, keesokan paginya pas tanggal 1 November 2010 tu novel menemani saya mengerjakan tes CPNS BADAN POM RI di Balairung UI Depok (akhirnya saya ke UI, mewujudkan impian no.60!!! WOW…) dan endingnya menemani saya di angkot dari UI-Pasar Minggu-Otista…untung gak pake nyasar, saya sangat menikmati pas mbaca di angkot…cuek2 aja coz di luar si Komo lagi pada pulang sekolah so macet euy…^^v).
***
Setelah menikmati covernya yang sungguh artistic dan sedap dipandang mata, apalagi bagi seorang GREENHOLIC seperti saya, hehe..dominan warna ijo sih… kemudian saya menuju daftar isi..wow, sangat keren, kata-kata yang tidak biasa. Berbau ‘ASTRONOMI’…langsung mengingatkan saya dengan ITB dan Boscha…(kapan bisa ke Boscha???). SAYA SUKA!!! SANGAT SUKA!!!

Virgo (Sang Perawan), Cancer (Kepiting), Leo (Singa), Lyra (Dawai), Crux (Layang-layang), Sagitta (Panah), Vulpecula (Musang), Pavo (Merak), Orion (Pemburu), Pegasus (Kuda Terbang), Cepheus (Raja), Cassiopeia (Ratu), Bootes (Penggembala), Vela (Layar), Ara (Altar), Perseus (Pahlawan), dan Paus saja mampir ke Gunung Kidul.Sangat menarik.

Membuka Bab Pertama yang berjudul Virgo (Sang Perawan), saya langsung disuguhi tulisan ini…

Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta.. Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika engkau merasa ia memperhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa mau disebut gila. Berhati-hatilah...

Kelak, hidup adalah ketika engkau menjalani hari-hari dengan optimisme. Melakukan hal-hal hebat, menikmati kebersamaan dengan orang-orang baru. Tergelak dan gembira, membuat semua berpikir hidupmu telah sempurna.

Sementara, pada jeda yang engkau buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda yang berpijar, ketika sebuah lagu menyeretmu ke masa lalu, wajahnya memenuhi setiap sudutmu. Bahkan, langit membentuk auranya. Udara bergerak mendesaukan suaranya. Bulan melengkungkan senyumnya. Bersiaplah... Engkau akan mulai merengek kepada Tuhan. Meminta sesuatu yang mungkin telah haram bagimu.


Hmm, fantastis!!!
***
Novel ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Kinanthi yang memiliki tekanan hidup yang hebat dalam hidupnya. Bagaimana tidak, ia terlahir dari seorang ibu yang terkenal dengan baulawean (mitos jawa: perempuan yang setiap menikah, suaminya meninggal), masnya preman pasar dan kakak perempuanya seorang WTS. Dan sebagai pelengkap tekanan, bapaknya adalah seorang tukang judi.

Kondisi ini membuat kehidupan Kinanthi menjadi tidak bersahabat dengannya, karena keluarganya di jauhi oleh lingkungan sekitar. Uniknya ada satu orang yang dengan setia menjadi sahabat sekaligus teman pelipur lara. Ia adalah Ajuj, seorang anak rois (petinggi agama di kampung).

Dari sinilah konflik demi konflik terjadi ketika Kinanthi masih kecil, hingga puncak konflik yang sangat tidak lazim terjadi. Bapak dan ibu Kinanthi menjual Kinanthi dengan lima puluh kilo gram beras dengan seorang pasangan yang tinggal di Bandung. Dengan iming-iming di sekolahkan bapak dan ibunya rela melepas Kinanthi ke tangan pasangan tersebut.

Konflik tidak berhenti sampai disini, pada awalnya pasangan tersebut baik kepada Kinanthi, hingga suatu ketika ada peristiwa teman satu sekolahnya yang bernama Gesit ingin memperkosanya. Kejadian itu membuat keluarga yang mengadopsi Kinanthi salah sangka, mereka menganggap Kinanthi adalah seorang yang tidak tahu diri dan tidak bisa menjaga martabat keluarga. Alhasil penyiksaan secara psikologispun dimulai, dan Kinanthi diperlakukan seperti budak di rumah keluarga tersebut.

Belum selesai penderitaan Kinanthi, ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya dijual kembali kepada penampung TKI untuk di kirim ke Arab. Dan selanjutnya penderitaan demi penderitaan sebagai TKI dimulai. Penyiksaan fisik dan psikologis seolah menjadi makanan sehari-hari TKI tersebut. Dan ia pun berpindah-pindah dari tangan majikan satu ke majikan lain, setelah ia dibawa kabur dari Arab ke Kuwait.
Pada suatu saat ada keluarga dari Kuwait yang ingin menjadikan Kinanthi sekolah di Amerika, dan ini kesempatan yang tidak disia-siakan oleh Kinanthi. Ia pun pergi ke negeri paman Sam dengan harapan baru. Namun sampai disana apa yang terjadi? Ternyata keluarga yang mengajaknya ke Amerika masih memiliki hubungan keluarga dengan salah satu majikannya di Kuwait yang ia lawan ketika akan menyiksanya.

Alhasil penderitaan demi penderitaan dimulai. Dari mulai dipukul dengan tongkat base ball, sampai dengan pemerkosaan. Sungguh sebuah kebiadaban di jelaskan dengan cukup pilu hingga akhirnya ia dapat meloloskan diri dari rumah majikannya dan ditolong oleh sepasang muslim yang baik hati.

Sampai sini semua perubahan dimulai dan Kinanthi berkembang dan tumbuh menjadi seorang professor. Nama Kinanthi menjadi “KINANTHI HOPE” (ia menambahkan kata ‘Hope’ di belakang nama aslinya), Kinanthi juga mendapatkan julukan dari sebuah media : Queen of New York. Namun di tengah kesuksesannya ia mengingat orang yang selalu dicintai dalam bayang dan ingatannya. Dari sinilah konflik psikologis dimulai kembali dan Kinanthi kembali ke kampung halamannya. Mampukah Kinanthi bersatu dengan Ajuj kembali ??? ahihihihi….PENASARAN??? silahkan baca dan beli novelnya sendiri yaw…!!! Kereeen….

***
“Suatu saat, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau cintai. Sebab, dengan atau tanpa seseorang yang kamu kasihi, hidup harus tetap dijalani.”
Jelas ini novel cinta, tapi bagi saya ini bukan novel cinta yang biasa. Mas Tasaro GK (apa GK itu singkatan dari Galaksi Kinanthi atau Gunung Kidul; asal lahirnya Mas Tasaro ya?? Hehe..penasaran.com), ingin kembali menghadirkan spirit Romeo dan Juliet dalam spirit yang lebih agung…

Ini tentang harapan, bagaimana mencintai itu adalah satu hal dan memiliki itu adalah hal lain. Bagaimana memahami perasaan memikirkan seseorang bertahun-tahun dan mencoba melepasnya karena waktu berjalan terus.

Bahkan novel ini memberi pesan yang sangat besar tentang Sang Pencipta, aroma spritualnya sangat terasa, kata-kata yang penuh filosofi, penokohan yang sangat baik, alur cerita yang dramatis dan ending yang benar-benar diluar dugaan.
Sungguh! Bentangan kisah di dalam novel ini amat menggetarkan! Belum percaya? Coba baca paragraph menjelang akhir dari novel ini (semoga nambah penasaran bagi yang belum baca n jadinya pengen segera baca…apa yang sebenarnya terjadi???) :
Tidak ada. Tidak bisa berbuat apa-apa. Handphone Kinanthi terpelanting ke lantai kapal. Sementara pemiliknya tergeragap menatap langit. Bibirnya gemetaran, hatinya porak poranda. Setiap pori di tubuhnya meluapkan ketidakpercayaan. Setiap sendi enggan ditekuk, setiap tulang rasanya tercabut. Bahagia kadang terasa begitu menyakitkan….

***
Dan satu hal yang membuat saya PENASARAN dan sangat tertarik, kenapa lantunan music klasik nya Mozart tidak ngefek dengan perubahan Ajuj tetapi justru Sebelum Cahaya-nya Letto??? (tolong jawab Mas Tasaro!! Hehe…karena tembang ini juga menjadi salah satu tembang yang sangat inspiratif bagi saya!!! Mimpi 144 : bertemu dan diskusi bareng Mas Tasaro GK..status : belum terwujud, tapi sudah pernah diwakili mysupertwin…hehe…)
SEBELUM CAHAYA
(tembang yang mengalun saat saya menulis ‘note’ ini…)

***
[Zona Nostalgia RoMAntic, Serakan Inspirasi Keisya Avicenna *diambil dari berbagai sumber, nyomot sana-sini…^^v, 4 November 2010…paling suka kata “PELEPASAN’ yang dilakukan Kinanthi saat memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah 20 tahun…ya sebuah “PELEPASAN”…dan saya pun belajar MEMAKNAINYA!!!]

Thursday, November 04, 2010

s = v x t

Thursday, November 04, 2010 0 Comments
Krn jarak..akan mengajarkan qt menghargai waktu..

Krn jarak...akan memberi makna dr sebuah rasa rindu..

Krn jarak...menjadikan setiap detik begitu brharga setiap kali bertemu..

Krn jarak itu kecepatan x waktu..



Sekedar bermain imajinasi menciptakan jembatan yang seolah mempertemukan kita.



Jarak boleh memisahkan kita, sementara rindu tetap ada dalam ruang hati kita.



***

Sejatinya, kita yang telah 'menciptakan' jarak dan waktu... kita tentu masih ingat dengan teori Newton, yang mengemukakan bahwa semua benda bersifat diam, kecuali saat mendapat pengaruh dan gesekan dari suatu peristiwa.



Dan pergerakan jarak dan waktulah yang telah membuat raga kita ada, tanpanya, kita tak kan pernah mengenal pertemuan, perpisahan, persahabatan, hingga lahirlah fenomena dan kejadian yang membentuk kualitas fisik bereksistensi, lantas mengapa kau selalu bersedih akan adanya jarak dan waktu?





Katamu, "jarak dan waktulah yang memisahkan kita", hipotesismu sungguh keliru, Sahabatku....

karena tanpa kau sadari, jaraklah yang telah menyatukan kita, dan waktulah yang kan pertemukan esensi kita..



TERUSLAH BERJUANG, SAHABATKU!!



~Karena kita masih berpijak di atas bumi yg sama,di bawah naungan langit yg sama..



[Keisya Avicenna, sungguh Allah SWT telah memberi apa yang aku butuhkan, bukan apa yang aku inginkan...Terima kasih, Ya Allah...Pilihan-Mu pasti TEPAT dan TERBAIK untukku...aku BELAJAR MEMAKNAI SEMUA INI...^
^]

BENDERA PUTIH

Thursday, November 04, 2010 0 Comments
by Norma Keisya Avicenna on Thursday, November 4, 2010 at 4:35am

Babak baru..membuka kembali lembaran pertama di hari ini..
Pagi datang,tawarkan brjuta harapan..

Serasa terbangun dr alam mimpi..

Tp ini bukan mimpi kawan,hey..ini kenyataan!!

Aku seperti tersadar dr mimpi lamunan panjangku..

Aku sudah kehabisan kata2..
Langkahku sudah tak tahu arah..

Semua begitu rumit,dan sungguh..sebenarny q tdk suka dgn nuansa seperti ini..

Akankah q kibarkan 'bendera putih'??

Akal sehat dan logikaku sdh tdk bs berkompromi lg dg sang waktu..

Apakah ak hrus menyerah?
Berkata :"Sudah..cukup!! Hentikan! Aku lelah.."
dan itu berarti aku kalah!

Aku berdamai dgn ketidakberdayaanku..

Ya,krn ak hanyalah seorang manusia..
Insan fluktuatif..

Tegar,namun terkadang rapuh..

Tp aku yakin,kisah ini baru dimulai..

Ya Allah,KUATKAN AKU.. LINDUNGI AKU,DALAM GELAP dan TERANG HATIKU...

[Sebelum Cahaya dalam Galaksi Cinta Keisya Avicenna]

Tuesday, November 02, 2010

Sebelum Cahaya

Tuesday, November 02, 2010 0 Comments
Ku teringat, hati,
yang bertabur, mimpi,
kemana kau pergi, cinta
Perjalanan sunyi,
yang kau tempuh sendiri,
kuatkanlah hati, cinta


Ingatkan engkau kepada,
embun pagi bersahaja,
yang menemani mu,
sebelum cahaya
Ingatkan engkau kepada,
angin yang berhembus mesra,
yang ‘kan membelai mu, cinta

Kekuatan, hati,
yang berpegang, janji,
genggamlah tangan ku, cinta
Ku tak akan pergi,
meninggalkan mu sendiri,
temani hati mu cinta

BIDADARI-BIDADARI SURGA (TERE LIYE)

Tuesday, November 02, 2010 0 Comments

Kepedihan, penderitaan, suka cita, canda tawa, cinta dan pengorbanan, tumpah ruah di pondok bambu Lembah Lahambay rumah keluarga mamak Lainuri dan Laisa. Pengorbanan tulus tiada tara seorang Laisa. Setelah bapaknya meninggal dicabik-cabik harimau gunung Klendeng, mamak Lainuri lantas berjuang demi kelangsungan hidup anak2nya. Laisa memutuskan berhenti sekolah dan berjanji dalam hatinya untuk memperjuangkan pendidikan adik2nya hingga mereka sukses.

Suatu saat mereka menerima pesan dari mamak Lainuri: “PULANGLAH. Sakit kakak kalian semakin parah. Dokter bilang mungkin minggu depan, mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar tidak ada waktu lagi. Anak-anakku, sebelum semuanya terlambat, pulanglah..”

Kisah perjalanan mereka diceritakan apik dan sederhana tapi menyentuh oleh penulis. Dengan gaya penceritaan alur mundur dan meloncat-loncat, cerita tetap enak dinikmati.

Novel ini LUAR BIASA!!! tentang pengorbanan seorang kakak (Laisa) demi kesuksesan keempat adik tirinya (Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta). Juga cinta, semangat, kerja keras, dan doa kepada Tuhan. Namun, Tere-Liye mengemasnya dengan begitu cantik, apik, menyentuh, dan sangat manusiawi. Deskripsinya tentang keindahan alam Lembah Lahambay yang dikelilingi batu cadas setinggi lima meter, Gunung Kendeng, sungai, hutan rimba, dan kebun strawberry nyaris sempurna. Pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri panorama-panorama tersebut di depan matanya, persis menonton sebuah film dengan alur maju-mundur yang begitu rapat.


Kak Laisa, seorang teladan dalam keluarga yang sudah terbiasa bekerja keras setelah babak (ayah) nya meninggal karena dimakan harimau Gunung Kendeng. Kak Lais, begitu ia dipanggil, memiliki keterbatasan fisik. Tubuhnya pendek (ketika dewasa hanya setinggi dada adik-adiknya), hitam, rambut kumal, dan gemuk serta dempal. Berbeda sekali dengan keempat adiknya yang tampan-tampan dan cantik. Ia mungkin tidak memiliki kecantikan fisik yang didambakan oleh setiap lelaki, tetapi ia memiliki kecantikan hati yang luar biasa yang mungkin sebetulnya lebih dibutuhkan oleh semua lelaki.


Bagaimana tidak, Kak Lais dengan ikhlas meminta kepada mamak (ibu) nya untuk berhenti sekolah saja saat kelas 4 SD, demi melihat keempat adik tirinya bisa sekolah, karena ia tahu saat itu mamaknya tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan kelima anaknya sekaligus. Dengan ketekunan kerjanya bersama mamak, akhirnya Lais berhasil memiliki ribuan hektar kebun strawberry yang sebelumnya sama sekali belum pernah ditanam oleh penduduk Lembah Lahambay.


Dari kampung terpencil di pinggir hutan, Dalimunte, Profesor muda yang mengejutkan dunia science dengan penelitiannya “Pembuktian tak terbantahkan Bulan yang pernah terbelah”. Dalimunte berhasil menciptakan rangkaian kincir air saat umurnya beranjak 12 tahun, sebagai cikal bakal kemakmuran di lembah Lahambay. Dalimunte akhirnya berhasil menjadi profesor di bidang fisika yang terkenal di seluruh dunia, dengan penelitian terbarunya tentang “Badai Elektromagnetik Antar Galaksi” yang akan menghantam planet ini sebelum kiamat. Ikanuri dan Wibisana meskipun beda jarak usianya satu tahun tetapi sering dianggap kembar, berhasil mendirikan bengkel mobil modifikasi dan akan membangun pabrik spare-part mobil sport, dan Yashinta si bungsu yang mendapat beasiswa S2 ke Belanda dan menjadi peneliti untuk konservasi ekologi, meneliti tentang burung Peregrin atau Alap-alap Kawah dan sejenisnya, serta menjadi kontributor foto untuk majalah National Geographic.


Keempat adiknya tergolong mudah dalam mencari jodoh. Bagaimana tidak, mereka secara fisik menarik, pandai, shaleh, bisa menempatkan diri dengan baik, dan tetap rendah hati. Sedangkan Kak Lais? Hingga usianya 40 tahun lebih, belum juga mendapatkan jodohnya. Kak Lais bukannya tidak peduli dengan omongan penduduk kampung, apalagi setelah dilintasi (ditinggal menikah lebih dulu) tiga kali oleh adik-adiknya, tetapi Kak Lais selalu mengatakan kepada Dalimunte bahwa Allah telah mengirimkan keluarga terbaik dalam hidupnya, dan itu sudah cukup. Ia menerima takdir Tuhannya dengan lapang dada, meski tak dipungkiri setiap habis shalat tahajjud ia sering menghabiskan waktu sendirian di lereng bukit, bernostalgia tentang adik-adiknya yang dulu nakal sekali sekarang sudah sukses semua, dan tentunya merenungi tentang hidupnya sendiri; memandangi kebun strawberry yang luas, menuggu hingga langit menyemburatkan cahayanya tanda subuh menjelang. Dalimunte lah yang sering menemani kakaknya disana, setiap dua bulan sekali kepulangannya dari luar negeri. Haru, sedih, tawa, bangga, bergantian saat membaca kisah ini. Saya dibuat menangis oleh penulis saat detik-detik kematian Laisa, bersamaan dengan pernikahan Yashinta dan Goughsky, saat Laisa menerjang hujan mencari dokter demi Yashinta. Saat ikanuri mengatakan kau bukan kakak kami.


Romantisme juga disuguhkan dalam cerita ini. Saat Dalimunte dan Cie Hui menikah di lembah strawberry. Saat Yashinta bertengkar dengan Pria setengah-setengah bermata biru keturunan Uzbekisthan. Dan saat 2 sigung bebal, Ikanuri dan Wibisana meminang Wulan dan Jasmine pada hari dengan kata2 yang sama, menikah di hari yang sama, ditambah istrinya melahirkan anak di hari yang sama pula Hingga hari kematian Kak Lais tiba karena kanker paru-paru stadium IV yang telah disembunyikan dari adik-adiknya selama sepuluh tahun, Allah belum juga menurunkan jodohnya ke bumi. Tapi mamaknya yakin sekali bahwa Lais adalah bidadari surga.


Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (QS Al-Waqiah: 22), Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi cantik jelita (QS Ar-Rahman: 70), Bidadari-bidadari surga, seolah-olah adalah telur yang tersimpan dengan baik (QS Ash-Shaffat: 49)
.



Maka, dalam epilog novel ini, Tere-Liye menulis:

"Dengarkanlah kabar gembira ini. Wahai wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah ‘terpilih’ di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah), yakinlah, wanita-wanita shalehah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur, kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar. Bidadari surga parasnya cantik luar biasa."


Novel yang sarat akan makna keikhlasan dalam kerja keras, pengorbanan dan keteguhan hati. Satu pesan yang tersirat dalam novel ini adalah, bahwa kecantikan hati jauh lebih penting daripada kecantikan paras, dan sesungguhnya kecantikan hati seseorang dapat mengantarkannya menjadi seorang bidadari di surga kelak.


Dalam novel ini kita bisa belajar banyak hal, selain yang saya sebutkan di atas. Salah satunya adalah tentang takdir Tuhan, yaitu bahwa HIDUP, JODOH, REZEKI, dan MATI adalah sepenuhnya milik Allah. Manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa, tapi keputusan akhir tetaplah di tangan Allah.



[TEPAT dan TERBAIK!!!! Keisya Avicenna, 3 jam sebelum meninggalkan JAKARTA -salah satu kota yang tlah MENDEWASAKANKU!!!-...instingku mengatakan : "BANYAK KEJUTAN DI BULAN NOVEMBER NUNG!!! Teruslah bersemangat dan berusaha untuk menjadi 'MANUSIA CAHAYA', senantiasa menebarkan kebaikan untuk sesama..."]

NENG NUNG, panggilan yang akan aku rindukan...

Tuesday, November 02, 2010 0 Comments
Ibu kulihat tatapmu... amat merinduku
Ibu.. doakanlah daku.. yang menuntut ilmu...
Sinar wajahmu... bagai rembulan
Terangi langkahku
Untaian pesan engkau sampaikan
Harapanmu kepadaku
Doamu ibu.. selalu kunanti
Bagai mentari penyejuk nurani
Memagar diri mengukuh hati
Ridhomu ibu.. Ridho Illahi...
Cintamu ibu tak pernah terperi
Selembut seutera seputih melati
Sesejuk embun sesegar pagi
Temani hari tiada henti
***
Hari ke-10 Nung di kota Jakarta.. ‘misi luar biasa’ untuk merenda impian dan cita-cita...

Sore ini, Nung asyik membaca sebuah novel di kamar Mbak Thicko “REDZONE”. Sejenak melepas penat setelah seharian ‘mbolang’ di Balairung UI Depok untuk mengikuti test CPNS Badan POM RI, Alhamdulillah, pulangnya gak pakai acara nyasar meski tadi mencoba rute perjalanan yang baru. tapi Nung memang tipikal muslimah pemberani (xixixi...makanya, Mbak Thicko membiarkan Nung berkelana sendiri membelah belantara kota Jakarta...meski kadang nyasar pasti endingnya bisa pulang n balik ke Redzone sendiri kok, begitu katanya..hehehe...gubrak..).

Bosan membaca di Redzone, Nung keluar kamar,sejenak menghirup udara segar di samping kamar...setelah puas menyegarkan alveolus paru-parunya, ia beranjak ke kamar mandi. Pengin cuci muka. Otomatis melewati kamar Ais. Nung melihat Ibu Ais yang sedang khusyuk sholat Ashar sambil duduk. Subhanallah....Ibu Ais memang dibawa Ais ke kontrakan ini biar Ais bisa merawatnya, disamping Ais juga harus bekerja dari pagi sampai sore/malam di BPS. Ayah Ais ternyata sudah meninggal dan Ibu Ais menderita stroke. Ais, Nung bangga dan bersyukur mengenalmu, mengenal Ibu...Ibu yang selalu manggil dengan sebutan ‘Neng Nung’...Nung sangat terharu dengan besarnya kasih sayang Ais kepada Ibunya.

Sore itu pun Nung berkesempatan melakukan sesuatu untuk Ibu. Sesuatu hal yang belum pernah Nung lakukan sebelumnya, sesuatu hal yang karenanya Nung benar-benar merasa terharu setelah melakukannya...Sambil membantu beliau, Ibu sempat bercerita, bertanya tentang aktivitas Nung, dan mendoakan!!! Mendoakan apa yang Nung cita-citakan bisa menjadi kenyataan dan Nung bisa menjadi orang yang sukses dan berhasil. Amin Ya Rabb...terima kasih Ibu...Ibu Ais yang begitu semangat beribadah, tilawah, dzikir, puasa....dll...Ibu Ais yang LUAR BIASA!!!

Tatkala keluar dari kamar beliau air mata ini sudah tidak bisa Nung bendung lagi...Nung jadi kangen Ibu di rumah. Ibu Nung yang masih sehat, masih kuat melakukan banyak hal..meski akhir-akhir ini kalau Nung pulang Ibu sempat sedikit mengeluhkan kalau kakinya kadang pegal-pegal, punggungnya kadang sakit...mungkin karena kecapekan karena kondisi kantor juga sedang tahap pindahan ke kantor yang baru...Nung kangen banget sama Ibu...wajah tegar dengan guratan-guratan di wajahnya yang menandakan usianya tak lagi muda, Ibu....Nung sangat mencintai Ibu...Ibu yang dulu menangis tiap hari saat Nung dirawat di rumah sakit, Ibu yang selalu menyebut nama Nung di setiap doa-doanya..Ibu yang selalu menyelipkan kata “LUV U” di setiap akhir SMS nya...Ibu Nung yang sungguh LUAR BIASA!!!

Ya Allah, ibu Nung masih jauh lebih beruntung dari Ibu Ais. Nung juga sangat beruntung memiliki Ibu yang sehat. Ya Allah, jagalah Ibu Ais dan Ibu Nung Ya Allah..
Ya Allah, ringankanlah sakit yang dirasakan Ibu Ais...sembuhkanlah Ibu Ais Ya Allah...

Betapa besar kasih sayang seorang Ibu...
Ibu, Nung nangis karena Nung sangat mencintai ibu, Nung kangen banget sama Ibu...Nung ingin memeluk ibu, mencium pipi dan tangan ibu....Bu, air mata kerinduan ini untukmu, untuk Ibu yang tengah menanti Nung di samudera rindu...
Buat Mbak Thicko : maaf aku hampir menghabiskan tissue ‘Doraemon’ mu saat nulis ini...[backsong : WO NAN KUO]
[Redzone, 1 November 2010...Bu, Nung kangen...LUV U FOREVER!!!]

Monday, November 01, 2010

NOVEMBER

Monday, November 01, 2010 0 Comments

[N]ever stop fighting!
[O]ptimist!
[V]ision to action!
[E]nthusiasm with good strategy!
[M]apping ur dreams!
[B]e urself!
[E]verything is easy,if u feel easy!
[R]emember Allah.. anytime.. anywhere!!!

~memulai hari ini dengan hamdalah karena Allah masih memberi kesempatan, disusul basmalah karena Allah masih menyiapkan banyak tantangan yang harus ditaklukkan!~

011110
[Aisya Avicenna]

Kopoci

Monday, November 01, 2010 0 Comments
Bahan :
-Pisang
-Ubi
-Santan (1 liter)
-Gula Merah (3 butir)
-Gula Pasir (secukupnya)
-Teh Poci (3 sendok makan)
-Vanili (1 bungkus kecil)
-Kayu manis (± 7 cm)

Cara Membuat :
-Pisang dan ubi dikupas dan dipotong sesuai selera
-Panaskan santan, masukkan gula merah
-Masukkan ubi yang sudah dipotong sambil terus diaduk. Usahakan terus diaduk sampai santan mendidih dan ubi setengah matang agar santan tidak pecah.
-Setelah ubi agak empuk, masukkan pisang, vanili, kayu manis, dan gula pasir.
-Sementara itu, seduh teh poci dalam air panas. Saring, dan masukkan teh pada masakan.
-Aduk sampai merata.
-Matang, lalu angkat
-Saat penyajian, tambahkan teh poci (ampas teh kering) pada masakan yang sudah matang tersebut. Maksudnya, selain untuk menambah aroma, juga bisa menambah sensasi ‘kriuk’ saat disantap
-Kopoci siap dihidangkan

NB : “Kopoci” ini memang bukan ‘kolak biasa’, karena ada teh sebagai tambahan rasa dan aromanya.
Selamat mencoba!

Salam “OISSYA...”

Aisya Avicenna

Pisgoci

Monday, November 01, 2010 0 Comments
Bahan :
- Pisang
- Tepung beras
- Ampas kelapa
- Vanili (1 bungkus kecil)
- Gula pasir (5 sendok makan)
- Teh poci
- Minyak goreng (secukupnya)

Cara membuat:
- Pisang dikupas dan diiris sesuai selera (bisa dibelah dua atau dibentuk kipas)
- Siapkan adonan : tepung ditambahkan air, masukkan ampas kelapa, gula pasir, vanili, dan teh poci. Aduk merata.
- Masukkan pisang ke dalam adonan
- Panaskan minyak, lalu pisang yang sudah bercampur adonan dimasukkan
- Goreng sampai kekuningan. Angkat dan tiriskan
- Pisgoci siap dihidangkan

NB : “Pisgoci” ini bukan pisang goreng biasa. Tampak dari luar seperti ada bintik-bintik hitam yang menempel. Itulah teh poci yang dicampur pada adonan tadi. Saat dinikmati, tak hanya rasa manis dari pisangnya yang dirasa, tapi juga ada rasa teh dan kelapanya.

Salam “OISSYA...”

Aisya Avicenna