Jejak Karya

Jejak Karya

Saturday, October 15, 2011

Peran Muslimah itu Strategis dan Kontributif

Saturday, October 15, 2011 0 Comments

Oleh: Almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh

Peran sahabiyyah di zaman Rasulullah Saw. sangat banyak dan beragam. Sementara sekarang ada pemikiran yang mengerucutkan peran muslimah itu menjadi dua poin ekstrim ibu bekerja dan ibu rumahtangga. Bagaimana sebenarnya? Peran muslimah, sesungguhnya bukan sekedar pelengkap, pemanis, atau sekedar peran di belakang layar. Dari siroh (sejarah) kita belajar bahwa mereka juga menjalankan peran-peran strategis.
Dalam perencanaan penempatan pasukan, misalnya, muslimah ditempatkan pada tempat yang sesuai dengan fitrahnya, di belakang. Namun, pada saat-saat genting, Rasul tidak melarang muslimah untuk mengambil peran-peran penting, bahkan meski itu mengambil tempatnya para sahabat. Contoh, Nasibah Al-Mazniyyah, Srikandi Perang Uhud. Di saat genting, Umar, dan bahkan Abu Bakar minggir ketika mendengar kabar Rasulullah telah mati. Mereka tidak punya semangat lagi untuk berjihad, karena mereka pikir, siapa lagi yang mau dibela? Saat itu Rasul pingsan. Saat tersadar, ia tidak melihat kehadiran orang lain kecuali Nasibah. Kemudian Rasulullah mempersilakannya meminta kepadanya, ''Ya Nasibah, salmi, salmi/mintalah , mintalah''. Kemudian Nasibah meminta ''Ya Allah jadikanlah aku sebagai temannya di surga''. Rasullah langsung memohon kepada Allah '' Ya Allah jadikanlah Nasibah ini menjadi temanku di surga,''

Nasibah berperan langsung, bahkan dalam perang fisik. Tadinya ia memegang dua pedang. Tapi, setelah ia kehilangan sebelah tangannya, ia memberikan salah satu pedangnya kepada anaknya.

Dalam peperangan itu, Nasibah kehilangan suami, anak, dan sebagian anggota badannya. Dalam kondisi genting seperti itu, Rasulullah tidak mengatakan ''Nasibah, ngapain kamu di sini?'' Tidak. Jadi, meski sebelumnya ia berada di deretan pasukan belakang, saat itu Nasibah berperan sebagai pendamping rasul karena tidak ada yang melakukannya.

Bagaimana kerjasama yang dibangun oleh para sahabiyat sehingga mereka mampu menjalankan peranan yang beraneka ragam?

Pada masa itu, muslimah itu adalah obyek sekaligus subyek. Seperti yang dikatakan Rasulullah an-nisaai saqoo iqurrijal, wanita itu saudara kandungnya laki-laki. Namanya saudara kandung, ya harus tolong menolong.

Bentuk realisasi tolong-menolongnya bagaimana?

Ada penjelasan dalam buku alakhwatul mu̢۪minah, karangan Munir Gadhban. Saat Ja̢۪far Aththoyyar meninggal, para muslimah menjalankan aksi untuk meringankan beban keluarganya, terutama istrinya, Asma̢۪ binti Umais. Tidak ada aktivitas masak saat itu di rumah Asma karena para sahabiyat telah memasakannya di rumah mereka masing-masing.

Aplikasinya zaman sekarang, kita harus saling membantu saat akhwat yang lain membutuhkan kita. Sebagaimana kita mengetahui bahwa suksesnya dakwahnya rasul sangat didukung oleh kerjasama para sahabiyat. Bila suami-suami para sahabiyat lain sedang berjihad, mereka saling tolong-menolong. Padahal perginya para sahabat itu bukan cuma berbilang hari, tapi berbilang bulan. Dan hal itu kan tidak mudah. Saat suami tidak ada di rumah, para sahabiyat kan harus menjalankan peran ibu sekaligus ayah, yang antara lain adalah sebagai penyangga ekonomi.

Lalu, bagaimana kaitannya dengan muslimah sekarang yang menjalani peran profesionalnya?

Peran profesional muslimah adalah peran kontributif. Peran utamanya adalah di rumah. Ketika dia ke luar rumah dan menjalankan peran sesuai dengan kapasitasnya secara jujur, sesungguhnya ia tengah ikut bersama kaum pria untuk membangun bangsa ini. Meski demikian perlu diingat, bahwa kalau mau dilihat secara jumlah atau prosentasenya, sebenarnya wanita yang dikaruniai peran kontributif itu jumlahnya lebih kecil daripada ‘wanita rata-rata’.

Ketika seorang muslimah memiliki potensi dan kesempatan untuk menjalani peran publik, maka ia harus menjalaninya dengan baik. Ia harus didukung oleh keluarganya, juga oleh masyarakat (negara). Keluarga harus merelakan waktu dan tenaga muslimah ini tidak hanya untuk keluarga, tapi juga untuk menjalankan amanah profesi. Muslimah itu juga harus menjalaninya profesinya secara amanah, sejujur-jujurnya. Caranya adalah dengan mencari cara yang efektif dan efisien untuk berperan optimal.

Keluarga, tetangga, dan kerabat pun seharusnya mendukung dengan cara bekerjasama. Misalnya, tetangga bisa terlibat dengan pengasuhan anaknya. Bukan mencemooh.

Pemerintah juga berkewajiban menyediakan Tempat Penitipan Anak (TPA) karena menggunakan tenaga dan pikiran ibu2. Idealnya, setiap instansi itu kan punya.

Kita memang perlu menciptakan dunia yang ramah bagi muslimah, ramah untuk peran reproduksi wanita.

Sekarang ini muslimah kita yang menjalankan amanah publik menjadi penuh perasaan bersalah. Tidak ada dukungan dari keluarga, dari tempat bekerja, dari pemerintah. Bahkan, sedihnya sesama muslimah pun tidak bekerjasama, tapi malah mencemooh. Akibatnya, muslimah yang bekerja di luar rumah tidak optimal karena tidak ada daya dukung.

Bagaimana dengan muslimah yang masih membuat dikotomi peran secara ekstrim? Apa yang dapat dilakukan untuk menjembatani keduanya?

Muslimah harus jujur melaksanakan potensinya. Ketika dia punya potensi publik, ia harus menjalankan peranan publiknya tanpa mengabaikan peranannya yang utama, sebagai ibu dan istri. Ketika dia tidak memiliki kapasitas publik, maka ia harus berupaya optimal menjalankan peranan utamanya itu.

Idealnya, keduanya dapat membangun kerjasama nyata. Bukan saling mencemooh, atau merasa diri paling shalihat di antara yang lain.

Sunday, October 02, 2011

30 Staf Kemendag Belajar Logistik di ITB

Sunday, October 02, 2011 0 Comments
JAKARTA, KOMPAS.com- Kementerian Perdagangan mengirim 30 orang stafnya ke Institut Teknologi Bandung untuk belajar soal logistik. Langkah tersebut diambil karena latar belakang pendidikan sarjana mereka belum ada yang berasal dari logistik.


Logistik adalah hal baru bagi Indonesia. Belum banyak perguruan tinggi yang membuka jurusan itu. Kalaupun ada biasanya untuk jenjang pascasarana. "Padahal persoalan logistik pegang peranan penting dalam perekonomian," kata Direktur Logistik dan Sarana Transportasi Kementerian Perdagangan, Didi Sumedi, dalam acara seminar bertema peluang usaha logistik, di Jakarta, Jumat (30/9/2011).


Dia mengatakan, kalangan pendidikan tinggi seharusnya merespon fenomena tersebut dengan cekatan. Biasanya kampus swasta bisa merespon lebih cepat. Mereka akan membuka pendidikan yang memang dibutuhkan oleh pasar. "Kalau berharap ke kampus negeri, prosesnya akan sangat lama,"

***

RALAT : Sebenarnya bukan 30 staf Kemendag, tapi 29 Staf Kemendag ditambah 1 staf dari Kemenko Perekonomian ^^
SUKSES BUAT KITA SEMUA, KAWAN!!!

OKTOBER

Sunday, October 02, 2011 0 Comments

[O]ptimis dan [K]omitmen tuk [T]erus perbaiki diri, [O]ptimalkn ikhtiar dlm [BER]karya, bermanfaat, dan berprestasi...

Saturday, September 24, 2011

Hari Tani Nasional

Saturday, September 24, 2011 1 Comments

Disini negri kami
Tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Tanah kami subur tuan…
Di negri permai ini
Berjuta Rakyat bersimbah duka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja…
Mereka dirampas haknya tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Tuk membebaskan rakyat…
Padamu kami berjanji…

#240911:Hari Tani Nasional ke-51
Bwt rekan2 yg hr ni aksi d dpn Istana Presiden dan dimanapun brada, smg ikhtiarny mampu "membajak" hati para pemimpin negeri...


Dari zaman kompeni
Sampai zaman reformasi
malang nian nasib petani
Kerap ditindas rezim tirani

Pimpinan berganti-ganti
Nasib petani kok selalu begini
Petani ibarat anak tiri
Penguasa acuh tak peduli

Berdiri di posisi sulit
Karena kebijakan yang rumit
Penguasa cuma bisa berkelit
Hingga petani makin terjepit

Tanah kering itu membawa gundah
Padi-padian menyimpan resah
Di punggung-punggung tegar petani
Cangkul, bajak, dan sabit jadi prasasti
Mnyuburkn negeri... mensejahterakn pertiwi!

Salam Perjuangan,
Aisya Avicenna

Thursday, September 22, 2011

Wanita dan Lelaki Pilihan Allah Swt

Thursday, September 22, 2011 0 Comments


Wanita Pilihan Allah Swt
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda “Wanita itu dinikahi karena 4 perkara. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita karena agamanya, engkau akan bahagia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan dalam sabdanya yang lain;
“Dunia adalah kesenangan sementara dan sebaik-baiknya kesenangan dunia adalah wanita (istri) yang shalihah.” (HR. Muslim, An-Nasa’i)
Banyak sekali ayat Allah dan hadits Rasulullah yang mengajarkan kaum wanita, agar mereka dapat menjadi wanita pilihan Allah dan sebaik-baiknya perhiasan dunia.
Tentunya, dengan waktu yang singkat tidaklah mungkin kita hadirkan kajian ayat dan hadits yang sangat banyak sekali jumlahnya, tetapi dengan sangat mudah kaum wanita dapat bercermin melalui ciri-ciri akhlak mereka.
Beberapa ciri yang umum dari akhlak wanita pilihan Allah adalah :
Sebelum menikah, wanita shalihah akan selalu menjaga dirinya, ia tidak akan membuka satu hubungan khusus, kecuali jika ia mengetahui bahwa lelaki tersebut hendak meminang dirinya. Aqidah islam, kepahaman dan akhlak calon suami, merupakan modal dasar dari kriterianya. Wanita shalihah tidak akan memperlihatkan auratnya pada kaum pria yang dilarang oleh syariat, dirinya tidak akan pula membiarkan bagian tubuhnya disentuh, walau hanya berjabat tangan oleh lelaki yang bukan mahramnya dan yang tidak memiliki kepentingan.
Dalam proses perkenalan atau ta’aruf ia tidak akan membiarkan dirinya berdua-duaan dengan kaum pria. Menjawab salam, tidak berbicara kecuali hal yang mengarah pada kebaikan. Tidak menjatuhkan kehormatan dan martabatnya dengan memberikan peluang kepada kaum pria untuk mempermainkan dirinya. Tidak meminta harta maupun barang apapun selain kesungguhan calon suami untuk mempercepat proses akad nikah.
Pada saat menikah dan setelahnya, ciri wanita shalihah tercermin dari akhlak mereka:
Menerima mahar sesuai dengan kesanggupan calon suaminya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Wanita yang paling banyak berkahnya adalah mereka yang paling mudah maharnya”. (HR. Ahmad dan Baihaqi).
Senantiasa taat dan melayani suami mereka selama perintah mereka tidak bertentangan dengan perintah agama. Mendahulukan kepentingan suami dari pada kepentingan dirinya. Dapat menjadi pendengar yang baik, lemah lembut dalam berbicara, menghibur, mendorong hati suami ketika dalam kesulitan dan kesedihan, memberikan ketenangan dalam rumah tangga, dan senantiasa memperhatikan penampilan, kebersihan, kecantikan dan menjaga kesehatan dirinya, dan istiqomah dalam beribadah.
Ketika suami tidak di rumah, dirinya tidak akan pernah memperbolehkan lelaki yang tidak dikenal atau lelaki yang tidak disukai oleh sang suami masuk ke dalam rumahnya. Menjaga harta suami adalah bagian dari tugas istri yang shalihah, mengatur harta rumah tangga dengan tidak berlebihan dan tidak juga kikir adalah hal yang dianjurkan dalam agama. Menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, menyediakan makanan yang sesuai dengan selera suami, memperhatikan seluruh kebutuhan suami, adalah bentuk pengabdian yang selalu bernilai pahala.
Sebesar apapun, ia senantiasa bersyukur atas apa yang diberikan oleh suaminya, tidak banyak mengeluh, sabar dalam menerima keterbatasan suami, tidak meminta sesuatu yang lebih dari kemampuan suaminya, menghormati orang tua suami, memperlakukan mereka dengan sikap terbaik, pemaaf dan pengertian, adalah sifat yang senantiasa ditunjukkannya.
Jika ia bekerja, maka ia akan menjaga dirinya dalam pergaulan, menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia, yang dapat mengantarkan dirinya dalam kemaksiatan. Memberikan sedekah kepada keluarga dari hasil pekerjaannya. Wanita shalihah adalah panutan dari anak-anaknya, mereka akan memberikan teladan yang terbaik bagi anak-anaknya, sabar dalam mendidik anak, tidak mengeluarkan perkataan yang tidak patut di contoh oleh anak-anak.
Setidaknya, inilah ciri-ciri akhlak wanita shalihah. Tentunya, keshalihan itu tidak datang sendirinya, ia memerlukan proses.
***
Lelaki Pilihan Allah SWT Banyak sekali ayat Allah dan hadits Rasulullah yang mengajarkan kepada kaum wanita, agar mereka mendapatkan laki-laki yang Allah pilihkan untuk menjadi suami mereka. Tentunya, lelaki pilihan Allah, adalah mereka yang taat dalam memperlakukan wanita sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Karena aturan yang Allah berikan kepada lelaki dalam memperlakukan wanita itulah, salah satu bentuk, bagaimana Allah memuliakan kaum wanita.
Tentunya, dengan waktu yang singkat tidaklah mungkin kita hadirkan kajian ayat dan hadits yang sangat banyak sekali jumlahnya, tetapi dengan sangat mudah kaum wanita bisa melihat dari ciri-ciri akhlak mereka. Beberapa ciri yang umum dari akhlak lelaki pilihan Allah ketika ia hendak menikahi seorang wanita adalah :
Ketika memulai satu hubungan, ia akan menyatakan niatnya dan memperlihatkan kesungguhannya bahwa hubungan yang dilakukannya itu semata-mata hanya untuk menikah, bukan untuk hubungan yang lain seperti berpacaran atau sekedar bermain-main saja. Dalam proses perkenalan, berdua-duaan adalah hal yang selalu dihindari, menjaga pandangan mata, tidak menyentuh calon istrinya, walaupun hanya berjabat tangan. Dan pada saat berbicara, dirinya tidak melakukan pembicaraan yang tidak bermafaat, atau perkataan yang sia-sia, tidak mengobral janji, atau berangan-angan kosong. Sikapnya tawadhu, sopan, dan menyenangkan. Tidak pula berlebihan dalam berbicara. Mengucapkan salam dan berkata yang baik, adalah kepribadiannya, memiliki sifat optimis, rajin dalam bekerja dan berusaha tampak dari cara ia menceritakan hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Pergaulannya dengan orang-orang yang shalih, bisa kita lihat pada teman-teman disekelilingnya, dan pemahamannya terhadap agama, atau pada perilaku ibadahnya. Mengisi waktu senggangnya dengan hal yang bermanfaat dan berolah raga.
Menghormati orang tua calon istri, dengan niat mempercepat akad nikah dan tidak menundanya dengan jangka waktu yang lama, dan yang terlebih penting lagi, tidak mengambil pinangan orang lain.
Pada saat menikah dan setelahnya, ciri mereka sebagai suami pilihan Allah setidaknya memiliki akhlak :
Dengan tegas ia akan mengatakan, "Kami terlanjur menikah dengan dakwah, karenanya kami mencari istri yang mau dan siap untuk menjadi yang kedua, karena yang kami yakini pertemuan dan ikatan ini adalah karena Allah dan untuk Allah."
Membayarkan mahar istri dengan sempurna, jika maharnya tidak tunai, maka akan segera ditunaikan. Memberikan nafkah kepada istri, lahir dan batin dengan cara pertengahan, tidak kikir dan tidak pula berlebihan, sikapnya konsisten seperti apa yang katakan pada saat sebelum menikah dengan memperlakukan istri dengan lemah lembut, bercanda dan bersenda gurau dengan tidak berlebihan, berkata yang baik, memanggil istrinya dengan sebutan yang menyenangkan istrinya, dan senantiasa menjaga rahasia istri dan kehidupan rumah tangga mereka.
Dan pada sisi lain, ia tegas jika perbuatan istri mengarah kepada hal yang dapat menjerumuskan kepada kemaksiatan, kelalaian dalam beribadah, atau sikap dan perilaku yang menyimpang dari aturan Allah.
Jika menghukumnya, ia tidak akan pernah memukulnya atau menyakitinya, tetapi jika perlu melakukan hal itu dengan alasan yang dibenarkan dalam syariat, ia hanya akan melakukannya tanpa menyakiti atau menimbulkan bekas pada bagian tubuh manapun dari sang istri.
Pemaaf dan pengertian adalah sifat yang senantiasa ditunjukkannya, berterima kasih kepada istrinya adalah bentuk penghargaan yang tidak pernah dilewatkannya. Demikian pula dengan penampilannya yang senantiasa menjaga kebersihan, rapi dan wangi.
Senantiasa bermusyawarah, berdiskusi, meminta pendapat istri dalam urusan rumah tangga dan mendidik anak-anak. Membantu istri dalam urusan rumah tangga yang tidak bisa ditangani, apakah itu dengan menyediakan berbagai fasilitas yang disanggupi seperti pembantu rumah tangga, peralatan masak, dan hal lainnya. Jika berkemampuan, pasti dirinya akan menempatkan istrinya di tempat yang baik, dengan lingkungan yang baik pula dan menjaganya dari segala hal yang dapat menimbulkan fitnah bagi istrinya.
Dalam waktu luangnya, ia pasti menemani istrinya apabila bepergian, memerintahkan istrinya untuk menutup auratnya, tidak membawa istrinya ke tempat yang dapat menimbulkan maksiat. Memuliakan orang tua dan keluarga istri sama seperti keluarganya sendiri.
Dan yang paling senantiasa ia lakukan adalah memberikan teladan bagi istri dan anak-anaknya, menjadi imam dalam beribadah, memberikan bimbingan dan senantiasa mengingatkan akan tujuan pernikahan, serta terus berusaha meningkatkan ketaatan dan ibadah mereka kepada Allah.

Setidaknya, inilah ciri-ciri akhlak lelaki dan suami pilihan Allah, walaupun ia tidak harus selalu kaya, tampan dan gagah, tetapi jika dirinya dihiasi akhlak yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-nya, Insya Allah kehidupan rumah tangga yang diberkahi, sakinah, mawaddah, dan warrahmah akan dicapai.

Dari berbagai sumber

Wallahu’alam.

Sebuah renungan sore ini di Salman ITB
Kala hujan mulai turun membasahi bumi...

Bandung, 22 September 2011
Aisya Avicenna

Impian Kementerian Perdagangan untuk Indonesia Lebih Baik

Thursday, September 22, 2011 0 Comments

Indonesia Memanggil
Singsingkan lengan baju pancangkan asa
Ukirlah hari esok pertiwi jaya
Bergandengan tangan tuk meraih ridho Allah

Buatlah negri ini selalu tersenyum
Bahagia dan Sejahtera dalam cinta-Nya
Tiada lagi resah tiada lagi duka lara

Negeri indah Indonesia
Memanggil namamu
Menyapa nuranimu

Negeri Indah Indonesia
Menanti hadirmu
Rindukan karyamu

Dinamika perekonomian dunia dan domest ik telah mewarnai perjalanan pembangunan perdagangan nasional sepanj ang 2005- 2009. Kenaikan harga minyak mentah, krisis keuangan global, sampai kepada bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia, turut mempengaruhi kinerja perdagangan luar negeri dan perdagangan di dalam negeri Indonesia.
Dengan senantiasa berusaha untuk menjawab setiap tantangan yang dihadapi dan mengambil kesempatan atas potensi yang dimiliki, maka pencapaian kondisi perdagangan Indonesia yang diharapkan di masa mendatang, adalah:
a.Peran sektor perdagangan yang akan bertambah penting, ditandai dengan munculnya keunggulan Ekonomi Kreatif sebagai pemicu inovasi perdagangan tanpa batas, kontribusi subsektor perdagangan eceran yang semakin signifikan dalam pembentukan PDB, dan penciptaan lapangan kerja secara luas. Hal ini terjadi karena: terbentuknya integrasi domestik di sektor perdagangan; terciptanya intensitas mutual partnership dan linkage antara perdagangan eceran dengan perdagangan besar; terciptanya transaksi domestik dan ekspor dari UKM maupun perusahaan skala besar; terciptanya intensitas koordinasi antara fasilitator Pusat (Kementerian Perdagangan) dan fasilitator Daerah (instansi terkait) dalam pengembangan perdagangan eceran, perdagangan besar, dan pembinaan sektor informal; dan
tingginya tingkat penerapan manajemen dan teknologi perdagangan, termasuk yang terkait dengan jaringan.
b. Penggunaan metode perdagangan dan bisnis berbasis teknologi informasi semakin umum digunakan sehingga meningkatkan efisiensi ekonomi, baik secara individu, kelompok atau antarkomunitas pelaku bisnis perdagangan, antara lain maraknya pemasaran melalui internet
dan bisnis periklanan. Selain itu, keterlibatan pelaku perdagangan eceran dan perdagangan besar dalam ekspor dan impor semakin signifikan dan produktif. Implikasi kondisi di atas terhadap ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat sangat baik sekalipun pertumbuhan jumlah penduduk merambat naik. Transportasi yang terkendala oleh faktor geografis relatif teratasi karena sinergi antar wilayah. Faktor terpenting yang mendasari hasil pembangunan
perdagangan adalah peningkatan indeks kepercayaan bisnis pada semua lini perdagangan di Indonesia.
c. Perkembangan jumlah usaha dan nilai transaksi sektor perdagangan mengalami peningkatan, yaitu nilai transaksi perdagangan eceran dan nilai transaksi perdagangan ekspor-impor. Sedangkan dalam kategori nilai transaksi perdagangan besar, terlihat proporsi nilai transaksi perdagangan nasional didominasi oleh transaksi perdagangan dalam negeri untuk distribusi dan nondistribusi serta transaksi para eksportir, yaitu berada di atas transaksi importir dan transaksi perdagangan besar yang berdasarkan fee atau kontrak.
d. Angka ekspor-impor meningkat baik volume maupun nilai dalam surplus neraca perdagangan. Hambatan nontarif teratasi dengan terciptanya kerjasama yang kuat antara simpul pemerintah (Atase Perdagangan, ITPC, Bidang Perekonomian Kedubes RI, Dinas
Perdagangan) dengan simpul pro-bisnis (Dunia Usaha, Asosiasi Bisnis, Kadin/Kadinda).
e. Faktor kelangkaan informasi dan ekonomi biaya tinggi secara signifikan teratasi melalui perkuatan jaringan sistem perdagangan dan pengembangan hukum perdagangan secara simultan. Daya saing Indonesia meningkat signifikan, menurut versi obyektif World Economic Forum, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini didorong oleh antara lain hasil reformasi ekonomi perdagangan yang mempengaruhi pelayanan pelabuhan dan kepabeanan serta efektivitas upaya pembasmian ekonomi biaya tinggi sepanjang jalur distribusi ekspor, impor, dan dist ribusi domestik. Implikasinya terlihat pada surplus produktif neraca pembayaran dimana impor memperkuat kebutuhan pokok domestik, memperkuat industri, memperkuat daya ekspor atau ekspansi pasar global, dan memperkuat ketahanan devisa Indonesia.
f. Diplomasi dan negosiasi perdagangan internasional yang mengutamakan kepentingan nasional menjadi semakin kuat yang ditunjukkan dari meningkatnya penyelesaian masalah-masalah perdagangan internasional dan meningkatnya akses pasar. Membaiknya kemampuan diplomasi dan negosiasi perdagangan internasional membaik karena semakin meningkatnya sinergi lintas sektor, semakin eratnya kohesivitas perdagangan dan industri, adanya SDM sebagai negosiator global yang berintegritas, memiliki pengetahuan yang baik mengenai hukum perdagangan internasional, dan berkemampuan mult ibahasa, sehingga manfaat globalisasi, liberalisasi perdagangan, integrasi global, dan integrasi regional dapat dipetik secara optimum. Hal ini terefleksi antara lain.
g. Peran sistem logistik, intermediasi perdagangan, jaringan koleksi, pengumpul, pengecer, grosir, dan distribusi umumnya semakin berkembang dan meningkat, yang didorong oleh meningkatnya penggunaan teknologi elektronik, transportasi yang memadai, dan meningkatnya indeks kepercayaan bisnis di semua lini perdagangan
dan perekonomian.
h. Daya beli konsumen dan t ingkat tabungan masyarakat semakin baik, hal ini ditunjukkan dari tingkat upah minimum dan realisasinya yang semakin baik serta terciptanya semangat kewirausahaan baru.
i. Sistem hukum perdagangan dan penegakan hukum lahir dan berkembang secara positif mengikuti kecepatan dinamika bisnis, menopang eksistensi usaha, memberi kepastian usaha serta memperkuat kredibilitas kebijakan perekonomian.
j. Pasar domestik dan pelaku usaha dalam negeri yang semakin aman dalam menghadapi terbukanya akses pasar ke dalam negeri.
k. Sektor perdagangan memberi kontribusi positif terhadap penciptaan tenaga kerja, lingkungan hidup, kebudayaan, dan keamanan nasional serta pembentukan norma sosial bangsa.

Itulah 12 “impian” Kementerian Perdagangan yang tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Perdagangan 2010-2014. Semoga impian-impian itu tidak hanya sebatas impian dan wacana saja, tapi juga benar-benar diwujudkan. Dan kitalah yang turut andil untuk mewujudkannya. HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!!

Bangkitlah Negeriku!
Tatap tegaklah masa depan
Tersenyumlah tuk kehidupan
Dengan cinta dan sejuta asa
Bersama membangun Indonesia
Pegang teguhlah kebenaran
Buang jauh nafsu angkara
Berkorban dengan jiwa dan raga
Untuk tegaknya keadilan
Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang
Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang
Selama matahari bersinar
Selama kita terus berjuang
Selama kita satu berpadu
Jayalah negeriku jayalah!

Semoga Allah ridho dan memberi kemudahan atas segenap ikhtiar dan doa kita dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Aamiin yaa Rabbal ‘alaamiin...
Kontemplasi malam
Rabu, 21 September 2011
Aisya Avicenna

Monday, September 19, 2011

Berhati-hatilah dengan MINDSET Kita!

Monday, September 19, 2011 2 Comments

Seringnya, setiap kebahagiaan kita sebut berkah dan setiap kesulitan kita sebut cobaan. Cobalah kita berpikir secara terbalik (upside down mindset)!
1.SETIAP KEBAHAGIAAN ADALAH COBAAN
Kebahagiaan mengindikasikan bahwa kita tengah diuji apakah pada saat kita sedang larut dalam kebahagiaan tersebut, kita masih ingat dari mana semua itu berasal. Apakah kita gegas bersyukur atas kebahagiaan yang kita rasakan atau malah kita terlena dalam buaian tawa? Hati-hati lho, kalau kita tidak bersyukur, maka azab Allah sangatlah pedih.
2.SETIAP KESULITAN ADALAH BERKAH
Kok bisa sih menganggap kesulitan sebagai berkah? Ya bisalah! Ketika kita didera kesulitan, sesungguhnya kita adalah orang yang paling beruntung karena Allah telah memilih kita! Allah menganggap kita SIAP untuk melewati kesulitan itu. Allah menganggap kita PANTAS untuk NAIK KELAS, sehingga kita diberiNya ujian. Allah telah melatih dan menggembleng kita untuk menjadi pribadi yang LEBIH TANGGUH dari sebelumnya. Bukankah itu sebuah berkah???
Cobalah berpikir demikian. Sehingga pada saat bahagia, kita tidak akan lupa untuk bersyukur dan menyadari bahwa itu semua berasal dari Allah. Pun demikian saat kita berada dalam kesulitan, kita akan tetap bersyukur karena kita menjadi ‘manusia terpilih’ yang tengah mendapat tarbiyah (didikan pendewasaan) dari Allah. Yakinlah, bahwa Allah sudah memberikan garansi dua kali bernama KEMUDAHAN di balik setiap kesulitan yang kita alami (QS. Al-Insyirah : 5-6). Yakinlah, bahwa KEHENDAK Allah datang sesuai dengan KONDISI dan KESIAPAN hambaNya.
Berikut ada kisah tentang dahsyatnya efek MINDSET positif dan negatif! Silakan disimak! (Kisah ini saya modifikasi dari kiriman seorang sahabat via Blackberry Messanger)
Alkisah, di suatu kota hiduplah suami istri dengan kedua anak laki-lakinya. Si sulung berusia 27 tahun, sedang si bungsu berusia 24 tahun. Suatu senja yang temaram, berkumpullah mereka di kamar sang ayah. Sang ayah sedang bersiap bertemu Malaikat Izrail karena sakit keras yang sudah lama ia derita. Sebelum sang ayah menghembuskan nafas terakhir, dia memberi wasiat kepada kedua anaknya. Dengan deru nafas yang kembang kempis, sang ayah menyampaikan wasiatnya.
“Anakku, dua wasiat penting yang ingin Ayah sampaikan kepada kalian. Pegang wasiat ini baik-baik karena wasiat ini akan menggiring kalian dalam mendapatkan kesuksesan hidup. Pertama, jangan pernah menagih piutang kepada siapapun. Kedua, jangan sampai teriknya mentari mengenai tubuhmu secara langsung.”
Kedua anak laki-laki itu pun bingung dengan wasiat sang ayah. Akhirnya sang ayah pergi untuk selama-lamanya.
Waktu pun terus berlalu. Tak terasa sepuluh tahun sudah kakak-beradik itu ditinggal pergi sang ayah.
Suatu hari, sang ibu menengok anak bungsunya. Ternyata kondisi anaknya tersebut sangat memprihatinkan. Sang ibu pun bertanya, “Wahai anak bungsuku, mengapa kondisi bisnismu demikian?”
Si bungsu menjawab, “Saya mengikuti wasiat ayah, Bu! Saya dilarang menagih piutang ke siapapun. Akhirnya saya biarkan saja sehingga banyak piutang yang tidak segera dibayar dan lama-lama habislah modal saya. Wasiat yang kedua ayah melarang saya terkena terik mentari secara langsung. Saya hanya punya sepeda motor, itulah sebabnya kalau pergi dan pulang kantor saya selalu naik taksi.”
Kemudian sang ibu menengok anak sulungnya. Keadaan si sulung jauh berbeda dengan adiknya. Bisnisnya sukses besar. Sang ibu pun bertanya, “Wahai anakku, bagaimana hidupmu sedemikian beruntung dan penuuh keberlimpahan?”
“Alhamdulillah, terima kasih atas kunjungannya ibu. Saya melakukan wasiat almarhum ayah. Wasiat yang pertama saya dilarang menagih piutang kepada siapapun. Maka dari itu saya tidak pernah memberikan utang kepada siapapun sehingga modal saya tetap utuh. Pesan kedua saya dilarang terkena terik mentari secara langsung, maka dengan motor yang saya punya, saya selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam, sehingga para pelanggan tahu bahwa toko saya buka lebih pagi dan tutup lebih sore.”
Apa hikmah yang bisa kita ambil dari kisah di atas?
Si Sulung dan Si Bungsu menerima pesan yang sama, namun sudut pandang atau mindset merekalah yang berbeda. Mereka menafsirkan wasiat sang ayah dengan definisi yang berbeda, melakukan cara yang berbeda, sehingga mendapatkan hasil yang berbeda pula. Berhati-hatilah dengan mindset kita! Mindset positif memberi hasil yang ajaib dan menakjubkan. Akan banyak hal-hal positif lainnya sebagai implikasi (dampak) dari mindset positif tersebut. Sebaliknya, mindset negatif akan memberikan hasil yang negatif juga..
So, senantiasalah berpikir positif baik pada ALLAH, pada KONDISI DI SEKITAR kita, PADA ORANG LAIN, dan pada DIRI KITA SENDIRI!!! Dan temukan KEAJAIBAN-KEAJAIBAN atas pikiran positif kita itu!

Salam Dahsyat,
Aisya Avicenna

Wednesday, September 07, 2011

Inspirasi Dahsyat dari Pak Hatta Rajasa dan Pak Amien Rais

Wednesday, September 07, 2011 1 Comments

Berikut ini sedikit resume yang sempat saya dokumentasikan saat mengikuti Inspirasi Ramadhan di Masjid Salman ITB pada 7 Ramadhan 1432 H.
Beberapa point yang disampaikan Pak Hatta Rajasa antara lain :
1.Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Oleh karena itu, kita harus bisa menjadi bangsa yang unggul dan harus bisa memberikan warna bagi kehidupan dunia.
-Jadilah manusia unggul. Jangan asal-asalan. Jadilah manusia yang selalu memberi yang terbaik. Jadilah manusia yang terbaik.
-Good is not good enough, must be the best!

-Semua bisa dilakukan dengan idealisme, spirit menjadi manusia berkarakter, berintegritas, berakhlak mulia, dan bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain.
-Kalau ingin sukses, miliki idealisme
-Pragmatisme penting untuk menjalankan idealisme (energi positif)
-Kalau tidak, kita hanya akan mengejar yang kita inginkan, bisa terjebak pada sikap oportunis.
2.Siap selalu berkompetisi dalam kebaikan
-Bangsa yang bisa survive adalah bangsa yang bisa berkompetisi
-Pada tahun 2025, kita setting bangsa ini menjadi bangsa yang maju
3.Selalu mendekatkan diri pada Allah
-Selain itu juga dengan melatih kepekaan sosial

Di sela-sela sharing ini, ada yel-yelnya yang membuat kami makin semangat.
-MC : “SIAPA KITA?”
-Audience : “INDONESIA!”
-MC : "INDONESIA!!!”
-Audience : “SIAP-SIAP... KITA PASTI BISA!”

Beberapa point yang disampaikan Pak Amien Rais antara lain :
Al-Qur’an memberi banyak pemisalan yang menggambarkan keadaan bangsa kita. Saat ini bangsa kita masih menjadi bangsa yang terkungkung, terpasung, terbudakkan. Kita belum merdeka secara ekonomi, diplomasi, kedaulatan yang utuh. Tangan-tangan asing tengah menjajah bangsa kita.
Pesan :
-Jadilah manusia yang mandiri
-Pegang teguh Al-Qur’an, jadikan sumber inspirasi, kompas dan hidayah
Pak Amien Rais hanya menyampaikan beberapa patah kata saja, sebentar sekali! Kemudian beliau melanjutkan dengan memimpin doa bersama.

Pada malam hari ini, Bp Hatta Rajasa berkesempatan memberikan kultum sebelum shalat tarawih di Masjid Salman ITB. Beberapa point yang beliau sampaikan antara lain :
-Senantiasalah mengeluarkan energi positif, berpikir positif, berprasangka baik pada apapun
-Rasulullah Saw adalah sosok reformis sejati, pembawa perubahan pada peradaban
-Seharusnya kita melakukan instrospeksi, membuat karya besar, membuat perbaikan-perbaikan.
-Syahru Jihad = menyelesaikan permasalahan keumatan, permasalahan masyarakat, bangsa dan negara
-Saat ini kita ingin melakukan akselerasi dan inovasi untuk memajukan Indonesia hingga negeri ini memiliki kemampuan yang tinggi dan SDM-nya bisa berdiri di rumah sendiri.
-Oleh karena itu, butuh konsen, strategi atau master plan
-Modalnya??
1.Jumlah penduduk yang besar
2.SDM yang luar biasa
3.Letak geografis
4.Negara demokrasi
5.Modal yang cukup untuk menjadi G20
-Kendala : IPTEK dan inovasi kita masih rendah
-Solusi :
1.Butuh anak-anak muda yang tangguh!
2.Ubahlah mindset kita. Ingat, good is not good enough!
3.Pilar IPTEK dan SDM dimasukkan yakni dengan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan baru dalam 6 (enam) koridor Indonesia
4.Membangun kawasan-kawasan khusus (kluster-kluster ekonomi)
5.Semua kekayaan alam harus diolah dulu di dalam negeri
6.Membangun konektivitas dengan berbagai pihak (Locally connected, locally integrated)
7.Jadilah teknokrat yang profesional
8.Jadilah insan-insan yang berpikir positif dalam membangun bangsa

Aisya Avicenna

Tuesday, September 06, 2011

Nikah : Lebay vs Abai

Tuesday, September 06, 2011 0 Comments

Nikah, benar-benar kata yang sensitif. Terutama bagi para lajang, tidak hanya yang sudah cukup ‘matang’ untuk menembus jenjang ini, tetapi juga bagi para bujang dan dara yang baru saja menginjak usia remaja. Suatu hal yang sangat bisa dimaklumi. Bagi yang memahami bahwa pacaran itu bukan sesuatu yang diajarkan dalam Islam, nikah adalah—dan memang semestinya—jalan satu-satunya yang dihalalkan untuk mengekspresikan fitrah yang dihembuskan ke jiwa manusia. Cinta. Kemesraan. Kepada lawan jenis, tentunya.

Maka, segala sesuatu yang menjurus pada kata nikah, mulai dari seminar, kajian, buku, kaset nasyid, hingga puisi-puisi, selalu laris-manis. Sebagai salah seorang ‘pelaku bisnis’ buku, saya tentu sangat memahami hal ini. Banyak para penulis menyodorkan manuskrip naskah pernikahan ke Indiva, dengan satu endorsement, pasti laku. Bagian marketing pun dengan separuh berseloroh memberikan penguatan, “Pokoknnya, apa-apa yang temanya nikah, insya Allah laku.” Tetapi, saya punya sikap sendiri. Nikah, bagi saya adalah sesuatu yang ‘biasa saja’. Kalaupun ada beberapa buku Indiva yang bertajuk demikian, sebagai sebuah khasanah buku-buku Islam, itu adalah kebutuhan ummat. Jadi, tak perlulah berlebihan memandangnya, apalagi sekadar menjadi pelumas mesin marketing untuk mengejar cash-in.

Lho, kok sinis? Ah, biarin!

Dua Aliran Besar

Kembali ke topik permasalahan, yuk! Sebagaimana berbagai hal besar lainnya, pemahaman tentang nikah juga terbagi dalam dua aliran besar. Satu aliran yang sangat lebay (tafrit) dan satu aliran sangat abai (ifrat). Bagi yang lebay, nikah seperti menjadi visi hidup, akhir dari perjuangan, atau pelabuhan dari sebuah pelayaran yang panjang. Maka, jadilah ia seorang ‘petualang cinta’ yang berkelindan dari satu episode ke episode lain. Organisasi, aktivitas lapangan, facebook, friendster, YM, SMS, bahkan halaqoh, ditujukan untuk satu kegiatan ‘suci’: mencari pasangan. Jala ditebar, pesona disebar, jerat dijajar. Tak peduli bahwa sebenarnya ia sebenarnya belum siap untuk menuju jenjang yang lebih serius. Ma’isyah yang compang-camping, pekerjaan yang belum jelas dan sebagainya. Tetapi jika disoal masalah ini, dengan cekatan mereka menghindar.

Penganut aliran ini tampaknya cukup banyak. Buktinya, daurah-daurah, seminar-seminar, buku-buku, chatroom-chatroom, nasyid-nasyid, jejaring komunitas, milis, group dll yang berbicara tentang cinta dan pernikahan, selalu diramaikan dengan pengunjung.

Di satu sisi, yang merasa abai, seperti mencoba melakukan antitesa, kegiatan yang berkebalikan. Ia seperti mengatakan “tidak!” untuk pernikahan. Ketika diajak ke seminar pernikahan, “malas!” begitu jawabnya. Ketika mendengar nasyid pernikahan, “kampungan!” rutuknya. Ketika disodori buku-buku pernikahan, “norak!” sungutnya. Dan entah untuk menyembunyikan gejolak atau memang sudah menjadi hasrat, biasanya ia memiliki semacam pelampiasan. Kerja yang sangat ekstra, lembur siang-malam. Belajar yang overdosis, aktivitas yang kelewatan, dan sebagainya.

Maka, meskipun sebenarnya ia sudah saatnya dan sudah mampu menikah, selalu saja ada alasan untuk menghindar. “Gajiku belum cukup!” atau, “Pengin beli rumah dulu”, “Pengin merasakan asyiknya jadi lajang” dll. Wah!

Moderat Yuuk!

Sebagai sebuah ibadah, nikah semestinya disandarkan pada dua sayap yang saling berimbang, sayap khauf (ketakutan) dan sayap raja’ (pengharapan), juga tiang mahabbah (cinta). Ketiga elemen inilah yang diharapkan ada secara imbang pada seorang hamba Allah dalam mengimplementasikan pengabdiannya kepada Allah azza wa jalla.

Menikah, adalah sebuah ajaran yang teramat mulia. Allah berfirman, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki serta hamba-hamba sahayamu yang wanita. Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka kaya dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui.” (QS. 13 : 38).

Kemudian Rasul juga bersabda, “Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka segeralah menikah. Karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa menjadi benteng (dari gejolak birahi).” (HR. Bukhari).

Akan tetapi, sebagai sebuah sendi pokok di dalam membangun masyarakat Islam, nikah membutuhkan persyaratan-persyaratan. Syarat yang paling utama tentu saja kedewasaan. Jangankan menikah yang memiliki seabrek konsekuensi, shalat dan puasa saja bagi yang belum haid dan ikhtilam, juga tidak wajib. Namun, kedewasaan itu tak hanya sekadar soal biologis. Islam menggambarkan jenis kedewasaan yang lain, misalnya secara sosial, adalah dengan menafkahi.

Allah berfirman,

“Kaum laki-laki itu adalah qowwam bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (QS. An-Nisa: 34).

Qowwam artinya pembimbing. Lelaki menjadi qowwam bagi perempuan (baca: istri) karena keunggulan fisik, dan karena nafkah yang diberikan. Dan sebagai konsekuensi, istri harus taat kepada qowwamnya. Nafkah tak hanya sesuatu yang bersifat fisik, nafkah batin seperti perasaan kasih sayang, juga tak kalah penting.

Kemudian, ada syarat lain yang tersirat, terdapat dalam firman Allah, “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya…” (QS An-Nisa: 6).

“Pintar memelihara harta” yang menjadi salah satu komponen “cukup umur untuk kawin” bermakna dalam. Ini bisa berarti bahwa dia sudah pintar memenej keuangan. Mengapa yang diangkat adalah soal keuangan? Karena dalam faktor ini, kedetailan alias akuntabilitasnya sangat diutamakan. Artinya, jika seseorang telah mampu mendeteksi setiap sen yang masuk atau keluar, berarti dia bisa memenej hal-hal lain yang lebih sederhana.

Ini menyiratkan sesuatu yang bersifat psikologis, karakter, akhlak.

So, jika kita simak ayat per ayat, hadits per hadits, yang sangat banyak dan tak cukup dibahas di sini, sesungguhnya nikah membutuhkan syarat penting: DEWASA secara BIOLOGIS, SOSIOLOGIS dan PSIKOLOGIS.

Jika kita memang sudah mendapatkannya, mengapa tak segera nikah? Jika belum, bersabarlah! Toh Allah Maha adil. Jika Anda tak mampu menahan gejolak, toh Allah memberi alternatif lain, berpuasa. Berpuasa akan menetralisiri hormonal Anda, sehingga gejolak itu akan reda.


Rahasia Jodoh

Makhluk yang pertama kali Dicipta Allah adalah al-qalam. Dengan al-qalam, Allah menuliskan takdir manusia dalam Lauhil Mahfuzh, induk segala kitab. Salah satu yang tertulis di sana, adalah jodoh. Jadi, jodoh adalah sebuah ketetapan dari Allah Azza wa Jalla. Ia akan datang, meskipun saat ini barangkali kita belum siap, atau tak juga datang meskipun kita merasa sangat siap. Seorang guru saya pernah mengatakan, pernikahan itu ibarat kematian, kita tak bisa memprediksi, hanya bisa mempersiapkan.



Jadi, sikap terbaik menghadapi hal yang satu ini adalah TAWAKAL. Tetapi, jangan abaikan ikhtiar. Ikhtiar sangat perlu, hanya saja, Allah memiliki sifat Qudrat dan Iradat yang perlu kita hadapi dengan kepasrahan.



Ada beberapa pandangan saya mengenai pernikahan, semoga bisa menjadi bahan diskusi.

1. Pernikahan adalah bentuk ibadah, jadi jangan pernah ada kata ITSAR dalam pernikahan. Jika ada seorang meminang, dan secara dien dia baik, kemudian kita merasa mantap, mengapa kita menolaknya?

2. Sebuah ibadah, bisa diterima atau tidak, tergantung NIAT dan cara pelaksanaannya. Maka, nikah bukanlah akhir dari perjalanan hidup seseorang. Ia bahkan awal dari sebuah perjalanan yang melelahkan. Niat bisa berubah di tengah-tengah proses, bahkan menjelang akhir proses, kematian. Maka, mari kita selalu meng-up-grade niat, dan memperbaiki cara kita berinteraksi dengan pasangan kita, meski usia pernikahan sudah tak terbilang muda. Lima tahun, sepuluh tahun, tiga puluh tahun?

3. Nikah adalah separuh dien. Jika baik, ia adalah separuh jalan menuju surga. Tetapi jika buruk, maka… ia adalah separuh jalan menuju neraka. Na’udzubillahi min dzaalik.

4. Nikah bukanlah sebuah pesta pora. Bukanlah prestasi. Bukanlah sebuah kemenangan. Bukanlah sesuatu yang harus dipamerkan. Jadi, jagalah sikap kita. Seringkali para pasangan muda terlalu over memamerkan kemesraannya di hadapan orang-orang yang masih lajang.

5. Ketika kita menikah, amanah kita bertambah. Ketika punya anak, semakin bertambah lagi. Maka, hisab kita di akhirat kelak, akan semakin panjang. “Bagaimana kau bersikap terhadap pasanganmu, anak-anakmu, mertuamu, adik-kakak iparmu, dst…” Jadi, wahai para lajang, yang telah ingin menikah namun karena takdir Allah, pasangan belum datang, sesungguhnya beban antum wa antunna kelak di akhirat, jauuuuuh lebih ringan daripada para ibu, para bapak, yang kerepotan dengan anak-anak mereka. Bukankah Surga itu jauh lebih indah daripada apapun? Bukankah surga, dan ridha-Nya, adalah tujuan utama setiap manusia? Sedangkan menikah, berkeluarga, hanyalah sarana. Ketika Allah menakdirkan kita untuk tetap lajang, sesungguhnya jika kita ridho, maka kita Allah telah memberikan beban yang lebih ringan untuk menuju surga.

6. Akan tetapi, menikah tetaplah harus diusahakan. Ikhtiar harus dioptimalkan. Maka para ikhwan, mari berusaha lebih kuat dalam mencari ma’isyah. Ayo bekerja lebih keras lagi dalam meng-up grade diri. Jangan bermalas-malasan. Lihatlah deretan para akhwat yang tengah menanti… kasihan sekali mereka karena antum seringkali terlalu banyak pertimbangan. Ayo bina para lelaki yang lain, agar mereka bisa seshaleh antum, karena bagaimanapun juga, populasi lelaki shaleh saat ini begitu sedikit dibanding perempuan shalihah. Dan para perempuan shalihah, ayo perkuat diri kita. Bersiaplah menjadi Ummu Sulaim-Ummu Sulaim baru, yang mampu menghijrahkan Abu Thalhah dan menjadikan keislaman Abu Thalhah sebagai mahar pernikahan mereka. Dan wahai para murabbi dan murabbiyyah… marilah kita berpikir lebih keras… lebih keras dan lebih keras lagi… agar kita mampu mengikhtiarkan perjodohan saudara-saudari kita, dengan proses yang indah dan bersih.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Al Faqir ilallah

AFIFAH AFRA

Thursday, September 01, 2011

SEPTEMBER

Thursday, September 01, 2011 1 Comments

[SE]mangat [P]erbaiki diri dengan [TE]rus berkarya tuk jadi [M]uslimah yang [BER]daya, berprestasi, dan bermanfaat, Insya Allah!

Semangat SEPTEMBER!

~semoga Allah senantiasa meridhoi dan melimpahkan kemudahan serta keberkahan.. aamiin...

Salam SMART & VISIONER!
Aisya Avicenna