Jejak Karya

Jejak Karya

Wednesday, May 15, 2013

[Re-Post] BALITA PUN HAFAL QUR'AN

Wednesday, May 15, 2013 0 Comments

Bedah Buku Balita Pun Hafal Al Qur'an di Jogja



Bismillahirrohmanirrohiim...
 
Sesi pertama tausiyah dari ustadz Sholihuddin pun sudah selesai. Lanjut ke acara inti tentang, bedah buku Balita pun Hafal Al Qur'an bersama Ustadz Salafuddin Abu Sayyid.

Mc kembali beraksi, menyampaikan bahwa sebentar lagi acara bedah buku akan dimulai. Tak lama, hadirlah seorang ustadz, yang nama beliau aku kenal dari sebuah buku. Oh iya –bercerita sedikit-, aku tau buku ini tahun lalu (2012), searching di google mencari terkait Al Qur'an, dan aku menemukan laman yang sedikit mengulas tentang buku ini. Aku begitu sangat tertarik untuk membaca dan memiliki buku tersebut. Alhamdulillah, tanggal 6 september 2012, akhirnya buku itu ada di genggaman tanganku. Bukunya begitu menggoda. Menggoda dalam artian memotivasi dan memberikan inspirasi bagi calon ibu  sepertiku.

Lanjut,...

Alhamdulillah, bi'idznillah, ahad kemarin, 12 mei 2013, berkesempatan mengikuti acara bedah buku beliau di Masjid Mujahidin Universitas Negeri Yogyakarta.

Acara inti pun di mulai pada pukul 09.21 wib. Kulihat pak ustadz sudah duduk menempati kursi yang disediakan panitia. Beliau membawa flash disk yang berisi materi yang akan dibedah. Ku lihat fash disk sudah dipasangkan ke slot laptop. 

Ustadz kemudian membuka acara dengan salam. Sedikit memperkenalkan diri terkait namanya yang ada kata Salaf, ^_^. Aku sebentar memperhatikan kondisi sekeliling. Masjid begitu ramai, peserta begitu banyak, baik dari ikhwan maupun dari akhwat. Terlihat betapa antusiasnya mereka. Seantusias ustadz Salafuddin yang menyampaikan materi.

Awal materi, ustadz berkata, setelah membaca banyak biografi para ulama, ada di antaranya mereka sudah hafal qur'an sebelum baligh, seperti Imam Syafi'i yang telah hafal qur'an di usia 7 tahun, dan di usia 10 tahun telah hafal kitab Al Muwatha' karangan gurunya, Imam Malik.

Di Mesir juga ada Syaikh bernama Muhammad Hasan, beliau seorang da'i, salafi mesir, sudah hafal qur'an saat berusia 7 tahun. Adapula di Maroko, seorang ulama yang sudah hafal qur'an saat berusia 6 tahun.

Ada pula seorang ulama yang telah hafal qur’an ketika dirinya masih belum mengenal ajaran islam dengan baik. Kemudian beliau mengisahkan kisahnya al Fudhail bin Iyadh, seorang mantan preman –pada zamannya- namun akhirnya mendapatkan hidayah sehingga menjadi hafidz Qur'an. Masya Allah.

Terlihat layar proyektor slide tulisan berikut, sebuah kalimat pertanyaan. Mengapa menghafal Al Qur'an? di bawahnya tertulis:

Ø®َÙŠْرُÙƒُÙ…ْ Ù…َÙ†ْ تَعَÙ„َّÙ…َ اْلقُرْآنَ ÙˆَعَÙ„َّÙ…َÙ‡ُ

Sebaik-baik kalian adalah  orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Setelah itu, lanjut ke beberapa keutamaan mempelajari Al Qur'an, yang dikutip dari hadits-hadits shahih. 
 
“Barang  siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka ia memperoleh pahala satu kebaikan dengannya, sedangkan pahala amal kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali. Saya tidak mengatakan bahwa alif-lâm-mîm itu satu huruf, akan tetapi alif itu satu huruf, lâm satu huruf dan mîm satu huruf tersendiri.” (HR. Tirmidzi) .

"Orang yang mahir tentang Al-Qur’an akan bersama para (malaikat) utusan mulia nan baik-baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an sambil terbata-bata dan berat membacanya, iadapatkan dua pahala.” (HR. Muslim)

“Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.”Ditanyakanlah, “Siapa mereka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ahlul Qur’an. Mereka adalahkeluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya.”(HR. Ibnu Majah) 

Ustadz Salafuddin mengatakan bahwa Orang yang sudah intim dengan Al Qur’an itu berbeda. Al Qur’an akan menyatu bersama dirinya. Misalkan, sedang fokus menghafal suatu surah/ayat tertentu, sehingga kelelahan terus tertidur, maka ketika bangun ia akan meneruskan hafalannya. Karena otak tidak pernah tidur. Ia akan terus bekerja, apabila kita intim dengan Al Qur’an maka Al Qur’an akan menyatu dengan diri kita.

Membaca Al Qur’an mestilah dengan tartil. Tartil disini maksudnya, membaca Al Qur’an diiringi dengan kehadiran hati dan pemahaman yang sempurna. Memahami makna demi makna disetiap ayat-ayat-Nya.

Alhasil, membaca dan menghafal Al-Qur’an memiliki keutamaan yang besar. Para pembaca dan penghafal Al-Qur’an memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Dan, Al-Qur’an akan memberi syafaatkepada pembaca/penghafalnya pada hari kiamat.
 
Aku memperhatikan dengan seksama penjelasan ustadz Salafuddin, entah kenapa tiba-tiba hatiku gerimis rindu,  menghujani dengan deras di dasar relung qalbu. Hampir-hampir saja ada rintik hujan qalbu  keluar dari kelopak mata. Allah Karim.

Lanjut, slide di layar berganti dengan tulisan, 

Kegiatan tahfizul Qur’an memberikan dampak positif
terhadap keluhuran akhlak seseorang.

Tahfizhul Qur’an meningkatkan kedisiplinan
dan menaikkan prestasi akademik siswa.

Al-Qur’an menjadi obat penyakit ruhani dan jasmani.
 Karamah para penghafal Al-Qur’an

Dari uraian di atas, ustadz kemudian memberikan beberapa contoh fakta. Ia pun menceritakan kisah anaknya sendiri, yang tadinya prestasinya biasa-biasa saja, setelah mengikuti program tahfidz prestasinya kemudian meningkat. Adapun Al Qur’an menjadi obat penyakit jasmani, ustadz kembali mengisahkan, tentang anaknya yang terkena sakit. Sakit anak beliau di vonis dokter menderita penyakit berbahaya yang disebabkan oleh virus, dokter memberikan banyak obat untuk anaknya, namun belum juga sembuh. Ustadz berfikir, anaknya harus diruqyah. Akhirnya atas inisiatif beliau, anaknya pun dirawat sendiri bersama isterinya dengan terus di ruqyah, dibacakan surah Al Fatihah,  bacaanMu’awwidzatain (surah Al Falaq dan An Nas), sembari terus diberikan madu dan habatussauda. Pada akhirnya, bi’idznillah anak beliau sembuh total dan sampai sekarang sehat wal’afiat. 

Para penghafal Qur’an pun mempuyai karamah, salah satunya,  kisah Imam Nafi’, ketika sedang mengajarkan Al Qur’an dalam suatu majelis, tercium bau kasturi oleh para murid-muridnya. Murid-murid beliau lantas bertanya, “Ya Syaikh, apakah setiap anda mengajarkan Al Qur’an, anda menggunakan minyak wangi kasturi terlebih dahulu?” Maka Imam Nafi’ menjawab, "Aku tidak pernah mendekati minyak wangi sepanjang hidupku apalagi menyentuhnya, akan tetapi aku telah bermimpi sewaktu tidurku melihat Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam membaca sesuatu di mulutnya dekat ke mulutku. Maka semenjak itulah siapa saja akan menghirup harumnya bau itu dari mulutku". 

Sekilas tentang Imam Nafi'. Nama beliau adalah Nafi’ bin Abd Rahman bin Abi Na’im Al-Laithi. Beliau telah digelar Abu Ruwim, Abu Hassan dan juga Abu Abd Rahman. Beliau merupakan salah seorang Imam Qiraat masyarakat di Madinah dan juga terkenal sebagai seorang yang pakar dalam bidang al-Qur’an. Sejak masih muda, beliau telah menekuni Al-Qur’an dan berguru tentang Qur’an kepada lebih dari 70 orang guru. Beliau meninggal dunia pada tahun 169 Hijrah di Madinah ketika berumur 99 tahun. Antara perawi yang Mashur yang meriwayatkan bacaan Imam Nafi’ ialah Qalun dan Warsh.

Ku lihat jam dinding masjid sudah menunjukan pukul 10.30 wib. Lalu, terlihat seorang ikhwan maju dengan membawa selembar kertas untuk kemudian diberikan kepada ustdz Salafuddin. Terlihat, ustdz sekilas membaca tulisan di kertas itu. Kemudian melanjutkan penjelasan, awal dari pendidikan islam adalah dengan menghafal Al Qur’an. 
 
Sesi pertama bedah buku pun selesai. Kemudian disambung dengan sesi tanya jawab, Kulihat jam dinding masjid, pukul 10:33 wib. Aku bergumam dalam hati, waktunya akan mepet banget dengan sholat zuhur. Ulasan bukunya pun belum banyak disinggung ustadz. Hmm…


***


Sesi tanya jawab selesai. Terlihat olehku seorang ibu yang duduknya lumayan sedikit jauh denganku terlihat membeli 5 buah buku Balita Pun Hafal Al Qur’an -yang ada di stand depan pintu masuk-, waaah, banyak banget bu ^_^.









Sesi kedua di teruskan, dengan materi masih tentang buku Balita Pun Hafal Al Qur’an. Lantas tampil di layar proyektor slide tentang Tabarak dan Yazid seorang Hafidz termuda di dunia.




Kisah mereka bisa anda baca selengkapnya di buku Balita Pun Hafal Al Qur’an.

Slide lalu berganti dengan beberapa foto-foto ustadz Salafuddin bersama Tabarak, Yazid, kedua orang tuanya dan adiknya yang juga seorang hafidzoh.

Dari kanan ke kiri, ustd Salafuddin, Tabarak, Yazid dan Dr. Laboody

Semangat tahfizh keluarga Kamil Labudi adalah semangat bersama dalam sebuah rumah tangga baru. Ayah dan ibu Tabarak bukanlah seorang yang menghafal Al-Qur’an sejak remaja. Keduanya baru mulai menghafalkan Al-Qur’an sejak keduanya menikah. Tepatnya setelah mereka berdua merantau ke Jeddah, Saudi Arabia. Sejak itulah keduanya merancang program menghafal Al-Qur’an, dan akhirnya berhasil menjadi seorang hafizh dan hafizhah. Kemudian keduanya dianugerahi anak-anak yang menjadi huffazh saat masih balita.

Lantas, bagaimana Dr. Laboody (ayahnya Tabarak dan Yazid) mencetak anak-anaknya sehingga menjadi seorang penghafal Al Qur’an? Maka ada beberapa kunci-kunci, yaitu:
Ikhlas dan Doa
Sungguh-Sungguh dan Disiplin
Motivasi dan Apresiasi
Istiqamah

Dr. Laboody dan keluarga selalu mempuyai waktu khusus untuk berhalaqoh qur’an bersama-sama setiap hari. Selain menghafal, ada pula motivasi dan apresiasi. 

Apresiasi, peranannya sangat penting. Selain untuk memotivasi, juga sebagai bentuk penghargaan kepada mereka (anak-anak yang menghafal Qur’an). Apresiasi bisa dalam bentuk pemberian hadiah. 

Sambil menyimak penjelasan ustadz, aku sembari mengatakan kepada calon anakku. "Nak, jadilah kelak kau sebagai ahlul qur'an, yang benar-benar mencintai Al Qur'an hanya karena Allah dan semata-mata hanya untuk mengharapkan ridha-Nya". Seketika senyum terkembang dari bibirku sembari mengaminkan sendiri. ^_^.

Waktu terus berlalu. Rasa-rasanya aku masih kekurangan penjelasan terkait buku Balita Pun Hafal Al Qur’an. Lalu, ustadz menayangkan sebuah video tentang Abdurrahman Farih yang berumur 3 tahun namun sudah hafal berjuz-juz Al-Qur’an. Masya Allah. Untuk yang kesekian kalinya aku melihat video ini. Anak ini sangat menggemaskan. ^_^






bersama sang ibu


Dalam buku Balita Pun Hafal Qur’an dijelaskan bahwa Sang bunda mengisahkan, “Sebenarnya, sejak awal mengandungnya, saya selalu membaca Al-Qur’an.Setiap malam Jum‘at, saya selalu membaca suratAl-Kahfi. Sedangkan setiap harinya, saya selalumembacakan Muawwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas) serta surat Al-Mulk. Setelah ia lahir, setiap harisaya selalu membacakan padanya dzikir pagi danpetang. Ia tidak bisa tidur kecuali setelah saya bacakan dzikir-dzikir itu.” (Hal 56).


Lalu di teruskan dengan tayangan video tentang Tabrak dan Yazid.

Bagiku, mereka semua (anak-anak itu) imut-imut bangeeet.. Hehehe, menggemaskan. Oh iya, Tabarak dan Yazid juga hafal Nazam Syathibiyyah lho. Nazam Syathibiyyah merupakan karya terbesar dari Imam Asy-Syatibi dalam bidang ilmu qira'at. Mungkin pembaca masih ada yang belum mengenal siapa itu  Imam Asy-Syatibi? Imam Asy Syatibi memiliki nama lengkap, Abul Qasim bin Firruh bin Khalaf bin Ahmad Asy Syatibi Arru'aini. Dalam dunia Qira'at beliau dikenal dengan sebutan Imam As-Syatibi. Meski beliau terlahir dalam keadaan buta, tetapi beliau dikenal sebagai seorang ulama besar dalam bidang Qira'at pada zamannya. Tabarak dan Yazid hafal Nazam Syathibiyyah. Masya Allah, Tabarakallah.

Namun, kalo mendengar bacaan kedua anak ini, aku lebih memilih bacaan adiknya, Yazid Tamamuddin. 

***

Lebih kurang sepuluh menit lagi akan mendekati waktu sholat zuhur. Ustadz Salafuddin pun terlihat “terburu-buru” dalam berkata-kata dan akhirnya acara bedah buku selesai. Alhamdulillah.
saat sesi tanya jawab
Kulihat beberapa ikhwan maju ke depan untuk mengcopy materi kepada ustadz. Aku seketika bingung, karena kulihat tidak ada akhwat yang maju untuk meminta materi tadi. Aku lantas mengurungkan diri untuk maju ke depan :D. Lalu terdengar suara suamiku memanggil dan bertanya, “mana flash disknya?” Aku kemudian menyerahkan flas disk kepada suamiku. Ia yang akhirnya meminta ke depan untuk mengcopy materi bedah buku tadi. Aku sebenarnya ingin langsung menyapa, menghampiri ustdz Salafuddin, namun kondisi tidak memungkinkan, akhirnya kuurungkan niatku. Maaf ya tadz.

Azan Dzuhur seketika menggema memenuhi seisi masjid Mujahidin UNY. Aku kenal suara mu’adzinnya, seorang adik, yang juga teman tahsinku. Tak pakai lama, baca doa penutup majelis dulu, baru kemudian bergegas menuju lantai dua masjid untuk mengambil posisi di shaf pertama shalat berjama’ah.Alhamdulillah 'ala Kulli Haal.

***


Bagi pembaca yang ingin mengetahui kisah-kisah para Balita yang -sedikit kutulis dalam catatan ini-, bisa membacanya di buku Balita Pun Hafal Al Qur’an. Buku ini selain mengisahkan kisah para balita, ada pula kisah para lansia dan orang-orang yang luar biasa. Sebuah buku yang aku rekomendasikan untuk dibaca. Sangat sarat ilmu, penuh edukasi, motivasi dan menginspirasi. 

Nanti juga, -Insya Allah- akan segera terbit dalam bentuk premium edition dari buku Balita Pun Hafal Al Qur’an. So.. Don’t Miss It..:)

***

*Catatanku, 15 Mei 2013, 13:30 pm
---
#Tambahan bacaan: Kaidah Qira'at Tujuh, Darul Ulum Press, Institut Studi Ilmu Al Qur'an Jakarta, 1996

Tuesday, May 14, 2013

#JejaKembara Bersua Asma Nadia

Tuesday, May 14, 2013 0 Comments


Sabtu, 11 Mei 2013 sekitar pukul 13:00 saya dan suami sudah berada di stasiun Bogor. Siang itu kami akan kembali ke Istana Cinta TOBI di Jakarta setelah 3 (tiga) hari ‘mbolang’ di Bogor. KRL yang akan kami tumpangi belum tiba di stasiun. Kami pun memilih tempat duduk yang kosong untuk menunggu. Sambil menanti kedatangan kereta, saya buka twitter lewat tab kecil saya (namanya TIKIL). Ternyata ada info dari @GramedMatraman bahwasanya tanggal 12 Mei akan diadakan workshop menulis buku nonfiksi best seller bersama mbak Asma Nadia dan suaminya, Mas Isa Alamsyah. 12 Mei? Wah, BESOK dong! Akhirnya saya reply twit tersebut yang juga terhubung dengan mbak @asmanadia. Saya tanyakan, bagaimana mekanisme keikutsertaan di workshop tersebut. Meski belum dibalas, saya langsung utarakan keinginan untuk mengikuti acara tersebut ke suami. Alhamdulillah, suami mengizinkan, bahkan ingin ikut juga. Sekitar jam 2 kurang sedikit, kereta pun datang. Kami segera naik. Back to Jakarta...  
Keesokan harinya, sejak pagi Matraman diguyur hujan. Agenda senam pagi bersama warga pun di-cancel. Padahal musik senam yang full semangat sudah terdengar sejak pukul 05:30 tepat di depan rumah. Karena memang lokasi senam berada di sepanjang jalan depan rumah. Berhubung hujan, senam pun di-cancel. Jadilah saya dan suami mulai berolahraga pagi di rumah (menyapu, mengepel, mencuci, dll. Hehe...olahraga juga toh?). Beres-beres rumah baru selesai jelang ‘Asar. Ba’da Asar, saya diminta suami untuk berangkat duluan ke Gramedia Matraman (GM) untuk mengikuti workshop menulis karena dia belum selesai bersiap-siap. Dia akan menyusul. Akhirnya saya berangkat duluan ke GM. Alhamdulillah,saya sangat bersyukur dan merasa sangat beruntung karena rumah saya sangat dekat dengan GM. Cuma jalan sekitar 10 menit, sampe deh! Sampai di GM, subhanallah... sudah penuh euy! Sudah tidak dapat kursi. Setelah registrasi, saya masuk ruangan acara yang terletak di lantai 2. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, hmm.. sudah tidak dapat tempat duduk. Oleh salah satu panitia berkaos Gramedia, saya diminta duduk saja di karpet depan. Akhirnya saya mengajak Mbak Mimin Haway (rekan penulis di FLP Jakarta) untuk duduk di ‘kursi VVIP’ alias karpet tersebut. Saya malah sangat gembira duduk di situ karena bisa lebih dekat dengan ketiga pemateri workshop (Mb Asma Nadia, Mas Isa Alamsyah, dan Putri Salsa). 
Sekitar pukul 16:30 acara workshop “Menulis Non Fiksi Best Seller” pun dimulai.. Workshop diawali dengan sedikit pemaparan dari Mbak Asma Nadia. Senangnya bisa kembali bertemu dengan beliau. Mbak Asma sedikit berkisah tentang buku pertamanya. Buku pertama beliau merupakan buku fiksi. Waktu buku pertamanya terbit, bagaimana perasaan beliau? Jawabannya “SENANG-SEDIH-SEDIH”. Mengapa sedihnya dua kali? Kata Mbak Asma, karena buku pertamanya tersebut mirip dengan ‘buku mujarobat’ alias sangat tidak layak kertas yang digunakan. Kualitas cetakannya tidak bagus, imbuhnya. Kata beliau, sampai sekarang pun masih banyak penerbit yang tidak peduli dengan masa depan penulisnya. Asal karya sang penulis terbit, laku dijual, sudah! Dewasa ini, trend buku fiksi mengalami penurunan. Kalau dibandingkan, penerbitan buku fiksi sebesar 30%, sedangkan untuk buku nonfiksi sebesar 70%. Bahkan banyak buku nonfiksi yang BEST SELLER. Memang, keunggulan buku fiksi lebih diserap, lebih menyentuh, dan lebih berkesan. Akan tetapi, buku nonfiksi pun bisa dibuat seperti itu. Yakni dengan menambahkan sentuhan ‘fiksi’ di dalam buku nonfiksi. Seperti yang sudah dilakukan mbak Asma dalam buku-buku nonfiksinya yang hampir semuanya BEST SELLER dan dicetak ulang berkali-kali. 
Setelah Mbak Asma memberikan sedikit pengantar, selanjutnya giliran Mas Isa Alamsyah yang memberikan materi pertama tentang “Kunci Nonfiksi BEST SELLER dari sisi eksternal”. Sisi eksternal tersebut yakni dari market dan branding. Ada sepuluh kunci sebagai tips, antara lain : 1.Membaca Trend (Trend berita, istilah, sosial media) 2.Captive Market (Memilih Market yang Pasti) 3.Menempel pada Nama Besar 4.Memilih Market yang Besar 5.Mempunyai Market yang Khusus 6.Mengisi Kekosongan (harus jeli dengan ‘sesuatu’ yang belum dibuat penulis lain) 7.Membuat Perbedaan 8.Kerja Sama Penjualan atau Iklan 9.Cover, Judul, testimoni, endorsment, subjudul, sinopsis yang menarik 10.Workshop, Seminar sebagai bagian dari ‘bedah buku’ 
Di tengah workshop, berulang kali saya menengok ke belakang, untuk mencari suami saya. Hmm, cukup mudah mencari keberadaannya di antara puluhan peserta yang berdiri, Karena suami saya paling cakep di antara mereka *ceileeee... 
 Setelah Mas Isa Alamsyah menyampaikan materi pertama, dilanjutkan Mbak Asma menyampaikan materi kedua tentang “Kunci Nonfiksi BEST SELLER dari sisi internal”. Sisi internal yang dimaksud adalah dari isi dan pengarang/penulis yang berjumlah 20 kunci. Keduapuluh kunci tersebut antara lain : 1.Menulis dari yang dikuasai/dipedulikan (catatan hati pengantin, parenting, muslimah) 2.Setelah menemukan tema, mulailah mencari ide yang menarik 3.Bandingkan naskah yang direncanakan dengan buku sejenis yang beredar di pasaran 4.Buat outline, ide yang dipilih akan menjadi benang merah dalam buku 5.Saring pengalaman pribadi (pengalaman sebagai modal dalam menulis) 6.Pastikan menulis naskah yang menggoda pembaca 7.Memasukkan gaya penulisan fiksi agar tidak monoton 8.Ada dialog, tidak monoton 9.Pilih sudut pandang yang tepat 10.Gunakan subjudul untuk menjeda tulisan, agar tidak monoton dan lebih fokus 11.Selipkan dialog 12.Memulai tulisan dengan bagian yang paling menarik 13.Berikan suspens dan klimaks 14.Untuk kumpulan kisah, pastikan untuk menuliskannya dengan variati 15.Hindari memberikan pesan yang terlalu verbal pada pembaca 16.Personalisasi naskah 17.Sentuhan khusus setelah selesai 18.Pilih judul yang menarik perhatian 19.Memberi pengalaman membaca 20.Tersisa setelah membaca (terinspirasi, tercerahkan, sedih, tertawa) buku, menggerakkan 
Beberapa peluang ruang nonfiksi antara lain: 1.Buku-buku how to (pengalaman sejati) 2.Kumpulan kisah/pengalaman yang mengandung keajaiban 3.Buku kewanitaan 4.Parenting, keterampilan 5.Buku catatan perjalanan 6.Buku self improvement dan motivasi 7.Kumpulan hikmah, dll 
Setelah pemberian materi dari Mbak Asma, giliran Putri Salsa yang bagi-bagi tips. Chaca-panggilan Putri Salsa- insya Allah akan segera launching bukunya yang ke-12. Keren ya! Putri pertama Mbak Asma dan Mas Isa ini memberikan 3 (tiga) tips luar biasa bagi kami. 1.Keep reading 2.Keep writing 3.Keep trying 
Mbak Mimin Haway juga diminta sharing pengalaman karena dia berhasil menjadi salah satu kontributor dalam buku “La Tahzan for HIJABERS” bersama Mbak Asma Nadia. Mbak Mimin bilang, kalau tulisannya sudah sekitar 4 (empat) kali ditolak. Tapi dia mencoba terus, belajar dari pengalaman, hingga akhirnya tulisannya pun dinyatakan lolos dan layak bersanding dengan tulisan Mbak Asma Nadia. Setelah materi selesai, dilanjutkan sesi tanya jawab. Saya pun tak melewatkan kesempatan ini. Gegas saya angkat tangan. Chacha pertama kali yang melihat dan menunjuk saya, karena mbak Asma posisinya membelakangi saya. Akhirnya saya pun mendapat kesempatan bertanya meski sebagai penanya terakhir. Tapi saya anggap ini sangat berkesan karena pada waktu bertanya, saya diminta berdiri. Saya bertanya sambil menunjukkan buku “The Secret of Shalihah”. Saya bertanya tentang judul buku tersebut yang menggunakan 2 (dua) bahasa asing. Saya pernah mendapatkan masukan dari salah seorang pembaca buku tersebut bahwa sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia untuk judul buku. Seperti halnya dulu pernah disampaikan bunda Helvy Tiana Rosa saat saya mengikuti workshopnya. Menurut Mbak Asma, sah-sah saja menggunakan bahasa asing sebagai judul. Toh Mbak Asma juga melakukannya (“La Tahzan for Hijabers” salah satunya). Akan tetapi, untuk judul asing, biasanya tidak bisa mendapat penghargaan dari IKAPI. Begitu kata Mbak Asma. Sebelum acara selesai, kami sempat meneriakkan sebuah jargon bersama-sama. “SATU BUKU SEBELUM MATI! BISA!!!” Acara pun selesai saat Maghrib. Seperti biasa, pasca acara banyak yang minta tanda tangan dan foto bareng Mbak Asma. Saya memilih untuk shalat Maghrib terlebih dahulu, setelahnya baru ‘nyegat’ Mbak Asma. Saat keluar ruangan, suami sudah menunggu di dekat pintu keluar. Alhamdulillah, dibelikan buku “Salon Kepribadian’ karya Mbak Asma Nadia. Senangnya! Struk pembeliannya pun bisa ditukarkan dengan sertifikat dan copyan materi workshop. Setelah shalat Maghrib, kami naik ke lantai 2 lagi untuk melancarkan misi mulia. Mbak Asma masih sibuk melayani permintaan foto bareng dan tanda tangan. Saya dan suami pun memilih untuk mengobrol dengan Mas Isa Alamsyah yang berada di samping panggung. Obrolannya sangat seru, tentang calon buku baru suami saya “The Secret of Success”. Insya Allah Mas Isa berkenan memberikan endorsement di buku tersebut. Senangnya! 
Akhirnya, tibalah giliran saya dan suami untuk berfoto bersama Mbak Asma dan Mas Isa. Sebelumnya, saya sempat menyerahkan buku “The Secret of Shalihah” kepada Mbak Asma sebagai kenang-kenangan. Setelah foto bareng Mbak Asma dan mas Isa, kami pun turun. Sempat juga foto dengan Chacha di lantai 1. Hehe.. Kemudian bervisualisasi seolah sedang bercakap dengan buah hati kami kelak, “Nak.. kelak kau boleh menjadi apapun yang kau suka, tapi tetap MENULISLAH!” Alhamdulillah, bahagia rasanya hari itu.. Setelah sekian lama diri ini tidak mendapatkan ‘charging’ tentang kepenulisan, hari itu rasanya seperti mendapat energi baru lagi. Bahkan selama acara berlangsung, saya sempat mendapatkan ide tentang buku yang akan saya garap selanjutnya. Cling! Senangnya! Mohon doa, semoga bisa segera mengeksekusinya! Akhir kata, terus SEMANGAT MERANGKAI KARYA! Menulislah, sebelum namamu tertulis di batu nisan... Jakarta, 13 Mei 2013 Salam #TOBISukses, Aisya Avicenna

Sunday, May 12, 2013

[Re-Post] Tips Ngeblog Seru dari Kopdar IIDN Semarang :)

Sunday, May 12, 2013 0 Comments
http://www.dewirieka.blogspot.com/
Dear Temans,
Alhamdulillah, jadi juga kopdar ngeblog sekaligus meet and greet dengan Mbak Dian Kristiani, penulis porduktif asli Semarang yang kini tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur. Kopdar ini adalah kopdar bulanan IIDN Semarang. Agar maksimal kopdarnya, kali ini kopdar diisi dengan seluk-beluk ngeblog dari Rahmi Aziza. 

berpose dengan Mbak Dian K
Sebenarnya, kopdarnya mulai dari pagi. Karena Mbak Dian tidak bisa lama ngumpul. Ia dan keluarga mau piknik ke Djokdja. Akibatnya, aku nggak ketemu deh jadinya. Soalnya aku kudu beberes, mandikan dan nyuapin bocah sebelum ciao. Hehe, emak rempong. 

Mana galau lagi karena nggak enak ninggalin my lil family pas hari libur, hiks. Perjalanan ke rumah Mak Unik makan waktu 1.5 jam bersama Nailah, naik Trans Semarang dari Terminal Sisemut Ungaran, jauh yaa. Transit dan pindah bus di halte SMAN 5. Hampir kelewatan turunnya karena mengira Halte Makro dan Lottemart tuh beda, hihi. 


Mejeng Dengan Mbak Dian K, bukunya wow banyak!

Alhamdulillah, sampai juga di Mak Unik. Ketemu my sisters tuh bikin hati riang. Semua nampak senang karena abis kopdaran dengan Mbak Di yang rame. Ihiks. Nggak ikutaan! Kopdar kali ini bermanfaat sekali. Rahmi membagi tips ngeblog. Aku sharing tentang blog dari buku Creative Blog Writing, Rahasia Seni Menulis Blog Lebih Kreatif dari Ollie. Nyontek hihi. 

Bumil Rahmi Aziza sharing ngeblog with Thifa
Bunda sharing, bocah main ipad
Seluk-beluk ngeblog by Rahmi Aziza: 

1. Ada beberapa jenis blog: seleb blog, blogger ahli, blogger motivator, food blogger, fashion blogger, daily blogger, blogger pro, dan seperti dakuw: random blogger yang isi blognya gado-gado hehe. 

 2. Kita bisa menyewa domain sendiri untuk blog kita. lebih keren. Tapi, untuk pemula seperti kita cukup pakai blog gratisan seperti di Blogspot, Wordpress, Tumblr, Detik.com, Kompasiana dll. Pilih yang kita

senangi. Masing-masing blog ada kelebihan dan kekurangannya.

3. Blogger pemula, biasanya hobi mengutak-atik tampilan blognya biar nampak lebih kiyut. Jadi lupa nulis hehe. 

 4. Keaktifan blogger memperbarui isi blognya juga komentar dan pengunjung ke blog mempengaruhi page rank alias tingkat kebonafidan blog kita. 

5. Kini, blogger tidak dipandang sebelah mata lagi. Banyak job menarik yang bisa ditekuni blogger seperti reviewer sebuah produk, mengisi konten sebuah website, mendapatkan penghasilan dari iklan yang dipasang di blog. Belum lagi lomba menulis blog yang kian menjamur dengan hadiah menggiurkan. Kuncinya, fokus pada lomba yang diikuti. Jangan diikuti semua, encok hehe. 

 6. Menurut Rahmi, sebaiknya jangan mengirimkan tulisan/posting tulisan untuk lomba blog pada saat-saat terakhir. Beresiko. Bisa tidak dibaca oleh juri, mendadak koneksi macet, juga menurut juri si peserta kurang serius menyiapkan diri untuk lomba sehingga jadi deadliners. Tapi, memposting tulisan di awal juga beresiko: dicontek peserta lain hehe. 

 7. Jangan asal main kopas di blogmu. Karena kalau keseringan akan dibanned Google. 

 8. Apa blog niche-mu? Alias market, target pembaca blogmu: 
 a. Pilih topik yang kamu sukai agar kamu rajin posting 
b. Pilih topik bermanfaat bagi orang lain agar pembaca selalu kembali ke blogmu untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. 
c. Pilih topik yang poternsial untuk berkembang, tidak mentok, bisa digali terus dan dikembangkan 
d. Pilih topik potensial untuk di-monetisasi aka diuangkan seperti fashion, teknologi. Berpikir jauh ke depan dan lihat apakah target pembaca dan topik blogmu bisa menjadi sumber penghasilanmu kelak 

9. Karakteristik Menulis Blog:
 a. Ringan dan bergaya percakapan, seperti layaknya ngobrol dengan sahabat 
b. Pendek dan to the point, tidak bertele-tele dan membuat pembaca bosen 
c. Dapat dibaca cepat 
d. Gambar sangat mendukung postingan kamu. Sebaiknya seimbang antara tulisan gambar biar pembaca seger. 
e. Mempertimbangkan SEO 
f. Ada sentuhan personal, pendapatmu sendiri 

10. Elemen Penulisan Blog: 
 a. Judul menarik perhatian 
b. Paragraf pertama yang nendang, bisa diawali dengan pertanyaan, kutip quote orang terkenal, kutip cerita menarik, buat kesimpulan di awal, pasang gambar dll 
c. Tambahkan link sebagai referensi 
d. Pasang gambar menarik bisa diambil di www.flickr.com tag creative commons. 
e. Buat postingan dalam bentuk list juga menarik pembaca seperti 8 kiat penulis best seller dll. 

Wow, kopdar yang bergizi, banyak ilmu, perut kenyang, foto-foto dan haha hihi bersama sahabat. Great times. 

cake coklat yummi mba sari untuk milad IIDN Semarang :*
Happy Milad IIDN!
Semoga abis ini IIDNers Semarang makin rajin nulis, rajin ngeblog, sering menang lomba lomba blog dan jadi seleb blog kayak Ollie, hihi aamiin! 


Kopdar IIDN Semarang 09 Mei 2013
Thank You Mak Uniek udah merelakan rumahnya diobrak-abrik pagi buta, Rahmi Aziza untuk ilmu ngeblognya, keren! Mbak Dian Kristiani yang meluangkan waktu hadir, sharing ilmu dan bagi-bagi ttd hihi, Mak Hapsari Adiningrum yang udah membuatkan cake milad untuk IIDN Semarang, yummii dan semua teman-teman yang sudah hadir. Jangan kapok yaa!

[Re-Post] Kata Maestro Sastra Indonesia; Ini BENCANA Besar!

Sunday, May 12, 2013 0 Comments


Kata Maestro Sastra Indonesia; Ini BENCANA Besar!

by Kun Geia (Notes) on Wednesday, May 1, 2013 at 10:20am
Izinkan aku untuk berbagi, karena saat itu tidak semua orang bisa hadir bersama kami, termasuk Anda juga.

Ini bukan mengenai sesuatu yang tabu atau apapun yang akan dianggap tidak perlu, ini tentang pertemuan kami dengan pejuang pena yang telah mengharumkan nama bangsa ke seantro dunia. Ini mengenai curahan hati seorang maestro sastra Indonesia, tentang kasih sayang seorang kakek untuk cucu-cucu zaman, tentang guru terbaik yang dibagikan kepada kami melalui penggalan-penggalan PENGALAMANnya.

Tiga hari sebelum tulisan ini dibidani dari rahim inspirasi, terdengar kabar sang maestro akan mengisi sebuah acara di salah satu universitas negeri yang ada di Yogyakarta. Saudara-saudara dari Forum Lingkar Pena Yogyakarta langsung menghubungi panitia, melobi mereka untuk meminta sedikit waktu agar bisa bersua dengan sang bintang tamu.

Hari pertama kedatangan beliau ke kota budaya ini, kami gagal bertemu. Setali tiga uang di hari kedua. Dan… esoknya, pagi-pagi di hari dimana beliau akan meninggalkan Yogyakarta, kami berkenan untuk dipertemukan dengan beliau.

Perbincangan itu dimulai.

“Malas membaca!” di awal ucapan, beliau langsung menghentak alam sadar kami dengan nada tinggi, tidak menyerupai bentakan,namun lebih seperti memperingatkan. “Itu penyakit Bangsa yang belum juga dapat diatasi sampai hari ini. Kurikulum sekolah, kebijakan pemerintah, fasilitas penunjang, bahkan sampai lingkungan sekitar pun ikut-ikutan menjadi penyebab utama tidak majunya kecintaan masyarakat kita pada dunia membaca.”

Beliau menurunkan tekanan suara, dari wajah yang tadi kentara memperlihatkan keprihatinan, sedikit-demi sedikit luntur tersapu senyum khasnya. Dan… satu cambukan kembali mendarat di alam sadar kami, “Membaca saja begitu, jangan tanyakan untuk semangat menulis.”

Kami semua mengangguk, dan memang tidak ada keraguan untuk mengamini arti kebenaran dari ucapan beliau.

“Anda semua pasti sudah sangat paham bahwa modal pertama untuk mengarang adalah dimulai dari membaca.” Kembali senyum khas menghiasi untaian kalimat yang dirangkainya. Sejujurnya, aku sudah menyadari bahwa diri ini… terhipnotis kharismanya.

“Yang dibaca adalah apa saja yang dilihat, baca semua itu dengan benar. Yang dibaca adalah pengalaman hidup yang sudah dituliskan orang. Yang dibaca adalah kabar dari zaman untuk generasi Anda dan generasi setelah Anda.”

Baik, sebelum dilanjutkan, aku ingin mengingatkan kembali bahwa tulisan ini tentang proses, ini tentang transfer pengalaman, ini tentang upaya menyambung generasi, ini tentang pertautan hati untuk keberlangsungan perjuangan di beda zaman. Ini untuk kami, Anda, dan Indonesia, bahkan dunia. Pahami ini ketimbang menyesal kemudian karena tidak dapat isi yang sesuai tatkala menyelesaikan bacaan. Pilihannya dua, lanjutkan membaca atau tinggalkan sama sekali mulai dari paragraf ini.

Yang masih ingin melanjutkan, mari kita sambung lagi....
“Modal kedua adalah latihan menulis, terus dan terus. Dan, pelajaran menulis yang paling vital harusnya terjadi di sekolah.” Beliau menghela napas panjang. “Lantas apa yang terjadi sekarang? Sebelum ke sana, saya akan bercerita dulu tentang masa lalu.”

Beliau memperbaiki posisi duduk, bisa jadi ingin mempersiapkan diri untuk suatu kabar besar yang akan dihantarkan ke gendang-gendang telinga kami.

“Pemerintah kolonial menyediakan sekolah-sekolah untuk anak jajahan. Bayangkan, ini dilakukan oleh penjajah untuk orang-orangyang sedang dirampoknya.” Gir dan pengungkit di dalam otakku langsung begerak,mencoba mencerna kekuatan kata, menyediakan sekolah untuk anak jajahan ? sekali lagi mekanisme mesin dalam otakku berputar untuk empat kata, sekolah untuk anak jajahan. Diksi yang istimewa.

“Di sekolah-sekolah itu, kewajiban membaca buku dalam waktu tiga tahun adalah dua puluh lima judul buku. Sembilan buku di tahun pertama, delapan di tahun kedua, dan delapan di tahun ketiga. Anda tau kesemuanya ditulis dalam berapa bahasa? Kedua puluh lima judul buku itu tertulis dalam tiga bahasa, Belanda, Inggris, dan Prancis atau Jerman. Tidak ada karya sastra berbahasa Indonesia yang diajarkan saat itu.”

Aku menerka bahwa beliau akan menanyakan, berapa buku wajib baca yang diterapkan sekolah-seolah kami dulu sewaktu SMA? Terkaanku benar, dan keprihatinan kuberwujud nyata, bahwa dari kami semua yang berbicara, jawabannya sama, NOL.

“Di sekolah-sekolah kolonial itu, para murid wajib menulis satu tulisan setiap minggu, sekitar dua halaman. Mereka akan menulis di rumah, besoknya disetorkan pada guru, dinilai dan dikomentari, kemudian dikembalikan pada murid.” Ekspresi beliau mulai terbaca akan kembali menggebu. “Kita hitung, dalam satu semester akan terlahir delapan belas tulisan. Dalam setahun tiga puluh enam tulisan. Dalam tiga tahun, sudah terkumpul seratus delapan belas tulisan.”

Benar dugaanku, ekspresi beliau menggebu, tekanan nada suaranya lebih kentara. Aku dipaksa untuk tidak berkedip, bahkan sekedar menarik napas pun dirasa sayang karena konsentrasi akan terbagi untuk beberapa kegiatan yang dilakukan bersamaan. Sayang jika detik-detik mahal ini terlewati tanpa arti. Saudara-saudaraku yang hadir? Aku kira apa yang kurasakan mereka pun turun terlibat di batin masing-masing.

Dan, kulihat beliau menarik napas dalam, lengkingan menyusul kemudian, “Apa yang terjadi sekarang? NOL! NOL!”

Bulu kuduk berdiri, serempak memberi hormat. Suara selanjutnya yang keluar memang tidak lagi melengking, tapi tekanan nada kata-katanya, menggetarkan isi dada ini, “Dari sistem itulah lahir generasi emas! Seokarno! Hatta! Agus Salim! Mohammad Natsir! Dan masih banyak lagi mansia-manusia brilian yang hadir di tanah bangsa ini dari sebuah kecintaan terhadap buku dan tulisan.”

Ketika menatap beliau berbicara, ketika telinga mendengar kata-demi kata keluar dari ucapannya, hati berkata, apakah beliau sedang berbicara biasa, atau sedang berpuisi?

Alangkah indahnya lantunan yang kami dengarkan. Betapa padatnya makna yang kami dapatkan di setiap ucapan, dan ekspresi khas beliau tidak tersembunyikan untuk kami petik makna demi makna yang disampaikannya.

“Para pembesar bangsa terdahulu, semua menulis buku. Semua memulai dari kecintaan pada membaca. Sekarang?” Baru sekali ini beliau menyuguhi kami senyuman kecil, tapi cita rasanya… sinis. “Para pemimpin bangsa kita sekarang juga melahirkan buku, tapi dia cukup ngomong pada wartawan, dan wartawan yang menjadikannya sebagai tulisan kemudian terlahir menjadi buku.”

Aku pun ingin menarik beberapa senti bibir kananku saja, untuk berpartisipasi men-sinis-kan kelakukan mereka, tapi kharismatik beliau, mencegahku untuk melakukannya.

“Dahulu, kewajiban dua puluh lima buku yang dibaca itu dicantumkan dalam kurikulum. Terus, ketika guru mengatakan baca buku ini! Baca buku itu! Maka para murid tinggal pergi ke perpustakaan sekolah, bukunya sudah tersedia di sana, satu orang dapat satu buku. Kemudian anak itu harus membacanya, lalu ditulis rangkumannya atau resensinya, kemudian dinilai oleh guru.”

Kuterka beliau akan kembali menggebu-gebu.

“Sekarang, bagaimana kewajiban membaca buku? Nol! Kewajiban menelaah buku? Nol! Fasilitas penunjang itu semua? Nol! Anda adalah generasi nol! Saya adalah generasi nol! Bencananya adalah, kemunduran ini sudah berlangsung selama enam puluh delapan tahun!”

Benar, ekspresinya menampakkan diri,keluar bersama keprihatinan seorang kakek untuk generasi cucu-cucunya. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena tempat kami berbincang adalah sebuah lobi hotel, yang di sana tidak hanya kami saja yang berada, dan beliau menyadari itu.

“Dalam penelitian saya, di Indonesia rata-rata hanya sekali dalam setahun anak didik di suruh membuat tulisan, dan judulnya hampir sama semua; CITA-CITAKU atau kalau tidak; BERLIBUR DI RUMAH NENEK.” Kami semua tertawa, menertawakan bahwa kami merasa pernah mengalami membuat cerita dari kedua tema yang beliau sebutkan itu. “Yang bangsa kita alami selama enam puluh delapan tahun ini adalah bencana besar. Tahukah, kegemilangan generasi enam puluh delapan tahun yang lalu dengan kewajiban membaca dua puluh lima buku dan menulis seratus delapan belas tulisan, sama kemajuannya dengan Eropa dan Amerika saat ini? Tidak semua orang tau itu.”

Beliau memperbaiki kembali posisi duduknya, dan mungkin ini saatnya beliau melunak dari ekspresi yang selama hampir satu jam ini beliau keluarkan.

“Tahun empat puluh sembilan, ketika Indonesia benar-benar merdeka, berkumpulah para pengajar untuk merumuskan ke mana pendidikan bangsa akan dibawa. Akhirnya diputuskan, karena kita sudah tertinggal akibat jajahan selama ratusan tahun, maka yang harus dibangun adalah jalan-jalan yang menghubungkan berbagai kota, membangun banyak rumah sakit, perkebunan, sehingga sekolah-sekolah nantinya akan dibentuk untuk menghasilkan sarjana-sarjana teknik, kedokteran, ekonomi. Sementara untuk program membaca dua puluh lima buku dalam dalam tiga tahun, dikatakan; ‘Ini akan menghabiskan banyak waktu!’program ini, DICORET!”

Ternyata terkaanku kali ini salah, beliau membetulkan posisi duduk bukan untuk melunak. Tekanan suara beliau mendadak tinggi.

“Program menulis seratus delapan belas tulisan dalam tiga tahun, dikatakan; ‘Ini akan menghabiskan banyak waktu!’ program ini, DICORET!”

Tekanan suaranya semakin meninggi.

“Yang diagung-agungkan adalah ilmu alam, ilmu pasti, kedokteran, sementara bahasa dan sasrta… DICORET! Guru-guru yang dibentuk adalah untuk menjuruskan anak-anak didiknya pada teknik, kesehatan, ekonomi. Sedangkan guru-guru bahasa diarahkan hanya pada estetika tulisan saja! Dari SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi, yang dipelajari adalah awalan, akhiran, imbuhan… awalan, akhiran, imbuhan. Itu itu saja! Jadi tidak heran jika kecintaan membaca dan menulis buku sungguh sangat memprihatinkan.”

Beliau membuang napas panjang. Keheningan menggelayut beberapa saat.

“Kami sudah berhenti protes pada pemerintah, puluhan tahun protes, puluhan tahun menggugat, hasilnya nihil! Selama tujuh belas tahun belakangan, kami sudah berhenti protes dan membangkang pada pemerintah. Kami sudah capek, usaha puluhan tahun kami tidak pernah di dengar. Akhirnya kami melakukannya sendiri untuk memajukan minat baca, tulis, dan kecintaan pada sastra. Kami telah memberikan pelatihan pada dua ribu guru SMA dari seluruh Indonesia. Jadi, sasaran yang harus pertama dibenahi adalah para pengajar, karena selama ini guru-guru tidak dilatih untuk cinta membaca dan menulis, apalagi sastra. Jumlah SKS baca, tulis, dan sastra saja di kuliah mereka hanya dua puluh persen.”

Tensi pembicaraan sudah menurun, sudah lebih santai.

“Selain pelatihan untuk para pengajar,kami mengadakan sebuah program yang bernama, Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB). Jumlah sekolah di Negara kita lebih dari dua puluh ribu, dan kami baru mampu mendatangi tiga ratus sekolah. Selama ini para seniman datang ke sekolah-sekolah, ada yang membacakan puisi, cerpen, naskah drama, dan berbagai bidang sastra lainnya. Para siswa benar-benar antusias, mereka bisa bertemu dan belajar langsung dari Rendra, Ahmad Tohari, Nano Riantiarno, Sutarji C. Bachri, dan yang lainnya. Anak-anak diminta menyimak dan menuliskan apa yang didapatnya.”

Terkesima, inilah langkah yang lebih nyata ketimbang banyak berdebat mengenai angka anggaran pendidikan Negara yang realitanya jauh dari nyata. Terkesima, merekalah teladan sastra sesungguhnya.

“Kami juga membentuk sanggar sastra di beberapa sekolah, kegiatannya setiap sabtu dan minggu jadi tidak mengganggu sekolah, tujuannya supaya murid berminat membaca dan menulis. Di sanggar itu, wajib ada minimalnya seratus judul buku, satu komputer, satu printer, dan satu scanner. Sanggar sastra ini haruslah diasuh oleh guru-guru yang telah lulus mengikut ipelatihan yang dua ribu guru tadi. Dan tujuh belas tahun ini, kami baru mampu membentuk sanggar sastra di tiga puluh sekolah dari dua puluh ribu sekolah yang ada.”

Kembali aku terkesima, saudara-saudaraku yang lain pun kupikir tidak jauh beda. Dapat kubaca dari air muka mereka.

Beliau melihat jam di tangan kirinya, aku merasakan waktu telah mendekat untuk merenggut beberapa menit emas di depan, sepertinya kebersamaan kami akan segera diceraikan keadaan.

“Masalah kita adalah memajukan sastra di Indonesia. Dan sumber utamanya adalah minat membaca dan menulis yang telah tertinggal selama enam puluh delapan tahun. Kami sudah berhenti protes pada pemerintah. Selama tujuh belas tahun ini kami bergerak sendiri untuk pekerjaan nyata. Dan saya gembira betul dengan lahirnya FLP, ini hebat. Masya Allah, Anggotanya ribuan, hingga ke mancanegara. Saya senang dan bangga dengan Anda, dahulu bersama kawan-kawan, kami tidak mampu untuk membentuk sebuah organisasi besar yang bergerak di dunia literasi. Tapi Anda bisa. Dan FLP telah menjadi salah satu elemen roda penggerak kemajuan baca tulis bangsa, demi bangsa yang maju dan berkarakter. Kita berdoa dengan betul-betul khusyuk, semoga Allah akan senantiasa memberi jalan perjuangan ini.”

Beliau kembali tersenyum, dan matanya menyapa mata-mata kami dengan keteduhan pandangan seorang kakek untuk cucu-cucunya.

“Anda masih muda-mudi, cita-cita jadi pengarang itu dalam hidup jadikanlah nomor tiga. Yang pertama lulus kuliah dulu, senangkan hati orang tua, ridha Allah ada pada mereka. Yang kedua, bolehlah lirik kiri kanan, yang jelas doanya harus lurus, yaitu mendapatkan jodoh terbaik. Baru yang ketiga adalah menjadi pengarang atau sastrawan.”

Beliau menghela napas pendek.

“Untuk membentuk karakter penulis, yang terpenting adalah ridha Allah, kemudian jalan yang menuju ke sana pastilah harus jalan yang lurus, nanti dalam perjalannya akan datang jalan-jalan lain untuk semua yang kita butuhkan sampai menjadi seorang penulis. Dan yang tidak kalah penting, Anda harus punya perpustakaan sendiri, karena dari sanalah kecintaan terhadap buku bisa senantiasa bersatu bersama Anda.”

Aku merasakan waktu perpisahan sudah semakin mendekat.

“Tidak akan ada penulis yang hebat tanpa dia membaca banyak buku. Jadi syarat utama menjadi penulis tentu saja dia harus terlebih dahulu menjadi pembaca.”

Inikah ucapan pamungkas beliau? Hatiku tidak enak, aku ingin masih berlama-lama dengan beliau. Tapi... sepertinya tebakanku akan kembali berwujud nyata. Dan, Kun! Fayakun… beliau memohon banyak maaf, karena bukan tidak ingin lebih lama bersama, namun masih banyak hak orang lain yang perlu beliau tunaikan di tanah istimewa ini sebelum kembali ke ibu kota.

Dan, di sepanjang menit dari pukul sembilan kurang lima belas sampai pukul sepuluh lebih tiga puluh, beliau telah banyak berbagi, khususnya tentang kegundahan hati mengenai minat baca, minat tulis, dan minat sastra, yang berefek pada melemahnya karakter bangsa yang justru tidak diberhasil dibangun oleh kurikulum-kurikulum pemerintah di sekolah-sekolah dengan selogan ‘pendidikan berkarakter’.

Di menit-menit akhir pertemuan kami, ada kenang-kenangan dari (mungkin satu-satunya) komikus FLP jogja untuk beliau berupa lukisan karikarur, pun dari saya dengan memberikan sebuah buku bersampul biru. Dan, putaran waktu emas bersama beliau menjadi lebih sempurna tatkala terucap dari lisannya, “Tolong saya minta lukisan dan bukunya dibubuhi tanda tangan, nama pembuat, dan nomor telpon.”

SELESAI.


Kawan, kita menulis bukan untuk dikenal, bukan untuk dikenang, pun bukan untuk yang lain. Menulis adalah peperangan, syahid menanti di ujung goresan terakhir usia pena kita. Karena, kita menulis untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan para pendahulu, bersama bercita-cita memperbaiki negeri melalui tinta-tinta emas anak bangsa.

Ini tidak menyerupai bahasa ratapan hati, tetapi ajakan untuk bergerak dan beraksi, bukan berteori apalagi beradu argumentasi.

Mari, angkat pena… perbaiki negeri.


Yogyakarta 30 April 2013.
Kun Geia

Catatan: Anda tentu sudah tahu, siapa ‘beliau’ yang saya maksud dalam tulisan ini. Jika masih ragu, mungkin bait yang dinyayikan oleh almarhum Chriyse berikut, yang menemani sepanjang diri ini menulis dan membidani tulisan ini, akan membuat ada mengerti, siapa beliau sang maestro itu. Beliaulah yang melahirkan bait-bait ini;

Akan datang hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi
Akan tiba masa, tak ada suara, dari mulut kita

Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita, kemana saja ia melangkahnya

Tidak tahu kita, bila harinya tanggungjawab tiba
Mohon karunia, kepada kami hamba-Mu yang hina

Rabbana, tangan kami, kaki kami, mulut kami
Luruskanlah, kukuhkanlah, di jalan cahaya sempurna



Perhatian: Silakan BAGIKAN tulisan ini jika merasa berguna.