Jejak Karya

Jejak Karya

Friday, July 27, 2012

MELATI [7]: TEPAT dan TERBAIK

Friday, July 27, 2012 0 Comments

TEPAT dan TERBAIK [1]
(Juni, 2010)

Waktu yang selalu TEPAT melaju…
Mengajak diri lakukan aktivitas TERBAIK

Kudengar sendiri hela nafas TEPAT satu-satu
Dalam deguban TERBAIK kerja si jantung

Jiwa yang terbalut rapuh, TEPAT di dasar hati
Mencoba mengerti apa artinya cinta TERBAIK

Aku kutip semua serpihan-serpihan rindu dengan TEPAT
Berserakan di singgasana TERBAIK para perindu

Mimpi indah TEPAT beriringan terus semalam
Melewati hari-hari dan malam-malam hanya dengan harapan TERBAIK

Jiwaku melanglang buana menari-nari, TEPAT seirama simfoni alam
Membumbung tinggi, menembus sunyi, bermuara pada dekapan TERBAIK sang malam

Ketika menebar senyum dan matanya tertuju TEPAT di hati
Sebuah bayangan kerinduan: kau yang nun entah dimana, di tempat TERBAIK pastinya…

Saat bayangan itu TEPAT terpantul di cermin kehidupan
Saat itulah suatu masa TERBAIK yang tlah Dia siapkan…

Teriring cahaya TEPAT benderang, tampak sebuah sinaran nan suci
Menuju kembara TERBAIK kerinduan hakiki

Tujuan yang TEPAT, indah tanpa tepi
Labuhkan diri di detik akhir perjalanan TERBAIK ini….

Desahkan nafas kerinduan, TEPAT hentikan jeritan jiwa
Di puncak TERBAIK, berteman keheningan

Isyarat itu TEPAT terbaca sebagai petunjuk arah
Menghentikan laju ini pada dermaga TERBAIK, saat pemberhentian tiba

Berenang dengan TEPAT separuh nafas, dalam samudera rindu yang berpeluh
Ungkapkan rasa, menitipkannya bersama hujan dalam tetesan TERBAIK

Saat kepak sayapku TEPAT lengkap, sempurna….
Cinta-Nya lah yang menjadi penawar TERBAIK sayap yang dulunya terluka

Suara lembut itu TEPAT menggema di lorong hatiku…
Menerjemahkan dengan TERBAIK rindu yang mulai terkikis oleh waktu…

Saat sang waktu tertatih berjalan, rinduku menyelinap TEPAT di palung hati
Tangan ini pun menggenggam erat pena dan menulis surat cinta TERBAIK untuknya…

Mata, hati dan jiwa meniti baris demi baris kata merangkainya dengan TEPAT
Berteman kesunyian TERBAIK yang tak pernah ia kenal sebelumnya…

Bagi jiwa yang selalu TEPAT merindu, membuka selaksa kenangan yang pernah tercipta dahulu…
Terdengar alunan simfoni TERBAIK laksana nyanyian surga

Saat cinta-Nya TEPAT ‘berbicara’…
Dalam rukuk dan sujud tanda pengabdian TERBAIK sang hamba…

***

TEPAT dan TERBAIK [2]

Lanskap kehidupan terhampar TEPAT di palung hati
Saat cinta TERBAIK kita bermula tumbuh…

Biarkan rindu kita TEPAT luluh bersama malam
Lalu membakar sukma TERBAIK sampai fajar menjelang

Ketika cakrawala TEPAT terbentang…
Menghadirkan jarak dari dua tempat TERBAIK yang berbeda

Masih tersimpan rahasia hati TEPAT rapat-rapat
Di mana ada lelah dan ketegaran TERBAIK yang menjaganya

Menyuguhkan dengan TEPAT rasa pilu yang tak terungkapkan
Di mana ada kenangan TERBAIK tentang hari-hari kita yang lalu

Senja pun turun perlahan TEPAT di ufuk barat sana
Menghayati setiap goresan TERBAIK dalam pesona merah saga yang ditinggalkannya…

Sebuah nama masih terperangkap TEPAT di rangka langit
Pada semesta, asa TERBAIK itu masih tergelar dalam do’a berbait-bait

Selarik pelangi terbentang TEPAT di batas cakrawala
Saat penantian TERBAIK-ku pun kian ranum oleh derap sang kala

Aku tuliskan kembali sajak-sajak terindah, TEPAT pada larik bianglala…
Mengemasnya dalam bingkisan TERBAIK berlabelkan cinta

Aku titipkan rinduku TEPAT pada embun pagi di rerumputan…
Membungkusnya dalam kado TERBAIK berlabelkan kasih sayang

Pusaran waktu membuatku terhempas, TEPAT dalam sunyi
Bersama lirih zikir TERBAIK yang selalu kulantunkan…

Saat rindu dengan TEPAT melenyapkan jarak…
Meniti ulang segala jejak TERBAIK yang dulu pernah kita genggam

Menyibak kabut keraguan yang menjalar TEPAT di relung hati
Saat cahaya TERBAIK sang dewi malam melumuri langit yang berselimutkan sepi

Pancaran nuansa bening TEPAT terlukis di dasar jiwa
Pada masa TERBAIK saat kita mengucapkan rerangkai kata untuk sebuah janji suci nan setia

Kelak… saat mataku TEPAT memaku mata teduhmu
Satu yang kupinta, kenanglah segala kisah TERBAIK tentang kita selamanya…

Setelah luka kehampaan itu TEPAT hilang dan pudar jejaknya…
Bersama itu pula kita merajut impian TERBAIK yang takkan lekang karena usia

Biduk yang kau kayuh akan merapat TEPAT di dermaga hatiku
Sampai akhirnya, terjadilah pertemuan TERBAIK pertama di temaram senja

Kubingkai binar indah lakumu TEPAT seperti kerlipan gemintang
Berpendar di seantero angkasa hatiku dengan formasi TERBAIK-nya

Biarkan degup jantung kita TEPAT berpadu karena-Nya…
Sebagai tanda tambatan TERBAIK, akhir dari segala pengembaraan atas nama cinta…

[Keisya Avicenna, lembar ketujuh Ramadhan]

NB: Akhirnya, setelah setengah jam belajar nulis puisi super kilat… (*request seorang sahabat untuk melanjutkan TEPAT dan TERBAIK session 2). Pokoknya, ini hasil latihan nulis ala Keisya Avicenna, dilarang protes! Xixixi :)








MELATI [6]: “MANUSIA CAHAYA”

Friday, July 27, 2012 0 Comments


by Norma Keisya Avicenna on Thursday, July 26, 2012 at 5:13pm ·
Waktu berkurang dengan pola keteraturan yang sempurna, dan hidup terus berubah mengikuti arah takdir dari Sang Pencipta. Bulan Juli akan segera berlalu dan bulan baru akan datang dengan harapan yang semakin tinggi.

Aku berpikir dan menyusun kembali rencana-rencana jangka pendek. Tak mungkin aku tidak bersyukur karena dalam banyak keterbatasan, Allah Swt memberiku banyak anugerah yang tak terkira. Salah satu yang paling kusyukuri, pada tahun 2011 lalu aku sudah menyelesaikan pendidikan S1-ku di Solo. Alhamdulillah, Sarjana Science sudah mengikuti nama belakangku. Yasmin Nur Aini, S.Si.

“Ingatkan engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya…” penggalan lagu Letto sebagai nada dering dari handphoneku membuyarkan konsentrasiku.

Kututup buku harian dan kuambil handphoneku.
”Siapa sih pagi-pagi telepon?” gerutuku melihat nomor tak dikenal.
“Hallo. Assalaamu’alaykum…”
“Wa’alaykumussalam. Yasmin, Apa kabar?” suara seseorang di seberang.
Suara perempuan.
“Alhamdulillah, baik. Hey, maaf, siapa ya?” jawabku kurang ramah.
“Waduh, Yasmin. Kamu tidak berubah, ya? Galak! Ini Asty, ingat tidak?” perempuan di seberang akhirnya mengaku.
Betapa terperanjatnya aku.
“O, Asty. Wow, surprise di pagi hari nih! Apa kabar? Kamu kemana aja? Dah lama kita lost contact, aku bingung mau tanya siapa lagi,” berondongku tak sabar.

Asty tertawa terkikik.
“Syukur deh kalau kamu terkejut. Aku tidak sengaja menemukan nomormu di buku harianku, ternyata kamu masih setia dengan nomor ini. Alhamdulillah, kabarku baik. Aku terdampar di Pulau Borneo, ikut suami,” jawabnya.
Aku yang sudah kaget lebih kaget lagi.
“Apa? Suami? Kamu sudah nikah? Jangan-jangan aku juga sudah punya keponakan? Tega banget sih kamu tidak memberi kabar?“

Alisku sedikit terangkat. Aku semakin surprise setelah mengetahui banyak hal yang sudah jauh berbeda pada kehidupan sahabat terbaikku selama 3 tahun di SMA. Setidaknya kami memiliki kedekatan luar biasa, tak hanya bersahabat, kami juga memiliki tanggal lahir yang sama.

“Iya, tetapi kamu tidak usah terlalu heboh gitu. Ceritanya panjang, Yasmin. Kapan kita bisa ketemu? Aku sekarang lagi di Jakarta. Kata temen, kamu sekarang juga kerja di Jakarta, ya?”
Ucapan Asty membuatku semakin heboh, “Ah, yang benar? Kamu lagi di Jakarta? Oke-oke. Kita harus ketemu. Nanti SMS-an saja, ya!”

Luar biasa, akhirnya setelah hampir 5 tahun tidak bertemu, kerinduan ini akan terobati. Banyak kejutan untukku dari-Mu. Terima kasih, ya Rabb.

Aku segera beranjak dari tempatku duduk kemudian bersiap berangkat kerja. Ada semangat yang membuncah di dalam hati, semangat yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.

***
Siang ini banyak naskah yang harus kuseleksi karena tiga hari lagi rapat redaksi. Pekerjaan menjadi editor di majalah yang menghadirkan informasi, hasil riset, segala hal yang berkaitan tentang flora dan fauna ini memang membutuhkan tenaga ekstra, tetapi aku sangat menikmatinya. Meski sedikit melenceng dari basic keilmuanku waktu kuliah namun aku tetap bisa mengeksplorasi ilmu science-ku dalam kemasan yang berbeda. Tidak melulu berkutat di laboratorium, aku juga merambah dunia jurnalistik.

Saat jam istirahat, handphoneku bergetar.
“Sore ini bs ktmu d Halte Busway Harmoni?” SMS itu datang dari Asty.
Segera aku membalas, “Insya Allah. Hr ini ak slesai ngantor jam 16.30. Paling cpt smp Harmoni stngah jam. Ydh, nnti ketemuan d sana.”
Aku semakin semangat untuk segera menyelesaikan target pekerjaanku hari ini.
***

18.30 WIB di kontrakan Yasmin
Aku dan Asty melanjutkan kembali episode mengobati kerinduan di antara kami. Lima tahun bukan waktu yang singkat, betapa heboh pertemuan kami.

Dan pembicaraan berubah serius, “Yasmin, sebenarnya tujuanku ke Jakarta untuk berobat, lebih tepatnya melakukan pelepasan.”

Asty menatapku dengan roman muka berkerut. Ada gurat kesedihan di wajahnya.
Aku kaget sekali, “Hah, kamu kenapa? Pelepasan? Apa maksudmu?” alisku mencuat.
Wajah Asty berubah sendu, seolah tengah dilanda kegalauan yang maha hebat. Aku tenggelam dalam putaran arus kehidupan yang dilanda sahabatku itu.

“Perjalanan hidupku adalah lakon yang sulit ditebak, pernah menjadi sahabatmu, lalu pergi ke Jakarta mengikuti ayahku, di kota ini aku hamil yang tak kuketahui siapa ayah dari bayiku.”

“Aku pernah menjadi pelacur, melayani jumlah yang tak terhitung. Aku ditolong seorang lelaki yang mengentasku dari lembah hitam. Ia membawaku merintis hidup baru di Kalimantan. Sekarang, rahimku digerogoti kanker dan harus berobat di Jakarta.”

Lidahku kelu, tak menyangka dengan apa yang terjadi pada Asty.

***
 “Ingatkan engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya…” nada deringku memanggil di saat aku tenggelam dalam mimpi.

Dari nomor tak dikenal.
“Hallo, Assalaamu’alaykum,” jawabku.
“Wa’alaykumussalam. Mohon maaf, saya harus menyampaikan kabar penting, Yasmin. Asty meninggal dunia,” jawab suara seorang laki-laki di seberang, aku mengenalinya sebagai suami Asty.
Aku terbelalak, kantukku langsung hilang.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, kemarin kami masih SMS-an dan Asty baik-baik saja. Mas Andre sekarang di mana?”
“Di Rumah Sakit Harapan,” kata laki-laki itu.
“Saya segera ke sana.”
Di rumah sakit kudapati Asty sudah tidak bernapas, amat konyol ketika aku mengguncang tangannya berusaha membangunkannya.

***

Mataku masih sembab meski telah tiga jam yang lalu aku mengantarkannya ke tempat peristirahatan yang terakhir.
“Yasmin, sebelum meninggal Asty menitipkan amplop ini kepadaku,” kata Mas Andre, sedikit mengagetkanku.
Dengan bergegas kubuka amplop itu, dan segera kukenali jenis tulisannya. Tulisan Asty.
Selamat ulang tahun, Yasmin!
“Kebahagiaan adalah saat kita mau memberi dan menjadi MANUSIA CAHAYA:
bermanfaat bagi orang lain.”
-Asty-

Tak terasa meneteslah air mataku saat menatap foto yang aku temukan di dalam amplop itu. Foto terakhir saat kita berdua. Aku berkata kepada foto itu seolah aku sedang berhadapan dengannya, ”Ginjalmu masih berfungsi dengan baik di dalam tubuhku, Ast. Terima kasih atas pengorbananmu kepadaku tujuh tahun yang lalu…Selamat ulang tahun, Asty!”

[Keisya Avicenna, lembar keenam Ramadhan. Sebuah cerpen lama yang detik ini membuatku merindukan “Asty”]

Wednesday, July 25, 2012

MELATI [5]: “DREAM BOARD”

Wednesday, July 25, 2012 0 Comments
PLANING CEMERLANG UNTUK MASA DEPAN GEMILANG
Penyempurnaan adalah tahap akhir yang akan menentukan berkualitas tidak amal ibadah yang kita lakukan. Kita akan mendapatkan yang 'terbaik', jika melakukan yang terbaik pula. GIVE THE BEST = GET THE BEST!!! Dengan merencanakan apa yang akan kita lakukan hari ini,Insya Allah kita akan berjalan di hari ini dengan baik. Sehingga waktu yang terlewati akan bermanfaat sebagai amal ibadah kita hari ini.

Izinkan saya untuk bertanya…
  • Apa tujuan hidupmu?
  • Ketika dewasa nanti, kamu ingin menjadi seperti apa?
  • Bagaimana kamu ingin membangun rumah tangga nantinya?
  • Apa rencana kamu setelah lulus kuliah?
  • dst…

Sudahkah semua pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab jelas dalam benak kita? Apakah jika seseorang menanyakan hal tersebut maka kita dapat menjawabnya dengan tegas atau malah justru dengan kebingungan mengatakan “hmm…. ngapain ya???”

Kalau kita sudah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan lugas, itu berarti kita sudah memiliki gambaran akan hidupkita  di masa depan nanti. Dan itu bagus! Gambaran-gambaran tersebut akan terus membayangi pikiran kita sehingga setiap langkah gerak kita nantinya akan terarahkan pada tujuan yang ingin kita capai.

Namun bagaimana kalau kita masih bingung saat disodorkan pertanyaan tersebut? Itu berarti kita belum punya visi. Kita belum punya harapan-harapan spesifik dalam diri kita. Ingin seperti apa kita nantinya? Jika hal ini dibiarkan terus, maka hidup kita akan mengalir begitu saja tanpa arah. Kita tidak akan benar-benar menemukan muara yang tepat yang kita inginkan sebagai tempat bernaung kita.

Membuat rencana bisa jadi sudah menjadi kebiasaan banyak orang.  Banyaknya tugas-tugas baik karena kewajiban yang muncul dari diri sendiri maupun orang lain, membuat kita harus membuat prioritas mana yang mendesak, mana yang perlu, mana yang bisa ditunda, dan lain sebagainya.  Rencana sangat penting sehingga otak, tenaga dan waktu kita yang terbatas bisa mendukung tuntutan tugas-tugas yang ada.

Blue print baru, peta hidup yang harus direncanakan secara hati-hati, terukur dan berbatas waktu. Terukur karena kita tidak ingin hanya bermimpi, harus sesuatu yang bisa kita capai sesuai kekuatan dan kelemahan kita.  Berbatas waktu, karena kita ingin melihat apakah kita bisa mencapainya atau tidak.  Jika toh tidak tercapai, dengan batas waktu yang ada kita bisa segera merevisi peta hidup kita.  Tidak ada masalah.  Kita hanya berusaha, Allah penentu semuanya.

Bagi yang pernah membaca Ayat-Ayat Cinta karya Kang Abik, tentu pernah memperhatikan bahwa tokoh utama di buku tersebut yaitu Fahri dan juga Aisha, punya peta hidup mulai bulanan, tahunan sampai 10 tahun ke depan.  Target-target seperti kapan saatnya lulus Master, berkeluarga, mengambil program doktor, berapa banyak buku yang ditulis 10 tahun ke depan, menjadi guru besar dan lain sebagainya, semua tertulis pada peta hidup Fahri.  Nampaknya Fahri sudah punya peta hidup untuk menjadi penulis dan akademisi professional.  Dari cita-cita besar ini, akhirnya beliau jabarkan menjadi target-target dalam bulanan, tahunan sampai 10 tahun ke depan.

Mengapa perlu peta hidup? Bukankah capek sekali membebani diri sendiri.  Kenapa tidak mengalir saja?  Kita ikutin argumentasi Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta berikut :

“Maaf, setiap orang berbeda dalam memandang hidup ini dan berbeda caranya dalam menempuh hidup ini. Peta masa depan itu saya buat terus terang saja berangkat dari semangat spiritual ayat suci Al-Qur’an yang saya yakini. Dalam surat Ar Ra’ad ayat sebelas Allah berfirman, Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya. Jadi nasib saya, masa depan saya, mau jadi apa saya, sayalah yang menentukan. Sukses dan gagalnya saya, sayalah yang menciptakan. Saya sendirilah yang mengaristeki apa yang akan saya raih dalam hidup ini.”

Belum selesai aku bicara Maria menyela, “Kalau begitu di mana takdir Tuhan?”

“Takdir Tuhan ada di ujung usaha manusia. Tuhan Mahaadil, Dia akan memberikan sesuatu kepada umat-Nya sesuai dengan kadar usaha dan ikhtiarnya. Dan agar saya tidak tersesat atau melangkah tidak tentu arah dalam berikhtiar dan berusaha maka saya membuat peta masa depan saya. Saya suka dengan kata-kata bertenaga Thomas Carlyle: ‘Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan yang mulus!’ Peta hidup ini saya buat untuk mempertegas arah tujuan hidupku sepuluh tahun ke depan. Ini bagian dari usaha dan ikhtiar dan setelah itu semuanya saya serahkan sepenuhnya kepada Tuhan.”  (dari novel Ayat-Ayat Cinta)

Masa depan, sebuah kehidupan yang masih di awang-awang dan gaib, memang acapkali menguras energi. Keresahan, kebimbangan, ketakutan kerap mengiringi dan membayang-bayangi langkah. Resah akan masa depan yang tak jelas, bimbang akan tantangan hidup yang makin berat di masa mendatang dan takut kegagalan mempersiapkan diri hari esok. Ini kenyataan hampir semua manusia pernah diresahkan oleh bayangan masa depannya. Galau!

 Tak dapat dipungkiri ,setiap orang tentu menginginkan masa depan yang cerah dan gemilang. Namun ironisnya,banyak orang menjadikan semua itu sebagai tujuan akhir dan melupakan kebahagiaan yang lebih hakiki. Akibatnya segala macam cara dihalalkan  demi tercapainya tujuan itu.tanpa memikirkan akibatnya.

Nah pertanyaannya, mau menjadi apakah saya, kita semua 10 tahun ke depan?  Bukankah akan lebih menyenangkan jika kita membentuk diri kita sendiri secara sadar, memegang kendali tujuan hidup kita, dibandingkan karena terpaksa atau bahkan dibentuk orang lain?  Wallahu'alam.  Semuanya adalah pilihan.  Karena tidak memilih pun adalah pilihan.

Dan ini adalah gambaran peta hidup saya dalam kurun 2011-2015. Saya membuatnya selama 2 hari dari hasil perenungan mendalam yang sangat panjang…Selesai tepat tanggal 1 Januari 2011.

2011 :
 MEMBANGUN ISTANA HARAPAN DALAM UNTAIAN KISAH PENUH MAKNA

2012 :
FIGHTING SPIRIT = WUJUDKAN CITA MULIA DAN KELUARGA ROBBANI TUK MERAIH RIDHO-NYA
[MISI : A.M.A.N.A.H]

2013 :
 CAHAYA-NYA BERKILAU DI SETIAP EPISODE = PENDAR INDAH KELUARGA QUR'ANI

2014 :
PRIBADI KONSTRUKTIF SEBAGAI ARSITEK PERADABAN BERBEKAL INTELEKTUALITAS, PROFESIONALITAS dan KREDIBILITAS [IPK]

2015 :
MENCETAK SEJARAH DENGAN GORESAN TINTA EMAS PERJUANGAN

Ada impian di tahun 2011 yang belum terealisasi. Tak apa! Toh, sebaik-baik rencana kita masih jauh lebih baik rencana Allah Swt untuk kita. Guru spiritual saya pernah membesarkan hati, Bisa jadi Allah Swt  masih menyimpan yang terbaik untukmu, untuk kesabaranmu, untuk ke’shalihah’anmu, untuk kebaikan-kebaikan yang kamu lakukan. Sebab Dia terlalu sayang padamu  dan  takkan membiarkanmu bertemu dengan pilihan yang salah.”
(Jadi, mohon kiriman doa-doa terbaiknya dan mari saling mendoakan… ^_^)

Kita memang tidak dapat memastikan masa depan, namun bukan berarti kita tidak boleh merencanakan. Setidaknya saya merasakan hidup saya jauh lebih hidup ketika tiap membuka mata dan menatap “DREAM BOARD” saya itu. Ya, ada yang harus lebih sungguh-sungguh saya PERJUANGKAN! MAN JADDA WAJADA...

Akhirnya, KESABARAN dan KESYUKURAN menjadi syarat utama yang akan melengkapi jiwa yang TANGGUH dengan spirit “TEPAT dan TERBAIK” untuk memperoleh hasil akhir yang “SUKSES dan BAHAGIA”.

[Keisya Avicenna, lembar kelima Ramadhan]

Tuesday, July 24, 2012

MELATI [4]: "Percayalah, Wanita Baik-Baik Hanya untuk Laki-Laki yang Baik!"

Tuesday, July 24, 2012 0 Comments

“Penantian adalah suatu ujian...” -penggalan sebuah nasyid-.


Ya, karena menanti memang bukan pekerjaan yang mengasyikkan bahkan bisa jadi pekerjaan yang sangat membosankan bagi sebagian besar orang yang belum tahu bagaimana memanfaatkan waktu dalam lamanya menanti. Terkadang pikiran jadi kacau, emosi tingkat tinggi, dan berbagai ekspresi negatif lain jikalau tidak bijak menyikapi fase penantian itu. Padahal tanpa kita sadari banyak sekali fase penantian yang sering kita temui dalam aktivitas keseharian kita, baik dalam interaksi dengan orang lain, maupun aktivitas individu. Jika kita tidak pandai dan cerdik memanfaatkan waktu menanti, bisa-bisa yang kita dapatkan hanya kesia-siaan belaka yang berujung pada penyesalan atas waktu yang terbuang percuma.

Saudariku, aktivitas menanti lainnya yang mungkin lebih pada aktivitas individual adalah dalam mengiktiarkan diri menjemput jodoh. Setelah segala ikhtiar syar’i yang dibenarkan dilakukan secara maksimal, doa pun terus dipanjatkan. Kini, hanya tawakal yang dilakukan. Untuk mengisi waktu menanti setelah melewati serangkaian aktivitas sebelumnya banyak juga  aktivitas yang bisa dilakukan. Misalnya, mengisi waktu dengan baca buku-buku tentang rumah tangga beserta segala pernak-perniknya, silaturahim ke rumah kerabat atau teman-teman yang sudah terlebih dulu berkeluarga, ikut dauroh-dauroh, belajar Tahsin,  seminar kesehatan, ikut kursus keterampilan dan tak ketinggalan juga kursus memasak pada ibu atau pada teman yang terkenal jago masak. Ya, karena kesiapan itupun sejalan dengan persiapan kita.

Hm, ternyata masih banyak yang harus kita pelajari, ketahui, bahkan dilatih untuk menjadikan pribadi kita menjadi pribadi yang lebih siap ketika amanah-Nya untuk berumahtangga segera dimudahkan Allah Swt kepada kita.

Nah, ketika seorang muslim akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dan lain-lain. Bahkan ketika dalam proses ta’aruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.

Saudariku, dalam rerentet aksara ini perkenankan penulis menelisik kembali sekaligus sebagai penguatan bagi jiwa kita. Inilah kabar gembira berupa janji Allah Swt bagi orang yang akan menikah. Bergembiralah, wahai saudariku…

  1. 1.    “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An Nuur: 26)
  • Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai dengan ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah wanita yang shalihah, Saudariku! Menjadi pribadi yang dirindu jannah, menjadi sebaik-baik perhiasan terindah...
  1. 2.    “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32).
  • Ayat tersebut merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab khususnya bagi para pemuda bertambahdengan kewajiban menafkahi istri-istri dan anak-anaknya, maka Allah Swt akan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?

      1. 3. “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasa'i, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)
  • Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah Swt berdasarkan penegasan Rasulullah Saw dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah Swt itu pasti datang.

  1. 4.    “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)

  1. 5.    “Dan Tuhanmu berfirman : Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Al Mu’min : 60).  
  • Ini juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah Swt niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, sholeh, bertanggung jawab, amanah, dan seterusnya.
  • Dalam berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa, waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Perhatikan juga penghalang terkabulnya doa. Manfaat lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahwa Allah itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha Kaya, mengakui bahwa Allah Maha Mendengar, dst.

  1. 6.    ”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. (Al Baqarah : 153)
  • Mintalah tolong kepada Allah Swt dengan sabar dan shalat. Tentunya agar datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan Sunnah Nabi Saw. Juga harus shalat sesuai Sunnahnya dan terbebas dari bid’ah.

  1. 7.    “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah : 5-6).
  • Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah Swt dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah Swt sendiri yang menegaskan dua kali dalam surat tersebut.

  1. 8.    “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad : 7)
  • Agar Allah Swt menolong kita, maka kita tolong agama Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwah Islam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu penyelenggaraan pengajian, dll. Dengan itu semoga Allah menolong kita.

     1. 9. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.  (Al Hajj : 40)

  1. 10.    “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”  (Al Baqarah: 214)

Saudariku, itulah janji Allah Swt dan Dia tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun Allah Swt tidak atau belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih sayang Allah Swt yang lebih besar buat kita. Kita harus berbaik sangka kepada-Nya. Inilah keyakinan yang harus ada pada setiap diri muslimah shalihah. Menanti adalah kesempatan, manfaatkan fase ini dengan  tetap senantiasa meluruskan niat, menjaga komitmen, memperbaiki kualitas diri, meningkatkan kepahaman, dan memantabkan kembali beragam persiapan sebagai salah satu ikhtiar kita menggenapkan setengah dien.

Saudariku, kunci dari segala ujian adalah kesabaran. Fase penantian laiknya fase untuk senantiasa bersabar dalam keistiqomahan. Dengan itulah kita mampu bertahan dan berbaik sangka dengan setiap jengkal kisah yang singgah dalam hidup kita. Berusaha untuk terus memperbaiki penghambaan kita agar ketangguhan jiwa terbangun oleh keyakinan tertinggi hanya kepada-Nya.

Jadi, kenapa ragu dengan janji Allah Swt?
Optimis, yuuuk…!

[Keisya Avicenna, lembar ke-4 Ramadhan]

INFO SUPER KEREN nich!
Sekolah Pra Nikah Khusus Muslimah ( LSM KPPA Benih Solo) : Karena Ketahanan Nasional Berawal dari Ketahanan Keluarga

LSM KPPA (Komunitas Peduli Perempuan dan Anak) Benih Solo yang selama ini bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dan anak di kota Solo berencana untuk menyelenggarakan Sekolah Pra Nikah Khusus Muslimah. Program ini bertujuan untuk mempersiapkan muslimah yang ke depannya mampu menjadi ibu dan istri yang berkualitas. Sekolah ini akan diadakan selama 13 kali pertemuan dengan rincian materi sebagai berikut:
  1. Fiqh Nikah
  2. Persiapan pernikahan dan adab walimahan
  3. Psikologis pemikiran laki-laki dan perempuan
  4. Pendidikan seksual dan reproduksi
  5. Tata busana
  6. Komunikasi efektif
  7. Manajemen keuangan keluarga
  8. Menyiapkan kehamilan dan mengasuh anak
  9. Ketika istri berkarir
  10. Tata boga
  11. Tetap produktif paska menikah
  12. Menjaga romantisme pernikahan
  13. Muslimah sukses berwirausaha                                                                                                                      (Memungkinkan materi dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta)
Sekolah akan dilaksanakan seminggu sekali dengan waktu yang disepakati bersama para peserta. Untuk sekolah perdana dimulai pada tanggal 27 Juli pukul 13.00 bertempat di ruang pertemuan lt 2 Toko Jilbab Rabbani, Gading, Solo. Untuk operasional selama sekolah, peserta akan diminta kontribusi sebesar Rp 150.000,00.
Ayo berpartisipasi  dalam Sekolah Pra Nikah Khusus Muslimah, karena ketahanan nasional berawal dari ketahanan keluarga. Registrasi 17-26 Juli 2012 dengan menghubungi contact person di bawah.
Fasilitas: ilmu, pembicara berkompeten, buku agenda, dan snack setiap pertemuan.
CP
Vera Bekti Rahayu, S. Psi : 085267259219
Ulfah Hidayati, S. I. Kom : 085643242670

blog: kppabenih.blogspot.com

Monday, July 23, 2012

MELATI [3]: PENDAR CINTA DI HATINYA

Monday, July 23, 2012 0 Comments




"Bahagialah bila kau masih punya mimpi…

hidup hanya sekali…berikanlah yang terbaik…
merindukan purnama…bertahan walau di dalam duka…
bersyukurnyalah kita…masih banyak yang sayangi kita…
merindukan purnama…meraih cinta…
cinta yang menyatukan kita…”

Terdengar lantunan senandung seorang pengamen jalanan yang membuat Nayla sejenak menghentikan aktivitasnya membaca di dalam bus kota sepulang kuliah. Lagu itu sudah tidak asing lagi bagi Nayla karena akhir-akhir ini ia merasa ‘terbius’ dengan lagunya Judika yang menjadi soundtrack film Rindu Purnama itu.

Seorang pemuda memainkan gitarnya, dengan gurat wajah yang tegas namun tersirat kesedihan yang mendalam. Tapi tetap ada lukisan senyum yang menghiasi wajahnya. Dari segi penampilan, ia bisa dibilang tidak terlalu lusuh dibanding beberapa pengamen jalanan yang sempat Nayla lihat. Ia memakai kaos biru bertuliskan “Solo, The Spirit of Java”. Nayla langsung terpesona dengan performance-nya, apalagi ia membawakan lagu itu dengan baik, penuh penghayatan.
Saat melewati Nayla sambil menyodorkan kantong plastik bekas bungkus permen, pemuda itu tersenyum. Dan Nayla pun membalas senyumannya. “Semoga kapan-kapan bisa menikmati lantunan suaranya lagi," batin Nayla berharap.

***
Keesokan harinya, setiap pulang kuliah, Nayla kembali menikmati aksi pengamen itu, hari-hari berikutnya juga. Nayla jadi penasaran, kenapa ia selalu menyanyikan lagu itu. Pada hari kelima setelah pertemuan yang pertama, rasa penasaran Nayla sudah tidak bisa dibendung lagi. Maklumlah, jiwa peneliti Nayla yang selalu merasa ingin tahu lebih mendominasi. Akhirnya, setelah menyelesaikan ‘tugas’ nya di bis kota, pengamen itu turun dan Nayla berinisiatif turun juga mengikuti jejak langkah pemuda itu.

Nayla mengamatinya dari kejauhan. Sekitar pukul 17.00, pemuda itu pergi dari area ‘dinas’nya, berjalan menuju suatu tempat. Nayla mengikutinya dari belakang. Sampailah mereka pada sebuah rumah. Sederhana. Bahkan sepertinya tidak layak untuk disebut rumah. Bangunan berbahan triplek yang berbentuk kubus. Pemuda itu masuk, keriuhan pun terjadi. Terdengar suara anak-anak kecil yang memperebutkan sesuatu.

 “Eh, Ali, Budi, Ucik, Siti….jangan berebut ah...semua dapat satu-satu dari Kak Aan. Ayo, yang tenang ya, nanti nggak jadi Kakak bagi lho!” kata pemuda tadi.

“O…namanya Aan" batin Nayla. Ia bisa mengamati aktivitas di dalam rumah sederhana itu karena pintunya terbuka.
“Mbak, kenapa dari tadi berdiri di sana? Ada yang bisa saya bantu?” sebuah suara menghentikan lamunan Nayla. “Olala…kehadiranku ketahuan deh…”

“Oh…eh…kebetulan tadi saya lewat. Boleh saya masuk?”Nayla menyembunyikan rasa kagetnya. “Eh, kita belum kenalan. Nama saya Nayla.” kata Nayla sambil mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman. Tapi pemuda di hadapannya itu hanya mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.

“Iya boleh-boleh. Silahkan masuk Nayla…maaf tempatnya berantakan. Oya, namaku Aan." katanya. Nayla jadi sedikit kikuk. Tapi kemudian dia mencoba beradaptasi dan memulai percakapan. Ia ingin menemukan jawaban atas rasa penasarannya.

“Akhir-akhir ini tiap kali pulang kuliah saya sering melihat aksi Mas mengamen di perempatan Panggung, rasa penasaran saya memuncak tatkala tiap kali melihat aksi Mas selalu lagu itu yang Mas nyanyikan. Dan itu adalah lagu favorit saya. Makanya saya jadi penasaran dan jujur, saya tadi memang sengaja mengikuti Mas dan sampailah saya di sini. Kenapa Mas? Hm, maaf ya Mas. Saya kok jadi kayak wartawan gini. Hehe…," jelas Nayla sambil mengamati kondisi di dalam rumah itu. RUMAH PELANGI. Ada tulisan besar di atas sebuah rak buku.

“Nayla, aku terlahir di jalanan. Besar di jalanan, Aku hanyalah seorang anak yatim piatu. Tapi aku punya mimpi. Aku punya cita-cita besar untuk mengubah nasibku. Alhamdulillah, aku bisa sekolah sampai SMA. Rezeki dari Allah SWT yang Dia titipkan lewat tangan seorang dermawan yang menjadikanku anak asuhnya karena dulu aku tidak sengaja menemukan dompetnya yang terjatuh. Sekarang aku sudah bekerja di sebuah penerbitan di kota ini. Aku hanya ingin berbagi dengan para musisi jalanan itu.  Mereka sering dianggap ‘sampah’ oleh banyak orang. Aku dulu pernah merasakan masa-masa pahit itu. Sampai sekarang sulit bagiku meninggalkan profesi sebagai pengamen. Profesi yang sudah aku lakukan sejak usiaku masih 7 tahun. Jadi sepulang bekerja dari jam 15.00-17.00 aku sempatkan untuk mengamen dulu. RUMAH PELANGI ini kudirikan dengan harapan besar agar aku bisa sedikit meringankan beban mereka, meski itu tak seberapa. Dan lagu itu, lagu itu kunyanyikan untuk mereka.”  Nayla penuh perhatian mendengarkan penjelasan Mas Aan.

“Mereka jarang tersenyum bukan karena mereka enggan untuk tersenyum. Tapi hidup dan waktu seolah menuntut mereka menghabiskan sebagian besar kehidupan untuk bekerja keras sehingga terkadang mereka lupa bahwa ada waktu untuk tersenyum. Apa mereka lupa cara tersenyum? Atau karena mereka tak pernah menerima senyuman, makanya mereka tak tahu lagi bagaimana caranya tersenyum?”  kata Mas Aan yang membuat hati Nayla gerimis.

Ada desiran yang tidak biasa di hatinya, saat matahari menggelincir dari titik kulminasinya…

[Keisya Avicenna, lembar ketiga Ramadhan...]
NB: Teruntuk para musisi jalanan yang tlah menghiburku setiap hari dalam setiap perjalananku. Kalian adalah inspirasiku untuk lebih mensyukuri hidup. Semoga Allah Swt senantiasa menghadirkan bahagia di hati-hati kalian... *pengagumrahasia!

Sunday, July 22, 2012

MELATI [2]: Salam SD… [S]emangat [D]ahsyat!

Sunday, July 22, 2012 0 Comments


Welcome to the real world!
Kunci gerbang pasca kampus sudah aku pegang. Selanjutnya adalah saat yang tepat untuk membukanya kemudian bersiap memasuki “the real world” –dunia pasca kampus! Alhamdulillah, tidak perlu menjalani fase penantian terlalu lama untuk mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan aktualisasi diri. Bulan Juli 2010 aku diterima kerja di dua tempat sekaligus (aku menerima kabar diterima pada dua pekerjaan itu dalam waktu yang bersamaan). Pertama, sebagai pengajar SD dengan status freelance di sebuah bimbingan belajar terbesar di Indonesia, Ganesha Operation dan sebagai penulis freelance di salah satu penerbit cabang  Jakarta. Ada banyak kisah seru euy…
***
Jauh-jauh hari sebelum mempersiapkan kelulusan, aku sudah mulai merancang apa saja yang harus aku persiapkan untuk memasuki dunia pasca kampus. Ada dua hal yang ingin aku tekuni, yaitu: menjadi PENGAJAR dan PENULIS.

Pasca menjalani episode “penceplokan” hari ke-19 di bulan Maret, aku masih menjabat sebagai asisten praktikum di MIPA sampai bulan Mei. Selain itu, aku  juga masih beramanah sebagai Ketua Divisi Research di SIM (Studi Ilmiah Mahasiswa) BEM UNS sampai bulan September 2010. Dan di bulan Mei ada momentum akbar yang diselenggarakan oleh SIM BEM UNS, yaitu FILM (Festival Ilmiah Mahasiswa). Otomatis, membutuhkan konsentrasi lebih juga! Sebelum wisuda Juni, aku sempat menuliskan road mapping untuk kehidupanku pasca kampus. Perencanaan disusun sedemikian rupa. Hingga tertulis, Insya Allah Juli sudah bekerja! Atas izin Allah Swt, apa yang pernah aku tuliskan itu menjadi kenyataan. Alhamdulillah…

Salam SD!
Bulan Juli aku mendapatkan panggilan tes tertulis di Ganesha Operation Solo. Akhirnya, aku memilih untuk mendaftar sebagai pengajar SD. Why??? Semula ada seorang kakak tingkat yang sudah terlebih dahulu bekerja di GO Solo mengabarkan kalau ada info lowongan kerja di GO, beliau menyuruhku untuk mendaftar menjadi pengajar Biologi SMA. Sempat bimbang, karena semula aku ingin merambah dunia anak-anak terlebih dunia pendidikan bagi mereka. Aku ingin belajar psikologi anak dengan terjun langsung ke dalam dunia mereka. Aku ingin mencoba sesuatu yang baru, sesuatu yang menantang! Ketika aku mengutarakan keinginan tersebut, beberapa orang ada yang menyangsikan, “Mendingan ngajar SMP/ SMA, ilmu Biologi-mu masih kepake…dsb”. Banyak deh yang berusaha menentang!

Sampai akhirnya di antara kebimbangan dan kebingungan, aku mencoba khusyuk istikharah, melibatkan-Nya dalam membuat sebuah keputusan: mengajar SD ataukah SMP/SMA? Menjelang registrasi ulang tes, sekaligus memilih tingkat apa yang akan aku masuki, ada kata-kata yang selalu berdengung di telinga dan bergemuruh mahahebat di hati ini. Hanya dua kata: Semangat Dahsyat! SD! Bismillah, semoga inilah pilihan yang TEPAT dan TERBAIK… Dan aku semakin memantabkan hati dalam menetapkan pilihan tersebut. “Aku senantiasa melibatkan-Mu, Ya Rabb… Semoga ini menjadi salah satu jalanku untuk menjemput rezeki dari-Mu!”

Pada tanggal 17 Juli 2010, aku melaksanakan tes tertulis di GO. Subhanallah, banyak sekali ya yang ikutan tes? Saat mencuri dengar obrolan mereka, kebanyakan yang mau ikut tes menjadi pengajar SD adalah lulusan dari PGSD UNS. Heuheu… Dalam hati, aku tetap OPTIMIS! Semuanya sudah dirancang Allah Swt dengan sangat indah dalam skenario-Nya yang luar biasa. Kewajiban manusia hanyalah ikhtiar maksimal dan berdoa sungguh-sungguh, selanjutnya tawakkal. Pokoknya, Semangat Dahsyat!!!

Soal tes tertulis seperti soal-soal olimpiade tingkat SD dan yang diujikan adalah semua mata pelajaran. Sempat kewalahan juga saat mengerjakan soal IPS dan PKN. Hehe… Tapi optimis bisa mengerjakan Matematika dengan OK! Aku sangat mencintai Matematika! IPA juga… Aku mengandalkan ingatan-ingatan zaman SD dulu. Hihi…

Menikmati detik-detik penantian, di sela menikmati pula saat-saat terindah yang selalu penuh surprise dari-Nya. Aku pun mendapatkan panggilan dari penerbit kemudian mulai berkarya…

Pada tanggal 23 Juli 2010, akhirnya aku mendapatkan panggilan dari GO untuk mengikuti tes microteaching pada tanggal 24 Juli 2010 (hari Sabtu keesokan harinya). Padahal malam itu aku ada mabit (malam bina iman dan taqwa) di masjid kampus. Ada amanah penting yang harus segera dituntaskan. Jadi, persiapanku untuk tes microteaching kurang maksimal. Bismillah, optimis sajalah… pasti Allah Swt memudahkan! Aku selalu teringat janji-Nya dalam Al Qur’an Surat Muhammad ayat 7, yang artinya:
“Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Pada akhirnya, aku diterima di GO Solo. Alhamdulillah…
***
Tepat dan Terbaik!
Skenario Allah Swt memang sangat indah…
Tak terasa dua tahun sudah aku menempa diri di Ganesha Operation Solo. Banyak kenangan manis yang takkan terlupakan, tapi yang paling manis terekam dalam ingatan adalah saat aku terpilih menjadi pengajar SD dengan kategori “Tugas Terbaik” dalam Diklat Pengajar SD GO se-Jawa Tengah. Surprise luar biasa saat itu… Dan “penghargaan terindah” dari GO masih aku simpan dengan sangat baik.

Kini, jejak baru akan kembali aku ukir. Meski aku akan berpindah “gerbong” tapi kita masih berada dalam “rel” yang sama. Masih dengan GO…GO… I PEACE! yang menjadi jargon kita, yang semoga itu tidak hanya sekadar jargon tapi bisa mendarah daging dalam keseharian kita.
[I]ntegrity
[P]assion
[E]xcellent
[A]ssist
[C]oncistent
[E]nthusiasm

***
“Bahagia itu juga tentang ingatanmu akan kenangan saat pertama kali berjumpa dengan seseorang kemudian jiwanya bersemayam dalam hatimu. Hingga tiba masanya, ia mengucapkan kata ‘SAMPAI JUMPA’. Dan jika kelak ragaku pun tak lagi bersamamu, apa yang kemudian membekas di hati dan ingatanmu? Harapku, semoga kenangan terindahlah yang tertinggal dan ingatanmu tentang hari-hari kita yang penuh cinta dalam lukisan indah bianglala…”
[Keisya Avicenna]

NB: Untuk rekan-rekan hebatku para pengajar SD se-Solo, jika ada nama Bu NM yang disebut, semoga “Semangat Dahsyat” yang selalu teringat! Hehe… Aku pasti akan sangat merindukan kebersamaan kita di GO Mawar (tempat yang sering kita jadikan ajang nongkrong bareng_rapat.com!^_^). Mohon maaf atas segala salah dan khilaf yaa… Tetep jaga komunikasi dan jangan lupa undangannya kalau ada kabar-kabar bahagia (berlaku untuk yang masih berstatus “jomblo bahagia” dan kabar-kabar bahagia yang lain…). LUPH U ALL!!!

[Keisya Avicenna, Lembar Kedua di Bulan Ramadhan…]

Saturday, July 21, 2012

MELATI [1]: “SENYUMAN PALING CINTA”

Saturday, July 21, 2012 0 Comments


Alhamdulillah, di lembar pertama ini Nungma ingin mengucapkan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan”. Mohon maaf lahir dan batin, ya! Semoga Ramadhan tahun ini bisa kita jadikan momentum perbaikan diri untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. SELAMAT BERMETAMORFOSA!

Ada sebuah masa yang selalu istimewa di bulan puasa: mendengar suara ibu! Ya, suara ibu saat membangunkan kami makan sahur. Suara ibu yang khas, suara ibu yang membuat kami terjaga dalam suasana penuh cinta. Dan hari ini dan hari-hari ke depan selama Ramadhan Insya Allah suara penuh kasih sayang itu akan selalu menggema halus di gendang telinga ini. (Ah, kenapa diri ini selalu kalah cepat dari Ibu, ya? Hehe)

Ibu… diri ini merasa semakin bahagia, sangat bahagia. Keputusan final untuk mutasi ke GO Wonogiri dan tidak melanjutkan kontrak domisili di Solo sungguh mendatangkan suasana hati yang berbeda. Allah Swt memberikan banyak sekali kemudahan saat diri ini berazzam untuk semakin dekat dengan Babe dan Ibu sebelum akhirnya nanti ada AMANAH baru yang harus dijalani. 

***
Senyuman paling cinta…
Saat kita masih dalam buaian, dengan bersimbah keringat dan badan pegal-pegal, ibu bisa berjam-jam menggendong kita hanya agar jerit tangis terhenti, agar membias senyuman indah di bibir kita. Kala itu, rasa pegal-pegal di bagian punggungnya atau rasa sakit di pinggang dan lehernya, sudah tidak dirasakan lagi. Senyuman kita, bagi seorang ibu adalah hadiah mahal yang mau beliau bayar dengan apapun juga.

Saat usia sudah mulai menggerogoti kekuatan fisik seorang ibu, beliau menjadi orang tua yang serba pasrah menerima segalanya. Ibu hanya terus berharap, agar segala upayanya selama ini tidak sia-sia. Agar anaknya bisa hidup berbahagia dan lebih beruntung dari dirinya. Seorang ibu mungkin tidak pernah mengharapkan apa-apa. Namun di dalam lubuk hatinya, mungkin beliau teramat membutuhkan siraman kebahagiaan melalui tawa dan canda anak-anaknya.

Abdulah bin Amru, suatu hari datang menemui Rasulullah Saw. Isa berkata, ‘Duhai Rasulullah! Aku sangat ingin berhijrah bersamamu. Namun tadi, aku meninggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis. Apa yang harus kulakukan?’ Rasulullah Saw. bersabda, “Pulanglah. Buatlah mereka tertawa, sebagaimana engkau telah membuatnya menangis!” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Berupayalah untuk membuat ibu tertawa bahagia…
Sepucuk surat atau sms yang memuat doa hangat, sapaan santun dan sedikit basa-basi menceritakan kabar-kabar terkini sang anak, sudah cukup untuk membuat ibu menyunggingkan senyuman, bahkan terkadang memaksanya meneteskan airmata haru.

Berupayalah untuk membuat ibu tertawa bahagia…
Bisa jadi, terkadang kita harus merelakan biaya cukup besar dikuras dari kantong kita, hanya untuk bisa berjumpa dengan ibu. Bahkan, waktu berjam-jam mungkin malah berhari-hari, harus kita habiskan di perjalanan menuju kediamannya. Tapi sadarlah, bahwa kebahagiaan sang ibu adalah kebahagiaan kita juga. Sebesar apapun biaya itu tetap tak ada nilainya, bila dibandingkan doa tulus yang keluar dari hatinya,
‘Semoga kamu murah rezeki, Nak!’
‘Semoga kamu segera dapat suami sholeh, Nak!’
‘Semoga impian-impianmu menjadi kenyataan, Nak!’
Dan masih banyak lagi doa beliau untuk kita, anaknya…

Degh! Dentuman keras seperti membelah jantung. Saat kita sadar, bahwa do’a itu keluar dari mulut wanita agung. Luapan kasihnya yang tiada terbendung, membuatnya mampu untuk lebih mudah mengucapkan doa mulia tersebut, daripada kita!

Maka, berupayalah untuk membuat ibu tersenyum bahagia…
Di masa senja, ibu akan sangat membutuhkan hiburan kita, membutuhkan perhatian kita, membutuhkan dekapan hangat kita, membutuhkan senyuman kita, dan do’a-do’a kita…

Ibu…
Ketulusanmu adalah Maha Karya Tuhan yang tiada banding
Rerentet katamu laksana syair indah nyanyian syurga
Senyumanmu adalah senyuman paling cinta…

(Keisya Avicenna, [ME]nulis [LA]pangkan ha[TI] di Lembar Pertama Ramadhan)

NB: Dari ibulah diri ini belajar menjadi “manajer rumah tangga”. Hihi. Bahkan ibu pun sudah menyiapkan list menu buat kita, ibu sudah menyiapkan segala keperluan di Bulan Ramadhan jauh-jauh hari sebelumnya, ibu yang selalu rapi dalam administrasi, ibu yang selalu memberikan pelajaran hebat bahwa hidup itu butuh “PERJUANGAN, PENGORBANAN, dan TOTALITAS!”. Ibu yang mencintai melati, seperti aku! Love u, Mom… u’re my everything! Mumumu… :)