Jejak Karya

Jejak Karya
Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Thursday, October 01, 2020

BELAJAR DARI PERJUANGAN HIDUP BUDE SUJI

Thursday, October 01, 2020 0 Comments

 


Sosok Ibu Luar Biasa itu Bernama Sujiyati

Saya memanggil beliau Bude Suji. Awal kenal, saat saya mencari tukang pijat untuk Dzaky yang waktu itu masih berusia 2 bulan. Saya mendapatkan nomor HP Bude Suji dari Mbak Sesil, teman di grup HSMI. Ternyata, Bude Suji adalah pedagang jajanan keliling yang setiap jam 7.30 lewat depan rumah.  Beliau selalu membawa anak perempuannya di boncengan sepedanya. Saya pernah beli dagangan beliau, tapi nggak kenalan lebih dekat apalagi tahu kalau ternyata beliau pintar memijat. Singkat cerita, Bude Suji menjadi tukang pijat langganan saya dan Dzaky. Pijatannya enak. Cocok lah.


Saya pernah mendapatkan cerita dari Bude Suji tentang perjalanan hidupnya. Suami beliau meninggal dunia saat Bude Suji hamil Puri (anak kedua, yang selalu beliau ajak berdagang sejak bayi). Suami beliau meninggal sangat mendadak. Kemungkinan besar karena angin duduk atau serangan jantung. Waktu itu, usia kehamilan Bude Suji memasuki usia 7 bulan.


Usai salat Magrib suami Bude Suji mengeluhkan kurang enak badan terus rebahan di kamar setelah dikerikin Bude Suji. Setelah azan Isya berkumandang, Bude Suji ingin membangunkan beliau untuk menunaikan salat berjamaah di masjid. Tapi, beliau tidak bangun dan tidak bergerak sama sekali. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga suami Bude Suji husnul khatimah.


Kepergian sosok tercinta yang begitu cepat membuat Bude Suji seolah kehilangan separuh jiwanya. Tapi, satu hal yang membuat Bude Suji tetap optimis adalah Sifa (anak pertama yang berusia 10 tahun waktu itu), dan janin yang ada dalam kandungannya.


Alhamdulillah, anak kedua lahir dengan banyak rezeki tak terduga yang Bude Suji dapatkan. Padahal waktu itu, uang di dompet Bude Suji hanya tinggal 100.000 saja untuk persiapan persalinan. Qadarullah, banyak sosok berhati mulia yang dikirimkan Allah untuk membantu beliau.


Perjuangan Mengadu Nasib

Satu bulan usia bayi Puri, Bude Suji mendapatkan kiriman uang 300.000 dari adiknya yang tinggal di Jakarta. Rencananya uang itu akan Bude Suji gunakan untuk ke Jakarta. Kebetulan semasa tinggal di Jakarta dulu dengan mendiang suaminya, Bude Suji pernah beli sebuah kios di pasar. Modal nekat Bude Suji ingin mengubah nasib dan melupakan sejenak kesedihan karena tiada lagi sang pendamping hidup.


Dengan mengajak bayi Puri dan Sifa, mereka naik bis ke Jakarta dari Klaten. Dengan uang saku terbatas, Bude Suji hanya bisa membeli 1 tiket. Sifa terpaksa duduk di bawah. Saat perjalanan itu, Bude Suji duduk dekat penumpang lain yang bernama Mas Ari.


“Bu, anaknya duduk di kursi saya saja. Kasihan. Saya yang duduk di bawah saja,” ucap Mas Ari. Laki-laki muda berhati malaikat itu menawarkan kursinya untuk Bude Suji. Sepenuh hati Bude Suji menolak, tapi Mas Ari terus memaksa.


Bude Suji lantas mengobrol banyak hal tentang kisah hidupnya. Mas Ari sebenarnya ingin membantu banyak, salah satunya ingin membelikan satu tiket lagi untuk Sifa, tapi Mas Ari juga habis kena musibah. Ibunya baru saja meninggal dan dia sedang mencari pekerjaan.


Malangnya, kondektur bis itu sangat galak. Dia memaki-maki Bude Suji. Tangisan Puri semakin membuatnya murka. Padahal sopir dan penumpang lain tidak mempermasalahkan. Singkat cerita, Bude Suji diturunkan paksa di Terminal Banyumanik. Dengan linangan air mata, Mas Ari membuka dompetnya. Ia mengeluarkan selembar terakhir uang yang dia punya. Uang 50.000 itu berpindah tangan ke Bude Suji. Masya Allah. Sungguh mulia sekali hatinya. Mas Ari sampai menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah perlakuan kondektur yang sudah mirip orang kesetanan itu. Benar-benar tidak punya hati. Penumpang lain pun hanya bisa menyaksikan dengan  pilu.


Bude Suji lantas mencari tempat duduk di terminal Banyumanik. Petir menggelegar. Sebentar lagi akan turun hujan. Ada sosok sopir taksi yang mendekati Bude Suji dan mengajaknya mengobrol. Bude Suji pun menceritakan semua yang baru saja terjadi.


Hujan pun turun. Bude Suji diminta sopir itu masuk ke dalam taksinya. Lalu, Bude Suji diantar mencari kos-kosan di daerah Gang Mangga.


“Kalau ingin pulang Klaten atau Solo lebih baik besok saja,” pesan sopir itu.

Namun, Bude Suji berpikir kalau toh besok dia pulang, pasti orangtuanya sangat sedih dan kepikiran macam-macam. Lebih baik mencoba bertahan hidup di Semarang. Sang sopir itu pula yang membayar kos-kosan Bude Suji juga memberi uang saku kepada Puri dan Sifa masing-masing 20.000 rupiah. Sejak malam itu Bude Suji tinggal di kos-kosan itu. Bersyukur Bude Suji dipertemukan dengan orang-orang berhati malaikat.


(Kata Bude Suji, sang sopir itu dan anak istrinya kini sudah seperti keluarga sendiri bagi Bude Suji. Silaturahim mereka sangat terjaga. Masya Allah).


Menjadi Pedagang Keliling

Rezeki tak terduga pun datang kembali. Saat sang pemilik kos menyampaikan akan memberikan Bude Suji modal untuk berdagang. Bude Suji juga dibelikan peralatan untuk memasak. Masya Allah. Bude Suji lalu berjualan utri (lepet singkong) sambil menggendong Puri saat Sifa sudah mulai sekolah. Rezeki dari Allah lewat tangan sang pemilik kos membuat kehidupan Bude Suji menjadi lebih baik. (Beberapa tahun kemudian suami sang pemilik kos meninggal dunia. Sang istri juga jadi gampang sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal dunia. Bude Suji yang akhirnya merawat jenazahnya karena anak-anaknya jijik akibat luka diabetes yang diderita ibunya. Semoga husnul khatimah.)


Kala itu, ada yang kemudian memberikan stroller bayi yang tidak dipakai kepada Bude Suji. Bude Suji manfaatkan untuk mendorong Puri dan bagian belakang untuk membawa dagangan. Dagangan Bude Suji pun semakin variatif, sampai akhirnya bisa beli sepeda bekas dan membuat gerobak kecil.

 

Sampai sekarang, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari juga membayar uang sekolah Puri dan Sifa, Bude Suji masih suka menerima pesanan snack dan kue-kue tradisional, kadang sayur matang dan lauk pauk. Namun sudah tidak berkeliling lagi. Bude Suji titipkan pada penjual sayur yang berjualan dekat kontrakan beliau. Penghasilan tambahan lain, Bude Suji dapatkan dari hasil memijat. Beliau tukang pijat khusus bayi, anak-anak, dan wnaita saja.


Akhir tahun 2019 kemarin, Bude Suji merawat ibunya yang terkena stroke. Awalnya, sang ibu ikut adiknya Bude Suji yang tinggal di Jakarta. Tapi, ibu tidak betah dan memilih ikut Bude Suji. Tentu saja, Bude Suji harus memutar otak cara mengatur duit setiap harinya karena beliau tidak punya penghasilan tetap. Ibunya Bude Suji harus menjalani terapi setiap pekan di Rumah Sakit Banyumanik, juga untuk menebus obat yang biayanya tidak sedikit. Tapi, Bude Suji selalu yakin, Allah tidak akan memberikan ujian kepada hamba-Nya di luar kesanggupan sang hamba. Bude Suji sangat memegang teguh keyakinan itu. Sedikit demi sedikit Bude Suji mulai menyisihkan penghasilannya khusus untuk biaya pengobatan ibu. Beliau juga berpikir bagaimana caranya mendapatkan penghasilan tambahan.


Apalagi sejak pandemi Corona bulan Maret silam, aktivitas pijat Bude Suji benar-benar berhenti. Bude Suji lalu mencoba berjualan lumpia dan pisang karamel. Alhamdulillah, laris manis. Beliau juga sempat menjadi reseller produk Ratu Pawon-nya Mbak Desi. Status Sifa dan Puri yang yatim juga sering mengetuk hati para dermawan. Yang jelas, Bude Suji sering mendapatkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Ya, beliau selalu rutin salat Duha dan Tahajud, juga selalu ringan tangan untuk membantu orang yang membutuhkan meski dalam kondisi terbatas sekalipun.


Bude Suji baru berani menerima panggilan pijat lagi bulan Agustus kemarin. Tentu saja dengan memerhatikan protokol kesehatan. Masya Allah, saya sangat bersyukur bisa Allah pertemukan dengan sosok seperti Bude Suji. Dari beliau, saya belajar banyak hal tentang nilai-nilai kehidupan.


 

Puri - Bude Suji - Sifa


Pekan kemarin saat memijat Dzaky dan saya, beliau bercerita kalau akhir-akhir ini kakinya sering sakit. Beliau juga sering pusing karena punya darah tinggi. Saya sampaikan ke beliau jangan sampai kecapekan dan telat makan. Sehat selalu nggih Bude Suji. Semoga Allah selalu memberikan rezeki yang berkah berlimpah untuk keluarga Bude Suji.


 [*]

Jaga Kesehatan Selalu, Ya!

Di saat kondisi pandemi seperti sekarang ini, kesehatan  memang menjadi prioritas utama. Imunitas tubuh harus selalu bagus. Jika tubuh kita sehat, insya Allah banyak hal yang bisa kita kerjakan, aktivitas harian pun bisa kita lakukan dengan maksimal. Karena itu, pos keuangan untuk dana kesehatan harus diperhatikan juga.


Tidak cukup dengan bayar asuransi kesehatan atau setor bulanan lewat BPJS, anggaran dana kesehatan bisa digunakan juga untuk membeli vitamin, buah-buahan segar, juga untuk berolahraga.


Akhirnya, mari terus berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga imunitas tubuh dan kesehatan keluarga. Semoga sahabat senantiasa sehat dan terus bersemangat.


 


 

 

Thursday, November 08, 2018

PENULIS ADALAH MANTU IDAMAN SEPANJANG MASA

Thursday, November 08, 2018 0 Comments



Sabtu-Ahad kemarin (20-21 Oktober 2018), aku mudik ke kampung halaman, Wonogiri tercinta. Dua bulan lalu, rumah yang menjadi saksi beragam peristiwa dalam perjalanan hidupku Allah izinkan untuk direnovasi meski belum selesai 100%. Aku kumpulkan kembali puzzle-puzzle kenangan yang sempat aku dokumentasikan dalam catatan harianku. Hingga akhirnya, tanganku memegang buku bersampul Doraemon dan kubuka lembar demi lembarnya. Sampailah pada judul di atas dan kenangan tentang Keluarga Pelangi pun berkelebat memenuhi memori otakku. Aku hadirkan kembali wajah-wajah istimewa yang pernah berjuang bersama dalam merangkai aksara hingga menjadi kata yang bermakna dan kalimat yang berdaya. Satu per satu dari mereka pun kini telah melahirkan buku, buah dari semangat juang dalam belajar dan berlatih sejak 2011, kala itu. Ah, ingin rasanya bisa belajar dan berkumpul kembali dengan mereka secara fisik. Meski sampai detik ini pun kami masih saling sapa lewat dunia maya.
Izinkan jemari ini menuliskan kembali peristiwa yang berkaitan dengan judul itu. Judul yang sangat menginspirasi kami, untuk menjadi seorang penulis sekaligus mantu idaman. Hehe.
[*]

Sabtu, 19 Februari 2012
Alhamdulillah, ada yang istimewa hari ini…
Hm, barakallahu untuk Babe dan Ibuk tersayang. Hari ini adalah hari milad pernikahan Babe dan Ibunya SUPERTWIN dan Aa’ Dodoy ke-31. Semoga senantiasa rukun, kompak, menjadi keluarga yang sakinah, mawwadah, warohmah. Selalu bersama hingga ke syurga-Nya. Aamiin Ya Rabbal ‘alamiin.

Istana KYDEN juga semakin ramai karena SUPERTWIN lengkap. Dari pagi kita sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas. Banyak moment istimewa yang akan terjadi di Istana 5 Cinta. Uhuy…
Sekitar jam 09.30 rombongan Keluarga SAMARA-nya Nung di Solo datang. Yupz, hari ini KYDEN mendapatkan kunjungan istimewa dari Keluarga Pelangi. Halah, meski pakai adegan nyasar, keremphongan kalian teteup saja ugal-ugalan. Ada ponakan tersayang Ayu’, cucumut Diah Cmut, Mbak Eka, Kang Casofa Fachmy, Mas Alib, si imut Isa, Nunu, Danar, Mas Tyo, dan pak sopir jadi rombongan satu mobil. Mas Cowie nyepeda sendiri.
Alhamdulillah, Pelangi disambut dengan hangat di Istana 5 Cinta, Mas Dodoy sibuk ngecet pintu dan bikin tulisan nomor rumah. Babe dan Ibuk pun menyempatkan membersamai obrolan ramah tamah Keluarga Pelangi. Saling memperkenalkan diri dengan sangat uwuh sekali.
Adegan paling haru pas ada sesi potong kue milad pernikahan Babe dan Ibuknya SUPERTWIN, hadiah terindah dari Pelangi. Wow, hikshiks… bikin haru nih! Terus ada pengumuman kalau salah satu putrinya Babe Insya Allah bukan depan akan melangsungkan akad nikah (Mbak Thicko-red). Hihi… langsung deh ada adegan “gembrebeg”. Mehehehe…
Aksi Pelangi pun semakin heboh tatkala ada adegan foto bersama lanjut makan siang bersama di kawasan objek wisata Waduk Gajah Mungkur, tepatnya di warung nila bakar Moro Seneng. Seruuu bangeeet! Sorenya Babe ngebawain mereka si ngaaak, angsa yang telah tumbuh dewasa peliharaannya Babe. Hadeuh, makin remphong dah… Hahaha.
Hari pun ditutup dengan guyuran hujan yang sangat deras… Syahdu dan melagukan rindu.
[*]
Hahaha. Teman-teman yang baca catatan di atas, pasti sempat roaming dengan beberapa keanehan bahasanya. Tapi itu, adalah bahasa gaul ala anak-anak Pelangi. Semacam mehehehe, gembrebeg, uwuh, dll. Sampai kita dulu sempat nyusun kamusnya. Wkwkwk.
Catatan di atas sebenarnya kurang begitu mewakili judul, yes… Tapi apa sih yang nggak buat Pelangi. Haha. Maksa! Intinya, tulisan di atas mengingatkanku pada adegan kumpul-kumpul Pelangi saat main ke Wonogiri sekaligus jelang pernikahan Mbak Thicko. Waktu itu kan banyak anggota Pelangi yang memang sudah cukup umur untuk segera memutus mata rantai kegalauan dan kejombloan mereka. Alhasil, setelah hari itu, jargon “Penulis adalah mantu idaman sepanjang masa” menjadi semangat yang terus kami kobarkan setiap saat. Bahwa dengan menulis bisa menjadi salah satu jalan juang kami untuk menjemput rezeki. Bahwa dengan menulis bisa menjadi salah satu cara kami mensyukuri segala kenikmatan yang telah Allah beri. Bahwa dengan menulis bisa menjadi salah satu jalan kami menjadi mantu idaman, syukur-syukur ada yang dipertemukan jodohnya lewat ‘jalan juang’ ini. Bahwa dengan menulis bisa menjadi salah satu ikhtiar kami untuk menjadi sebaik-baik manusia.
Akhirnya, makna hakiki dari sebuah kesuksesan adalah terletak pada proses yang dijalani dan bukan pada apa yang diraih. Kita hanya melihat kesuksesan seseorang ketika ia telah mencapai tujuannya dan sangat jarang kita melihat proses seperti apa yang ada di balik kesuksesan yang diraihnya. Orang-orang sukses pada umumnya adalah orang-orang yang mau mengambil resiko dan berani menghadapi kegagalan. Orientasi awal mereka dalam melakukan suatu tindakan bukanlah pada hasil melainkan pada proses yang dilakukannya.
Semua itu butuh proses dan proses mensyaratkan waktu. Butuh rasa cinta untuk totalitas mencintai KESABARAN. Ya, SABAR! Sabar dengan apa yang tengah kita perjuangkan, syukur dengan apapun yang telah kita dapatkan…

Teruslah berpendar dalam goresan warna penuh cinta, Pelangiku…

Di sini…kita pernah bertemu
Mencari warna seindah PELANGI
Ketika kau mengulurkan tangamu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria…
Kini dengarkanlah… dendangan lagu tanda ingatanku
Kepadamu, teman…agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu…
(untuk selamanya…)
UNTUKMU TEMAN (Brothers)

Keisya Avicenna, 24 Oktober 2018


CATATAN LANGIT

Thursday, November 08, 2018 0 Comments




Langit masih saja berkeringat saat pelepah malam mulai menjelma fajar…
Waktu Subuh yang mengalir sebelum malam berakhir
Sang muadzin bersenandung syahdu…
Menampar mimpi-mimpi para pemboros waktu
Pengingat ‘tuk segera terjaga dan mengambil air wudhu
Bermunajat sebelum pagi membuka hari

Saat tiba waktu Dhuha…
Embun perlahan mengering di hamparan rerumputan
Di kening sajadah kupungut pecahan doa
Ada yang menderas di jiwa, dalam harap dan pinta…

Saat jiwa tak lagi mengenal lelah lembaran hari yang berlarian
Saat itu pula bersemayam sebuah keyakinan:
Tak perlu lagi bertanya tentang catatan langit!
Karena pena telah diangkat
Catatan telah mengering
Takdir telah dituliskan!

Di altar langit nanti malam, kembali kubentangkan harapan…
Bulan kan menghiburku dengan senyuman
Bersama gemintang yang berkerlip nan rupawan

“Pada akhirnya segala cinta, cita, harapan maupun impian akan tertuju pada satu titik. Membentuk sebuah oase dimana segala harapan terkumpul. Berharap Sang Pemilik akan selalu menuntun, memberi petunjuk jalan pada satu irama kehidupan yang sebenarnya, pada satu cinta yang sesungguhnya, pada satu irama kehidupan yang hakiki.”

Wednesday, March 23, 2016

[Resensi] RENUNGAN DAHSYAT UNTUK MUSLIMAH

Wednesday, March 23, 2016 0 Comments


TUJUH MATA AIR SALSABILA
UNTUK PARA WANITA LUAR BIASA
*Keisya Avicenna

Judul Buku      : Renungan Dahsyat untuk Muslimah
Nama Penulis  : Nur Sillaturohmah, Lc.
ISBN               : 978-602-317-086-9
Penerbit           : Ziyad Books
Tebal Buku      : 184 halaman
Harga Buku     : Rp 38.000,00


Salsabila adalah mata air kehidupan di surga. Mata air yang mengalir dengan segala kesegarannya. Menghidupkan yang mati, meremajakan yang lapuk, menyimpan kebahagiaan di atas kebahagiaan.
Muslimah adalah makhluk yang sangat istimewa. Seharusnya, ia memiliki karakter pribadi yang tidak hanya menyenangkan namun juga menenangkan. Hadirnya dirindukan, keberadaannya diharapkan, saat bersamanya adalah saat yang penuh manfaat, jauh dari kesia-siaan. Muslimah shalihah layaknya ‘Salsabila’ di dunia.
Buku ini bak “7 Mata Air Salsabila” yang begitu menyegarkan jiwa yang dahaga, menyejukkan pikiran yang sudah penat dengan lika-liku kehidupan di dunia, juga mengajak para muslimah merenungkan banyak hal dalam kehidupan serta mengikat makna dari beragam peristiwa keseharian.
Bagian awal buku ini kita akan mendapatkan hidangan kisah bertabur hikmah, kisah Ummu Sulaim dan Abu Thalhah. Kisah menggetarkan yang pernah dicatat oleh sejarah. Kisah yang mengajarkan betapa kuat Ummu Sulaim membendung kondisi jiwanya yang tergoncang, ia juga mampu mencegah goncangan emosi suaminya dengan cara yang sangat cerdas. Dari kisah ini pula kita belajar dan harus senantiasa bersyukur bahwa wanita adalah sosok yang istimewa dan hebat. Penasaran dengan kisahnya? Ada di halaman 13 dalam buku ini.

Keistimewaan dari buku yang ditulis oleh Ustadzah Nur Silla ini, saya merangkumnya menjadi 7 nasihat dahsyat yang menjelma “7 Mata Air Salsabila”, diantaranya :

1.      Mata Air Pertama : tentang PENCIPTAAN
Penciptaan yang begitu memesona
Dalam buku ini, setiap muslimah akan diajak untuk kembali menyelami hakikat penciptaan manusia. Pembahasan lengkap mengenai hal ini dibahas di bagian “Untuk Apa Wanita Diciptakan?” (halaman 25).

2.      Mata Air Kedua : tentang PERBEDAAN
Perbedaan dengan Kaum Adam yang membuncahkan rasa syukur
Wanita memang diciptakan berbeda dengan kaum laki-laki, tetapi hal itu tidak menunjukkan bahwa wanita lebih rendah derajat dan kedudukannya di mata Allah. Setiap muslimah seharusnya menyadari bahwa semua manusia itu berkedudukan sama di mata Allah. Hanya taqwa dan ilmu yang membedakan laki-laki dan wanita.

3.      Mata Air Ketiga : tentang PERAN
Peran istimewa dan perjuangan luar biasa
Buku ini juga mengingatkan kita akan peran istimewa seorang muslimah, diantaranya sebagai hamba Allah, sebagai istri dari suami, sebagai ibu dari anak-anak, sebagai anak dari kedua orang tua, dan sebagai salah satu anggota masyarakat. Pembahasan mengenai peran muslimah ada di bab “Bantulah Hamba Menjalankan  Tugas Sebagai Muslimah, Ibu, dan Istri” (halaman 55).

4.      Mata Air Keempat : tentang PENGINGAT
Pengingat kala kau alpa dan terlena

Buku ini dapat berfungsi sebagai pengingat. Salah satunya di bagian “Mengapa wanita menjadi mayoritas penghuni neraka?” (halaman 103). Selanjutnya, ada amalan-amalan yang dengannya kita berharap dapat meraih surga-Nya, disajikan dengan penjelasan lengkap.

5.      Mata Air Kelima : tentang PELIPUR LARA
Pelipur lara untuk hati dan jiwa yang luka
Bagi seorang wanita, kehadiran suami, anak dan keluarga mampu menjadi sumber utama kekuatan hidup (halaman 87). Jadi, terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah tidak hanya sekedar diimpikan, namun juga harus diperjuangkan.  Pelipur lara yang lain adalah doa dan dzikir, juga Al-Qur’an -yang tidak hanya dibaca namun juga harus direnungkan maknanya dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

6.      Mata Air Keenam : tentang PENOLONG
Penolong dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana
Sabar dan shalat adalah sebaik-baik penolong (QS. Al-Baqarah ayat 153).

7.      Mata Air Ketujuh : tentang PERJUMPAAN TERBAIK
Perjumpaan terbaik dengan Rabb tercinta
Hidup ini singkat, jangan sampai terlena dan lupa bahwa setelah kehidupan yang fana ini masih ada kehidupan akhirat yang kekal abadi. Buku ini juga mengajak kita bergegas untuk bertaubat dan mengharapkan ampunan-Nya setiap saat. Hingga cita tertinggi kita adalah sebuah akhir yang indah (husnul khatimah), membangun istana di surga, dan perjumpaan terbaik dengan Rabb tercinta.

Saya hampir tidak menemukan kekurangan dalam penulisan buku ini. Semuanya tersaji dengan bahasa sederhana, dekat sekali dengan keseharian muslimah, mudah dipahami, lengkap dengan dalil baik dari sumber Al-Qur’an maupun hadits. Di hampir setiap subbab ada bagian lembar kosong untuk diisi pembaca, ini menarik sekali

Tapi, alangkah lebih ‘eye catching’ kalau tidak melulu berisi tulisan, mungkin ada tambahan ilustrasi atau infografis khas muslimah, sehingga memudahkan dalam pemahaman.
Buku ini sangat saya rekomendasikan untukmu duhai Shalihah, yang ingin terus-menerus memperbaiki diri. Maka, jadilah sebaik-baik perhiasan dunia, hingga engkau menjadi wanita dunia yang layak dicemburui para bidadari surga.