Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Selamat Datang di Ruang Karya Keisya Avicenna... ^___^ Terima kasih atas kunjungannya... Semoga bermanfaat!

Jejak-Jejak Karya

Jejak-Jejak Karya

Langganan Tulisan dari Blog ini yuk!

Waktu adalah Pedang


11 ALASANKU MENCINTAI AKSARA






Aku mengenalmu sudah lama. Saat Ibuku menuntunku mengejamu satu demi satu...
QWERTYUIOPASDFGHJKLZXCVBNM.
26 aksara yang ajaib! Izinkan detik ini aku kembali mengakrabimu. Mensejajarkanmu, satu dengan yang lain menjadi untaian kata yang berpadu. Mencoba tegak berdiri, bersejajar dan saling menguatkan. Hingga tercipta rangkaian kalimat yang apik yang sarat akan makna, kaya akan hikmah. Aksaraku, izinkan tulusku mencintaimu. Hingga jiwaku terlelap bersama cinta dalam goresan pena :
“Dari Tinta jadi Cinta…”

Ketika aku memutuskan “Pena adalah daya juangku” dan “Aksara adalah pasukan yang setia mengiringinya”,  menulis adalah passion-ku”, lalu aku tetapkan alasanku untuk selalu mencintai mereka, tulus tanpa syarat…

Dan inilah 11 ALASANKU MENCINTAI AKSARA
Menulis adalah menjadikan setiap aksara bermetamorfosa menjadi dzarrah kebaikan [Keisya Avicenna]
* Kalimat ini merupakan motto hidup ketika aku harus bertanya kepada diri sendiri: “mengapa aku harus menulis?” dan “untuk apa aku menulis?”. Harapan besarku, ketika menulis, aku mampu menjadikan aksara-aksara itu menjadi untaian kalimat yang sarat manfaat, khususnya buat diri sendiri terlebih untuk orang-orang yang membaca tulisanku.

Menulis untuk mendokumentasikan hidup.
* Salah satu kegiatan menulis yang aku suka adalah menulis catatan harian yang kuberi nama “[NO]stalgia [R]o[MA]ntic”. Dengan menulis catatan harian, aku dapat mengasah kemampuan dalam memilih kata, sarana meluapkan emosi, wadah untuk melakukan evaluasi, memperkaya jiwa, mengasah kepekaan jiwa, mendewasakan emosional, dan yang paling penting untuk mendokumentasikan hidup. Setiap hari yang terjadi dalam hidup kita pasti ada pesan-pesan rahasia yang telah Allah SWT titipkan, dan kita harus pandai dan bijak dalam mengambil hikmah. So, saatnya aku belajar mengikat ilmu dengan menuliskannya!

Menulis sebagai panggilan jiwa.
* Semuanya bermula dari hati, dari dalam jiwa kita. Aku ingin menjadikan aktivitas menulis sebagai aktivitas yang bermula dari jiwa, aktivitas yang ketika aku tidak melakukannya, aku serasa “mati”. Karena menulis sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam jiwaku, dalam hidupku, dalam duniaku. Dengan bergabung di komunitas menulis bahkan tengah berjuang dalam sebuah komunitas kepenulisan (DNA Writing Club), aku yakin, aku akan terus bisa “hidup” dan terus bersemangat untuk meningkatkan KUALITAS dan KUANTITAS tulisanku.

Menulis untuk menciptakan kebahagiaan
* Kebahagiaan itu tidak dicari, tapi kita sendirilah yang menciptakan kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang tidak hanya untuk kita nikmati sendiri tapi kebahagiaan yang bisa kita bagi hingga orang lain pun turut merasakan kebahagiaan itu.

Menulis : menata aksara warnai dunia!
* Rangkaian tulisan bisa menjadi jembatan harapan, kehendak dan inspirasi tiada henti. Berjuta cerita telah dengan sukses diabadikan dengan indahnya tulisan. Beribu tokoh terlahir dengan kepiawaiannya bercerita melalui tulisan. Pesan dan cita-cita mengalir setiap saat dengan sekian banyak tulisan yang dibaca manusia di seantero dunia. Hmm, indah dan dahsyatnya sebuah tulisan!

“Tidak begitu penting menjadi terkenal dengan menulis lebih penting menjadi terampil dan bisa memberi banyak manfaat banyak melalui tulisan kita” (Pesan Mas Koko Nata saat Upgrading Nasional FLP tanggal 4-6 Februari 2011).
* Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya. Dan aku ingin menjadi manusia yang bermanfaat, bisa menginspirasi banyak orang, memberikan pencerahan dengan kekuatan kata-kata dalam tulisan.

“Norma…amal jariyahmu akan kamu bawa mati, maka MENULISLAH!!!” (Pesan Mbak Sinta Yudisia saat Upgrading Nasional FLP tanggal 4-6 Februari  2011)
* Pesan Mbak Sinta semakin menguatkan azzamku –kala itu- untuk lebih sungguh-sungguh dan serius lagi di “jalan pena”, hingga kini.

Sebuah perwujudan DNA. Dream ‘N Action! Karena menulis bukan kegiatan main-main :
a.   Menggunakan dasar ilmu
b.   Menggunakan niat yang kuat
c.    Menggunakan hasrat/passion yang terarah
d.   Menggunakan strategi yang jitu
*    Salah satu impian yang pernah aku tulis di DREAM BOARD : menjadi WRITERPRENEURSHIP! Impian ini mulai menjejak nyata di November 2013 lewat DNA.
*    Ya, semula memang bermula dari IMPIAN dan aku akan berusaha untuk merealisasikan impian-impianku selanjutnya.

Menulis adalah jalan pengembangan diri
* Apakah satu buah tulisan yang telah dimuat sudah mencukupkan diriku untuk terus belajar? Lalu menganggap diri ini sudah bisa menulis, kemudian menutup mata dari kenyataan bahwa satu tulisan saja tidak cukup untuk menjadi sebuah proses pembelajaran. Bahwa setiap tulisan yang gagal muat sebenarnya mengandung pelajaran bahwa aku tidak seharusnya mengulang kesalahan yang mungkin kubuat ketika menuliskannya. Bahwa seharusnya aku bisa lebih banyak menulis untuk meningkatkan kemampuan. Bahwa pada saat itu aku terpaku untuk melihat peluang hanya pada satu titik saja.
* Aku mungkin lupa, bahwa setiap keberhasilan memiliki jalannya sendiri-sendiri. Ada yang mulus, sekali dua kali percobaan langsung berhasil, karena mungkin dikaruniai bakat dan kemampuan yang baik dalam hal itu. Namun ada juga yang penuh liku, bahkan proses itu begitu panjang hingga harus melewati berkali-kali kegagalan. Aku mungkin lupa, bahwa setiap kegagalan memiliki hikmahnya sendiri-sendiri. Dan setiap kali dapat merenungi sebuah kegagalan, aku akan mendapatkan kesegaran dan semangat baru untuk memperbaikinya dan melakukan hal tersebut lebih baik lagi.

Saatnya BELAJAR, BELAJAR dan TERUS BELAJAR untuk menjadi pribadi yang LEBIH BAIK dan LEBIH BAIK.
*    Karena bagiku, menulis adalah proses pembelajaran dan perbaikan diri.

Karena MENULIS ADALAH NIKMAT TERINDAH (Belajar dari Mas Gola Gong)
* Mas Gola Gong yang punya keterbatasan secara fisik saja bisa, aku yang Alhamdulillah mempunyai fisik sempurna seharusnya mampu meneladani sosok beliau. Mas Gong, you’re my best teacher!

Di penghujung celoteh aksara #CenungMerenung ini, perlu kita ketahui bahwa hambatan pertama ketika menulis sering karena kurang kemampuan menangkap IDE SECARA KREATIF. Hambatan kedua sering karena tidak tahu METODE EKSEKUSI IDE. Hambatan ketiga karena memikirkan KETAKUTAN yang belum tentu terjadi. Hambatan keempat karena merasa HARUS SEMPURNA. Dan hambatan utama adalah… TIDAK PERNAH MEMULAINYA.

Karena aku tidak ingin ketika jatah hidupku di muka bumi ini sudah habis, orang-orang hanya mengenal biografi hidupku dalam 3 kalimat : nama, tanggal lahir, dan tanggal wafat. Karena itu, aku ingin meninggalkan warisan yang semoga bisa bermanfaat untuk umat, salah satunya dengan MENULIS!

Alhamdulillah, atas izin-Nya lahirlah satu karya ini "BEAUTY JANNATY"


Dari Tinta Jadi Cinta…
So, tunggu apa lagi? MENULISLAH  dan CIPTAKAN SEJARAH!




KADO TERINDAH DI 31






TERMINAL PERENUNGAN : PENGHUJUNG 30


Begitu banyak kesyukuran yang harus aku langitkan hingga detik ini. Pasalnya, mungkin sudah tak sanggup lagi aku menghitung nikmat serta beragam kebahagiaan yang tak pernah Allah salah alamatkan.  Allah Maha Baik, terlalu Baik malah. Terima kasih Ya Allah… meski hambaMu ini masih sering tak khusyuk sholatnya, lebih banyak pegang HP daripada waktu tilawahnya,… Astaghfirullah. Tapi, Engkau selalu mencukupkan kebutuhan hamba.

Hari ini, lembar pertama Februari. Dan Februari selalu menjadi bulan yang istimewa. Bulan untuk menjadi hakim pada diri sendiri. Bulan untuk bermuhasabah, atas berkurangnya usia, atas kehidupan yang telah terjalani sebelumnya, untuk bersiap menapaki hari-hari di ‘usia yang baru’ nantinya.

Hari ini adalah hari di mana akhir dari masaku menjalani 30 tahun usia. Esok, angka 0 itu akan menggelinding dan berganti angka 1. Ya, esok adalah 31 tahun usiaku. Selayaknya diri ini pantas merenung. Menciptakan sebuah terminal perenungan. Pencapaian apa yang sudah ada di tangan? Kontribusi kebaikan apa yang sudah dilakukan?

Kamis, 1 Februari 2018
Penghujung 30
#diaryUmma


[Hari 2] : PENTINGNYA ISTRI MANDIRI SECARA FINANSIAL

Kamis, 2 Maret 2017
Pentingnya Istri Mandiri Secara Finansial
Mandiri secara finansial berarti seorang individu dapat mengelola keuangannya sendiri. Jika individu tersebut memiliki anak, maka dia harus bisa mengelola keuangan untuk seluruh anggota keluarga, dengan atau tanpa pasangan.
Mengapa istri harus mandiri secara finansial? Berikut beberapa keuntungan mandiri secara finansial bagi istri:
1. Istri yang mandiri secara finansial dapat membantu keuangan keluarga.
Seorang istri yang memiliki penghasilan pribadi dapat mendukung rumah tangganya ketika suami kehilangan pekerjaan atau mengalami hal lainnya yang mengakibatkan kehilangan penghasilan.
2. Istri yang mandiri secara finansial dapat memberikan kontribusi finansial
Ketika harga barang dan biaya pendidikan melambung tinggi, istri yang memiliki penghasilan pribadi dapat menyokong keuangan keluarga sehingga kebutuhan anak tetap tercukupi.
3. Istri yang mandiri secara finansial dapat memberi motivasi bagi anak-anak mereka untuk bersikap mandiri
Istri dengan penghasilan pribadi bisa menjadi contoh bagi anak-anak mereka.
4. Istri yang mandiri secara finansial dapat mewujudkan ‘mimpi’ mereka
Terkadang kita hanya bisa bermimpi tanpa mewujudkannya karena terbentur masalah ekonomi. Entah itu membawa anak-anak liburan, menyekolahkan anak di sekolah yang baik, atau sekedar menyenangkan diri sendiri dengan melakukan perawatan pribadi di spa/salon.
Bukan Hanya Mandiri, Istri Harus Memiliki Rencana Keuangan
Jika istri sudah menyadari risiko-risiko yang dapat dialami sang suami, maka penting bagi dirinya untuk bisa berdiri sendiri dalam hal keuangan.
Apakah artinya istri harus bekerja kantoran?
Tidak. Istri bisa menjadi mandiri secara finansial tanpa bekerja konvensional sebagai karyawan. Jika kita adalah ibu rumah tangga, maka belajarlah menjadi ibu rumah tangga yang kreatif dan mampu menghasilkan pendapatan sendiri. Misalnya dengan usaha katering kecil-kecilan jika gemar memasak, atau bekerja sebagai penulis lepas jika  punya bakat menulis, dan sebagainya.
Semuanya tidak ada yang instan, semuanya harus melewati proses belajar yang konsisten.
Dengan ‘aman’ secara keuangan dan mandiri finansial, artinya kita akan tahu batasan gaya hidup seperti apa yang sesuai dengan kantong kita sendiri.  Satu hal yang menjadi tujuan kenapa banyak sekali istri ingin mandiri secara keuangan adalah ingin punya waktu untuk pribadi, keluarga dan organisasi  serta berinteraksi/berkontribusi dengan masyarakat lebih banyak lagi, ingin berbagi dan sedekah lebih banyak lagi, dsb.




[Hari 1] : MENJADI ISTRI YANG "MANDIRI FINANSIAL"


Rabu, 1 Maret 2017
MELATIH KEMANDIRIAN#1 : MENJADI ISTRI YANG "MANDIRI FINANSIAL"

Menurut Ust. Tri Asmoro Kurniawan, secara umum manusia itu nyaman dengan kebiasaan-kebiasaan, maka satu hal yang sering dikhawatirkan adalah adanya fase-fase perubahan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Dan pernikahan adalah fase perubahan dari kebiasaan-kebiasaan masa lajang menuju kebiasaan-kebiasaan rumah tangga.
Nikah adalah kemandirian. Sepasang suami istri hendaknya tidak terlalu menggantungkan dirinya pada orang lain seperti teman, saudara atau orang tua. Meskipun pengertian mandiri bukanlah berarti hidup sendiri tanpa membutuhkan campur tangan orang lain. Tetap saja dibutuhkan peran orang lain dalam porsi sewajarnya. Mengingat manusia adalah mahluk sosial yang saling bersimbiosis mutualisme. Demikian halnya dalam kehidupan berumah tangga, kewajiban mencari nafkah memang ada di pundak suami, tapi tak ada salahnya istripun berupaya untuk tetap mandiri dari segi finansial.
Ini yang sejak awal juga saya komunikasikan kepada suami. Saya minta pendapatnya tentang istri yang bekerja di luar rumah. Setahun pertama kita menikah, saya masih berstatus sebagai “istri pekerja”, meskipun jam kerjanya hanya siang sampai jelang Isya’ karena saya ngajar di bimbingan belajar. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk resign. Saya dan suami pun sering terlibat obrolan, apa yang bisa saya lakukan dengan menjadikan rumah sebagai kantor, tetap bekerja meskipun dari rumah, tetap berpenghasilan meskipun dari rumah. Akhirnya tercetuslah ide dan kami mendirikan sebuah bimbingan belajar dan tempat pelatihan menulis untuk anak-anak dan remaja : DNA WRITING CLUB. Alhamdulillah, jatuh bangun kami memulainya. Dari yang awalnya 1 murid, 3 murid, bertambah jadi 5 murid, sekarang sudah lebih dari 50 anak.
Suami yang bekerja sebagai pegawai swasta benar-benar menjadi supporter dalam proses pengembangan DNA. Sampai sekarang pun, saya masih terus belajar untuk mengatur keuangan rumah tangga. Penghasilan yang saya dapatkan pun lumayan. Bisa saya tabung dan untuk keperluan pribadi saya (misal untuk beli buku yang saya inginkan, tanpa harus mengusik uang belanja atau meminta suami).
Kemandirian memang bukan perkara yang mudah, namun banyak cara untuk memupuk karakter tersebut, salah satunya dengan menggali potensi diri dalam berkreativitas. Saya menemukan potensi diri saya : MENULIS dan MENGAJAR. Maka, lahirlah DNA WRITING CLUB dan karenanya saya berusaha menjadi seorang istri yang  mandiri dari segi finansial dengan terus mengasah skill yang saya miliki. Karena pada dasarnya, setiap permasalahan memerlukan kemandirian dan cara–cara yang kreatif untuk menyelesaikannya. Semakin banyak permasalahan yang bisa diatasi dan semakin besar kebutuhan yang harus dipenuhi, maka semakin terasahlah kreativitas dalam diri seseorang. Semoga…





Pencarian

Popular Posts

Arsip Blog