Jejak Karya

Jejak Karya

Friday, August 09, 2019

PRESTASI DAN KARYA DNA WRITING CLUB

Friday, August 09, 2019 0 Comments


PRESTASI MURID DNA WRITING CLUB
1.      Finalis Mewakili Provinsi Jawa Tengah di Apresiasi Sastra Anak SD 2013 (KPCI/Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2013)
2.      10 Naskah terbaik KKPK Juice Me Dar! Mizan “Aku dan Pengalaman Lucu” (diterbitkan dalam bentuk buku)
3.      10 Naskah terbaik KKPK Juice Me Dar! Mizan “Aku dan Indonesia” (diterbitkan dalam bentuk buku)
4.      10 Naskah terbaik KKPK Juice Me Dar! Mizan “Aku dan Impianku” (diterbitkan dalam bentuk buku)
5.      Delegasi Terpilih Konferensi Anak Indonesia 2014 “Aksi Kecil Hidup Bersih” dari Bobo
6.      Finalis Mewakili Provinsi Jawa Tengah di Apresiasi Sastra Anak SD 2014 (KPCI/Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2014).
7.      Juara Favorit Lomba Mengarang kategori SD Children Helping Children Tupperware 2015
8.      Delegasi Terpilih Konferensi Anak Indonesia 2015 “Aku dan Kotaku” dari Majalah Bobo
9.      Finalis Mewakili Provinsi Jawa Tengah di Apresiasi Sastra Anak SD 2015 (KPCI/Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2015)
10.  Juara 6 Lomba Menulis Cerita (LMC-SD) 2015
11.  Pemenang Utama (Juara 1) Lomba Penulis Cilik Hari Kesehatan Nasional 2015.
12.  Finalis ARKI 2015 (Akademi Remaja Kreatif Indonesia) 9-12 Desember 2015.
13.  Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Majalah CILUKBA
14.  Juara Harapan 1 Lomba Menulis Puisi Majalah CILUKBA
15.  Finalis ARKI 2016 (Akademi Remaja Kreatif Indonesia) Oktober 2016
16.  Juara 1 Lomba Menulis Surat dalam rangka Hari Santri
17.  Delegasi Terpilih Konferensi Anak Indonesia 2016 “Aku dan Jendela Dunia” dari Majalah Bobo.
18.  Finalis Mewakili Provinsi Jawa Tengah di Apresiasi Sastra Anak SD 2016 (KPCI/Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2016)
19.  Finalis Mewakili Provinsi Jawa Tengah di Apresiasi Sastra Anak SD 2017 (KPCI/Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2017)
20.  Cerita dimuat di Kompas Anak : Fathiyah, Haikal, Kayana.
21.  Puisi dimuat di Koran Suara Merdeka : Azfa.
22.  Cerita pengalaman dimuat di Arena Kecil-Majalah BOBO : Meyza.
23.  Cerita pengalaman dimuat di Kampung Permata-Majalah UMMI : Hanun.
24.  Kontributor artikel remaja di web “The Jakarta Post” : Alifia.
25.  Finalis Mewakili Provinsi Jawa Tengah di Festival Literasi Nasional 2018 kategori Lomba Menulis Cerpen tingkat Sekolah Dasar : Zaskia
26.  Terpilih sebagai 5 Wartawan Junior Majalah Cilukba 2019 : Zaskia Talita Sasikirani
27.  Juara 1 Lomba Menulis Artikel tentang Cita-cita dalam rangka Class Meeting Semester 1 di SDIT Bina Insani Semarang kategori kelas atas : Laras Hanum Ramadhani.
28.  Juara 2 Lomba Menulis Artikel tentang Cita-cita dalam rangka Class Meeting Semester 1 di SDIT Bina Insani Semarang kategori kelas bawah : Kineta Pastika.
29.  Juara 3 Lomba Menulis Surat di SD Alam Ar Ridho : Andita.
30.  Juara 2 Lomba Menulis Cerpen bertema Kereta Api berlokasi di Stasiun Tawang : Zaskia Talita Sasikirani
31.  Juara 3 Lomba Menulis Cerpen bertema Kereta Api berlokasi di Stasiun Tawang : Wafa
32.  Juara 2 Lomba Menulis Cerpen Festival Literasi Sekolah Dasar 2019 tingkat Kota Semarang : Zaskia
33.  Finalis Mewakili Provinsi Jawa Tengah di Festival Literasi Nasional 2019 kategori Lomba Menulis Cerpen tingkat Sekolah Dasar : Zaskia
34.  Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Festival Literasi Sekolah Menengah Pertama 2019 tingkat Kota Semarang : Khansa.

BUKU KARYA MURID DNA WRITING CLUB
1.      Buku Kumpulan Cerpen DNA WRITING CLUB “Dongeng Nyentrik Alesha”.
2.      Buku Kumpulan Cerpen PECI Indiva “Janji 1000 Bakau”
3.      Buku Kumpulan Cerpen PECI Indiva “Hafidzah Cilik”
4.      Buku Kumpulan Cerpen PECI Indiva “Impian Mila”
5.      Buku Kumpulan Cerpen PECI Indiva “Mahkota Surga untuk Ayah”
6.      Novel Fantasteen Dar!Mizan  “Illuminate It”
7.      Buku Kumpulan Cerpen PECI Indiva “Teman Hingga ke Surga”
8.      Buku Kumpulan Cerpen PECI Indiva “Guruku Superhero”
9.      Buku Kumpulan Cerpen PECI Indiva “Merapi Tak Pernah Ingkar Janji”
10.  Buku Kumpulan Cerpen PECI Indiva “Keajaiban Al Qur’an”
11.  Buku Kumpulan Cerpen PECI Indiva “Kemenangan di Balik Kekalahan”
12.  Buku Kumpulan Cerpen PECI Indiva “Sajadah untuk Ayah”
13.  Buku Kumpulan Cerpen “Ternyata Aku Bisa!”
14.  Kumpulan Cerita Seram (Tiga Ananda, 2015)
15.  Buku Sepatu Melayang (Dar!Mizan);
16.  Buku Gedung Seribu Pintu (Dar!Mizan),
17.  KKPK Class Vol. 20 “The Journalist School”
18.  KKPK Class Vol. 8 “Pesta Sekolah”
19.  KKPK Class Vol. 10 “The Real Winner”
20.  KKPK Komik Next G “Bosan Belajar”
21.  KKPK Komik Next G “My Naughty Brothers”
22.  KKPK Komik Next G “Perpustakaan Misterius”
23.  KKPK Special Edition “Semangat Baru Lintang”
24.  Buku Kumpulan Cerpen PECI Indiva “Bunda di Sepertiga Malam”
25.  KKPK Komik Next G “Bekal Istimewa Bunda”
26.  KKPK Komik Next G “Penculikan Azhar”
27.  KKPK Komik Next G “Gara-Gara Mata Nenek”
28.  Beberapa buku sedang proses terbit

Tuesday, March 12, 2019

BER-“FLOWER-FLOWER” DI 4 TAHUN GANDJEL REL

Tuesday, March 12, 2019 0 Comments



BER-“FLOWER-FLOWER” DI 4 TAHUN GANDJEL REL

Foto bareng ^_^


Ber-“FLOWER-FLOWER” #1 : SEBUAH PUISI SEDERHANA
GRes, izinkan saya berpuisi barang sejenak… simak yes *krukupanpancinahanmalu… cek cek…

(G)empita syukur membahana di seantero semesta
(A)tas bertambahnya usia sebuah komunitas rasa keluarga
(N)ge-Blog ben rak ngganjel adalah jargonnya
(D)eretan aksara mereka akrabi setiap harinya
(J)ejak-jejak karya dan ukiran aneka prestasi pun tercipta
(E)nergi positif selalu terpancar setiap kali kopdar terlaksana
(L)ima founder kece : Mak Rahmi, Mak Uniek, Mak Dedew, Mb Taro, n Mak Wuri tak pernah lelah berjuang bersama

(R)atusan anggota kini tergabung di dalamnya
(E)mpat tahun sekarang usianya
(L)ove u full, Gandjel Rel tercinta!

Gimana GRes puisinya? Semoga berkenan yaaa… ^_^ *sinipeluksatusatu

Ber-“FLOWER-FLOWER” #2 : SEBUAH NOSTALGIA ROMANTIS
Alhamdulillah, 4 tahun sudah… Barokallahu fii umrik, Gandjel Rel! Tak terasa ya, sudah tahun ke-4. Meski baru pertama kalinya saya menghadiri seremonial hari lahirnya Gandjel Rel. Bersyukur sekali rasanya, akhirnya bisa datang. Cihuuuy! Apalagi setelah kelahiran Dzaky, rasanya saya absen lama untuk ikutan kopdar-kopdar. Lagi seneng-senengnya menikmati peran baru setelah penantian sekian purnama soalnya. Blog juga sudah banyak sarang laba-labanya padahal sudah dipercantik sama Cikgu Marita. Tekad saya, semoga pertemuan kali ini menjadi pertemuan yang mampu melecut semangat saya untuk kembali semangat ngeblog lagi. Uhuuuy, lha kok malah curcol.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi, ingatan saya kembali terkenang dengan beberapa hal istimewa bersama Gandjel Rel. Awalnya, setelah pindah ke Kota Semarang di 2013, saya gabung di komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) yang waktu itu diketuai Mbak Dewi Rieka. Rumah Mbak Uniek menjadi saksi sejarah pertemuan pertama saya dengan Mbak Dewi Rieka, Mbak Taro, Mbak Wuri, dan mbak-mbak lain. Waktu itu, ada Mbak Dian Kristiani yang sharing tentang dunia kepenulisan bacaan anak. Kopdar-kopdar pun berlanjut, seperti acara bedah buku, undangan seminar, workshop, dll. Sampai akhirnya, atas inisiasi Mbak Rahmi, Mbak Dewi Rieka, Mbak Uniek, Mbak Taro, dan Mbak Wuri tergagaslah sebuah komunitas blogger perempuan di Kota Semarang tanggal 22 Februari 2015. Gandjel Rel namanya. Unik, kan? Seperti nama salah satu foundernya! Saya saja baru tahu kalau Gandjel Rel itu nama kue tradisional khas Kota Semarang waktu ikut arisan PKK. Waktu itu, ada penjelasan dan pembagian resep kue Gandjel Rel. Hohoho.

Saking penasaran sama rasanya (karena males bebikinan *plak), saya pun menyempatkan diri mampir ke sebuah toko kue khusus membeli Gandjel Rel. Hmm, bentuknya saja sudah menggoda selera dengan warna coklat dengan taburan wijen di atasnya. Setelah saya icip-icip, ternyata memang manis (karena ada campuran gula arennya), empuk (meski teksturnya cenderung bantat), legit, dan maregi (bikin kenyang). Mungkin para founder mengambil nama Gandjel Rel –selain menunjukkan kearifan lokal khas Semarang- karena punya cita-cita mulia agar komunitas ini berkembang menjadi komunitas yang ‘legit’ dengan anggota yang manis-manis (cihuuuy), juga karya-karya anggotanya bisa maregi (=bermanfaat buat banyak orang). Aamiin. Waktu itu, anggota IIDN sebagian besar juga menjadi anggota Gandjel Rel. Terlalu banyak kenangan manis yang lain sepert saat event Blogger Nusantara di tlatah Ngayogyakarta, jalan-jalan ke Solo, jalan-jalan ke Jogja, dan aneka kopdar yang sayang untuk dilewatkan. Oh ya, ultah yang ke-4 ini juga dimeriahkan dengan blog challenge dengan tema yang berbeda-beda selama 4 pekan dan ada juga video challenge yang serentak tayang pada hari H ultah #g4andjelrel, 22 Februari 2019 lalu.

Ber-“FLOWER-FLOWER” #3 : MENJARING INSPIRASI BERSAMA KANG AGUS MULYADI
Oh ya, dresscode perayaan ultah Gandjel Rel tanggal 23 Februari 2019 kemarin bernuansa bunga-bunga lhooh! Acara dibuka oleh MC kondang nan kocak asli bikin ngakak, yakni Mbak Hartari. Terus kerennya founder Gandjel Rel bisa menghadirkan sosok guest star yang sungguh istimewa. Siapa sih yang nggak kenal dengan sosok yang cukup viral di jagad virtual ini? Saya saja sudah rajin membaca tulisannya sejak 2011. Gaya nulis beliau yang cukup unik, kepribadian yang langka dan juga gaya bahasa yang tak biasa menjadikan saya selalu tertarik untuk menikmati setiap celoteh aksaranya. GRes bisa baca tulisan pemimpin redaksi media online mojok.co itu lebih lengkapnya di sini. http://www.agusmulyadi.web.id/ dan di sini http://www.agusmulyadi.com/
Gus Mul mengawali sharingnya dengan sedikit bernostalgia tentang sejarah hidupnya di masa lalu yang bagi dirinya cukup ngenes namun bergelimang berkah. Berawal dari penjaga warnet merangkap tukang edit foto yang sempat berjaya di masanya karena pernah menerima order ratusan editan per hari dengan tarif sekali edit 50K. Karena profesi jasa edit foto ini pun cukup mampu melambungkan namanya. Namun, akhirnya Gus Mul sadar dan insaf. Baginya menulis itu menyenangkan. Menjadi penulis itu prestasi dan edit foto itu skandal.  Menulis Kreatif di Media Online ala Gus Mul :

1.   Ide Tulisan
“Menulis Sekitarmu Sebisamu,” kata Gus Mul.
Gus Mul mengasah keterampilan menulisnya dengan membuat catatan personal atau pelit atau personal literatur. Karena Gus Mul merasa tidak kreatif (*asli bikin ngakak pas bilang gini), ide kreatif itu ada di lingkungan sekitar kita, lho! Semuanya juga murni soal kebiasaan. Semakin terasah, semakin terampil menjaring ide. Dari apa yang kita jumpai sehari-hari pun bisa jadi ide. Gus Mul mencontohkan hasil jepretan fotonya kemudian dia jadikan tulisan. Ide dari tulisan-tulisan di bokong truk, ide dari kucing-kucing peliharaannya, dll. Tulisan-tulisan yang bermula dari pengalaman dan kegelisahan. Bapak Gus Mul sempat tidak setuju karena bagi beliau menulis itu hobi bukan pekerjaan. Bagi Bapak Gus Mul, bekerja = ada kantornya, ada seragam, dan ada jam kerjanya. Gus Mul sempat kerja di mall Artoz Magelang sebagai tukang karcis parkiran basement di 2012. Hingga akhirnya ada yang menawari Gus Mul untuk nulis di mojok.co dengan honor 250K per artikel. Karier kepenulisannya pun berkembang pesat, dapat kolom reguler di kompas.com, jawapos.com, dll. Gus Mul juga sudah menulis dan menerbitkan buku, diantaranya Jomblo tapi Hafal Pancasila dan Lambe Akrobat.
2.   Pemilihan diksi
Diksi = pilihan kata. Semakin mendayu-dayu, semakin unik, semakin aneh.
Contoh : penulis biasa akan menulis kata “lupa”, tapi penulis yang kreatif menulis “lupa” dengan kalimat “saat ingatanku berkhianat”.
Wajahmu tua = wajahmu telah melesat jauh mengkhianati umurmu.
Memaksamu = menggedor-gedor pintu keyakinanmu
3.   Ciri khas
Kalau Gus Mul salah satu ciri khas tulisannya adalah mempertahankan istilah kosakata bahasa Jawa, punya ciri kelokalan tersendiri. Misal : “Ooo… mbahmu kiper!” (untuk menyanggah suatu pernyataan) kan aneh tu ketika diganti : “Ooo… eyangmu penjaga gawang!” (hahaha… akan hilang lucunya, maknanya, bahkan semangatnya).
4.   Sudut pandang
Kita harus belajar menggunakan sudut pandang yang “out of the box” agar berbeda dari sudut pandang orang kebanyakan atau klise.
5.   Kutipan
Orang cenderung mudah mengingat kutipan daripada konten tulisan.
Wah, GRes… keren kan ilmu kanuragan yang Gus Mul sampaikan? Nggak sia-sia banget deh saya bisa datang di perayaan ultah 4 tahunnya GR kali ini. Ilmunya ndaging semua!
Usai penyampaian materi dan sesi tanya jawab selanjutnya potong tumpeng dan potong kue juga ada kuis plus pembagian doorprize. Alhamdulillah, semua peserta juga mendapatkan pouch cantik persembahan sayang dari Bunda Dirga. Saya juga dapat doorprize yang isinya sedotan stainless stell. Wah, kebetulan sekali saya belum punya dan ada rencana untuk beli sebagai upaya mewujudkan rumah minim sampah dan kampanye #zerowaste. 


Undian doorprize dan pouch istimewa dari Bunda Dirga

Ber-“FLOWER-FLOWER” #4 : RESTO PRONGSEWU YANG MEMANJAKAN LIDAHMU
Ini baru pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Resto Pringsewu yang berlokasi di kawasan Kota Lama. Dulunya resto ini merupakan gedung peninggalan sang raja gula dari Semarang yang bernama Oei Tiong Ham. Sesampainya saya di lokasi, saya disambut beranda yang instagramable banget, juga kelihatan asyik untuk nongki sore-sore sambil ngemil ‘n ngeteh hangat. Namanya Teraz Oei Tiong Ham yang ternyata buka mulai sore hingga malam hari. Masuk ruangan resto akan kita jumpai beberapa sudut interior yang terkesan vintage sekali plus layak jadi sasaran narsis. Para pelayannya juga ramah, saya ditunjukkan tempat berlangsungnya acara ultah Gandjel Rel. Hmm, tumpeng istimewa untuk Gandjel Rel juga persembahan dari Pringsewu, lho! Snack dan menu makan siangnya juga menggoyang lidah. Endeeez semua! Rasanya pas sesuai selera. Terus ada sebuah ruangan yang mendisplay aneka oleh-oleh dan makanan khas Semarang. Yuk GRes, yang berencana berwisata ke Kota Lama jangan lupa mampir ke resto Pring Sewu!
Teraz Oie Tiong Ham



Akhirnya, saya merasa sangat bersyukur dan bahagia, Allah mengizinkan saya untuk bisa menyambung kembali silaturahim dengan emak-embak tercinta Gandjel Rel.

Jalan-jalan ke Kota Lama
Tak lupa mampir resto Pringsewu
Terima kasih sahabat GRes semua
Smoga bisa kembali bertemu

Salam sayang dan cinta,
Norma Keisya Avicenna




Saturday, January 12, 2019

KISAH KOTA KITA, KOTA SEMARANG TERCINTA

Saturday, January 12, 2019 0 Comments
Sumber : http://portalsemarang.com


Sejarah Semarang
Kurang lebih pada abad ke-8 M, Semarang adalah daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang Bergota), di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Akhir abad ke-15 M, Pangeran Made Pandan mendapatkan tugas dari Kerajaan Demak untuk menyebarkan agama Islam di perbukitan Pragota. Seiring berjalannya waktu, daerah Pragota menjadi semakin subur. Hingga akhirnya muncul pohon asam yang tumbuh dengan jarak yang jarang-jarang (bahasa Jawa : Asem Arang). Dari fenomena inilah akhirnya daerah tersebut mendapatkan julukan Semarang. Pangeran Made Pandan pun kemudian menjadi kepala daerah setempat dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Seiring bergulirnya sang waktu, Semarang pun terus berkembang hingga sekarang.

Saat Masalah Jadi Batu Sandungan Sekaligus Tantangan yang Harus Ditaklukkan      
Kini, Semarang telah menjadi kota metropolitan utama di Provinsi Jawa Tengah. Namun, di usianya yang ke-472 tanggal 2 Mei 2019 nanti, ternyata Semarang masih menyimpan PR yang cukup banyak.
Pertama, di beberapa titik kawasan di Semarang tidak memiliki pola pembangunan yang jelas. Hal ini bisa kita lihat dari banyak bangunan yang terbengkalai akibat salah prosedur, salah urus, dan lain-lain. Maraknya pembangunan perumahan (khususnya di wilayah ‘Semarang atas’) dengan wilayah perbukitan juga menyisakan kekhawatiran tersendiri. Lahan hijau dan perbukitan yang dulunya merupakan daerah resapan air hujan kini telah banyak yang dibabat habis, berakibat banjir kiriman yang sering melanda wilayah ‘Semarang bawah’.
Kedua, Kota Semarang sangat tidak jelas dalam pola pembangunan kawasan sesuai dengan peruntukannya. Sebut saja, terdapat pusat perbelanjaan di kawasan perkantoran (seperti yang ada di Jalan Pemuda), pabrik-pabrik industri di kawasan pemukiman padat penduduk, dsb.
Ketiga, sentralisasi fasilitas rakyat. Hal ini bisa kita lihat pada pelayanan kesehatan untuk daerah yang benar-benar membutuhkan. Fakta di lapangan, pembangunan rumah sakit kebanyakan ada di pusat kota, seharusnya ada pemerataan agar tidak timbul ketimpangan akses terhadap pelayanan kesehatan.
Bencana rob yang sering melanda Semarang, bencana banjir dan tanah longsor bisa jadi tantangan yang harus diatasi dengan sikap yang bijak. Kegiatan penanaman bakau di beberapa garis pantai perlu digalakkan, pembabatan habis pepohonan hijau dan daerah resapan air perlu diimbangi dengan peremajaan kembali. Selain itu, ada baiknya Pemerintah merancang ulang pola-pola perkotaan yang efektif. Pembangunan gedung, fasilitas jalan, dan sarana-prasarana masyarakat harus diperhitungkan dengan sebaik-baiknya. Alangkah baiknya jika masyarakat umum pun turut dilibatkan dalam perencanaan pembangunan Kota Semarang.
Beragam masalah yang masih jadi PR kita semua –sebagai warga Kota Semarang- tersebut, harapannya bisa menjadi pelecut semangat untuk membulatkan tekad menjadi Kota Semarang yang hebat.

Kota Semarang sebagai Kota Wisata, Dagang, dan Jasa
Kota Semarang terletak sekitar 466 Km di sebelah timur Kota Jakarta dan 312 Km di sebelah barat Kota Surabaya. Dengan letak geografis yang sangat strategis, tak heran jika seiring berjalannya waktu, Semarang tumbuh menjadi kota perdagangan dan jasa yang kaya potensi dan kearifan lokal.
Sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah tentunya Kota Semarang menduduki peran yang sangat kruisal sebagai wajah 35 Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah. Peran Kota Semarang sebagai Kota Wisata, Dagang, dan Jasa didukung paling tidak oleh 4 hal:
1.      Infrastruktur penunjang
a.    Keberadaan Pelabuhan Tanjung Mas dan Bandara International Ahmad Yani, Terminal Provinsi Terboyo dan Terminal Kota Mangkang, Stasiun Kereta Api Regional Tawang, dan Stasiun Poncol.
b.    Infrastuktur jalan (Jalan Tol Semarang-Solo, jalan tol Semarang-Batang, Jalan lintas utara Pantura penghubung Jawa Barat-Jawa Timur).
2.      Posisi geografis Kota Semarang yang sangat strategis
a.    Merupakan kota segitiga ekonomi JOGLOSEMAR (Jogjakarta, Solo, Semarang).
b.    Central Point Regional Marketing dengan kota besar lain di Pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Surabaya).
3.      Pariwisata
Program Visit Semarang yang digagas Pemerintah Kota Semarang semenjak tahun 2010 merupakan salah satu upaya dalam membranding Kota Semarang sebagai Kota Pariwisata. Ditambah lagi gawe tahunan masyarakat Kota Semarang dalam rangka Hari Jadi Kota Semarang.
Wisata di Kota Semarang bisa dikategorikan menjadi beberapa macam jenis yaitu wisata alam, wisata religi, wisata sejarah, wisata belanja, dan wisata kuliner. Di bawah ini beberapa tempat wisata paling istimewa di Semarang :
1)      Kompleks Tugu Muda, Lawang Sewu, dan Museum Mandala Bakti.
2)      Pusat Belanja Simpang Lima dan Pusat Oleh-oleh Khas Semarang Jalan Pandanaran.
3)      Kawasan Kota Lama Semarang.
4)      Pantai Marina dan Pantai Maron.
5)      Masjid Agung Jawa Tengah dan Masjid Baiturrahman.
6)      Pagoda dan Vihara Watu Gong.
7)      Klenteng Sampoo Kong.
8)      Museum Ronggowarsito.
9)      Museum Rekor Jamu Jago dan Taman Tabanas.
10)  Kebun Binatang Mangkang Semarang.
Masih banyak lagi potensi pariwisata Kota Semarang yang masih bisa dikembangkan.
4.      Perguruan Tinggi Nasional
Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Semarang sebagai universitas negeri skala nasional berada di Kota Semarang. Ditambah lagi universitas swasta skala nasional seperti UNIKA Soegijapranata, UNISBANK, IKIP PGRI, UDINUS, UNISSULA dan masih banyak lagi memberikan peran yang sangat signifikan untuk Kota Semarang agar terus tumbuh dan berkembang dengan dukungan sumber daya manusia yang memadai.

Semarang sebagai kota industri, memiliki banyak UKM yang harus terus di-back up baik dari permodalan, pengembangan, pemasaran, dsb. Industri kecil dan menengah harus senantiasa berorientasi pada ekonomi kerakyatan. Batik Semarangan, lumpia, bandeng, wingko babat, industri olahan lainnya, bisa menjadi daya saing daerah dan meningkatkan pendapatan daerah. Pemerintah juga harus memperhatikan pengembangan pasar tradisional yang memiliki daya tarik dan daya saing terhadap pasar modern. Semuanya bisa diusahakan bersama asal ada sinergi yang baik dan harmonis dari masyarakat dan pemerintah. Pemerintah juga harus menyediakan pelayanan publik di berbagai bidang secara memadai, juga meningkatkan kualitas pelayanan publik, seperti hotel, perbankan, transportasi, kesehatan (rumah sakit), pendidikan, ruang pameran, tempat olahraga, dan lain sebagainya.

Inilah kisah kota kita, Kota Semarang tercinta...
Saya turut bangga dengan deretan pencapaian prestasi yang diperoleh Kota Semarang. Selama tiga tahun berturut-turut mendapatkan Adipura. Pada 2014 kemarin, Kota Semarang kembali mendapatkan Adipura kategori “Kota Metropolitan” berkat pengolahan 850 ton sampah. Luar biasa sekali! Kebersihan memang menjadi tantangan besar bagi seluruh daerah termasuk Kota Semarang karena memiliki wilayah yang sangat luas dan populasi penduduknya yang selalu bertambah. Semoga ke depan bisa terus ditingkatkan dengan deretan prestasi di berbagai bidang lainnya.
Pemerintah Kota masih kurang memerhatikan sektor Kebudayaan dan Pariwisata di Kota Semarang, walaupun sudah ada beberapa peningkatan. Tapi sayangnya, pengelolaan aset-aset budaya ataupun pariwisata masih sangat kurang, baik dari infrastruktur bangunan dan beragam fasilitas pendukungnya, juga promosi pariwisata yang tidak berjalan dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari minimnya kegiatan kebudayaan di Kota Semarang. Infrastruktur bangunan pendukung kebudayaan kondisinya sangat memprihatinkan. Kita bisa lihat bersama, kondisi Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) yang kurang terawat.
Pembangunan tempat-tempat wisata di Kota Semarang tidak sebanding dengan semangat pembangunan mall-mall dan gedung-gedung pencakar langit. Padahal Semarang menyimpan aset-aset sejarah dan potensi pariwisata yang begitu fantastis.
Pemerintah bisa memulai dengan memperbaiki fasilitas transportasi pendukung, memperbaiki infrastruktur bangunan, mengadakan program perawatan secara rutin, dan melakukan promosi besar-besaran untuk mengundang wisatawan lokal, luar kota, luar pulau, bahkan wisatawan asing. Adanya bus wisata SI KENANG juga bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk mengenalkan tempat-tempat wisata di Semarang.

Bulatkan Tekad, Semarang Hebat
Sejahtera dan hebat tidak hanya dilihat dari kualitas fisik kotanya saja, Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas juga menjadi salah satu faktor yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Jadi, masih banyak PR untuk pemerintah dalam upaya mewujudkan SDM dan masyarakat Kota Semarang yang berkualitas.
Semarang banyak memiliki komunitas dan industri kreatif yang mampu ‘mengangkat’ nama dan citra positif Kota Semarang dari karya-karya yang mereka hasilkan. Sebut saja Komunitas Cah Semarang (KCS), Komunitas Blogger Semarang Loenpia.net, Komunitas Pecinta Sejarah Semarang Lopen, Komunitas Peduli Lingkungan, komunitas berbasis desain grafis, dan masih banyak lagi. Ada juga komunitas perempuan Semarang dan sekitarnya yang suka menulis khususnya menulis di blog yakni komunitas Blogger Gandjel Rel, yang tahun ini akan merayakan hari jadinya yang ke-4. Para anggotanya telah banyak menghasilkan karya dan prestasi dari aktivitas ngeblog mereka. Beragam komunitas ini jika dapat dikoordinasikan dengan baik (karena mungkin saat ini masih banyak yang bergerak sendiri-sendiri), pasti akan menghasilkan sesuatu yang dahsyat. Komunitas-komunitas ini bisa membantu menyumbangkan ide, urun rembug, serta menjadikan Semarang lebih dikenal lewat tulisan juga karya-karya mereka.

5 Srikandi Founder Gandjel Rel



Dengan kesungguhan, komitmen, kebersamaan, ikhtiar dan kerja keras selama ini dari semua komponen masyarakat, Kota Semarang terus menunjukkan perbaikan di berbagai bidang. Belajar dari masa lalu, membuka ingatan atas prestasi maupun penghargaan yang telah diraih bersama, mengevaluasi kelemahan dan kekurangan yang terjadi, untuk selanjutnya dijadikan titik awal membangun tekad, komitmen, dan kebersamaan dalam melakukan perbaikan serta percepatan program pembangunan di masa yang akan datang demi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Bangga Kota Semarang
Introspeksi merupakan sebuah keniscayaan bahkan menjadi sebuah keharusan dalam mensyukuri dan memaknai perjalanan panjang Kota Semarang yang 2 Mei nanti berusia 472 tahun. Kota Semarang sudah tidak bisa dibilang kota muda. Seiring usia yang bertambah, Kota Semarang harus mampu bertumbuh dengan bijaksana, tumbuh dengan harmonis, terukur dan terencana.
Semoga para pemimpin dan semua warga Semarang mau bekerja lebih keras dari biasanya, berdoa lebih banyak dari biasanya, melakukan terobosan-terobosan baru, para pemimpin bisa lebih ‘merangkul’ masyarakat, mengambil langkah kebijakan yang lebih dahsyat sehingga bisa melipatgandakan proses dan hasil pembangunan, sehingga Kota Semarang mampu mengejar ketertinggalan. Semoga Kota Semarang benar-benar menjadi Kota ATLAS yang selalu Aman, Tentram, Lancar, Asri dan Sentausa. Semarang menjadi Kota Multitalenta yang Masyarakatnya Sejahtera. Aamiin.
Ini impian saya, juga impian kita semua.
#Semarangangenin