Jejak Karya

Jejak Karya
Showing posts with label bunda sayang. Show all posts
Showing posts with label bunda sayang. Show all posts

Thursday, March 02, 2017

[Hari 2] : PENTINGNYA ISTRI MANDIRI SECARA FINANSIAL

Thursday, March 02, 2017 0 Comments
Kamis, 2 Maret 2017
Pentingnya Istri Mandiri Secara Finansial
Mandiri secara finansial berarti seorang individu dapat mengelola keuangannya sendiri. Jika individu tersebut memiliki anak, maka dia harus bisa mengelola keuangan untuk seluruh anggota keluarga, dengan atau tanpa pasangan.
Mengapa istri harus mandiri secara finansial? Berikut beberapa keuntungan mandiri secara finansial bagi istri:
1. Istri yang mandiri secara finansial dapat membantu keuangan keluarga.
Seorang istri yang memiliki penghasilan pribadi dapat mendukung rumah tangganya ketika suami kehilangan pekerjaan atau mengalami hal lainnya yang mengakibatkan kehilangan penghasilan.
2. Istri yang mandiri secara finansial dapat memberikan kontribusi finansial
Ketika harga barang dan biaya pendidikan melambung tinggi, istri yang memiliki penghasilan pribadi dapat menyokong keuangan keluarga sehingga kebutuhan anak tetap tercukupi.
3. Istri yang mandiri secara finansial dapat memberi motivasi bagi anak-anak mereka untuk bersikap mandiri
Istri dengan penghasilan pribadi bisa menjadi contoh bagi anak-anak mereka.
4. Istri yang mandiri secara finansial dapat mewujudkan ‘mimpi’ mereka
Terkadang kita hanya bisa bermimpi tanpa mewujudkannya karena terbentur masalah ekonomi. Entah itu membawa anak-anak liburan, menyekolahkan anak di sekolah yang baik, atau sekedar menyenangkan diri sendiri dengan melakukan perawatan pribadi di spa/salon.
Bukan Hanya Mandiri, Istri Harus Memiliki Rencana Keuangan
Jika istri sudah menyadari risiko-risiko yang dapat dialami sang suami, maka penting bagi dirinya untuk bisa berdiri sendiri dalam hal keuangan.
Apakah artinya istri harus bekerja kantoran?
Tidak. Istri bisa menjadi mandiri secara finansial tanpa bekerja konvensional sebagai karyawan. Jika kita adalah ibu rumah tangga, maka belajarlah menjadi ibu rumah tangga yang kreatif dan mampu menghasilkan pendapatan sendiri. Misalnya dengan usaha katering kecil-kecilan jika gemar memasak, atau bekerja sebagai penulis lepas jika  punya bakat menulis, dan sebagainya.
Semuanya tidak ada yang instan, semuanya harus melewati proses belajar yang konsisten.
Dengan ‘aman’ secara keuangan dan mandiri finansial, artinya kita akan tahu batasan gaya hidup seperti apa yang sesuai dengan kantong kita sendiri.  Satu hal yang menjadi tujuan kenapa banyak sekali istri ingin mandiri secara keuangan adalah ingin punya waktu untuk pribadi, keluarga dan organisasi  serta berinteraksi/berkontribusi dengan masyarakat lebih banyak lagi, ingin berbagi dan sedekah lebih banyak lagi, dsb.




Wednesday, March 01, 2017

[Hari 1] : MENJADI ISTRI YANG "MANDIRI FINANSIAL"

Wednesday, March 01, 2017 0 Comments

Rabu, 1 Maret 2017
MELATIH KEMANDIRIAN#1 : MENJADI ISTRI YANG "MANDIRI FINANSIAL"

Menurut Ust. Tri Asmoro Kurniawan, secara umum manusia itu nyaman dengan kebiasaan-kebiasaan, maka satu hal yang sering dikhawatirkan adalah adanya fase-fase perubahan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Dan pernikahan adalah fase perubahan dari kebiasaan-kebiasaan masa lajang menuju kebiasaan-kebiasaan rumah tangga.
Nikah adalah kemandirian. Sepasang suami istri hendaknya tidak terlalu menggantungkan dirinya pada orang lain seperti teman, saudara atau orang tua. Meskipun pengertian mandiri bukanlah berarti hidup sendiri tanpa membutuhkan campur tangan orang lain. Tetap saja dibutuhkan peran orang lain dalam porsi sewajarnya. Mengingat manusia adalah mahluk sosial yang saling bersimbiosis mutualisme. Demikian halnya dalam kehidupan berumah tangga, kewajiban mencari nafkah memang ada di pundak suami, tapi tak ada salahnya istripun berupaya untuk tetap mandiri dari segi finansial.
Ini yang sejak awal juga saya komunikasikan kepada suami. Saya minta pendapatnya tentang istri yang bekerja di luar rumah. Setahun pertama kita menikah, saya masih berstatus sebagai “istri pekerja”, meskipun jam kerjanya hanya siang sampai jelang Isya’ karena saya ngajar di bimbingan belajar. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk resign. Saya dan suami pun sering terlibat obrolan, apa yang bisa saya lakukan dengan menjadikan rumah sebagai kantor, tetap bekerja meskipun dari rumah, tetap berpenghasilan meskipun dari rumah. Akhirnya tercetuslah ide dan kami mendirikan sebuah bimbingan belajar dan tempat pelatihan menulis untuk anak-anak dan remaja : DNA WRITING CLUB. Alhamdulillah, jatuh bangun kami memulainya. Dari yang awalnya 1 murid, 3 murid, bertambah jadi 5 murid, sekarang sudah lebih dari 50 anak.
Suami yang bekerja sebagai pegawai swasta benar-benar menjadi supporter dalam proses pengembangan DNA. Sampai sekarang pun, saya masih terus belajar untuk mengatur keuangan rumah tangga. Penghasilan yang saya dapatkan pun lumayan. Bisa saya tabung dan untuk keperluan pribadi saya (misal untuk beli buku yang saya inginkan, tanpa harus mengusik uang belanja atau meminta suami).
Kemandirian memang bukan perkara yang mudah, namun banyak cara untuk memupuk karakter tersebut, salah satunya dengan menggali potensi diri dalam berkreativitas. Saya menemukan potensi diri saya : MENULIS dan MENGAJAR. Maka, lahirlah DNA WRITING CLUB dan karenanya saya berusaha menjadi seorang istri yang  mandiri dari segi finansial dengan terus mengasah skill yang saya miliki. Karena pada dasarnya, setiap permasalahan memerlukan kemandirian dan cara–cara yang kreatif untuk menyelesaikannya. Semakin banyak permasalahan yang bisa diatasi dan semakin besar kebutuhan yang harus dipenuhi, maka semakin terasahlah kreativitas dalam diri seseorang. Semoga…





Sunday, February 05, 2017

[Hari 9] : OBROLAN SANTAI NAMUN BERGIZI

Sunday, February 05, 2017 0 Comments


Sabtu, 4 Februari 2017

Ba’da Subuh suami dapat telepon dari kakak pertamanya. Ponakan kami (Ani, 25 tahun) kontraksinya mulai sering terasa. Alhasil, usai shalat Subuh, Mas Sis segera mengeluarkan mobilnya dan menjemput mereka untuk segera pergi ke RSI Sultan Agung. Di rumah, saya pun berdoa semoga persalinan ponakan (dan calon cucu pertama kami) dapat lahir dengan normal, sehat, selamat semuanya… dan penuh barokah.

Setelah mengalami aneka drama kontraksi dan bukaan yang sempat cukup lama dan divonis dokter harus SC karena ketubannya kurang, Alhamdulillah jelang adzan Dhuhur Ani akhirnya bisa bukaan lengkap dan lahirlah seorang bayi perempuan cantik dengan berat 3 kg dan panjang 52 cm. Meski harus masuk ruang Peristi dulu karena debay saturasi oksigennya 90%, tapi setidaknya semua keluarga bisa bernapas lega. Alhamdulillah, bisa persalinan normal.

Kakak ipar sempat SMS, kalau Ani dijahit 7. Saya bilang itu ke suami. Suami kaget dan bertanya, “Dek, kok persalinan normal jahitannya bisa sebanyak itu sih?”
“Ada banyak faktor Say, kenapa ibu yang persalinan normal pun harus dijahit, istilahnya episiotomi atau proses pengguntingan jalan lahir. Bisa karena ibunya sudah sangat lelah dan itu upaya dokter mempercepat proses bayi keluar, bisa juga karena ukuran bayi yang besar, atau karena saat mengejan si ibu tanpa sengaja mengangkat pantat/panggulnya, dsb.”
“Oooh…”
“Terus, bisa nggak persalinan normal, tapi tanpa jahitan atau minim jahitan?” tanyanya lagi.
“Bisa saja. Kan kondisi elastisitas vagina, daerah perinium, dan area sekitarnya setiap ibu pasti beda-beda. Makanya, penting juga saat trimester 3 tuh bumil banyak jalan kaki, melakukan senam hamil, senam kegel, juga pijat perineum (kalau sudah 36 minggu lewat) untuk membuat kondisi jalan lahir lebih elastis,” jelas saya, berdasarkan cerita pengalaman teman-teman dan buku yang saya baca.
“Semoga adik nanti bisa persalinan normal ya, dan tanpa jahitan….,” doanya penuh harap.
“Aamiiin Ya Rabb…” jawab saya.

Alhamdulillah, kami bisa saling berbagi ilmu dan pengetahuan setiap hari. Sorenya saya pun banyak mendapatkan ilmu seputar dunia bisnis online dari suami –saat diskusi- usai kami mengikuti Sekolah Bisnis Online (SBO). Suami memang backgroundnya seorang bussiness development,  jadi lumayan banyak tahu hal-hal yang berhubungan dengan dunia bisnis dan keuangan Syariah.


#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Saturday, January 28, 2017

[Hari 2] : MENDENGARKAN SECARA EMPATIK

Saturday, January 28, 2017 0 Comments

Sabtu, 28 Januari 2016

Sabtu pagi, usai aktivitas Subuh, seperti biasa saya dan suami menyempatkan ngobrol tentang banyak hal. Kurang lebih 15 menit tadi ngobrol di tempat tidur lanjut ngobrol saat jalan kaki pagi keliling perumahan.

Obrolan pagi ini seputar rencana aktivitas kita di hari Sabtu ini. Saya menceritakan kalau akan mencuci baju-baju bayi yang seminggu lalu kami beli. Saya minta tolong suami nanti untuk membantu proses menjemur karena lokasi jemuran di lantai dua, harus naik tangga. Sedangkan suami bercerita kalau hari ini akan mengisi tinta printer di dekat kampus UNNES (Gunungpati), lanjut jemput ponakan dan kakaknya (kakak sarapan soto dulu dan selama suami menjemput ponakan saya bisa main ke rumah kakak ipar no.4. Suami akan mengantarkan saya terlebih dulu.

Dari komunikasi kala pagi ala saya dan suami saat memulai hari Sabtu ini, saya belajar kembali mengenai prinsip komunikasi yang efektif. Salah satunya mendengarkan secara empatik, mendengarkan dengan maksud untuk “mengerti” kondisi orang lain dan “dimengerti” atas kondisi yang tengah dialami oleh diri sendiri).

Rasulullah mencontohkan metode mendengarkan empatik ini ketika datang seorang pemuda yang minta izin untuk berzina. Jika kita perhatikan betapa jitu jawaban yang Rasulullah sampaikan untuk meredam gejolak si pemuda.
"Sukakah kamu jika apa yang ingin kamu lakukan itu menimpa ibumu... adikmu, atau kakakmu?” tanya Rasulullah.
“Tidak,” jawab pemuda tersebut.
"Jika demikian, maka orang lain pun tidak berbeda denganmu."
Subhanallah... Islam memerintahkan umatnya untuk berbicara yang baik, maka ia juga memerintahkan mereka agar menjadi pendengar yang baik. Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam… "Dengarlah baik-baik (perkataan) orang lain."

Rasulullah adalah suami teladan, jika kita dengar cerita rumah tangga beliau tentulah ingin kita hidup di masa beliau. Salam dan shalawat semoga senantiasa tercurahlimpahkan untuk Sang Baginda, teladan istimewa…

#hari2
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip





Friday, January 27, 2017

[Hari 1] : "BELAJAR MENJADI PENDENGAR YANG BAIK"

Friday, January 27, 2017 0 Comments

 
[Hari 1] : Belajar Menjadi Pendengar yang Baik

Jumat, 27 Januari 2017

Semua pasangan yang menikah tentu mendambakan keluaraga sakinah, mawaddah, wa rohmah. Maka, merealisasikan motto BAITI JANNATI (Rumahku Surgaku) pasti menjadi impian setiap pasangan suami-istri. Komunikasi antara suami-istri menjadi salah satu bagian yang sangat penting dalam mewujudkan impian itu. Karena komunikasi adalah sebuah kebutuhan. Dengan komunikasi, kita akan mampu mengekspresikan apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, kita juga dapat memahami cara pandang pasangan kita. Selain itu, kita juga akan mampu berempati ikut merasakan kebahagiaan/kesedihan pasangan, juga bisa saling bertukar informasi. Namun seringkali, dalam kehidupan berumah tangga, komunikasi lebih bertujuan untuk memenuhi kebutuhan psikis daripada tujuan informatif.

Saat seorang suami menceritakan kisah masa kecilnya, bisa jadi semua informasi dalam nostalgianya itu sudah kita ketahui dengan jelas, karena begitu seringnya suami menceritakan kisah masa kecilnya itu. Akan tetapi, persoalannya bukan pada substansinya semata, namun lebih kepada bagaimana memperhatikan dan diperhatikan, lebih kepada kebutuhan untuk didengar dan mendengarkan. Apakah kita telah menjadi pendengar yang baik?

Kami biasa saling bercerita kalau tidak sebelum tidur, ya setelah Subuh (usai aktivitas mengaji selesai), atau saat jalan-jalan pagi.

Hari ini (setelah aktivitas ba'da Subuh usai), saya bersandar di tempat tidur, suami duduk di sebelah saya, sambil sesekali mengelus perut saya. Suami lalu bercerita tentang “proyeknya” bulan ini. Alhamdulillah, ada dua target yang Allah izinkan untuk terpenuhi. Suami menceritakan kilas balik proses yang beliau lakukan untuk mencapai target itu. Saya pun belajar tentang semangat dan pantang menyerah dalam mencapai sesuatu dari kisah itu. Saya mendengarkan dengan seksama dan menyampaikan ungkapan bahagia dan rasa syukur. Sedangkan saya, menyampaikan kondisi fisik saya di usia kehamilan 32 minggu ini. Kaki mulai sering terasa pegal terutama ketika bangun tidur. Maka dari itu, saya selalu meminta suami untuk memijit kedua kaki, tangan dan punggung setiap pagi. Kami pun melanjutkan bahasan seputar persiapan persalinan, rencana mencari rujukan ke dokter keluarga, dan persiapan “cuti kerja” saya dari DNA WRITING CLUB yang selama ini saya kelola, yang dalam waktu dekat akan saya limpahkan sementara kepada adik-adik mahasiswi UNDIP untuk dikelola.

Dan hari ini, kami berdua belajar untuk menjadi PENDENGAR YANG BAIK dan inilah perubahan yang ingin saya buat dalam berkomunikasi. Tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan psikis untuk melepaskan ganjalan di hati, namun berusaha menjadikan komunikasi dengan suami lebih efektif, produktif terbuka, dan informatif.

#hari1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
 


Sunday, October 30, 2016

[Nice Home Work #2] : MENJADI IBU PROFESIONAL KEBANGGAAN KELUARGA

Sunday, October 30, 2016 0 Comments

"Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga"

CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Kunci dari membuat indikator disingkat menjadi SMART yaitu:
*    SPECIFIK (unik/detil)
*    MEASURABLE (terukur)
* ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
* REALISTIC (berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari
*   TIMEBOND (berikan batas waktu)


Sebagai INDIVIDU
  1. Membiasakan diri untuk sholat wajib di awal waktu.
  2. Melaksanakan sholat sunah setiap hari (qabliyah, ba’diyah, shalat hajat, shalat tahajud, shalat dhuha).
  3. Melakukan dzikir pagi dan petang (Al Ma’tsurat) setiap hari.
  4. Tilawah 1 juz/hari plus membaca terjemahannya.
  5. Membaca buku minimal 30 menit setiap harinya.
  6. Membuat catatan harian untuk melakukan evaluasi harian dan merencanakan agenda di hari-hari berikutnya.
  7. Menulis cerita anak minimal satu buah cerita per pekan.
  8. Sedekah Subuh (dimasukkan kaleng khusus) setiap harinya.
  9. Olahraga ringan 15 menit setiap harinya.
  10. Belajar tentang kehamilan, perawatan bayi, dan pengasuhan anak (parenting) minimal 30 menit per hari dengan memanfaatkan berbagai media atau sumber yang terpercaya (membaca buku, blogwalking di blog sahabat/tokoh, melihat youtube, dll.)
  11. Rajin menabung, minimal 2000/hari.
  12. Lebih profesional mengelola DNA WRITING CLUB dan mempersiapkan agenda terbaik dan sekreatif mungkin untuk DNA WRITING HOLIDAY#5 di bulan Desember nanti.
  13. Menghafal Al Qur’an, minimal 2 ayat/hari, melakukan muroja’ah setiap hari.
  14. Menyelesaikan proyek naskah “Ensiklopedia Ekstrakurikuler” (3 buku @40 halaman) 
  • Pekan I November : mengumpulkan referensi (pre writing)
  • Pekan II November : membaca semua referensi yang sudah dikumpulkan (pre writing)
  • Pekan III-IV November : menulis (drafting)
  • Pekan I-II Desember : melakukan revisi (revising)
  • Pekan III Desember : editing akhir naskah dan memastikan kelengkapan naskah


Sebagai ISTRI
  1. Selalu berusaha tampil cantik dan semenarik mungkin di hadapan suami setiap hari.
  2. Menyajikan hidangan spesial untuk suami setiap hari.
  3. Selalu menyampaikan berita yang menyenangkan dan saling memotivasi setiap hari
  4. Selalu merapikan rumah dan menjaga kebersihan lingkungan rumah setiap hari.
  5. Selalu meminta izin suami jika harus ada keperluan/kegiatan di luar rumah.
  6. Menyiapkan barang-barang keperluan suami setiap harinya.
  7. Menjadi manajer keuangan rumah tangga yang lebih profesional (mengatur cashflow rumah tangga, baik pemasukan maupun pengeluaran dengan lebih bijak, tercatat dan cermat, ada catatan bulanan).
  8. Membuat perencanaan kegiatan family time dan mengadakan rihlah keluarga minimal 1 bulan sekali.


Sebagai IBU (Saat ini saya sedang hamil anak pertama)
  1. Melakukan komunikasi yang intens dengan janin, menstimulus janin dengan kata-kata positif setiap hari.
  2. Mengajak janin untuk mengenal Allah, Rasulullah, dan aktivitas ibadah harian dengan melibatkannya setiap saat (bekerja sama dengan suami).
  3. Membacakan buku-buku cerita anak yang berkarakter, seperti shiroh, cerita motivasi/dongeng anak, dll, minimal 10 menit per hari.
  4. Tilawah setiap hari, mendengarkannya murottal, mengajak berdzikir serta hafalan Al Qur’an dan hadits.
  5. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi, halalan thoyyiban, setiap hari.
  6. Mampu menjaga kestabilan emosi, selalu berpikir positif, dan selalu semangat menjalani setiap aktivitas harian, setiap hari