Jejak Karya

Jejak Karya

Monday, July 16, 2012

LOMBA RESENSI NOVEL THE LOST JAVA

Monday, July 16, 2012 0 Comments

Hai, kawan-kawan pecinta novel, apa kabar? Semoga kabar baik semuanya. Oiya, sudah baca belum novel The Lost Java karya Kun Geia? Ayo segera miliki novelnya dan tulis resensinya, karena kami Penerbit IG Press akan mengadakan lomba resensi dengan total hadiah sebesar Rp 3.000.000.

Syarat dan Ketentuan:
1. Lomba ini terbuka bagi setiap WNI dan peserta tidak dipungut biaya alias gratis.
2. Panjang resensi 5.000-15.000 karakter (termasuk spasi) atau 4-8 halaman.
3. Ukuran kertas A4, jenis huruf yang dipakai Times New Roman 12 pt, 1,5 spasi.
4. Resensi harus asli karya sendiri.
5. Resensi dikirim ke: improvegrowth@gmail.com.
6. Karya resensi boleh di-posting di website pribadi, blog, jejaring sosial facebook, dan sejenisnya.
7. Lomba ini dibuka mulai tanggal 20 Juli sampai 15 September 2012.
8. Resensi diterima paling lambat tanggal 15 September 2012.
9. Keputusan juri bersifat mutlak.
10. Pemenang akan diumumkan tanggal 1 Oktober 2012 di website: www.ig-press.com, fb: ig press, dan twitter: @ig press.
11. Info lebih lanjut silahkan hubungi IG Press di 0274 262 8550 (Salman).

Hadiah Lomba:
Pemenang pertama : uang tunai sebesar Rp 1.500.000 plus sertifikat.
Pemenang kedua : uang tunai sebesar Rp 1.000.000 plus sertifikat.
Pemenang ketiga : uang tunai sebesar Rp 500.000 plus sertifikat.

Ayo, tunggu apa lagi! Segera baca novelnya, bikin resensinya dan ikutkan dalam lomba ini! Siapa tau keberuntungan jatuh di tanganmu! Selamat menulis resensi, Kawan!

Info selengkapnya, kunjungi http://ig-press.com/info-lomba.html

Endorsement untuk The Lost Java

Monday, July 16, 2012 0 Comments



Alur cerita The Lost Java yang cepat dan mengalir membuatku habis membacanya dalam 3 jam. Semua terangkai dalam serunya kisah perjuangan ilmuwan dari berbagai negara yang bersatu untuk menaklukkan atap langit Antartika, hingga misi penyelamatan dunia dari mencairnya es di kutub selatan dan perlawanan terhadap konspirasi intelijen internasional. Tanpa terasa mengkuliahi, banyak informasi yang kudapat tentang ancaman pemanasan global yang menenggelamkan pulau-pulau kita.
Jika Habiburrahman El-Shirazy menulis tentang sains dan isu perubahan iklim dalam novelnya, inilah karya yang akan ditulisnya.
Hayunda - Jakarta
Penulis beberapa buku kimia

Luar biasa! Novel yang sangat pantas untuk diapresiasi. Keindahan ilmu pengetahuan, ketegangan dalam petualangan, serta ketulusan dari sebuah rasa cinta menjadi kekuatan menakjubkan dari novel The Lost Java. Kun Geia dengan lugasnya menyusun komponen-komponen itu hingga menjadi sebuah formula yang mampu membuat siapa pun yang membacanya penasaran dan ingin segera menyelesaikan hingga lembar terakhirnya.
Rasakanlah sendiri saat membacanya, kejutan-kejutan dalam cerita akan membuat jantungmu berdebar lebih kencang dan dadamu bergemuruh penuh haru.
Dila Saktika Negara - Lampung
Penulis beberapa buku antologi populer

Novel konspirasi memang seksi. Selalu memikat. Rangkaian kalimatnya menyihir pembaca untuk tak mau lepas dari awal hingga akhir. Novel ini, menurut saya, betul-betul mengaduk perasaan pembaca. Meresapinya, membangkitkan nasionalisme dan keimanan secara bersamaan. Kun Geia seolah kembali ingin menegaskan bahwa Zionis internasional adalah common enemy bagi semua manusia yang masih bernurani. Dengan alur yang cepat, adrenalin kita dipacu. Ditambah lagi konflik pribadi dan keluarga yang mengiringinya dengan dendam dan romantisme, membuat emosi kita diaduk-aduk.
Petualangan Dr. Gia dan kawan-kawan di Antartika benar-benar mendebarkan sekaligus memukau. Salut. Angkat topi untuk Kun Geia.
Anugrah Roby Syahputra - Aceh
Penulis di sejumlah media nasional dan lokal, juga penulis buku ‘GUE GAK CUPU’

Saya tidak terlalu suka dengan novel, namun The Lost Java membuat saya tidak bisa berhenti membaca hingga isinya habis hanya dalam 5 jam. Novel bergenre fiksi ilmiah ini mengangkat kisah para ilmuwan di Antartika dalam misi penyelamatan bumi dari efek pemanasan global.
Alur ceritanya cepat. Kental dengan adegan-adegan pemicu adrenalin yang membuat ketegangan tanpa henti di setiap lembarnya. Novel ini penuh dengan petualangan, benar-benar menyita ruang imajinasi. Kun Geia membingkai romantika cinta sebagai pelengkap di antara semua konflik yang disuguhkan.
Andaikan ada yang berani mengangkat The Lost Java ke layar lebar, tentunya kita akan lebih tahu bahwa bumi ini sedang di ambang kehancuran. Novel ini hanya untuk mereka yang peduli dengan kondisi bumi saat ini, esok, dan seterusnya.”
Lusia Seftie Arini - Medan

“Novel yang rumit, berat, dan memusingkan!” Bisa jadi itulah yang akan dirasakan para pembaca yang terbiasa mengonsumsi novel-novel romantis setelah membaca isi novel ini. The Lost Java bukan novel picisan yang melulu isinya cinta, cinta, dan cinta. Kun Geia membidik isu global warming sebagai sasaran puncak konflik. Bersama style genre thriller-nya, dengan berani ia mencoba mendobrak alur pemikiran para penulis novel tanah air untuk tidak hanya melahirkan karya yang berkutat di sekitar masalah percintaan saja. I called this one with smart, cool, and suspenseful novel.
Apakah The Lost Java merupakan karya terbesar Kun Geia? Read it! And just let your imaginations flow.
Rini Selly - Yogyakarta
Kandidat Master of Science, Universitas Gadjah Mada

Penulis mampu menghadirkan suasana yang membuat jantung berdetak lebih cepat. Konflik dan romansa cinta yang terbangun demikian bagus, hadir menguras emosi pembaca. Kepedulian akan ancaman terhadap keberlangsungan hidup manusia, kisah pendakian gunung es, persahabatan, serta bahasa-bahasa kimia benar-benar terangkai saling menguatkan dalam sebuah alur cerita yang luar biasa.
Novel plus pengetahuan ilmiah. Sukses untuk Kun Geia.
Rusmala Dewi Jayanti - Palembang

The Lost Java adalah bagian kecil science fiction terlangka karya anak negeri yang perlahan membuka layar akan kepedulian lingkungan. Permainan alur dan setting terasa nyata, membuat ingin menyentuh sendiri dinginnya salju abadi di Vinson Massif. Pesan saya, hati-hati dengan logika kimia yang dibangun oleh Kun Geia, bisa-bisa alam bawah sadar Anda tersihir.
Eadvin - EastBorneo

Sajian karya fiksi ilmiah dengan bumbu romantika cinta yang diracik dengan rapi, membuat pembaca tidak akan berhenti membaca hingga titik terakhir. Novel ini meyakinkanku bahwa pengidap asma pun bisa menaklukkan puncak tertinggi Gunung Vinson Massif di Antartika.
Rima Rosdiana H. Y. - Yogyakarta


Novel yang luar biasa, mengungkap konspirasi-konspirasi kaum Zionis. The Lost Java sukses menciptakan kejutan-kejutan yang tidak berhasil saya tebak sebelumnya. Saya pun tertipu mentah-mentah!
Novel ini sarat dengan nilai-nilai keislaman namun tidak terkesan menggurui, melainkan disampaikan secara apik oleh Kun Geia melalui keteladanan dan interaksi antar tokoh. Dr. Gia dan para ilmuwan lainnya yang menginspirasi kita untuk memberikan pembuktian pada dunia bahwa seorang cendekiawan Muslim pun mampu memiliki andil, kontribusi, dan kebermanfaatan bagi dunia.
Meina Fathimah - Yogyakarta

Awas hati-hati, novel ini adalah penjebak, penipu, dan pengecoh! Anda ingin tahu bagian-bagian mana saja yang akan menjebak, menipu, dan mengecoh? Maka pastikan Anda membaca novel ini sampai selesai. Namun yang pasti, Anda tidak akan terjebak, tertipu, dan terkecoh dengan membeli novel ini.
Wahu Sejati R. - Medan

Kun Geia piawai memainkan emosi pembaca. The Lost Java membuat saya tidak ingin berhenti membacanya sebelum tamat. Alurnya begitu cepat, konfliknya menguras adrenalin. Saya yakin dan berdoa, Kun Geia bakal menjadi novelis thriller yang sukses di dunia pernovelan Indonesia. Kalau boleh mimpi, jika The Lost Java suatu saat difilmkan, aku bersedia menjadi tokoh utamanya. ^_^
Ridwan Kharis – Purworejo
Novel karya Kun Geia ini berjudul The Lost Java. Mmm, kok dari judulnya kayak feel romance gitu yah. Eits, tapi jangan salah, novel ini malah menghadirkan sebuah genre fiksi ilmiah yang diramu dengan bumbu-bumbu yang apik di dalamnya. Ada cerita dari sisi keilmuan, berpadu dengan adegan ketegangan pemicu adrenalin plus sebuah kisah cinta yang memperapik novel ini.
Harian Pagi Padang Ekspres

Setiap kita punya gambaran masa depan tentang hidup kita sendiri, tentang karir, pendidikan, maupun keluarga. Namun tahukah kita masa depan Indonesia? Masa depan pulau Jawa? Siapa sangka jika di masa depan pulau terpadat di dunia ini akan tenggelam?
Novel The Lost Java menggambarkan bagaimana ilmuwan Indonesia di masa depan berjuang menciptakan sejarahnya sendiri, melawan hegemoni global dan diktatorisme barat. Dengan gaya bahasa lugas dan cerdas, Kun Geia membawa kita ke puncak Gunung Vinson MassifAntartika, ke Tel AvivIsrael, London, hingga ke perkampungan di Yogyakarta. Alur yang tajam dan latar yang kuat ditambah dengan data-data fantastis, membuat kita terus tertarik ke dunia petualangan seru.
Selamat, Anda telah menjadi pembaca berkualitas!
Ashif A. Fathnan, Taichung City - Taiwan
Penikmat sastra dan kandidat Master of Science
Asia University, Taiwan

The Lost Java, memadukan kemajuan sains dengan konspirasi politik global. Saya sangat menikmati konflik yang diangkat novel ini.
W. D. Yoga
Penulis novel fantasi ‘LEDGAARD’

Saat membaca tulisan awal novel ini, dua kata yang terlintas adalah cerdas dan detail. Scientific feel-nya sangat dapat. Dahsyat dan Menginspirasi. Sebagai seorang yang belajar sains, tulisan ini membawa ke ranah yang saya inginkan.
Nurma Yunita Indriyanti
Kandidat Doktor, Faculty of Chemistry and Pharmacy, University of Muenser, Germany

SINOPSIS THE LOST JAVA

Monday, July 16, 2012 1 Comments

SINOPSIS

“Kehancuran dunia kian dekat, namun kematian sudah mengintai jauh lebih dekat lagi!”
Bencana mengincar setiap nyawa. Iklim sempurna tak lagi bersinergi dengan bumi. Banjir-banjir mulai berubah status menjadi permanen. Ratusan pulau perlahan tenggelam ditelan luapan air laut. Puluhan juta manusia digiring paksa oleh bencana untuk mengungsi. Terlampau menyeramkan saat menunggu detik-detik mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan yang notabene sebagai penyimpan 90% cadangan air di bumi ini. Apakah dunia sudah mengetahui kengerian yang akan terjadi setelahnya?
Puncak bencana akan terjadi ketika panasnya suhu bumi menyebabkan gas metana beku terlepas dari kedalaman es dan laut, padahal ia memiliki kekuatan efek rumah kaca 25 kali lebih hebat dari karbon dioksida.inilah ancaman utama yang akan menghancurkan! Bencana Paleocene Eocene Thermal Maximum yang terjadi 55 juta tahun yang lalu akan terulang kembali. Bencana apakah itu? Itulah saat dimana seluruh permukaan bumi membeku tertutup lapisan es tebal dan setelahnya hanya akan tersisa dua kata saja dari sejarah keberadaan manusia: KEPUNAHAN MASAL.
Sekelompok ilmuwan terbaik dari seluruh dunia berkumpul untuk mencari solusi dari semua kekacauan, di dalam sebuah lab rahasia mereka meneliti nuklir, atmosfer dan es untuk menyelamatkan bumi dari cengkraman awal kehancuran. Setelah 35 tahun melakukan penelitian, Garuda Putih Laboratory akhirnya dapat menyelesaikan formula yang akan dibawa dalam misi WAR (Warriors of Antartic). Lima ilmuwan terbaik dari Indonesia, India, Iran, dan Amerika berangkat menuju atap tertinggi Kutub Selatan, puncak Gunung Vinson Massif. Tujuan mereka satu, menyelamatkan umat manusia dari kepunahan massal.
Selama ekspedisi, badai es beberapa kali mengamuk, oksigen minim pada ketinggian, dan suhu -45° C menyengat dengan dinginnya. Longsor es mengincar setiap saat, tebing-tebing tinggi sulit untuk dilewati,hingga jurang curam menganga untuk disebrangi. Namun, dari semua itu, ada hal lain yang jauh lebih mengancam keselamatan tim WAR. Di belakang mereka, sebuah organisasi bawah tanah kliber internasional yang terkenal kejam dan brutal menaiki Gunung Vinson Massif dari jalur daki yang lain. Tujuan mereka satu, merampas formula dari tim WAR dan menggunakannya untuk menguasai dunia demi satu pemerintahan,The New World Order.
Petualangan novel bergenre science-thriller fiction ini menyajikan tiga komponen yang digarap dengan serius berupa “sisi keilmuan” yang dipadukan dengan adegan-adegan “pemicu adrenalin” yang menyedot habis “rasa penasaran” pembaca di setiap akhir babnya. Dan tentu saja disempurnakan dengan “romantika cinta” yang dibingkai apik dalam konflik yang bertubi-tubi.The Lost Java lebih dari sekedar novel Sci-Fi. Ceritanya dipersiapkan dengan matang. Jadilah alur dalam buku ini penuh dengan jalinan yang syarat ketegangan, menyuguhkan kepuasan tersendiri bagi para pemburu bacaan thriller.


Prolog
1 April,
Vinson Massif[1].
Lima ilmuwan melakukan eksperimen di puncak gunung tertinggi belahan bumi bagian selatan.Di benua paling berangin, paling kering, dan paling dingin. Antartika.
Aktivitas mereka tidak mengundangperhatian dari dunia internasional.Alasan penelitian untuk kemajuan ilmu pengetahuan menjadi pembias yang sempurna, menutupi tujuan utama keberadaan mereka disana,menjauhkan manusia dari ancaman kepunahan masal.
Data-data yang mereka kumpulkan, menunjukkan bahwa es abadi di Antartika memendam kurang lebih 400 miliar ton methane hydrates[2]. Gas initerlepas sedikit demi sedikit ke atmosfer seiring banyaknya bongkahan es yang runtuh. Jika naik ke permukaan dan tertumpuk di atmosfer, gas ini akan menciptakan siklus yang mengerikan. Merusak stabilitas iklim, menarik suhu bumi ke tingkat terpanas.kemudianmemicu kebakaran, menaikkan ketinggian air laut, menenggelamkan daratan, dan tentu sajamenyebabkan kematian masal.
Lebih parah lagi, naiknya suhu air lautakibat perubahan iklimakan mencairkan methane hydrates yang tersimpan di lantai dasar samudera bumi. Inilahyang disebut sebagai bencana Paleocene-Eocene Thermal Maximum[3].Bukti-bukti geologi menunjukkan sudah dua kali planet bumi mengalaminya.Malapetaka ini pernah terjadi kurang lebih 55,8 juta tahun lalu, dimulai pada batas antara zaman Paleosen[4]dan Eosen[5].
Pada suhu di bawah 2° C, gas metana akan terlepas di saat bekuan gas metana yang stabil mencair, termasuk metana beku yang tersimpan di dasar laut. Gas ini memiliki efek rumah kaca 25 kali lebih besar dari gas karbondioksida.Selanjutnya, level oksigen akan mengalami penurunan drastis karena berkurangnya kemampuan air untuk menyerap oksigen. Jika oksigen lenyap, maka bakteri baru akan mengambil alih dan memproduksi gas hidrogen sulfida yang sangat mematikan bagi kehidupan di laut dan bumi. Saat itulah lebih dari 94% spesies air akan mati, menjadi permulaan yang disebut sebagai kematian masal.
Antartika dikategorikansebagai gurun.Tempat inihanya mendapat sedikit hujan air dan salju, hal ini menjadi penyebab utama sulit terbentuknya lapisan es baru untuk menambah jumlah es abadi yang menimbun methane hydrates di sana.
Kelima ilmuwan melakukan eksperimenmenggunakan formula khususuntukmemberikan reaksi fisika yang terjadi di dalam awan. Intensitas curah hujan akan naik dengan signifikan ketika proses pembentukan es di dalam awan berjalan efektif. Formula itu tertanam dalam roket, di atas puncak Vinson Masif.
Nuklir, itulah pemicu badai yang mereka pakai. Benda yang di-packingsebesaran bola tenis ini tersusun sebanyak 20 buah dalam 4 tabung.Semua alat dan bahan percobaanakan diluncurkan dari puncak Vinson Massif dengan roket jarak jauh ke arah vertikal. Mereka telah mempersiapkan dengan baik. Badai siap diciptakan dari puncak Antartika.
Timertelah diaktifkan.
Keadaan masih terkendali, setidaknya untuk saat ini. Mission 90% complete.
Setelah merekayasa hujan buatan di sekitar daerah stratus[6], kita picu terjadinya badai di puncak Vinson Massif untuk memperluas sebaran air dan es,” ucap seorang ilmuwan wanita yang menjadi pemimpin ekspedisi Vinson Massif.
 “Setelah itu,serahkan sisanya pada alam, biarkan dinginnya kutub selatan membuat jutaan kubik hujan itu menjadi es abadi baru,” sambung seorang ilmuwan lain berkepala plontos dan berkaca mata tebal.
Kedua ucapan ilmuwan itu menjadi hipotesis awal yang membawa merekaberada di tempat sepi yang menyimpan banyak misteri. Tidak ada pemukiman permanen, tidak ada peradaban manusia, dan tidak ada kehangatan sama sekali.
Timerterus menghitung mundur waktu peluncuran. Kelima ilmuwan sudah turun menjauhi puncak Vinson Massif. Hanya 48 jam waktu yang tersedia untuk menghindari badai yang nanti akan diciptakan alat-alat mereka.
Namun, tidak ada sesi negosiasi bagi apapun yang telah kering dituliskan pada lembaran-lembaran penghimpun takdir.
Jadi! Maka terjadilah.
Ketika semua asa sudah tidak sabar untuk dijelma oleh kecerdasan isi kepala, ketika segala rencana telah disusun dengan begitu sempurna, ketika seluruh prosedur operasional telah dilewati dengan sangat teliti, ketika takdir berbicara untuk menentukan akhir dari segalanya BOOOM!
Benda itu meledak terlalu cepat dari waktu yang telah diatur. Kepulan api yang meraksasa di puncak Vinson Massif hilang seketika dihempaskan angin. Tertelan suhu -24°C. Prahara yang tidak dikehendaki menghampiri tanpa bisa diprediksi.
Kerusakan kecil pada roket nuklir menimbulkan malapetaka besar yang mampu menghadirkan kehancuran besar.
Daerah tempat benda itu ditanam hancur lebur dan mulai erupsi. Meluncur turun ke bawah. Menggulung es yang dilewatinya menjadi longsor. Terus memperbesar diri. Siap melahap apa pun yang berada di depannya.
Dahsyatnya kekuatan ledakan merambat cepat, es permukaan di tiga ratus meter sebelum puncak ikut bergetar kuat.
“Longsor besaaar!!! Lariii...!” pekik salah satu dari kelima ilmuwan. Tidak ada waktu sekedar untuk memastikan kebenaran ucapan. Getaran di tempat pijakan sudah menjadi pembuktian. Mereka berlari tunggang-langgang,menjauhi puncak Vinson Massif.
Mission Failed.
Longsoran es dengan rakus terus menggulung apa pun yang dilewatinya.Bergerak dengan kecepatan 140 km/jam.
Membuang semua barang bawaan dan berlari secepat mungkin adalah syarat mutlak untuk bisa menjauhi kejaran es.Tidak ada pilihan lebih baik untuk mengindar kecuali menjauh dari jalur longsordan berharap tidak ada longsor susulan.
Beribu kubik es semakin mendekat.
Rintangan menghadang.
Jurang es menganga sangat lebar dan dalam di depan mereka. Tidak ada toleransi untuk ciut nyali. Lakukan atau mati.
Satu orang mundur mengambil ancang-ancang, kemudian berlari secepat mungkin dan melompat sejauh ia bisa. Dua kepala runcing ice axes[7]-nya mendarat di tebing jurang.Sepatu besi langsung menghujam lapisan es, lalu dengan susah payahia menaiki tebing. Setelahmencapai permukaan,ia kembali berlari,menjauh dari jalur longsor.
Dua orang lagi melakukan hal yang sama.
Mereka berhasil.
Seorang ilmuwan wanita terpekur. Pikiran dan hatinya mengatakan ia memiliki fisik yang tidak sekuat teman-temannya, keberaniannya tidak sebesar yang lain. Ia tidak yakin bisa mencapai seberang dengan melompati jurang.
Tidak tersedia waktu untuk berpikir lama. Kematian terus bergerak mendekat, menyongsong deras dari arah belakangnya. Wanita itu berlari ke arah kiri, berjudi dengan kejaran waktu untuk memutari jurang es.
Longsor sudah sangat dekat.
Getaran kuat merambat cepat, es tempat pijakan mulai retak. Dalam sekejap daerah di sanaterbelah. Wanita itu terperosok.
Dalam hitungan detik, longsoran es menyapu dengan cepat.
Wanita itu terkubur.
Alam memiliki hukum-hukum tersendiri yang tidak akan mampu ditantang manusia.
[ ]

Tiga orang ilmuwan selamat, sembilan belas jam kemudian tim SAR berhasil mengevakuasi ilmuwan wanita yang terjebak dalam gua sedalam enam meter di bawah lapisan es. Ia mengalami edema[8]ringan, tangan kirinya mati hingga siku.Terkena frost bite[9].
Pencarian terhadap satu ilmuwan lain dilakukan hingga 3x24 jam. Malang, tidak ada hasil yang didapatkan kecuali keletihan. Buruknya cuaca semakin mempersulit kesulitan yang sudah sangat menyulitkan. Melimpahnya muatan es yang dibawa longsoran memberikan kemustahilan hidup pada apapun yang tertimbun olehnya.
Pencarian dihentikan. Ilmuwan terakhir dinyatakan tewas.
Usaha untuk meredam terlepasnya methane hydrates di Antartika selesai, tidak ada hasil yang didapatkan. Pemanasan suhu bumi yang sangat parah hanya menunggu waktu jika tidak segera dicegah. Terulangnya kembali bencana Paleocene-Eocene Thermal Maximum mungkin dapat disetarakan dengan datangnnya kiamat kecil menuju kehancuran besar kepunahan masal.
Apakah ini cerita fiktif yang dikarang oleh para ilmuwan paranoid? Ataukah rekayasa media untuk menarik simpati dunia? Sayangnya data dan fakta ilmiah tidak berbicara demikian. Tidak terbantahkan.
Siklus kehancuran yang mematikan sudah dekat.
Dan, mayoritas masyarakat dunia tidak mengetahuiitu. [ ]



[1]Gunung tertinggi di Antartika, 4.897 meter. Berada di Pegunungan Ellsworth. Pendakian pertama dilakukan oleh tim ekspedisi pimpinan Nicholas B. Clinchm pada 17 Desember 1966.
[2] Gas metana yang terperangkap dalam struktur kristal air, membentuk solid berupa es.
[3] Perubahan ekstrim kondisi permukaan bumi, pergeseran ekosistem, dan gangguan siklus gas rumah kaca. Disebabkan suhu global naik sekitar 6° C selama sekitar 20.000 tahun atau meningkat 0,0003° C per tahun.
[4] Masa yang berlangsung antara 65,5 hingga 55,8 juta tahun yang lalu,dimulai setelah kepunahan masal pada akhir periode Kapur yang menandai punahnya dinosaurus.
[5] Masa yang berlangsung antara 55,8 hingga 33,9 juta tahun yang lalu. Dimulai dengan kemunculan mamalia modern pertama dan diakhiri dengan kepunahan masal yang dihubungkan dengan meteor besar yang ditemukan di Siberia dan Chesapeake Bay.
[6] Lapisan awan tipis dekat permukaan bumi. Terdapat pada ketinggian 3-5 ribu meter di daerah kutub, 5-13 ribu meter di daerah sedang, dan 6-18 ribu meter di daerah tropis.
[7] Kapak es, digunakan para pendaki gunung salju untuk medan berupa tebing-tebing dengan kondisi beku. Biasa digunakan untuk memanjat atau sebagai tongkat.
[8]Rusaknya paru-paru akibat hebatnya serangan dingin, ditandai dengan batuk berdarah.
[9] Radang dingin, terjadi kerusakan lokal terjadi pada kulit dan jaringan lain akibat dingin yang ekstrim. Paling mungkin terjadi di bagian tubuh yang jauh dari jantung, seperti jari-jemari.