Jejak Karya

Jejak Karya

Sunday, December 22, 2013

IBU, CINTA TANPA AKHIR

Sunday, December 22, 2013 0 Comments

Selaksa Cinta Untukmu Bunda [Cahaya Cinta Ibunda]
*Keisya Avicenna

Bingkisan kataku menari
Di ujung jemari
Tertuang dalam puisi
Mencurahkan kerinduan yang menghentak di hati

Bunda…
Dalam temaram sang malam
Engkau hadir laksana pelita
Engkaulah wanita yang sangat berarti dalam hidup putrinya
Senyum kita adalah kebahagiaan Bunda
Dan tangis kita adalah kesedihan Bunda
Di waktu kecil, Bunda tunjukkan padaku
Bagaimana berjalan tanpa tangan Bunda…
Kini, setelah beranjak dewasa, Bunda ajarkan padaku
Bermimpi seluas langit
Dan selalu tabah mengarungi bahtera kehidupan...

Tidak ada yang pernah bisa menandingi cinta dan pengorbanan Bunda
Kasih sayang Bunda...tulus, tak bersyarat.
Kasih Bunda sepanjang badan.
Sayang Bunda sepanjang jalan.
Cinta Bunda sepanjang hayat

Bunda...dari rahim sucimu, diri ini terlahir
Engkau bagai matahari yang tak pernah lelah hangatkan bumi
Bagai rembulan yang selau setia pantulkan cahaya cinta dalam pekatnya malam
Bahkan Bunda bagaikan angin pembawa kesejukan bagi nurani yang sepi
Bunda, jiwa yang selalu memberi dengan keikhlasan hati
Menjadi pengobar semangat akan cinta yang dalam
Memberi makna hidup yang penuh tantangan di masa depan...

Bunda…
Karena engkaulah sempurna kebahagiaanku
Setiap kali aku putus asa…
Senyum Bunda yang slalu menawarkan asa untukku…
Di waktu malam, desah nafas Bundalah yang slalu menghangatkanku
Senyum Bunda yang slalu menyambut wajah tidurku…

Bunda…
Aku bangga menjadi putrimu...
Bagian dari diri Bunda
Surga ada di telapak kakimu...

Malam ini…
Dalam untaian rindu yang menggelora
Terbingkai dalam rangkaian kata sederhana
Menorehkan indah akan segala kenangan
Terbayang sosok wanita lembut dengan guratan-guratan wajah tegar,
yang mungkin kini tengah sendiri,
Menanti di samudra rindu.
Ingin rasanya detik ini jua menghamburkan badan pada pangkuanmu
dan berbisik…”I Love U BUNDA…”

Kini, bersama untaian do'a yang mengalun syahdu…
Kulukiskan rindu diatas langit-langit hati
Penuh do'a tulus dan suci
Semoga Bunda selalu dalam naungan cinta Illahi Robbi…

Di sepertiga malam ini ada bait rindu yang ingin aku ungkapkan, ada doa tak berbilang yang ingin aku panjatkan untuk sosok mulia yang menjelma malaikat dalam hidupku, IBU…

Ada satu kisah di masa lalu, yang kali ini izinkan deretan aksaraku kembali mengenangnya.

Ya, tiap HARI IBU atau tiap kapan pun itu aku pasti mengenang jasa-jasa Ibu yang luar biasa dalam hidupku. Aku kembali membawa anganku melayang 10 tahun silam. Saat di mana aku tega membuat Ibu bersedih, membuat air mata Ibu terkuras. Tapi, apa dayaku untuk melawan skenario-Nya? Justru ketika aku merasa rapuh dan lemah, Ibu-lah orang pertama yang menguatkan.

Pasca aku “divonis” dokter untuk cuti sekolah 1 tahun, Ibu yang memotivasi hari-hariku. Ibu paham sekali dengan perasaanku yang menjadi sangat sensitif waktu itu. Bagaimana tidak sedih dan sakit hati, tiap hari aku disuguhkan pemandangan keberangkatan saudari kembarku sendiri yang memakai seragam putih-abu-abu dan ia menikmati hari-hari kelas 2 SMA-nya dengan sangat ceria. Sedangkan aku? Aku harus fokus dengan kesembuhanku. Meski Babe dan Ibu telah menyiapkan “warung kecil” yang harus aku kelola. Tapi, kesedihan itu benar-benar menghebat dalam diri ini.

Dan aku paling benci kalau ada orang menjengukku ke rumah! Ya, aku tidak suka dikasihani orang. Orang-orang yang datang dengan tatapan iba. Ah, betapa egois dan jahatnya hatiku waktu itu. Aku benar-benar merasa menjadi orang yang tidak bisa menerima kenyataan.

Pada suatu siang saat teman-teman kantor Ibu datang ke rumah, aku menyapa mereka sebentar kemudian asyik kembali di “warung kecil” ku. Setelah mereka berpamitan, aku segera berlari ke kamar, apa yang kulakukan? Aku menangis! Ya, aku menangis mencoba meluruhkan segala sedihku! Aku merasa jadi orang yang paling merepotkan saat itu! Tapi apa yang dilakukan Ibu? Dengan cinta dan kelembutan hatinya, Ibu menghampiriku, memelukku dengan segenap rasa sayangnya. Ibu bertanya, “Kenapa Dik Nung menangis? Ada apa? Cerita sama Ibu apa yang membuatmu sedih?” tanya Ibu sambil mengusap air mata yang telah menciptakan jejak di kulit pipiku.

Aku menceritakan keluh kesahku. Dengan lirih aku berkata, “Bu, dik Nung pengin sekolah lagi kayak mbak Ika. Dik Nung gak mau terus-terusan di rumah…” Air mataku kembali berderai. Setidaknya ada sedikit rasa lega karena aku mampu mengungkapkan inginku pada ibu. Ibu kembali memelukku erat kemudian menatapku, beliau pun berkata, “Dik Nung yang sabar, ya! Sekarang dik Nung sedang dapat ujian dari Allah Swt. Dik Nung harus kuat, harus yakin kalau nanti pasti sembuh dan bisa kembali sekolah seperti mbak Ika. Babe, Ibuk, Mas Dhody, Mbak Ika, semuanya gak ingin lihat dik Nung sedih. Yakin ya, Allah Swt sayaaang sama dik Nung.” Ibu kembali memelukku dan menciptakan keceriaan dan membangun rasa optimis dalam diri ini. Aku lihat Ibu menangis saat memelukku… Entah, sudah berapa banyak air mata yang terurai saat Ibu membersamai hari-hari perjuanganku di rumah sakit. Semuanya menjadi sebuah kenangan indah yang takkan pernah kuizinkan keluar dari memori otak ini. Dan aku biarkan semuanya mengendap dalam hati ini.


“Ibu, sudahkah engkau bahagia melihat putrimu sekarang? Sudahkah aku menjadi anak shalihah yang dengan doa dan akhlaknya dapat mengantarmu ke Jannah-Nya? Ibu, sungguh aku belum menjadi apa-apa…”

***
RUANG RENUNG
by: Keisya Avicenna
Dengan menyebut asma-Mu, Allah Yang Maha Kasih lagi Maha Sayang. Demi waktu… Allah SWT telah berfirman dalam Q.S.Al-Ashr! Waktu akan terus berjalan, dari awal menuju akhir. Yang terus menyaksikan KEHIDUPAN menuju KEMATIAN! Yang terus mengantarkan…setiap detik dan setiap nafas.
Waktu adalah makhluk yang abadi. Menyertai setiap langkah manusia dalam hidup, sehingga dia tahu. KEBURUKAN dan KEBAIKAN manusia. Waktu juga yang akan menemani manusia, memperoleh balasan dari segala yang mereka perbuat.

Saudaraku…
LIHATLAH KE DALAM DIRI!
Pejamkan mata duniamu, buka lebar mata hatimu…Tak terasa, diri ini telah hidup di dunia selama belasan tahun. Sungguh,tak mengira,waktu begitu cepat berlalu.
Ingatlah baik-baik,ketika dirimu dalam keadaan lemah, buta, tuli, tak bisa bicara,hanya menangis memecah kesunyian. Ketika itu kita mulai diperkenalkan dengan dunia fana, kita menangis. Entah, mungkin karena kita menyesal harus turun ke alam dunia, tempat segala cobaan dan godaan syetan. Karena pada dasarnya Nabi Adam a.s. turun ke dunia karena hukuman,dan hukuman tentunya terasa pahit.

Jerit tangis kita disambut dengan senyum haru sang IBU, yang telah mempertaruhkan nyawanya demi kelahiran kita!  Kelemahan kita ditutupi takbir adzan sang BAPAK, yang mendambakan agar kelak sang anak menjadi orang yang saleh, orang yang baik, orang yang berguna, dan orang yang sukses tentunya!

Saudaraku…
Kita mulai beranjak tumbuh…mulai mengenal satu per satu benda dunia, mulai mengenal keindahan semu dunia. Sehingga perlahan-lahan kita lupa akan komitmen yang telah kita ikrarkan di hadapan Allah Azza Wa Jalla, di alam kandungan, di mana waktu itu kita ditanya oleh Allah SWT, “Bukankah aku ini Tuhan bagimu?”Kemudian kita menjawab,”Ya, hanya Allah Tuhan bagiku!!!” Komitmen dan perjanjian yang kita buat kemudian hilang, sirna oleh kemilau sihir dunia.

Dari sini coba kita renungkan dengan nuranimu yang suci. Betapa kehidupan ini sungguh cepat, tak terasa. Sebentar lagi muda akan berlanjut menjadi tua dan tua akan berlanjut menjadi MATI! Itulah perjalanan dunia…hanya lewat…SEMENTARA!
Maka benar, dalam satu hadist dikatakan bahwa : “Dunia adalah jembatan menuju akhirat.” Karena di sini tak sedikitpun kebahagiaan dapat ditemukan. Apa yang kita dapatkan, yang kita genggam saat ini, suatu saat pasti adakalanya hilang. Ada PERTEMUAN pasti ada PERPISAHAN. Ada AWAL pasti akan ada AKHIR. Ada PAGI pasti akan diakhiri waktu MALAM. Dan itu cuma terjadi SATU KALI!
Karena hari ini tidak akan terulang lagi di hari esok! Tahun ini tidak akan sama dengan tahun kemarin. Bahkan detik ini sudah berbeda dengan detik yang akan datang.Itulah WAKTU, Saudaraku…! Waktu yang terus memaksa manusia untuk berlari manjalani kehidupan, sehingga bagi siapa yang berhenti, maka SANG WAKTU yang akan membunuhnya…

Saudaraku…
Adakalanya kita lupa dan tidak sadar bahwa kita dikejar sang WAKTU. Kita baru ingat dan sadar ketika sesuatu hilang dari sisi kita. Kita tahu, setiap yang bernyawa pasti akan MATI! Tapi kita baru sadar dan terpukul jika orang-orang yang kita cintai pergi…meninggalkan kita.
Renungkanlah, jika suatu saat nanti ibu dan bapakmu telah tiada, sudahkah selama ini kita mempersembahkan yang TERBAIK untuk mereka? Kenanglah kasih sayang mereka…

BAPAK…
Tetes demi tetes peluh keringatnya, pengabdian tertinggi untuk keluarga, sebagai pemimpin, pengatur, pencari rizki bagi keluarga. Terkadang beliau tidak memperhatikan keadaan dirinya sendiri. Beliau rela tidak makan untuk keluarga agar kita tetap bisa sekolah. Tak jarang, beliau harus dihadapkan pada permasalahan yang pelik yang disembunyikannya dari keluarga. Wajar, beliau tidak mau beban tersebut ikut ditanggung oleh istri dan anak-anaknya.

BAPAK…sosok gagah, tegar dan berwibawa yang kini telah tiada. Lalu siapa lagi yang memimpin, mengatur,dan mencari rizki untuk keluarga? Siapkah kita saat ini, untuk bisa seperti BAPAK? Menjadi pekerja keras tanpa pamrih semata-mata demi keluarga? Apa yang mau kita berikan buat BAPAK, jika kenyataannya beliau harus meninggalkan kita? Sudahkah kita membuat beliau bangga? Dengan akhlaq kita, dengan prestasi kita, dengan kebaikan-kebaikan kita? Atau sosok manusia ini hatinya malah membatu! Hilang rasa hormatnya pada orang tua! Sehingga perilaku malah menjadi kasar terhadap mereka.

Tapi lihat…mereka tetap tersenyum! BAPAK tetap mengobatkan kita jika sakit, padahal umpatan dan cacian yang terlontar dari mulut ini mungkin sama sekali sudah sulit dihitung, karena begitu banyak!

IBU…
Ingatlah pengorbanan sang IBU, yang menyayangi dan melindungi kita sejak dalam kandungan, yang merawat dan membela kita setiap saat, kesalahan dan kejelekan kita ditutup rapat oleh IBU!
IBU hanya berharap, anaknya akan berubah suatu saat.
Coba ingat, ketika kita mendapat masalah,IBU-lah tempat terbaik untuk bercerita, nasihat-nasihat beliau begitu tulus, senyumnya begitu teduh, seolah beliau berkata:“KAMU HARUS MENJADI ANAK YANG BAIK!”

Ketika sakit… IBU terus menunggui kita, membantu kita untuk segera sembuh, memotivasi kita untuk selalu bertahan. IBU…yang selalu kita cium tangannya ketika berangkat beraktivitas, yang selalu kita jadikan pembela setiap saat.
IBU…yang melindungi dan mengatur, melayani kebutuhan kita, sehingga kita terlupa dan menganggap IBU sebagai pelayan dalam keluarga.
Sudahkah kita minta ampun kepada IBU?
Atas kesalahan-kesalahan kita, atas umpatan dan cacian kita, atas kemarahan kita kepada beliau? Atas kesewenang-wenangan kita, memperlakukan dengan keji. Sosok yang mulia bernama IBU!

Saudaraku…
Kita hanya melihat sedikit, tenteng perjalanan WAKTU!
Di mana mudah bagi Allah untuk mengambil BAPAK dan IBU dari sisi kita. Waktu tidak dapat diramal, sehingga saat-saat pahit itu, ketika harus berpisah dengan BAPAK dan IBU,sangat tidak bisa diperkirakan, akan tiba saat itu dengan cepat, pahit dan luka. Karena dua sosok yang amat berharga dalam hidup kita…Kini tiada! 

Itu baru kita RENUNGKAN…
Dan kenyataannya, sekarang kita masih mendapati mereka menanti kedatangan kita, kepulangan kita di rumah, kita masih mendapatkan kasih sayang mereka setiap saat. Untuk itu, belum terlambat jika mulai saat ini kita mencobauntuk mulai menghargai jerih payah mereka, untuk memberikan yang TERBAIK bagi mereka.Menunjukkan PRESTASI dan KESUKSESAN kita, untuk ditukar dengan senyum BANGGA dan BAHAGIA dari mereka…

Saudaraku…
Masih banyak yang harus kita lakukan untuk menghadapi sang WAKTU, dengan mempersembahkan yang TERBAIK bagi DUNIA dan AKHIRAT! 

Karena sekali lagi, waktu tidak akan berhenti…waktu akan terus berjalan, sehingga usaha kita hanya  siap untuk menghadapinya detik demi detik…

“Hidup membutuhkan KETEGARAN dan KEKUATAN untuk menjalaninya, karena besok dan seterusnya, kita tidak akan tetap muda, pasti akan beranjak tua dan mati. Persiapkan masa depanmu mulai saat ini! Dan biarkan hari-hari cerah di masa depanmu akan terwujud bersama IKHTIAR dan DOA-mu…”

***
CATATAN LANGIT
by: Keisya Avicenna
Langit masih saja berkeringat saat pelepah malam mulai menjelma fajar…
Waktu Subuh yang mengalir sebelum malam berakhir
Sang muadzin bersenandung syahdu…
Menampar mimpi-mimpi para pemboros waktu
Pengingat ‘tuk segera terjaga dan mengambil air wudhu
Bermunajat sebelum pagi membuka hari

Saat tiba waktu Dhuha…
Embun perlahan mengering di hamparan rerumputan
Di kening sajadah kupungut pecahan doa
Ada yang menderas di jiwa, dalam harap dan pinta…

Saat jiwa tak lagi mengenal lelah lembaran hari yang berlarian
Saat itu pula bersemayam sebuah keyakinan:
“Tak perlu lagi bertanya tentang catatan langit!”
Karena pena telah diangkat
Catatan telah mengering
Takdir telah dituliskan!

Di altar langit nanti malam, kan kembali kubentangkan harapan…
Berharap bulan menghiburku dengan senyuman
Bersama gemintang yang berkerlip nan rupawan

Ibu, semoga Allah Swt segera kabulkan pintamu
Atas AMANAH-Nya yang kelak Dia titipkan padaku…

Aku pernah meminta Ibu menuliskan kata penyemangat dalam catatan harianku. Dan inilah pesan, harapan dan doa beliau:
“Sehat jasmani dan rohani. Selamat di dunia dan akhirat. Rajin dan tekun beribadah. Tercapai apa yang dicita-cintakan. Benar, lancar, dimudahkan aktivitasnya. Dimudahkan jodohnya: ‘yang soleh, bertanggung jawab, pengertian, mencukupi kebutuhan.’ TETAP SEMANGAT!!!”

Oh Ibu, di telapak kakimu sungguh ada surga…
[Keisya Avicenna]

#Saat kurasakan kasih-Nya mengalir dari langit teriring syair-syair terindah para malaikat, saatnya kembali mengeja surat cinta-Nya di beranda sunyi#





Thursday, December 19, 2013

Tips Menulis: Cara Menulis Dialog dalam Cerpen [Isa Alamsyah]

Thursday, December 19, 2013 0 Comments

Tips Menulis: Cara Menulis Dialog dalam Cerpen
Oleh: Isa Alamsyah

Berikut ini akan saya sampaikan cara penulisan dialog yang paling banyak dilanggar karena ketidaktahuan penulis pemula.
Diingat baik-baik ya

PERATURAN PERTAMA
Setiap dialog selalu masuk ke alinea baru
Kecuali dialog yang dipotong sedikit, lalu dilanjutkan

------"Mau kemana?" tanyaku. (alinea baru)
------"Mau tahu aja, itu urusanku," jawabnya. (alinea baru)
------"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "jangan tinggalkan aku." (alinea baru - sambungannya tidak)

Perhatikan dialog (petik pertama) pada baris pertama dan kedua masuk alinea baru sekalipun halamannya masih muat. Petik keempat pada baris tiga tidak masuk alinea baru karena dialognya masih lanjutan dari petik sebelumnya hanya dijeda sedikit narasi.

PERATURAN KEDUA
Huruf pertama nempel (tanpa spasi) dengan kutip buka dan tanda baca/ huruf terakhir nempel dengan kutip tutup.
"Mau ke mana?" = benar
" Mau ke mana ?" = salah (ada spasi)

PERATURAN KETIGA
Huruf besar di awal dialog.
Kalimat di awal dialog sekalipun di awal petik dianggap sebagai awal kalimat jadi huruf besar.
"Mau ke mana?" = benar
"mau ke mana?" = salah (huruf pertama)

Kecuali kalau kalimatnya dijeda, maka kalimat pada petik berikutnya dianggap sebagai kalimat lanjutan jadi huruf kecil.

Contoh yang benar (jangannya huruf kecil)
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "jangan tinggalkan aku."

- kata jangan adalah lanjutan dari kalimat sebelumnya jadi huruf kecil saja.
karena kalau tidak dijeda kalimatnya:

"Tapi keselamatanmu juga urusanku, jangan tinggalkan aku," sanggahku sambil menangis.

Contoh yang salah (jangan-nya huruf kecil)
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "Jangan tinggalkan aku".
(sekalipun beberapa penerbit tetap melakukan ini tergantung kebijakan)

PERATURAN KEEMPAT
Titik, koma, tanda tanya tada seru, pada akhir kalimat ada di dalam petik bukan di luar petik dan menempel pada tanda petik penutup.

Akhir kalimat dalam petik yang diakhiri dengan titik atau koma, maka tanda baca tersebut ada di dalam petik menempel dengan petik terakhir bukan di luar petik

Contoh yang benar
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "jangan tinggalkan aku." (titiknya di dalam petik)
Contoh yang salah
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "jangan tinggalkan aku". (titiknya di luar petik)

PERATURAN KELIMA
Titik dipakai kalau dialog berhenti tanpa keterangan narasi
jika dengan narasi pakai koma.
"Tapi keselamatanmu juga urusanku," sanggahku sambil menangis, "Jangan tinggalkan aku." (pakai titik)
"Tapi keselamatanmu juga urusanku, jangan tinggalkan aku," sanggahku sambil menangis. (pakai koma)

PERATURAN KEENAM
Kalau diawali narasi sebelum dialog dikasih koma dulu menempel pada huruf terakhir kalimat narasi lalu spasi lalu petik buka
Aku bertanya padanya, "Kamu mau ke mana?"

Ok segitu dulu, semoga bermanfaat kalau ada kesalahan mohon dikoreksi.

[Jejak BJ] : JILBABKU UNTUK INDONESIAKU (Meyda Safira dan Bunda Darosy)

Thursday, December 19, 2013 0 Comments

JILBABKU UNTUK INDONESIAKU

Sabtu, 14 September 2013.

Bertempat di Fakultas Kedokteran UNDIP, diselenggarakan event IHSD yang menghadirkan artis muslimah Meyda Safiradan Bunda Darosy Endah. Keikutsertaanku dalam acara ini, bermula saat aku melihat banner super gedhe yang dipajang di depan Masjid Kampus UNDIP. Mas Sis bilang, “Dik, keren tuh acaranya! Bisa nitip stand Beauty Jannaty juga ada Bunda Darosy, lho! Beliau itu ibu dari Ilham Bersaudara.”

Dengan polosnya, aku bertanya, “Siapa tuh Ilham Bersaudara?” Mas Sis menjelaskan kalau Ilham itu dulu finalis Pildacil (aku baru ngeh dan baru inget, kalau aku dulu ngefans dengan sosok Ilham saat ajang Pildacil). Setelah ngontak panitia dan berkoordinasi akhirnya Beauty Jannaty bisa terdisplay dengan sangat cantik pada event tersebut.

Sabtu pagi, aku dan Mas Sis ke FK dulu pasang standing banner dan nitip buku BJ dan TSOS. Lanjut Mas Sis nganter aku buat ngajat ekstakurikuler jurnalistik di SDIT Bina Insani. Jam 10.00 setelah ekstra selesai, aku bergegas ke FK untuk mengikuti acara tersebut. Alhamdulillah, acara baru saja dimulai.

Sesi pertama diisi oleh Meyda Safira. Sosok muslimah yang cantik dengan segudang potensi dan prestasi. Meyda berpesan, ridho orang tua = ridho Allah. Meyda juga bercerita keikutsertaannya dalam casting film KCB. Banyak ‘hal ajaib’ yang itu semua adalah skenario terindah dari Allah SWT. Banyak kasus terjadi di lokasi syuting terkait interaksi dengan lawan jenis, tapi Meyda berusaha untuk menjaga dirinya. Salah satu contohnya, tidak mau bersalaman dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. “Kalau kita punya prinsip yang baik, Insya Allah lingkungan yang sulit pun lama-kelamaan akan mendukung…” kata Meyda menjelaskan.

Terkait keistiqomahan dalam menjaga hijab, Meyda Safira membagi tipsnya. Cekidot!
1.   Niat yang kuat karena Allah.
2.   Belajar dengan lingkungan yang mendukung.
3. Rangkullah teman-teman yang baru saja berhijab. Dengan begitu, bisa saling menguatkan.
4.   Cari lingkungan yang kondusif.
(aku menangkap kalimat yang keren, “kalau ada liqo’-liqo’ gitu, ikut…”)
5.   Semangat untuk tholabul ‘ilmy.

Sesi kedua disampaikan oleh Bunda Darosy Endah. Sungguh, aku langsung terpikat dengan gaya public speaking-nya yang langsung menyedot 100% perhatian dan konsentrasiku. Aku amati gerak-gerik dan segala tutur kata beliau. Wow bangeeet! Apalagi saat membaca puisi dan Bunda sempat mengajak peserta melantunkan penggalan lagu “Jangan Menyerah” nya The Massiv. Bener-bener bikin gue terpana!

Bunda Darosy menyampaikan bahasan “JILBAB IS MY LIFE STYLE”
Berjilbab merupakan perintah Allah dan dasarnya sudah jelas-jelas tercantum di dalam kitab suci Al-Qur’an (QS. An-Nuur : 31 dan QS. Al-Ahzab : 59). Aktivitas apapun kalau dasarnya perintah, pasti akan ada godaan maupun ujian tetapi Allah tidak akan ingkar dengan janji-Nya. Allah SWT pasti akan memberi kemudahan-kemudahan, asalkan kita berlapang dada untuk menikmati proses dengan terus-menerus, sungguh-sungguh, dan menyempurnakan.

Hidup itu terbagi dua :
1.   Harapan (pada akhirat)
2.   Takut (merasa diawasi Allah)
Segala aktivitas kita orientasinya harus ridho Ilahi dan bukan ridho diri.
Menurut manusia baik, belum tentu menurut Allah juga baik. Ah, semua kalimat yang disampaikan Bunda Darosy berbobot dan mak jleb semuaaa…

Bunda Darosy sempat bercerita. Kalau beberapa waktu lalu, beliau jatuh dari tangga lantai dua di Fakultas Psikologi UNDIP (beliau dosen psikologi). Cerita sebelumnya, Bunda menerima hibah penelitian bersama temannya dan Bunda bilang ke temannya tersebut kalau beberapa waktu ke depan akan fokus untuk penelitian dan mengurangi waktunya berdakwah (ceramah). Saat Bunda mau pulang ke rumah, sambil menenteng tas laptop, saat jalan menuruni tangga ke lantai satu, tiba-tiba dari arah bawah, para mahasiswa baru berlari dengan cepat ke lantai dua. Mereka masih menjalani OSPEK dan waktu itu disuruh berganti pakaian batik oleh para seniornya dalam batas waktu tertentu. Bunda tertabrak dan jatuh. Kaki Bunda keseleo. Seketika, Bunda langsung evaluasi diri. Ya, dakwah itu tidak mengenal kata “istirahat”. Karena justru amanah berdakwah itulah yang menjaga diri kita. Tips dari Bunda : DUITS : Doa-Usaha-Ikhlas-Tawakkal-Syukur.

Oh ya, Bunda juga menayangkan video perjalanan dakwah Bunda bersama Ilham Bersaudara. Aaargh, gue kagak kedeeep! Dalam hati berdoa, “aku ingin mendidik anak-anak hingga kelak bisa seperti mereka.” Aamiin…

Karena ibu itu pendidik pertama dan utama. Bunda telah melahirkan empat orang permata yang sangat istimewa (Ilham, Taufiq, Fira, dan Kintan). Nah, agar anak-anak tumbuh dengan prestasi kokoh (yang penuh dengan harapan akhirat), Bunda selalu membiasakan “mengawali kehidupan dengan menghidupkan Al-Qur’an” sejak mereka kecil dan melakukan komunikasi dua arah. Bunda justru menciptakan anak-anak yang kritis dan bukan anak yang penurut. Catat ya, KRITIS!

Kata Bunda, dapat tips dari Ilham nih, PACARAN! (lho, pacaran kan nggak boleh?) tapi ini beda!
PACARAN = [P]elajari [A]l-Qur’an [C]intai [A]llah dan [R]asul-Nya, [A]mar Ma’ruf [N]ahi Munkar. Hehe, Ilham ada-ada saja!

Selanjutnya, ada sesi tanya jawab. Aku sempat mengajukan pertanyaan kepada Meyda dan Bunda. Setelah itu, ada sesi foto bersama. Aku bergegas keluar, mengambil dua buku Beauty Jannaty, coret-coret pesan dan tanda tangan lanjut maju ikutan foto. Setelah foto, saat bersalaman. Aku sampaikan ke Meyda dan Bunda, kalau Beauty Jannaty adalah karya terbaruku dan bilang, “semoga bermanfaat”. Bunda malah menarik tanganku, kemudian berkata, “Setelah selesai acara, ketemu Bunda dulu ya, Dik!” Meyda tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Hihi. So sweet moment…

Saat kedua pembicara ke ruang transit, aku turut serta. Kesampaian deh ngobrol lebih dekat dengan Meyda Safira dan Bunda Darosy. Ngomong-ngomong soal Meyda, aku jadi teringat dengan karya korti Bio’06 (Sutikno) “Ketika Bio’06 Bertasbih”. Aku berperan sebagai sosok Husna Ambarwati. Tahu, kan? Peran Husna dibawakan oleh Meyda. Sosok muslimah sekaligus penulis buku best seller. Dan hari itu aku bertemu langsung. Husna Ambarwati bertemu Husna asli. Hihi. Meyda cerita kalau dia juga tengah merampungkan satu naskah buku yang Desember 2013 nanti launching (Hujan Safir, judulnya).

Dari pertemuan dengan Bunda Darosy, ada satu amanah yang tiba-tiba tersandang di pundakku. Aku harus membantu beliau nulis. Wow, amanah yang nggak main-main. Beliau sempat bilang kalau sudah banyak (ada sekitar 10-an) orang yang mengajak Bunda untuk membagi kisah perjuangan hidupnya (hingga putra-putrinya dua kali memecahkan Rekor MURI dan 5x diundang dalam acara kepresidenan RI), tapi orang-orang itu (ada penulis, wartawan, mahasiswa, dll) hanya semangat di awal saja, tidak pernah ada kelanjutannya. Hmm, bismillah… semoga bisa menjadi ladang dakwah.

***
September 2013-Desember 2013
Alhamdulillah, dari aksi spontanitasku memberikan hadiah BEAUTY JANNATY kepada Bunda Darosy, atas izin Allah, 22 Desember 2013 ini lahirlah sebuah buku yang ditulis dengan penuh cinta : CAHAYA CINTA IBUNDA.Dan sudah ada beberapa jadwal di beberapa kota untuk membedah buku ini.

Subhanallah, sungguh luar biasa skenario Allah SWT. Semuanya telah tertulis dengan sangat rapi dan indah di Lauh Mahfuz. Semoga lahirnya CCI bisa memberikan pencerahan dan kebarokahan buat semua. Dengan semangat : “DARI KELUARGA, DENGAN CINTA, UNTUK INDONESIA” Allahu Akbar!!!

[Keisya Avicenna, 16 Safar 1434 H]


 KCB (asli)

 KCB (aspal) hehe...

 Bersama Meyda Safira, ibunya Meyda, Bunda Darosy Endah, dan panitia UNDIP

 Cahaya Cinta Ibunda (CCI)

Wednesday, December 18, 2013

CATATAN LANGKAH KEMBARA HIKMAH

Wednesday, December 18, 2013 0 Comments


CATATAN LANGKAH KEMBARA HIKMAH
Oleh: Keisya Avicenna

Jika tiap impian hanya dipertemukan getah pahit dirasa
Bila tiap kerinduan hanya dihadapkan pada racun kemunafikan yang penuh dusta
Maka, hadapkan diri pada langit yang pintunya selalu terbuka.
Mengadu di dalam butir-butir pengakuan dan berharap hanya pada-Nya
agar lepas segala kegelisahan dan dipertemukan dengan ketenangan…
 
Ya Rabb, jadikan penerimaan qadar-Mu lebih indah selaksa daun-daun zaitun
Berhiaskan embun yang dipancari sang fajar di pagi hari
Jadikan episode ini lebih indah…
Lebih baik dari pagi yang tersusun cahaya yang ditemani kilapan senyuman
***
Menjelang penghujung akhir tahun 2011, sebentar lagi kita akan membuka gerbang kehidupan di tahun baru 2012. Sudah seharusnya kita melakukan evaluasi atas pencapaian maupun cita-cita yang belum tercapai. Dan detik ini aku ingin menciptakan “terminal” dalam diriku, ‘pemberhentian sejenak’, untuk sejenak merenung, memahami, dan belajar memaknai lebih dalam. Menengok masa lalu untuk kemudian membuat sebuah resolusi yang harus aku ikhtiarkan maksimal untuk menjejak nyata di tahun mendatang. Ada lima resolusi terbesar di tahun 2012 yang akan aku uraikan dalam untaian aksara yang tengah menemaniku bermetamorfosa kali ini. Aksara-aksara yang menemaniku membuat notulensi akhir tahun yang kelak menjadi blue print kehidupanku di tahun 2012.
Sebagai insan ciptaan Allah Swt, kita harus selalu menatap harapan terbaik di masa depan. Ya, karena hidup ini hanya terdiri dari tiga bagian: masa lalu, masa kini dan masa depan. Masa lalu adalah pelajaran terbaik, masa kini adalah prestasi terbaik dan masa depan adalah cita-cita terbaik. Jika kita selalu mengisi hati kita dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan, kita tidak memiliki hari ini untuk kita syukuri. Tetaplah bersyukur dan bersyukur, walau mungkin kita melihat sebongkah cahaya kecil di atas bukit kegelapan. Sesungguhnya Allah Swt mengabulkan doa-doa dalam prasangka hamba-Nya. Kata-kata syukur selalu didahului oleh sabar. Sabar itu lebih mudah dilakukan. Banyak orang yang berhasil sabar dalam kedukaan, namun amat sulit untuk menemukan orang yang mampu mensyukuri nikmat Allah dalam kesempitan yang ia alami.
Inilah resolusi pertama dan merupakan resolusi terbesarku di tahun 2012…
 “Ya Rabb, jika masih ada sedikit kebaikan dariku dan Kau menganggapku telah pantas, datangkanlah seseorang yang akan menjadi partnerku mengarungi hidup ini. Datangkanlah dengan cara yang bersih, sederhana. Jika dia jauh, maka dekatkanlah. Jika dia telah dekat, maka sampaikanlah waktunya. Ya Rabbi… Engkau Mahatahu apa yang tepat dan terbaik untukku, untuk dunia dan akhiratku.”
 Sebuah doa yang akhir-akhir ini sering aku panjatkan. Doa yang tak pernah henti membasahi lisan ini. Usiaku sekarang sudah genap 24 tahun. Berdasarkan apa yang pernah aku tuliskan dalam “life mapping”, aku berencana menikah di usia 24 tahun dan menikah merupakan salah satu impian terbesarku di tahun 2012. Ya, menikah adalah resolusi terbesarku di tahun 2012. Bismillah, senantiasa aku meluruskan niat. Menikah itu ibadah dan menikah adalah separuh dien, salah satu hal yang merupakan sunah Rasulullah Saw. Akhirnya, aku pun mulai menyusun dan menuliskan kriteria-kriteria sosok “lelaki idaman” yang aku damba kelak untuk menjadi seorang imamku, selama-lamanya. Seorang suami sekaligus ayah dari anak-anakku kelak
Selain menetapkan kriteria, aku pun menyusun visi dan misi yang akan aku bangun dalam universitas kehidupan bernama: pernikahan. Aku mempunyai misi pernikahan yaitu mewujudkan pernikahan sebagai penyempurna agama yang bukan sekedar untuk mencari bahagia, tapi menuai keberkahan di dunia dan akhirat, bersama menuju surga-Nya.” Untuk merealisasikan misi itu akupun menetapkan ”AMANAH” sebagai visi pernikahanku. Aku ingin membentuk keluarga yang AMANAH karena semua yang terjadi dalam hidup kita, sekecil apapun yang kita lakukan, semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban. AMANAH ini ada uraiannya:
[A]  :  Al Qur’an dan Al Hadits sebagai pedoman utama
[M] : Mengorientasikan semua aktivitas untuk mencari ridho Allah SWT, dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah SAW
[A] : Aktualisasi diri dan perbaikan diri secara kolektif dalam rangka membentuk dan membangun keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah, dakwah serta amanah
[N] : Nikah = kesempatan menjadi lebih baik dari hari ke hari, menjadikan ‘pernikahan’ sebagai medan jihad, medan ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan), dan medan bersyukur.
[A] : A Miraculous Journey (Pernikahan adalah penyatuan kedua jalan yang berbeda, kemudian berjalan bersama dalam satu jalan yang baru, jalan yang lebih lebar, sebuah perjalanan penuh hikmah, ‘perjalanan yang ajaib’)
[H] : Hidup dalam suatu rumah tangga yang menjadi surga serta sebagai ‘markas dakwah’.

Sampai detik ini aku senantiasa yakin bahwa bersabar akan penantian pasti membuahkan hasil yang istimewa. Dan sungguh benar janji Allah Swt, "Wanita yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk wanita yang keji pula, sedangkan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik juga diperuntukkan bagi wanita yang baik…” (QS. An-Nur: 26).
Satu hal terpenting yang terus-menerus aku upayakan sampai sekarang adalah evaluasi diri dan mencoba lebih mengenal diri sendiri. Aku teringat nasihat Ustadz Anis Matta, Lc: “Pemahaman diri yang benar tentang diri sendiri akan melahirkan penerimaan diri yang baik. Membuat kita menerima diri secara apa adanya. Tidak menganggap diri kita melebihi kapasitasnya atau kurang dari kapasitasnya. Kalau kita mampu menerima diri kita dengan baik, setelah menikah pada umumnya kita juga mampu menerima pasangan kita dengan baik.”Nah, nasihat ini selalu menjadi pelecut semangatku untuk lebih memahami diri sendiri sebagai langkah awal untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas diri karena “dia” akan datang sesuai kondisi iman di hati.
Jika ada sisa harapan dalam hidupku di jalan-Nya, aku berharap segera usai penantianku akan anugerah separuh dien-Nya. Menikah dengan lelaki pilihan-Nya di tahun 2012 ini. Lelaki yang AMANAH, yang benar-benar terpilih TEPAT dan TERBAIK untuk menemani hidupku selamanya (dunia dan akhirat) dan mempunyai keluarga yang sakinah, mawwadah, warohmah, dakwah, dan amanah. “Bersinergi untuk sebuah kemaslahatan…”
Ya Rabbi, jiwaku takkan lelah menghitung lembaran yang telah terlewati, hati takkan risau, jua tak ingin berkeluh. Semoga “dia” (yang tengah Engkau persiapkan) adalah sosok yang TEPAT dan TERBAIK untukku, untuk dunia dan akhiratku. Aamiin.
***
Resolusi terbesar kedua, aku ingin lebih fokus menghafalkan dan mempelajari Al Qur’an. Ibnu Umar berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan orang yang menghafal Al Qur'an itu bagaikan pemilik onta yang diikat, jika dirawat dengan cermat, maka tetap dapat dipertahankannya (dimilikinya) dan bila dilepas maka akan hilang” [H.R. Bukhari dan Muslim]. Abu Musa r.a. berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Telatenilah mempelajari Al Qur'an, demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, Al Qur'an itu lebih cepat larinya daripada onta yang lepas dari tali ikatnya” [H.R. Bukhari dan Muslim]. Subhanallah! Insya Allah, aku bertekad akan semakin mencintai ayat-ayat Cinta-Mu, Ya Rabb…
Resolusi terbesar ketiga, aku ingin mempersiapkan diri dan keluarga untuk umroh dan naik haji. Hal ini menjadi salah satu motivasi terbesar agar aku bisa menjadi anak yang senantiasa berbakti dan mampu mewujudkan impian Babe, Ibuk, Mas Dhody, dan Mbak Thicko. Sebuah ikhtiar yang senantiasa aku perjuangkan dengan sungguh-sungguh agar aku bisa membalas segala jerih payah, perjuangan, dan pengorbanan orang-orang yang sangat ikhlas mencintaiku.
Resolusi terbesar keempat, aku ingin menjadi penulis produktif yang senantiasa mengikhtiarkan BEST SELLER untuk setiap karya-karyanya. Kenapa harus BEST SELLER? Karena ketika karya kita luar biasa, ketika karya kita istimewa akan banyak orang yang membelinya, membaginya kepada banyak orang pula, dan itu terjadi secara berkesinambungan. Otomatis, Insya Allah tabungan pahala akan semakin banyak.
Resolusi terbesar kelima, aku ingin mengikuti jejak Bunda Khadijah. Aku ingin belajar menjadi seorang pengusaha muslimah. Saat ini aku tengah merintis usaha crafting (kerajinan tangan) bersama teman-temanku. Semoga di tahun 2012 nanti, kami lebih bisa mengembangkan usaha tersebut serta menjadi muslimah yang mandiri dan kreatif.
Ya Allah, aku tahu Engkau sedang merancang skenario terbaik untukku. Maka satu saja pintaku, kuatkanlah aku apapun skenario-Mu untukku. Akupun belajar percaya bahwa semua hal dalam hidup ini ada dalam aturan-Nya. Musim kehidupan inipun berjalan sesuai dengan sunatullah dan sama sekali tidak dapat diprediksi. Ketika kita berupaya untuk selalu bersyukur atas setiap musim yang kita alami, Insya Allah akan membuat kehidupan ini menjadi lebih bermakna. Allah Swt yang lebih mengetahui sesuatu itu baik atau buruk.
Adasetiap waktu untuk setiap tujuan yang telah Allah Swt tetapkan bagi makhluk-Nya. Masing-masing ‘musim’ yang diberikan-Nya kepada makhluk-Nya memiliki keberkahan tersendiri. Mereka akan tetap datang kepada kita tanpa peduli apakah kita menginginkan musim itu atau tidak. Setiap musim selalu Allah Swt ciptakan pada waktu yang tepat. Dan Allah Swt akan membuat segala sesuatunya indah TEPAT pada waktu dan kondisi TERBAIK yang telah ditentukan-Nya. Adapun yang patut kita lakukan hanyalah bersyukur dalam segala kelapangan dan kesempitan.
Ya Rabb, inilah langkah kembaraku dengan motivasi tertinggi merengkuh keridhoan-Mu… Berikanlah hamba kemudahan. Aamiin Ya Rabbal’alamiin…

Solo,  di penghujung Desember 2011
Keisya Avicenna