Jejak Karya

Jejak Karya

Sunday, January 17, 2010

OH, INDAHNYA…


Jumat, 15 Januari 2010. Pagi yang indah… Meski sang bagaskara enggan menyunggingkan senyumnya pagi ini, tapi itu tak membuat Aisya kehilangan semangatnya untuk berangkat ke kantor. Sampai di kantor pukul 08.00. Tampak beberapa karyawan Kemendag (Kementrian Perdagangan) hendak melaksanakan senam pagi. Aisya tidak ikut senam pagi ini, karena selain tadi sempat gerimis, juga ada pekerjaan yang harus diselesaikan pagi itu (misi DYNAPLAST ^^). Harus selesai hari ini karena siang nanti Kasubdit dan Kaseksi akan ke Jogja. SEMANGAADHH!!!

Sampai di Direktorat Impor (Lantai 9 Gedung II Kemendag), langsung disambut oleh Pak Satpam yang ramah dan Mbak Zubaedah yang sibuk membersihkan ruangan Direktorat Impor. Sesampainya di ruangan Subdit I, sudah ada Pak Peter dan Mbak Sulis. Wah, pagi ini Aisya kalah pagi dengan Pak Peter.

Setelah itu, Aisya menyalakan komputer dan mulai menjalankan tugasnya pagi itu. Tidak lupa menyalakan winamp, agar lebih semangat. Alhamdulillah, sekarang backsongnya di Subdit 1 adalah lagu-lagu Islami.. Hihi, ulah Aisya tuh! Aisya memilih beberapa nasyid dan murattal. Ia mengklik salah satu nasyid favoritnya… SEDEKAH-nya Opick… dan ia pun memutarnya berkali-kali…

Alangkah indah, orang bersedekah

Dekat dengan Allah, dekat dengan surga

Takkan berkurang harta yang sedekah

Akan bertambah… akan bertambah

Allah Maha Kaya, Yang Maha Pemurah

Yang akan mengganti dan membalasnya

Allah Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa

Semoga akan membalas surga

Oh, indahnya saling berbagi

Saling memberi karena Allah

Oh, indahnya saling menjaga

Saling mengasihi karena Allah

Aisya sangat menyukai nasyid ini karena terinspirasi dari motivasi Pak Banindro (Kasubdit I) saat diskusi kemarin pagi. Intinya begini...

“Kalau ingin hidup MISKIN.. Pikirkan DIRI SENDIRI.

Kalau ingin hidup SEDERHANA… Pikirkan KELUARGA.

Dan kalau ingin hidup KAYA… Pikirkan ORANG LAIN YANG KURANG MAMPU”

Sadarilah, bahwa masih banyak orang yang jauh lebih kurang beruntung dibanding kita. Kita bisa makan 3x sehari, tapi di tempat lain ada yang sudah 3 hari tidak makan… IRONIS! Masih banyak contoh IRONIS lainnya sebagai gambaran bahwa KEMISKINAN masih menjadi warna dominan di negeri ini. “KAYA” di sini bukan berarti hidup yang materialistis dan hedonis, tapi memiliki “kecukupan” dalam berbagai hal sehingga mampu memberikan kebermanfaatan untuk orang lain. “KAYA” juga jangan diidentikkan dengan HARTA saja. Kalau memiliki banyak harta (kaya harta), tapi tidak diimbangi dengan kaya hati, kaya ilmu, dan kaya amal ya sama juga bo’ong… Misalnya saja, saat kita hidup di masyarakat. Ada tetangga kita yang menderita sakit keras, harus di bawa ke rumah sakit, tapi tidak punya biaya. Ketika kita mempunyai “rezeki” yang “cukup” bahkan “berlebih”, tentunya kita akan bisa berbuat lebih juga untuk tetangga kita itu… Kita bisa membawanya ke Rumah Sakit dan akhirnya (atas izin Allah), ia bisa sembuh. Ingat, ada hak oUkuran hurufrang lain di setiap rezeki yang kita terima. Jadi ingat pesan Pak Banindro lagi, “Tidak semua yang kita terima menjadi milik kita…”

Kalau dalam kamus hidup saya sih => Saya ingin MANDIRI SECARA EKONOMI AGAR LEBIH BERMANFAAT UNTUK UMAT => KOLABORASI KAYA HATI, KAYA ILMU, KAYA AMAL, KAYA HARTA

(jangan ada yang complain dengan saya ya… ^^). Please, support me!!! (gak maksa ding..)

***

Jadi inget sebuah kisah yang pernah Aisya baca dari buku “Ketika Cinta Berbuah Surga”-nya Kang Abik (Habiburahman El Shirazy) judulnya “Keutamaan Sedekah”

Malam itu, bulan bersinar terang di langit. Bintang-bintang bertaburan. Subhanallah, alangkah indahnya. Seorang lelaki bernama Karim keluar dari rumahnya. Dulu, Karim dikenal gemar melakukan perbuatan yang dilarang agama. Namun, kini dia telah insaf dan bertobat. Sekarang, dia rajin sholat berjamaah di masjid, Dia juga tidak merasa malu untuk ikut mengaji dan belajar membaca Al Qur’an, bersama anak-anak yang lebih muda usianya.

Malam itu, setelah mendengar penjelasan dari imam masjid tentang keutamaan shadaqah, hati Karim tergerak. Imam masjid menjelaskan, jika seseorang memiliki uang seribu dirham dan ia menyedekahkan tiga ratus dirham, maka yang tiga ratus dirham itulah yang akan kekal dan akan dinikmatinya di akhirat. Sedangkan yang tujuh ratus dirham tidak membuahkan apa-apa. Bahkan, uang tiga ratus dirham yang disedekahkan akan dilipatgandakan oleh Allah sebanyak tujuh ratus kali. Sedekah juga membuat harta dan rezeki yang ada menjadi penuh berkah.

Selama ini, karim dikenal kaya dan kikir. Namun, sejak insaf dan tobat, dia telah berniat akan mengorbankan segala yang dimilikinya untuk memperoleh ridha Allah SWT. Sebagian hartanya telah dia rencanakan untuk disedekahkan dan diinfakkan di jalan Allah SWT.

Dia mengarahkan langkahnya menuju suatu rumah. Dia telah menyiapkan kantong berisi seratus dirham untuk disedekahkan, Begitu sampai di rumah yang ditujunya, dia mengetuk pintu, Seorang lelaki berkumis tebal muncul dari dalam rumah. Setelah mengucapkan salam, dia memberikan kantong itu kepada pemilik rumah, lalu mohon pamit. Kejadian itu ternyata diketahui oleh beberapa orang penduduk daerah itu.

Pagi harinya, orang-orang di pasar ramai membicarakan apa yang dilakukan Karim tadi malam. Dua orang yang melihat Karim bersedekah berkata dengan nada mengejek., “Dasar orang tidak tahu agama, sedekah saja keliru, masak sedekah kok kepada pencuri. Kalau mau sedekah itu, ya harusnya kepada orang yang baik-baik.”

Obrolan orang di pasar itu sampai juga di telinga Karim, ia hanya berkata dalam hati, “Alhamdulillah, telah bersedekah kepada pencuri!”

***

Hari berikutnya, ketika malam tiba, dia kembali keluar rumah. Dia ingin kembali bersedekah. Sama seperti malam sebelumnya, dia menyiapkan uang seratus dirham. Kali ini, dia memilih sebuah rumah di pinggir kota. Dia mengetuk pintu rumah itu. Seorang wanita membukakan pintu. Dia langsung menyerahkan sedekahnya pada perempuan itu lalu pulang.

Pagi harinya, pasar kembali ribut. Ternyata ada orang yang mengetahui perbuatannya tadi malam.

Orang itu bercerita sinis, “Memang, karim itu tidak jelas. Rajin pergi ke masjid, tetapi memberi sedekah saja masih salah. Kemarin malam, dia memberi sedekah kepada seorang pencuri. Lha, tadi malam , dia memberi sedekah pada seorang pelacur!”

Perbincangan orang di pasar itu sampai juga ke telinganya. Karim hanya berkata lirih, “Alhamdulillah, telah bersedekah kepada seorang pelacur!”

***

Malam harinya, Karim kembali keluar rumah untuk sedekah. Dia memilih rumah yang ada di dekat pasar. Setelah mengantarkan sedekahnya, dia pulang. Kali ini Karim berharap. Setelah mengantarkan sedekahnya, dia pulang, Kali ini Karim berharap dia tidak keliru memberikan sedekahnya.

Pagi harinya, pasar lebih ribut dari biasanya. Seorang penjual daging berkata, “Nggak tahulah! Karim itu memang aneh. Mau sedekah saja kok kepada orang kaya. Padahal, orang yang miskin dan memerlukan uang untuk makan, masih banyak dan ada di mana-mana!”

Ternyata, rumah yang didatangi Karim dan diberi sedekah tadi malam adalah rumah orang kaya. Mendengar berita dan omongan orang yang ada di pasar tentang kekeliruannya memberkan sedekah, ia berkata, “Alhamdulillah, telah sedekah kepada pencuri, pelacu, dan orang kaya!”

Malam harinya, ia shalat tahajud lalu tidur.

Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi oleh seseorang yang memberi kabar kepadanya, “Sedekahmu kepada pencuri, membuat pencuri itu insaf, sehingga dia kini tidak mencuri lagi. Sedekahmu kepada pelacur, membuat wanita itu tobat dan tidak berzina lagi, dan sedekahmu kepada orang kaya, menjadikan orang kaya itu sadar dan merasa malu. Kini, orang kaya yang pelit itu mau mengeluarkan zakat dan infak. Sedekahmu yang ikhlas itu diridhai Allah SWT.”

Setelah itu, Karim semakin khusyuk beribadah dan banyak mengerjakan kebajikan. Dia sadar bahwa yang paling penting dalam ibadah adalah niat karena Allah SWT. Bukan sekedar mengikuti perkataan orang banyak. Hanya Allah-lah yang berhak menilai, diterima atau tidaknya amal seseorang!

***

SEMOGA MENGINSIPIRASI!!!!

SALAM SUPER DAHSYAT FULL SEMANGAAADH!!!

SUDAHKAH ANDA BERSEDEKAH HARI INI???

[dijawab sendiri-sendiri aja ya…]

***

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah : 261)

Menginfaqkan harta di jalan Allah adalah BISNIS yg keuntungannya pasti dan tidak akan rugi selamanya... Giving is POWERFULL!!! (Aisya Avicenna)

RedZone, 160110_00:24

Dalam sebuah perenungan di sepertiga malam…

Hanya terdengar lantunan murattal dan tuts keyboard yang beradu dengan jari…

Aisya Avicenna

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Salam,


Keisya Avicenna