Jejak Karya

Jejak Karya

Thursday, April 07, 2011

CELOTEH AKSARA [7]: NDEGAN MANING-NDEGAN MANING



CELOTEH AKSARA [7]: NDEGAN MANING-NDEGAN MANING

Siang itu kembali Trio Permen Sunduk (baca: Nungma, Diah Cmut, n Ayu’) mengukir kisah di Taman Pujangga Ronggowarsito. Tepatnya di bawah Jembatan Jurug. Tempat favorit kita untuk mencari inspirasi dan meluapkan segala kegundahan di hati. Haiyyah…sebuah “arena pelepasan emosi jiwa”. Kelkelkel…

***

Ayu’ njemput Nungma di kost sekitar jam 12.45. Siang ini kebetulan Nungma free, gak ada jadwal ngajar, jadi abiz ndegan rencananya mau langsung mudik. Hm, sambil nunggu kabar Cmut yang gak bales-bales (bukan gak pulang-pulang, nanti malah kayak Bang Thoyib ajah), aku dan Ayu’ asyik bercerita tentang si Dora. Gadis kecil yang sering kita jumpai di perempatan bangjo daerah Manahan. Sambil ngobrol, Nungma mengamati tingkah polah Ayu’. Tu anak asyik “dolanan” spionnya yang lepas. Ahihihi…lucu banget lah! Berhubung Cmut gak bales-bales, yasudah kita ke lokasi duluan. Ngeeengg…

Singkat cerita, sampailah kita berdua di lokasi ndegan. Kita pilih yang di sebelah atas aja. Meja ini pekan kemarin Nungma gunakan juga untuk ndegan bareng dik Fera, ‘n tamu tak undang “Mas Tyo”. Hadeh… Cmut ternyata lagi otw dari rumah. Yadah, Nungma ‘n Ayu’ pesen makan siang dan degan duluan. Menu kita sama. Mie yang kolaborasi sama ayam. Jadilah mie ayam. Hihi, dari kostan tadi soalnya Nung sengaja bawa saos sachetan. Hohoho…sambil nunggu pesanan jadi, kita asyik ngobrol ‘n cerita macem-macem sambil menikmati pemandangan di sekeliling lokasi. So romantic lah suasananya.

Sejak jadi mahasiswi dulu, Nung juga dah sering ke sini. Tapi tujuannya bukan untuk ndegan, tapi cari preparat buat praktikum bahkan sempat juga praktikum Pencemaran Lingkungan di daerah itu. Dan sekarang, tempat ini menjadi tempat favorit anak-anak FLP. Namanya dah mendukung sih! Taman Pujangga Ronggowarsito. Ahay…

***

Degan gula merah tanpa es dan mie ayam siap disantap. Mak nyuz dah! E, lagi asyik-asyik nyam-nyam ada seekor kucing berbulu putih ada jleret-jleret hitam di bagian kepalanya mendekati kami. Ayu’ yang agak jijay bajaj sama kucing ber-hush-hush ria. Mencoba ngusir tu kucing. Tapi si doi malah cuek-cuek aja. Hihi. Tak kasih rambak nolak. Hadeh, keren pisan ni meong! Maunya daging ayam! Akhirnya, Nung terinspirasi buat ngasih dia nama Rangga. Karena dia hobi berpatroli di daerah ini (dulu kita juga dah pernah ketemu dengan ni kucing). E, ternyata ni kucing berjenis kelamin betina. Yasudah, yang semula kita kasih nama Rangga, kita lengkapin deh…yang jelas bukan Ranggawati atau Ranggasari (coz itu akhiran namanya kita-kita), jadinya Ranggayuni. Hihihi. Kapan-kapan kenalan sama Diajeng Tya, ya Rangga! Nung malah jadi inget dengan seekor kucing yang sempat SUPERTWIN temukan pada tanggal 6 April 2003, yang akhirnya kita beri nama yang sangat puanjang: PUSQUITO APRILIO HEKSA DEVO LUCIANO VENUS MOKO WHISKASTO FELIS DOMESTICO. Panggilane ya “Pus!”. Hehe…

Cmut datang. Dia pesan tahu kupat. Si Rangganya dah ilang tanpa pamitan. Mungkin ingin melanjutkan episode “Rangga Mencari Cinta”. Hehehe… ngobrol semakin seru. Aku dan Ayu’ dah abz duluan, Cmut baru mulai makan. Untungnya, aku bawa agar-agar, bisa jadi makanan penutup dah! Cmut ngluarin 3 buku tentang kerajinan tangan. Milih-milih yang mau ditampilkan buat EMBUN edisi ke-2. Obrolan paling seru saat Ayu’ cerita tentang SMS-nya “Mas Wiwid” (bukan nama sebenarnya. Yaiyalah bukan…secara dugaan Ayu’ meleset sampai kepleset). Hahaha…Ayu’…Ayu’…sungguh Muwu Thedmamu!!! Mengenang saat kejadian “Mas Gol A Gong dan Mbak Tias Tatanka”. Xixixixi…Ayu’ oh Ayu’!

Aku dan Cmut sontak ngikik garing gitu. Cmut akhirnya malah jadi crita tentang masa-masa magangnya di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta (RSJD). Doi ternyata pernah pingsan gara-gara tindakan “penganiayaan” salah seorang pasien di sana waktu dia sedang melakukan pemeriksaan. Hadeh…lucu amat, Mut! Nungma jadi makin penasaran dengan pasien-pasien di sana. Tapi setidaknya dah mampu menganalogikan dan membayangkan, paling juga gak beda jauh dengan tingkah seorang perawat di sana juga, yang tergabung di FLP angkatan 6. Pluz kepala suku Pelangi kita. Hihi…yang sepakat, tunjuk tangan!!! d^^b…*jadi inget tingkah polah mereka berdua waktu selesai rapat EMBUN di Manahan. Kalau gak percaya tanya Mas Aris El Durra dan Kang Fachmy Casofa! (sang pelaku). Saksi hidupnya Mbak Santi, Mbak Amrih, dan Nungma. Saksi matinya: gulungan tisu dan air kobokan, pluz gelas tehnya Mbak Santi. Haha…

***

Kembali ke Taman Pujangga…Hm, terdengar suara seruling yang mengalun syahdu. Seruling yang dimainkan oleh bapak penjual mie ayam. Mulai dari Himne Guru, Kisah Kasih di Sekolah, Bagimu Negeri, Desaku, dll. Mau request tembangnya Maher Zain, tapi beliau kayaknya belum update not/kuncinya deh. Hihi…

Kebersamaan kita bertiga berakhir setelah kita mencoba membuat puisi berantai…Dan inilah hasilnya!

Pertemuan kita di taman pujangga
Sesegar degan semanis gula
Silir-semilir angin berdesir
Menyelami kisah yang ‘kan terukir

Srupat-sruput nikmatnya tiada tara
Pelepas dahaga sejuta cerita
Tahu kupat pengobat lapar
Merasai indahnya Bengawan Solo yang terhampar

Kubiarkan kembali aksaraku bertutur
Menapaki jalan ini penuh syukur
Liukan desau seruling menemani kicau kita
Mendendangkan cinta yang sarat makna
Tak henti dan tak putus
Karna waktu terlupa lama
Dan cerita kita takkan binasa…
(uwuh…mehehehe…mehihihi…mehuhuhu…^^v)


[Coretan aksara di Taman Pujangga 6 April 2011, by: Norma Keisya Avicenna, Aprisa Ayu Primasari, dan Diah Cmut). Sungguh gubrak-gubrak! Semoga menghibur…

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Salam,


Keisya Avicenna