Jejak Karya

Jejak Karya

Tuesday, March 10, 2020

Awal Jumpa Begitu Istimewa, Selanjutnya Jadi Jalan Cinta Mensejajarkan Aksara




Awalnya, saya adalah seorang penulis diary. Saya sangat suka mengungkapkan isi hati lewat goresan pena di buku harian. Belajar mengikat makna dan inspirasi yang didapat, yang sayang jika hanya untuk dikenang sesaat, lalu lenyap begitu saja. Maka, saya dokumentasikan lewat pasukan aksara, yang bisa saya buka kembali kapan saja, untuk sekadar menengok masa lalu, melakukan muhasabah diri, juga evaluasi untuk membuat goresan yang lebih baik pada catatan kehidupan di masa depan. Mungkin sudah puluhan buku harian saya dan sampai saat ini masih tersimpan rapi.

Bagi saya, menulis catatan harian dapat membangun dan membentuk sense of art, karena kita perlahan terlatih berolah kata, sehingga otomatis atau secara refleks, kita bisa membedakan apakah kalimat yang kita tulis terasa manis disajikan atau masih membutuhkan polesan. Selain itu, dengan menulis catatan harian dapat memperbanyak perbendaharaan kosa kata dan memperkaya diksi, sekaligus kita dapat menyimpan sumber ide terbaik berdasarkan pengalaman kita. Proses menulis bagi saya juga jalan juang dalam proses pendewasaan. Dari setiap aksara yang terangkai jadi kata lalu bersejajar menjadi kalimat yang –semoga- berdaya dan penuh makna, sejatinya itulah proses melihat diri kita sendiri (bercermin) dari masa ke masa. Nah, salah satu cara saya agar selalu “on the track” dan selalu semangat menulis adalah bergabung dengan komunitas kepenulisan, salah satunya Pejuang Literasi. 

Perjumpaan saya dengan Komunitas Pejuang Literasi bermula ketika mendapatkan kesempatan istimewa dalam Proyek Nulis Buku Bareng. Alhamdulillah, ada 6 buku antologi yang terlahir, yaitu: Being A New Mom : Priceless!, Ta’aruf Awal Cinta yang Ma’ruf, Mommy MPASI, Story of My Wedding, Sedahsyat Doa, dan Antologi Fabel Cerita Anak Liburan Sekolah. Sebagian besar tulisan saya di antologi ini bersumber dari buku diary yang saya tuliskan sebelumnya, dipoles sedemikian rupa dan Alhamdulillah bisa dibukukan bersama karya-karya komandan Pejuang Literasi yang lainnya. Bersyukur sekali rasanya.

Oh ya, secara etimologis, istilah literasi berasal dari bahasa Latin “literatus” yang artinya “orang yang belajar”. Literasi merupakan suatu kemampuan seseorang untuk menggunakan potensi dan keterampilan dalam mengolah serta memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis. Literasi memiliki fungsi penting dalam kehidupan. Kesadaran berliterasi akan mengantarkan sebuah peradaban pada kedudukan yang terhormat dan bermartabat. Nah, kan, kecakapan literasi mutlak diperlukan sekarang ini. Literasi baca-tulis menjadi pemantik utama untuk menumbuhkan kecakapan literasi yang lain.

Bersyukur rasanya bergabung dengan Pejuang Literasi yang memiliki semangat “Bertumbuh, Berkarya, dan Berbagi” ini. Pejuang Literasi bagaikan inkubator yang mengalirkan oksigen bagi para komandan didalamnya, memberikan nafas kehidupan untuk terus semangat mewariskan karya yang bermakna. Apalagi ketiga foundernya adalah sosok-sosok wanita tangguh dengan jam terbang literasinya yang sungguh luar biasa, produktif berkarya dan sarat akan prestasi. Semoga diri ini pun dapat mengikuti jejak cinta beliau sebagai bagian dari keluarga Pejuang Literasi.

Akhirnya, mari bersama-sama, berkolaborasi untuk terus menularkan kebajikan, menjadi agen perubahan lewat aksara, lewat kata, lewat kalimat, lewat buku, lewat karya nyata yang bermanfaat, menjadi pribadi yang berdaya. Mari terus bergotong-royong melakukan praktik baik literasi, salah satunya dengan bergabung bersama para komandan dan pasukan aksara di Pejuang Literasi.

#pejuangliterasi #kelasBatalyon #HessaKartika #MisiAsik1





No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Salam,


Keisya Avicenna