Jejak Karya

Jejak Karya
Showing posts with label keisya avicenna. Show all posts
Showing posts with label keisya avicenna. Show all posts

Sunday, October 18, 2020

HAI SALIHAH, LAKUKAN TIPS INI AGAR PEKERJAAN DAN BISNISMU MAKIN SEHAT JUGA PENUH BERKAH

Sunday, October 18, 2020 0 Comments

 



Barang siapa yang di waktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri maka di waktu sore itu pulalah ia terampuni dosanya.(HR. Thabrani dan Baihaqi).

Mari sejenak kita tengok sosok mulia yang sangat menginspirasi: Khadijah binti Khuwalid, Ummul Mukminin. Siti Khadijah merupakan sosok wanita pengusaha sukses yang bisa menjalankan prinsip-prinsip bisnisnya dengan baik: bagaimana memanfaatkan modal, memilih mitra kerja, merekrut karyawan, dan—tak kalah penting—memikirkan strategi pemasaran untuk usahanya.

Kesuksesan Siti Khadijah sebagai entrepreneur inilah yang sudah semestinya di jadikan contoh oleh para muslimah di dunia Islam. Prinsip yang mendasar dari seseorang yang ingin mengawali dirinya untuk menjadi seorang entrepreneur adalah adanya keyakinan dan keinginan untuk menjadi pengusaha, yang kedua memiliki skill dan bidang usaha apa yang akan ditekuni, lalu memiliki permodalan untuk membangun usaha, yang terakhir adalah pangsa pasar.

Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena  itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.

Setelah bercerai dengan suami yang pertama, banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan Khadijah untuk dijadikan istri. Tetapi, Khadijah lebih memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang kemudian menjadi hasil usaha yang dikelolanya. Khadijah menjadi seorang yang kaya. Karena kepandaian dan kejeliannya, ia kemudian menawarkan Muhammad yang pada saat itu belumlah diangkat menjadi nabi, untuk menjual dagangannya. Kejujuran dan sikap profesional yang dimiliki Muhammad dalam berdagang, membuat kekayaan Khadijah semakin bertambah banyak.

Khadijah memiliki wajah yang cantik, berasal dari keturunan yang terhormat, memiliki martabat karena kepandaian dan kecerdasannya, dan ia juga adalah wanita yang kaya raya. Maka tidaklah mengherankan dengan kondisi yang demikian itu semakin banyak para pemuka Quraisy yang terhormat dan kaya raya ingin menjadikan Khadijah sebagai istri. Singkat cerita, semua tawaran tersebut ditolak oleh khadijah, karena hatinya telah tertambat pada pribadi yang tepercaya, jujur, profesional dalam bekerja, dan memiliki akhlak yang mulia, ia adalah Muhammad. Dan Allah menakdirkan mereka untuk menikah, walaupun pada waktu itu, umur Khadijah yang telah sampai di usia 40 tahun, kecantikannya tetap memesona Muhammad yang berumur 25 tahun.

Keutamaan Khadijah diriwayatkan sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Tidaklah Allah mengganti untukku (istri) yang lebih baik darinya (Khadijah). Dia beriman kepadaku saat orang-orang kufur. Dia memercayaiku saat orang-orang mendustaiku. Dia memberikan hartanya kepadaku saat orang-orang mengharamkan harta untukku. Dan dia memberikan aku anak saat Allah tidak memberikan anak dari istri-istriku yang lain."

Khadijah adalah sosok wanita pilihan yang Allah Swt. amanahkan untuk mendampingi Muhammad dalam menjalani tugasnya sebagai Rasul Allah.

[*]

Muslimah selalu identik dengan urusan dapur dan merawat anak. Tapi, ada jutaan muslimah memiliki talenta kuat dalam dunia usaha yang bisa meraup pundi-pundi finansial melebihi kemampuan laki-laki. Di antara mereka, tetap ada yang ingin mengurus rumah tangga (bagi yang sudah menikah), mendidik anak dan tanpa harus menjadi wanita karir yang harus masuk kantor dari pagi hingga malam.

Sayang, di antara mereka masih kebingungan menentukan keputusan. Di bawah ini ada beberapa tips dan hal-hal yang tak boleh diabaikan.


a.   Niatkan membantu keluarga

Menentukan niat adalah awal yang akan sangat menentukan perjalanan selanjutnya. Selain karena Allah Swt memberi nilai segala perbuatan berdasarkan pada niatnya, lebih dari itu niat inilah yang semenjak awal membentuk pola pikir kita sehingga nantinya mengarahkan pilihan dalam menentukan berbagai kebijakan. Berarti dia pulalah yang akan menyetir arah berkembangnya karir dan usaha seseorang.

Muslimah yang sejak awal berniat mengembangkan usaha demi ambisi kesuksesaan pribadi atau mengumpulkan kekayaan, bisa jadi akan mengorbankan banyak kepentingan keluarganya jika dirasa akan menghalangi langkahnya dalam mencapai niat awal ini. Jelas, ini tak diperbolehkan dalam Islam. Bagi yang sudah menikah, selama masih ada suami sebagai penopang nafkah keluarga, niat terbaik bagi istri untuk membuka usaha adalah dalam rangka membantu suami mencari nafkah. Dalam batas ini, maka kepentingan karir suami tetap dinomorsatukan.


b.   Pekerjaan yang aman

Kriteria ‘aman’ bagi seorang muslimah adalah manakala kondisi pekerjaan tersebut bisa disesuaikan dengan karakter fisik dan psikisnya yang khas. Mempertahankan karakter keibuan yang feminin misalnya, tetap harus dilakukan dengan cara memilih jenis-jenis pekerjaan yang diperkirakan tidak terlalu maskulin agar tidak mengikis karakter keibuannya.

Pekerjaan yang tidak harus menguras keletihan fisik akan jauh lebih baik, karena keluarga masih menunggu sumbangan tenaga dan pikiran kita di luar urusan kantor. Dan ini tak akan sukses dilakukan jika secara fisik kita sudah kelelahan.


c.    Selesaikan urusan rumah

Bereskan urusan keluarga sebelum menangani yang lain, itu prinsip yang tak boleh dilepas. Sepagi apapun meeting dijadwalkan di tempat tugas, pastikan bahwa urusan di rumah sudah tak ada masalah. Jika berencana pulang kerja agak terlambat, atau bahkan harus meninggalkan rumah lebih dari sehari, persiapkan segala sesuatu di rumah seberes mungkin. Semua itu perlu dilakukan agar keluarga tidak terlantar.


d. Dukungan anggota keluarga

Bekerja dan menuntaskan segala sesuatunya seorang diri, mustahil. Perlu dukungan dan pengertian dari orang-orang di sekitar kita. Bagi muslimah yang sudah berkeluarga ridha suami adalah di atas keutamaan yang lain. Pengertiannya terhadap masalah yang dihadapi istri bekerja menjadi teramat penting. Apalagi manakala terjadi hal-hal mendesak, seperti tugas-tugas yang luar biasa padat, yang membutuhkan waktu di luar jam kerja biasanya, atau di saat-saat keluarga membutuhkan lebih banyak perhatian seperti saat anak sakit.


***

Nah, ketika kita memilih untuk berbisnis, lalu kita memutuskan ingin memiliki online shop atau mungkin bisnis di bidang jasa, agar tetap bisa beraktualiasai dari rumah, sambil momong anak. Maka, saya punya satu tips ampuh agar keuangan pribadi/keuangan rumah tangga, dan keuangan bisnis selalu sehat. Tips itu adalah PISAHKAN ANTARA UANG PRIBADI DENGAN UANG BISNIS. Kalau suatu saat terpaksa memakai uang bisnis, maka catatlah pemakaian uang itu sebagai HUTANG. Saat ini pun saya masih terhitung belajar menerapkan tips ini.

Satu tips ini silakan dicoba dan buktikan, juga teladani sosok inspiratif seorang muslimah yang sukses berbisnis yaitu Bunda Khadijah. Salah satu hikmah yang bisa kita petik dari kisah hidup Khadijah adalah keuletannya, kesungguhannya, kecerdasan dan ketelitiannya dalam menjalankan usaha perdagangan. Tetapi, semua usahanya itu tidaklah ia jadikan semata-mata untuk kesenangan yang bersifat keduniawian semata. Sebagaimana sabda Rasulullah, Khadijah dengan rela memberikan hartanya untuk kepentingan dakwah Rasulullah. Dan hal itu, ia lakukan sampai ajal menjemputnya.

Dengan demikian, bekerja termasuk dalam ibadah yang juga bernilai pahala di sisi Allah Swt. Islam tidak menghalangi kaum perempuan untuk produktif dalam mencari karunia Allah Swt di dunia ini dengan bekerja. Bahkan, Islam menganjurkan agar kaum perempuan tidak kalah produktifnya dengan kaum laki-laki.  

Allah Swt memberikan pilihan bagi kaum perempuan, apakah ia mau memilih sebagai pekerja, perempuan karier, pengusaha, atau sebagai ibu rumah tangga. Semua itu sama baiknya. Selama ia menjaga kehormatannya, harga dirinya, dan taat pada aturan yang telah Allah Swt tetapkan. Apapun pilihannya, Insya Allah akan bernilai pahala.

Kisah Siti Khadijah, Allah Swt telah mengabadikan teladan bagi kaum wanita. Khadijah adalah perempuan yang cerdas, ibu rumah tangga yang amanah, pendidik bagi anak-anaknya, pengusaha yang sukses, istri seorang Nabi dan Rasul, dan pejuang di jalan Allah.  Dan tidaklah mungkin Allah Swt jadikan Khadijah sebagai teladan jika tidak mungkin untuk diteladani. Karena pada dasarnya, kaum perempuan adalah kaum yang mampu melakukan semua itu. Wallahu'alam.

 

 

FOKUS PADA HAL PENTING DAN BERGUNA AGAR WAKTU TERISI DENGAN PENUH MAKNA

Sunday, October 18, 2020 0 Comments

 


Bulan Oktober ini menjadi bulan yang cukup sibuk buat saya. Masa pandemi ini saya berusaha untuk tetap produktif meski waktu jadi lebih banyak #dirumahsaja. Ada beberapa kelas online yang sedang saya ikuti di bulan Oktober ini, seperti kelas menulis, kelas optimasi media sosial, kelas seni/desain, dan kelas parenting. Saya juga menjadi mentor untuk kelas penulis cilik “Rekreasi Literasi” bersama DNA Writing Club. Ada 15 anak yang ikut kelas.

 Saat ini pun saya masih terlibat dalam pengerjaan menulis naskah buku pengayaan fiksi dan nonfiksi. Kisah saya menerima tantangan menulis buku pengayaan, bisa klik dan baca di sini.

Bulan Oktober ini saya masih punya tanggungan 3 judul, sedangkan bulan November ada dateline juga 3 judul. Bismillah, semangaaat!

Dengan banyaknya aktivitas ini, apalagi juga masih punya amanah di keluarga seperti mengurus rumah dengan segala pernak-perniknya, amanah sebagai istri, juga amanah sebagai Umma-nya Dzaky. Jadi, yang menjadi tugas setiap hari adalah bagaimana saya bisa mengatur waktu dengan sebaik mungkin.

Terkadang saya merasa “kemrungsung”, membuat pikiran saya kalut dan tidak fokus, apalagi jika ada tugas yang belum saya selesaikan karena ada kejadian-kejadian unpredictable. Ketika hal itu terjadi, biasanya saya akan mengambil “jeda” sejenak. Lalu, mencoba mengevaluasi lanjut menyusun strategi. Yups, kunci utama yang saya temukan untuk mengejar ketinggalan itu adalah fokus pada hal yang penting alias menyusun SKALA PRIORITAS. Hal ini bisa membuat strees berkurang, hati saya jauh lebih plong dan pikiran menjadi lebih jernih.

Karena stress itu bisa dikelola, kata Dokter Amir Zuhdi, saat saya mengikuti sekolah neuroparenting. Orang yang sukses itu rata-rata bisa mengelola stress dengan baoik. Dengan kata lain, dia malah mampu berteman dengan stress.

Nah, dalam menetapkan prioritas, satu hal terpenting yang tidak bisa lepas dari hidup kita adalah WAKTU. Oh ya, kita memiliki jatah waktu 24 jam yang terbagi dalam tiga kategori, yaitu:

a.   Waktu lalu atau masa lampau.

Masa lalu merupakan bagian kehidupan yang pernah kita jalani. Bagian itu, merupakan mata rantai masa kini dan masa mendatang. Kehidupan masa lalu sebaiknya menjadi cermin dalam menentukan gerak langkah di masa depan. Sebab, kebaikan melangkah di masa depan tidak terlepas dari pijakan masa lalu. Waktu ibarat busur panah yang dibentangkan ke satu titik sasaran, dimana mustahil busur panah berbalik arah atau kembali lagi ke si pemanah. Artinya, dalam kehidupan ini setiap manusia mengalami fase-fase perkembangan fisik mulai sejak usia bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan masa tua yang semua fase tersebut tidak dimungkinkan kembali ke masa awal kelahiran kembali.

Firman Allah Swt. dalam Al Qur’an menjelaskan, “Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.“ (QS. Al-Hadid [57]: 16). Seiring dengan itu, Allah Swt. telah mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam putaran waktu sehingga kita termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3).

 

b.   Kedua, waktu kini.

Kita sering merindukan masa depan yang sukses dan berhasil. Kerinduan ini sebenarnya hanya fatamorgana jika hari ini kita tidak berbuat banyak dalam menyongsong masa depan yang dirindukan itu. Al Qur’an mengemukakan, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang di kerjakannya.“ (QS. Al-Baqarah [2]: 286). Ayat ini menggambarkan, betapa masa depan kita sangat di tentukan oleh apa yang tengah diusahakan. Maka, jangan berharap banyak tentang masa depan jika kita tidak sungguh-sungguh menghadapinya.

 

c.    Ketiga, waktu mendatang.

Sebagaimana disebutkan di atas, waktu adalah modal, dan mata rantai dari masa kini dan masa mendatang. Ini melahirkan makna, bahwa waktu merupakan siklus yang saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Kondisi itu juga memberi gambaran, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, sebagaimana firman-Nya: ”…Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan di usahakannya besok.” (QS. Luqman [31]: 34)

Dengan demikian, memanfaatkan waktu setiap kebaikan dalam tataran waktu merupakan bagian penting dalam menjalani proses hidup ini. Tiga tataran waktu yang kita miliki, waktu lalu, kini, dan mendatang harus menjadi pelengkap kebaikan. Bukan sebaliknya.

Ada beberapa prinsip yang sebaiknya kita pertimbangkan dalam manajemen waktu sehingga kita bisa bekerja efektif:

1.  Menyusun rencana

Sebelum membuat perencanaan, ada enam hal yang harus kita perhatikan, yaitu:

  1. Niat yang kuat.

·         Niat sama artinya dengan motivasi yang kuat. Tanpa adanya niat, kita tidak akan pernah berhasil dalam beramal.

  1. Memiliki tujuan yang jelas.

·         Tanpa adanya tujuan yang jelas, kita tidak akan fokus melangkah. Makin tidak jelas tujuan dan waktu pencapaiannya maka peluang gagalnya rencana kita akan makin besar. Dan tujuan kita melakukan amal ibadah dalam mengisi waktu-waktu kita adalah berharap ridha Allah Swt.

  1.  Buat rencana cadangan.

·         Kita pun harus selalu siap dengan segala kemungkinan tak terduga. Kita merencanakan, tapi Allah Swt yang menentukan. Karena itu, buat rencana B dan C sebagai rencana cadangan jika rencana utama mengalami kegagalan. Insya Allah, kita tidak akan kehilangan waktu untuk panik.

  1. Rencana atau program harus realistis, terukur, dan adil.

·         Hindari membuat rencana yang terlalu tinggi, tidak realistis, dan terlalu sulit dicapai. Program kita pun harus adil dan seimbang. Sebab kita harus menunaikan banyak hak, di mana setiap hak menuntut pemenuhan. Ada hak Allah, hak keluarga, dan hak akal, hak tetangga, hak badan, hak diri.

  1. Disiplin dalam rencana.

·         Sehebat apapun program dan rencana, tidak akan berarti sama sekali jika kita tidak disiplin melaksanakannya. Karena itu, jangan tergiur oleh kegiatan, kesenangan spontan, atau apa saja yang akan menjauhkan kita dari rencana yang telah disusun.

  1.  Sempurnakan setiap kali beramal.

·         Penyempurnaan adalah tahap akhir yang akan menentukan berkualitas tidak amal ibadah yang kita lakukan. Kita akan mendapatkan yang 'terbaik', jika melakukan yang terbaik pula.

 

Dengan merencanakan apa yang akan kita lakukan hari ini, kita akan berjalan di hari-hari ini dengan baik. Sehingga waktu yang terlewati akan bermanfaat sebagai amal ibadah kita hari ini. 

 

2. Fokus

Seringkali dalam bekerja kita membiarkan diri kita larut dalam beberapa pekerjaan sekaligus, istilahnya multi-tasking. Mengerjakan dua hal pada saat bersamaan bukan saja membagi perhatian kita tetapi juga membuat kita kurang fokus yang akibatnya butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Fokus dalam bekerja membuat kita lebih produktif dan mengurangi beban stress. Buat skala prioritas apabila kita harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam kurun waktu yang bersamaan.

 

 

Manajemen diri bagi seorang muslim tentu saja harus berlandaskan pada aturan-aturan yang termaktub dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Hal ini sekaligus untuk membuktikan bahwa aturan-autran dalam Islam itu bersifat kaffah (sempurna) sehingga setiap aktivitas kaum muslimin tidak lepas dari aturannya.

Sebagaimana Allah Swt. telah mewanti-wanti kita di dalam surah Al-Ashr, bahwa pada hakekatnya kita berada pada kerugian, yakni bagi orang-orang yang tidak mampu mengatur waktu dan melewatkan waktu tanpa digunakan untuk beriman dan beramal shaleh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Rasulullah SAW pernah menyebutkan tiga hal yang tidak bisa ditarik kembali yakni: anak panah yang telah melesat dari panahnya, perkataan yang telah diucapkan, dan waktu yang telah dilewati.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslimah kita wajib mengatur waktu sedemikian rupa agar setiap detik yang kita lewati berbuah pahala amal kebaikan bagi diri kita. Aamiin...




Friday, October 16, 2020

INVESTASI LEHER KE ATAS SELAMA PANDEMI

Friday, October 16, 2020 0 Comments



Tanpa terasa Oktober ini menginjak bulan ke-7 keluarnya anjuran untuk #dirumahsaja. Terhitung sejak Maret 2020, kasus pandemi Corona muncul di Indonesia. Lantas muncul pula kebijakan-kebijakan seperti work from home, school from home, social distancing, dan banyak lagi. Semuanya banyak yang berubah, semua  harus siap untuk beradaptasi.

Saya sendiri benar-benar off tidak ada kegiatan belajar-mengajar di DNA Writing Club, meliburkan kegiatan ekstrakurikuler penulis cilik di SDIT Bina Insani Semarang, off kegiatan kopdar-kopdar blogger atau workshop kepenulisan, dan banyak lagi yang kemudian semuanya hijrah ke pembelajaran yang serba online.

Kini tak asing lagi kita memanfaatkan aplikasi Zoom meeting, Google Classroom, Google Meeting, Telegram, Whatsapp group, dll untuk fasilitas dan media belajar.

Lantas, ada beberapa ilmu baru yang saya pelajari selama pandemi dan sungguh ini menjadi “investasi leher ke atas” yang sangat berharga, diantaranya:

Mengikuti Kelas Menulis Buku Nonfiksi dan Kelas Editing bersama Pak Bambang Trim

Untuk mengikuti kelas ini saya harus merogoh kocek sebesar 300.000/kelas. Mahal dan murah itu relatif. Tapi, ilmu yang saya dapatkan saat mengikuti dua kelas Pak Bambang Trim ini ndaging semua, juga aplikatif. Insya Allah, bisa menjadi bekal saya untuk menulis naskah sekaligus nanti saya ramu kembali untuk kemudian saya transfer ilmunya ke anak-anak DNA Writing Club. Insya Allah, ke depan saya ingin ikut kelas beliau yang menulis naskah buku biografi. Bismillah, nabung dulu.

Mengikuti Kelas Menulis di Sekolah Menulis Wadas Kelir (SMWK)

SMWK merupakan sekolah menulis online milik Pak Heru Kurniawan. Beliau adalah seorang pegiat literasi yang berasal dari Purwokerto. Saya sudah pernah bertemu dan ngobrol dengan beliau saat kami sama-sama mendapat penghargaan Lomba Menulis Praktik Baik Literasi Masyarakat di Makassar, 2019 silam. Luar biasa sekali sepak terjang Pak Heru yang juga dosen di IAIN Purwokerto ini di dunia literasi. Buku karya-karya beliau sudah puluhan bahkan banyak yang BEST SELLER. Saya punya beberapa buku karya beliau di Perpustakaan DNA.

Di SMWK, saya masuk beberapa kelas, yaitu

  1. Kelas menulis kisah inspiratif
  2. Kelas menulis dongeng anak usia dini
  3. Kelas menulis puisi
  4. Kelas menulis dongeng anak usia dini
  5. Kelas menulis buku aktivitas
  6. Kelas menulis cerita anak

Alhamdulillah, saya jadi belajar banyak hal keren mengenai beberapa teknik penulisan beragam genre sekaligus. Selain materi, Pak Heru juga memberikan latihan untuk dipraktikin setiap peserta. Setelah selesai, kami menyusun buku antologi bersama. Tujuannya, untuk mengikat ilmu dan publishing karya, juga bisa jadi sarana belajar dari karya orang lain. 


Masya Allah, setelah mengikuti sekolah ini, pengetahuan dan pemahaman saya mengenai beberapa teknik menulis cerita pun bertambah. Hal ini membuat saya semakin bersemangat untuk lebih produktif lagi dalam berkarya. Bismillah. Semoga semakin dipermudah dan penuh barokah. Aamiin.

Belajar Foodpreparation di Kelas PAWON

Terhitung sejak Maret itu pula saya benar-benar jarang keluar rumah. Belanja sayur order lewat tukang sayur via WA, nanti tinggal diambil dan dibayar. Setelah saya gabung di kelas Pawon, banyak ilmu baru yang saya pelajari, seperti foodpreparation. Saya mulai belanja dengan metode pekanan. Setelah sebelumnya menyusun menu dan rencana masak selama sepekan.

Di kelas Pawon, saya juga belajar bagaimana teknik menyimpan bahan masakan, seperti tahu, tempe, sayur mayur, cabai, ikan-ikanan, daging-dagingan, bumbu-bumbu, dan banyak lagi. Semua ternyata punya metode sendiri-sendiri. Tidak asal disimpan di kulkas saja, tapi ada treatmen khusus masing-masing. Masya Allah, saya merasakan jadi lebih hemat waktu, hemat tenaga, juga hemat biaya ketika menjalankan food preparation ini. Semoga bisa terus istiqomah. Aamiin.

Belajar Optimasi Blog

Selanjutnya, saya juga belajar di kelas blogging bersama ISB (Indonesia Social Blogger) bersama Teh Ani Berta, Mas Ardan (optimasi SEO), dan Mbak Ifa (kelas Canva). Masya Allah, banyak ilmu keren yang saya dapatkan. Insya Allah, membuat saya semakin semangat untuk ngeblog lagi dan mempelajari lebih detail perangkat-perangkat Blogspot. Kelas ini GRATIS! Barokallahu fiik, Teh Ani Berta, dkk.

Saya jadi ikutan ODOP juga. Ada beberapa challenge tema yang harus diposting pada tanggal-tanggal tertentu di blog. Benar-benar banyak dapat banyak pencerahan dan semakin semangat untuk menulis konten yang lebih baik dan berkualitas lagi.

Belajar Optimasi Instagram

Saya juga mendaftarkan diri di Kelas Perempuan Online (KePOin) yang Optimasi Instagram. Kelas ini berbayar.  Jujur, selama ini saya belum benar-benar mengenal fitur-fitur di Instagram. Selama ini saya hanya memanfaatkan IG untuk posting-posting foto saja sekadar mendokumentasikan foto. Tapi, setelah ikut kelas ini, saya jadi tahu banyak tentang IG, rahasia-rahasia keren untuk menjadikan IG sebagai ladang bisnis, dan banyak lagi.

Belajar Melukis dan Handlettering

Untuk kelas melukis ini berbayar. Saya belajar teknik-teknik melukis dengan watercolour bersama Kak Fitkam dan Kak Sifa. Seru sekali rasanya ketika belajar mencampur warna. Pokoknya kelas ini bisa jadi sarana refreshing dan me-time.

Kalau handlettering saya belajar secara otodidak dengan membeli buku journaling, meminjam bukunya Azfa yang handlettering, juga beli alat tulis seperti brushpen, bolpen warna-warni. Kuncinya harus banyak berlatih agar menghasilkan goresan yang semakin indah.

 

Beberapa kegiatan yang saya pelajari selama pandemi di atas, membuat saya merasa hidup saya semakin kaya akan warna. Karena belajar itu tidak mengenal usia, karena belajar itu tidak hanya terbatas di ruang kelas. Belajar itu bisa di mana saja, kapan saja, dengan cara apapun, yang terpenting niatkan semuanya hanya untuk mencari ridho Allah. Sehingga belajar memiliki nilai yang sama dengan berjihad. Karena berjihad itu balasannya adalah surga.

 




Wednesday, September 16, 2020

TANTANGAN MENULIS BUKU PENGAYAAN

Wednesday, September 16, 2020 18 Comments

 


Ada perjalanan menuju Allah, ada derajat (maqom) dan station dalam setiap perjalanan, maka teruslah berjalan menuju Allah, setiap manusia dinilai dari apa yang diusahakannya. 

Hidup adalah perjalanan dari Allah menuju kepada Allah.

(Ust. Harry Santosa)

***

 

Pada sebuah pagi di pertengahan Desember 2019. Waktu itu, aku sedang mudik ke Wonogiri, tanah kelahiranku. Saat sedang asyik membantu Ibuk di dapur, tiba-tiba, ada sebuah nama yang muncul di layar smartphone-ku. Tumben sosok itu telepon. Pasti ada yang penting, pikirku. Sosok itu adalah seorang penulis, editor, juga mentorku saat belajar menulis buku nonfiksi kala aku masih jadi anak kos di Solo. Setelah mengawali percakapan dengan basa-basi super kocak, sampai akhirnya beliau sampai pada inti obrolan.

 

“Nung, mau nggak jadi timku? Aku lagi dapat proyek nulis naskah buku nonteks pelajaran, nih. (Terus beliau menjelaskan secara singkat tentang buku itu). Tapi, nanti sistem pembayarannya beli putus. Bla… bla… bla…” (Beliau menyebutkan nominal royalti per judul buku, plus siapa yang bertanggung jawab dari proyek tersebut, penerbit apa saja yang mengajak kerja sama, dan banyak lagi.)

 

Akhirnya, akupun mengiyakan. Menulis bagiku bisa jadi sarana terapi. Semoga dengan semakin menyibukkan diriku dengan aktivitas produktif itu, kesedihan karena kehilangan sosok Babe 20 September silam bisa teralihkan. Ya, aku harus sibuk. Aku harus bisa move on. Bismillah…

 

Setelah percakapan di telepon itu, aku mendapatkan kiriman 10 judul buku di email lengkap dengan timeline-nya. Huwaaat? Banyak banget ternyata. Aku kira 1-2 judul buku saja. Tapi bismillah… aku niatkan sebagai sarana belajar dan mengasah keterampilanku menulis, khususnya menulis naskah nonfiksi.

 

Aku mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan baru mengenai buku nonteks pelajaran atau buku pengayaan. Beberapa teman penulis waktu itu pun banyak yang disibukkan mengikuti seleksi penulis buku pengayaan dari beberapa penerbit yang membuka lowongan bagi penulis dengan sistem pembayaran royalti.

 

Saudari kembarku juga ikut dan dia juga menceritakan pengalamannya kepadaku. Dia terlibat dalam penulisan naskah buku nonfiksi tentang Matematika untuk pembaca anak usia SD. Teman penulis lain terlibat dalam pengerjaan naskah buku fiksi untuk PAUD. Buku-buku yang mereka tulis itu nantinya akan melewati proses yang panjang dan berliku. Diawali dari proses pengerjaan naskah, editing, layout, ilustrasi, cetak, kemudian masuk dalam penilaian. Penggunaan buku nonteks untuk kepentingan pendidikan harus mendapatkan pengesahan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Karena itu, buku-buku tersebut harus melewati proses penilaian.

 

Dalam tulisan ini, aku akan sedikit mengulas tentang buku nonteks pelajaran atau buku pengayaan. Materi ini aku rangkum dari presentasi Pak Bambang Trim (salah satu anggota panitia penilai BNTP 2019) dan Kang Fahmy Casofa (Nulix).

 

Apa itu Buku Nonteks Pelajaran atau Buku Pengayaan?

Buku nonteks adalah istilah resmi yang digunakan oleh pemerintah untuk menyebut buku pendidikan di luar buku teks/pelajaran. Hal ini tertuang di dalam UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Buku nonteks bersifat umum sebagai pengayaan wawasan bagi para pembacanya yaitu anak usia dini, usia SD, usia SMP dan SMA, hingga para pendidik (guru). Istilah lain untuk menyebut buku nonteks adalah ‘buku pengayaan’ atau ‘buku bacaan’. Buku nonteks biasanya diperlukan untuk mengisi perpustakaan sekolah, termasuk perpustakaan daerah.

 

Dapatkah buku umum menjadi buku nonteks?

Semua buku umum dapat dijadikan buku pendidikan nonteks apabila memenuhi syarat dan ikut dinilaikan di lembaga pemerintah yang berwenang dan bertugas menilai buku nonteks. Di dalam UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, pemerintah mewajibkan buku yang digunakan di program PAUD dan satuan pendidikan harus mendapatkan SK penggunaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Lembaga yang berwenang menilai buku pendidikan saat ini adalah Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan.

 

Mengapa buku nonteks harus dinilaikan?

Buku nonteks digolongkan sebagai buku pendidikan sehingga standar isi dan standar mutunya harus terjamin sehingga layak digunakan di program PAUD serta satuan pendidikan dasar dan menengah (SD s.d. SMA). Buku nonteks dinilai oleh lembaga pemerintah yang tugas dan fungsinya berkenaan dengan penilaian buku yaitu Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Bidang Penilaian Buku.

 

Apa saja jenis buku nonteks?

Panitia Penilaian Buku Nonteks Pelajaran (PPBNP) membagi penggolongan buku teks sebagai buku pengayaan, buku panduan pendidik, dan buku referensi.




1.      Buku pengayaan pengetahuan adalah buku-buku yang memuat materi pengetahuan untuk penguasaan informasi, teknologi, dan wawasan keilmuan dalam berbagai bidang sehingga dapat memperkaya pengetahuan dan pemahaman peserta didik/pembaca pada suatu bidang tertentu.

2.      Buku pengayaan kepribadian adalah buku yang memuat materi karakter dan akhlak mulia sehingga dapat memperkaya dan meningkatkan kepribadian atau pengalaman batin peserta didik/pembaca, termasuk di dalamnya adalah buku biografi/autobiografi/memoar tokoh yang dapat diteladani.

3.      Buku pengayaan pembelajaran adalah buku yang memuat materi pembelajaran dalam bentuk aktivitas-aktivitas kreatif dan inovatif sehingga dapat menarik minat peserta didik/pembaca untuk mempelajari suatu bidang pengetahuan.

4.      Buku pengayaan keterampilan adalah buku-buku yang memuat materi kecakapan hidup, kemandirian, dan kewirausahaan sehingga dapat memperkaya dan meningkatkan kemampuan dasar para peserta didik/pembaca dalam rangka meningkatkan aktivitas yang praktis dan mandiri.

5.      Buku panduan pendidik adalah buku yang memuat materi pendidikan dan pembelajaran yang dapat mengembangkan dan menguatkan kompetensi tenaga pendidik (guru) dalam menjalankan tugasnya.

6.      Buku referensi adalah buku yang memuat materi secara sistematis dan lengkap sebagai sumber rujukan (referensi) yang dapat memperkuat informasi tertentu bagi peserta didik/pembaca. Jenis buku referensi secara khusus adalah kamus (ekabahasa, dwibahasa, dan multibahasa), ensiklopedia, dan peta/atlas.

7.      Buku Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah buku yang memuat materi pengetahuan, keterampilan, dan pengembangan kepribadian bagi anak-anak usia dini.

 

 Bagaimana dengan bentuk bukunya?

Bentuk bukunya dapat berupa gambar yang bercerita (wordless picture book), buku bergambar (picture book), komik, buku yang mengandung teks dan gambar sekaligus secara proporsional, atau buku yang dominan mengandung teks.


Contoh Buku Pengayaan Pengetahuan


Contoh Buku Pengayaan Kepribadian

Apa saja kriteria buku yang dinyatakan layak?

Kriteria utama buku yang layak adalah buku yang tidak melanggar legalitas dan norma. Tidak melanggar legalitas artinya tidak terindikasi plagiat (baik teks maupun gambar). Tidak melanggar norma artinya tidak bertentangan dengan dasar negara, undang-undang, agama, dan adat istiadat yang dijunjung oleh masyarakat Indonesia. Beberapa konten yang berbahaya harus dihindarkan di dalam buku, seperti ujaran kebencian, pornografi, penistaan SARA, sadisme/kekerasan, dan radikalisme. Kriteria lain yang sangat menentukan adalah kriteria materi atau isi naskah yang harus memenuhi syarat kebenaran isi, aktualitas, dan kebermanfaatan.

 

Apakah ada panduan penggolongan usia pembaca?

Penggolongan usia pembaca sasaran buku menggunakan Pedoman Perjenjangan yang telah dikeluarkan oleh Puskurbuk. Perjenjangan terbagi atas enam klasifikasi yang didasarkan pada kemampuan membaca untuk rentang usia tertentu.


Perjenjangan Buku

 

***

 

Insya Allah, penjelasan mengenai perjenjangan buku akan aku ulas di lain waktu, ya. Karena cukup panjang x lebar. Hehehe. Ada banyak hal yang bisa aku pelajari lalu aku diskusikan dengan Tim Nulix yang dinaungi oleh Kang Fahmi, terutama saat proses pengerjaan naskah buku pengayaan ini. Bagaimana menyusun outline, melakukan riset pustaka, menulis draft, pemilihan bahasa/diksi sesuai jenjang usia pembaca, anatomi buku dari depan sampai belakang, dan banyak hal baru yang semakin memperkaya pengetahuanku tentang proses menulis buku.


Alhamdulillah, akhirnya aku mendapatkan tugas menulis 28 judul buku pengayaan. Aku mendapatkan kepercayaan untuk menulis judul buku sebanyak itu. Aku merasa inilah buah dari menjaga profesionalisme saat bekerja, disiplin menyelesaikan tanggung jawab, dan selalu berusaha totalitas.


Kalau kata Bu Septi Peni Wulandari, founder Ibu Profesional:


"Be Professional, Rezeki will Follow".


Aku juga jadi ingat nasihat Teh Ani Berta di penghujung kelas "Blogging, Refreshment, dan Learning" pekan lalu:


"Jalani proses, nikmati proses, dan konsisten. 

Kesuksesan akan menghampiri tanpa dicari."


Saat ini, kurang 1 lagi yang harus aku selesaikan. Beberapa judul aku mengajak kakak mentor DNA untuk membantu, seperti Kak Siti, Kak Septi, dan Kak Riri. Terima kasih ya, Kak sudah bekerja sama dengan sangat baik. Mari berdoa bersama semoga royalti selanjutnya segera cair. Aamiiin. ☺


Masya Allah, sungguh banyak ayat-ayat kauniyah dari-Nya yang begitu menakjubkan untuk kita pelajari. Pun dalam proses penulisan 28 judul buku pengayaan ini. Aku jadi merasa menjadi pribadi yang fakir ilmu. Mari terus semangat belajar dan produktif berkarya, agar semesta semakin merasakan indah manfaatnya. Semoga setiap aksara bermetamorfosa sebagai dzarrah kebaikan. Aamiin.

 

[*]

 

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Sungguh dari Allahlah kita berasal dan kepada Allah-lah kita kembali.

Berbekallah dengan taqwa dan temukan peta jalan menuju Allah, maka kita akan sampai kepada-Nya. Barangsiapa yang menjalani peta jalannya, maka akan sampai kepada tujuannya.

(Ust. Harry Santosa)

 

Bismillah, menulis adalah jalan juangku, meskipun aku harus menempuh jalan berliku dan proses panjang yang harus aku tempuh satu demi satu. Karena hanya Allah tujuanku…