Jejak Karya

Jejak Karya
Showing posts with label guru. Show all posts
Showing posts with label guru. Show all posts

Thursday, October 01, 2020

BELAJAR OTODIDAK MENJADI GURU

Thursday, October 01, 2020 0 Comments

 



“Mbak Norma, aku les lagi ya sama Mbak Norma,” kata Randi (6 SD) via telepon.

 

Randi, murid les mapel saya sejak dia kelas 3 SD. Pertemuan dengannya bermula tatkala saya ngontrak rumah di Jalan Damar Barat III. Jalan itu berhadapan dengan sebuah sekolah negeri tempat Randi belajar.

 

Siang itu, Randi diantar ibunya ke rumah saya. Ibunya cerita kalau Randi cukup tertinggal dengan teman-temannya. Nilainya di bawah rata-rata dan ibunya sering memberi label kalau Randi anak ‘nakal’ dan cukup susah diatur. Di rumah, dia tidak pernah belajar. Dia mau belajar kalau ditungguin kakaknya yang tentara. Tapi, kondisinya kan tidak memungkinkan. Kakaknya sekarang harus dinas di Solo. Randi dengan kakaknya memang selisih cukup jauh usianya, sekitar 10 tahun.

 

Singkat cerita, Randi akhirnya les privat dengan saya sepekan 3x. Butuh perjuangan untuk membersamainya belajar. Setidaknya saya punya bekal pernah menjadi tentor pengajar SD di Ganesha Operation (Solo-Wonogiri-Bogor-Semarang) selama kurang lebih 3 tahun.

 

Setelah 2 tahun tinggal di Damar, kami pindah kontrakan di daerah Jati. Randi pun bertekad tetap les ke rumah saya (DNA) meskipun harus naik angkot pulang pergi. Masya Allah. Semangat anak ini memang luar biasa. Alhamdulillah, prestasi akademiknya di sekolah juga meningkat tajam sampai kemudian dia lulus SD dan diterima di sebuah SMP pilihannya.

 

Dan yang terpenting, kala itu Randi tidak hanya belajar akademik saja. Tapi, saya tekankan padanya untuk selalu belajar menjadi anak yang baik dan salih. Terbukti, ketika bapaknya (yang kadang menjemput Randi ketika les) bilang kalau Randi suka membantu orang tuanya di rumah, mau belajar sendiri tanpa disuruh, juga mulai rajin salat. Alhamdulillah. Saya berpesan padanya, jika nanti tidak les lagi di DNA untuk benar-benar jaga sikap dan pergaulan karena memasuki dunia remaja itu banyak sekali tantangan dan godaannya.

 

Randi (paling kiri) saat les di DNA bersama teman-temannya.

Semoga Allah selalu menjagamu, Randi. Semoga kamu tumbuh jadi anak salih kebanggaan bapak-ibuk. Semoga Allah mudahkan langkahmu untuk mewujudkan impian dan cita-citamu di masa depan nanti.

[*]

 

Saya Bangga Menjadi Guru

Guru…

Tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk terjun dalam profesi ini. Namun, saya bangga menjadi guru. Profesi menjadi seorang guru adalah profesi yang ‘menantang’. Meskipun ada sebagian orang yang beropini berprofesi menjadi seorang guru adalah suatu pekerjaan yang enteng. Karena sekilas, tugasnya hanya mengajar dan mengajar. Akan tetapi, sejatinya seorang guru tidaklah hanya bertugas mengajar di dalam kelas.

 

Seorang guru juga dituntut untuk bisa memberi contoh kepada murid-muridnya, tanpa harus melihat siapa dan di mana ia berada. Untuk itu, tidak keliru jika ada pepatah yang mengatakan: “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Dalam artian, sebagai seorang guru harus senantiasa memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu sebelum memperbaiki orang lain (baca: anak didik).

 

Betapa pentingnya keteladanan seorang guru. Saya bangga menjadi seorang guru karena saya bisa terus memotivasi diri sendiri untuk melakukan perbaikan diri secara kontinyu. Bagaimana kita mengajarkan kebaikan kalau diri kita sendiri belum baik? Bagaimana kita mentransfer ilmu kalau otak kita miskin ilmu karena malas untuk belajar?

 

Jika seorang guru sudah memberi contoh yang baik, maka dengan sendirinya seorang murid akan malu untuk tidak mencontohnya. Hal inilah yang membuat kharismatik seorang guru akan tumbuh dengan sendirinya tanpa harus diminta. Karena hubungan emosional antara guru dan murid sangat berpengaruh atas pembentukan karakter anak didik.

 

Permasalahan yang muncul di negeri ini terutama dalam ranah pendidikan, bangsa ini memang sedang dilanda degradasi moral. Bangsa ini butuh dan kekurangan figur teladan yang baik. Jarang kita menemukan seorang figur yang bisa menginspirasi bawahannya (baca: muridnya) untuk memiliki kesadaran hidup menuju ke arah yang lebih baik. Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa guru yang baik adalah mereka yang bisa mengajar para muridnya menuju perubahan tingkah laku yang lebih baik.

 

Guru dan Bukan Guru

Di dunia ini hanya ada 2 profesi, yaitu guru dan bukan guru. Kita boleh kagum pada seorang dokter ahli yang mampu menyembuhkan penyakit yang kritis, juga sangat kagum kepada yang merancang sebuah jembatan panjang dengan tingkat kesulitan tinggi. Pertanyaannya, kehebatan orang-orang tersebut apakah terlepas dari peranan seorang guru? Banyak cerita tentang keberhasilan seorang anak akibat guru yang hebat, namun banyak cerita juga tentang kegagalan karena guru salah didik. Kegagalan Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Stephen Hawking dan sebagainya di sekolah, dia bayar melalui belajar sendiri, dia menjadikan alam dan ilmu sebagai gurunya.

 

Pentingkah seorang guru? Penting! Tapi guru yang mana? Yang jelas tidak ada tempat bagi guru yang “kecelakaan”, yaitu guru yang hanya manjadi guru sekadar mendapatkan pekerjaan. Namun, seorang guru profesional adalah guru dengan panggilan nurani, panggilan jiwa.

 

Mungkin pada awalnya tidak sengaja jadi guru, namun jika yang bersangkutan dengan cepat menyadari akan pentingnya peran dia sebagai guru, lalu ia bangun paradigmanya, dan dengan nurani ia melangkahkan kaki ke hadapan anak-anak didiknya. Inilah guru yang dicari, ditunggu, dipuja, dan disayang sepanjang masa. Hal inilah yang terus memotivasi saya ketika memilih “jalan” dan profesi ini.

 

Belajar Otodidak Menjadi Seorang Guru

Bassic keilmuan saya adalah scientist. MIPA murni, dan bukan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Tapi profesi menjadi seorang pengajar menjadi salah satu impian dan cita-cita saya pasca kampus. Bismillah, akhirnya saya memutuskan dan mengambil pilihan untuk mengajar di bimbingan belajar. Seperti terhipnotis oleh sebuah kalimat motivatif: 

“Menjadi Guru atau Tidak Sama Sekali”. Hehe...

 

“Menjadi guru adalah pilihan yang berani. Berani jadi guru, harus berani pula menjalani segala konskuensinya. Apabila mampu menjalaninya secara konsisten, jalan ke surga akan menunggu, jika tidak, bahaya menghadang!”

 

Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengangkat kembali pamor guru yang mulai memudar. Dan kalimat itulah yang mampu memotivasi saya untuk memantabkan hati di profesi ini.  

 

Menurut pendapat saya, modal utama jadi guru adalah “nurani”, bukan “akademiknya”. Maka siapapun itu, apapun latar belakang pendidikannya, jika tidak memiliki nurani sebagai pendidik, mohon maaf, tidak ada toleransi.

 

Pertanyaannya, “apakah latar belakang pendidikan mempengaruhi hal ini?”. Jawabannya bisa “Ya”, bisa “Tidak”. Maybe YES, Maybe NO! Artinya, latar belakang pendidikan tidaklah terlalu penting, apalagi dalam sebuah sistem pendidikan yang “tidak terarah” seperti yang kita alami saat ini.

 

Apakah hanya orang-orang yang berlatar belakang pendidikan dari Ilmu Kependidikan dan Keguruan saja yang boleh jadi guru? Idealnya memang begitu, tapi tunggu dulu! Pada dasarnya setiap manusia ditakdirkan menjadi guru bagi generasi penerusnya. Namun banyak di antara kita yang tidak menyadari hal ini, bahkan yang sudah memilih profesi jadi guru pun banyak yang tidak menyadari hal ini, sehingga dia menyia-nyiakan kesempatan berharga dalam hidupnya.

 

Jika sistem dan proses pendidikan dari awal berjalan sesuai dengan kaidahnya, yaitu membantu anak untuk menemukan potensi dirinya sedini mungkin, lalu mereka dibekali dengan sikap “belajar bagaimana belajar”, sehingga belajar menjadi bagian dari hidupnya dan pada akhirnya tidak “menyesatkan” orang dari fitrahnya, maka mereka yang memilih “GURU” sebagai PROFESI adalah orang-orang yang tepat. Bukan kecelakaan atau kebetulan jadi guru. Memilih jadi guru karena memang telah dipersiapkan oleh Allah SWT sebelum ruh ditiupkan dalam rahim.

 

Orang Tua sebagai Guru Pertama

Pembelajaran daring selama pandemi Corona ini “mewajibkan” setiap orang tua yang sudah memiliki anak usia sekolah (dari TK hingga kuliah) untuk berperan ganda sebagai guru anak-anak ketika di rumah. Kalau untuk anak yang usia SMP-SMA atau kuliah sudah bisa lebih mandiri. Namun, untuk anak-anak yang usia TK dan SD, peran orang tua masih sangat signifikan. Karena itu, perlu merefleksi diri kembali karena sejatinya orang tualah guru pertama anak-anak di lingkungan keluarga

 

Salah satu cara untuk mensyukuri kondisi sekarang yang mewajibkan kita menjadi “guru” adalah  “konsisten” pada amanah sebagai pendidik. Tujuan kita mendidik anak adalah agar anak-anak tumbuh menjadi manusia yang cerdas, berilmu pengetahuan, dan berakhlak mulia. Ukuran keberhasilan mendidik adalah terjadinya perubahan perilaku anak dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, dan tidak terbiasa menjadi terbiasa, sesuai dengan apa yang kita inginkan bersama.

 

Menjadi Guru Teladan

Sosok Nabi Muhammad kiranya bisa dijadikan contoh bagaimana agar kita menjadi guru panutan (teladan). Nabi Muhammad merupakan sosok yang digugu dan ditiru. Nabi Muhammad bisa menjadi sumber inspirasi dan teladan bagi para sahabat-sahabatnya. Bahkan sampai kini pun Nabi Muhammad merupakan panutan yang belum ada tandingannya. Maka kepada beliaulah kita harus meneladani. Dengan demikian, kita bisa menjadi guru teladan bagi anak didik kita seperti halnya Nabi Muhammad menjadi teladan bagi sahabat-sahabatnya serta umatnya.

 

Ada beberapa tips yang ingin saya bagikan untuk menjadi guru teladan:

 

❤Memiliki karakter yang kuat sebagai seorang pendidik. Bisa ditinjau dari 4 aspek: komitmen, kompeten, kerja keras, dan konsisten dalam mengemban amanah serta mampu memberikan keteladanan dari aspek: kesederhanaan, kedekatan, dan pelayanan maksimal.

 

❤ Cerdas: intelektual, emosional, dan spiritual.

 

❤Bekerja keras dengan penuh pengabdian. Menjadi guru teladan itu butuh perjuangan, pengorbanan, dan totalitas.

 

❤ Guru teladan adalah guru yang C.O.M.F.O.R.T

C = Carring = Peduli

O = Observant = Perhatian

M = Mindfull = Cermat/ teliti

F = Friendly = Ramah

O = Obliging = siap sedia/ tanggap

R = Responsible = bertanggung jawab

T = Tackfull = bijaksana

 

❤Menjadi guru teladan adalah pencapaian maksimal dari sebuah prestasi dalam menjalani suatu profesi. Jadi, mulailah terlebih dulu dengan membangun motivasi internal. Karena BERPRESTASI adalah DAKWAH! Mungkin satu hal ini bisa menjadi motivasi.

 

❤Guru teladan adalah guru yang cerdas dan sempurna akalnya, baik akhlaknya, dan kuat fisiknya. Karena dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam; dengan akhlak yang baik ia dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya; dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik, dan mengarahkan anak didiknya.

 

Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan dan meridhoi setiap langkah-langkah kita, untuk menjadi lentera yang membebaskan: dari gulita menuju pelita. Aamiin.

 

Wallahu a’lam bishowab.

 



Wednesday, May 11, 2011

KADO CINTA HARI INI: “Kupilih Guru sebagai Profesiku”

Wednesday, May 11, 2011 1 Comments
by Norma Keisya Avicenna on Friday, May 6, 2011 at 12:02pm





Pengumuman Lolos Audisi Penulis “Kupilih Guru sebagai Profesiku”

05 Mei 2011.

oleh: Ady Azzumar



Ahamduillah, dengan menimbang, mengamati dan mencerna serta menganalisa “naskah-naskah” yang dikirimkan, akhirnya dari 50 lebih peserta yang turut berpartisipasi, kami hanya bisa mengambil beberapa naskah saja untuk diberi kesempatan dalam “ruang yang akan di bukukan”.



Dengan alasan dan tehnisi dibawah ini maka naskahnya beum bisa kami beri ruang, karena:

1. Naskah yang dikrimkan seperti alur cerita pendek saja, cerita mulai dari Tk, SD sampai keperguruan Tinggi. Aduh maaf naskah yang seperti ini terlalu banyak “pemubaziran kata”
2. Tidak turut menyertakan Tips dan alasan kenapa aku memilih guru / 15 alasan tersebut tidak diuraikan dan dijabarkan satu persatu.
3. “aku bangga menjadi guru” adalah kata utama dalam memulai kalimat dan dilanjutkan dengan kalimat yang berhubungan dengan kata tersebut, tapi ada beberapa naskah yang tidak mengikuti peraturan kaedah ini. Yang ada kata: “aku bangga menjadi guru” hanya dijadikan bait kata saja.
4. kebanyakan naskah yang ditulis tidak dari hati, artinya menulis seperti dikejar deadline. Jadi naskah-naskah yang diharapkan bisa menginspirasi buat para pembaca, sebagian belum bisa kita dapatkan.

Buat nama-nama yang terpilih di bawah ini, semuanya segera mengirimkan ulang:

1. HEBATNYA MENJADI GURU oleh…..? Guru Bidang studi agama islam
2. Diary Ibu Guru + Guru Bahasa Inggris = Oleh: Intan Daswan
3. GURU PELITA BANGSA + GURU BAHASA INGGRIS Oleh : MATA PENA
4. Guru, Obsesiku! Oleh + Guru Privat: Isti Subandini
5. Mengajar Dengan Ikhlas; Kunci Sukses Menjadi Guru Teladan + Guru Matematik dan Ngaji oleh: Pujiati Sari
6. KETIKA AKU MENJADI GURU + guru bahasa inggris Oleh: Lilih Muflihah
7. Teacher is the best for me + guru privat oleh: Meta sumarlina
8. Menginfakkan Raga+Guru Les Aritmatika oleh: Sandza
9. KETIKA GURU BUKAN HANYA SEKEDAR PROFESI+ Guru Fisika oleh: Sri Maya Hadi Kesuma
10. GURU ANAK USIA DINI+ Guru Taman Kanak-Kanak oleh: WAHYUTI
11. Guru, Menyemikan Harapan Bangsa yang Tumbang + Guru matematika oleh: Intan Kamelia Mohtar
12. Senyum Ketulusan + Guru TK oleh: Bintang Arini
13. Aku Bangga Menjadi Guru (judul harap direvisi) + Guru Ngaji oleh: Mildaini
14. Pembelajar oleh+ Guru Sosiologi: Bambang Kariyawan Ys
15. Sebuah Profesi Impian + Guru Kertakes = Lailiah, S.Pd
16. Karena Cinta, Aku Menjadi Guru + Guru Mengaji = Huriyah Riza
17. Jadi Guru Itu Asyik + Guru Kelas = Erma Fitriyani, S.IP
18. Belajar dari Sebuah Pilihan+ Guru Les = Efriany Susanty
19. Pahlawan Tanpa Harga Pantas + Guru Agama = Dari:Ely Zamieatul Laelly
20. KEBULATAN HATI, BAHASA INGGRIS = Dari: Sulis Wati
21. PANGGILAN HATI MENUNTUNKU MENJADI GURU + GURU BAHASA = Sapta Rini Hinona
22. GURU KIMIA ADALAH PILIHANKU + Guru Bidang KIMIA = Een Kurniati
23. GURU LENTERA YANG MEMBEBASKAN + Guru Bimbingan Belajar = Keisya Avicenna
24. menjadi guru adalah keniscayaan + guru ngaji = Ratih Muthia Nurul ‘Ain Adam
25. Saya Ingin Menjadi Guru + Guru Kimia = Ira Sari Sevi Widya H
26. AKU BANGGA MENJADI GURU SD + Guru Mata Pelajaran Umum = Fafa Fathurrohma
27. Panggilan Hati + Guru Bahasa Ingris. = Iwan Kurniawan
28. Inilah Pilhan ku + Guru Bahasa Indonesia = Aminah Jihan Bamualim
29. Tersesat di Jalan Yang Benar (harap judul direvisi)+ Guru Sekolah Dasar. = Dian Sukma Kuswardhani
30. Bukan Sekedar Profesi + Guru PAUD = Nisa Nuraeni
31. Rekreasi Jiwa+Guru Bahasa Indonesia = Oleh Aika Zahra
32. Guru sebagai Pendidik Anak Bangsa oleh : Hesti Daisy
33. Siapa yang ingin menjadi guru les, walau bergaji kecil? + Guru Komputer dan Menulis = Amanda ratih Pratiwi
34. Memanen Pahala dari Pedalaman+Guru Matematika = Yurmawita Adismal
35. Guru, Profesiku Ibadahku oleh: -Lisfatul Fatinah Munir-
36. INDONESIA, AKU INGIN MENGAJAR oleh: Rusdi Saleh
37. SUSiLAWATI, S.AG Guru Bahasa Arab
38. Ady Azzumar Guru SD Islam Terpadu.

selamat buat nama nama di atas, yang terpilih.

Celoteh Aksara [35]: “Indahnya Kebersamaan Penuh Cinta di GANESHA”

Wednesday, May 11, 2011 0 Comments


by Norma Keisya Avicenna on Saturday, May 7, 2011 at 8:02am

Masih di bagian malam yang terlalu dini untuk kusebut pagi.



Melihat kalender, sudah hari ke-7 di bulan Mei. Ah, betapa perguliran sang waktu begitu cepat. Sangat cepat…Tak terasa tiga hari lagi UASBN untuk murid-murid kelas 6 SD. Tak terasa pula sudah hampir 10 bulan aku membersamai mereka belajar. Akhir-akhir ini interaksi kita pun semakin dekat dan akrab. Banyak moment yang menjadikanku lebih bijak dan dewasa. Dari mereka aku belajar apa itu sabar, apa itu kasih sayang, bagaimana menjadi seorang guru yang tidak hanya sekedar “digugu lan ditiru”, bagaimana berinteraksi dengan berbagai karakter yang melekat pada kepribadian mereka, bagaimana mentransfer ilmu dan menciptakan suasana belajar yang tetap “having fun”, dan banyak pengalaman spiritual lain yang berhasil Nung dapatkan. Intinya, banyak yang bisa Nung pelajari dari salah satu profesi yang Nung tekuni saat ini. Nung benar-benar sangat bersyukur.



Dan salah satu cara untuk mensyukurinya adalah “konsisten” pada amanah sebagai pendidik. Tujuan kita mendidik adalah agar anak-anak tumbuh menjadi manusia yang cerdas, berilmu pengetahuan, dan berakhlak mulia. Ukuran keberhasilan mendidik adalah terjadinya perubahan perilaku anak dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, dan tidak terbiasa menjadi terbiasa, sesuai dengan apa yang kita inginkan bersama. Artinya, tugas pengajar/guru dianggap “selesai” setelah terjadi perubahan perilaku pada anak kearah yang lebih baik. Lalu, apakah dengan menyusun skets mengajar, mengisi buku penghubung, mengisi daftar hadir dan menuntaskan materi dapat menjadi ukuran bahwa pengajar yang bersangkutan telah menjalankan tugas? Jawabannya belum! Jika ukuran keterlaksanaan tugas sebagai pengajar hanya diukur dari aspek administrasi semata, berarti baru sebagian tugas yang selesai, yaitu tugas administratif, sedangkan tugas sebagai edukator, belum. Ingat, jika terjadi kesalahan dalam administrasi, kita dapat menghapus dan mengganti dengan yang baru, namun jika terjadi kesalahan dalam mendidik, kita tidak mampu menghapusnya, itu artinya kita bermimpi mengembalikan umur ke kondisi semula. (salah satu alinea yang Nung tuliskan dalam naskah “Guru, Lentera yang Membebaskan”. Alhamdulillah, tulisan itu lolos seleksi. Bismillah, pengajar sekaligus penulis…^^)



Ya Rabb, izinkan Nungma memaknai lebih dalam lagi…



***

Banyak kejadian unik sebelum Nung memutuskan untuk menjadi pengajar di Ganesha Operation Solo. Panjang kisahnya! Tapi, pilihan untuk mengajar SD yang masih membuat Nung paling terkesan sampai sekarang. Mungkin akan Nungma ceritakan di bagian tersendiri. Hehe…sedikit bocoran aja, dulu setelah istikharah untuk memantabkan pilihan mengambil SD ataukah SMP/ SMA, ngrasa aja Allah SWT menggaungkan kata-kata “SEMANGAT DAHSYAT” dalam hati dan pikiran Nung. Dua kata itu yang selalu muncul seiring dengan deguban jantung, helaan nafas, dan detak sang nadi. Hm, SD! Semangat Dahsyat! ^^v.



Hihi…ah, ketawa sendiri kalau flash back hal-hal seru bersama murid-murid. Awal-awal masuk dalam 1-2 pekan banyak yang kemudian bertanya dengan polosnya (kapan, siapa yang tanya pernah Nung tulis di catatan harian. Xixi…), “Bu NM, keturunan Arab ya? Apa India?”; “Ibu masih saudaranya Bu FB, ya?”; “Rumah Bu NM di Pasar Kliwon ya?”; “Wajah Bu NM kok mirip istrinya Aa’ Gym?”….hyaaaaa…..bikin menungnung dah! (apalagi pertanyaan terakhir). Mirip orang Arab? Gubraaak. Gak ya dik. Ibu tu Jawa asli. Pas cerita kejadian ini ke orang-orang rumah, endingnya cuma ngikik semua. Nung jadi ingat salah satu pengalaman waktu SMA dulu. Tepatnya waktu ikut PELATIHAN JURNALISTIK bersama BASSIC. BASSIC itu majalah sekolah. Nah, salah satu tantangannya kita praktek wawancara. Waktu itu, Nung dapat tugas interview bareng Gestin ke sebuah toko yang menjual produk-produk muslim. Pas lagi asyik wawancara sama yang jaga toko, ada seorang pembeli (bapak-bapak) yang kemudian menanyai aktivitas kami dan sempat bilang: “Wajah Mbak kok mirip orang Arab ya???” hagzhagzhagz…Kalau inget kejadian itu bikin Nung n Gestin ngikik terus…



Hm, ternyata Mas Dhody dan Mbak Thicko pun pernah mengalami hal yang sama. Kalau Mas Dhody dulu pas didatangi customernya, dia tanya, “Mas pasti rumahnya Pasar Kliwon, ya?” hahaha… ah, Nung jadi inget, waktu pulang ngajar malam dari GO Veteran. Waktu itu dijemput Mas Dhody, dia mau nraktir Nung sate kambing di daerah sebelum Beteng lah. Nah, pas lewat daerah Pasar Kliwon dia bilang, “Daerah perumahan kita nih!”. Asli, sepanjang jalan sampai rumah makan, kita berdua ngikik terus…wkwkwk…



Ohya, banyak panggilan yang Nung dapatkan dari murid-murid tersayang. “Bu NaMa”. Kebetulan singkatan nama Nungma: NM. Kalau di GO ciri khasnya memang seperti itu. Setiap pengajar punya kode. “Bu Doraemon” terutama dari adik-adik 6 SDR 31 n beberapa murid yang lain. Karena mereka banyak yang tahu kalau Nung cinta banget ma robot kucing dari abad 21 itu. Mereka bisa lihat dari gantungan HP, map plastik yang selalu Nung bawa saat mengajar, tempat pensil, bros, dll. Hehe…tyuz “Bu Twin”. Panggilan ini biasanya dari adik-adik 6 UNR 22. Karena mereka tahu kalau gurunya itu kembar. Hehe. Ada lagi nih, panggilan dari adik-adik 6 SDR 1 dan 6 SDR 3: “Bu Arab Jawa dan Bu Tung Srung”. Aneh-aneh aja. Tung Srung karena pas awal mengajar dulu Nung pernah menyampaikan break “tung…tung…srung”. Break yang pernah Nung dapatkan juga waktu ikut pelatihan “training for trainer” pas zaman mahasiswa dulu. Ada juga yang manggil “Bu Kiepop” Hadeh..., gara-garanya pas Nung ditanya “tahu Super Junior, Bu?” Nung njawabnya tahu ‘n paling suka lagunya yang Miracle. Hihi. Ini tuh gara-gara dulu ada adik kost yang tiap hari pasti nyetel lagu-lagunya Su-Ju karena dia terobsesi masuk jurusan Sastra Korea UI. Hihi… Ada lagi yang dari awal sampai sekarang manggilnya tu “Bu Kurma” (anak-anak genk Bratan nih!). Kata mereka sih, “kurma kan manis, bu!”. Huahaha…gubrak! ^^v



Ah, betapa serunya. Gak terasa sebentar lagi harus berpisah dengan mereka. Ada kenangan di WATT, EINSTEIN, FARADAY, PASTEUR, ALVA, GALILEO, DALTON, NEWTON, DARWIN, MENDEL, PASCAL, OHM, UNY, UPI, UNAND,…



Terakhir mengajar di kelas DALTON yang malam, kelas yang terkenal dengan murid-muridnya yang kompak punya hobi sama: nyanyi. Break 20an menit, karena malam itu kita hanya membahas tryout SUKSES, jadi lebih cepat selesai. Mereka request, waktu yang tersisa digunakan untuk latihan buat acara hari Sabtu (nanti sore). Mereka mau mengisi hiburan waktu acara doa bersama. Seru banget deh! Dengan gaya dan aksi mereka, lagu Senyum dan Semangat-nya SM*SH jadi terasa berbeda. Hadeh dik, gara-gara aksi kalian Bu NM jadi hafal tu lagu nih…^^v. Pokoknya SUKSES buat performa nanti sore yha! (hihi…geng Nurlela) : )



“….Senyumanku tak akan pernah luntur lagi, singing all day long

Semangatku tak akan pernah patah lagi, dancing all night long…”



***

Hm, ngomong-ngomong soal PERPISAHAN lagi nih…



Perpisahan itu akan selalu ada, karena kita pernah berjumpa, bersama, dalam canda tawa dan bahagia. Setiap tetes airmata yang tertumpah di hari ini, akan menjadi saksi atas jalinan PERSAHABATAN yang selama ini kita simpul seerat-eratnya.



Tak ada kata yang pantas terucap hanya derai bening yang selalu bertaburan. Mengucap selamat jalan, silakan lanjutkan perjuanganmu ke arah yang lain, di tempat yang baru, yang akan menjadi jarak pertemuan kita.



Hari ini, jiwa dan naluri kita kembali terluka atas perpisahan raga. Namun percayalah hati kita akan selalu terikat. Jalinan persahabatan dan kekeluargaannya akan semakin erat. Semakin jauh ragamu melangkah, semakin hatimu mendekat.



Tidak usah terlalu bersedih, berbahagialah! Karena kau akan menemukan suasana yang baru, bukan di sini lagi, tapi di sana. Di suatu tempat yang akan menjadi medan juangmu dalam mewujudkan impian di masa depan.



Cukuplah setiap kenangan yang telah kita tanam, akan menjadi kenangan yang tumbuh subur. Menyemaikan benih-benih cita, cinta, dan cerita diantara kita. Karena kita tak harus di sini, kita tak harus selalu bersama, kita harus melanjutkan langkah ini, mungkin ke tempat yang lain, yang siap untuk kita tapaki.



Perkuat langkahmu, adik-adikku! Yakinkan diri dan hatimu, hari esok pasti lebih cerah, hari esok adalah harapan yang harus diraih. Pandang senyumannya yang lebar, tatap wajahnya yang ceria, hari esok adalah bahagia.



Segala rindu yang akan muncul, segala nafas yang akan berhembus, segala harapan yang akan kita raih, segala langkah yang akan kita ayunkan, yakinlah disana ada sukses. Di sana ada keberkahan, dan di sana pasti ada cinta…



Biarkan aliran airmata ini jatuh sesukanya, biarkan dia mengalir, mengucap kata seindah-indahnya. Biarkan dia, karena airmata tak berarti sedih, airmata tak berarti duka, airmata juga lambang bahagianya hati. Biarkan dia menemani kita di hari ini. Biarkan…Karena dia memang hadir untuk ini, menjadi saksi INDAHNYA PERTEMUAN KITA!!! Indahnya kebersamaan penuh cinta di Ganesha…



Adik-adikku, anak-anakku, murid-muridku…selamat melanjutkan langkahmu, selamat berjumpa lagi di tangga kesuksesan, dalam senyum yang lebih indah…menyongsong masa depan yang cerah!!!



SEMANGAT DAHSYAT, semuanya…!!!



[Keisya Avicenna, 7 Mei 2011…teruntuk mutiara-mutiara hatiku, yang darinya aku belajar menjadi “guru”! 02:02 WIB]