Jejak Karya

Jejak Karya

Thursday, February 18, 2021

1001 Cinta Saat Berkreasi Bersama Faber-Castell Creative Art Series

Thursday, February 18, 2021 0 Comments

 


Ujian Istimewa dari-Nya di Awal Tahun Baru 2021

2021, bulan ketiga nanti berarti pandemi Corona sudah satu tahun lamanya. Dan Allah menjadikan awal tahun 2021 yakni bulan Januari sebagai “bulan ujian” dalam kehidupan keluarga kami. Secara bertubi-tubi, total ada 7 anggota keluarga kami di Semarang terkonfirmasi positif Covid-19. Bahkan 2 diantaranya harus dirawat dan diisolasi di rumah sakit. Ada 3 keluarga dari suami yang tinggal di Semarang: kakak nomor 2, nomor 3, dan nomor 4. Suami adalah anak nomor 5 alias si bungsu. Alhamdulillah, dari keluarga 4 bersaudara itu, hasil rapid antigen keluarga kami yang dinyatakan negatif sehingga keluarga kami bisa memberikan support untuk ketiga keluarga lainnya. Sungguh, tak mudah rasanya. Apalagi keluarga besan dari kakak nomor 4 ada yang sampai meninggal dunia. Sungguh, Covid-19 itu terasa sangat dekat dan sangat nyata.

 

Kami terus berusaha untuk menjaga kesehatan dan imunitas tubuh, juga terus berusaha santai dan tetap rileks menghadapi ini semua. Terlebih saya, karena baru memasuki trimester pertama kehamilan anak kedua. Fisik sedang beradaptasi dengan beragam perubahan karena faktor hormonal, juga mood yang kadang berubah sewaktu-waktu.

 

Alhamdulillah, akhirnya semua dapat kita lewati bersama. Saya abadikan skenario-Nya yang sungguh berharga itu dalam tulisan. Bisa klik dan baca di sini.


Hadiah Pelipur Lara

Hingga akhirnya, pada suatu siang, sebuah paket datang. Surprise tiada terkira saat unboxing ternyata isinya adalah Creative Art Series dari Faber-Castell yang “Colour Your Own Totebag”. Gambar owl-nya sungguh menggemaskan. Masya Allah, bahagia rasanya seolah kiriman paket itu menjadi hadiah pelipur lara setelah melewati hari-hari yang menguras tenaga dan melelahkan jiwa.

 

Setelah saya buka, isi box Faber-Castell itu ada totebag, cat acrylic dengan warna primer: merah, kuning, biru, ditambah putih (total ada 8 tube), kuas, pallet, booklet, dan kupon untuk mengikuti workshop dari Faber Castell (ada bagian QR-Code juga yang jika di-scan, kita bisa mengikuti workshop seru dari Faber-Castell). Selain writing for healing, saya menjadikan kegiatan seperti melukis, menggambar, mewarnai, membuat doodle, bullet journaling, studygram ala-ala saya itu sebagai kegiatan “art theraphy”. Saya merasa, banyak sekali manfaat yang saya rasakan. Salah satunya dapat membuat hati saya menjadi lebih tenang dan bahagia.

 

Pelaksanaan Faber-Castell Soft Launching & Workshop dilaksanakan pada tanggal 6 Februari 2021 melalui Zoom-class. Kegiatan dibuka oleh Pak Andri Kurniawan yang memberikan prolog mengenai workshop dan kegiatan soft launching Creative Art Series dari Faber-Castell. Selanjutnya, Product Manager PT Faber-Castell International Indonesia, Richard Panelewen, memaparkan lebih detail lagi mengenai soft launching produk Creative Art Series.

 



Creative Art Series dari Faber Castell

Creative Art Series terdiri dari 6 produk, yaitu:

  1. Stone Deco Art
  2. Colour Your Own Tote Bag
  3. Origami Fashion Design
  4. 3D Art Frame
  5.  Make Your Own Kite
  6.  Air Jet Sport Car

 

Faber-Castell Creative Art Series merupakan jawaban bagi para orang tua untuk bereksplorasi bersama anak. Produk ini dibuat dengan menyesuaikan kebutuhan, tidak hanya bagi anak, namun orang tua/keluarga dan juga dewasa, termasuk para tenaga pengajar, hal ini karena sudah disesuaikan dengan Kurikulum 2013.

 

Pak Richard menyampaikan bahwa kondisi pandemi menjadi kondisi yang penuh tantangan karena anak lebih banyak menghabiskan waktunya bersama gadget karena sekolah berlangsung secara daring (online), demikian juga dengan orang tua yang harus melaksanakan WFH (Working From Home). Semuanya serba online. Untuk anak sendiri, kadang ada yang sampai terlena dalam memanfaatkan gadget, seperti keasyikan bermain games, menonton TV hingga lupa waktu, sibuk bermain media sosial, dan banyak lagi. Hal ini mengakibatkan kurang terpenuhinya kebutuhan anak untuk mendapatkan pendidikan yang bernilai positif juga kegiatan yang dapat meningkatkan kreativitas. Karena itu, produk Creative Art Series dari Faber-Castell ini bisa menjadi salah satu solusi terbaik.

 

Banyak sekali manfaat yang nantinya bisa didapat saat menggunakan produk Creative Art Series dari Faber-Castell ini, yaitu:

πŸ’™Meningkatkan kembali bonding dan interaksi antara anggota keluarga. Kegiatan bersama keluarga yang asyik dan menyenangkan bisa memupuk rasa cinta sehingga keluarga menjadi lebih hangat dan harmonis.

 

πŸ’—Sebagai stress relief. Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, Ketika hari-hari terasa berat karena badai Covid menerjang keluarga besar kami, art-therapy salah satunya dengan melukis atau mewarnai bisa membuat pikiran menjadi lebih tenang dan hati menjadi lebih lapang. Buktikan saja!

 

πŸ’›Bisa menumbuhkan rasa percaya diri dan meningkatkan self-esteem pada diri anak ketika karya yang dihasilkan bisa dipajang/disimpan bahkan kelak bisa jadi unforgettable moment buat anak, menjadi kenangan indah antara anak dan orang tua atau antara murid dengan gurunya.

 

πŸ’šHal unik lainnya dari produk Creative Art Series ini adalah setiap pembeli berhak mengikuti workshop Faber-Castell yang berkaitan dengan jenis produk yang dibeli secara cuma-cuma. Biasanya workshop seperti ini berbayar dari Rp60.000,00 sampai  Rp150.000,00 ini menunjukkan komitmen Faber-Castell memberikan service excellent bagi konsumen terutama dalam berkreasi seni dan bukan sekadar menjual produk saja. Kereeen! Jempol banget, deh!


Dari Kecerdasan Emosi hingga Kesehatan Mental

Sementara itu, Psikolog Perkembangan dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Aisah Indati, M.S., Psikolog menambahkan bahwa masa kanak-kanak merupakan masa bermain, dimana pada masa itu merupakan masa keemasan (golden period). Pada masa keemasan ini dibutuhkan beberapa stimulasi dari lingkungan sekitar, supaya anak mengalami perkembangan yang optimal. Perkembangan yang optimal, akan tercapai apabila anak memperoleh stimulasi yang bervariatif, seperti misalnya stimulasi yang bersifat motorik, emosi, sosial, serta pengamatan.

 

Profesor Gardner yang telah menemukan teori kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences, menyebutkan bahwa ada banyak kecerdasan yang dimiliki setiap orang, yaitu:

  •       Linguistic intelligence (Kecerdasan Bahasa)
  •       Spatial intelligence (Kecerdasan Visual/Spasial)
  •       Logical-mathematical intelligence (Kecerdasan Logika matematika)
  •       Musical intelligence (Kecerdasan Musik)
  •       Bodily kinesthetic intelligence (Kecerdasan kinestetik)
  •   Interpersonal intelligence (Kecerdasan untuk berhubungan dengan orang lain)
  •       Intrapersonal intelligence (Kecerdasan untuk mengelola diri sendiri)

Kecerdasan Interpersonal dan Intrapersonal termasuk ke dalam Kecerdasan Emosional. (Sumber: Buku Emotional Intelligence Science and Myth)

 

Multiple Intelligences 

 

Menurut Dr. Aisah Indati, produk Creative Art Series Faber-Castell cocok digunakan bagi anak-anak usia prasekolah hingga anak-anak usia sekolah dasar. Produk tersebut dapat bermanfaat untuk menstimulasi perkembangan anak, dalam hal pengamatan, emosional dan sosial, serta motorik halus.

πŸ’–Adapun pengamatan yang dimaksud di sini adalah karena anak belajar mengamati beragam warna dan bentuk yang ada dalam produk Creative Art Series Faber-Castell.  Hal ini akan memacu inisiatif dan kreativitas anak. Wow, keren sekali, bukan?

πŸ’›Dari sisi emosi dan sosial yakni saat anak bereksplorasi dengan produk, salah satunya melalui proses mencampur berbagai macam warna, hal tersebut mengasah kepekaan emosi (yang melibatkan kreativitas dan inisiatif), serta interaksi sosial anak.

πŸ’šStimulasi motorik halus diperoleh saat anak bereksplorasi menggunakan media pewarna, craft, maupun kertas origami, akan melatih kepekaan motorik halus dalam diri anak, ungkap Dr. Aisah Indati.

 


Nah, kecerdasan emosional anak itu sangat penting, tidak hanya untuk saat ini, namun juga untuk kehidupannya kelak di masa depan. Tentu saja, hal tersebut dapat diraih melalui lingkungan yang sehat dan mendukung, salah satunya dengan cara pemberian stimulasi melalui kegiatan menggambar  dan mewarnai.

 

Salah satu hal paling menarik dalam penyampaian Dr. Aisah Indati adalah tentang pentingnya menjadi pribadi yang SEHAT MENTAL, dengan kriteria sebagai berikut:

Self-Knowledge and Self-Understanding

  • Mengenali dirinya sendiri, termasuk segala kelebihan dan kekurangannya.

Self-Objectification and Self-Acceptance

  • Pemahaman diri dan penerimaan diri.

Self-Esteem

  • Mempunyai harga diri.

Self-Confidence

  • Percaya diri.

Self-Control and Self-Development

  • Mampu mengendalikan diri dan mengembangkan diri.

Interpersonal Relations and Social

  • Punya niat untuk berhubungan dengan orang lain secara interpersonal maupun sosial.

 

Uhuy, pengin selalu sehat mental, kan? Kegiatan mewarnai juga berkreasi dengan Creative Art Series dari Faber-Castell bisa jadi solusi keren, lho!

 

Kegiatan Workshop ”Colour Your Own Totebag”



Kegiatan workshop berlangsung sangat seru, dipandu dengan sangat menyenangkan oleh Tim Faber Castell (Mbak Yayu). Beliau menjelaskan peralatan apa saja yang dibutuhkan juga teknik pencampuran warna. Selain itu, saya juga semakin paham tentang perbedaan cat acrylic dengan watercolour. Biasanya, saya sering menggunakan watercolour untuk kegiatan art therapy ala saya, jarang sekali pakai cat acrylic. Pernah beberapa waktu lalu saat melukis di media telenan kayu.

 

Di web Faber Castell disebutkan bahwa perbedaan utama acrylic colours dan watercolour (cat air) adalah pada kandungannya. Cat air hanya terdiri atas pigmen dan air. Sementara itu, acrylic colours memiliki kandungan polymer yang disebut acrylic. Kandungan polymer ini memberi tektur lebih tebal pada acrylic.

 

Nah, acrylic colour dari Faber-Castell ini memiliki warna yang cerah dan dapat diaplikasikan pada beragam permukaan seperti kanvas, kayu, gelas, kaca, sepatu, tas, kaos, dll. Karena itu untuk mewarnai totebag kali ini dengan menggunakan cat acrylic. Penggunaan cat acrylic ternyata banyak sekali keunggulannya, yaitu:

  • Warna bisa dicampur untuk menghasilkan warna baru yang kita inginkan
  • Cepat kering setelah digoreskan
  • Tidak luntur apabila terkena air
  • Hasil goresannya halus

 πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜



Cat acrylic ini pun aman dipakai oleh anak-anak. Anak saya, Dzaky (4 tahun) ikut sibuk saat saya melukis totebag. Ketika diberi penjelasan mengenai Stone Deco Art, saya pun berinisiatif mengambil beberapa batu yang letaknya di dekat sumur milik Titi Ya. Saat workshop kemarin, saya memang sedang berada di Wonogiri, kampung halaman saya. Sehingga cukup mudah mencari batu yang bersih dan enak untuk dijadikan media melukis.

 

Alhamdulillah, workshop berlangsung sangat asyik dan seru hingga tak terasa waktu sudah semakin sore. Taraaaaa... inilah hasil lukisan totebag ala saya...





Sebagai bumil (ibu hamil) trimester pertama dengan segala pernak-perniknya, kegiatan workshop kali ini benar-benar bisa menjadi mood booster sekaligus imun booster. Sungguh, 1001 cinta seolah membuncah memenuhi relung jiwa karena berkenalan dengan produk yang sangat istimewa.

 

Terima kasih, Faber-Castell!

 

Beli apel di Toko Pak Dewa

Beli durian di Pasar Kenya

Faber-Castell pilihan istimewa

Produknya keren, sungguh oke punya

 

#softlaunchingCAS #art4all




 

 

 

Tuesday, January 26, 2021

CORONA DAN RABITHAH CINTA KELUARGA

Tuesday, January 26, 2021 2 Comments

 


Rabu terakhir di bulan Desember 2020. Setelah Tahajud sambil menunggu waktu Subuh, biasanya saya gunakan untuk ngaji atau membaca buku. Terkadang saya juga mengetik kalau ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tapi di awal kehamilan kali ini, pinggang saya jadi gampang capek kalau harus duduk lesehan sambal ngetik di kamar, lebih enak ngetik sambil duduk di kursi ruang tengah.


Setelah azan Subuh, tiba-tiba Dzaky posisi tidurnya melorot dari kasur dalam kondisi dia masih merem.

“Kenapa, Dek Ah?” Abi is sontak bangkit dan mencoba membenarkan posisinya.

“Ma, celananya basah. Bau pulak. Kayaknya pup di celana!” ucap Abi sedikit panik.

Saya yang sedang ngaji pun bergegas menghampiri mereka. Dzaky diangkat Abi ke kamar mandi untuk dibersihkan.


Pagi itu, Dzaky tidak segokil biasanya. Meski dia masih sangat aktif, masih glundungan sana-sini. Tapi 2x dia sempat muntah. Pupnya juga masih encer. Rabu pagi itu dia masih mau sarapan bubur ayam disuapin Abi. Setelah sarapan, saya beri dia Lacto-B.

“Dek Ah, mau ya dipriksain ke Dokter Soraya?” tanya Abi.

“Iya, biar dicek Bude Soraya, ya. Biar Dek Ah pupnya nggak encer lagi,” ucap saya.

“Nanti kalau perutnya sudah enakan, pupnya udah bagus lagi, Dek Ah semangat minum obat dan nurut apa kata Bude Soraya, boleh kok nanti di Giyi lama sama Titi Ya,” kata Abi memotivasi Dzaky.

Saya pun mengiyakan. Kami pun mengajak Dzaky berdoa bersama minta kesembuhan sama Allah.


Sekitar jam 7.30, kami berangkat ke Klinik Mitra Umat. Dzaky masih mual dan sesekali mengeluh perutnya nggak enak. Alhamdulillah, dapat antrian pertama. Saat diperiksa sangat kooperatif dan nurut banget sama Bude Soraya. Sempat ada obrolan tentang makan buah.

“Dzaky mau apel, Bude,” katanya.

“Tapi nanti maem pisang dulu ya, apelnya nanti kalau dah nggak sakit perutnya,” ucap Dokter Soraya.


Awalnya Dzaky merajuk. Sampai akhirnya dia sendiri yang memutuskan, meminta Abi untuk membelikan pisang dan bukan apel. Motivasi internal untuk sembuh itu sudah muncul. Dia pun semangat makan, minum apapun yang kami kasih, bahkan minum antibiotik yang sedikit pahit. Yups, Titi Ya jadi moodbooster: KALAU SEMBUH, BOLEH LIBURAN LAMA DI GIYI (WONOGIRI).


Rabu itu dia masih bolak-balik ke KM sampai 5-6x. Tapi nggak kelihatan lemes. Makan dan minum masih mau. Masih lincah juga seperti biasanya. Alhamdulillah hari Kamis tekstur pupnya sudah bagus. Saya dan Abi is sudah lebih lega. Dzaky juga sudah nggak mual. Namun, Jumat sorenya dia diare lagi. Bahkan sangat bau dan berwarna kehijauan. Saya konsultasi via WA dengan Dokter Soraya. Setelah kami evaluasi kemungkinan karena Dzaky pada Kamis itu sudah mengkonsumsi susu UHT sedangkan pencernaannya -mungkin- belum siap.


Selama masih mau makan dan minum dan tidak menunjukkan gejala dehidrasi, insya Allah masih aman. Alhamdulillah, nggak ada demam juga. Dzaky masih doyan banget makan pisang, Jumat itu juga kami beri dia degan hijau, juga madu hangat. Anaknya juga masih aktif polahan. Hihi.

Saya dan Abi sampai membuat rencana kalau Sabtu pupnya masih seperti itu, akan kami cek lab-kan ke Cito dan periksa ke Dokter Agus (Spesialis Anak) di Hermina Banyumanik.


Alhamdulillah, Sabtu itu Dzaky sudah tidak diare. Malah seharian itu dia nggak pup. Makan dan minum juga sangat bagus, aktivitas fisik juga heboh seperti biasa. Saya dan Abi is bisa lega. Puncak kelegaan kami saat hari Ahad tekstur pupnya sudah sangat normal. Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah…


Beberapa hari kemudian, Dzaky nagih dong janji kami untuknya jika sembuh dari diare. Yups, liburan lama di Giyi. Anaknya pun setiap hari nanyain kapan kita ke Giyi? Kapan ke Titi Ya? Nah, waktu itu juga ada informasi kalau mulai hari Senin, 11 Januari 2021 akan ada PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) selama 2 pekan. Akhirnya, Abi memutuskan Sabtu kita antar ke Wonogiri daripada nanti anaknya nagiiiiih terus setiap detik. Hihihi. Dengan semangat ’45 dia packing sendiri mainannya 1 kardus plus 1 box. Bener-bener deh persiapan mau liburan lama.


“Nanti kalau Umma kangen gimana dong?” tanya saya.

“Umma kan bisa video call atau ke Giyi aja. Di Giyi lama sama Dek Ah,” jawab dia santuuuy.

Huwaaaaaaaaaaa… benar-benar bakal kangen sama bocil satu ini.


Sabtu (9 Januari 2021) malam kami sampai di Wonogiri. Tak lupa cuci tangan pakai sabun di pancuran depan counter yang sudah disiapin Dedoy terus Dzaky dimandiin Abi is pakai air hangat. Semua mandi dan ganti baju bersih. Terus menikmati teh hangat buatan Titi Ya. Dzaky pun langsung “nginthilin” Titi Ya kemana-mana. Bobok malam pun maunya sama Titi Ya. Hihi. Ciyeee, yang kangennya sudah terobati.


Ahad siang, saya dan Abi is bersiap pulang ke Semarang. Ahad malam Abi mau ada rapat. Waktu itu pun kami mendapat kabar tentang kondisi Pak Gik (bapaknya Pakde Hengki) plus info yang membuat kami cukup syok adalah hasil rapid antigennya positif. Beliau ada riwayat perjalanan dari menghadiri ngunduh mantu anaknya besan ke Purwodadi. Sepulang dari acara tersebut beliau ngedrop bahkan keluarga besan pun banyak yang ngedrop, termasuk ayah mertuanya Mas Lana (anak bungsunya Pak Gik) yang waktu ke Purwodadi semobil dengan Pak Gik. Ayah mertua Mas Lana sejak hari Jumat dirawat di Ken Saras dan hasil tesnya juga positif Covid. Beliau komorbid. Ya Rabbi…

[*]


“Dek Ah, Umma sama Abi nanti pulang Semarang lho, ya. Dek Ah di Giyi dulu sama Titi, Dedoy sama Dewid juga. Bersikap baik ya, nurut sama Titi dan semua,” pesan Abi is.

“Baiklaaaaah,” jawab Dzaky dan mereka pun uyel-uyelan bersama. Hahaha.


Dzaky dan segala keseruannya di Wonogiri saya posting di WA story atau IG @umma.dzakydna

Saat mobil kami mulai jalan, anaknya pun melambaikan tangan, melepas kami dengan ceria. Kami pun percaya, Dzaky bakal aman dan nyaman di Wonogiri Bersama Titi Ya, Dedoy, dan Dewid.

Ini kali ketiga kami tinggalkan Dzaky di Giyi dalam waktu cukup lama. Yang pertama dulu waktu masih masa nyapih dan saya harus ke Makassar 4 hari 3 malam. Yang kedua setelah Ahha Wok meninggal, kami sempat mengizinkan Dzaky untuk stay di Wonogiri dulu sepekan. Dan ini yang ketiga.


Sehat dan bahagia selalu di Giyi ya, Dzaaaak.


Malam harinya sebelum saya dan Abi tidur. Abi is bilang, “sepi ya, biasanya Dzaky di sini.” (sambil nata bantal yang biasa Dzaky pakai). Wkwkwk.


[*] [*] [*]


Senin, 11 Januari 2021

Senin sekitar jam 10-an ada berita duka di grup Keluarga Klaten, mengabarkan kalau ayah mertuanya Mas Lana meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… Semoga husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan terbaik.


Hari itu pula saya mendapatkan kabar dari Mas Sis kalau Mas Juwarno (suami kakak ipar saya yang no.3) dilarikan ke RSUD Ambarawa karena sesak nafas. Hasil rapid antigennya pun positif. Mas Sis pun segera menghubungi Mbak Desi dan memintanya ke Klinik Mitra Umat untuk rapid antigen. Ya, karena Sabtu-Ahad Mbak Desi dan Mbak Riza sempat menginap dan berada di Karangjati. Selain itu, Mas Juwarno sudah meriang selama beberapa hari. Mbak Desi pun sempat tidak enak badan selama 3 hari dan 3 hari itu pula dia tidak masuk kerja. Mbak Riza pun sempat mengeluhkan batuk dan pilek. Bisa jadi mereka senasib karena tidur satu kamar saat di Meranti maupun di Karangjati.


Rencana  saya untuk rebahan sejenak dan tidur siang pun bataaal. Senin itu menjadi Senin yang super hectic dan deg-degan. Mas Sis telepon lagi mengabarkan kalau hasil rapid antigen Mbak Desi positif. Mas Sis segera menghubungi Mas Puji (kakak no.2) dan membuat keputusan kalau semua yang interaksi sama Mbak Desi segera rapid antigen. Saat ini, Mbak Desi dan Mbak Riza tinggal dengan Akmal dan Azfa (anaknya Pakde Puji dan Bude Ani) di Meranti karena Pakde Puji dan Bude Ani mendapatkan amanah mutasi (kantor pajak) di luar kota dan luar pulau.


Mbak Riza sejak pagi sudah berada di Karangjati untuk menemani Rafif karena ditinggal Bude Ju nganterin Pakde Ju ke RS. Kami pesan ke Mbak Riza pokoknya selama di rumah wajib pakai masker karena di rumah ada Mbah Kakung dan Mbah Putri (orang tua Pakde Ju).


Jelang Asar, saya, Mas Sis, Azfa, dan Akmal berangkat ke Klinik Mitra Umat. Kami mendaftar untuk rapid antigen. Sebelumnya, kami diperiksa BB, TB, tensi, dan saturasi oksigen. Oh ya, sebelum ke klinik, saya sempat cerita ke Mamiko kalau mau rapid antigen. Mamiko ngasih tips:

“Bayangin aja kamu lagi ngupil tapi kejeron.” Kurang lebih rasanya kayak gitu. Hehe. Ngupil kejeron, Gaeees. Selain itu, doi juga ngasih tips untuk bawa air putih hangat jadi usai rapid bisa lebih enakan.


Saat cek tensi, tensi Azfa dan Akmal tinggi: 140 dan 138. Mereka memang terlihat panik dan takut. Sebagai Om dan Tantenya, kami pun mencoba menenangkan. Dengan selfi jarak jauh juga ngobrol-ngobrol gayeng. Mbak Desi juga masih nunggu di dekat ruang obat. Menunggu hasil kami juga dengan deg-degan.



Urutan pertama Mas Sis, lalu saya. Saya mencoba untuk rileks, santai, banyakin zikir. Rasanya memang aduhai sekali. Tapi lebih aduhai saat kontraksi, kok. Hihi. Sempat ngrasa agak mual usai rapid terus minum air putih hangat, alhamdulillah lebih enakan. Kalau Akmal selesai rapid, air mata bercucuran dengan sendirinya tapi bukan bermaksud nangis kesakitan. Respon sesaat saja. Kalau Azfa malah sempat gagal di colokan pertama karena dia tiba-tiba kaget terus jadi berdarah. Ganti lubang hidung yang kiri deh yang dicolok.


Selesai rapid, kami salat Asar. Berdoa sungguh-sungguh sama Allah. Saya tekankan ke anak-anak untuk ridho dan ikhlas apapun nanti hasilnya. Saya sendiri juga deg-degan karena kondisi sedang hamil trimester pertama. Tapi, berusaha keras untuk pasrah. Saya hanya memupuk keyakinan, “everything gonna be OK”.


Azfa sempat memprediksi, “kayake aku deh Tant yang hasilnya positif, kan aku selama ini tidur sama Mbak Desi n Mbak Riza, bahkan sejak mereka sakit dulu,” ucap Azfa mencoba menenangkan dirinya sendiri. Mungkin itu cara dia menyiapkan diri apapun hasil tesnya nanti.


30 menit berlalu, saya dipanggil ke ruang obat. Hasilnya sudah di tangan. Satu di antara kami hasilnya POSITIF, yaitu Akmal. Abi is orang pertama yang saya kasih tahu. Setelah selesai membayar, saya ngobrol dengan Desi, Akmal, dan Azfa. Sebelumnya saya motivasi dulu mereka, kalau ini semua sudah bagian dari skenario Allah yang harus kita jalani bersama.


Ketika saya sampaikan bahwa hasil yang positif itu Akmal, justru Azfa yang menangis sesenggukan. Dia sendiri nggak menyangka justru adik kesayangannya yang positif. Setelah suasana lebih tenang, saya pun membuka pembicaraan lagi. Mas Sis sudah melesat pergi karena ada panggilan rapat penting.


“Sekarang, Mbak Desi sama Akmal pulang ke rumah Meranti naik motor. Sampai rumah segera mandi dan ganti pakaian bersih. Selama di rumah tetap pakai masker, ya. Untuk keperluan makan, camilan, vitamin, insya Allah, nanti diatur sama Om Sis,” terang saya.


“Oh ya, tadi Om Sis juga ngasih tahu, Abi sudah ndaftarin Mbak Desi sama Akmal untuk swab PCR besok di Cito. Untuk jamnya nanti dikabari Om Sis, ya. Nah, untuk Azfa, karena hasil rapidnya Mbak Desi dan Akmal positif sedangkan kamu, Om Sis, dan Tante Norma negatif, kamu sekarang ikut Tante pulang ke Jati. Selama Mbak Desi dan Akmal isoman, kamu jadi anak asuhnya Tante,” kata saya sambil nge-pukpuk Azfa yang kelihatan banget masih syok.


“Sekarang, nggak penting mikirin siapa menularkan siapa, tertular dari mana, dan lainnya. Karena detailnya tentu saja Allah yang lebih tahu segalanya. Tugas kita sekarang ikhtiar untuk sembuh dan sehat. Mbak Desi dan Akmal saling memantau ya, jika ada keluhan apapun segera laporkan ke Om Sis atau Tante Norma. Kalian berdua tidak usah panik, nggak usah mikir macem-macem. Harus ikhlas. Buat hati kalian selalu bahagia. Insya Allah imunitas tubuh bakal selalu terjaga.” Obrolan sore itu pun saya akhiri. Kami segera kembali ke tujuan pulang masing-masing. Mbak Desi dan Akmal ke Meranti, saya dan Azfa ke Jati.

[*]


Di sisi lain, ada kelegaan luar biasa dalam hati saya dan Mas Sis karena hasil rapid antigen kami negatif. Soalnya kan kami sempat ke Wonogiri. Alhamdulillah, insya Allah keluarga Wonogiri aman. 


Selama proses dari siang hingga sore itu, Bude Ani dan Pakde Puji pun memantau dari kejauhan. Saya selalu berkirim kabar kondisi anak-anak sejak awal mau tes hingga hasil tes itu keluar. Bagaimanapun juga hati orang tua mana yang tak khawatir dengan kondisi putra putrinya di masa seperti sekarang ini. Sedangkan amanah negara membuat mereka harus terpisah jarak dan waktu, namun insya Allah selalu dekat dalam doa.


Selama isolasi mandiri, Akmal dan Mbak Desi pun dipantau oleh pihak Puskesmas dan mendapatkan kiriman vitamin ke rumah. Hari Selasa, Akmal dan Mbak Desi melaksanakan tes Swab PCR di Lab Cito dikawal Mas Sis. 

[*]


Hari-hari setelah Senin itu, hasil rapid antigen Mbak Riza juga positif. Dia pun isoman di Karangjati. Pak Gik akhirnya diopname di RSIA Sultan Agung karena saturasi oksigen rendah. Terima kasih Mbak Ani (ponakan, kakak Mbak Desi) yang membantu mengurus kamar dsb karena saat ini Mbak Ani mendapatkan amanah sebagai perawat bangsal Covid di RSI Sultan Agung. Keluarga besar Pakde Hengki pun melakukan rapid antigen. Pakde Hengki, Ibuk, dan Tata (cucu Pak Gik) reaktif. Mereka pun isolasi mandiri, dipantau oleh Puskesmas.


Bude Win alhamdulillah, hasil rapid antigennya negatif. Meski begitu, terpaksa harus pisah rumah dengan Pakde Hengki. Bertiga saja di rumah sama baby Rania dan Mas Raihan. Bakoh dan strong selalu ya Budeee… (Pengen rasanya meluk setiap saat plus bantuin momong). Tapi saya yakin, Bude Win bisa menjalani episode kali ini dengan sukses dan happy ending. Pokoknya banyak doa terbaik selalu untukmu. 

[*]


Hari-hari setelah Senin itu menjadi hari yang sibuk.  Keluarga kami yang tergolong “aman” dan memungkinkan untuk tetap bisa wira-wiri. Jadi, Mas Sis yang sering mobile untuk memantau keperluan keluarga Bude Win, keluarga Pakde Hengki, juga keperluan Akmal dan Mbak Desi.  Tentu saja dengan protokol kesehatan yang ketat. Cuci tangan pakai sabun, langsung mandi (setiap kali Mas Sis ke luar rumah, saya selalu menyiapkan baju bersih di dekat kamar mandi, jadi ketika pulang bisa langsung bersih-bersih badan). Selain itu, kami pun terus memantau kabar kesehatan Pak Gik juga Pakde Ju dan keluarga Karangjati.


Pakde Puji dan Bude Ani hari Jumat malam pulang ke Semarang. Meski mereka harus menginap di hotel, tapi setidaknya membuat hati mereka sedikit lega karena bisa berjumpa dengan Azfa dan Akmal meski dari kejauhan. Setiap kali mau pulang ke Semarang atau kembali ke Kalimantan, Bude Ani selalu Swab PCR karena sudah jadi syarat mutlak untuk bisa terbang. Pokoknya semua dijalani dengan ikhlas asal bisa melihat kondisi anak-anak. Waktu itu, Pakde Puji dan Bude Ani juga kirim stok kebutuhan dapur, aneka suplemen, vitamin C, buah, dan macam-macam untuk keperluan kami juga anak-anak.


Dengan kondisi saat ini, saya kembali bersyukur posisi Dzaky ada di Wonogiri. Biasanya kan dia geger nginthilin Abi is. Setidaknya pikiran Abi is pun bisa lebih fokus menghadapi situasi yang tengah terjadi pada keluarga besar kami.


Oh ya, terkadang saya bikin handslettering suka-suka trus ngetag para ponakan di Instagram dengan tujuan menghibur mereka. Hihi. Videocall-an bareng-bareng saling menyemangati dan mendoakan. Pokoknya sebisa mungkin kami menciptakan suasana yang seru dan menyenangkan.


Persembahan tembang untuk para ponakan tercinta: “MELUKIS SENJA” (yang dipopulerkan oleh Budi Doremi)



Melukis Senja

Aku mengerti
Perjalanan hidup yang kini kau lalui
Ku berharap
Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang
Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah
Biar ku menemanimu
Membasuh lelahmu


Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa


Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia


Aku di sini
Walau letih, coba lagi, jangan berhenti
Ku berharap
Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang
Menaklukkan hari-harimu yang tak indah
Biar ku menemanimu
Membasuh lelahmu


Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa


 

[*]

Tak terasa, 12 hari Azfa menemani hari-hari saya selama Dzaky di Wonogiri. Benar-benar Allah sudah mengatur jalan cerita kehidupan ini dengan sedemikian rupa. Selama Azfa jadi anak asuh saya, kami tiap pagi masak untuk sarapan yang nantinya juga dikirim ke Meranti untuk Akmal dan Mbak Desi.


Banyak kejadian absurd saat bersamanya, termasuk obrolan gaje saat lipat-lipat baju, saat kita nonton film Ayat-Ayat Cinta 2, saat main cat air bareng, dan banyak lagi. Saat dia ngezoom sekolah, saya pun “kerja” di depan laptop.


“Kalau capek ngetik, Tante nonton film saja atau tidur,” begitu pesan Azfa. Hahaha. Dasar kau!


[*]

Alhamdulillah, kini semua sudah pulih kembali. Pakde Juwarno sudah dinyatakan sehat dan bisa keluar dari rumah sakit. Demikian halnya dengan Pak Gik. Para ponakan pun sudah menyelesaikan isolasi mandiri mereka dan sudah mendapatkan surat pernyataan sehat dari Puskesmas.


[*]


Hingga detik saya menuliskan barisan aksara ini ditemani denting gerimis yang sungguh syahdu, rasanya tak henti saya melafalkan syukur atas apa yang telah Allah tetapkan. Saya yakin, inilah cara Allah mencintai kami. Cara Allah membuat kami saling menguatkan rabithah cinta atas nama keluarga. Saya sangat bersyukur, kami bisa saling support satu dengan yang lain. Saling mengingatkan dan menguatkan untuk semakin mendekatkan diri pada Sang Penguasa Alam Semesta. 


Yuk, jangan pernah lelah untuk melangitkan doa semoga pandemi ini segera sirna dan kehidupan bisa pulih kembali seperti sedia kala. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kekuatan pada kita semua. Aamiin.

 

Selasa, 26 Januari 2021.



 

 

Monday, January 04, 2021

TETAP DI RUMAH SAJA, LIBURAN SERU BERSAMA DNA

Monday, January 04, 2021 0 Comments

 


 

Alhamdulillah, 21-23 Desember 2020 kemarin telah terlaksana DNA Writing Holiday #12 dengan peserta berjumlah 51 anak. Serunya mereka berasal dari Sumatera Utara hingga Papua. Ibarat kata peserta se-tanah air, dari Sabang sampai Merauke. Ini kali pertama DNA mengadakan kegiatan liburan secara online. Mau tidak mau, kami pun harus beradaptasi  dengan model pendidikan di era pandemi, yaitu dengan pembelajaran online atau daring (dalam jaringan).

 

Dulu, ketika DNA Writing Holiday 1-11 yang terlaksana secara offline, kami hanya berkegiatan di wilayah seputar Semarang. Saat sesi ke-9 kami pernah membagi lokasi menjadi 4 titik: Banyumanik, Ungaran, Pedurungan, dan Ngaliyan. Tetap saja hanya seputar Kota Semarang dan Kabupaten Semarang. Hikmahnya karena pandemi ini sehingga pembelajaran dilakukan secara online, jangkauan wilayahnya pun menjadi lebih luas, dari Sabang sampai Merauke. Alhamdulillah. Pasti selalu banyak hikmah.

 

Nah, selama 3 hari kami nge-zoom kemarin dengan agenda:

Hari #1:

  1. Tema khas KKPK
  2. Bedah karya KKPK
  3. Proses kreatif penulis KKPK
  4. Hunting ide

Hari #2:

  1. Unsur cerita pendek
  2. Riset tulisan

Hari#3:

  1. Cara asyik menulis cerita
  2. Editing dasar
  3. Rahasia tembus penerbit

 



Pada hari pertama, kakak-kakak mentor yang terdiri dari Kak Norma, Kak Etika, dan Kak Siti melakukan perkenalan dan memberikan motivasi tentang manfaat menulis. Selain itu, karena output kegiatan ini adalah naskah siap kirim ke KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) di Penerbit Dar!Mizan, makanya kami menjelaskan segala hal tentang KKPK. Anak-anak sangat antusias saat menyimak. Bahkan diskusi kami pun berlangsung sangat seru. Pada hari pertama anak-anak mendapatkan tugas untuk memilih satu tema dari 10 tema khas KKPK.

 


Pada hari kedua, zoom class sempat mengalami kendala teknis. Anak-anak sempat harus berpindah ruang kelas. Tapi tak masalah. Semuanya tetap happy dan berlangsung seruuu. Hari kedua, anak-anak belajar tentang unsur intrinsik cerita pendek. Mulai dari tokoh sampai meramu konflik. Selain itu, anak-anak juga praktik menulis kalimat percakapan (dialog). Selanjutnya, mereka juga belajar cara membuat kerangka karangan dengan metode BMA dan teknik melakukan riset atau penelitian kecil-kecilan untuk memperkuat tulisan mereka. Kami memberikan contoh cerpen karya Kak Khansa yang bisa mereka baca sekaligus pelajari.

 


Pada hari ketiga, kakak mentor mengulang kembali penjelasan mengenai riset untuk memperkuat tulisan juga teknik menulis cerita secara utuh dari awal hingga akhir. Kakak mentor juga menjelaskan tentang penggunaan tanda baca, penggunaan huruf kapital, dan teknik editing dasar. Semua sangat antusias memperhatikan dan sudah tak sabar untuk segera menuangkan ide-ide mereka dalam sebuah cerita pendek.

 

Pandemi Corona ini memberikan wajah baru dalam metode pembelajaran. Semuanya kini serba online. Untuk kegiatan DNA ini pun, peran orang tua sangat luar biasa. Karena di lingkungan keluarga, budaya literasi itu pertama kali ditumbuhkan. Saya pun optimis, anak-anak bisa mendapatkan manfaat positif dari aktivitas menulis. Mereka akan belajar mengasah kepekaan emosi, mengasah kejelian panca indera, mengasah imajinasi, melatih kreativitas, dan banyak lainnya. Tentu saja untuk mewujudkan ini semua, dukungan orang tua yang paling utama. Alhamdulillah, banyak orang tua zaman now yang semangat untuk belajar parenting.

Para orang tua kini semakin sadar bahwa pengasuhan itu butuh ilmu tidak hanya sekadar pakai naluri semata. Mereka pun kini semakin “melek literasi”. Ya, memang seharusnya seperti itu. Karena orang tua adalah “sekolah pertama dan utama” untuk mendidik anak-anaknya.


Semoga pandemi segera usai, dan pembelajaran tatap muka bisa dilangsungkan lagi. Itu salah satu harapan saya di 2021 ini.