Jejak Karya

Jejak Karya
Showing posts with label corona. Show all posts
Showing posts with label corona. Show all posts

Thursday, October 01, 2020

BELAJAR DARI PERJUANGAN HIDUP BUDE SUJI

Thursday, October 01, 2020 0 Comments

 


Sosok Ibu Luar Biasa itu Bernama Sujiyati

Saya memanggil beliau Bude Suji. Awal kenal, saat saya mencari tukang pijat untuk Dzaky yang waktu itu masih berusia 2 bulan. Saya mendapatkan nomor HP Bude Suji dari Mbak Sesil, teman di grup HSMI. Ternyata, Bude Suji adalah pedagang jajanan keliling yang setiap jam 7.30 lewat depan rumah.  Beliau selalu membawa anak perempuannya di boncengan sepedanya. Saya pernah beli dagangan beliau, tapi nggak kenalan lebih dekat apalagi tahu kalau ternyata beliau pintar memijat. Singkat cerita, Bude Suji menjadi tukang pijat langganan saya dan Dzaky. Pijatannya enak. Cocok lah.


Saya pernah mendapatkan cerita dari Bude Suji tentang perjalanan hidupnya. Suami beliau meninggal dunia saat Bude Suji hamil Puri (anak kedua, yang selalu beliau ajak berdagang sejak bayi). Suami beliau meninggal sangat mendadak. Kemungkinan besar karena angin duduk atau serangan jantung. Waktu itu, usia kehamilan Bude Suji memasuki usia 7 bulan.


Usai salat Magrib suami Bude Suji mengeluhkan kurang enak badan terus rebahan di kamar setelah dikerikin Bude Suji. Setelah azan Isya berkumandang, Bude Suji ingin membangunkan beliau untuk menunaikan salat berjamaah di masjid. Tapi, beliau tidak bangun dan tidak bergerak sama sekali. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga suami Bude Suji husnul khatimah.


Kepergian sosok tercinta yang begitu cepat membuat Bude Suji seolah kehilangan separuh jiwanya. Tapi, satu hal yang membuat Bude Suji tetap optimis adalah Sifa (anak pertama yang berusia 10 tahun waktu itu), dan janin yang ada dalam kandungannya.


Alhamdulillah, anak kedua lahir dengan banyak rezeki tak terduga yang Bude Suji dapatkan. Padahal waktu itu, uang di dompet Bude Suji hanya tinggal 100.000 saja untuk persiapan persalinan. Qadarullah, banyak sosok berhati mulia yang dikirimkan Allah untuk membantu beliau.


Perjuangan Mengadu Nasib

Satu bulan usia bayi Puri, Bude Suji mendapatkan kiriman uang 300.000 dari adiknya yang tinggal di Jakarta. Rencananya uang itu akan Bude Suji gunakan untuk ke Jakarta. Kebetulan semasa tinggal di Jakarta dulu dengan mendiang suaminya, Bude Suji pernah beli sebuah kios di pasar. Modal nekat Bude Suji ingin mengubah nasib dan melupakan sejenak kesedihan karena tiada lagi sang pendamping hidup.


Dengan mengajak bayi Puri dan Sifa, mereka naik bis ke Jakarta dari Klaten. Dengan uang saku terbatas, Bude Suji hanya bisa membeli 1 tiket. Sifa terpaksa duduk di bawah. Saat perjalanan itu, Bude Suji duduk dekat penumpang lain yang bernama Mas Ari.


“Bu, anaknya duduk di kursi saya saja. Kasihan. Saya yang duduk di bawah saja,” ucap Mas Ari. Laki-laki muda berhati malaikat itu menawarkan kursinya untuk Bude Suji. Sepenuh hati Bude Suji menolak, tapi Mas Ari terus memaksa.


Bude Suji lantas mengobrol banyak hal tentang kisah hidupnya. Mas Ari sebenarnya ingin membantu banyak, salah satunya ingin membelikan satu tiket lagi untuk Sifa, tapi Mas Ari juga habis kena musibah. Ibunya baru saja meninggal dan dia sedang mencari pekerjaan.


Malangnya, kondektur bis itu sangat galak. Dia memaki-maki Bude Suji. Tangisan Puri semakin membuatnya murka. Padahal sopir dan penumpang lain tidak mempermasalahkan. Singkat cerita, Bude Suji diturunkan paksa di Terminal Banyumanik. Dengan linangan air mata, Mas Ari membuka dompetnya. Ia mengeluarkan selembar terakhir uang yang dia punya. Uang 50.000 itu berpindah tangan ke Bude Suji. Masya Allah. Sungguh mulia sekali hatinya. Mas Ari sampai menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah perlakuan kondektur yang sudah mirip orang kesetanan itu. Benar-benar tidak punya hati. Penumpang lain pun hanya bisa menyaksikan dengan  pilu.


Bude Suji lantas mencari tempat duduk di terminal Banyumanik. Petir menggelegar. Sebentar lagi akan turun hujan. Ada sosok sopir taksi yang mendekati Bude Suji dan mengajaknya mengobrol. Bude Suji pun menceritakan semua yang baru saja terjadi.


Hujan pun turun. Bude Suji diminta sopir itu masuk ke dalam taksinya. Lalu, Bude Suji diantar mencari kos-kosan di daerah Gang Mangga.


“Kalau ingin pulang Klaten atau Solo lebih baik besok saja,” pesan sopir itu.

Namun, Bude Suji berpikir kalau toh besok dia pulang, pasti orangtuanya sangat sedih dan kepikiran macam-macam. Lebih baik mencoba bertahan hidup di Semarang. Sang sopir itu pula yang membayar kos-kosan Bude Suji juga memberi uang saku kepada Puri dan Sifa masing-masing 20.000 rupiah. Sejak malam itu Bude Suji tinggal di kos-kosan itu. Bersyukur Bude Suji dipertemukan dengan orang-orang berhati malaikat.


(Kata Bude Suji, sang sopir itu dan anak istrinya kini sudah seperti keluarga sendiri bagi Bude Suji. Silaturahim mereka sangat terjaga. Masya Allah).


Menjadi Pedagang Keliling

Rezeki tak terduga pun datang kembali. Saat sang pemilik kos menyampaikan akan memberikan Bude Suji modal untuk berdagang. Bude Suji juga dibelikan peralatan untuk memasak. Masya Allah. Bude Suji lalu berjualan utri (lepet singkong) sambil menggendong Puri saat Sifa sudah mulai sekolah. Rezeki dari Allah lewat tangan sang pemilik kos membuat kehidupan Bude Suji menjadi lebih baik. (Beberapa tahun kemudian suami sang pemilik kos meninggal dunia. Sang istri juga jadi gampang sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal dunia. Bude Suji yang akhirnya merawat jenazahnya karena anak-anaknya jijik akibat luka diabetes yang diderita ibunya. Semoga husnul khatimah.)


Kala itu, ada yang kemudian memberikan stroller bayi yang tidak dipakai kepada Bude Suji. Bude Suji manfaatkan untuk mendorong Puri dan bagian belakang untuk membawa dagangan. Dagangan Bude Suji pun semakin variatif, sampai akhirnya bisa beli sepeda bekas dan membuat gerobak kecil.

 

Sampai sekarang, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari juga membayar uang sekolah Puri dan Sifa, Bude Suji masih suka menerima pesanan snack dan kue-kue tradisional, kadang sayur matang dan lauk pauk. Namun sudah tidak berkeliling lagi. Bude Suji titipkan pada penjual sayur yang berjualan dekat kontrakan beliau. Penghasilan tambahan lain, Bude Suji dapatkan dari hasil memijat. Beliau tukang pijat khusus bayi, anak-anak, dan wnaita saja.


Akhir tahun 2019 kemarin, Bude Suji merawat ibunya yang terkena stroke. Awalnya, sang ibu ikut adiknya Bude Suji yang tinggal di Jakarta. Tapi, ibu tidak betah dan memilih ikut Bude Suji. Tentu saja, Bude Suji harus memutar otak cara mengatur duit setiap harinya karena beliau tidak punya penghasilan tetap. Ibunya Bude Suji harus menjalani terapi setiap pekan di Rumah Sakit Banyumanik, juga untuk menebus obat yang biayanya tidak sedikit. Tapi, Bude Suji selalu yakin, Allah tidak akan memberikan ujian kepada hamba-Nya di luar kesanggupan sang hamba. Bude Suji sangat memegang teguh keyakinan itu. Sedikit demi sedikit Bude Suji mulai menyisihkan penghasilannya khusus untuk biaya pengobatan ibu. Beliau juga berpikir bagaimana caranya mendapatkan penghasilan tambahan.


Apalagi sejak pandemi Corona bulan Maret silam, aktivitas pijat Bude Suji benar-benar berhenti. Bude Suji lalu mencoba berjualan lumpia dan pisang karamel. Alhamdulillah, laris manis. Beliau juga sempat menjadi reseller produk Ratu Pawon-nya Mbak Desi. Status Sifa dan Puri yang yatim juga sering mengetuk hati para dermawan. Yang jelas, Bude Suji sering mendapatkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Ya, beliau selalu rutin salat Duha dan Tahajud, juga selalu ringan tangan untuk membantu orang yang membutuhkan meski dalam kondisi terbatas sekalipun.


Bude Suji baru berani menerima panggilan pijat lagi bulan Agustus kemarin. Tentu saja dengan memerhatikan protokol kesehatan. Masya Allah, saya sangat bersyukur bisa Allah pertemukan dengan sosok seperti Bude Suji. Dari beliau, saya belajar banyak hal tentang nilai-nilai kehidupan.


 

Puri - Bude Suji - Sifa


Pekan kemarin saat memijat Dzaky dan saya, beliau bercerita kalau akhir-akhir ini kakinya sering sakit. Beliau juga sering pusing karena punya darah tinggi. Saya sampaikan ke beliau jangan sampai kecapekan dan telat makan. Sehat selalu nggih Bude Suji. Semoga Allah selalu memberikan rezeki yang berkah berlimpah untuk keluarga Bude Suji.


 [*]

Jaga Kesehatan Selalu, Ya!

Di saat kondisi pandemi seperti sekarang ini, kesehatan  memang menjadi prioritas utama. Imunitas tubuh harus selalu bagus. Jika tubuh kita sehat, insya Allah banyak hal yang bisa kita kerjakan, aktivitas harian pun bisa kita lakukan dengan maksimal. Karena itu, pos keuangan untuk dana kesehatan harus diperhatikan juga.


Tidak cukup dengan bayar asuransi kesehatan atau setor bulanan lewat BPJS, anggaran dana kesehatan bisa digunakan juga untuk membeli vitamin, buah-buahan segar, juga untuk berolahraga.


Akhirnya, mari terus berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga imunitas tubuh dan kesehatan keluarga. Semoga sahabat senantiasa sehat dan terus bersemangat.


 


 

 

Tuesday, July 21, 2020

ANTI BORING SAAT PEMBELAJARAN DARING

Tuesday, July 21, 2020 0 Comments



DRAMA SCHOOL FROM HOME

School from Home alias SFH memang ada-ada saja dramanya. Mulai drama menyebalkan, melelahkan, sampai menggemaskan. Semalam, aku mengalaminya.
Di tugas Zi, ada pertanyaan:
"Apa yang akan kamu lakukan saat menemukan barang yang bukan milikmu?"
Kebanyakan anak-anak mungkin akan menjawab, "mengembalikan pada pemiliknya."
Tahu jawaban Zi apa?
"Biarkan saja siapa tahu pemiliknya datang."
Krik ... krik ....
Iya sih bener. Tapi kan ....
Saat diberi saran, dia berpendapat,
"Di soal nggak ada keterangan kita kenal orangnya, lho. Hayo gimana balikinnya? Kalau kita nggak kenal, ya mending dibiarkan. Siapa tahu orangnya nyadar barangnya ilang, terus langsung balik lagi."
Perdebatan pun berlangsung alot, hingga akhirnya aku akali dengan memberinya beberapa skenario. Jadi jawabannya nggak cuma satu karena dia tetap kekeuh dengan pendapat "biarkan saja siapa tahu pemiliknya datang."
Akhirnya dia menjawab,
1. Biarkan saja siapa tahu pemiliknya datang.
2. Dikembalikan ke pemiliknya bila tahu.
3. Diberikan kepada guru bila di sekolah.
MaasyaAllah 

***
Zia dan jawaban cerdas plus kritis anak zaman now

Gemeeees Masya Allah sama Zia, anaknya Mimi. Dulu ketemu pas masih bayi 5 hari sekarang sudah tumbuh jadi anak salihah cantik dan super cerdas. Siang ini sebelum posting tulisan di blog, aku sempat membaca postingan Mimi (Fissilmi Hamida) itu di FB. Hihi. Itu baru salah satu cuplikan drama pembelajaran di rumah. Masih buanyak drama lainnya saat pembelajaran daring yang pastinya seru abiz untuk dibahas.
***
Selalu ada hikmah di balik setiap musibah. Pandemi Covid-19 memaksa kita untuk tetap tinggal di rumah. Pada situasi sekarang ini telah terjadi perubahan mendasar salah satunya dalam dunia pendidikan. Aktivitas orang tua dan anak menjadi satu di rumah. Sementara itu, pembelajaran yang biasanya dijalani dengan bertatap muka kini melalui daring. Orang tua yang biasanya berangkat kerja ke kantor sebagian juga menjalani kebijakan WFH (Work from Home).
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, memutuskan, seluruh proses pembelajaran anak usia sekolah dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring selama masa darurat Covid-19. Awalnya, banyak bersliweran di jagad sosmed, bagaimana gagapnya para pendidik, stresnya orangtua yang mendampingi anak-anaknya belajar di rumah, dan tentunya bagaimana siswa kebingungan menghadapi tumpukan tugas yang aneh-aneh dari para pendidik yang sedang gagap. Semuanya serba kompleks karena memang semua lini dituntut untuk segera beradaptasi.
Memang tidak semua anak dapat menjalani secara konsisten pembelajaran daring karena berbagai keterbatasan. Misalnya, ketiadaan fasilitas gawai (ponsel, laptop, dan tablet), rendahnya pemahaman tentang media digital, terbatasnya kemampuan membeli pulsa, dan keterbatasan sinyal. Namun, hampir sebagian besar siswa telah merasakan pembelajaran daring (dalam jaringan). Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan tatap muka, tapi melalui platform yang telah tersedia.
Literasi Digital
Sebelum era pembelajaran jarak jauh menggunakan sistem daring, banyak orang tua yang memiliki kekhawatiran ketika anaknya memegang gawai. Kekhawatiran tersebut antara lain: anak akan kacanduan gawai, main game online sampai lupa diri, bahkan berpotensi melihat konten dewasa (pornografi) dan konten yang mengandung kekerasan. Kekhawatiran itu semakin menjadi karena nyatanya memang ada anak-anak yang terjerumus dalam penyalahgunaan gawai dan teknologi informasi tersebut, mereka lepas kontrol atau bisa jadi karena tidak ada pengawasan dari orang dewasa di sekitarnya.
dulu dan sekarang. hehe

Saat ini, anak-anak memanfaatkan gawai dan akses internet untuk proses pembelajaran. Anak-anak mulai belajar bagaimana memanfaatkan media sosial untuk tatap muka daring dengan guru sekaligus bersua secara virtual dengan teman-temannya. Anak-anak juga mengasah keterampilan TIK (teknologi informasi dan komunikasi)-nya mulai dari mengetik tugas dengan Microsoft Word, membuat paparan dengan Power Point, membuat gambar atau poster, membuat video pendek, dan keterampilan teknologi informasi lainnya.
Anak-anak juga belajar menggunakan surat elektronik, mengunduh materi, memasukkan lampiran ke dalam surat elektronik, dan memasukkan tugas ke dalam aplikasi tertentu. Mereka juga belajar mencari informasi melalui dunia maya  untuk menunjang pembelajaran.
Menurut Ibu Rita Pranawati, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pembelajaran dengan teknologi informasi pada era Covid-19 ini merupakan proses literasi digital yang tidak disadari banyak anak-anak kita. Selama ini proses literasi digital berlangsung lambat dan parsial. Namun, hari-hari ini anak-anak mengalami pembelajaran yang luar biasa untuk memahami apa itu gawai, bagaimana pemanfaatan gawai dan teknologi informasi secara baik. Anak-anak juga belajar bagaimana memanfaatkan media sosial dan aplikasi-aplikasi lain untuk mendukung pembelajaran jarak jauh yang mereka jalani. Sebuah proses literasi digital yang sangat luar biasa positif bagi anak-anak.
Masya Allah, keren sekali, ya. Jika kita mampu memetik hikmah positif karena pandemi Corona yang mengharuskan sekolah dari rumah. Demikian juga dengan kegiatan di DNA saya off kan sejak pertengahan Maret dan pembelajaran pun kami laksanakan secara daring. Banyak sekali perbedaan yang kami rasakan. Ya, anak-anak tentu saja kangen tatap muka, belajar langsung di kelas DNA, bisa bebas membaca buku dan meminjam buku di perpustakaan. Tapi untuk saat ini, sabar adalah kata kunci utama dan terus berdoa semoga semua bisa kembali normal seperti sedia kala. Aamiin.
Peran Orang tua dan Guru dalam Pembelajaran Daring
Guru memiliki fungsi yang penting agar anak dapat mengatur dan mengelola diri dalam memanfaatkan gawai dan koneksi internet. Guru memberikan tugas-tugas agar anak-anak dapat mengelola diri, memanfaatkan gawai dan internet untuk mendukung pembelajaran jarak jauh. Guru juga bertugas mengontrol aktivitas pembelajaran daring sekaligus memberikan masukan agar siswa terus memanfaatkan gawai, aplikasi, dan koneksi internet untuk mengembangkan pengetahuan.
Saat ini dengan sistem pembelajaran daring membuat guru yang gagap teknologi “terpaksa” harus belajar dan beradaptasi dengan banyak hal baru. Guru belajar untuk keluar dari zona nyaman dan harus berusaha menjadi guru kreatif  dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.
Orang tua pun memiliki tanggung jawab untuk mendampingi, memberikan masukan, dan mengawasi anak-anak dalam memanfaatkan penggunaan gawai pada era pembelajaran daring ini. Orang tua perlu membuka komunikasi yang produktif dan membangun keterbukaan agar anak dapat menyeimbangkan belajar daring dan refreshing. 
Hal itu mengingat anak mengakses internet di rumah dan tidak jarang pula di tengah-tengah belajar atau sesudah belajar anak-anak berselancar di dunia maya, bermain game, atau mengakses media sosial lainnya. Orang tua perlu mendorong anak-anak agar dapat bertanggung jawab terhadap pemanfaatan gawai untuk hal-hal yang produktif. Kemampuan mengatur diri itu akan menjadi kecerdasan emosi anak untuk menghadapi era industri 4.0.

Selain itu, orang tua juga harus dapat memenuhi kebutuhan anak dengan menyiapkan camilan bergizi, makanan dan minuman sehat untuk menunjang aktivitas belajar anak-anak di rumah. Karena biasanya anak-anak jadi gampang lapar. Hehe.
EPILOG
Prinsip pembelajaran daring harus selalu diselaraskan dengan 4 pilar pendidikan yang disusun oleh UNESCO, yaitu Learning to Know (belajar untuk mengetahui), Learning to Do (belajar untuk melakukan sesuatu), Learning to Be (belajar untuk menjadi sesuatu), dan Learning to Live Together (belajar untuk hidup bersama), maka saat ini adalah kesempatan paling tepat untuk mengatur ulang arah dunia pendidikan kita yang selama sudah tersesat jauh dari tujuan. Pada prinsipnya, belajar atau sekolah itu tidak hanya terbatas pada sekat-sekat ruang kelas saja.
Dunia pendidikan harus kembali mengajarkan cara belajar (Learning How to Learn), bukan Learning What to Learn (belajar tentang sesuatu). Dengan adanya internet peserta didik dapat belajar untuk tahu, belajar untuk melakukan, belajar untuk menjadi sesuatu, dan belajar untuk hidup bersama dengan pendekatan yang sangat berbeda di masa pra internet di mana guru menjadi satu-satunya sumber belajar. Para pendidik cukup memfasilitasi bagaimana peserta didik dapat mencari tahu sumber belajar yang dapat dipercaya, bukan hoax, dan bukan sekedar opini seseorang yang kredibilitasnya masih diragukan.
Semoga dimudahkan semuanya menjalani lika-liku pembelajaran di era Covid sekarang ini. Semoga Allah senantiasa mudahkan,yang terpenting jangan pernah lupakan adab-adab dalam belajar dan bermajelis ilmu. Semoga hari-hari kita senantiasa dalam payung keberkahan. Aaamiin.




Saturday, June 20, 2020

ERA NEW NORMAL DAN AURA POSITIF ALA DOKTER REISA

Saturday, June 20, 2020 0 Comments


Seperti saya lansir dari situs Detik.com, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperbarui data kasus virus Corona atau COVID-19 di wilayahnya. Tercatat ada 2.525 kasus positif virus Corona dan 1.033 pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal di Jateng hingga hari ini.
Dari data yang diunggah pada Kamis (18/6/2020) pukul 10.09 WIB, dari 2.525 kasus positif virus Corona di Jateng terdiri dari 1.197 orang dirawat (47,41%), 1.125 sembuh (44,55%) dan 203 meninggal dunia (8,04 persen).
Bila dibandingkan dengan data hari sebelumnya, maka jumlah kasus positif virus Corona di Jateng bertambah 141 kasus. Selain itu, jumlah kasus pasien Corona yang dirawat bertambah 85 orang, dan jumlah pasien Corona yang meninggal dunia bertambah 17 orang.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kasus pasien positif Corona semakin melonjak drastis sedangkan Pemerintah mulai melonggarkan -bahkan sebagian wilayah sudah menghapus- kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Hmm,  sudah benar-benar siapkah kita untuk memasuki era new normal? Tapi, memang banyak pertimbangan mengenai keputusan ini. Semoga bukan karena terburu-buru.
Oh ya, sepekan terakhir ini juga ada yang menarik di “dunia dalam berita” tanah air, terutama penyampaian informasi terkait perkembangan kasus persebaran Covid-19 di Indonesia, dan informasi penting lainnya. Munculnya sosok Dokter Reisa Broto Asmoro  di tengah kampanye new normal memberikan tanggapan dan respon positif netizen terkait persiapan memasuki era new normal life. Siapa sih yang tak kenal dengan Dokter Reisa? Wajah sosok anggun dan tutur katanya yang lembut ini sudah saya kenal sejak beliau menjadi host dr. OZ Indonesia bersama Almarhum Dokter Ryan Thamrin. Ada beberapa fakta lain mengenai Dokter Reisa, simak, yuk!




  • Nama lengkap dr. Reisa adalah Reisa Kartikasari.

  • Lahir di Kota Malang, 28 Desember 1985,
  • Ia memulai karier di dunia hiburan sejak masih di bangku SMA. Ia pernah mengikuti ajang pemilihan gadis sampul, masuk menjadi salah satu model di Look Models Agency, serta membintangi beberapa iklan di Indonesia dan Asia.

  • Reisa adalah seorang dokter yang menempuh pendidikan kedokterannya di Universitas Pelita Harapan dan Universitas Indonesia.

  • Setelah lulus, dr. Reisa bekerja di RS Polri Raden Said Soekanto Kramat Jati, ia banyak berkecimpung di dunia forensik. Reisa juga merupakan salah satu anggota DVI (Dissaster Victim Identification) yang terlibat dalam proses investigasi korban Sukhoi dan beberapa bom terorisme di Jakarta.

  • Tahun 2010 ia mengikuti kontes Puteri Indonesia, perwakilan dari provinsi D.I Yogyakarta. Dalam kontes nasional tersebut, ia meraih posisi juara kedua, yang memberikannya gelar Puteri Indonesia Lingkungan 2010.

  • Dokter Reisa juga mewakili Indonesia dalam kontes Miss International 2011 yang berlangsung mulai tanggal 20 Oktober 2011 dan final pada tanggal 7 November 2011 di kota ChengduTiongkok. Dalam ajang ini, Reissa mengusung isu tentang perdamaian dunia serta kebudayaan Indonesia. Ia juga mengusung tema tentang Pray For Japan, pasca kejadian Gempa Bumi dan Tsunami Jepang11 Maret 2011 lalu. Ia juga mendapatkan penghargaan sebagai Duta Energi Bersih.

  • Reisa merupakan host acara kesehatan terkemuka yaitu Dr. OZ Indonesia di Trans TV. Ia juga masih terus berpraktik di Klinik Kecantikan JMB di bilangan Jakarta Selatan.

  • Reisa menjadi anggota Bidang Kesekretariatan, Protokoler, dan Public Relations Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2018-2021.

  • Reisa juga aktif di berbagai kegiatan sosial, serta menjadi pembicara dalam seminar-seminar kesehatan nasional.

  • Reisa merupakan tante dari Brisia Jodie, finalis 15 besar Indonesian Idol musim kesembilan.

  • Reisa adalah adik kandung dari Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Dr. Dea Tunggaesti, SH, MM, pengacara Indonesia yang terkenal melalui kasus Nazzarudin ketika ia masih bekerja di O.C Kaligis.

  • Nama asli Reisa secara resmi berubah ketika ia dipersunting oleh salah satu anggota keluarga Keraton Solo yaitu Kanjeng Tedjodiningrat Broto Asmoro. Reisa menikah pada tanggal 9 November 2012, dan kini lebih dikenal dengan nama Reisa Broto Asmoro sesuai dengan nama keluarga sang suami.

  • Pada 29 Maret 2015, dr. Reisa melahirkan anak pertamanya yang diberi nama RR. Ramania Putri Broto Asmoro.

  • Tanggal 24 Maret 2018, dr. Reisa melahirkan anak keduanya yang diberi nama R. Satriyo Daniswara Broto Asmoro.

  • Pada 8 Juni 2020, Reisa diperkenalkan sebagai anggota dari tim komunikasi publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Reisa turut hadir dan menyampaikan informasi dalam briefing harian COVID-19 di Indonesia, bersama Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto.

  • Akun instagram: @reisabrotoasmoro dan akun Twitter-nya: @Reisa_BA.

Masya Allah, profil yang keren, ya! Begitu banyak pencapaian prestasi yang sudah dr. Reisa raih. Oh ya, banyak juga video yang beredar mengenai upaya-upaya pencegahan penyebaran virus Corona dan apa saja yang harus dilakukan untuk menjalani new normal life versi dokter Reisa. Seperti saat di tempat kerja, saat berolahraga (lihat di sini), dan masih banyak lagi. Tentu saja, video yang beredar ini banyak mendapatkan respon positif dari masyarakat.


Oke, saya cukupkan tulisan ini. 
Mari  terus langitkan doa, bersatu lawan Corona. 
Sudah kangen mudiiiiik, juga kangen piknik.

Jumat, 19 Juni 2020