Jejak Karya

Jejak Karya

Tuesday, November 09, 2010

For the Rest of My Life


Jika dalam hidup ini ada perpisahan, biarlah kematian yang menyambungnya. Tapi, jika dalam kematian ada perpisahan, biarlah hidup ini memberi arti yang nyata. ~memaknai “for the rest of my life” dalam ‘kaca mata minus 2.5’-nya Aisya Avicenna~

Berawal dari sebuah renungan akan beberapa bencana yang melanda Indonesia akhir-akhir ini. Tercetuslah rentetan kalimat di atas yang pada tanggal 29 Oktober 2010, rangkaian kata itu bertahta sebagai status facebook saya. “For the Rest of My Life”? Pastinya sudah tidak asing lagi dengan kalimat ini. Ya, “For the Rest of My Life” adalah judul lagu sendu yang dinyanyikan oleh Maher Zain, seorang munsyid dari Swedia. Berikut liriknya.

I praise Allah for sending me you my love You found me home and sail with me And I`m here with you Now let me let you know You`ve opened my heart I was always thinking that love was wrong But everything was changed when you came along And there’s a couple words I want to say For the rest of my life I`ll be with you I`ll stay by your side honest and true Till the end of my time I`ll be loving you.. loving you For the rest of my life Thru days and night I`ll thank Allah for open my eyes Now and forever... I`ll be there for you I know that deep in my heart I feel so blessed when I think of you And I ask Allah to bless all we do You`re my wife and my friend and my strength And I pray we`re together eternally Now I find myself so strong And there’s a couple word I want to say I know that deep in my heart now that you`re here In front of me I strongly feel love And I have no doubt And I`m singing loud that I`ll love you eternally I know that deep in my heart (For The Rest of My Life – Maher Zain)

Memang, lagu ini menceritakan seseorang yang sangat bahagia dan bersyukur pada Allah Swt karena dikaruniai seorang pendamping hidup yang begitu dicintainya. Dalam konteks kali ini, saya mencoba memaknai “For the Rest of My Life” bukan “pendamping hidup”, tapi “kematian”. Ya, “you” dalam lirik di atas adalah “kematian”. Kematian, sebuah akhir dari siklus hidup kita di dunia, sekaligus tahapan awal menapaki siklus kehidupan abadi kita di akhirat kelak.

Mencintai Kematian

Tuhan jamahlah hatiku Yang kering dan hampa tanpa kasih Atas kuasa-Mu ku terlahir Dan hanya pada-Mu ku kembali (Doa – Ungu)

Musibah tengah melanda Indonesia. Banjir bandang di Wasior, gempa dan tsunami di Mentawai, dan meletusnya Gunung Merapi adalah tiga bencana yang tengah menjadi sorotan di akhir tahun 2010 ini. Bencana itu tak hanya menyebabkan kerugian yang besar, tapi juga rasa duka yang mendalam. Duka karena kematian dan kehilangan. Berita kematian memang selalu menarik untuk diulas, terlebih salah satu kematian yang paling ‘eksotis’ di tahun 2010 ini, kematian Mbah Maridjan –juru kunci Merapi-, yang meninggal dalam posisi sujud saat wedhus gembel tengah mengamuk.

Manusia sangat akrab dengan kematian sebagaimana ia juga akrab dengan kehidupan. Mati dan hidup, dua hal yang senantiasa datang dan pergi, bergiliran. Kadang saya berhenti dan terhenyak, teringat pada orang-orang yang tidak akan lagi bisa saya jumpai di dunia ini karena telah berjumpa Sang Pencabut Nyawa. Kematian memang begitu wajar, namun tidak pernah habis untuk direnungkan.
Detik waktu terus berjalan Berhias gelap dan terang Suka dan duka, tangis dan tawa Tergores bagai lukisan (Rapuh – Opick)

Saat membaca tulisan ini, kita tentu masih menghirup segarnya udara kehidupan. Berjuta kenikmatan dan gemerlapnya kehidupan dunia masih sangat akrab dengan kita. Akan tetapi, siapa bisa memastikan bahwa hidup kita masih bertahan lebih dari satu tahun, satu bulan, satu minggu, satu jam, atau sekedar satu kali desahan nafas? Kematian bisa datang kapan dan di mana saja. Kematian tidak pernah datang terlalu cepat atau terlalu lambat.
Tak seorang pun yang memungkiri akan datangnya kematian. Meskipun demikian, dalam praktik kehidupan banyak dari kita yang tingkah lakunya menunjukkan ketidakyakinan akan datangnya kematian. Kita masih asyik bergulat dengan kemaksiatan, acuh dengan perintah dan larangan-Nya, dan tak pernah tersisa sedetik waktupun untuk merenung bahwa hidup di dunia hanya sementara.

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai hikmah hidup, bahkan menjadi rem cakram agar terhenti dari penyimpangan.

Jadikan Hidup Kita Berarti!

Idealnya dan memang seharusnya demikian, bahwa setiap aktivitas kita hendaknya berlandaskan pada niat untuk mendapatkan ridho-Nya, menempatkan cinta kepada Allah di atas segala, karena hanya dengan cinta itu yang dapat mengalahkan godaan dunia yang meraja. Cinta itu adalah cinta hakiki yang membuat manusia melihat dari sudut pandang yang berbeda, menjadikan hidupnya lebih bermakna dan lebih indah. Mencintai Allah, setulusnya, dengan sebenar-benar cinta adalah salah satu bekal kita menghadapi kematian.
Tapi, tak bisa dipungkiri! Dalam perjalanan hidup ini, hati kita kerapkali terisi oleh cinta selain-Nya, mudah sekali terlena oleh indahnya dunia, terkadang melakukan sesuatu bukan karena-Nya. Ujung-ujungnya, tak sadar bahwa kematian semakin mendekat. Kita terlalu larut dalam buaian nafsu duniawi.
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (Q.S. Ali ‘Imran [3] : 14)
Dunia memang kerap menyuguhkan kedahsyatan tipuannya. Jangan sampai kita terlena! Jangan sampai amalan baik kita tertutup oleh maksiat yang tak kita sadari. Sedihnya, saat nurani yang bersih menjadi terkotori oleh nafsu duniawi, saat ibadah hanya rutinitas belaka, saat fisik dan pikiran disibukkan oleh dunia, saat wajah menampakkan kebahagiaan yang semu.
“Dan di antara manusia, ada yang berkata : ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir’. Padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta.” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 8 – 10)
Coba tanyakan pada hatimu! Bagaimanakah kabarnya? Sedang bahagiakah? Menangis? Damai? Atau Merana?
Meski ku rapuh dalam langkah Kadang tak setia kepada-Mu Namun cinta dalam jiwa Hanyalah pada-Mu (Rapuh – Opick)

Sombongnya kita! Sering bangga pada diri sendiri, padahal sungguh tiada satupun yang membuat kita lebih di hadapan-Nya selain ketaqwaan. Padahal kita menyadari bahwa tiap-tiap jiwa pasti akan mati, namun kita masih bergulat dengan kefanaan. Taqwa? Sudah cukup layakkah kita menyandang gelar itu?!

Naudzubillah, saat tiada getar ketika asma Allah disebut, saat tiada sesal ketika kebaikan terlewatkan begitu saja, saat tiada rasa dosa ketika mendzolimi diri dan saudara yang lainnya. Raga kita memang belum mati (untuk saat ini), tapi apakah itu pertanda hati kita yang sudah mati?!

Maafkanlah bila hati Tak sempurna mencintai-Mu Dalam dada, kuharap hanya diri-Mu yang bertahta (Rapuh – Opick)

Mumpung Allah Swt masih memberi kita kesempatan untuk hidup mari persiapkan bekal terbaik. "Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Semoga jiwa kita masih memiliki cahaya cinta itu. Cinta pada Sang Penggenggam kehidupan dan kematian kita. Semoga, pada saatnya nanti kita meninggalkan dunia yang penuh goda ini, husnul khotimah pantas menjadi predikat kematian kita! Amin.

Oh Tuhan mohon ampun Atas dosa dan dosa… sempatkanlah… Aku bertobat hidup di jalan-Mu Tuk penuhi kewajibanku Sebelum tutup usia kembali pada-Mu (Akhirnya – Gigi)

Aisya Avicenna

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Salam,


Keisya Avicenna