Jejak Karya

Jejak Karya

Sunday, October 18, 2020

HAI SALIHAH, LAKUKAN TIPS INI AGAR PEKERJAAN DAN BISNISMU MAKIN SEHAT JUGA PENUH BERKAH

Sunday, October 18, 2020 0 Comments

 



Barang siapa yang di waktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri maka di waktu sore itu pulalah ia terampuni dosanya.(HR. Thabrani dan Baihaqi).

Mari sejenak kita tengok sosok mulia yang sangat menginspirasi: Khadijah binti Khuwalid, Ummul Mukminin. Siti Khadijah merupakan sosok wanita pengusaha sukses yang bisa menjalankan prinsip-prinsip bisnisnya dengan baik: bagaimana memanfaatkan modal, memilih mitra kerja, merekrut karyawan, dan—tak kalah penting—memikirkan strategi pemasaran untuk usahanya.

Kesuksesan Siti Khadijah sebagai entrepreneur inilah yang sudah semestinya di jadikan contoh oleh para muslimah di dunia Islam. Prinsip yang mendasar dari seseorang yang ingin mengawali dirinya untuk menjadi seorang entrepreneur adalah adanya keyakinan dan keinginan untuk menjadi pengusaha, yang kedua memiliki skill dan bidang usaha apa yang akan ditekuni, lalu memiliki permodalan untuk membangun usaha, yang terakhir adalah pangsa pasar.

Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena  itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.

Setelah bercerai dengan suami yang pertama, banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan Khadijah untuk dijadikan istri. Tetapi, Khadijah lebih memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang kemudian menjadi hasil usaha yang dikelolanya. Khadijah menjadi seorang yang kaya. Karena kepandaian dan kejeliannya, ia kemudian menawarkan Muhammad yang pada saat itu belumlah diangkat menjadi nabi, untuk menjual dagangannya. Kejujuran dan sikap profesional yang dimiliki Muhammad dalam berdagang, membuat kekayaan Khadijah semakin bertambah banyak.

Khadijah memiliki wajah yang cantik, berasal dari keturunan yang terhormat, memiliki martabat karena kepandaian dan kecerdasannya, dan ia juga adalah wanita yang kaya raya. Maka tidaklah mengherankan dengan kondisi yang demikian itu semakin banyak para pemuka Quraisy yang terhormat dan kaya raya ingin menjadikan Khadijah sebagai istri. Singkat cerita, semua tawaran tersebut ditolak oleh khadijah, karena hatinya telah tertambat pada pribadi yang tepercaya, jujur, profesional dalam bekerja, dan memiliki akhlak yang mulia, ia adalah Muhammad. Dan Allah menakdirkan mereka untuk menikah, walaupun pada waktu itu, umur Khadijah yang telah sampai di usia 40 tahun, kecantikannya tetap memesona Muhammad yang berumur 25 tahun.

Keutamaan Khadijah diriwayatkan sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Tidaklah Allah mengganti untukku (istri) yang lebih baik darinya (Khadijah). Dia beriman kepadaku saat orang-orang kufur. Dia memercayaiku saat orang-orang mendustaiku. Dia memberikan hartanya kepadaku saat orang-orang mengharamkan harta untukku. Dan dia memberikan aku anak saat Allah tidak memberikan anak dari istri-istriku yang lain."

Khadijah adalah sosok wanita pilihan yang Allah Swt. amanahkan untuk mendampingi Muhammad dalam menjalani tugasnya sebagai Rasul Allah.

[*]

Muslimah selalu identik dengan urusan dapur dan merawat anak. Tapi, ada jutaan muslimah memiliki talenta kuat dalam dunia usaha yang bisa meraup pundi-pundi finansial melebihi kemampuan laki-laki. Di antara mereka, tetap ada yang ingin mengurus rumah tangga (bagi yang sudah menikah), mendidik anak dan tanpa harus menjadi wanita karir yang harus masuk kantor dari pagi hingga malam.

Sayang, di antara mereka masih kebingungan menentukan keputusan. Di bawah ini ada beberapa tips dan hal-hal yang tak boleh diabaikan.


a.   Niatkan membantu keluarga

Menentukan niat adalah awal yang akan sangat menentukan perjalanan selanjutnya. Selain karena Allah Swt memberi nilai segala perbuatan berdasarkan pada niatnya, lebih dari itu niat inilah yang semenjak awal membentuk pola pikir kita sehingga nantinya mengarahkan pilihan dalam menentukan berbagai kebijakan. Berarti dia pulalah yang akan menyetir arah berkembangnya karir dan usaha seseorang.

Muslimah yang sejak awal berniat mengembangkan usaha demi ambisi kesuksesaan pribadi atau mengumpulkan kekayaan, bisa jadi akan mengorbankan banyak kepentingan keluarganya jika dirasa akan menghalangi langkahnya dalam mencapai niat awal ini. Jelas, ini tak diperbolehkan dalam Islam. Bagi yang sudah menikah, selama masih ada suami sebagai penopang nafkah keluarga, niat terbaik bagi istri untuk membuka usaha adalah dalam rangka membantu suami mencari nafkah. Dalam batas ini, maka kepentingan karir suami tetap dinomorsatukan.


b.   Pekerjaan yang aman

Kriteria ‘aman’ bagi seorang muslimah adalah manakala kondisi pekerjaan tersebut bisa disesuaikan dengan karakter fisik dan psikisnya yang khas. Mempertahankan karakter keibuan yang feminin misalnya, tetap harus dilakukan dengan cara memilih jenis-jenis pekerjaan yang diperkirakan tidak terlalu maskulin agar tidak mengikis karakter keibuannya.

Pekerjaan yang tidak harus menguras keletihan fisik akan jauh lebih baik, karena keluarga masih menunggu sumbangan tenaga dan pikiran kita di luar urusan kantor. Dan ini tak akan sukses dilakukan jika secara fisik kita sudah kelelahan.


c.    Selesaikan urusan rumah

Bereskan urusan keluarga sebelum menangani yang lain, itu prinsip yang tak boleh dilepas. Sepagi apapun meeting dijadwalkan di tempat tugas, pastikan bahwa urusan di rumah sudah tak ada masalah. Jika berencana pulang kerja agak terlambat, atau bahkan harus meninggalkan rumah lebih dari sehari, persiapkan segala sesuatu di rumah seberes mungkin. Semua itu perlu dilakukan agar keluarga tidak terlantar.


d. Dukungan anggota keluarga

Bekerja dan menuntaskan segala sesuatunya seorang diri, mustahil. Perlu dukungan dan pengertian dari orang-orang di sekitar kita. Bagi muslimah yang sudah berkeluarga ridha suami adalah di atas keutamaan yang lain. Pengertiannya terhadap masalah yang dihadapi istri bekerja menjadi teramat penting. Apalagi manakala terjadi hal-hal mendesak, seperti tugas-tugas yang luar biasa padat, yang membutuhkan waktu di luar jam kerja biasanya, atau di saat-saat keluarga membutuhkan lebih banyak perhatian seperti saat anak sakit.


***

Nah, ketika kita memilih untuk berbisnis, lalu kita memutuskan ingin memiliki online shop atau mungkin bisnis di bidang jasa, agar tetap bisa beraktualiasai dari rumah, sambil momong anak. Maka, saya punya satu tips ampuh agar keuangan pribadi/keuangan rumah tangga, dan keuangan bisnis selalu sehat. Tips itu adalah PISAHKAN ANTARA UANG PRIBADI DENGAN UANG BISNIS. Kalau suatu saat terpaksa memakai uang bisnis, maka catatlah pemakaian uang itu sebagai HUTANG. Saat ini pun saya masih terhitung belajar menerapkan tips ini.

Satu tips ini silakan dicoba dan buktikan, juga teladani sosok inspiratif seorang muslimah yang sukses berbisnis yaitu Bunda Khadijah. Salah satu hikmah yang bisa kita petik dari kisah hidup Khadijah adalah keuletannya, kesungguhannya, kecerdasan dan ketelitiannya dalam menjalankan usaha perdagangan. Tetapi, semua usahanya itu tidaklah ia jadikan semata-mata untuk kesenangan yang bersifat keduniawian semata. Sebagaimana sabda Rasulullah, Khadijah dengan rela memberikan hartanya untuk kepentingan dakwah Rasulullah. Dan hal itu, ia lakukan sampai ajal menjemputnya.

Dengan demikian, bekerja termasuk dalam ibadah yang juga bernilai pahala di sisi Allah Swt. Islam tidak menghalangi kaum perempuan untuk produktif dalam mencari karunia Allah Swt di dunia ini dengan bekerja. Bahkan, Islam menganjurkan agar kaum perempuan tidak kalah produktifnya dengan kaum laki-laki.  

Allah Swt memberikan pilihan bagi kaum perempuan, apakah ia mau memilih sebagai pekerja, perempuan karier, pengusaha, atau sebagai ibu rumah tangga. Semua itu sama baiknya. Selama ia menjaga kehormatannya, harga dirinya, dan taat pada aturan yang telah Allah Swt tetapkan. Apapun pilihannya, Insya Allah akan bernilai pahala.

Kisah Siti Khadijah, Allah Swt telah mengabadikan teladan bagi kaum wanita. Khadijah adalah perempuan yang cerdas, ibu rumah tangga yang amanah, pendidik bagi anak-anaknya, pengusaha yang sukses, istri seorang Nabi dan Rasul, dan pejuang di jalan Allah.  Dan tidaklah mungkin Allah Swt jadikan Khadijah sebagai teladan jika tidak mungkin untuk diteladani. Karena pada dasarnya, kaum perempuan adalah kaum yang mampu melakukan semua itu. Wallahu'alam.

 

 

FOKUS PADA HAL PENTING DAN BERGUNA AGAR WAKTU TERISI DENGAN PENUH MAKNA

Sunday, October 18, 2020 0 Comments

 


Bulan Oktober ini menjadi bulan yang cukup sibuk buat saya. Masa pandemi ini saya berusaha untuk tetap produktif meski waktu jadi lebih banyak #dirumahsaja. Ada beberapa kelas online yang sedang saya ikuti di bulan Oktober ini, seperti kelas menulis, kelas optimasi media sosial, kelas seni/desain, dan kelas parenting. Saya juga menjadi mentor untuk kelas penulis cilik “Rekreasi Literasi” bersama DNA Writing Club. Ada 15 anak yang ikut kelas.

 Saat ini pun saya masih terlibat dalam pengerjaan menulis naskah buku pengayaan fiksi dan nonfiksi. Kisah saya menerima tantangan menulis buku pengayaan, bisa klik dan baca di sini.

Bulan Oktober ini saya masih punya tanggungan 3 judul, sedangkan bulan November ada dateline juga 3 judul. Bismillah, semangaaat!

Dengan banyaknya aktivitas ini, apalagi juga masih punya amanah di keluarga seperti mengurus rumah dengan segala pernak-perniknya, amanah sebagai istri, juga amanah sebagai Umma-nya Dzaky. Jadi, yang menjadi tugas setiap hari adalah bagaimana saya bisa mengatur waktu dengan sebaik mungkin.

Terkadang saya merasa “kemrungsung”, membuat pikiran saya kalut dan tidak fokus, apalagi jika ada tugas yang belum saya selesaikan karena ada kejadian-kejadian unpredictable. Ketika hal itu terjadi, biasanya saya akan mengambil “jeda” sejenak. Lalu, mencoba mengevaluasi lanjut menyusun strategi. Yups, kunci utama yang saya temukan untuk mengejar ketinggalan itu adalah fokus pada hal yang penting alias menyusun SKALA PRIORITAS. Hal ini bisa membuat strees berkurang, hati saya jauh lebih plong dan pikiran menjadi lebih jernih.

Karena stress itu bisa dikelola, kata Dokter Amir Zuhdi, saat saya mengikuti sekolah neuroparenting. Orang yang sukses itu rata-rata bisa mengelola stress dengan baoik. Dengan kata lain, dia malah mampu berteman dengan stress.

Nah, dalam menetapkan prioritas, satu hal terpenting yang tidak bisa lepas dari hidup kita adalah WAKTU. Oh ya, kita memiliki jatah waktu 24 jam yang terbagi dalam tiga kategori, yaitu:

a.   Waktu lalu atau masa lampau.

Masa lalu merupakan bagian kehidupan yang pernah kita jalani. Bagian itu, merupakan mata rantai masa kini dan masa mendatang. Kehidupan masa lalu sebaiknya menjadi cermin dalam menentukan gerak langkah di masa depan. Sebab, kebaikan melangkah di masa depan tidak terlepas dari pijakan masa lalu. Waktu ibarat busur panah yang dibentangkan ke satu titik sasaran, dimana mustahil busur panah berbalik arah atau kembali lagi ke si pemanah. Artinya, dalam kehidupan ini setiap manusia mengalami fase-fase perkembangan fisik mulai sejak usia bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan masa tua yang semua fase tersebut tidak dimungkinkan kembali ke masa awal kelahiran kembali.

Firman Allah Swt. dalam Al Qur’an menjelaskan, “Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.“ (QS. Al-Hadid [57]: 16). Seiring dengan itu, Allah Swt. telah mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam putaran waktu sehingga kita termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3).

 

b.   Kedua, waktu kini.

Kita sering merindukan masa depan yang sukses dan berhasil. Kerinduan ini sebenarnya hanya fatamorgana jika hari ini kita tidak berbuat banyak dalam menyongsong masa depan yang dirindukan itu. Al Qur’an mengemukakan, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang di kerjakannya.“ (QS. Al-Baqarah [2]: 286). Ayat ini menggambarkan, betapa masa depan kita sangat di tentukan oleh apa yang tengah diusahakan. Maka, jangan berharap banyak tentang masa depan jika kita tidak sungguh-sungguh menghadapinya.

 

c.    Ketiga, waktu mendatang.

Sebagaimana disebutkan di atas, waktu adalah modal, dan mata rantai dari masa kini dan masa mendatang. Ini melahirkan makna, bahwa waktu merupakan siklus yang saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Kondisi itu juga memberi gambaran, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, sebagaimana firman-Nya: ”…Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan di usahakannya besok.” (QS. Luqman [31]: 34)

Dengan demikian, memanfaatkan waktu setiap kebaikan dalam tataran waktu merupakan bagian penting dalam menjalani proses hidup ini. Tiga tataran waktu yang kita miliki, waktu lalu, kini, dan mendatang harus menjadi pelengkap kebaikan. Bukan sebaliknya.

Ada beberapa prinsip yang sebaiknya kita pertimbangkan dalam manajemen waktu sehingga kita bisa bekerja efektif:

1.  Menyusun rencana

Sebelum membuat perencanaan, ada enam hal yang harus kita perhatikan, yaitu:

  1. Niat yang kuat.

·         Niat sama artinya dengan motivasi yang kuat. Tanpa adanya niat, kita tidak akan pernah berhasil dalam beramal.

  1. Memiliki tujuan yang jelas.

·         Tanpa adanya tujuan yang jelas, kita tidak akan fokus melangkah. Makin tidak jelas tujuan dan waktu pencapaiannya maka peluang gagalnya rencana kita akan makin besar. Dan tujuan kita melakukan amal ibadah dalam mengisi waktu-waktu kita adalah berharap ridha Allah Swt.

  1.  Buat rencana cadangan.

·         Kita pun harus selalu siap dengan segala kemungkinan tak terduga. Kita merencanakan, tapi Allah Swt yang menentukan. Karena itu, buat rencana B dan C sebagai rencana cadangan jika rencana utama mengalami kegagalan. Insya Allah, kita tidak akan kehilangan waktu untuk panik.

  1. Rencana atau program harus realistis, terukur, dan adil.

·         Hindari membuat rencana yang terlalu tinggi, tidak realistis, dan terlalu sulit dicapai. Program kita pun harus adil dan seimbang. Sebab kita harus menunaikan banyak hak, di mana setiap hak menuntut pemenuhan. Ada hak Allah, hak keluarga, dan hak akal, hak tetangga, hak badan, hak diri.

  1. Disiplin dalam rencana.

·         Sehebat apapun program dan rencana, tidak akan berarti sama sekali jika kita tidak disiplin melaksanakannya. Karena itu, jangan tergiur oleh kegiatan, kesenangan spontan, atau apa saja yang akan menjauhkan kita dari rencana yang telah disusun.

  1.  Sempurnakan setiap kali beramal.

·         Penyempurnaan adalah tahap akhir yang akan menentukan berkualitas tidak amal ibadah yang kita lakukan. Kita akan mendapatkan yang 'terbaik', jika melakukan yang terbaik pula.

 

Dengan merencanakan apa yang akan kita lakukan hari ini, kita akan berjalan di hari-hari ini dengan baik. Sehingga waktu yang terlewati akan bermanfaat sebagai amal ibadah kita hari ini. 

 

2. Fokus

Seringkali dalam bekerja kita membiarkan diri kita larut dalam beberapa pekerjaan sekaligus, istilahnya multi-tasking. Mengerjakan dua hal pada saat bersamaan bukan saja membagi perhatian kita tetapi juga membuat kita kurang fokus yang akibatnya butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Fokus dalam bekerja membuat kita lebih produktif dan mengurangi beban stress. Buat skala prioritas apabila kita harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam kurun waktu yang bersamaan.

 

 

Manajemen diri bagi seorang muslim tentu saja harus berlandaskan pada aturan-aturan yang termaktub dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Hal ini sekaligus untuk membuktikan bahwa aturan-autran dalam Islam itu bersifat kaffah (sempurna) sehingga setiap aktivitas kaum muslimin tidak lepas dari aturannya.

Sebagaimana Allah Swt. telah mewanti-wanti kita di dalam surah Al-Ashr, bahwa pada hakekatnya kita berada pada kerugian, yakni bagi orang-orang yang tidak mampu mengatur waktu dan melewatkan waktu tanpa digunakan untuk beriman dan beramal shaleh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Rasulullah SAW pernah menyebutkan tiga hal yang tidak bisa ditarik kembali yakni: anak panah yang telah melesat dari panahnya, perkataan yang telah diucapkan, dan waktu yang telah dilewati.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslimah kita wajib mengatur waktu sedemikian rupa agar setiap detik yang kita lewati berbuah pahala amal kebaikan bagi diri kita. Aamiin...




Friday, October 16, 2020

INVESTASI LEHER KE ATAS SELAMA PANDEMI

Friday, October 16, 2020 0 Comments



Tanpa terasa Oktober ini menginjak bulan ke-7 keluarnya anjuran untuk #dirumahsaja. Terhitung sejak Maret 2020, kasus pandemi Corona muncul di Indonesia. Lantas muncul pula kebijakan-kebijakan seperti work from home, school from home, social distancing, dan banyak lagi. Semuanya banyak yang berubah, semua  harus siap untuk beradaptasi.

Saya sendiri benar-benar off tidak ada kegiatan belajar-mengajar di DNA Writing Club, meliburkan kegiatan ekstrakurikuler penulis cilik di SDIT Bina Insani Semarang, off kegiatan kopdar-kopdar blogger atau workshop kepenulisan, dan banyak lagi yang kemudian semuanya hijrah ke pembelajaran yang serba online.

Kini tak asing lagi kita memanfaatkan aplikasi Zoom meeting, Google Classroom, Google Meeting, Telegram, Whatsapp group, dll untuk fasilitas dan media belajar.

Lantas, ada beberapa ilmu baru yang saya pelajari selama pandemi dan sungguh ini menjadi “investasi leher ke atas” yang sangat berharga, diantaranya:

Mengikuti Kelas Menulis Buku Nonfiksi dan Kelas Editing bersama Pak Bambang Trim

Untuk mengikuti kelas ini saya harus merogoh kocek sebesar 300.000/kelas. Mahal dan murah itu relatif. Tapi, ilmu yang saya dapatkan saat mengikuti dua kelas Pak Bambang Trim ini ndaging semua, juga aplikatif. Insya Allah, bisa menjadi bekal saya untuk menulis naskah sekaligus nanti saya ramu kembali untuk kemudian saya transfer ilmunya ke anak-anak DNA Writing Club. Insya Allah, ke depan saya ingin ikut kelas beliau yang menulis naskah buku biografi. Bismillah, nabung dulu.

Mengikuti Kelas Menulis di Sekolah Menulis Wadas Kelir (SMWK)

SMWK merupakan sekolah menulis online milik Pak Heru Kurniawan. Beliau adalah seorang pegiat literasi yang berasal dari Purwokerto. Saya sudah pernah bertemu dan ngobrol dengan beliau saat kami sama-sama mendapat penghargaan Lomba Menulis Praktik Baik Literasi Masyarakat di Makassar, 2019 silam. Luar biasa sekali sepak terjang Pak Heru yang juga dosen di IAIN Purwokerto ini di dunia literasi. Buku karya-karya beliau sudah puluhan bahkan banyak yang BEST SELLER. Saya punya beberapa buku karya beliau di Perpustakaan DNA.

Di SMWK, saya masuk beberapa kelas, yaitu

  1. Kelas menulis kisah inspiratif
  2. Kelas menulis dongeng anak usia dini
  3. Kelas menulis puisi
  4. Kelas menulis dongeng anak usia dini
  5. Kelas menulis buku aktivitas
  6. Kelas menulis cerita anak

Alhamdulillah, saya jadi belajar banyak hal keren mengenai beberapa teknik penulisan beragam genre sekaligus. Selain materi, Pak Heru juga memberikan latihan untuk dipraktikin setiap peserta. Setelah selesai, kami menyusun buku antologi bersama. Tujuannya, untuk mengikat ilmu dan publishing karya, juga bisa jadi sarana belajar dari karya orang lain. 


Masya Allah, setelah mengikuti sekolah ini, pengetahuan dan pemahaman saya mengenai beberapa teknik menulis cerita pun bertambah. Hal ini membuat saya semakin bersemangat untuk lebih produktif lagi dalam berkarya. Bismillah. Semoga semakin dipermudah dan penuh barokah. Aamiin.

Belajar Foodpreparation di Kelas PAWON

Terhitung sejak Maret itu pula saya benar-benar jarang keluar rumah. Belanja sayur order lewat tukang sayur via WA, nanti tinggal diambil dan dibayar. Setelah saya gabung di kelas Pawon, banyak ilmu baru yang saya pelajari, seperti foodpreparation. Saya mulai belanja dengan metode pekanan. Setelah sebelumnya menyusun menu dan rencana masak selama sepekan.

Di kelas Pawon, saya juga belajar bagaimana teknik menyimpan bahan masakan, seperti tahu, tempe, sayur mayur, cabai, ikan-ikanan, daging-dagingan, bumbu-bumbu, dan banyak lagi. Semua ternyata punya metode sendiri-sendiri. Tidak asal disimpan di kulkas saja, tapi ada treatmen khusus masing-masing. Masya Allah, saya merasakan jadi lebih hemat waktu, hemat tenaga, juga hemat biaya ketika menjalankan food preparation ini. Semoga bisa terus istiqomah. Aamiin.

Belajar Optimasi Blog

Selanjutnya, saya juga belajar di kelas blogging bersama ISB (Indonesia Social Blogger) bersama Teh Ani Berta, Mas Ardan (optimasi SEO), dan Mbak Ifa (kelas Canva). Masya Allah, banyak ilmu keren yang saya dapatkan. Insya Allah, membuat saya semakin semangat untuk ngeblog lagi dan mempelajari lebih detail perangkat-perangkat Blogspot. Kelas ini GRATIS! Barokallahu fiik, Teh Ani Berta, dkk.

Saya jadi ikutan ODOP juga. Ada beberapa challenge tema yang harus diposting pada tanggal-tanggal tertentu di blog. Benar-benar banyak dapat banyak pencerahan dan semakin semangat untuk menulis konten yang lebih baik dan berkualitas lagi.

Belajar Optimasi Instagram

Saya juga mendaftarkan diri di Kelas Perempuan Online (KePOin) yang Optimasi Instagram. Kelas ini berbayar.  Jujur, selama ini saya belum benar-benar mengenal fitur-fitur di Instagram. Selama ini saya hanya memanfaatkan IG untuk posting-posting foto saja sekadar mendokumentasikan foto. Tapi, setelah ikut kelas ini, saya jadi tahu banyak tentang IG, rahasia-rahasia keren untuk menjadikan IG sebagai ladang bisnis, dan banyak lagi.

Belajar Melukis dan Handlettering

Untuk kelas melukis ini berbayar. Saya belajar teknik-teknik melukis dengan watercolour bersama Kak Fitkam dan Kak Sifa. Seru sekali rasanya ketika belajar mencampur warna. Pokoknya kelas ini bisa jadi sarana refreshing dan me-time.

Kalau handlettering saya belajar secara otodidak dengan membeli buku journaling, meminjam bukunya Azfa yang handlettering, juga beli alat tulis seperti brushpen, bolpen warna-warni. Kuncinya harus banyak berlatih agar menghasilkan goresan yang semakin indah.

 

Beberapa kegiatan yang saya pelajari selama pandemi di atas, membuat saya merasa hidup saya semakin kaya akan warna. Karena belajar itu tidak mengenal usia, karena belajar itu tidak hanya terbatas di ruang kelas. Belajar itu bisa di mana saja, kapan saja, dengan cara apapun, yang terpenting niatkan semuanya hanya untuk mencari ridho Allah. Sehingga belajar memiliki nilai yang sama dengan berjihad. Karena berjihad itu balasannya adalah surga.

 




Wednesday, October 07, 2020

CARA KELUARGA KAMI MENGELOLA KEUANGAN SELAMA PANDEMI

Wednesday, October 07, 2020 0 Comments



Ada banyak perubahan mendasar yang singgah dalam kehidupan kita selama pandemi Covid-19 ini. Jam kerja kita berubah, ritme tubuh juga tentu saja berubah. Termasuk cashflow keuangan keluarga pun berubah.

 

Dulu sebelum pandemi, saya dan suami sudah bersepakat kalau uang yang saya dapatkan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya belanja yang sifatnya harian atau terkadang belanja kebutuhan dapur dan keperluan rumah tangga lainnya. Sedangkan uang penghasilan suami digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang membutuhkan alokasi dana yang lebih besar, misalnya: bayar listrik, servis mobil, servis sepeda motor, dll.

 

Sejak pandemi, saya off menjalankan aktivitas saya sebagai mentor menulis di DNA Writing Club juga guru ekskul penulis cilik di SDIT Bina Insani. Otomatis, penghasilan tambahan saya berkurang. Akhirnya, saya dan suami bersepakat untuk mengatur cashflow keuangan keluarga.


Ada beberapa hal yang kemudian kami lakukan:

  • Mengecek kondisi finansial.

Untuk mengecek kondisi finansial, kita bisa menyusun rincian pemasukan dan pengeluaran, mulai dari harian, pekanan, dan bulanan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kondisi finansial keluarga kita sehat atau tidak.

 

  • Memastikan kebutuhan pokok terpenuhi.

Kebutuhan pokok menjadi prioritas utama yang harus dibeli, seperti sembako, kebutuhan toiletris, listrik, dll.

 

  • Menyusun budget dan mengatur prioritas keuangan.

Pastikan kita dapat belajar berhemat dengan cara mengurangi pengeluaran yang tidak perlu.

 

  • Tidak panic buying

Saat awal pandemi, kita sempat berada dalam kondisi ini. Mulai dari belanja masker, hand sanitizer, vitamin C, sampai sembako. Padahal tanpa kita sadari hal ini bisa masuk kategori pemborosan.

 

  • Menyiapkan dana darurat

Tentu saja, dana darurat saat kondisi tidak menentu seperti sekarang ini wajib dipersiapan. Dana darurat dapat kita sisihkan dengan mengatur uang belanja, memangkas pengeluaran yang tidak prioritas, mencari sumber penghasilan tambahan yang nantinya kita alokasikan untuk disimpan sebagai dana darurat.

 

  • Mencari hiburan yang hemat

Selama pandemi ini, akses kita untuk bergerak sangat terbatas. Pilihan untuk tetap #dirumahsaja memang tidak bisa kita hindari demi menjaga kesehatan bersama. Tentu saja rasa bosan, jenuh, BeTe kerap menghampiri. Karena itu, jadilah wong sing solutip kalau kata Bu Tedjo. Kita bisa mencari hiburan yang hemat. Misalnya, kalau saya selama pandemi ini belajar di kelas melukis juga belajar handlettering. Manfaatnya, selain keterampilan seni saya bertambah, saya sekaligus bisa refreshing. Tentu saja, efeknya bisa meningkatkan imunitas tubuh saya karena hormon bahagia terstimu

 

  • Lebih rajin memasak dan menghindari membeli makanan dari luar.

Sebelum pandemi, dalam sehari, saya biasanya masak 1x saja. Misalnya masak untuk lauk sarapan sekaligus untuk makan siang. Sorenya, kalau nasi masih ada, tinggal beli lauk matang. Tapi, selama pandemi ini saya praktikkan apa yang telah saya pelajari setelah mengikuti kelas PAWON. Salah satunya dalam hal food preparation dan menyusun menu makan keluarga. Alhamdulillah, saya pun belajar untuk lebih rajin memasak dan menghindari membeli makanan dari luar.

 

  • Mencari sumber penghasilan tambahan.

Selama pandemi ini, saya berkolaborasi dengan keponakan yang pandai memasak membuat brand masakan olahan ayam yang kami beri nama RATU PAWON. Produknya berupa ayam ungkep, ayam goreng kremes, ayam bakar spesial, dan kremesan. Alhamdulillah, selama bulan Ramadan produk Ratu Pawon laris manis bahkan banyak yang repeat order. Kami juga sempat mengadakan program berbagi/sedekah lauk berbuka dan sahur untuk anak yatim-dhuafa dan panti asuhan. Lebih dari 300 ayam ungkep sold out. Masya Allah.

Selain itu, saya juga membuka kelas menulis online untuk anak-anak. Juga menjadi reseller buku-buku anak. Alhamdulillah dua aktivitas itu bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi saya.

 

Entah kapan, kondisi pandemi Covid-19 benar-benar berakhir dan ekonomi bisa pulih. Saat ini yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi. Yang terpenting, selalu rajin bersedekah sesempit apapun kondisi kita. Insya Allah, Allah akan memberikan rezeki kepada kita dari arah yang tak disangka-sangka. Cukup yakini saja!

 


 

Thursday, October 01, 2020

BELAJAR OTODIDAK MENJADI GURU

Thursday, October 01, 2020 0 Comments

 



“Mbak Norma, aku les lagi ya sama Mbak Norma,” kata Randi (6 SD) via telepon.

 

Randi, murid les mapel saya sejak dia kelas 3 SD. Pertemuan dengannya bermula tatkala saya ngontrak rumah di Jalan Damar Barat III. Jalan itu berhadapan dengan sebuah sekolah negeri tempat Randi belajar.

 

Siang itu, Randi diantar ibunya ke rumah saya. Ibunya cerita kalau Randi cukup tertinggal dengan teman-temannya. Nilainya di bawah rata-rata dan ibunya sering memberi label kalau Randi anak ‘nakal’ dan cukup susah diatur. Di rumah, dia tidak pernah belajar. Dia mau belajar kalau ditungguin kakaknya yang tentara. Tapi, kondisinya kan tidak memungkinkan. Kakaknya sekarang harus dinas di Solo. Randi dengan kakaknya memang selisih cukup jauh usianya, sekitar 10 tahun.

 

Singkat cerita, Randi akhirnya les privat dengan saya sepekan 3x. Butuh perjuangan untuk membersamainya belajar. Setidaknya saya punya bekal pernah menjadi tentor pengajar SD di Ganesha Operation (Solo-Wonogiri-Bogor-Semarang) selama kurang lebih 3 tahun.

 

Setelah 2 tahun tinggal di Damar, kami pindah kontrakan di daerah Jati. Randi pun bertekad tetap les ke rumah saya (DNA) meskipun harus naik angkot pulang pergi. Masya Allah. Semangat anak ini memang luar biasa. Alhamdulillah, prestasi akademiknya di sekolah juga meningkat tajam sampai kemudian dia lulus SD dan diterima di sebuah SMP pilihannya.

 

Dan yang terpenting, kala itu Randi tidak hanya belajar akademik saja. Tapi, saya tekankan padanya untuk selalu belajar menjadi anak yang baik dan salih. Terbukti, ketika bapaknya (yang kadang menjemput Randi ketika les) bilang kalau Randi suka membantu orang tuanya di rumah, mau belajar sendiri tanpa disuruh, juga mulai rajin salat. Alhamdulillah. Saya berpesan padanya, jika nanti tidak les lagi di DNA untuk benar-benar jaga sikap dan pergaulan karena memasuki dunia remaja itu banyak sekali tantangan dan godaannya.

 

Randi (paling kiri) saat les di DNA bersama teman-temannya.

Semoga Allah selalu menjagamu, Randi. Semoga kamu tumbuh jadi anak salih kebanggaan bapak-ibuk. Semoga Allah mudahkan langkahmu untuk mewujudkan impian dan cita-citamu di masa depan nanti.

[*]

 

Saya Bangga Menjadi Guru

Guru…

Tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk terjun dalam profesi ini. Namun, saya bangga menjadi guru. Profesi menjadi seorang guru adalah profesi yang ‘menantang’. Meskipun ada sebagian orang yang beropini berprofesi menjadi seorang guru adalah suatu pekerjaan yang enteng. Karena sekilas, tugasnya hanya mengajar dan mengajar. Akan tetapi, sejatinya seorang guru tidaklah hanya bertugas mengajar di dalam kelas.

 

Seorang guru juga dituntut untuk bisa memberi contoh kepada murid-muridnya, tanpa harus melihat siapa dan di mana ia berada. Untuk itu, tidak keliru jika ada pepatah yang mengatakan: “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Dalam artian, sebagai seorang guru harus senantiasa memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu sebelum memperbaiki orang lain (baca: anak didik).

 

Betapa pentingnya keteladanan seorang guru. Saya bangga menjadi seorang guru karena saya bisa terus memotivasi diri sendiri untuk melakukan perbaikan diri secara kontinyu. Bagaimana kita mengajarkan kebaikan kalau diri kita sendiri belum baik? Bagaimana kita mentransfer ilmu kalau otak kita miskin ilmu karena malas untuk belajar?

 

Jika seorang guru sudah memberi contoh yang baik, maka dengan sendirinya seorang murid akan malu untuk tidak mencontohnya. Hal inilah yang membuat kharismatik seorang guru akan tumbuh dengan sendirinya tanpa harus diminta. Karena hubungan emosional antara guru dan murid sangat berpengaruh atas pembentukan karakter anak didik.

 

Permasalahan yang muncul di negeri ini terutama dalam ranah pendidikan, bangsa ini memang sedang dilanda degradasi moral. Bangsa ini butuh dan kekurangan figur teladan yang baik. Jarang kita menemukan seorang figur yang bisa menginspirasi bawahannya (baca: muridnya) untuk memiliki kesadaran hidup menuju ke arah yang lebih baik. Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa guru yang baik adalah mereka yang bisa mengajar para muridnya menuju perubahan tingkah laku yang lebih baik.

 

Guru dan Bukan Guru

Di dunia ini hanya ada 2 profesi, yaitu guru dan bukan guru. Kita boleh kagum pada seorang dokter ahli yang mampu menyembuhkan penyakit yang kritis, juga sangat kagum kepada yang merancang sebuah jembatan panjang dengan tingkat kesulitan tinggi. Pertanyaannya, kehebatan orang-orang tersebut apakah terlepas dari peranan seorang guru? Banyak cerita tentang keberhasilan seorang anak akibat guru yang hebat, namun banyak cerita juga tentang kegagalan karena guru salah didik. Kegagalan Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Stephen Hawking dan sebagainya di sekolah, dia bayar melalui belajar sendiri, dia menjadikan alam dan ilmu sebagai gurunya.

 

Pentingkah seorang guru? Penting! Tapi guru yang mana? Yang jelas tidak ada tempat bagi guru yang “kecelakaan”, yaitu guru yang hanya manjadi guru sekadar mendapatkan pekerjaan. Namun, seorang guru profesional adalah guru dengan panggilan nurani, panggilan jiwa.

 

Mungkin pada awalnya tidak sengaja jadi guru, namun jika yang bersangkutan dengan cepat menyadari akan pentingnya peran dia sebagai guru, lalu ia bangun paradigmanya, dan dengan nurani ia melangkahkan kaki ke hadapan anak-anak didiknya. Inilah guru yang dicari, ditunggu, dipuja, dan disayang sepanjang masa. Hal inilah yang terus memotivasi saya ketika memilih “jalan” dan profesi ini.

 

Belajar Otodidak Menjadi Seorang Guru

Bassic keilmuan saya adalah scientist. MIPA murni, dan bukan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Tapi profesi menjadi seorang pengajar menjadi salah satu impian dan cita-cita saya pasca kampus. Bismillah, akhirnya saya memutuskan dan mengambil pilihan untuk mengajar di bimbingan belajar. Seperti terhipnotis oleh sebuah kalimat motivatif: 

“Menjadi Guru atau Tidak Sama Sekali”. Hehe...

 

“Menjadi guru adalah pilihan yang berani. Berani jadi guru, harus berani pula menjalani segala konskuensinya. Apabila mampu menjalaninya secara konsisten, jalan ke surga akan menunggu, jika tidak, bahaya menghadang!”

 

Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengangkat kembali pamor guru yang mulai memudar. Dan kalimat itulah yang mampu memotivasi saya untuk memantabkan hati di profesi ini.  

 

Menurut pendapat saya, modal utama jadi guru adalah “nurani”, bukan “akademiknya”. Maka siapapun itu, apapun latar belakang pendidikannya, jika tidak memiliki nurani sebagai pendidik, mohon maaf, tidak ada toleransi.

 

Pertanyaannya, “apakah latar belakang pendidikan mempengaruhi hal ini?”. Jawabannya bisa “Ya”, bisa “Tidak”. Maybe YES, Maybe NO! Artinya, latar belakang pendidikan tidaklah terlalu penting, apalagi dalam sebuah sistem pendidikan yang “tidak terarah” seperti yang kita alami saat ini.

 

Apakah hanya orang-orang yang berlatar belakang pendidikan dari Ilmu Kependidikan dan Keguruan saja yang boleh jadi guru? Idealnya memang begitu, tapi tunggu dulu! Pada dasarnya setiap manusia ditakdirkan menjadi guru bagi generasi penerusnya. Namun banyak di antara kita yang tidak menyadari hal ini, bahkan yang sudah memilih profesi jadi guru pun banyak yang tidak menyadari hal ini, sehingga dia menyia-nyiakan kesempatan berharga dalam hidupnya.

 

Jika sistem dan proses pendidikan dari awal berjalan sesuai dengan kaidahnya, yaitu membantu anak untuk menemukan potensi dirinya sedini mungkin, lalu mereka dibekali dengan sikap “belajar bagaimana belajar”, sehingga belajar menjadi bagian dari hidupnya dan pada akhirnya tidak “menyesatkan” orang dari fitrahnya, maka mereka yang memilih “GURU” sebagai PROFESI adalah orang-orang yang tepat. Bukan kecelakaan atau kebetulan jadi guru. Memilih jadi guru karena memang telah dipersiapkan oleh Allah SWT sebelum ruh ditiupkan dalam rahim.

 

Orang Tua sebagai Guru Pertama

Pembelajaran daring selama pandemi Corona ini “mewajibkan” setiap orang tua yang sudah memiliki anak usia sekolah (dari TK hingga kuliah) untuk berperan ganda sebagai guru anak-anak ketika di rumah. Kalau untuk anak yang usia SMP-SMA atau kuliah sudah bisa lebih mandiri. Namun, untuk anak-anak yang usia TK dan SD, peran orang tua masih sangat signifikan. Karena itu, perlu merefleksi diri kembali karena sejatinya orang tualah guru pertama anak-anak di lingkungan keluarga

 

Salah satu cara untuk mensyukuri kondisi sekarang yang mewajibkan kita menjadi “guru” adalah  “konsisten” pada amanah sebagai pendidik. Tujuan kita mendidik anak adalah agar anak-anak tumbuh menjadi manusia yang cerdas, berilmu pengetahuan, dan berakhlak mulia. Ukuran keberhasilan mendidik adalah terjadinya perubahan perilaku anak dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, dan tidak terbiasa menjadi terbiasa, sesuai dengan apa yang kita inginkan bersama.

 

Menjadi Guru Teladan

Sosok Nabi Muhammad kiranya bisa dijadikan contoh bagaimana agar kita menjadi guru panutan (teladan). Nabi Muhammad merupakan sosok yang digugu dan ditiru. Nabi Muhammad bisa menjadi sumber inspirasi dan teladan bagi para sahabat-sahabatnya. Bahkan sampai kini pun Nabi Muhammad merupakan panutan yang belum ada tandingannya. Maka kepada beliaulah kita harus meneladani. Dengan demikian, kita bisa menjadi guru teladan bagi anak didik kita seperti halnya Nabi Muhammad menjadi teladan bagi sahabat-sahabatnya serta umatnya.

 

Ada beberapa tips yang ingin saya bagikan untuk menjadi guru teladan:

 

❤Memiliki karakter yang kuat sebagai seorang pendidik. Bisa ditinjau dari 4 aspek: komitmen, kompeten, kerja keras, dan konsisten dalam mengemban amanah serta mampu memberikan keteladanan dari aspek: kesederhanaan, kedekatan, dan pelayanan maksimal.

 

❤ Cerdas: intelektual, emosional, dan spiritual.

 

❤Bekerja keras dengan penuh pengabdian. Menjadi guru teladan itu butuh perjuangan, pengorbanan, dan totalitas.

 

❤ Guru teladan adalah guru yang C.O.M.F.O.R.T

C = Carring = Peduli

O = Observant = Perhatian

M = Mindfull = Cermat/ teliti

F = Friendly = Ramah

O = Obliging = siap sedia/ tanggap

R = Responsible = bertanggung jawab

T = Tackfull = bijaksana

 

❤Menjadi guru teladan adalah pencapaian maksimal dari sebuah prestasi dalam menjalani suatu profesi. Jadi, mulailah terlebih dulu dengan membangun motivasi internal. Karena BERPRESTASI adalah DAKWAH! Mungkin satu hal ini bisa menjadi motivasi.

 

❤Guru teladan adalah guru yang cerdas dan sempurna akalnya, baik akhlaknya, dan kuat fisiknya. Karena dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam; dengan akhlak yang baik ia dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya; dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik, dan mengarahkan anak didiknya.

 

Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan dan meridhoi setiap langkah-langkah kita, untuk menjadi lentera yang membebaskan: dari gulita menuju pelita. Aamiin.

 

Wallahu a’lam bishowab.