Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Selamat Datang di Ruang Karya Keisya Avicenna... ^___^ Terima kasih atas kunjungannya... Semoga bermanfaat!

Jejak-Jejak Karya

Jejak-Jejak Karya

Langganan Tulisan dari Blog ini yuk!

Waktu adalah Pedang


Perempuan Cahaya di Taman Dzikir


By : Faliq


Panas matari, hujan air mata rindu
Menyemai taman dzikir, taman doamu
Mawar-mawar yang
Dia kirimkan padamu
Tumbuh merekah, hiasi sajadah
Yang terus memanjang pada sisa kala


Di taman dzikir, taman hening yang mawar itu
Kau temui ribuan perempuan cahaya
MenjelangNya memohon untuk merengkuhmu
Oh sahaya, yang resah merindu


Tlah kau tumpukan penuh awan-awan asa
Dan kau dekap pelangi mahabbahNya
Kau fana yang memanjati langit ma’rifatNya


Di taman dzikir, taman do’a dan nafasmu
Di tengah perempuan-perempuan cahaya
Kau menjaga dengan air mata
Di taman dzikir, taman do’a dan nafasmu
Di tengah perempuan-perempuan cahaya
Nyala masa yang tersisa
Demi hasrat abadiitu


Sungguh telah Dia fanakan dirimu itu
Tetapi tidak cintamu kepadaNya
Sebab di taman dzikir, doa dan nafasmu
Oh cintamu dan
Kekasih adalah baka

Tuhan, bila sujudku padaMu,
Karena aku takut Neraka
Bakar aku dengan apinya
Bila sujudku padaMu,
Karena damba Syurga
Tutup untukku Syurga itu
Namun bila sujudku demi Kau semata
Jangan palingkan wajahMu
Tuhan, aku rindu menatap KeindahanMu


[lagi senang denger nasyid ini]

DIAM…


Sesungguhnya setiap titik pada lintasan hidup kita adalah dalam rencana indahNya. Setiap lintasan, setiap persimpangan, dan setiap pilihan adalah dalam kehendak dan rencanaNya yang sempurna dan paripurna. Setiap perjumpaan, kebersamaan, dan perpisahan bukanlah ketidaksengajaan. Takdir kita adalah hasil dari bertumpuknya ketetapan yang saling berhubungan dengan sarana sebab akibat. Kita merasa memilih dengan pengetahuan dan akal kita, tapi dalam ke-Maha Tahu-anNya, semua "pilihan" adalah titik semata. Hanya titik!
Rencana dan ketetapan-Nya tidak mungkin bisa ditolak oleh siapapun, juga tidak akan bisa dihalang-halangi oleh apapun. Kita boleh saja menolak adanya malam dan siang, namun malam tetap akan menjelang, meski kita membencinya, begitu pula siang. Keduanya tetap akan datang bagaimanapun sikap kita. Kita boleh saja menolak akan musibah yang menimpa kita, tapi itu sudah menjadi skenario yang telah dituliskan-Nya, terindah untuk kita. Begitulah takdir akan terus berjalan, suka atau tidak suka. Mau atau tidak mau.
Jangan menolak apapun yang telah ditetapkan-Nya, karena kita akan binasa, bahkan iman kita akan sirna, hati kita akan kotor ternoda. Bisa saja! Jangan memberontak atau meronta, karena nurani kita akan nelangsa. Tapi, jangan pernah menyerah pada keadaan! Kita bisa berubah, asal kita mau!!! Asal kita mampu mengendalikan diri kita untuk mau membuat keadaan berubah!
Memohonlah kepada-Nya agar membuat kita ridha dengan keputusan-Nya dan sabar dengan apa yang kita alami. Penderitaan, kesalahan, dan ketersesatan adalah jalan sebab kepada rasa butuh kita, sehingga kita mau bertaubat dan berdoa kepada-Nya, menangis dan mendamba kedekatan serta perhatianNya. Bersikap tenanglah di hadapan takdir.
Diam… Bukan berarti tak bergerak untuk berubah atau mengubah!
Diam… Niscaya akan kita saksikan keajaiban-keajaiban terungkap!
Diam... Maka akan kita saksikan bagaimana Gusti Allah mengubah kita, membolak-balik diri kita dan mengurai KEINDAHAN dari balik semua yang berlaku pada diri kita...

Jakarta, 210610_17:53
Dalam sepi… dalam diam… untuk sebentuk perubahan
Ya Allah, aku ingin melewatinya setenang kepompong yang hendak berproses menjadi kupu-kupu... dalam diam menuju keindahan! HENSHIN!!!
Aisya Avicenna

Setegar Mawar


Saudariku, pasti kau tahu bunga mawar. Bunga yang sering menjadi lambang dari cinta, romantisme, bunga yang warnanya tegas, jika ia berwarna merah, maka ia akan berwarna merah darah, pekat!

Bunga mawar beraroma harum, kelopak-kelopaknya begitu tertata, banyak, dan melindungi benang sarinya dengan seksama. Mawar juga tidak mudah menggugurkan mahkota-mahkota bunganya, betapa mawar tetap bermahkota dan berkelopak meskipun mungkin bila ia dipetik dengan tangkainya dan ia diletakkan tanpa air, ia mungkin layu, tapi mahkotanya tidak gugur! Bunga itu masih lagi dilindungi kelopaknya yang tak kalah teguh. Bukan itu saja! Kau tahu, saudariku? Mawar begitu sulit terjangkau! Ya! Kita harus berhati-hati memetiknya sebab tangkainya yang meskipun kecil namun kokoh itu berduri.

Begitulah. Setiap bagian dari mawar sempat kuamati. Setiap bagian bunganya begitu mantap dan teguh, selain bentuknya yang indah dan baunya yang harum. Mawar begitu mempesona.
Mawar begitu misterius, elegan . Bentuk dan aromanya yang mempesona, semua membuat orang ingin menikmatinya, memetiknya, memilikinya. Tapi, ternyata tidak mudah mendapatkannya. Untuk memetiknya kita harus berhati-hati agar durinya tidak melukai. Tidak sembarangan kita bisa sambil lalu memetiknya, bila kita tidak ingin’diserang’ oleh durinya. Tangkainya juga tidak mudah dipatahkan. Bila kalian pernah mengalami, kita harus menggunakan alat (gunting, pisau) untuk memotongnya. Iya kan ?

Hmm, begitulah. Mawar. Kau tau saudariku, bahwa ada wanita-wanita seperti mawar. Tapi, mungkin tidak banyak. Dan seorang muslimah yang seperti mawar??? Wah tentu lebih sedikit lagi. Aku tidak sedang membicarakan kecantikan fisik, meskipun jika itu ada dalam diri seseorang, kita tak bisa menyangkal untuk memujinya. Wanita atau muslimah yang seperti mawar, begitu enak dipandang. Kecantikannya terpancar dari sebuah keteguhan yang dalam. Kalaupun dia memang dianugerahi kecantikan fisik oleh Allah, dia akan semakin cantik. Kalaupun secara fisik dia tidak tergolong ‘begitu cantik’ namun dia memancarkan kecantikan yang lain. Kecantikan yang membawanya pada sebuah derajat yang begitu tinggi. Elegan.

Wanita yang seperti bunga mawar memiliki keteguhan prinsip, dia mengerti setiap detil dari dirinya begitu berharga, untuk itulah dia menjaganya, melindunginya dengan seksama. Lihat betapa banyak ‘senjata’ yang dimiliki mawar untuk melindungi putik dan benang sarinya. Itulah , perempuan apalagi perempuan Islam, dituntunkan untuk selalu menjaga dirinya, karena setiap bagian jasad, ruh dan akalnya memiliki potensi keindahan.

Wanita atau perempuan yang berkarakter mawar juga sangat teguh pendiriannya. Dia tidak mudah meluruhkan harga dirinya untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan jalan prinsipnya. Lihat, betapa mawar tidak mudah menggugurkan mahkota bunganya meskipun ia layu. Perempuan-perempuan seteguh mawar tidak akan meluruhkan kehormatannya . Dia akan menjaganya meskipun ia harus berjuang untuk itu. Keadaan tidak membuatnya cengeng. Satu lagi, saudariku. Mawar tidak mudah dipetik. Perempuan-perempuan yang teguh dan meneguhkan, cerdas dan mencerdaskan, baik dan memperbaiki akan memancarkan banyak energi. Semua orang tahu bahwa dia memiliki banyak pesona. Namun pesona itu tidak membuatnya pongah. Pun begitu, perempuan-perempuan berkarakter mawar selalu memancarkan keramahan, kebaikan. Tapi untuk mendapatkannya? Nanti dulu! Bukan jual mahal, tapi ia memiliki izzah (harga diri, kehormatan, rasa PD, bangga bukan karena dirinya tapi ‘bangga’ karena ia memegang teguh Islam dan segala peraturannya).

Pesona mawar membuat orang tidak berani mempermainkannya. Pesona karakter ‘mawar’ akan menyeleksi siapa yang beruntung mendapatkannya dengan cara yang baik, bukan menyerobot apalagi memetiknya dengan paksa! Sebab jika itu dilakukan, Sang Mawar akan melukai tangan pemetiknya yang kasar dan tidak beradab, iya kan?

Maka, siapapun yang ingin memetik mawar-mawar muslimah itu, ia haruslah seorang yang memiliki keteguhan dan daya juang! Ia harus meminta mawar-mawar muslimah itu dari pemiliknya. Siapa pemiliknya? Sang pencinta mawar itu dan pemilik kebun mawar yang sejak kecil merawat dan menjaga Sang mawar agar tumbuh menjadi muslimah yang teguh.

Saudariku, semoga kalian bergegas untuk menjadi kuntum mawar terindah di kebun rumah orang tua kalian. Jika kalian seorang laki-laki, seorang muslim, dan sedang ‘mengagumi’ salah satu kuntum mawar itu, bersiaplah untuk menjadi pemetiknya yang ‘sekufu’, bukan karena hal-hal yang tampak, tapi dari cara kalian memetiknya!

Ketuklah pintu pagar di mana mawar itu tumbuh, datangi keluarga dimana mawar itu tumbuh dan terjaga (jangan asal slonong apalagi merusak dan memaksanya!) kemudian mohonlah pada Sang Pencipta mawar itu karena Dialah pemilik dan pemeliharanya yang hakiki. Mohonlah agar Ia berkenan menjadikan kalian sepasang insan yang menebarkan kebaikan di taman bumi dan mengetuk surga dengan keagungan yang terjaga!

Dalam sebuah perenungan…
Dalam diam…
Ya Rabb… jadikan hamba seteguh sang mawar!
Jakarta, 22 Juni 2010
Dalam sebuah peristiwa yang sempat menguji keteguhan, saat diri ini mencoba untuk tegar dan tak terusik dengan lingkungan yang belum sepenuhnya menerima dan mengerti tentang indahnya perbedaan. Ya Rabb, istiqomahkan hamba… aamiin
Roseholic,
Aisya Avicenna

Mendekatlah Lebih Dekat Lagi




Buat saudaraku yang meyakini bahwa pengorbanan tenaga, waktu, harta benda, pikiran, tulisan adalah persembahan minimal yang kita berikan kepada agama ini, agama yang benar, paling akhir, sempurna, lengkap dan diridhoi Allah SWT.

Buat saudaraku yang meyakini bahwa pengorbanan jiwa raga di jalan Allah, berjihad di jalan-Nya adalah puncak persembahan tertinggi kita untuk menyeru manusia kepada-Nya.

Mari mendekat kepada Allah
Lebih dekat lagi….
Agar tunduk disaat yang lain sibuk
Agar teguh disaat yang lain angkuh
Agar tegar disaat yang lain terlempar

Setiap muslim bisa memilih, sejauh mana tingkat keislaman dan keimananya. Pilihan itu ibarat anak tangga yang menapak ke atas, lalu tinggi menjulang bahkan serasa tanpa batas, maka ada yang merasa cukup berdiri di tangga terbawah. Tetapi ada juga yang tidak puas dan ingin terus menaiki tangga-tangga keislaman dan keimanan tersebut dengan dorongan jiwa yang besar, tidak ada kamus istirahat bagi orang-orang seperti itu, mereka sadar, MILITANSI dalam makna yang sebenarnya adalah HARGA MATI UNTUK SURGA YANG MAHAL…

Kekuatan itu kini sedang bangkit, untuk itu pegang erat Al-quran, dekap kuat Sunnah Rasul tercinta, agar Islam kuasa menjadi satu-satunya aturan di dunia …..

Allah, eratkan tautan hati-hati kami, kuatkan semangat juang kami, di dunia manapun kami berada….

KETIKA RINDUKU BERTASBIH




semilir angin rindu
lembut membelaiku sedingin salju
berlabuh didasar kalbu
tercipta irama sepi nan syahdu
menemani diri hingga batas waktu
untuk kita bertemu

bingkisan kataku menari
diujung jemari
tertuang dalam puisi
mencurahkan kerinduan yang menghentak dihati

ketika rinduku bertasbih dalam gelora jiwa nan sunyi
disudut titik rinai berteman sepi
kulukiskan rindu diatas langit-langit hati
penuh do'a tulus dan suci
semoga engkau selalu dalam naungan cinta Illahi Robbi

bersama kita merangkai pelangi
setelah hujan berhenti
tersudut aku diujung rindu
pada siang malam yang terus berlalu
menyelimuti hati kian membeku
penuh warna nan syahdu
menjadi keindahan dalam bilah hatiku

hingga berlinang tetesan embun dari kelopak mata
menjadi jelaga rasa pelipur jiwa
dalam untaian rindu yang mengelora
dan terbingkai dalam rangkaian kata sederhana

bersama untaian do'a yang mengalun
untuk setiap tapak langkah yang kau ayun
dengan seulas senyum
pada tapak-tapakmu yang membuatku berdecak kagum

setetes rinduku dalam setia
hingga tiba detiknya kita melangkah bersama
pada pijakan bait-bait cinta menuju pangkuan ridha-Nya…

[Serakan Inspirasi Keisya Avicenna….18 Juni 2010…’sebait nada rindu untukmu’, special untuk my supertwin Aisya Keisya Avicenna “ sampaikan bait rinduku untuk para penduduk negeri si atas awan…biar ku bisa mengeja aksara-aksara penuh kerinduan ini…‘n seseorang (yg telah disiapkan-Nya), dia yang berhak menyempurnakan ‘sayap kerinduan’ ini…sanggupkah aku menggapai awan, di mana rindu itu bersembunyi mampukah kupetik dan kusimpan …??]

CIRI-CIRI SUAMI PILIHAN


* Kuat agamanya

Biar sibuk sekalipun, sholat fardu tetap terpelihara. Utamakanlah pemuda yang taat pengamalan agamanya. Lihat saja Rasulullah menerima pinangan Sayidina Ali buat puterinya Fatimah. Lantaran ketaqwaannya yang tinggi biarpun dia pemuda paling miskin. Utamakanlah pemuda yang jujur membimbing dan memelihara iman anda.

* Baik akhlaknya
Ketegasannya nyata tetapi dia lembut. Sopan tutur kata gambaran pribadi dan hati yang mulia. Rasa hormatnya pada orang tua. Mudah di bawa berbincang.

* Tegas mempertahankan kehormatan
Pernahkah dia mengunjungi ke tempat-tempat yang menjatuhkan harga diri dankehormatannya sebagai seorang Islam? Adakah dia jujur sebagai pelindung kehormatan seorang perempuan?

* Amanah
Jika dia pernah mengabaikan tugas yang diberi dengan sengaja ditambah pula salah guna kuasa, lupakan saja si dia.

* Pemurah tetapi tidak boros
Dia bukanlah pelit tapi tahu membelanjakan uang dan harta dengan bijaksana. Setiap nikmat yang ada dibagi bersama mereka yang berhak.

* Tidak liar matanya
Perhatikan apakah matanya kerap melotot ke arah perempuan lain yang lalu-lalang ketika berbicara. Jika ya jawabnya, dia bukanlah calon yang sesuai buat kamu.

* Terbatas pergaulan

Sebagai lelaki dia tahu dia tidak mudah jadi fitnah orang, tetapi dia tidak mengamalkan cara hidup bebas.

* Rekan pergaulannya
Rakan2 pergaulannya adalah mereka soleh.

* Bertanggungjawab
Rasa tanggungjawabnya dapat diukur kepada sejauh mana dia memperuntukkan dirinya untuk ibu bapak dani keluarganya. Jika ibu bapaknya hidup melarat sedang dia hidup hebat, nyata dia tidak bertanggungjawab.

* Tenang wajah
Apa yang tersimpan dalam sanubari kadang2 terpancar pada air muka. Wajahnya tenang, setenang sewaktu dia bercakap dan bertindak.

Berbahagialah kamu jika diintai calon suami/ suami yang demikian sifatnya.

Dari Ust. Abdul Hakim

Bumi Cinta Aisya…


Kamis, 17 Juni 2010 pukul 16.30 akhirnya Aisya berhasil keluar dari kantornya. Rencana awal jam 16.15 mau izin pulang, tapi mendadak pukul 16.00 kepala seksi meminta Aisya mengerjakan sebuah surat persetujuan impor sementara. Kaseksi berujar, kalau surat ini sudah selesai, kamu boleh pulang! Alhamdulillah, dalam waktu kurang dari 10 menit Aisya berhasil menyelesaikannya, padahal biasanya bisa memakan waktu lebih dari itu. Sekitar pukul 16.45 Aisya sudah berada di dalam bajaj menuju kantor Badan Pusat Statistik (BPS) untuk bertemu dengan sahabat SMA-nya. Wah, padahal janjian jam 16.30. Udah telat pake acara macet, jadinya tambah telat. Untungnya sahabat Aisya itu mau setia menunggu. Kemacetan lumayan parah terjadi di dekat shelter busway Pasar Baru. Sebenarnya Aisya ingin turun di situ saja. Tapi, sopir bajajnya melarang karena kalau turun di situ, harus mencari celah jalan dulu karena jalanan di daerah itu dibatasi oleh pagar terali. Aisya menuruti saran sopir bajaj.
Aisya turun di tempat sahabat SMA Aisya menunggu. Sebut saja namanya Nurul. Wahh... ternyata kalau mau naik busway antriannya panjang sekali. Akhirnya Aisya dan Nurul sepakat untuk naik taksi saja. Mereka pun meluncur menuju pusat kota Jakarta, melewati Masjid Istiqlal, Tugu Monas, dan Patung Selamat Datang di Bundaran HI sampai akhirnya tiba juga di Plaza Semanggi.
Awalnya bingung juga menuju lokasi digelarnya “Si Windu Expo 2010”. Setelah berjalan asal ke suatu tempat, akhirnya ditemukanlah beberapa tanda yang meyiratkan bahwa di sekitar situlah lokasi exponya. Tanda-tanda itu antara lain : spanduk berwarna putih-kuning-hitam yang berdiri berjajar, laskar kepanduan, dan pasangan keluarga samara yang berseliweran. Alhamdulillah, sampai jualah di tempat itu.
Aisya dan Nurul langsung mengunjungi beberapa stand di Expo itu. Stand yang berisi buku-buku tak luput dari jejak Aisya. Mulai dari stand Indiva, Al-I’thisom, dan Tarbawi Press. Akhirnya Aisya membeli 4 buah buku yang sangat inspiratif menurutnya. Keempat buku itu antara lain :
1. Beginilah Seharusnya Cinta! (buku ini buah karya dari Fatih Beeman, ketua FLP Jatinangor, harganya tidak sampai Rp 20.000,00 kok! Berisi kisah-kisah inspiratif)
2. Agar Pasangan Seindah Impian (Hmm, jangan tersenyum dulu! Aisya membeli ini bukan hanya karena harganya yang hanya Rp 10.000,00, tapi juga karena sampulnya berwarna MERAH, warna favoritnya! Hehe, selain itu juga karena setelah dilihat di daftar isi, materi yang disajikan buku ini insya Allah akan sangat bermanfaat di masa yang akan datang. Jika saat itu tiba... ^^v)
3. Sepuluh Bersaudara Bintang Al Qur’an (Hmm, buku yang satu ini harganya Rp 25.000,00. Kenapa Aisya membelinya? Karena buku ini berisi kisah inspiratif keluarga Ustadzah Wirianingsih dan Ustadz Tamim dalam mendidik buah hati mereka sehingga kesepuluh anaknya bisa menghafal Al Qur’an. Memberikan inspirasi tersendiri bahwa sebuah keluarga dakwah dengan banyaknya aktivitas yang dimiliki, tetap bisa menjadikan anak-anak sebagai bintang. Hmm, semoga suatu saat bisa demikian! Yang penting azzam sudah ada, tinggal ACTION!)
4. Membangun Ruh Baru (Nah, Aisya memang sudah sejak lama mengincar buku ini, alhamdulillah dipertemukan juga. Bahkan dengan harga yang sangat miring!)
Selain itu, waktu berkunjung ke stand Indiva, Aisya juga mendapat Majalah Gizone GRATIS! Rezeki euy... Alhamdulillah, pulang dengan membawa 5 koleksi baru di perpus pribadi Aisya, AL FIRDAUS (Semangat menuju 1000 koleksi di tahun 2010).
Pukul 19.30 Aisya dan Nurul sudah standby di aula. Awalnya mereka ragu apa memang benar akan ada bedah novel “BUMI CINTA” karena di ruangan itu masih sepi. Aisya pun memberanikan diri berjalan ke dekat panggung untuk bertanya kepada seorang panitia akhwat yang berdiri di dekat situ. Dari akhwat itu, Aisya mendapat informasi bahwa memang benar akan ada bedah novel “BUMI CINTA” di ruangan itu. Aisya dan Nurul akhirnya memutuskan untuk tetap berada di tempat, bahkan Aisya berhasil mengajak Nurul untuk duduk di garda terdepan. Hehe...
Pukul 19.45 akhirnya acara bedah novel-pun dimulai. Diawali dengan pembukaan oleh MC dan dilanjutkan dengan tilawah. Setelah itu, naiklah Habiburahman El Shirazy (Kang Abik) ke atas panggung. Lurus dengan posisi duduk Aisya. Strategis euy! Pada kesempatan ini, Kang Abik menuturkan sekilas tentang kisah dari novel “BUMI CINTA” tersebut.
“BUMI CINTA” menceritakan seorang mahasiswa asal Indonesia bernama Muhammad Ayyas yang mengadaan thesis di kota Moskow, Rusia. Lewat tokoh Ayyas beliau ingin menyampaikan konsep Ma’rifatullah yang beliau gambarkan saat Ayyas menjadi salah satu pembicara dalam seminar yang menafikan adanya Tuhan. Selain itu, novel ini juga menceritakan tentang Palestina lewat kisah Linor yang awalnya seorang penganut Yahudi, ternyata ia adalah keturunan Palestina. Lewat novel ini, Kang Abik ingin membuka wacana pembaca bahwa memang ada hubungan yang erat antara Palestina dan Rusia. Sekarang ini, penduduk yang berada di Israel adalah orang-orang Yahudi yang dulunya hijrah dari Rusia.
Hanya sekitar 10 menit Kang Abik memaparkan sekilas tentang kisah dari novel “BUMI CINTA” tersebut. Selanjutnya beliau lebih suka jika ada dialog interaktif saja. Akhirnya, dibukalah sesi tanya jawab. Aisya tak mau melewatkan kesempatan ini. Ia pun mengangkat tangan. Alhamdulillah, ia diberi kesempatan pertama untuk bertanya. Aisya mengajukan tiga buah pertanyaan. Apa pertanyaannya??? Beginilah jawabannya :
1. Dalam pembuatan novel, ada 3 jenis ending cerita yang digunakan :
a. Ending tertutup => semua kisah sudah diselesaikan, pembaca tahu secara jelas tentang akhir ceritanya
b. Ending terbuka => penulis memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menyelesaikan sendiri kisah yang ada dalam novel tersebut. Pembaca diberi kebebasan berimajinasi untuk melanjutkan ceritanya.
c. Ending setengah tertutup => sebagian permasalahan diselesaikan oleh penulisnya, sebagian yang lain diselesaikan oleh pembaca.
Pada novel BUMI CINTA ini, Kang Abik menuturkan bahwa beliau menggunakan ending setengah tertutup. Sehingga pada akhir kisah di novel tersebut, tidak disebutkan lagi apakah Linor mati atau tidak, Ayyas jadi menikah dengan Linor atau tidak, dsb. Kata Kang Abik, kecenderungan pembaca di Indonesia menyukai ending kisah yang tertutup karena bisa mengikis rasa penasaran.
Atas pertanyaan pertama Aisya itu, Kang Abik akhirnya membuka kartu bahwa kemungkinan novel itu akan ada kelanjutannya. Tapi memang belum digarap. Mungkin juga akan dibuat dalam versi kisah yang lain. Tunggu saja!
2. Kang Abik menuturkan bahwa ide lahirnya novel “BUMI CINTA” ini berasal dari 2 sumber :
a. Masukan dari pembaca, terutama para ibu yang menginginkan anak-anak muda bisa membentengi dirinya dari pergaulan bebas
b. Saat kunjungan ke Jerman bersama seorang mahasiswa Indonesia yang berada di sana. Mahasiswa tersebut ternyata tinggal di sebuah asrama yang ditempati secara heterogen (bercampur) antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, mahasiswa tersebut mampu menjaga keimanannya dan tetap memiliki ghiroh keislaman yang tinggi di tengah fenomena pergaulan bebas di negara Eropa.
Oleh karena itu, lahirlah tokoh Ayyas. Dari tokoh Ayyas tersebut, tentunya kita bisa mengambil hikmah yang besar. Ayyas, dengan godaan seperti itu (pergaulan bebas di Rusia) saja masih mampu mempertahankan izzah dan keimanannya. Lantas, bagaimana dengan kita? Harusnya kita lebih mampu mempertahankan keimanan dan kesucian Islam kita.
Kata Kang Abik, beliau sering ditanya oleh pembaca, “Adakah orang seperti Ayyas?”. Beliaupun menjawab, “Ada.”
3. Sebagai jawaban atas pertanyaan ketiga dari Aisya, Kang Abik bercerita bahwa hikmah besar yang beliau dapatkan ketika menulis novel ini adalah beliau tergembleng untuk lebih bersabar. Beliau menuturkan bahwa penulisan novel ini paling berat di antara novel-novel beliau sebelumnya. Kok bisa terberat? Berikut pengakuannya.
a. Pada novel Ayat-ayat Cinta (AAC), Kang Abik begitu mudahnya menjadikan Mesir sebagai setting tempatnya karena beliau sudah 7 tahun tinggal di sana. Beliau mengaku, saat pulang ke Indonesia beliau lebih hafal setiap sudut kota Kairo daripada kota kelahirannya. Pada saat penulisan AAC, Kang Abik belum menikah, sehingga beliau mempunyai waktu 24 jam untuk menulis, 24 jam bersama Fahri, 24 jam bersama Aisha (bukan Aisya Avicenna lho!), dan 24 jam bersama Maria. Nah, pada novel “BUMI CINTA” ini, Kang Abik harus melakukan riset selama 6 bulan, karena beliau memang belum pernah ke Moskwa, Rusia. Akhirnya beliau mencari orang yang pernah tinggal di Moskwa, bahkan beliau terbang ke Malaysia untuk menemui seorang guru dari Indonesia yang pernah mengajar di Moskwa selama 6 tahun. Dari riset tersebut, Kang Abik merasa seolah-olah sudah pernah ke sana.
b. Novel “BUMI CINTA” ini ditulis di tengah-tengah kesibukan penyelesaian film Ketika Cinta Bertasbih (KCB), sehingga novel ini terselesaikan dalam waktu 1 tahun. Saat sedang melaksanakan haji, Kang Abik juga sempat menyelesaikan novel ini. Ketika sedang berada di Mina, setelah lempar jumroh, Kang Abik lebih memilih berdiam diri di maktab untuk menulis daripada hanya sekedar jalan-jalan. Sekitar 20% dari novel ini dikerjakan di Mekah dan Madinah.
Kang Abik berpesan : menulis adalah suatu jenis pekerjaan yang biasa dilakukan dalam kondisi sepi! Menulis memberikan pelajaran bahwa penulisnya harus mampu menertibkan diri, membuat jadwal, dan mampu menentukan kapan tulisannya selesai. Menulis butuh KONSENTRASI dan KESENDIRIAN!
Aisya sangat puas dengan jawaban Kang Abik. Penanya selanjutnya adalah seorang ikhwan bernama Yogo Pandito. Lewat pertanyaan dari Akh Yogo, Kang Abik kembali membuka kartu bahwa pada bulan Ramadhan nanti akan ada KCB versi sinetron yang akan mengisahkan kehidupan rumah tangga Azzam dan Anna pasca menikah. Hmm, jadi penasaran! Kang Abik juga menyampaikan bahwa saat ini sudah ada Production House (PH) yang menawari beliau untuk memfilmkan “BUMI CINTA”. Akan tetapi, masih perlu banyak pertimbangan, terutama masalah setting tempat.
Lanjut ke penanya ketiga. Seorang ikhwan yang tidak menyebutkan namanya. Dari pertanyaan beliau, Kang Abik menjawab bahwa dalam membuat novel, penulis harus mampu menguasai ceritanya dari awal sampai akhir. Setelah cerita itu menyatu utuh dalam pikiran, maka langkah selanjutnya adalah menuliskannya... SAMPAI SELESAI!!!
Hmm, lagi-lagi Kang Abik buka kartu! Beliau menceritakan bahwa novel original Ayat-ayat Cinta karya beliau adalah mahar yang beliau berikan pada sang istri. SO SWEET banget ya! Maharnya sebuah maha karya! Beliau memberikan mahar berupa novel tersebut karena terinspirasi oleh kisah seorang ulama yang memiliki seorang putri yang sangat sholihah dan cerdas, bahkan ilmunya serupa dengan sang ayah. Ulama tersebut berpikir keras, siapa ya pemuda yang pantas untuk menjadi pendamping putrinya. Di antara sekian banyak pemuda yang menjadi muridnya, ada seorang pemuda pendiam yang ternyata secara diam-diam pemuda itu mensyarahkan kitab yang ditulis gurunya (ulama tersebut). Suatu hari si pemuda menyodorkan hasil karyanya pada sang guru untuk dimintai koreksi beliau. Ulama tersebut sangat terperanjat karena murid pendiamnya ternyata sangat cerdas, bahkan ulama tersebut merasa belajar lebih banyak lagi dari tulisan yang dibuat pemuda itu. Akhirnya ulama menawarkan untuk menikahkan putrinya dengan pemuda itu dengan mahar tulisan yang telah dibuatnya. Pemuda itu pun tak menolaknya. Hmm, so inspiring!
Kang Abik sangat meyakini akan janji Allah, bahwa Allah akan memberikan banyak rezeki setelah menikah. Iyyakunu fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui (Q.S. An-Nur: 32)
Sebelum menikah, Kang Abik mempunyai sepeda motor Jupiter Z hasil kredit. Setelah menikah, ternyata novel Ayat-ayat Cinta yang awalnya hanya diterbitkan oleh Republika dalam bentuk potongan-potongan kisah, malah menjadi MEGA BEST SELLER di mana-mana. Istri Kang Abik pun mengatakan bahwa maharnya adalah mahar yang termahal dan sangat luar biasa! MAHAR SEBUAH MAHA KARYA! So AMAZING!!!
Pertanyaan selanjutnya datang dari seorang ikhwan lagi. Beliau menanyakan mengapa novel Kang Abik selalu menggunakan kata “CINTA”. Kang Abik pun menjawab bahwa menurut Ibnu Qayyim, “CINTA ADALAH SALAH SATU KEBUTUHAN DASAR MANUSIA”. Semua orang ingin dicintai. Orang sejahat apapun pasti perlu cinta. Semua orang juga ingin mencintai. Sasaran utama novel ini adalah para remaja. Tema cinta adalah tema yang paling bisa membuat remaja tergerak untuk memperhatikan.
Sesi tanya jawab sudah selesai. Weh, Aisya jadi satu-satunya penanya akhwat nih! Dasar.. ^^v! Kang Abik pun turun dari panggung bersama sang moderator. Aisya dan Nurul membuntuti. Hmm, akhirnya setelah tiba di salah satu stand yang menjual novel “BUMI CINTA”, Kang Abik berkenan berbagi tanda tangan.
Aisya sempat berfoto dengan Kang Abik. Beliau juga berkenan memberikan tanda tangan dan tulisan berupa pesan inspiratif di blocknote milik Aisya. Aisya saat itu tidak membawa novel “BUMI CINTA” karena pada awalnya ia tidak mengetahui kalau akan ada bedah novel di expo itu. But, it’s OK, never mind!
Kang Abik berpesan pada Aisya :
“JADILAH MUSLIMAH YANG BERPRESTASI”
Mantap euy! Terima kasih Kang Abik...
Alhamdulillah, segala puji hanya tertuju bagiMu Ya Allah...
Satu lagi impian Aisya terwujud!!
Semakin bersemangat untuk terus berkarya dan menjadi muslimah yang berprestasi!

TARBIYAH MADAH HAYAH!!!
KEEP FIGHT!!!!
Backsong : BERGEGASLAH_SUARA PERSAUDARAAN
Ketika kudaratkan kaki di Hanadi
Kulihat ribuan wajah penuh cinta dan harapan
Kerinduan akan sebuah tempat persinggahan
Ditengah hiruk pikuk gemuruh panas pulau Batam

Pelabuhan hati - hati yang gersang
Dengan merindu kedamaian dan uluran kasih sayang
Peraduan jiwa - jiwa yang lelah
Sekedar melepas beban di dada yang terus bertambah

Duhai kawan kujaga slalu kuatkan azzam di hati
yang kini hidup mereka dalam curahan kasih Illahi
Duhai kawan agar tak lapuk usiamu
Sirna ditelan masa dalam lumpur debu anganmu

Jadikanlah Allah sebagai tujuan
Sandaran hati nurani agar terhempas keraguan
Jadikanlah Rasulullah teladan
Panutan hidup manusia hingga sampai akhir zaman

Jadikanlah ia sebagai Hajar
Jadikanlah ia sebagai Mariam
Jadikanlah ia sebagai Hathijah
Wanita perkasa penuh keaguangan

Jadilah dikau sebijak Lukman Hakim
Jadilah dikau setegar Ibrahim
Jadilah dikau sekasih Muhammad
Rosul akhir zaman panutan umat

Dalam penantian panjang… Menunggu senyuman mentari menghias pagi!
Jakarta, 170610_00:00 (midnight)
Aisya Avicenna

Agar Anak Makin Cinta


Judul Resensi : Agar Anak Makin Cinta
Judul Asli : Kaifa Takuna Abawaini Mahbubain?
Penulis : DR. Muhammad Fahd Ats Tsuwaini
Penerbit : Dar Iqra’ Iin Nasyr wat Tauzi’
Cetakan IV : 2005
Judul Terjemahan : Alfabet Cinta; 28 Cara agar Orangtua Dicintai Anaknya
Penerjemah : Arif Munandar
Penerbit : Mumtaza, Solo
Cetakan I : Juli 2009
Harga : Rp 16.000,00
Melalui buku ini kita akan berusaha mengenali sarana-sarana praktis yang setiap hari bisa kita gunakan untuk membahasakan cinta dan kasih sayang kepada putra-putri kita. Sebagai orang tua, pastinya sangat menyayangi mereka. Tetapi, terkadang kita lalai memberitahu hal itu kepada mereka, atau karena kita tidak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, serta malu untuk mencium atau membelai mereka.
Pada buku yang tidak terlalu tebal ini, disajikan secara runtut, sesuai urutan huruf Hijaiyah mengenai 28 cara aplikatif agar orang tua semakin dicintai anak-anaknya yang dinamakan Alfabet Cinta oleh penulisnya. Lewat Alfabet Cinta ini diharapkan dapat menjadi sarana praktis bagi orang tua dalam membahasikan cinta dan kasih sayang mereka pada putra-putrinya. Ke-28 Alfabet Cinta itu akan diuraikan secara ringkas sebagai berikut.
1.Addib = Didiklah!
Didiklah putra-putri Anda dan asuhlah mereka dengan baik seperti sabda Rasulullah SAW : “Rabbku telah mendidikku dan membaguskan pendidikanku”. Hal ini bisa terlaksana dengan mengajari anak beretika dan berinteraksi dengan baik kepada : Allah, Al-Qur’anul Karim, Rasulullah SAW, para Nabi dan Rasul lainnya, para sahabat, orang-orang shalih dan para ulama, seluruh kaum muslimin, binatang, benda-benda mati, dsb.
2.Bayyin = Jelaskan!
Ungkapkan pendapat tentang anak-anak Anda. Sebab, mereka senang mendengar penilaian Anda terhadap diri mereka dan seberapa besar keridhaan Anda pada mereka, meliputi : pekerjaan, prestasi belajar, penampilan dan tugas-tugas rumah mereka.
3.Ta’assaf = Tunjukkan Penyesalan!
Tunjukkan penyesalan dan segeralah minta maaf manakala Anda terlanjur melakukan sesuatu yang dapat menyakiti hati putra dan putri Anda.
4.Tsaqqif = Luaskan Wawasan!
Luaskan wawasan anak-anak Anda dan kenyangkan mereka dengan pengetahuan. Wawasan bisa membantu anak membangun kepribadian yang berimbang. Wawasan adalah jalan kesuksesan, peluang besar untuk menguasai berbagai ilmu serta merupakan bidang spesialisasi dan kreasi.
5.Jâhid = Berjihadlah!
Bersama anak-anak Anda, berjihadlah di jalan Allah setiap hari melalui mujahadah nafs, bersabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar menerima cobaan dalam urusan sehari-hari.
6.Habbib = Cintakanlah!
Cintakanlah anak-anak Anda pada perbuatan baik dan bakti. Ini tak mungkin terwujud melalui ucapan dan janji-janji semata, tapi juga memerlukan sikap-sikap konkret sedari dini agar mereka tumbuh di atas kebaikan-kebaikan itu.
7.Khâlil = Sayangilah!
Sayangilah anak-anak Anda. Jadilah teman mereka dalam belajar, kawan dalam perjalanan, sahabat dalam memahami, serta mengetahui rahasia-rahasia mereka, menjadi orang yang tulus menasihati dan mengarahkan mereka.
8.Dâfi‘ = Pertahankan dan Bela!
Pertahankan anak-anak Anda. Jangan sampai mereka menjadi mangsa empuk iblis beserta antek-anteknya dari bangsa jin dan manusia. Di sini, peran Anda dalam membelanya termanifestasi dalam sikap simpati Anda terhadap dirinya jika ada seseorang yang menyakitinya, ia terancam bahaya atau menghadapi satu masalah yang membuatnya menjadi ciut.
9.Dzâkir = Ingatkan!
Orang tua mengajarkan pada anak-anak mereka untuk senantiasa beribadah dan juga berdzikir tiap saat, wajib mengingatkan anak akan urusan pribadi mereka, pekerjaan rumah, dll
10.Râghib = Rindukan!
Rindukan putra-putri Anda pada surga, bahkan pada surga Firdaus yang tertinggi, dan peringatkan mereka dari neraka.
11.Zayyin: Perindahlah!
Perindahlah ucapan, kata-kata, kalimat-kalimat dan semua yang keluar dari mulut Anda kepada anak-anak Anda. Ucapan yang baik adalah shadaqah dan berpengaruh besar pada kejiwaan anak serta kecintaanya pada orang tua.
12.Sallim = Ucapkanlah Salam!
Ucapkanlah salam kepada anak-anak setiap kali bertemu mereka. Ucapkanlah “Assalamu’alaikum”, maka bagi Anda sepuluh kebaikan. Ucapkanlah “Assalamu’alaikum Warahmatullah”, maka bagi Anda dua puluh kebaikan. Ucapkanlah “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”, maka bagi Anda tiga puluh kebaikan.
13.Syârik = Sertailah!
Sertailah putra-putri Anda dalam tugas mereka. Beri mereka kesempatan untuk melakukan tugas mereka sesuai kemampuan yang mereka miliki.
14.Shil = Jalinlah!
Jalinlah silaturahim. Ajari anak-anak menjalin silaturahmi dan mengunjungi sanak saudara.
15.Dhârib = Berbisnislah!
Berbisnislah dengan halal dan ajari anak Anda untuk berbisnis. Agama kita yang lurus menghasung kita bersikap mandiri dalam mencari rezeki, tidak meminta-minta, tidak pasrah atau bergantung pada orang lain dalam kebutuhan hidup.
16.Thabbib = Obatilah!
Obati putra-putri Anda dan jangan menerlantarkan mereka dengan alasan malas atau sibuk, atau malah berburuk sangka pada mereka. Berinisiatiflah menempuh berbagai cara untuk memproteksi mereka dari sakit, komplikasi-komplikasinya dan bermacam dampak buruknya.
17.Zhallil = Naungilah!
Naungi putra-putri Anda dengan cinta, kasih sayang, dan perhatian!
18.‘Allim = Ajarilah!
Ajarilah ilmu syar’i dan ilmu umum pada anak-anak Anda demi meraih kebaikan dunia dan akhirat.
19.Ghayyir = Ubahlah!
Ubahlah gaya kepribadian Anda yang bisa membuat malu anak-anak, baik dengan meninggalkan hal-hal yang negatif atau memunculkan hal-hal yang positif.
20.Farriq = Bedakan!
Bedakan antara generasi Anda dan generasi mereka. Bedakan antara persepsi mereka dan persepsi Anda. Mensinergiskan diri kita dan diri mereka merupakan langkah solutif bagi perbedaan besar yang terjadi antara kita dan mereka.
21.Qabbil = Ciumlah!
Ciumlah putra-putri Anda setiap hari. Demikian juga, izinkan mereka mencium Anda sebagai tanda cinta mereka pada Anda.
22.Karrim = Muliakanlah!
Muliakanlah putra-putri Anda. Jangan menghina, mengejek, dan meremehkan mereka.
23.Lâmis = Belailah!
Sentuh raganya dan jangan menghalangi mereka merasakan gelora belaian dalam menanamkan dan menumbuhkan cinta dalam hati dan cintanya.
24.Mâzih = Candailah!
Candai dan bermainlah bersama anak-anak. Bermain merupakan kebutuhan naluriah manusia, terlebih anak-anak kecil itu tumbuh dan merasakan cinta lewat permainan.
25.Nâqisy: Koreksilah!
Koreksilah, ajak berdiskusi dan berdialog!
26.Haddi’ = Tenangkanlah!
Tenangkan dirimu, jangan tegang, dan berbesar hatilah dalam menghadapi kenakalan anak-anak Anda.
27.Waddi‘ = Ucapkan Selamat Jalan!
Biasakan melepas kepergian dan menyambut kedatangan anak
28.Yassir! = Permudahlah!
Termasuk hak anak yang harus diberikan orang tua adalah anak merasa orang tua suka memberi kemudahan dalam berinteraksi dengan memberi kesempatan untuk mencoba dan terus mencoba.
Pada bagian akhir dari buku ini juga dilengkapi tabel evaluasi kadar cinta Anda pada anak yang diisi oleh anak-anak Anda. Dari hasil perhitungan pada tabel ini, Anda akan mengetahui seberapa besar kecintaan Anda pada anak-anak Anda. Hasil tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi Anda.

"ROBBANA HAB LANA MIN AZWAJINA WA DZURRIYATINA QURROTA AYUN, WAJALNA LILMUTTAQINA IMAMAA." (Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa) (QS. Al Furqon:74)
"ROBBI AWZINI AN ASYKURO NIMATAKALLATI AN AMTA ALAYYA. WA ALA WAALIDAYYA WA AN AMALA SHOLIHAN TARDHOH, WA ASHLIH LII FI DZURRIYATIY" (Wahai Robbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah Engkau karuniakan padaku juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku untuk melakukan amal sholeh yang Engkau ridhoi dan perbaikilah keturunanku) (QS. Al Ahqof:15)
Jakarta, 170610_02:30
Aisya Avicenna

Bukan PNS Biasa


26 September 2009
Pukul 12.00, terminal Giri Adipura Kabupaten Wonogiri
“Taqabalallalahu minna wa minkum”. Kujabat tanganku erat pada sahabatku yang sudah sekian tahun tak bertemu. “Taqabal ya kariim...” jawabnya tepat di telinga kananku saat dia memelukku tak kalah erat. Sementara itu, ayahku dan ayahnya juga bersalaman dan saling tegur sapa. Keakraban pun kembali terjalin. Dialah Nuri, sahabatku sejak kelas 1 SMA. Kebetulan tiga tahun semasa SMA kita selalu satu kelas. Ehm... skenarioNya memang sangat indah. Siang ini, aku dan Nuri akan berangkat ke ibukota negeri ini, Jakarta. Nuri memang sudah 4 tahun kuliah di sana. Sebuah sekolah tinggi yang dulu juga sempat menjadi sekolah impianku. Sekolah Tinggi Ilmu Statistika (STIS). Tapi apalah daya, rencana Allah lebih indah. Nuri diterima di sekolah tinggi itu, dan akupun diterima di Universitas Sebelas Maret (UNS) yang terletak di kota Solo. Dan semuanya itu memang mendatangkan banyak hikmah bagiku, tepatnya bagi kami berdua. Hingga akhirnya, kami dipertemukan kembali untuk berjuang bersama di Jakarta. Pukul 13.00, bus Gunung Mulia berplat AD 1511 BG yang kami tunggu akhirnya datang juga. Terminal itu pun menjadi saksi bisu perpisahan dengan ayah kami masing-masing.
Pukul 15.30, di dalam bus Gunung Mulia.
“Udah bangun Ri?” tanyaku pada Nuri yang sedari tadi memejamkan matanya.
“Kamu tadi gak tidur to Nda?” tanya Nuri yang masih setengah mengantuk.
“Gak bisa tidur Ri, ku milih baca buku aja.”
Nuri melirik buku yang sedang aku pegang. “Cie..cie...bacaannya sekarang meningkat. ‘Bila Hati Rindu Menikah’ euy.. kamu mau nikah ya?? Mentang-mentang dah lulus!”
Aku hanya tersenyum simpul dan akhirnya menimpali, ”Nikah?? Ya jelas maulah.. kamu juga mau kan?? Hihi..ni salah satu langkah persiapanku, Ri. Banyak baca buku tentang ini, terutama fiqihnya. Jodoh kita sudah ada, tinggal nunggu waktunya aja untuk ketemu. Nah, biar tar ketemuannya gak malu-maluin gara-gara kita sedikit ilmu, makanya manfaatkan ‘waktu tunggu’ itu dengan sebaik-baiknya.”
Nuri mengangguk-angguk (bukan karena masih ngantuk), “Iya..bener katamu. Kita sekarang kan dah lulus. Sudah saatnya kita memikirkan hal ini lebih serius. Eh, Yanda.. teman-temanku di kampus juga dah pada syndrome pengin nikah tuh..., bahkan ada yang sudah proses..”
“Tuh kan, kamu kapan???” tanyaku menyelidik.
“Emm...tunggu saja tanggal mainnya.” jawab Nuri sambil tersenyum simpul.
“Kayaknya duluan kamu Nur, lha wong kamu dah lulus. Tinggal penempatan. Sedangkan aku, ni aja masih mau tes CPNS,” kataku.
“Wallahu‘alam. RencanaNya jauh lebih indah dari rencana kita. Yadah, aku mau Al Ma’tsuratan.”
“Kalau begitu, aku juga akan melanjutkan baca buku ini,” kataku mengakhiri pembicaraan kami.
Pukul 17.30, masih di dalam bus Gunung Mulia
Benang-benang jingga terajut membentuk nuansa senja yang indah. Kali ini senja menyambutku di kota Semarang. Ehm... banyak kisah yang telah aku torehkan di kota ini. Kisah-kisah petualanganku menggapai impian dan mengukir prestasi. Alhamdulillah, rasa syukur mendesir dalam hatiku..mengenang masa-masa perjuangan dulu di kota Semarang, kota perjuangan, kota persahabatan. Dudukku di dekat jendela, jadi dengan leluasa aku bisa menatap pemandangan di luar..
Ehm.. lagi bahagia nih.. bukan saja karena salah satu impianku akan terwujud (menginjakkan kaki di Jakarta)... tapi karena aku akan memperjuangkan terwujudnya impianku yang lain. SEMANGADH 37x.. (mencoba menyemangati diri sendiri.. kesempatan itu tak datang dua kali).
Pukul 19.00, Rumah Makan Sari Rasa, Kendal
Bus yang kami tumpangi berhenti tepat di samping Rumah Makan Sari Rasa. Di rumah makan itu sudah berjejal puluhan bus Gunung Mulia yang lain. Maklum, hari ini adalah puncaknya arus balik pasca Lebaran. Setelah sholat, aku dan Nuri menuju ruang makan. Setelah itu, kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan. Laju bus terbilang lambat, agak macet. Maklum, puncak arus balik. Kupandangi langit malam ini. Meski tak begitu jelas tertangkap retina mata, tapi aku dapat menyaksikan ribuan bintang menghiasi langit. Ku menoleh ke kiri, Nuri sudah larut dalam mimpinya...dan akhirnya akupun menyusulnya...
Pukul 03.00, Bus Gunung Mulia
Aku kembali terjaga. Nokia 5300 ku bergetar. Kubuka inbox. Sebuah pesan dari bunda. “Bangun Mbak, sudah jam 3. Dah sampai mana?”. Langsung kubalas SMS itu. Sudah menjadi rutinitas bunda, kalau jam 3 SMS atau telepon membangunkan aku untuk Qiyamul Lail. Makasih ya bunda... Nuri juga terbangun. Setelah itu, aku mengerjakan Qiyamul Lail dan dilanjutkan sholat subuh. Pengalaman pertamaku sholat di dalam kendaraan yang sedang melaju. Setelah itu, lanjut membaca Al Ma’tsurat dan Al Qur’an merahku. Seiring lantunan ayat cintaNya, ternyata kami sudah memasuki daerah Subang, Jawa Barat. Alhamdulillah...
***
27 September 2009
Pukul 08.00, Bus Gunung Mulia
Terik sang surya menembus kaca bening bus yang kami tumpangi. Padahal baru jam 08.00 pagi. Yaaa..inilah JAKARTA! PANAS!! Tapi jadi ingat filosofi PANAS => Pasti Aku Nanti Akan Sukses!!!
Pukul 09.00, Terminal Rawamangun, Jakarta Timur
Alhamdulillah, untuk pertama kalinya kakiku menapak di kota yang katanya metropolitan ini. Flash...Sang Bagaskara tersenyum manis padaku…
***
28 September 2009
Pukul 10.00, Gelora Bung Karno, Senayan
Aku dan Nuri duduk di bawah pohon rindang di halaman luar Gedung Tenis Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan. Kami baru saja survey lokasi ujian tahap kedua (tes tertulis) CPNS Departemen Perdagangan (Depdag) yang akan digelar tanggal 30 September esok lusa. Alhamdulillah, aku dinyatakan lolos seleksi administrasi sehingga berhak mengikuti ujian tertulis.
***
30 September 2009
Pukul 07.30, Gedung Tenis Indoor, Gelora Bung Karno, Senayan
Sekitar 4000-an orang memenuhi Gedung Tenis Indoor Senayan pagi ini. Dari 4000-an orang yang akan mengikuti tes ini, hanya akan diambil 160 orang sesuai dengan formasi yang dibutuhkan Departemen Perdagangan. Aku duduk bersama para “CALON STATISTISI”. Ehm, bersaing dengan 80-an orang yang luar biasa dan hanya dua orang saja yang akan terpilih. Bismillahirrahmanirrahim…
Pukul 13.00, Halte Bus Senayan
Alhamdulillah, setelah berkutat dengan 300-an soal pilihan ganda yang “menantang”, akhirnya selesai juga tes tertulisnya. Tinggal menyerahkan hasilnya pada Sang Maha Kuasa. Siang ini begitu terik. Dengan berbekal petunjuk arah yang diberitahu Nuri, aku mencoba pulang ke kost Nuri sendirian. Pengalaman pertama menjelajah ibukota sendirian… SERU!!!
Pukul 14.00, Kost Oscom
Akhirnya sampai juga aku di kost Nuri. Kuceritakan kisah seruku hari ini pada Nuri. Ehm, hari ini memang luar biasa!!! Kemudian aku bersiap untuk kembali ke kampung halamanku di Wonogiri karena pengumuman ujian tertulis masih tanggal 26 Oktober. Apapun hasilnya, pastinya itulah yang terbaik dari Allah SWT. Inilah keyakinanku….
***
8 Oktober 2009
Pukul 14.00, Kantor Asuransi Bumiputera Solo
Setelah wisuda tanggal 3 September 2009 yang lalu, aku mendapat kesempatan menyelesaikan sebuah proyek di kantor Asuransi Bumiputera Solo. Hari ini suasana yang kurasakan di kantor memang lain dari biasanya. Perasaanku tak menentu. Tiba-tiba, ada SMS dari seorang teman yang juga ikut tes CPNS di Depdag. Alhamdulillah, dia mengabarkan kalau aku lolos, dia juga. Dari 80 orang diambil 4 orang untuk mengikuti tes tahap ketiga. Kami memang berasal dari satu jurusan dan satu angkatan. Oh ya, namanya Didi. Kebetulan kami juga berasal dari daerah yang sama, Wonogiri. Bahagianya!!!
***
13 Oktober 2009
Setelah dinyatakan lolos tes tertulis, aku mengikuti tes tahap III yaitu psikotes dan wawancara. Pukul 08.00 aku dan Nuri berangkat menuju lokasi tes di daerah Sawangan, Depok. Dengan berbekal selembar peta, kami pun menuju tempat tersebut. Benar-benar menggelikan sekaligus petualangan yang seru!!. Sampai di terminal Pulogadung, kami pindah naik angkot kecil warna biru. Sambil menyusuri gambar peta di dalam angkot, akhirnya sekitar pukul 10.30, kami sampai juga di daerah Wates, Sawangan, Depok. Dari tempat turun, kami masih harus berjalan sekitar 300 meter menuju kantor Pusdiklat Depdag.
Pukul 10.00, Masjid….. Sawangan, Depok
Karena peserta ujian masuk pukul 12.15, aku dan Nuri memutuskan untuk beristirahat di masjid yang berjarak 300 meter dari Pusdiklat. Sesampai di masjid, kami berdua duduk santai di serambinya. Ada sekitar tiga pedagang kaki lima yang mangkal di situ. Akhirnya, aku dan Nuri membeli segelas dawet ayu Banjarnegara pada seorang bapak tua. “Segelas aja Nda, takut ga habis.” kata Nuri. Emm..akhirnya kami meminum dawet itu segelas berdua di bawah pohon rindang..sambil menikmati sepoi angin... A beautiful friendship! Setelah dawet habis, kami kembali duduk di serambi masjid. Nuri membaca buku “Quantum Tarbiyah”nya, sedangkan aku memutuskan untuk melanjutkan tilawahku 2 halaman, setelah itu aku memilih untuk membaca ayat cinta favoritku, Q.S. Ar Rahman. Selalu ada rasa yang berbeda tatkala aku membaca surat ini. Selesai tilawah, aku mengamati bapak tua penjual dawet tadi. Beliau sedang berjuang keras memanggul dagangannya. Mungkin, beliau akan berkeliling lagi. “Ayo Pak, semangat!!! Jangan menyerah!!!!“ teriakku sambil mengepalkan tangan kala itu.. (tapi ya gak keras-keras...hanya Nuri yang dengar..^^) Setelah waktu menunjukkan pukul 11.00, kami-pun meninggalkan masjid. Berjalan kaki lagi.... Setelah makan di warung depan Pusdiklat, kami menuju lokasi tes. Setelah sholat, aku memasuki ruangan tes, sedangkan Nuri menungguku di mushola.
Test dimulai pukul 13.00. Sebelum test dimulai, semua peserta diminta mengisi lembar biodata dan 5 lembar kertas yang berisi pertanyaan mulai dari : apa pencapaian yang sudah didapat dalam waktu dua tahun terakhir, penyikapan atas suatu kasus, sampai gaji dan tunjangan yang ingin didapatkan. Waktu mengisi lembar pertanyaan ini, aku lebih banyak memberi jawaban berdasarkan pengalamanku semasa di kampus. Bagaimana kuliahku, aktivitas di kampus, dll. Akhirnya pertanyaan demi pertanyaanpun dapat ku jawab. Ehm, semakin menyadari bahwa “ngampus itu jangan hanya sekedar kuliah” (jadi inget bukunya Ustadz Hatta Syamsuddin dan istrinya, “AGAR NGAMPUS TAK SEKADAR STATUS”). Bagi yang masih ngampus, optimalkan waktu untuk mengasah potensi yang dimiliki. Memang, tujuan perdana kita menjadi “penghuni kampus” adalah untuk menjalankan amanah orang tua, kuliah yang rajin dan tidak ‘neko-neko’. Yes, that’s a good vision! Tapi kalau ngampus cuma kuliah (duduk anteng di kelas), ke kantin, dan di kost saja (istilah kerennya 3K)..ya jadi hambar dung! Aku semakin merasakan manfaat berorganisasi ketika memasuki dunia pasca kampus, lebih tepatnya waktu memasuki dunia kerja.
Lanjut ke cerita tentang psikotes. Dari tim penguji (para psikiater), membagikan beberapa buku yang berisi soal-soal psikotes. Ada beberapa soal yang sudah cukup familiar karena sering ditampilkan di buku-buku psikotes (tidak ada salahnya bagi yang mau psikotes untuk membaca dan mencoba contoh-contoh soal di buku-buku psikotes yang beredar di pasaran). . Salah satu tes yang membuat aku agak “tuing-tuing” namanya tes PAULI. Peserta dibagikan gulungan kertas besar ukuran A3 (kayaknya) yang berisi deretan angka yang dicetak bolak-balik. Wuih... so amazing! Kita diminta menghitung dari atas ke bawah. Alhamdulillah, sampai batas waktu berakhir, aku berhasil menghitung sampai tinggal satu deret terakhir. Melelahkan, menguras otak dan tenaga, tapi menantang. Asyik juga!!! Hal yang paling menyenangkan adalah waktu tes menggambar. Maklum, salah satu hobbyku kan menggambar. Peserta diminta menggambar manusia lengkap. Cling!!! Akhirnya aku mendapat ide untuk menggambar ayah. Tidak mirip sih, tapi gambar itu menjadi cerminan motivasi aku mengikuti tes CPNS di Depdag RI.
Pukul 17.00, alhamdulillah psikotes selesai. Langsung aku kabur ke mushola. Nuri masih setia menanti. Terima kasih ya!!! Lanjut sholat ashar. Terdengar guntur menggelegar di langit. Kata Nuri, tadi habis hujan deras dan angin kencang. Tapi alhamdulillah, sekarang sudah reda. Akhirnya kami pulang dengan berjalan kaki menuju tempat naik angkot, kemudian naik angkot menuju stasiun Depok Baru.. Di stasiun itu, banyak “pemandangan” yang cukup menarik perhatianku. Aku mencoba mencari inspirasi di balik apa yang aku lihat, dengar, dan rasakan. Mulai dari deretan ibu-ibu pengemis yang duduk berjajar di lorong stasiun, orkestra jalanan, sampai seekor kucing yang membuatku sangat iba karena kaki kanan depannya buntung, terluka. Dia berjalan terhuyung-huyung dengan ketiga kaki lainnya yang masih normal. Kasihan sekali kucing itu. JANGAN MENYERAH PUS!!! (teriakku dalam hati). Menjelang Maghrib, kereta ekonomi non AC jurusan Jakarta tiba. Kami-pun menaikinya.
***
14 Oktober 2009
Berangkat dari kos sekitar jam 9 lebih. Sampai di sana, singgah ke warteg dulu, makan siang. Sampai di kantor Pusdiklat, alhamdulillah langsung boleh masuk. Setelah sholat di mushola, langsung menuju ruangan tempat peserta berkumpul sebelum wawancara. Seperti kemarin, Nuri menunggu di mushola. Sebenarnya jadwalku wawancara pukul 14.00-14.30, tapi baru sekitar pukul 15.30 aku memasuki “ruang eksekusi”. Sang eksekutor adalah seorang bapak paruh baya, dengan perawakan sedang dan ramah sekali. Pertanyaan demi pertanyaan pun menghujani aku. Alhamdulillah, sudah “sedia payung sebelum hujan”. Maksudnya, alhamdulillah bisa menjawab dengan lancar dengan suasana wawancara yang tidak menegangkan, malah terkesan seperti curhat seorang anak kepada ayahnya. Semuanya mengalir begitu saja, tak terasa hampir setengah jam kami berdialog. Jujur, kebanyakan jawaban yang keluar adalah menceritakan pengalaman pribadiku saat di kampus. Hampir 75 % aku menceritakan kisahku saat terlibat dalam beberapa organisasi di kampus. Alhamdulillah...Terima kasih Ya Allah atas segala kemudahan ini..
***
26 Oktober 2009
Pukul 20.13, Kost Pink, Solo
Aku mencoba menenangkan hati sembari membaca Al Qur’an merahku. Yaa.. hari ini akan ada pengumuman hasil seleksi CPNS Departemen Perdagangan. Akan tetapi, sampai jam 20.00 belum ada pengumuman. Akhirnya, aku meminta tolong Nuri untuk melihatkan pengumuman, karena dia bisa online di kostnya. Setelah membaca Qur’an, iseng-iseng aku membuka facebook-ku.. Ada pesan dinding yang masuk. Dari Nuri. “Selamat, kamu ketrima. Makan-makan lho!”.
Alhamdulillah, langsung aku sujud syukur di kamar kostku. Aku telepon Nuri untuk memastikan. Ada dua nomor ujian untuk formasi Calon Statistisi yang diterima dan salah satunya adalah nomor ujianku. Sayang, Didi belum berhasil. Ya Allah, keputusanMu memang nomor satu dan pasti yang terbaik. Langsung aku mengabari keluarga di rumah. Ibu sampai menangis haru saat mendengarnya…
***
Kini, aku resmi menjadi bagian dari Kementerian Perdagangan RI (sekarang tidak lagi bernama “Departemen Perdagangan”). Menjadi seorang abdi Negara dan abdi masyarakat. Aku bertekad untuk tidak hanya menjadi PNS yang biasa-biasa saja, tapi aku ingin menjadi PNS yang LUAR BIASA… “Penghuni Neng Surga, Pribadi Nan Sabar, Putri Nan Sholihah, Pengusaha Nan Sukses, Pendamping Nan Setia, Petualang Nan Semangat, Penulis Nan Sensasional, Pembelajar Nan Sejati, Penolong Nan Santun, Pemikir Nan Serius, Penasihat Nan Solutif, dan Pemimpin Nan Sigap”. Amin…

-based on true story-
Jakarta, 090410_22:49
Aisya Avicenna

Sebenarnya masih ada kisah yang belum saya ceritakan di sini. Dulu waktu mengalaminya, saya berazzam, kisah ini akan saya beberkan ketika saya sudah mendapatkan pekerjaan yang saya impikan. Alhamdulillah sekarang impian itu sudah terwujud, berarti saya masih punya hutang untuk menceritakannya. Sebuah kisah yang memadukan kenekatan, kekonyolan, kesedihan, tapi juga inspiratif! Tak seorang pun tahu bahwa saya pernah mengalaminya. Tapi, saya akan menceritakan semuanya!!! Tinggal menunggu waktu yang TEPAT! ^^v

Sekedar Joke : Itung-itung Pasca Nikah


Artikel ini nemu di sebelah… (sebelah kanan atau kiri?? Hehe, yang jelas saya edit dikit-dikit… tp ide dasar bukan dari saya…).
Selamat tersenyum!
Jangan lupa : Siapkan kalkulator atau sempoa!

Seorang temenku pernah bertanya "eh, kalo aku nikah tapi dengan gaji yang cuma Rp#### bisa ga ya?

hmmm.....

Maka dari pertanyaan itu aku membuat survey asal, dan berikut adalah daftar pengeluaran standar bulanan setelah nikah. Sekedar berbagi aja, buat temen-temen yang mungkin juga mengalami 'Matery after merit phobia syndhrome'

Daftar anggaran bulanan

(asumsi :disusun berdasarkan skala proritas, disusun dengan sangat relatif, dan berdasarkan basic needs standar menengah ke bawah)

1. Makan

Dengan asumsi sekali makan adalah 5000
Maka makan 3x sehari,kali 2 orang (kecuali kalau sepiring berdua, agak ngirit), kali 30 hari adalah Rp 900.000,00

Tips :
Rajin2 ke kondangan, dan bawa pulang nasi kotaknya. Pasti lebih ngirit!

2.Kontrakan

Dengan asumsi masih ngontrak di rumah petak, yang punya uda botak, tapi masih galak, dan punya anjing belum jinak.
Maka dana untuk kontrakan sekitar 500.000/bulan

Tips
Tinggallah di Pondok Mertua Indah. Niscaya dana di atas gak akan pernah ada.
Di pondok mertua indah, anda akan bebas makan apa aja, termasuk 'makan ati' (bagi yang mertuanya galak, so harus bersikap baik pada mertua)


3. Listrik dan Air

Dengan asumsi daya listrik 900 watt dan pake jetpam maka anggaran untuk listrik adalah 100.000/bulan

Tips
Jangan pake AC, cukup AC (angin cendela)
Jangan suka main Plestesyen, cukup main monopoli, sudamanda atau ular tangga ama istri terasa lebih romantis

4. Transportasi

Dengan asumsi naik motor ke kantor, dengan motor yang paling irit rit rit, maka untuk ongkos bensin dan servis adalah Rp 100.000,00.

Tips
Gunakanlah Bensin campur!
(maksudnyah campur dorong, pasti lebih irit)
Atau ikutlah "Nebeng Fans Club", dengan alasan mempererat silaturahmi dengan yang ditebengi maka perjalanan berangkat dan pulang kantor akan terasa lebih menyenangkan. Lebih ngirit lagi naik sepeda. Bike to work gitu lah!

5. Komunikasi

Dengan asumsi pake CDMA yang 1000/jam maka untuk sebulan, ongkos komunikasi berdua adalah Rp 100.000,00

Tips
Pakelah 'FREN' yang lebih murah (maksudnya kalo mau nelpon atau sms tinggal bilang "Freeen...minjam HP nya dong freen...")

6. Keperluan sehari-hari

Seperti sabun, odol, shampo, dll dsb
Dengan asumsi tidak pake fesyel, krimbat, manikyur, pedikyur, maka alokasi dana untuk ini sebesar Rp 50.000,00

Tips:
Mandi kalo perlu saja.
Untuk ngirit odol kembalilah memakai tumbukan batu bata (weleh… tipsnya purba banget)

7. Kesehatan

Seperti minyak kayu putih, vitamin, obat pusing, maka alokasi cadangan untuk kesehatan sebesar Rp 50.000,00

Tips
Jaga kesehatan
Jangan begadang...kalo tiada artinya...begadang bole saja...asalkan sambil ronda (halah!!)

8.Entertaiment

Nah ini kalo ada uang lebih aja, bisalaah sekali2 nomat, lari pagi, atau makan martabak sekali-kali

Jadi…
Dari asumsi basic needs di atas maka pengeluaran untuk tiap bulan adalah sebesar : 1.800.000/bulan

(masih gede juga ya… )

Mungkin ini bisa jadi bahan pertimbangan temen-temen ketika pengen nikah, untuk kemudian dibandingkan dengan pemasukan yang ada.
Kalopun masih 'besar pasak daripada tiang' Anda bisa memperkecil pasak, atau memperbesar tiang...ataauu. ..ga usak pake pasak, tapi dipaku aja!

Tapi ada 1 hal yang ga bisa dijelaskan dengan perhitungan ketika anda memutuskan untuk menikah

(serius mode on*)

Yaitu, berkah menikah

Selalu, ALLAH SWT akan mencukupi kebutuhan umatnya yang mau berusaha dan berdoa. Selalu bersyukur dan percaya bahwa ALLAH SWT Maha Menguasai Segalanya.

Inilah pengertian ayat iyyakunu fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha mengetahui (An-Nur: 32)

so, stop accounting, just do it!

Dengan sedikit perubahan by : Aisya Avicenna

Special buat dua saudariku yang akan menggenapkan setengah diennya tahun ni! Silakan diitung sendiri, percaya kok kalian pandai berhitung. Ini sekedar joke lho ya! ^^v

Bergegaslah


Album : Di Dalam 'Beat'nya Tetap Ada Cinta
Munsyid : Suara Persaudaraan
http://liriknasyid.com

Ketika kudaratkan kaki di Hanadi
Kulihat ribuan wajah penuh cinta dan harapan
Kerinduan akan sebuah tempat persinggahan
Ditengah hiruk pikuk gemuruh panas pulau Batam

Pelabuhan hati - hati yang gersang
Dengan merindu kedamaian dan uluran kasih sayang
Peraduan jiwa - jiwa yang lelah
Sekedar melepas beban di dada yang terus bertambah

Duhai kawan kujaga slalu kuatkan azzam di hati
yang kini hidup mereka dalam curahan kasih Illahi
Duhai kawan agar tak lapuk usiamu
Sirna ditelan masa dalam lumpur debu anganmu

Jadikanlah Allah sebagai tujuan
Sandaran hati nurani agar terhempas keraguan
Jadikanlah Rasulullah teladan
Panutan hidup manusia hingga sampai akhir zaman

Jadikanlah ia sebagai Hajar
Jadikanlah ia sebagai Mariam
Jadikanlah ia sebagai Hathijah
Wanita perkasa penuh keaguangan

Jadilah dikau sebijak Lukman Hakim
Jadilah dikau setegar Ibrahim
Jadilah dikau sekasih Muhammad
Rosul akhir zaman panutan umat



Lagi senang nasyid ini.... ^^v
Aisya Avicenna

The Lost Syambel : Bukan Sekedar Buku Resep!


Judul Resensi : The Lost Syambel : Bukan Sekedar Buku Resep!
Judul Buku : The Lost Syambel
Penulis : Dan Bloon
Penerbit : B-First (PT. Bentang Pustaka)
Terbit : April 2010
Tebal : 156 halaman
Harga : Rp 32.500,00

The Lost Syambel adalah bacaan penuh teka-teki dan misteri yang tak terkait sama sekali satu dengan lainnya. Novel hebat yang bisa membuat pembacanya masuk ke dunia yang penuh ketegangan sekaligus kelelahan. Terdapat pesan-pesan bijaksana bagi yang menyadarinya, dan terdapat cerita yang menggugah selera bagi yang tidak menyadarinya.
Kisah memecahkan misteri yang berawal dari simbol-simbol yang terdapat pada sebuah tripleks yang ditemukan secara tidak sengaja, berbekal ilmu seadanya di dalam kedua tokoh utama (Obet dan Maemunah), mereka berusaha memecahkan arti kode tersebut. Hasilnya sungguh di luar dugaan, namun proses menuju hasil tersebut, lebih di luar dugaan.
Begitulah pengantar pembuka dari penerbit. Saya idem dengan penerbit juga deh!
Obet dan Mae (nama panggilan Maemunah binti Maomuntah) terlibat seru dalam memecahkan sebuah misteri dari simbol-simbol unik pada sebuah tripleks yang tak sengaja ditemukan di rumah kontrakan milik Obet. Ternyata simbol-simbol itu awalnya ada hubungannya dengan teks Proklamasi. Eh, pada akhirnya malah berhubungan dengan sebuah resep sambel pete. Nah lo, kok bisa???
Novel ini bukan saja berisi kisah-kisah konyol dari setiap tokohnya, tapi juga bisa disebut buku sejarah berkolaborasi dengan buku resep. Karena novel ini membawa pembaca melintasi sejarah nasionalisme bangsa Indonesia. Bahkan menambah wawasan tentang sejarah beberapa museum dan patung-patung yang ada di Indonesia, khususnya di kota Jakarta. Selain itu, novel ini menyajikan resep yang bisa pembaca praktikkan jika ingin membuat sambel yang berasa dahsyat. Hehe!
Okelah, selamat membaca sambil makan sambel!!!

Jakarta, 130610_00:02 (lewat tengah malam…)
Aisya Avicenna

2012-an Ancur!


Judul Resensi : 2012-an Ancur!
Judul Buku : 2012-an; Seribu Enam, Kalau Nggak Percaya Tanya Toko Sebelah!
Penulis : Iwok Abqary
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Terbit : Mei 2010
Tebal : 224 halaman
Harga : Rp 34.000,00
Sudah nonton film 2012 kan? Memang, film 2012 menjadi film terheboh beberapa waktu silam. Film tersebut juga berhasil menjadi film ‘termurah’. Pasalnya, tanpa merogoh kocek Rp 15.000,- untuk menonton film itu di XXI, banyak orang yang dengan mudahnya bisa menonton gratis atau hanya mengeluarkan Rp 5.000,- untuk membeli CD bajakannya. Dasar orang Indonesia, membajak kepingan CD memang lebih prospek daripada membajak sawah, begitu mungkin jalan pikirannya.
Saya tidak akan membahas film 2012. Sudah jadul. Kali ini saya akan mencoba berbagi review tentang buku baru saya. Baru beli dan baru baca maksudnya! Buku ini berisi kumpulan cerpen ancur yang ditulis oleh penulis-penulis yang tak kalah ancur. Eits, maaf! Ancur tulisannya (gokil banget, -red). Cerpen-cerpen di dalam buku ini memang memberikan efek negatif yakni membuat pembaca senyum-senyum atau ketawa-ketiwi sendiri. Nah lo!
Buku ini berisi 12 judul cerpen yang mengisahkan kekonyolan-kekonyolan para tokoh dalam menghadapi isu kiamat di tahun 2012. Ke-12 judul itu antara lain : Jomblo Parno (Iwok Abqary), 21-12-2012 is Dead! (Dhinny El-Fazila), Ki Amat Sudah Dekat (Taufan E. Prast), Ada Apa dengan Tangky (Lia Chufyana), Kiamat itu Pedas! (Tria Ayu K), Dua Ribuan Ujang (Azzura Dayana), 2012 (Zulfian Prasetyo), Gokil Show (Ratno Fadillah), Kiamat? Bolos Sekolah, Ah! (Rex), Kiamat Pulsa (Taufan E. Prast), 20:12 (Lian Kagura), dan Kiamat Datang Lebih Cepat (Abdul Gafur).
Meskipun dibalut dengan kisah-kisah kocak dari setiap pemain (tokoh) dalam masing-masing cerpen, hadirnya buku ini juga membawa pesan yang sangat mulia, yakni mengingatkan kita bahwa kiamat memang sudah dekat. Kiamat besar yang ditandai dengan luluh lantaknya alam raya ini pasti terjadi, entah kapan, dan kita semua dituntut untuk mempersiapkannya. Membekali diri kita dengan iman dan amal sholeh yang seharusnya semakin kita tambah di setiap detiknya.
Buku ini bagus untuk menambah tumpukan koleksi buku di perpus Anda (nambah 1.5 centimeter tingginya!), bagus juga untuk bahan dongeng sebelum tidur, atau untuk bantal juga bisa (weh!). Okelah, daripada lama-lama membaca tulisan saya ini, saya sarankan untuk segera membaca buku ini saja! Sip, selamat membaca dan tertawa karenanya! Mumpung belum dilarang tertawa! Tapi hati-hati, karena banyak tertawa dapat mematikan hati. So, Waspadalah! Waspadalah!!!

Jakarta, 130610_23:15
Aisya Avicenna

IBU...! Ada Surga di Bawah Telapak Kaki Muliamu...!!


Menjadi ibu, bagi kita adalah mimpi-mimpi yang dilatih dengan kerinduan, cinta, dan asahan rasa. Seruak cita itu adalah fithrah paling indah yang dikaruniakan Allah. Kecenderungan , rasa, kemuliaan!
IBU...!
Mulia cukup dengan telapak kaki perjuangan. Karena tak seorang pria pun memiliki kedudukan ini : tak seorang pria pun! Demi Allah, tak seorang pria pun!
IBU...!
Panggilan yang begitu menggetarkan, membiru haru, menggemakan rasa terdalam di diri setiap wanita. Selalu dan senantiasa! Ada nuansa, cita, imaji, dan gairah setiap kali kata tiga huruf plus tiga titik dan tanda seru itu diteriakkan oleh sosok-sosok mungil yang menyambut kehadirannya.
IBU...!
Ini kata tentang perempuan madrasah agung. Tempat anak-anak mempertanyakan semesta dengan bahasa paling akrab, harapan paling memuncak, dan keingintahuan paling dalam. Ini dermaga pengaduan paling luas saat mereka merasa teraniaya. Ini belai paling menenteramkan saat mereka gelisah. Dan ini dekapan paling memberi rasa aman saat mereka ketakutan. Ibu, perpustakaan paling lengkap, kelas paling nyaman, lapangan paling lapang, tak pernah ia bisa digantikan oleh gedung-gedung tak bernyawa.
IBU...!
Panggilan yang meneguhkan status kemanusiaan. Dan kehormatan. Ibumu disebut tiga kali di depan, baru ayahmu menyusul kemudian. Begitulah Rasulullah menegaskan. Ia juga panggilan yang membawa makna perjuangan. Pegalnya membawa kandungan, susahnya posisi berbaring, dan sakitnya melahirkan. Tapi juga senyum manis di saat berdarah-darah mendengar tangis sang putera pecah.
IBU...!
Banyak wanita yang kini enggan menjadi kata itu, maka kata itu pun enggan menjadi mereka. Betapa sulit meminta wanita bersedia punya anak di Singapura misalnya. Ketika mereka menolak janji-janji kata itu, kata Ustadz Anis Matta dalam Ayah, menganggapnya sebagai gerbang menuju neraka, menganggapnya sebagai pintu penjara, kata itu justru enggan membantu mereka melepaskan diri dari jeratan kesendirian, membasuh kulit mereka yang melepuh akibat sengatan matahari. Kata itu jadi enggan menyediakan dermaga tempat mereka menambat perahu hati, berlabuh dari galau kehidupan.
IBU...!
Mungkin memang tak sesederhana itu. Karena posisi ibu adalah anugerah, yang keimanan pun bukan jaminan Allah pasti mengaruniakannya pada kita. Persis sebagaimana ‘Aisyah, Hafshah, Zainab binti Jahsy, dan lainnya. Ya, tapi mereka kan ummahatul mukminin, ibu dari semua orang beriman, kata kita. Pada posisi ini, memang. Tetapi mengandung, melahirkan, menyusui, menimang adalah bagian dari saat yang dinanti bersama hakikat kata Ibu..! Itu yang juga tak dirasai oleh ‘Aisyah sekalipun.
Atau terkadang penantian panjang, kegelisahan, kecemasan, dan kata seterusnya jika panggilan itu tak segera hadir adalah ujian lain dari Allah. Alasan kesehatan, kerawanan melahirkan pada usia tertentu, menjadi gurita kecemasan lain yang mencoraki ujian itu. Lalu Allah menjawab di antara doa hambaNya, isteri Ibrahim dengan si shalih Ishaq, isteri ‘Imran dengan si suci Maryam, dan isteri Zakariyya dengan si ‘alim Yahya. Setelah penantian panjang, doa yang menghiba, dan rasa yang tersembilu...
IBU...!
Lepas dari itu, sekali lagi adalah menakjubkan urusan orang mukmin. Persis seperti kata Rasulullah, menakjubkan! Karena setiap halnya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika disinggahi nikmat, ia bersyukur, maka kesyukuran itu baik baginya. Jika ditamui musibah ia bersabar, maka sabar itu baik baginya. Jika syukur dan sabar itu dua ekor tunggangan, kata ‘Umar, aku tak peduli harus mengendarai yang mana.
Menjadi ibu hakiki, yang melahirkan ataupun tidak, setelah ikhtiar paling gigih, doa paling tulus, dan tawakkal paling terpasrah, adalah kemuliaan tanpa berkurang sepeserpun. Tidak sedikitpun. Semuanya mulia.
IBU...!
Melodi paling harmoni yang menggemakan jagad dengan jihad agungnya.
(Baarakallaahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta, Salim A. Fillah)


Special untuk bunda tercinta :
Selamat Hari Lahir Bunda, semoga sehat selalu, senantiasa diberi rezeki yang cukup, tak letih memberikan motivasi dan doa-doa terbaik untuk kami, senantiasa diberikan keberkahan dalam usia yang semakin senja, dan diberikan kesabaran seluas samudera dalam menghadapi setiap liku-liku kehidupan ini. Bahagiaku bersamamu di dunia, semoga kebahagiaan ini kekal sampai di jannahNya. Aamiin..
Aku mencintaimu BUNDA.... SANGAT!!!

Sebening tetesan embun pagi...
Secerah sinarnya mentari...
Bilaku tatap wajahmu oh ibu...
Ada kehangatan didalam hatiku...


Air wudhu' selalu membasahimu...
Ayat suci selalu dikumandangkan...
Suaramu penuh keluh dan kesah...
Berdoa untuk putra putrinya...
Oh ibuku...
Engkaulah wanita...
Yang ku cinta selama hidupku...
Maafkan anakmu bila ada salah...
Pengorbananmu tanpa balas jasa...

Ya Allah ampuni dosanya...
Sayangilah dia seperti menyayangiku...
Berilah dia kebahagiaan...
Di dunia juga diakhirat...
(Ibu_Sakha)

Bila kuingat masa kecilku, ku slalu menyusahkanmu
Bila kuingat masa kanakku, ku slalu mengecewakanmu
Banyak sekali pengorbananmu yang kau berikan padaku
Tanpa letih dan tanpa pamrih
Kau berikan semua itu
Engkaulah yang kukasihi
Engkaulah yang kurindu
Kuharap slalu doamu
Dari dirimu ya IBU…
Tanpa doamu takkan kuraih
Tanpa doamu takkan kucapai
Segala cita yang kuinginkan
Dari dirimu ya IBU…
(Ingatlah Ibu_Shoutul Haq)

Ku awali hidup ini dengan tangisan yang menggema
Lalu ku dipeluk dibuai dalam ikatan kasih dan cinta
Sampai saat ku mulai menapak dan mengucap kata
Hingga akhirnya ku pahami apa arti duka dan cinta

Terima Kasih Ananda haturkan tuk Bunda tercinta
Sungguh tiada mampu Ananda membalas segala jasa
Mungkin hanya ini kuasa Ananda tuk lukiskan cinta
Melalui rangkaian kata yang terpahat menjadi prosa


Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan
Ibu...,. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah beliau
sebagaimana beliau menyayangi aku selagi aku kecil. Betapa aku sangat mencintainya, begitu mencintainya…

"Titip Ibuku ya Allah"
“Jagalah beliau ketika penjagaanku tak sampai padanya”


Jakarta, 110610 di sepertiga malam yang sunyi dengan rindu yang membuncah
Aisya Avicenna

Pencarian

Popular Posts

Arsip Blog