Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Selamat Datang di Ruang Karya Keisya Avicenna... ^___^ Terima kasih atas kunjungannya... Semoga bermanfaat!

Jejak-Jejak Karya

Jejak-Jejak Karya

Langganan Tulisan dari Blog ini yuk!

Waktu adalah Pedang


2011



Tema besar 2011 :

MEMBANGUN KISAH PENUH MAKNA

Lembur


Kamis, 30 Desember 2010 adalah hari yang cukup bersejarah dalam hidupku! Hmm... Pasalnya secara mendadak pada sore harinya ada mandat dari pimpinan untuk LEMBUR! Karena ada peraturan (regulasi) baru yang digulirkan, alhasil harus ada syarat impor yang dicetak. Jumlahnya ribuan!!! Ada 3 orang yang ditunjuk. Aku, Mbak Uli, dan Mas Gun. Salah satu alasan mengapa kami yang ditunjuk adalah karena status kami bertiga masih muda dan SINGLE. Sambil bercanda sih bilangnya... hmmm... Kalau begini caranya pengin segera nikah ajah.. Bismillah... Doakan ya Kawan! jadi kalau udah nikah ntar kan ada alasan untuk pulang sore... Trus kalau lembur kan ada yang jemput... Hehe... ^^v

Akhirnya, jam 10 malam baru keluar kantor. Pulang naik taksi sendirian. Ngeri juga sih, tapi aku yakin Allah selalu bersamaku. Pukul setengah 11 malam alhamdulillah sampai kost juga.
Pengalaman yang cukup berharga, lembur sampai selama itu... Demi tugas negara!
Semoga Allah meridhoi, cukup itu saja harapanku...

-episode curhat Aisya Avicenna-

Kupu-kupu di Dalam Buku

Ketika duduk di stasiun bus, di gerbong kereta api, di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa, kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku, dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang.

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang, di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku dan cahaya lampunya terang benderang, kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua sibuk membaca dan menuliskan catatan, dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang.

Ketika bertandang di sebuah toko, warna-warni produk yang dipajang terbentang, orang-orang memborong itu barang dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran, dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang.


Ketika singgah di sebuah rumah, kulihat ada anak kecil bertanya tentang kupu-kupu pada mamanya, dan mamanya tak bisa menjawab keingintahuan putrinya, kemudian katanya, “Tunggu mama buka ensiklopedia dulu, yang tahu tentang kupu-kupu,” dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang.


Agaknya inilah yang kita rindukan bersama, di stasiun bus dan ruang tunggu kereta api negeri ini buku dibaca, di perpustakaan perguruan, kota, dan desa buku dibaca, di perpustakaan perguruan, kota, dan desa buku dibaca, di tempat penjualan buku laris dibeli, dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu tidak berselimut debu karena memang dibaca.
Taufiq Ismail (1996)


Tulisan yang sangat bagus untuk direnungkan!
***

Membaca : Virus yang Menular

 
Teringat beberapa hari yang lalu saat saya berada di Kopaja 502. Sudah menjadi kebiasaan saya kalau pergi kemanapun, selalu ada 2-3 buku yang ada di tas. Alhamdulillah, pagi itu saya mendapat tempat duduk, bersebelahan dengan seorang wanita yang berusia sekitar 30-an tahun. Setelah menunaikan kewajiban sebagai seorang penumpang (baca : bayar ongkos), saya buka tas dan mengeluarkan sebuah buku kemudian khusyuk membacanya. Saya telaah kalimat demi kalimat dari buku motivasi yang sedang saya baca. Kadang, saya terdiam sesaat. Menutup buku itu sambil menyelipkan jari pada halaman yang tengah saya baca. Kemudian saya memandang ke jendela dan merenungkan isi buku tersebut. 


Setelang ‘aksi tafakur’ itu selesai, saya buka kembali buku itu dan lanjut membaca. Kasak-kusuk wanita di sebelah saya, yang awalnya hanya duduk diam dan cenderung melamun, juga membuka tasnya. Agak penasaran, saya meliriknya. Dan apa yang ia keluarkan? Sebuah buku! Tepatnya, novel “Bidadari-Bidadari Surga” karya Tere Liye. Kemudian, ia juga turut membaca. Awalnya saya ingin mengajak diskusi tentang novel itu karena saya sudah membacanya. Akan tetapi, niat itu urung saya lakukan karena saya tak ingin mengganggu konsentrasinya. Karena saya sendiri juga tak mau diganggu kalau saya tengah serius dengan buku-buku saya. 


Hmm, ternyata aktifitas membaca saya pagi itu menjadi ‘virus yang menular’ pada orang lain. Membaca adalah salah satu sarana mengoptimalkan otak kita. Karena dengan membaca, otak kita akan terangsang untuk berpikir. Kemudian akan berimbas pada diri kita untuk bergerak jika hikmah dari bacaan itu bisa kita temukan.
Selamat membaca!


Sayangilah buku, karena ia adalah sahabat yang baik… Dengannya, kita bisa ‘bermanfaat’ dan ‘berbagi manfaat’.


“Khairun naasi anfa’uhum linnaas.”
“Sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain”


Aisya Avicenna

HEMBUSAN NAFAS PERTAMA NIBIRU READERS SOLO




Sore itu, rintik gerimis masih bersenandung menyejukkan kalbu para warga Solo, mungkin beberapa insan masih terbius dengan nuansa yang membuat mereka terlelap. Tapi tidak dengan sosok kelima “unyu” yang berjiwa pembelajar itu…(xixi.ngakak guling-guling pas nulis ini). Ada Norma Keisya Avicenna, Aprisa Ayuprimasari, Diah Cmut, Casofa Fachmy, dan Aris El Durra.

Bertempat di kantin Gramedia lantai 1 deket parkiran n kebetulan ada bazar buku, kelima insan ‘unyu’ itu pun berkumpul, berdiskusi, berbagi, tertawa bersama, minum juz, makan2 (khusus yang imut-imut, kayak Diah Cmut, Ayu Imut, n Nungma cute…ckikik…^^v. menyantap dengan lahap soto ayam dan jus alpukat. Mak nyuz dah!!! –banyak inspirasi dari jus alpukat-. I like it…*bergaya ala Rianti). Acara dibuka dengan basmalah, diakhiri dengan hamdalah, istighfar, dan doa penutup majelis.hehe….
Lanjut, semua bawa NIBIRU kecuali “the king of unyu”, jian unyu tenan ni orang!!! Pembahasan berlanjut dengan sangat seru, tampak sekali ‘keunyuan’ tiap personil, gayeng tenan lah…

Mulai deh, mbahas bahasa Kedhalu (Mas Aris kethok ‘unyu’ dhewe…xixixi), mbahas penggalan2 crita dalam novel itu, pembahasan “Lunez Muya” (ada hubungane ma Luna Maya gak? jan ra penting banget.dasar unyu….), sampai akhirnya, terbentuklah kepengurusan NIBIRU READERS SOLO. Tujuan komunitas ini tak lain dan tak bukan untuk menciptakan ‘nuansa dan suasana’ yang lebih enjoy dan ‘excited’ bagi para pembaca novel aksi-fantasi NIBIRU ini, sekaligus kita akan ‘mensosialisasikan’ dan menebar virus NIBIRU di jagad Solo Raya ini. Di komunitas ini pun kita bisa berbagi dan sharing banyak hal pluz melakukan hal-hal seru dan ‘unyu’ yang ada hubungannya dengan NIBIRU. Apalagi novel setebal 700 an halaman karya Kang Tasaro GK ini nanti bakalan jadi pentalogi. Tyuz mau dibikin games pula (Mas Sony…bheladhath!!!) n semoga bisa difilmkan juga. Tyuz novel terbitan Tiga Serangkai (ada perjuangan Pak Bambang Trim di sana..^^v) ini pun semoga tahun 2011 nanti bisa diikutkan dalam Frankfurt Book Fair (pameran buku terbesar di dunia). Apa gak dahsyat tuh…Yups, dan komunitas ini belajar menjadi penikmat sastra karya anak bangsa yang luar biasa!!! Allahu Akbar!!!

Nih kedhudubh (pengurus)-nya :
Pethunya : Casofa Fachmy
Bhepdhethadhibh : Norma Keisya Avicenna
Nyulabh : Aris El Durra
Khdrowdhal penwinyathay : Aprisa Ayuprimasari dan Diah Cmut


Semoga masa depan kita cerah, kinerja kita muntijah (-produktif-) dan dapat mengakhiri amanah dengan khusnul khotimah. Hehe…amin dah.

PR kedhudubh NIBIRU READERS SOLO selama 1 bulan kedepan harus diselesaikan dengan sungguh-sungguh yak, kalau bisa belum ada satu bulan sudah bisa rampung yak, inga’inga’ thing yak!!!…(nanti Bhepdhethadhibh pantau!!! Tolong dibantu yak….^^)
Buat pembaca NIBIRU Solo yang mau bergabung, ayuk ayuk…. caranya mudah kok. Gabung aja…^^v. langkah pertama add FB kita-kita…(hehe). Hm, Insya Allah, nanti kita launching FB n blog NRS…

Tak terasa kebersamaan kita sudah berlangsung selama 1 jam lebih…kebersamaan yang penuh ‘keunyuan’…xixixi…tak lupa mengabadikan moment (minta bantuan mbak-mbake kantin.hehe). eits, jangan lupa mbayar!! Dan kita pun berpisah, tanpa derai air mata tentunya…hehehe (unyu tenan…).

Sanyawinya sedhbhala paminyay!!!
“Pertemuan kita kali ini bukan sekedar kawan lama tak jumpa…
Tapi kita bertemu ada satu makna…kita punya satu perjuangan!!!”
[Sahabat Perjuangan]


"Sedhthelkudh nyidwa nyapidh. Bhesugany kedharakay thedwemal pe ngabhadh manyuth. Dhanyabhinya sebhadh thednyudpak. Kedhabhanyay jiytha thap thedhpathapay. Nyapidh bhesugany kedhcamayay nyapay leycangi nyagam keyjadhinyay thedhalath kaycad. Dhaca Suli leyumibh ngi nyadhi thedhnyaidh sawi kedunyabha seyunya sebhadh Atlantis".

(Bertempur hingga akhir. Sebuah peradaban tenggelam ke dasar lautan. Rahasia besar terungkap. Perasaan cinta tak terkatakan. Akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal pencarian teramat panjang. Dhaca Suli menulis di hari terakhir bagi penguasa Benua Besar Atlantis).


[Keisya Avicenna, 29 Desember 2010….03:30 WIB…banyak doa untuk Indonesia hari ini…”Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku…kuyakin hari ini pasti MENANG!!!” ^^v. dan NIBIRU adalah novel aksi-fantasi karya anak negeri yang “INDONESIA BANGET!!!”. GO NIBIRU GO!!!]

NB itu NamBah:
Catatan yang harus dicatat, bagi yang malas atau tidak punya waktu mencatat, semoga apa yang sudah tercatat dapat bermanfaat…(opo to iki…hihi) : hm, bagi para pembaca…tidak perlu bertanya apalagi penasaran dengan kata “unyu”. Ini bukan Bahasa Kedhalu. Hanya 5 makhluk planet “unyu”lah yang mampu menerjemahkan artinya…hehehe…selamat ber “unyu-unyu” ria…^^v

TAK ADA KEHAMPAAN ANTARA KITA DENGAN KATA



by Norma Keisya Avicenna on Tuesday, December 28, 2010 at 7:09pm
Waktu terus melaju..
Tak kenal rasa haru dan rindu..
Hujan masih menderas diluar sana..
Berteman pekat malam,
dan dingin pun menjelma..

Jejak malam nyaris membekukan udara..

Tapi tidak dengan kita..
Sesuatu dicipta,dari aksara menjadi kata..
Kata yg penuh makna,tanpa hampa..
Berkerlip secercah cahaya bersamanya..
Senyuman itu,canda tawa itu..mengusir gundah yg menggelisahkan jiwa..

~Cukup sudah aku menyerah pada ketidaktahuan yg memenjarakanku dalam kebebasannya,menyesakkan dan menyakiti dalam keramaian warna warni bahagia..ucapku:"aku bahagia melihatmu tersenyum bahagia,sahabatku.."~


[Keisya Avicenna,28 Desember 2010..19.10WIB]

“Selamat Datang Jiwa yang Bercahaya….”



by Norma Keisya Avicenna on Monday, December 27, 2010 at 12:03pm

“Sesuatu” membuat mereka terdiam.

Beralih menjadi hening bahkan khusyuk.

Suara-suara solo, perlahan hilang.

Serasa mereka ditaklukkan dengan kata-kata,

dikalahkan dengan mimik wajah,

sementara intonasi suara berirama sesuai dengan gelombangnya.

Mengoyak-ngoyak emosi, jiwa dan perasaan mereka.

Menyentakkan kesombongan yang pernah singgah dalam hati dan sanubari mereka.

Terbawa hanyutlah mereka mengalir bersama perjalanan nasehat terindah.



Biarlah....

Nasehat itu berubah menjadi potongan waktu

menggugah kesadaran mereka.

Menguras habis air mata mereka.

Biarpun ada yang tak basah di pipi.

Cukup menderas di hati




Ucapku, “Selamat Datang Jiwa yang Bercahaya….”



*Bercahaya karena IMAN…

"Jika engkau merasa bahwa segala yang ada di sekitarmu gelap dan pekat, tidakkah dirimu curiga bahwa engkaulah yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka? Berhentilah mengeluhkan kegelapan itu, sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan..maka, BERKILAULAH!!!"

[Dalam Dekapan Ukhuwah]

Muhasabah Senja



by Norma Keisya Avicenna on Saturday, December 25, 2010 at 5:00pm

Aku putuskan pulang tatkala sinaran sang mentari beranjak tenggelam di ufuk barat..
Aku ingin menemui senja,menikmatinya dalam perjalananku..
Bukan karena siapa,atau karena apa,tapi aku sungguh merindukannya..
Menatap dlm keheningan terbaik..
Suatu masa yg hanya aku dan Sang Pemilik Diriku lah yg tahu..
Senja dan keikhlasan itu..
Ia hanya menampakkan keindahan yg sesaat,namun membekas..
Terpahat indah,meruntuhkan serpihan lara yg msh menyesak dinding2 hati..
Ini hanyalah butiran2 debu ujian yg kan menunjukkan,
"Karena cinta,kuikhlaskan.."

Meski senja itu hanya sesaat tapi ia hadir penuh keikhlasan..dlm balutan kesabaran dan kesyukuran terbaik,hanya untukMu..

“SAHAP JIYTHA NYADHI HIYI”



[Goresan Tinta Emas FLP Solo Raya bersama : Bambang Trim, Tasaro GK, Imazahra, crew NIBIRU, Tiga Serangkai, dan Gramedia…d^^b]

*Pesan : lahap huruf demi huruf, satu per satu, baca sampai tuntas..tas...tas…tas…^^v

Solo “The Spirit of Nungma”, 24 Desember 2010

“Hari ini adalah sepenggal mimpi yang menjadi nyata…jawaban dari doa-doaku dan hadiah luar biasa dari Rabb-ku…”

Sehabis ‘mengadukan semuanya’ sama Allah SWT, merasakan energi dahsyat bersama lantunan ayat-ayat Cinta-Nya, mengawali hari dengan sebuah aktivitas yang paling Nungma suka : MENULIS. Ya, kayaknya aktivitas ini sudah menjadi sebuah ‘panggilan jiwa’. Pertama, menulis di buku DNA. Kedua, menulis PR SUPERTWIN yang pagi ini harus segera dikirimkan ke mysupertwin. Misi besar 24!!! ^^v Mohon doanya semoga lancar dan sukses!!

Jumat hari yang penuh barokah!!! Inspirasi dahsyat, aksi hebat, full manfaat!!!

Ada banyak tempat yang harus Nungma kunjungi pagi ini. Pertama, Masjid Nurul Huda UNS. Masjid perjuangan dimana Nungma bisa menimba ilmu di sana salah satunya dengan mengikuti Kajian Rutin (KANTIN) eNHa. Ternyata hari ini yang ngisi bukan Ust. Abdul Hakim, tetapi Ust. Kholid. Ketika membuka tas, langsung menepuk jidat :”Aduh, bolpenku ketinggalan”. Baru inget, tadi dimasukin ke tas export hitam bukan tas coklat yang Nungma pake ke NH. Wealah, akhirnya coba cari pinjaman kanan-kiri depan-belakang, ternyata mereka hanya bawa 1 bolpen aja. Cliing, langsung inget kalau di lantai 2 ada banyak bolpen ‘yang sudah ditinggalkan pemiliknya’. Hehe…langsung dah, sedikit berlari kecil menuju lantai 2, ambil satu dengan status ‘pinjem’…ahay, Nungma tanpa bolpen bener-bener bagai Nungma tanpa Doraemon dah…xixixi…ada sesuatu yang ‘kurang lengkap’!!!

Seusai kajian, Nungma ke lantai 2. Ada agenda membersamai seorang adik yang luar biasa. Meski sendiri karena rekan-rekan yang lain pada mudik, tapi semangatnya untuk menimba ilmu sangat luar biasa. Berbagi semangat dan inspirasi dengannya…love u, say!!! Tidak terasa hampir 2 jam kita habiskan waktu bersama. Sholat Dhuha dulu baru melanjutkan perjalanan ke warnet Salwa dekat kost….

Rencana jam 10 mau ke PPQ Al Mahir terpaksa dipending dulu, karena dik Erny baru bisa jam 11 an, dan perjalanan ke sana bisa memakan waktu hampir satu jam. Padahal Nungma harus sudah ada di Tiga Serangkai jam 13.00. yasudah, setelah selesai melanglangbuana di dunia maya, Nungma kembali membuka novel NIBIRU yang sore ini mau dibedah sama penulisnya, Kang Tasaro GK di Gramedia jam 15.30. menenggelamkan diri di dunia fantasi bersama Dhaca Suli, Muwu Thedmamu,Nyithal Sadeth, Sothap Bhepami, dll.


Setelah makan siang, sholat Dhuhur, jam 12.45 dik Erny njemput ke kost. Siang ini kita (keluarga besar FLP Solo Raya) mendapatkan kesempatan luar biasa untuk talkshow eksklusif bersama Pak Bambang Trim (General Manager Tiga Serangkai Solo), Kang Tasaro GK (Penulis novel NIBIRU), dan Mbak Imazahra Fathimah (penulis Long Distance Love). Wow…momentum luar biasa ini yang membuat N5130 Nungma 3 hari ini mendadak jadi supersibuk karena didaulat untuk jadi CP di agenda silaturahim tersebut. Terima kasih buat rekan-rekan FLP Solo Raya!!! (bahagiaaaaaaa…banget rasanya, Nungma jadi punya banyak kenalan baru).

Menikmati perjalanan menuju Gedung Tiga Serangkai di Jl. Dr. Soepomo No. 23. Hm, siang ini Solo panas, tapi Nungma lihat sangat cerah dan anggun…bahagia banget. (sempet bersenandung dalam hati : “NIBIRU hari ini….” Xixixi..aransemen nasyidnya edcoustic..”sebiru hari ini..”.wkwkwk… Gempita syukur membahana dalam hati, yang takkan bisa diterjemahkan dengan bahasa sastra tertinggi Negara manapun!!!

BANYAK CINTA HARI INI!!!

Alhamdulillah, jam 13.00 sampai di Tiga Serangkai. Lapor Pak Satpam dulu euy…ternyata tempat parkirnya di belakang gedung selang beberapa rumah gitu. Parkiran yang unik. Hehe…^^v. Seneng deh, bisa menyapa temen-temen yang kemarin hanya komunikasi via SMS. Ketemu mbak Ati’, tyuz kita diantar ke Aula Lantai 4. Keren dah!!! Pak Bambang Trim ternyata sudah ada di sana, bersama beberapa koleksi bukunya yang diletakkan di meja. MUADH SIHABHA!!! Rekan-rekan FLP Solo Raya mulai berdatangan, kalau yang ndaftar ke Norma kemarin sampai angka 60, tapi siang itu mendadak beberapa ada yang cancel. Sip, semangat dahsyat yang rekan-rekan tunjukkan semoga menjadi energy yang luar biasa pula!!!

Hadir juga Mbak Imazahra Fathimah, seorang penulis, yang siang itu bertugas untuk menjadi moderator. (Nungma langsung ‘heboh sendiri’ dengan Mbak Ima. Sebelumnya kita hanya bersua di FB lewat NIBIRU’s READER. Ternyata ada Mbak Yuni juga, NIBIRU’s READER dari Bogor…akhirnya bisa dipertemukan juga dengan mbak…kemarin baru bersua di FB pula. Hehe…)

Pada kesempatan emas siang itu, Pak Bambang menyampaikan “sesuatu”, hm…”PUGHABA”. Apa itu PUGHABA??? Bagi yang sudah membaca NIBIRU pasti sudah tidak asing dengan ‘salah satu bahasa planet’ ini. Yups, PENGUASA!!!. (sssstttt…Nungma duduk paling depan euy…’posisi menentukan prestasi’. Hehe….biar lebih konsentrasi gitu…). Di awal aksinya, Pak Bambang menunjukkan sebuah buku yang berjudul “SEBATANG KARA”. Sebuah buku lama, tetapi kita bisa ‘menemukan sastra yang sebenarnya’ dalam buku itu. Wow…sampai akhirnya beliau bertanya : “untuk apa kita menulis? motivasi apa yang membuat teman-teman semua bergabung di FLP?”. Apakah Uang? Popularitas? Idealisme? Dakwah? Berbagi? Pengakuan?. Hyaaaa….Nungma jadi salah satu peserta yang ‘ditodong’ untuk menjawab.

Hehe…Pak Bambang Trim menyampaikan menulis adalah sebuah life skill, sampai akhirnya pelakunya menjadi “POLYMATH”, seseorang yang mampu menulis dalam bentuk apapun dan dalam laras apapun dengan sama kuat dan berdayanya. Dan PUGHABA HEBAT ITU BERNAMA MENULIS!!! Silahkan rekan-rekan membaca note beliau di :……………….
(note-note yang selalu Nungma kliping di buku khusus “MENULIS” yang Nungma berin nama tu buku : PUGHABA…^^)

Hm, mau tahu motivasi Pak BT menulis dan bisa terus konsisten dan eksis sampai sekarang? Ternyata semua bermula dari hobinya membaca sejak kecil, kemudian mulai ‘menjelajah lebih dalam’ sebuah dunia (memaknai kehidupan), ada kesempatan, sarana memperkaya khazanah ilmu sampai akhirnya VISI, HASRAT, dan CINTA lah yang membuat beliau menjadikan menulis itu sebuah perjuangan untuk “MENJADI BAGIAN DARI PERADABAN” dan “MENGGENGGAM DUNIA LEWAT MENULIS” (Wow, Subhanallah….MUADH SIHABHA!!!*)

Ada satu kalimat yang Nungma suka : kita harus mampu menuliskan apa yang kita pikirkan…hoho…kayaknya ni kalimat lagi pas banget ma Nungma!!! Hehe…

Hm, menulis…temukan rahasianya dalam kita berlatih…betapa luar biasanya seorang penulis yang mampu menggunakan “pughaba”-nya setiap hari dan mengalirkan energy iqra pada visual, auditory, dan kinesthetic-nya. Seolah menemukan ‘indera keenam dalam membaca dan menulis….Wow, Muadh Sihabha*!!!

Terima kasih Pak Bambang atas inspirasi dahsyatnya!!! (beberapa hal yang Bapak sampaikan tidak semua saya tuliskan di sini. Hehe…bagi rekan-rekan yang mau pinjam catatan saya di buku boleh-boleh saja atau lebih lengkapnya bertanya langsung dari narasumber…hoho)

Haiyyaah…ternyata Kang Tasaro GK sudah duduk di deretan belakang. Dan saatnya beliau beraksi. Dengan topi lucunya, kaos, tas lucu juga, sepatu kets, gaya yang simple tapi sangat memukau. Xixixi..peace, kang!! Gak nyangka euy…beliau nyebut-nyebut “keisya” (gubrak.com). beliau juga masih ingat dengan mysupertwin waktu ketemu di Gramedia Matraman tanggal 12 silam. Wow…SUPERTWIN fans berat karya-karya Tasaro GK!!! ^^.Nah, hari ini dah ketemu kembarannya to Kang?? Dulu ketemu Aisya, sekarang Keisya. Hehehe...
“Seorang penulis yang baik mau dan mampu menulis buku dan tidak akan berhenti begitu saja ketika sudah sampai di titik akhir. Harus berlanjut dan terus mengasah skill menulisnya.”

Wow, suplemen dahsyat di awal obrolan siang menjelang sore itu…Beliau juga menyampaikan bagaimana kita harus bersikap terhadap penerbit, etika menulis, dan 2 halangan yang bagi seorang penulis ketika memulai prosesnya : mentog/writingblock dan kritik!!! Menulis bukan soal bakat, yups, “Menulis adalah life skill dan ada 2 kepentingan yang harus bertemu : KUALITAS dan MARKET!!! Menulis bukan pekerjaan bakat, tapi soal bersungguh-sungguh (improvement).” Wow, siippp kang…Muadh Sihabha*!!!
Beliau juga menyampaikan : “Membuat buku itu susah tapi bertahan untuk menjadi seorang penulis itu jauh lebih susah” (hm, Nungma manggut-manggut mantab…^^)

Dalam kesempatan itu, Kang Tasaro juga ngasih game kepada kita. Pertama, tuliskan nama teraneh yang mungkin ingin kamu jadikan tokoh dalam tulisanmu! Kedua, tuliskan karakter/sifat teraneh pada tokoh itu! Ketiga, hal teraneh…wkwkwk…lucu lah!!!
Ada Mas Aris El Durra (duduk disampingnya ternyata ada kepala suku Pelangi, kang Casofa Fachmy. Ckikik…kompak nian kalian berdua…^^)yang menyampaikan “Camadas” sebagai tokoh dengan nama aneh itu (tak lazim, tapi menarik juga…), dengan karakter “baik hati tapi pembunuh” dengan sikap aneh :”terbang dengan tangan”. Ada juga Bunda Eny yang menyampaikan “BuRo”, “Pengkhayal, kolektor tusuk gigi dan slebor”, dan “kesasar di Rumah Sakit Jiwa” (wkwkwk, ketemu Mas Aris donk!!^^v). Ada lagi Mbak Yuni dengan “Tristan, seekor Pegasus”, dengan karakter : “keberanian yang bercahaya”, kejadian anehnya : “di penghujung malam, keluar dari samudera (atau apa mbak?gak tercatat nih…mohon di koreksi. Hehe….) untuk menjemput anak yang terpilih”. Wow, imajinasi luar biasa!!!

Pada akhirnya, Kang Tasaro menyampaikan 7 kunci :
1. Nama (dan karakternya)
2. Cita-cita
3. Penghalang
4. Perjuangan
5. Kegagalan
6. Titik Balik
7. Ending


Aha, kita harus mampu menulis dan “idealisme kita masuk ke kepala orang”. Nah, kalimat ini harus benar-benar kita bold and underline!!! Sehingga kita mampu mengikat dan memikat pembaca sejak awal. Yups…….dahsyat Kang!!! Banyak jempol buat Kang Tasaro…(Nungma pinjem kanan-kiri, depan-belakang…hehe..dapat salam dari mysupertwin, Kang!!! Kapan-kapan semoga bisa ketemu lagi dengan Kang Tasaro dan SUPERTWIN lengkap trus foto bareng deh…lho????hehehe…)

Selanjutnya Mbak Imazahra yang berbagi inspirasi dengan kita. Beliau menceritakan perjalanannya di dunia kepenulisan. Sempat mengambil master di Inggris. Satu hal yang Nungma catat : “sebuah kesadaran komunitas”. Yupz, betapa pentingnya kita membangun sebuah networking. Silahkan rekan-rekan bisa bekunjung ke blog beliau di http://imazahra.multiply.com. Yups, beliau adalah sosok penulis yang “from blogging to publishing”. Dahsyat dah…!!! Sosok yang kegemarannya hampir sama juga dengan Nungma : hobi travelling [tapi Nungma belum pernah ke luar negeri mbak, baru keluar pulau…Biidznillah, suatu saat yang “TEPAT dan TERBAIK” nanti semoga bisa...Semoga Allah SWT berkenan mengabulkan…amin. ntah waktu naik haji, dapat beasiswa S2 di luar negeri, honeymoon (xixixi…), atau yang lain. Salah satu impian Nungma juga mbak…(Ya Rabb, berikanlah hamba kemudahan…Amin)], bertemu orang-orang baru (Nungma sangat sukaaaa!!!), motret (suka juga meski cuma pake HP), dan menulis untuk berbagi (like this sangat mbak!!!^^v. Semoga Nungma juga punya buku yang berkualitas, bermanfaat dan mencerahkan, yang bisa berdiri berjajar di rak bersama penulis-penulis hebat favorit Nungma…Amin. Mohon doanya ya mbak n dari semua juga…). Pesan Mbak Ima : “Mari kita bersama menjaga energi untuk tetap menulis!!!”

Acara di Tiga Serangkai selesai jam 15.15 WIB. Kemudian keluarga FLP Solo Raya beberapa ada yang mengabadikan moment sore itu dengan foto bersama…(palingsuka.com). tyuz kita berbondong-bondong ke Gramedia Jalan Slamet Riyadhi. Nungma n the gank sholat dulu. jam 16.10 akhirnya sampai juga di lantai 2, berkumpul bersama para peserta yang lain. Tadi sempat ditelp Diah Cmut, katanya dicari Mbak Imazahra disuruh segera ke lantai 2. Weikz..ternyata pada kesempatan bedah novel NIBIRU bersama Tasaro GK dan Mbak Imazahra sebagai moderator itu Nungma dadakan disuruh maju untuk ngasih testimony tentang NIBIRU. Wow, seakan tak percaya…bisa berkomentar langsung, ngasih testimony di hadapan penulisnya langsung. Penulis favoritnya pula…^^v. Sebuah pengalaman yang dahsyat, luar biasa, yang pastinya tak akan terlupa seumur hidup dah…Impian Nungma no. 144 dan 145 terwujud…Terima kasih, Ya Rabb…(sampai detik ini pun Nungma masih belum percaya…hoho..ngomong apa sih Nungma kemarin [ada yang mau berkomentar???hohoho…], yang jelas itu luapan bahagiaaaaaaaaaa. Nungma suka banget sama novel NIBIRU. Dari awal aja, mentalitas peneliti dan mentalitas Conan Nungma dah disibukkan untuk memecahkan dan mengotak-atik bahasa Kedhalu. Hoho…*Muadh Sihabha!!!].

Bedah novel yang berlangsung amat sangat very seruuuuuuuu sekali bangeeet!!! Hadir pula pak Sony yang nanti akan membuat game animasi NIBIRU. Mantabz surantabz dah…

Menjelang petang, saat senja bertandang..kebersamaan ini harus diakhiri padahal Nungma masih ingin berlama-lama diajak berpetualang bersama NIBIRU dan Kesatria Atlantis. Hoho…sebuah ending yang sangat indah… foto-foto n minta tanda tangan pluz motivasi dah!!!hehe…

BANYAK CINTA HARI INI!!!

Special thanks to :
1. My SUPERTWIN, “Etika Aisya Avicenna”: terima kasih buanyaaak sudah membelikan Novel NIBIRU tanggal 11 Desember 2010 silam di Gramedia Matraman. N maketin novel itu ke Istana 5 Cinta kita dan kuterima tanggal 18 Desember 2010. Punya novel itu menjadi salah satu impianku, dan kau menjadi perantara terwujudnya impian itu…”Apa pughabamu?”, tulisan Kang Tasaro di novel itu…hehe…yuks, SERIUS dan FOKUS merampungkan MISI DAHSYAT 24!!

2. Kang Tasaro GK : terima kasih Kang buat semuaaamuaaanya….u’re my inspiring!!! Pesan beliau yang tertulis di buku khusus menulis yang Nungma beri nama “PUGHABA” : “Ikat mimpimu dengan tulisanmu!!!”, satu lagi di kertas biru muda : “to : Norma Keisya…hello twin girl : pada mulanya adalah pughaba…” (hoho…).

3. Pak Bambang Trim : ntah berapa kata terima kasih yang harus saya sampaikan ke bapak atas kesempatan luar biasa hari ini…Bhelowa bhupbhebh bhemamu….^^. Beliau menulis pesan : “Menulis dalam setiap tarikan nafas untuk mewarnai kehidupan yang seperti PELANGI”. Likethis sangat, bapak!!!

4. Mbak Imazahra : bahagia banget bisa bertemu dengan penulis Long Distance Love. Semoga buku ini banyak menginspirasi dan mewarnai kehidupan saya!!! Pesan beliau : “Menulis adalah mengabadikan kehidupan dan memuja nama-Nya dengan kekuatan kata-kata”. Love u, mysister…^^

5. Mas Aris El Durra : Subhanallah, energy luar biasa dahsyat hari ini!! Semoga kita semakin bersemangat untuk membaca dan menulis lebih ‘banyak’ lagi. Karena “Menulis adalah berjuang”, seperti pesan yang kau tuliskan di buku “PUGHABA” ku…likethis,mybrother….

6. Kang Casofa Fachmy (sang kepala suku Pelangi) : “Menulis adalah panggilan jiwa untuk menerangi dunia”. (haha…nyadar kan kang pas nulis ini?ngakakgulingguling.com. like this lah!!!). Mari bersama, meniti jejak di permukaan pelangi. Bravo Pelangi!!!

7. Mbak Yuni : “Menulis adalah cara kita mengenal diri kita sendiri lebih jauh dan memperkenalkan diri kita pada dunia”. Bersyukur dan bahagia bisa bertemu dan berkenalan dengan mbak…”Keberanian yang Bercahaya”, saya suka banget kata-kata ini…^^v. love u coz Allah, my sister…

8. Keisya Avicenna : “Menulis adalah menjadikan setiap huruf bermetamorfosa sebagai dzarrah kebaikan. Menulis untuk mendokumentasikan hidup”

9. Dan apa MENULIS menurutmu??? (silahkan isi di comment..hehe)


Di penghujung tulisan ini, izinkan saya menuliskan sesuatu :
“thedhubmany sedhebheladhath ngay semacadh lekarhi kheyhumibh nadh sedhkhdobhebh..MUADH SIHABHA!!!”
“teruslah bersemangat dan belajar menjadi penulis yang berproses…LUAR BIASA!!!”
(mohon dikoreksi karena Nungma juga masih harus banyak belajar dalam memecahkan misteri ini…hehe)

IMPIAN No.155 : NIBIRU GO INTERNATIONAL!!!
IMPIAN No.156 : Jadi DUTA NIBIRU dan bisa mengikuti Frankfurt Book Fair tahun 2011. (hoho..bermimpi, boleh kan???)

NB : ada kejadian lucu… pasca bedah buku, Nungma turun ke lantai 1 ke bazar buku. Setelah muter2 lihat, sampai akhirnya sepasang mata lengkap dengan kacamata ini ‘menangkap’ sebuah buku karya Ust. Fauzil Adhim,dkk. yang berjudul : “HOW TO GET MARRIED”, buru-buru aja gitu belinya coz tahu harga cukup terjangkau n harus segera sholat Maghrib. Alasan beli buku ini pun karena Ust. Fauzil juga inspirator saya dalam menulis. Masalah judul dan isi itu belakangan, huznudzonnya pasti bagus dan bermanfaat dah. Hehe… malamnya menjelang tidur, iseng aja acak buka itu buku. E, yang kebuka halaman 109. Dan siapakah penulis salah satu kisah di buku itu??? (ternyata buku itu isinya kumpulan tulisan para penulis beken yang mengisahkan pengalaman sejati mereka dalam mendapatkan dan ‘menjemput’ jodoh : dari pertama kali ketemu, kenal, ngelamar, sampai merit. Mulai yang dijodohin, seperti Mbak Afifah Afra, dicomblangin kayak Mbak Vida (Robi’ah Al Adawiyah), atau nembak sendiri gayanya Taufiq Saptoto Rohadi…(xixixi…pas bagian ini mpe ngakakgulingguling.com-hehe..gak sampai segitunya ding-). Hal 109 ternyata tulisannya Kang Taufiq Saptoto Rohadi alias Kang Tasaro GK yang berjudul : ”Sekali Nembak Langsung Jadi”. Wkwkwk…sebuah kisah penuh perjuangan yang ‘menggelikan’. Hm, Kang Tasaro : sampaikan salam saya untuk Mbak Alit Tuti ya…

[Keisya Avicenna, 25 Desember 2010; ditulis dari jam 02.00-04.00 WIB. “BANYAK CINTA HARI INI”]

Persepsi Impian

Alhamdulillah, jam 12 kurang sudah terbangun. Saat ini pukul 00:53, ketika tengah asyik membaca tulisan motivasi dari seorang teman ada pesawat terbang yang melintas di atas kepala saya. Maksudnya di langit sana lho! Langsung saya teringat kisah saya di bulan Mei tahun 2009. Waktu itu saya mengikuti workshop kewirausahaan di UNDIP Semarang bersama Bapak Heppy Trenggono, seorang pengusaha sukses. Dalam workshop itu, semua peserta diminta membuat DREAM BOARD. Sebuah visualisasi impian berjangka 5 tahun yang dibuat dalam bentuk maket.

Salah satu impian yang saya tulis di tahun 2012 adalah : naik pesawat. Hmm, syukur alhamdulillah... pada tahun 2010 ini Allah berkenan memberikan saya kesempatan untuk ‘menjelajah awan’ sebanyak 4 kali. LUAR BIASA! Semua ini karena KEHENDAK ALLAH Swt... Benar saja, seindah apapun rencana kita, rencana Allah itu jauh lebih indah. Kalau di buku mimpi, impian naik pesawat itu terdaftar di impian ke-45. Akhirnya, impian itupun bisa saya coret. Sebuah impian yang pencapaiannya ‘dipercepat’. Sebuah impian yang bisa saya raih atas pertolongan Allah yang Dia ‘titipkan’ pada orang lain.


Pukul 01:03 eh... ada pesawat yang melintas lagi... Hmm, kembali ke masalah impian. Ada lagi yang saya tulis di DREAM BOARD itu. Pada tahun 2010, salah satu impian saya adalah punya income 13 juta per bulan. Wow, angka yang sangat bombastis ya! (minimal menurut saya ^^v). Apakah impian itu sudah terwujud? Jawabannya belum (kalau perhitungannya secara materi). Dan itu berarti, ini adalah ‘impian yang belum menjadi nyata’ atau ‘impian yang tertunda’. Akan tetapi, dalam perspektif yang berbeda, bisa saja saya menilai bahwa impian tersebut ‘sudah menjadi kenyataan’, bahkan ‘jumlahnya lebih dari sekedar yang saya impikan’. 


Secara materi, mungkin penghasilan yang saya dapat dalam waktu sebulan sekitar 1,7 juta. Akan tetapi, secara nonmateri? Contoh sederhananya, saat kita menghirup oksigen. Coba Anda hitung berapa oksigen yang Anda hirup perharinya! Kalikan dengan harga OXYCAN atau tabung oksigen di Rumah Sakit? Tentu jumlahnya akan melampaui angka 13 juta dalam sebulan, kan? Dengan begitu kita akan senantiasa bersyukur dan semakin bersyukur. Dan apa balasan bagi orang yang bersyukur??? Saya yakin Anda sudah tahu jawabannya. ‘Cara kerja’ Allah memang tidak ada yang bisa menduga. So, jadikan itu sebagai motivasi!


Nah, ini yang sama namakan ‘persepsi impian’. Tak jarang kita menganggap impian kita ‘belum dapat dicapai’ karena ‘merasa sulit/tidak mungkin’ dalam mencapainya. Padahal, jika kita sedikit mengubah persepsi kita, kondisi kita akan jauh lebih baik. Pikiran dan perasaan kita akan jauh lebih POSITIF. Kita melihatnya dari ‘kaca mata’ yang berbeda. Sehingga dengan memaknai bahwa impian kita sebenarnya sudah terwujud, hal ini akan memacu kita untuk ‘memperbaiki hasil’ dari impian tersebut agar menjadi ‘lebih nyata’ (baca : tidak abstrak lagi). Apakah suatu saat income saya mencapai 13 jt/bulan? Insya Allah, bisa saja. Bahkan bisa lebih dari kisaran dua angka itu. Jika Allah berkehendak dan jika saya memperjuangkannya!


Beranilah bermimpi!
Beranilah memperjuangkan impian itu!
Pukul 01:21 eh, ada pesawat lagi! Saya akhiri tulisan ini ya... 


Salam SEMANGKA! SEMangat merANGkai KArya!!!
Aisya Avicenna

Antologi Kedua

Sekilas “Cinta Adinda”

Adinda Khoirunnisa. Seorang muslimah perantau yang tengah berjuang mencari pendamping hidup. Suatu hari, Adinda hendak menghadiri pernikahan Adelia, sahabat karibnya di Jogja. Sehari setelah acara pernikahan tersebut, saat cahaya mentari datang… suara gemuruh terburu-buru menyapa pagi. Merapi menggeliat. Awan panas meluncur. Menghambur tak beraturan. Beberapa daerah terkena hujan abu vulkanik. Pagi itu hujan abu turun sampai di bumi Jogja.
Adinda urung kembali ke kota rantaunya. Ia bergegas ke Klaten, menemui sang kakek yang tinggal di sana. Alhamdulillah, kakeknya selamat. Akan tetapi, Merapi semakin mengamuk. Masyarakat diminta meninggalkan rumah. Mereka harus mengungsi. Seorang relawan bergelang merah membantu mereka memapah sang kakek yang lumpuh.
Ternyata gelang merah itu menjadi tanda akhir dari cinta Adinda
Bagaimana kisah Adinda?
Lalu, siapakah relawan bergelang merah itu?

***
Temukan jawabannya di Kumpulan Cerpen “BE STRONG INDONESIA” yang ditulis bersama rekan-rekan yang tergabung dalam #writersforindonesia ini…
Selain cerpen di atas, ada juga 15 cerpen pilihan lainnya… Hmm, penasaran?
1. Tanggal 11 Bulan Juni, penulis Winda Joeanita
2. Matahari Setelah Hujan, penulis: Ninit Yunita
3. Membuka Luka Lama’, penulis: Arif Zunaidi
4. Pelangi, Penulis: Hindraswari Enggar
5. Senja Dalam Senyuman, Penulis: Agustina Wulandari
6. Cinta Adinda, penulis: Aisya Avicenna
7. ‘Hidup dan Daging Rendang’, penulis: Irhayati Harun
8. Jalan simpang dua, penulis: Yudiono
9. ‘Nusantara’, penulis: Andrika Permatasari
10. ‘Semesta Maya’, penulis: Feby Indirani
11. ‘Senyum Kecil dari Sang Cahaya’, penulis: Theresa Levana
12. ‘Rumah Ini’, penulis: echaimutenan
13. Ada Malaikat Pencabut Nyawa, penulis: Ade HK
14. Saat Mencintai Dunia Maya, penulis: Syarifah Bachrum
15. Ketika Jauh, penulis: Triana Dewi
16. Surat Untuk Surya, penulis: Papyruz

Hasil penjualan dari kumpulan cerpen ini akan didonasikan seluruhnya (100%) untuk korban bencana alam di Indonesia, yang akan disalurkan melalui lembaga terpercaya.
Buat teman-teman yang berminat membeli kumpulan cerpen ini sekaligus memberikan donasi bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan, silakan SMS ke : 08999344753. Harga : Rp 45.000,-
Format SMS: Nama_Alamat lengkap_Jumlah Pesanan kirim ke 08999344753
Bisa pesan dulu, soal pembayaran… nanti bisa menyusul… (saya konfirmasi via SMS)
Beli buku sekaligus beramal? Yuk, mari…

Be Strong Indonesia!!!
Aisya Avicenna

Pesan Kepala Suku FLP Jakarta (Kang Tef)

Aisya Avicenna dan Taufan E.Prast
“Kalau ingin bisa menulis novel, bacalah novel sebanyak mungkin. “
Setelah pesan ini disampaikan di tengah-tengah kami. Pak ketua bertanya kepada teman-teman kelas novel. Satu per satu. “Kamu, berapa banyak novel yang dibaca bulan ini?”
Mungkin sebagian orang ada yang terkejut dengan pertanyaan ini. Sebagian yang lain ada yang baru menyadari. Mungkin demikian
“Bila ingin menjadi cerpenis, bacalah cerpen secara rutin.”
Pesan ini disampaikan kepada mereka yang berada di kelas cerpen. Kembali pertanyaan yang sama diajukan kepada teman-teman.
“Jika ingin menjadi penulis non fiksi, kembali bacalah sesuai dengan minat masing-masing. Yang suka inspiring story, bacalah tulisan-tulisan inspiring. Mereka yang suka artikel, tingkatkanlah membaca artikel dan seterusnya,”
“Lalu coba pelajari dengan seksama bagaimana mereka semua menulis.”

Pesan Ketua di Taman Surapati, 19 Desember 2010

-copy paste catatan kepsek pramuda 14, Kang Arya~

DUDE, OKKY, dan ANDY jadi Q-GENNERS

Sabtu, 25 Desember 2010 sekitar pukul 07.30 dengan menggunakan bus Trans Jakarta, bersama seorang sahabat kostku, aku pergi ke Universitas Yarsi. Awalnya kita sama-sama tidak tahu lokasinya. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Wew, sampai di sana, ternyata kebanyakan pesertanya adalah ABG (anak-anak SMP dan SMA). Waduh, jadi berasa muda lagi nih! Tapi ada juga mahasiswa, karyawan/wati, dan orang tua. Komplit lah! Jadi ya tidak terlalu nyasar banget...
Acara apa sih?
Acaranya adalah talkshow bersama ustadz Bachtiar Nasir tentang Al-Qur’an dan generasi muda. Penyelenggaranya dari Ar-Rahman Qur’anic Learning Centre (AQL). Tak disangka ternyata ada Dude Herlino (pemeran Syamsul Hadi pada film “Dalam Mihrab Cinta”), Okky Setiana Dewi (pemeran Anna Althafunnisa pada film KCB), dan Andy Arsyil (pemeran Furqon pada film KCB). Walah, ada artis! Pantesan membludak. Tapi, semoga kedatangan para peserta ke acara ini bukan semata-mata karena bintang tamunya artis, tapi karena semangat untuk mencari ilmu serta berazzam untuk menjadikan diri sebagai Generasi Qur’ani.
Ehem, padahal baru kemarin (24 Desember) nonton Dude di film DMC, hari ini bisa bertemu langsung. Hihihi... kembali ke jalan yang benar!

“Q-Genners?” tanya MC
“Yes, We Are!” kami menjawab
“Are You The Next Leader?” tanya MC lagi
“Yes, We Are!” kami kompak menjawab.
Ya, itulah yel-yel kami selama acara ini. Aura semangat memenuhi ruangan aula Universitas Yarsi.
Acara diawali dengan tilawah dan sari tilawah. Dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia dan perwakilan dari Yarsi. Terus acara intinya deh!
Dude dan Ustadz Bachtiar naik ke panggung. Talkshownya lumayan seru. Ustadz menyampaikan beberapa permasalahan yang sering melanda anak muda zaman sekarang, seperti : free sex, narkoba, rokok, dll. Dude juga menimpali dan memberikan kesaksian bahwa dia juga sempat ditawari narkoba oleh temannya, tapi alhamdulillah dia masih bisa menolaknya. Kalau soal rokok, dude berpendapat bahwa rokok adalah salah satu jalan menuju narkoba. Selain itu, Dude berpendapat, kalau pacaran adalah salah satu penyebab terjadinya free sex. Dalam Al-Qur’an saja dituliskan bahwa mendekati zina saja dilarang. Wah, Dude seperti Syamsul Hadi saja! Kayak ustadz. Sebuah kalimat penutup dari Dude, “Setiap kita memang tidak selalu bisa memberikan hal-hal besar dalam hidup, tapi setiap kita bisa memberikan hal-hal yang kecil dengan cinta yang besar.”

Pada sesi kedua, Ustadz Bachtiar ditemani Okky dan Andy Arsyil. Pada sesi kali ini, Okky dan Andy menceritakan kisah perjalanan hidup mereka yang sangat luar biasa! Ya, setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan dan titik terendah dalam hidupnya. Hanya orang-orang yang yakin akan adanya Allah dan besarnya pertolongan-Nya lah yang akan berhasil keluar dari kemelut dalam hidupnya.

Sebelum acara berakhir, ketiga artis muda di atas mengikrarkan diri menjadi Q-Genners. Allahu akbar!
Reportasenya masih kurang komplit nih!
Insya Allah nanti segera dilengkapi.

Aisya Avicenna

Jalan Cinta Para Penulis

Ketika huruf bisa tersusun menjadi kata, ketika kata dapat tertautkan menjadi kalimat, dan ketika kalimat berhasil terangkai menjadi tulisan yang inspiratif. Ketika itulah akan terasakan suatu kebahagiaan yang luar biasa
(Aisya Avicenna)

Setiap orang sebenarnya mampu menulis. Seseorang yang buta huruf sekalipun, sebenarnya mampu menulis hanya saja ia tidak berlatih atau dilatih untuk menulis. Setiap manusia yang bisa menulis seharusnya bersyukur akan kemampuannya tersebut. Allah SWT membekali setiap manusia dengan tiga potensi dasar yakni : ruh, akal, dan fisik. Manusia dibekali akal untuk berpikir. Salah satu cara untuk menuangkan buah pikiran adalah dengan menulis. Pikiran merupakan unsur yang paling mendukung dalam menulis. Bisa dikatakan bahwa menulis adalah proses berpikir paling kreatif. Dengan menulis, kita bisa menumpahkan semua beban perasaan kita, sehingga pikiran yang sebelumnya terasa keruh akan bisa menjadi jernih. Selain itu, kita bisa berbagi pengetahuan kepada orang lain sehingga tulisan kita bisa mendatangkan manfaat bagi sesama. Itulah esensi dari suatu ibadah dan menulis adalah salah satu amal ibadah.

Walaupun kelihatannya mudah, pada prakteknya tidak semua orang mudah melakukan aktivitas menulis ini. Banyak di antaranya yang justru mengalami kesulitan pada waktu pertama kali hendak menulis. Terkadang mereka mengalami kebuntuan ide/gagasan, tengah enggan/malas, merasa tidak bisa, tidak berbakat, tidak mampu atau tidak kompeten, takut, dan lain-lain. Jika kita ingin menjadi penulis handal yang produktif dalam berkarya, maka semua hambatan ini harus dikikis habis.
Menjadi seorang penulis handal memang butuh perjuangan. Seorang penulis juga harus ditempa melewati beragam proses yang tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setiap proses yang ditapaki penuh dengan konsekuensi. Akan tetapi, bukan berarti hal ini menjadi sesuatu yang tidak mungkin dicapai, hanya saja diperlukan kesungguhan dan kerja keras untuk menjadi seorang penulis handal. Berikut dipaparkan hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seseorang yang ingin menjadi penulis hebat nan isnpiratif. Kuncinya adalah ‘CINTA’.

[C]ukuplah Allah sebagai Tujuan
Islam memandang umat manusia sebagai makhluk yang mulia. Lalu, apa tugas manusia sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Allah SWT? Allah SWT menerangkan bahwa tugas manusia di bumi adalah untuk beribadah. "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan." (QS. Adz-Dzariyat [56] : 57). Ibadah dalam Islam mencakup seluruh aspek kehidupan. Melaksanakan semua perintah yang tertulis dalam Al-Qur`an dan As Sunnah serta menjauhkan larangan yang tertulis di dalam keduanya adalah ibadah. Ibadah mencakup semua aktifitas manusia bila diiringi dengan niat yang benar untuk mencapai ridha Allah SWT. Sholat, zakat, dan infaq adalah ibadah. Sampai-sampai memalingkan mata dari pandangan yang harampun termasuk ibadah. Tak ada pemisahan antara ibadah dan aktivitas keduniaan dalam Islam. Semua perbuatan menjadi ibadah di sisi Allah bila diniatkan semata-mata karena mencari dan mencapai ridha-Nya. Hadist 1 Arba’in berikut menjadi pengingat akan esensi niat dalam setiap amal kita.
Dari Amirul Mu’minin Abi Hafsh Umar ibn Al Khaththaab Radhiyallahu ‘Anhu, berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, 'Sesungguhnya amal-amal itu bergantung kepada niatnya. Dan setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikejarnya atau wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia (niatkan) hijrah kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, nilai suatu perbuatan dalam pandangan Islam dilandasi niatnya, bukan dari hasilnya. Hasil suatu perbuatan berada di tangan Allah SWT dan karenanya ganjaran perbuatan seseorang tidak tergantung pada hasilnya, tetapi pada niat yang ada di dalam hati. Niat yang benar juga harus dilanjutkan dalam amal yang benar pula. Setelah niat seseorang telah lurus, amal yang dilakukan pun tidak boleh melanggar rambu-rambu yang benar. Tidak ada kamus ‘menghalalkan segala cara’ dalam mencapai apa yang diinginkan. Seorang muslim tidak dibenarkan menggunakan cara yang tidak disukai Allah SWT demi mengapai tujuan dan cita-citanya.
Demikian halnya dengan menulis. Aktivitas menulis akan bernilai ibadah jika diniatkan semata-mata mencari ridha Allah SWT. Merangkai kata demi kata sehingga menghasilkan karya dengan menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan itulah visi mulia seorang penulis. Ia menegakkan kalimat Allah melalui pena, menuliskan bait demi bait kebenaran, dengan harapan banyak yang akan terinspirasi dari tulisan itu untuk senantiasa berbuat baik, Karena tiada balasan yang lebih pantas dari kebaikan selain kebaikan pula. Hendaknya setiap penulis selalu memperbaharui niatnya, jangan sampai kehilangan orientasi dalam menulis. Selayaknya setiap penulis meyakinkan dirinya bahwa ia menulis untuk menebarkan kebaikan, saling mengingatkan, dan tentunya mengharapkan ridha-Nya. Saat menulis, jangan berharap adanya popularitas dan keuntungan finansial semata. Memang, dengan menulis hal itu bisa saja kita dapatkan. Tapi yakinlah, saat itu diniatkan pada awalnya dan ternyata berhasil didapatkan, maka kita akan kehilangan satu investasi besar, yakni investasi akhirat.
Telah disebutkan bahwa menulis juga termasuk bagian dari ibadah. Bahkan menjadi suatu amal yang sangat bermanfaat dan menjadi investasi akhirat jika tulisan itu bermuatan pesan moral yang diamalkan oleh orang banyak sehingga bisa mengubah karakter manusia yang kurang baik menjadi bermoral dan berbudi luhur. Nah, dari sini bisa kita lihat betapa pentingnya menulis. Di dalam tulisan bisa kita sampaikan apa saja yang kita mau sehingga orang lain bisa membacanya, mengamalkannya, dan terinspirasi karenanya.

[I]nspirasi Datang, Jangan Dibuang!
Inspirasi adalah nyawa dalam kehidupan kita. Inspirasi bagaikan oase di tengah padang gurun yang meranggas tertelan panas. Ia hadir dalam setiap jiwa manusia dan menjadikannya sebagai penyejuk. Inspirasi bagai nyawa dalam diri seseorang. Ia bisa saja jadi semangat tak berkarat, bagai aliran listrik yang menjalar cepat dan hebat. Ia mampu menghentakkan motivasi. Membangkitkan yang lemah. Mengubah kondisi terbatas menjadi teratas. 


Tidak peduli kita suka menulis, serajin apa kita menulis, selalu ada waktu dimana kita memang membutuhkan inspirasi untuk mendapatkan gagasan atau tema dari tulisan kita. Kebanyakan justru inspirasi didapat dari luar diri kita, karena bisa jadi pikiran kita memang sudah cukup letih atau jenuh untuk menggali topik atau tema apa yang hendak kita tulis.
Inspirasi itu tidak akan datang jika hanya ditunggu. Inspirasi ada karena dicari atau diciptakan. Sumber inspirasi bisa didapat dari mana saja, baik dari internal maupun eksternal penulis.
1. Sumber Internal
Inspirasi bisa datang dari dalam diri penulis. Lewat pemikirannya yang mendalam dari hasil renungan (kontemplasi) yang dilakukannya. Atau bisa melalui kepekaan panca inderanya. Oleh karena itu, seorang penulis harus sensitif terhadap lingkungan sekitarnya. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan seharusnya bisa menjadi inspirasi dahsyat yang bisa melahirkan karya atau tulisan.
2. Sumber Eksternal
Banyak sekali sumber inspirasi yang berasal dari luar. Berikut beberapa sumber inspirasi yang bisa didapat seorang penulis.
a. Al Qur’an
Segala inspirasi ada di dalam Al Qur’an. Jika tidak menemukan inspirasi dari Al Qur’an, bisa jadi kita belum mengenal atau cukup berinteraksi dengan Al Qur’an. Kita boleh mengambil inspirasi dari manapun, selama inspirasi tersebut tidak melanggar syariat dan nilai Al Qur’an. Agama Islam tidak membatasi kita mendapatkan hikmah dari mana pun, selama rujukan utama kita Al Qur’an dan As Sunnah.
b. Siroh Nabawiyah
Sebaik-baik kisah yang patut dijadikan inspirasi adalah kisah Rasulullah SAW, keluarga Rasul, sahabat-sahabat Rasul, dan orang-orang terpilih yang menjadi “kekasih” Allah SWT. Tentunya banyak inspirasi yang bisa kita dapatkan dari kisah mereka.
c. Orang lain
Orang di sekeliling kita bisa dijadikan sumber inspirasi yang menarik. Coba perhatikan mereka, pastinya ada beberapa yang memiliki karakter yang unik. Ini bisa kita gali lebih dalam. Karakter seperti suka marah, bisa kita jadikan tulisan bertemakan sifat marah, bagaimana mengatasinya, dan lain sebagainya. Orang lain yang dimaksud juga bisa berasal dari tokoh inspiratif yang sukses atau bisa juga penulis tenar.
d. Lingkungan
Lingkungan sekitar kita adalah sumber inspirasi yang bagus. Nuansa alam seperti pantai, pegunungan, lembah, dan sebagainya bisa menjadi daya tarik untuk setting tulisan kita. Bahkan lingkungan kumuh di pinggiran kota juga bisa menjadi bahan tulisan.
e. Buku/Bacaan
Menulis dan membaca adalah kebiasaan yang saling tertaut. Banyak wawasan baru yang akan kita dapatkan dengan banyak membaca. Belajar dari karya orang lain sesungguhnya juga membuat kita belajar bagaimana proses kreatif mereka terbentuk. Memperbanyak bahan bacaan akan membuat wawasan kita menjadi lebih luas. Banyak hal baru yang akan kita dapatkan dari membaca, seperti ragam kehidupan dengan segala pernik dan maknanya, penggunaan bahasa dan pemakaian kata-katanya, gaya penulisan dan lain sebagainya. Membaca majalah, koran, novel, cerpen, lirik lagu, puisi, ensiklopedia, buku-buku nonfiksi, peribahasa, komik, atau apa saja juga bisa memicu datangnya inspirasi.
f. Blog
Caranya mudah saja, kita tinggal blog walking ke blog-blog yang bagus. Kita bisa belajar banyak dari proses kreatif penulis blog tersebut atau bisa melihat dari segi ide atau gagasan di setiap tulisan yang ada di blog.
g. Film
Dari film kita juga bisa mendapat banyak inspirasi sebagai bahan tulisan kita, misalnya kita bisa menulis tentang karakter tokohnya atau situasi dan kondisi yang kita olah ulang sedemikian rupa untuk ditulis. Bisa juga kita membuat resensi film dan dikirimkan ke media.
h. Peristiwa
Setiap saat dan dimanapun kita pasti tak bisa lepas dari peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Nah coba kita pilah-pilah, mana yang kira-kira menarik untuk dijadikan tema tulisan. Peristiwa sehari-hari yang sepertinya biasa saja, tapi bila kita kemas dengan gaya penulisan yang asyik, tentunya menjadi menarik untuk dibaca oleh orang lain.
i. Seni
Seni, baik itu seni lukis, seni musik atau lainnya, merupakan salah satu sumber inspirasi yang kaya makna. Seperti misalnya kalau kita lihat lukisan yang indah. Menggambarkan apa lukisan itu, apa maksud dari goresan lukisan itu, bisa kita jadikan ide untuk menulis.

Inspirasi sering datang tak diundang. Oleh karena itu, segera dokumentasikan setiap inspirasi yang singgah dalam benak kita. Kita menyadari bahwa kemampuan otak kita dalam menampung informasi memang sangat terbatas sehingga kita harus mampu menyiasatinya. Jangan sampai inspirasi yang bagus terbuang sayang hanya gara-gara kita tidak segera mendokumentasikannya. Tuliskan setiap inspirasi yang kita dapatkan! Oleh karena itu, setiap saat jangan lupa membawa alat tulis dan catatan kecil. Atau bisa juga kita memanfaatkan sarana lain, seperti handphone untuk mengabadikan inspirasi kita. Semoga inspirasi-inspirasi itu bisa melahirkan tulisan-tulisan inspiratif juga.

[N]ulis… Nulis... Nulis…
Ada tiga kunci utama untuk menjadi seorang penulis. Kunci pertama, menulis. Kunci kedua, menulis. Kunci ketiga, menulis. Nah, mudah saja kan? Hanya saja seorang penulis kerap terbebani dalam mengawali sebuah tulisan, merasa kesulitan dalam mengembangkan inspirasi atau ide yang didapat ke dalam tulisan yang enak dibaca, atau bingung menuliskan ending dari tulisan. Berikut ada beberapa tips yang semoga bisa membantu kita dalam menulis.
1. Mulailah Menulis Apa Saja
Misal kita akan menulis dengan tema “Isra’ Mi’raj”. Saat menulis, jangan ‘menyiksa diri’ dengan kebingungan harus mulai menulis dari mana. Apa yang sedang dipikirkan saat itu tentang Isra’ Mi’raj, tulis saja! Tak perlu runtut dengan harus menulis dari sejarahnya atau dalil-dalil yang berkenaan dengan peristiwa ini. Kita bisa saja menulis tentang Rasulullah SAW. Lambat laun kita akan menemukan kesesuaian dan alur tulisan kita sehingga akan dihasilkan tulisan yang utuh. Sebelum menulis, ada baiknya kita membuat kerangka tulisan agar tulisan kita terarah dan tidak keluar dari ide dasar atau tema. Saat awal-awal menulis draft, janganlah mengubah kata-kata atau tanda baca. Lupakan dulu tata bahasa, pemilihan kalimat, diksi, dan semua pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah! Kita akan membutuhkannya ditahap selanjutnya. Yang sekarang harus dilakukan adalah mengalirkan semua gagasan yang terpikirkan di otak. Tuliskan semua ide yang bergelora dalam pikiran, tidak masalah kalau ide-ide itu tidak saling berkaitan. 


2. Mencari Waktu yang Tepat
Memilih waktu yang tepat akan sangat membantu kita dalam menulis. Misalnya, kita memilih waktu di tengah malam. Saat suasana hening, akan membuat hati dan pikiran kita menjadi tenang. Pikiran kita bisa fokus dan konsentrasi. Selain itu, dalam setiap aktivitas keseharian kita, ada kalanya kita memiliki waktu luang. Manfaatkan waktu luang itu untuk menorehkan tulisan. Untuk menjadi penulis yang efektif, kita harus mulai berkomitmen terhadap waktu. Pilihlah waktu luang satu-dua jam tiap hari, untuk menulis.
3. Menciptakan Kondisi yang Nyaman
Saat menulis, pilihlah tempat yang membuat kita nyaman dalam menulis. Kurangi sebanyak mungkin gangguan dari luar. Kalau kita suka mendengarkan musik, bisa juga menggunakan musik sebagai backsound selama kita menulis. Belahan kanan otak kita akan menjadi aktif bila terstimulasi oleh musik. Karenanya, pilihlah musik-musik favorit, agar mood menulis tetap terjaga. Hadirnya musik yang sesuai dengan suasana hati, akan membuat tulisan yang kita buat menjadi semakin hidup.
4. Mengedit dan Menulis Ulang
Pada tahap inilah kita bisa mengedit dan menyusun setiap kalimat agar lebih tertata dan sistematis. Ukirlah setiap paragraf, dan pastikan tiap kalimat berada di tempat yang cocok. Ambil thesaurus, lalu cari kata-kata yang seharusnya menggunakan istilah lain. Lihat ensiklopedia, dan masukkan data-data yang sepertinya layak untuk dimasukkan. Perhatikan tata bahasa, dan usahakan tulisan yang dibuat tidak membuat jemu yang membaca.
5. Membaca Ulang
Setelah tulisan sudah terangkai dengan baik, baca ulang dengan teliti! Apakah ada yang perlu ditambahkan lagi? Apakah ada kata-kata yang kurang tepat atau ada kalimat yang salah? Kalau iya, perbaiki kembali tulisan tersebut. Menulis memang butuh kesabaran. Jangan mudah mengeluh!

[T]eruslah Berlatih tanpa Mengenal Letih!
Menulis itu adalah keterampilan. Setiap keterampilan pastinya memerlukan latihan. Latihan yang rutin. Sedikit demi sedikit, tapi sering dilakukan! Latihan dalam menulis memang butuh waktu, maka harus menyiapkan waktu khusus untuk menulis. Jangan menunggu siap. Jangan menunggu mood. Tapi harus menyiapkan waktu dan menyiapkan diri sebaik-baiknya.
Latihan menulis dapat dilakukan seorang diri. Ada baiknya juga bila dilakukan bersama. Misalnya dengan mengikuti pelatihan kepenulisan atau dengan bergabung dalam komunitas penulis. Dengan berlatih bersama dengan orang-orang yang memiliki visi yang sama, yakni visi untuk menjadi seorang penulis, maka akan bisa membangkitkan semangat kita untuk terus berkarya. Kalau perlu, milikilah seorang writer coach, seseorang yang bisa memandu kita dalam menulis, mengkritisi tulisan kita, dan bisa memberikan kita motivasi untuk terus menulis. 


Menulis jelas membutuhkan motivasi. Bahkan motivasi atau niat dalam menulis ini memegang peranan penting. Sebab, jika kita kehilangan motivasi, segalanya akan ikut hilang. Miliki motivasi positif dalam menulis! Jangan pernah merasa jenuh atau lelah dalam menulis. Karena menulis akan membuat kita kaya. Kaya ilmu, kaya hati, kaya amal, dan bisa juga kaya harta. Dengan menulis, pengetahuan kita akan bertambah karena kita juga dituntut untuk banyak membaca dan mencari inspirasi. Itulah yang dimaksud kaya ilmu. Menulis juga merupakan wujud sedekah. Sedekah memang tak selalu identik dengan uang sebagai sarana yang disedekahkan. Menulis adalah sedekah kata. Kita memberi sesuatu kepada orang lain lewat rangkaian kata yang kita tuliskan. Hal inilah yang membuat seorang penulis menjadi kaya hati karena banyak memberi lewat tulisan-tulisannya. Menulis adalah wujud amal yang bernilai ibadah jika tulisan yang dihasilkan adalah tulisan yang menginspirasi dan menebar kebaikan. Itulah kaya amal. Pintu rezeki banyak macamnya. Tulisan pun bisa mendatangkan rezeki. Misal, jika dibukukan dan banyak diminati serta dibeli pembaca (best seller), tentunya akan mendatangkan banyak pendapatan bagi penulisnya. Penulis pun bisa kaya harta! Akan tetapi, jangan jadikan hal yang satu ini sebagai motivasi utama. Tetaplah menjadi penulis yang bersahaja, yang tetap menjadikan ridha Allah SWT sebagai tujuan utama.


Panggillah rasa lelahmu, dan ajaklah bermain dan bercanda, karena bila lelah itu karena LILLAH, maka insya Allah akan bernilai pahala dan diganjar surga (Burhan Sodiq).

[A]badikan Karya pada Tempatnya
“Khairunnas anfa’uhum linnas” yang artinya “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” Menjadi penulis, mungkin inilah salah satu cara yang menjadikan kita pribadi yang bermanfaat. Tulisan sebagai hasil karya kita tidak ada gunanya kalau hanya untuk konsumsi sendiri, tapi kalau dipublikasikan lewat berbagai media yang ada, maka karya tersebut akan bisa mendatangkan manfaat untuk diri kita dan orang lain. Kalau ada yang baik dalam tulisan itu maka akan menjadi penebar kebaikan dan terhitung sebagai amal jariyah. Sebaik-baik tulisan adalah tulisan yang dipublikasikan (Taufan E. Prast). 


Dewasa ini begitu banyak media yang bisa dijadikan sasaran untuk mempublikasikan tulisan kita, baik itu media cetak maupun elektronik.
1. Media Cetak
Media cetak sekarang banyak ragamnya, baik berupa koran, majalah, buletin, dan lain sebagainya. Banyak peluang terbuka bagi seorang penulis untuk mempublikasikan karyanya lewat media cetak. Tulisan tersebut dapat berupa opini, artikel, resensi, puisi, cerpen, dan lain-lain. Misalnya saja ketika akan memasukkan sebuah puisi di koran mingguan yang menerbitkan puisi seminggu sekali. Maka akan terdapat sekitar empat kesempatan di setiap minggunya. Belum lagi, jika dikalikan banyaknya koran yang sekarang beredar. Banyak sekali kesempatan, tinggal bagaimana kita memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
2. Media Elektronik
Media elektronik yang bisa dijadikan sasaran untuk mempublikasikan tulisan kita juga banyak ragamnya. Blog misalnya. Ada baiknya seorang penulis memiliki blog pribadi karena dengan begitu ia memiliki tempat khusus untuk menyalurkan inspirasi-inspirasinya sekaligus sebagai sarana untuk berlatih menulis. Karena blog bisa diakses banyak orang, tidak menutup kemungkinan akan semakin banyak juga yang akan memberikan masukan pada tulisan-tulisan kita. Bisa juga lewat catatan di Facebook, bahkan dari status-status yang kita update di Facebook tersebut. Kita bisa menuliskan sesuatu yang inspiratif lewat status Facebook. Tulisan berwujud naskah atau skenario bisa juga terpublikasikan lewat cerita yang ditayangkan di televisi atau film layar lebar. Saat ini banyak film layar lebar atau sinetron yang diangkat dari novel atau tulisan. Sebut saja, ada film Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Laskar Pelangi, dan Sang Pemimpi. 


Dalam membidik media memang perlu kecermatan dari seorang penulis. Jika ingin menerbitkan tulisannya menjadi sebuah buku, seorang penulis harus cermat dalam memilih penerbit dan memahami persyaratan yang ditetapkan penerbit pada setiap naskah yang masuk pada penerbit tersebut, seperti genre dari penerbit, kriteria tulisan (font, jumlah halaman, spasi, ukuran dan jenis huruf), cara pengiriman naskah (via email atau pos), dan lain-lain. Oleh karena itu, media mapping (pemetaan media) memang penting untuk dilakukan oleh seorang penulis.


Tulislah apa yang ada
Karya adalah anugerah
Tetap menulis sejak kini
Menulislah yang terbaik…


Ya, menulislah yang terbaik. Diawali dengan niat yang baik, dilakukan dengan latihan sebaik-baiknya, dan diabadikan dalam prasasti karya yang terbaik. Menulis bisa menjadi sarana untuk mengubah diri sendiri. Kita juga bisa mengubah paradigma dan akhlak seseorang lewat tulisan-tulisan kita. Menulislah dengan hati. Menulislah dengan CINTA. Jadikan tulisan kita sebagai sesuatu yang pantas untuk kita tinggalkan kelak jika nyawa sudah tak lagi ada. Kita pasti akan mati, tapi semoga karya kita akan abadi dan akan membawa kita ke surga-Nya di akherat nanti. Amin.

***

Aisya Avicenna

Dalam Mihrab Cinta



Stasiun Pekalongan. Itulah permulaan setting dari film ini. Berlanjut diarahkan ke dalam kereta yang akan menuju Kediri, dan kisah itu pun dimulai. Di dalam kereta itu, duduklah seorang muslimah cantik berjilbab ungu yang sedang menangis. Selang berapa lama, masuklah sosok pemuda berambut gondrong sebahu. Pemuda gondrong itu mencocokkan tiket dan tempat duduknya di kereta itu, dan ternyata ia duduk bersebelahan dengan muslimah itu.

Kehadiran pemuda gondrong itu mengejutkan sang muslimah. Buru-buru pemuda itu mengatakan kalau ia adalah orang baik-baik, kebetulan ia duduk di situ dan ia menawarkan kepada sang muslimah untuk memilih duduk di dekat jendela atau tetap di tempatnya sekarang. Muslimah cantik itu akhirnya bergeser. Sang pemuda meletakkan tasnya di bagasi atas kemudian ia duduk di samping sang muslimah.

Saat kereta masih melaju, pemuda gondrong itu berpindah tempat di bangku sebelah yang sudah kosong karena penumpangnya sudah turun. Baru beberapa saat memejamkan mata, pemuda gondrong itu melihat seorang bapak yang hendak mengambil tas milik sang muslimah. Si pemuda gondrong langsung menghardik sang pencuri. Muslimah berjilbab ungu itu terbangun. Tambah kaget ketika sebilah pisau terarah padanya.
Ya, pencuri itu mengancam akan menusuknya kalau pemuda gondrong itu berbuat macam-macam.

Terjadi perkelahian. Telapak tangan sang pemuda sempat terkena pisau. Berdarah. Pencuri berhasil kabur. Muslimah itu segera membebat tangan pemuda gondrong yang terluka dengan sapu tangannya. Pemuda gondrong itu bercerita kalau ia akan nyantri di Pesantren Al-Furqon, Kediri yang ternyata pesantren tersebut adalah milik ayah sang muslimah berjilbab ungu. Subhanallah...

Sampailah mereka di Stasiun Kediri. Di pintu keluar, mereka saling menyebutkan nama. Pemuda gobdrong itu bernama Syamsul Hadi (Dude Herlino) dan sang muslimah berjilbab itu bernama Zidna Ilma atau Zizi (Meyda Sefira). Zizi pulang ke Kediri karena mendapat kabar kalau ayahnya meninggal dunia.

Kehidupan pesantren sangat dinikmati oleh Syamsul, sampai akhirnya ia dituduh sebagai pencuri oleh sahabatnya sendiri, Burhan (Boy Hamzah). Waktu itu, Syamsul dan Burhan hendak makan bersama, tapi dompet Burhan ketinggalan di kamarnya dan ia meminta Syamsul untuk mengambilnya. Syamsul akhirnya mengambil dompet Burhan di dalam almari, saat itu ternyata teman-teman pesantren yang bertugas sebagai bagian keamanan tengah berjaga di dalam kamar Burhan. Syamsul dituduh mencuri. Ia diarak, dipukuli, dan dimasukkan ke dalam gudang. Hilangnya beberapa uang di pesantren memang menimbulkan keresahan, sehingga saat Syamsul ketahuan membuka almari Burhan dan mengambil dompetnya, anggapan mereka Syamsul-lah pencuri yang tengah dicari selama ini.

Saat dimintai menjadi saksi, ternyata Burhan mangkir kalau dialah yang menyuruh Syamsul mengambil dompetnya. Syamsul bersumpah bahwa dia bukan pencurinya. Burhan juga bersumpah bahwa apa yang dikatakannya barusan adalah benar. Padahal maksud Burhan, yang dikatakannya barusan adalah : “Penjahat pasti akan melakukan segala cara untuk menutupi kejahatannya.” (kalau yang sudah baca novelnya, pasti ngeh saat adegan ini).

Digundhuli. Itulah hukuman yang dijatuhkan pada Syamsul. Tak hanya itu, Syamsul didepak dari pesantren. Ayahnya (El Manik) datang menjemput. Marah-marah. Sampai di rumah, Syamsul masih dihujani kemarahan oleh sang ayah dan kakak-kakaknya. Hanya ibu (Ninik L. Karim) dan adik perempuannya, Nadia (Tsania Marwah) yang membela.

“Ya Allah, kalau keluarga sendiri sudah tidak percaya... Apa gunanya hidup?” Begitulah kira-kira doa Syamsul dalam keterpurukannya. Keesokan harinya Nadia menemukan sepucuk surat yang ditinggalkan Syamsul. Syamsul pergi dari rumah. Ibundanya syok. Tetapi, sang ayah membiarkannya.
Syamsul pun sampai di kota Semarang. Ia makan di pinggir jalan.. Pada adegan inilah lagu berikut terlantun manis...

Terhempas aku dalam fitnah
Yang mendera jiwa dan mencebik sukma
Tetapi ku tak tentu arah
Hingga sebekas menguntum langgaku
Dalam mihrab cinta ku regup firman-Nya
Terangi jalanku ku sujud pada-Nya
Dalam mihrab cinta prahara dan asa
Putus duka lara ku pasrah pada-Nya
Ku berdiam dendam yang membara
Ku pasrahkan semua pada yang kuasa
Ku yakin tiada satu jua hentikan kuasa-Nya
Untuk mengubah segalanya
Dalam mihrab cinta ku regup firman-Nya
Terangi jalanku ku sujud pada-Nya
Dalam mihrab cinta prahara dan asa
Putus duka lara ku pasrah pada-Nya
(Rino – Prahara dan Asa)


Uang di dompet Syamsul tinggal beberapa ribu rupiah. Akhirnya, ia nekat mencopet di dalam bus. Ketahuan. Ia dikejar-kejar penumpang dan beberapa orang yang berada di sekitar lokasi. Syamsul dihajar dan diserahkan ke kantor polisi. Ia menginap di hotel prodeo. Wajahnya menghias koran lokal. Dan sampai jua di Pekalongan. Keluarganya membaca koran tersebut. Sang ayah merutukinya. Ibunda dan Nadia masih belum percaya, karena nama pencuri yang disebut dalam koran itu bukan Syamsul, tapi Burhan.
Di hotel prodeo itulah, Syamsul mendapatkan ‘petuah bijak’ dari dua orang yang katanya ‘pencopet handal’. Salah satu dari mereka berkata, “Kalau mau jadi pencopet itu mentalnya harus kuat. Terus, jangan mencopet lebih dari dua kali pada hari yang sama.” Hihi, lucu banget waktu bagian ini... Dalam mencopet juga ada ‘rumus’nya ternyata.

Nadia menjenguk Syamsul di penjara. Nadia masih tak percaya kalau kakaknya benar-benar menjadi pencopet sekarang. Syamsul menjelaskan pada Nadia kalau hal itu dilakukannya karena terpaksa. Atas permintaan Syamsul, akhirnya Syamsul dibebaskan Nadia. Syamsul akhirnya menghirup udara kebebasannya. Saat tengah asyik berjalan bersama Nadia, tiba-tiba Syamsul berlari dan naik ke sebuah angkot, meninggalkan Nadia. Nadia menangis dan terduduk di pinggir jalan. Dari pintu angkot, Syamsul sempat berteriak menyuruh Nadia pulang saja.

Patung selamat datang... Ternyata Syamsul merantau ke Jakarta.. Pada adegan ini, lagunya Afgan terlantun...

Demi cinta ku pergi
Tinggalkanmu relakanmu
Untuk cinta tak pernah
Ku sesali saat ini
Ku alami ku lewati
Suatu saat ku kan kembali
Sungguh sebelum aku mati
Dalam mihrab cinta ku berdoa semoga

Suatu hari kau kan mengerti
Siapa yang paling mencintai
Dalam mihrab cinta ku berdoa pada-Nya

Karena cinta ku ikhlaskan
Segalanya kepada-Nya
Untuk cinta tak pernah
Ku sesali saat ini
Ku alami ku lewati

Suatu saat ku kan kembali
Sungguh sebelum aku mati
Dalam mihrab cinta ku berdoa semoga

Suatu hari kau kan mengerti
Siapa yang paling mencintai
Dalam mihrab cinta ku berdoa padaNya
(Afgan – Dalam Mihrab Cinta)


Di ibukota, Syamsul tinggal di sebuah kontrakan kecil. Ia mencoba melamar pekerjaan, tapi gagal dan gagal lagi. Akhirnya, terpaksa ia mencopet. Uniknya, Syamsul mencatat identitas dan jumlah uang yang dicopetnya pada sebuah buku khusus. Sampai akhirnya, ia juga menemukan foto gadis yang dicopetnya (Silvy – Asmirandah) bersama Burhan (teman pesantren yang memfitnahnya). Mengetahui hal itu, Syamsul pun memiliki niat untuk “membongkar” rahasia Burhan pada Silvy.

Bermodal KTP Silvy, dengan mengenakan sepeda motor yang dipinjamnya, Syamsul menuju perumahan elite. Saat mau memasuki lokasi perumahan, Syamsul diduga sebagai ustadz (guru ngajinya Della) oleh satpam yang menjaga. Ya, karena waktu itu Syamsul memang mengenakan peci putih dan sangat santun.
Seharusnya, Syamsul akan ke rumah Silvy. Tapi ia memilih untuk mengunjungi rumah si kecil Della. Tak disangka, Syamsul diterima sebagai guru ngajinya Della. Tambah terkejut lagi, ternyata Silvy adalah guru privat Matematikanya Della.

Sampai di sini, aku senyum-senyum sendiri. Yang satu jago matematika, yang satu jago ngaji... Hihihi... (dasar Thicko! –sensor-)

Silvy akhirnya tahu siapa Burhan sebenarnya. Ia menolak lamaran Burhan. Burhan ternyata sudah dikeluarkan dari pesantren karena ternyata ia adalah seorang pencuri dan dengan keji memfitnah Syamsul.
Syamsul bertaubat. Ia sungguh-sungguh berdoa pada Allah agar mengampuninya. Kehidupan Syamsul berubah. Ia menjadi ustadz yang cukup terpandang. Hasil copetannya ia pulangkan kepada pada pemiliknya via pos. Tak lupa ia juga membelikan jilbab buat ibu dan Nadia. Pada Silvy, Syamsul akhirnya mengaku kalau dialah yang mencuri dompetnya. Silvy menangis saat mengetahuinya, tapi ibunya (Elma Theana) tetap menyukai Syamsul dan mengharapkan Syamsul bisa menjadi menantunya.

Syamsul menjadi ustadz yang cukup dikenal. Ia masuk TV, keluarganya melihatnya. Bahagia... bersyukur...Akhirnya, sang ibu dan adiknya menemui Syamsul ke Jakarta. Zizi dan kakaknya (pimpinan pesantren) juga turut serta. Saat itulah keluarga Silvy juga datang. Pada waktu Zizi hendak pulang, tasnya ketinggalan di rumah Syamsul, saat itulah Zizi mendengar penuturan Ayah dan ibu Silvy yang berniat menjadikan Syamsul sebagai menantunya. Zizi patah hati...

Syamsul akhirnya akan menikah dengan Silvy. Beberapa hari sebelum hari bahagia itu datang, Allah berkehendak lain. Silvy mengalami kecelakaan. Ia meninggal. Syamsul sangat syok. Ayah Silvy (Izur Muchtar) sempat meminta Syamsul menikahi jasadnya. Oh...

Syamsul  kembali ke Pekalongan. Ia masih belum bisa melupakan Silvy. Suatu hari Zizi datang dan membawakan oleh-oleh dari Kediri. Zizi turut prihatin dengan kondisi Syamsul. Beberapa hari kemudian, kakak Zizi datang untuk menyampaikan maaf sekaligus mengundang Syamsul untuk datang ke pesantren di Kediri, selain itu juga meminta Syamsul bersedia menikah dengan Zizi.
Akhirnya, Syamsul datang ke Kediri. Saat itu, Syamsul bilang.. “Saya datang ke sini dengan dua misi...” Hihi, aku geli juga mendengar penuturan Syamsul. Ya, misi pertama adalah silaturahim ke ‘mantan’ pesantren yang sempat mengeluarkannya. Dan misi kedua adalah untuk melamar Zizi...

Happy Ending deh...

Film ini memang diadaptasi dari novel “Dalam Mihrab Cinta” karya Habiburahman El-Shirazy (Kang Abik). Ada yang berbeda dengan film ini dibanding film-film sebelumnya yang juga diadaptasi dari novel Kang Abik (Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2). Pada film ini, tokoh utama (Syamsul Hadi), tidak tercermin sebagai tokoh yang ‘sempurna’ (seperti Fahri dan Azzam). Film yang juga disutradarai Kang Abik ini menampilkan kisah yang begitu bagus dan memang mencerminkan realitas sosial di sekeliling kita. Nasihat yang ada dalam film ini juga menyentuh sekali.

Beberapa hikmah yang bisa didapat dari film ini :
1. Tetap berkata jujur apapun keadaan kita. Meski kita difitnah, yakinlah bahwa Allah Maha Tahu segalanya. “Becik ketitik olo ketoro”. Setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya.
2. Apa yang kita dapatkan adalah implikasi dari apa yang telah kita berikan. Jika kita memberikan ‘kebaikan’, maka ‘kebaikan’ pulalah yang kita dapatkan.
3. Saat kita sudah sukses, jangan melupakan orang-orang yang berada di balik kesuksesan kita, terlebih keluarga kita.
4. Tak hanya saat melakukan kesalahan, sebaiknya kita senantiasa memohon ampunan pada Allah Swt. Karena bisa jadi saat kita menilai perbuatan kita sudah baik (dalam pandangan kita), ternyata perbuatan itu tidak ada nilainya di hadapan Allah. Istighfar, itulah salah satu obat hati.
5. Tentang jodoh, memang belum tentu seseorang yang ‘baru akan’ menikah dengan kita, itu benar-benar jodoh yang dipilihkan Allah. Jodoh itu misterius, hadirnya tak terduga. Semua sudah diatur-Nya sedemikian rupa. Tidak akan datang terlambat atau terlampau cepat, jodoh kita akan datang pada saat yang tepat!
6. “Karena sebaik-baik rencana, tetap rencana-Nya yang terbaik”. Begitulah kata Syamsul Hadi dalam film itu. So, selalu positive thinking yuk pada Allah...
7. Dll.... Bagi yang sudah nonton, silakan ditambahkan sendiri... ^^v

NB : Buat saudari-saudariku yang rebutan tissu saat menonton ini, jangan lupa kisah kita hari itu ya...Semoga kita bisa mengambil hikmah dari film ini (Kalibata, 24 Desember 2010)

Tak pernah terlintas di benakku
Saat pertama kita bertemu
Sesuatu yang indah
Tumbuh dalam gundah
Harum dan merekah
Tulus hatimu membuka mataku
Tegar jiwamu hapus raguku
Membuncah di hati
Harapan yang suci
Menyatukan janji
Bunga-bunga cinta indah bersemi
Di antara harap pinta pada-Nya
Tuhan tautkanlah cinta di hati
Berpadu indah
Dalam mihrab cinta...
(Asmirandah dan Dude Herlino – Bunga-Bunga Cinta)


Aisya Avicenna

Maaf, Aku Menolakmu Karena Mencintainya!

“Bila seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang,” kata Rasulullah mengandaikan sebuah kejadian sebagaimana dinukil Imam At Tirmidzi, “Maka, nikahkanlah dia.” Rasulullah memaksudkan perkataannya tentang lelaki shalih yang datang meminang putri seseorang.
“Apabila engkau tidak menikahkannya,” lanjut beliau tentang pinangan lelaki shalih itu, “Niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” Di sini Rasulullah mengabarkan sebuah ancaman atau konsekuensi jika pinangan lelaki shalih itu ditolak oleh pihak yang dipinang. Ancamannya disebutkan secara umum berupa fitnah di muka bumi dan meluasnya kerusakan.
Bisa jadi perkataan Rasulullah ini menjadi hal yang sangat berat bagi para orangtua dan putri-putri mereka, terlebih lagi jika ancaman jika tidak menurutinya adalah fitnah dan kerusakan yang meluas di muka bumi. Kita bisa mengira-ngira jenis kerusakan apa yang akan muncul jika seseorang yang berniat melamar seseorang karena mempertahankan kesucian dirinya dan dihalang-halangi serta dipersulit urusan pernikahannya. Inilah salah satu jenis kerusakan yang banyak terjadi di dunia modern ini, meskipun banyak di antara mereka tidak meminang siapapun.
Mari kita belajar tentang pinangan lelaki shalih dari kisah cinta sahabat Rasulullah dari Persia, Salman Al Farisi. Dalam Jalan Cinta, Salim A Fillah mengisahkan romansa cintanya. Salman Al Farisi, lelaki Persia yang baru bebas dari perbudakan fisik dan perbudakan konsepsi hidup itu ternyata mencintai salah seorang muslimah shalihah dari Madinah. Ditemuinya saudara seimannya dari Madinah, Abud Darda’, untuk melamarkan sang perempuan untuknya.
“Saya,” katanya dengan aksen Madinah memperkenalkan diri pada pihak perempuan, “Adalah Abud Darda’.”
“Dan ini,” ujarnya seraya memperkenalkan si pelamar, “Adalah saudara saya, Salman Al Farisi.” Yang diperkenalkan tetap membisu. Jantungnya berdebar.
“Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya,” tutur Abud Darda’ dengan fasih dan terang.
“Adalah kehormatan bagi kami,” jawab tuan rumah atas pinangan Salman, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada putri kami.” Yang dipinang pun ternyata berada di sebalik tabir ruang itu. Sang putri shalihah menanti dengan debaran hati yang tak pasti.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili putrinya. ”Tapi, karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan Salman.”
Ah, romansa cinta Salman memang jadi indah di titik ini. Sebuah penolakan pinangan oleh orang yang dicintainya, tapi tidak mencintainya. Salman harus membenturkan dirinya dengan sebuah hukum cinta yang lain, keserasaan. Inilah yang tidak dimiliki antara Salman dan perempuan itu. Rasa itu hanya satu arah saja, bukan sepasang.
Salman ditolak. Padahal dia adalah lelaki shalih. Lelaki yang menurut Ali bin Abi Thalib adalah sosok perbendaharaan ilmu lama dan baru, serta lautan yang tak pernah kering. Ia memang dari Persia, tapi Rasulullah berkata tentangnya, “Salman Al Farisi dari keluarga kami, ahlul bait.” Lelaki yang bertekad kuat untuk membebaskan dirinya dari perbudakan dengan menebus diri seharga 300 tunas pohon kurma dan 40 uqiyah emas. Lelaki yang dengan kecerdasan pikirnya mengusulkan strategi perang parit dalam Perang Ahzab dan berhasil dimenangkan Islam dengan gemilang. Lelaki yang di kemudian hari dengan penuh amanah melaksanakan tugas dinasnya di Mada’in dengan mengendarai seekor keledai, sendirian. Lelaki yang pernah menolak pembangunan rumah dinas baginya, kecuali sekadar saja. Lelaki yang saking sederhana dalam jabatannya pernah dikira kuli panggul di wilayahnya sendiri. Lelaki yang di ujung sekaratnya merasa terlalu kaya, padahal di rumahnya tidak ada seberapa pun perkakas yang berharga. Lelaki shalih ini, Salman Al Farisi, ditolak pinangannya oleh perempuan yang dicintanya.
Salman ditolak. Alasannya ternyata sederhana saja. Dengarlah. “Namun, jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka putri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan,” kata si ibu perempuan itu melanjutkan perkataannya. Anda mengerti? Si perempuan shalihah itu menolak lelaki shalih peminangnya karena ia mencintai lelaki yang lain. Ia mencintai si pengantar, Abud Darda’. Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak.
Ada juga kisah cinta yang lain. Abu Bakar Ash Shiddiq meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia ingin mempererat kekerabatannya dengan Sang Rasul dengan pinangan itu. Saat itu usia Fathimah menjelang delapan belas tahun. Ia menjadi perempuan yang tumbuh sempurna dan menjadi idaman para lelaki yang ingin menikah. Keluhuran budi, kemuliaan akhlaq, kehormatan keturunan, dan keshalihahan jiwa menjadi penarik yang sangat kuat.
“Saya mohon kepadamu,” kata Abu Bakar kepada Rasulullah sebagaimana dikisahkan Anas dalam Fatimah Az Zahra, “Sudilah kiranya engkau menikahkan Fathimah denganku.” Dalam riwayat lain, Abu Bakar melamar melalui putrinya sekaligus Ummul Mukminin Aisyah.
Mendapat pinangan dari lelaki shalih itu, Rasulullah hanya terdiam dan berpaling. “Sesungguhnya, Fathimah masih kecil,” kata beliau dalam riwayat lain. “Hai Abu Bakar, tunggulah sampai ada keputusan,” kata Rasulullah. Yang terakhir ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat. Maksud Rasulullah dengan menunggu keputusan adalah keputusan dari Allah atas kondisi dan keadaan itu, apakah menerima pinangan itu atau tidak.

Ketika Umar bin Khathab mendengar cerita ini dari Abu Bakar langsung, ia mengatakan, “Hai Abu Bakar, beliau menolak pinanganmu.”
Kemudian Umar mengambil kesempatan itu. Ia mendatangi Rasulullah dan menyampaikan pinangannya untuk menikahi Fathimah binti Muhammad. Tujuannya tidak terlalu berbeda dengan Abu Bakar. Bahkan jawaban yang diberikan Rasulullah kepada Umar pun sama dengan jawaban yang diberikan kepada Abu Bakar. “Sesungguhnya, Fathimah masih kecil,” ujar beliau. “Tunggulah sampai ada keputusan,” kata Rasulullah.
Ketika Abu Bakar mendengar cerita ini dari Umar bin Khathab langsung, ia mengatakan, “Hai Umar, beliau menolak pinanganmu.”
Kita bisa membayangkan itu? Dua orang lelaki paling shalih di masa hidup Rasulullah pun ditolak pinangannya. Abu Bakar adalah sahabat paling utama di antara seluruh sahabat yang ada. Kepercayaannya kepada Islam dan kerasulan begitu murni, tanpa reverse ataupun setitis keraguan. Karena itulah ia mendapat julukan Ash Shiddiq. Ia adalah lelaki yang disebutkan Al Qur’an sebagai pengiring jalan hijrah Rasulullah di dalam gua. Ia adalah dai yang banyak memasukkan para pembesar Mekah dalam pelukan Islam. Ia adalah pembebas budak-budak muslim yang senantiasa tertindas. Ia adalah lelaki yang menginfakkan seluruh hartanya untuk jihad, dan hanya menyisakan Allah dan Rasul-Nya bagi seluruh keluarganya. Ia adalah orang yang ingin diangkat sebagai kekasih oleh Rasulullah. Ia adalah salah satu lelaki yang telah dijamin menginjakkan tumitnya di kesejukan taman jannah. Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.
Sementara, siapa tidak mengenal lelaki shalih lain bernama Umar bin Khathab. Ia adalah pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Ia dan Hamzah lah yang telah mengangkat kemuliaan kaum muslimin di masa-masa awal perkembangannya di Mekah. Ia lelaki yang seringkali firasatnya mendahului turunnya wahyu dan ayat-ayat ilahi kepada Rasulullah. Ia adalah lelaki yang dengan keberaniannya menantang kaum musyrikin saat ia akan berangkat hijrah, ia melambungkan nama Islam. Ia lelaki yang sangat mencintai keadilan dan menegakkannya tatkala ia menggantikan posisi Rasulullah dan Abu Bakar di kemudian hari. Ia pula yang di kemudian hari membuka kunci-kunci dunia dan membebaskan negeri-negeri untuk menerima cahaya Islam. Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.
Mari kita simak kenapa pinangan dua lelaki shalih ini ditolak Rasulullah. Ketika itu, Ali bin Abi Thalib datang menemui Rasulullah. Shahabat-shahabatnya dari Anshar, keluarga, bahkan dalam sebuah riwayat termasuk pula dua lelaki shalih terdahulu mendorongnya untuk datang meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia menemui Rasulullah dan memberi salam.
“Hai anak Abu Thalib,” sapa Rasulullah pada Ali dengan nama kunyahnya, ”Ada perlu apa?”
Simaklah jawaban lugu yang disampaikan Ali kepada Rasulullah sebagaimana dinukil Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat. “Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah,” katanya lirih hampir tak terdengar. Dengar dan rasakan kepolosan dan kepasrahan dari setiap diksi yang terucap dari Ali bin Abi Thalib itu. Kepolosan dan kepasrahan seorang pecinta akan cintanya yang demikian lama. Ia menggunakan pilihan kata yang sangat lembut di dalam jiwa, “Terkenang.” Kata ini mewakili keterlamaan rasa dan gelora yang terpendam, bertunas menembus langit-langit realita, transliterasi rasa.
“Ahlan wa sahlan!” kata Rasulullah menyambut perkataan Ali. Senyum mengiringi rangkaian kata itu meluncur dari bibir mulia Rasulullah. Kita tidak usah sebingung Ali memahami jawaban Rasulullah. Jawaban itu bermakna bahwa pinangan Ali diterima oleh Rasulullah seperti yang dipahami rekan-rekan Ali.
Mari kita biarkan Ali dengan kebahagiaan diterima pinangannya oleh Rasulullah. Mari kita melihat dari perspektif yang lebih fokus untuk memahami penolakan pinangan dua lelaki shalih sebelumnya dan penerimaan lelaki shalih yang ini. Kita boleh punya pendapat tersendiri tentang masalah ini.
Ketika Rasulullah menjelaskan alasan kepada Abu Bakar dan Umar berupa penolakan halus, kita tidak bisa menerimanya secara letter lijk. Sebab bisa jadi itu adalah bahasa kias yang digunakan Rasulullah. Misalnya ketika Rasulullah mengatakan bahwa Fathimah masih kecil, tentu saja ini tidak bisa diterjemahkan sebagai kecil secara harfiah, sebab saat itu usia Fathimah sudah hampir delapan belas tahun. Sebuah usia yang cukup matang untuk ukuran masa itu dan bangsa Arab. Sementara Rasulullah sendiri berumah tangga dengan Aisyah pada usia setengah usia Fathimah saat itu. Maka, kita harus memahami kalimat penolakan itu sebagai bahasa kias.
Saat Rasulullah meminta Abu Bakar dan Umar bin Khathab untuk menunggu keputusan, ini juga diterjemahkan sebagai penolakan sebagaimana dipahami dua lelaki shalih itu. Jadi, pernyataan Rasulullah itu bukan pernyataan untuk menggantung pinangan, sebab jika pinangan itu digantung, tentu saja Umar dan Ali tidak boleh meminang Fathimah. Pernyataan itu adalah sebuah penolakan halus.
Atau bisa jadi, saat itu Rasulullah punya harapan lain bahwa Ali bin Abi Thalib akan melamar Fathimah. Beliau tahu sebab sejak kecil Ali telah bersamanya dan banyak bergaul dengan Fathimah. Interaksi yang lama dua muda mudi sangat potensial menumbuhkan tunas cinta dan memekarkan kuncup jiwanya. Ini dibuktikan dari pernyataan Rasulullah untuk meminta dua lelaki shalih itu menunggu keputusan Allah tentang pinangannya. Jadi, dalam hal ini kemungkinan Rasulullah mengetahui bahwa putrinya dan Ali telah saling mencintai. Sehingga Rasulullah pun punya harapan pada keduanya untuk menikah. Rasulullah hanya sedang menunggu pinangan Ali. Di masa mendatang sejarah membuktikan ketika Ali dan Fathimah sudah menikah, ia berkata kepada Ali, suaminya, “Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda.” Saya yakin kita tahu siapa yang dimaksud oleh Fathimah. Ini perspektif saya.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan singkat Ali, “Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah.” Satu kalimat itu sudah mewakili apa yang diinginkan Ali. Rasulullah sangat memahami ini. Beliau adalah seseorang yang sangat peka akan apa-apa yang diinginkan orang lain dari dirinya. Beliau memiliki empati terhadap orang lain dengan demikian kuat. Beliau memahami bentuk sempurna keinginan seseorang seperti Ali dengan beberapa kata saja.
Dan jawaban Rasulullah pun menunjukkan hal yang serupa, “Ahlan wa sahlan!” Ungkapan sambutan selamat datang atas sebuah penantian.
Jadi, dengan perspektif ini, kita akan memahami bahwa lelaki shalih yang datang untuk meminang bisa ditolak pinangannya, tanpa akan menimbulkan fitnah di muka bumi ataupun kerusakan yang meluas. Wanita shalihah yang dipinang Salman Al Farisi telah menunjukkan kepada kita, bahwa ia mencintai Abud Darda’ dan menolak pinangan lelaki shalih dari Persia itu. Rasulullah pun telah menunjukkan pada kita bahwa ia menolak pinangan dua lelaki tershalih di masanya karena Fathimah mencintai lelaki shalih yang lain, Ali Bin Abu Thalib. Di sini, kita belajar bahwa cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.
Mari kita dengarkan sebuah kisah yang dikisahkan Ibnu Abbas dan diabadikan oleh Imam Ibnu Majah. Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah. “Wahai Rasulullah,” kata lelaki itu, “Seorang anak yatim perempuan yang dalam tanggunganku telah dipinang dua orang lelaki, ada yang kaya dan ada yang miskin.”
“Kami lebih memilih lelaki kaya,” lanjutnya berkisah, “Tapi dia lebih memilih lelaki yang miskin.” Ia meminta pertimbangan kepada Rasulullah atas sikap yang sebaiknya dilakukannya. “Kami,” jawab Rasulullah, “Tidak melihat sesuatu yang lebih baik dari pernikahan bagi dua orang yang saling mencintai, lam nara lil mutahabbaini mitslan nikahi.”
Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak. Di telinga dan jiwa lelaki ini, perkataan Rasulullah itu laksana setitis embun di kegersangan hati. Menumbuhkan tunas yang hampir mati diterpa badai kemarau dan panasnya bara api. Seakan-akan Rasulullah mengatakannya khusus hanya untuk dirinya. Seakan-akan Rasulullah mengingatkannya akan ikhtiar dan agar tiada sesal di kemudian hari.
“Cinta itu,” kata Prof. Dr. Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Tahrirul Ma’rah fi ‘Ashrir Risalah, “Adalah perasaan yang baik dengan kebaikan tujuan jika tujuannya adalah menikah.” Artinya yang satu menjadikan yang lainnya sebagai teman hidup dalam bingkai pernikahan.
Dengan maksud yang serupa, Imam Al Hakim mencatat bahwa Rasulullah bersabda tentang dua manusia yang saling mencintai. “Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah) oleh orang-orang yang saling mencintai,” kata Rasulullah, “Seperti halnya pernikahan.” Ya, tidak ada yang lebih indah. Ini adalah perkataan Rasulullah. Dan lelaki ini meyakini bahwa perkataan beliau adalah kebenaran. Karena bagi dua orang yang saling mencintai, memang tidak ada yang lebih indah selain pernikahan. Karena cintalah yang menghapus fitnah di muka bumi dan memperbaiki kerusakan yang meluas, insya Allah.

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.
Sumber : www.dakwatuna.com
Aisya Avicenna

Lukisan Cinta untuk Bunda

Dua puluh tiga tahun silam...
Lunglai
Tubuhnya lemah terkulai
Sisa butiran keringat masih tampak berkilau di dahinya
Perjuangan hidup mati menggadaikan nyawa baru saja berakhir
Semburat pucat di wajah pun perlahan lenyap
Senyumnya mengembang
Bibirnya melafadzkan hamdalah
Tak lama, dua sosok mungil itu ada di hadapan
Dipeluknya bergantian dengan segenap kehangatan kasih sayang
Padahal dirinya masih tampak letih
Matanya berbinar-binar bahagia
Tak henti-henti menyapa buah hati tercinta
Kembar
Luar biasa bahagia rasanya
Tetes air bening pun mengalir dari sudut mata
Air mata bahagia
Bagai melepas kerinduan yang teramat dalam
Pipi yang masih kemerah-merahan itu dicium
Dua kepala mungil dibelai dengan manja
Bayi kembar itu sedikit menggeliat
Subhanallah, betapa indahnya ciptaan-Mu, ya Rabb..
Lirih hatinya berkata saat menatap sang buah hati
Dua pasang mata itu memang belum bisa melihat dengan sempurna
Namun batin kedua bayi merah itu meyakini
Mereka berada di tangan seseorang yang sangat mencintai
Aura cinta memancar dari kedalaman jiwa
Menyelimuti sang buah hati yang baru saja menyapa dunia
Dengan lengkingan tangis memecah sunyi
Indah… bahkan teramat indah!
Bunda tak pernah kenal lelah menjaga dan menyayangi
Bunda jua yang mengajarkan makna kasih sayang dan cinta sejati
Bunda bagaikan pelabuhan cinta
Senyum kesabarannya selalu menjadi penawar resah, gundah bahkan amarah
Cinta Bunda memang cinta yang sangat indah
Kini...
Dua puluh tiga tahun pun berlalu setelah bayi kembar itu menyapa dunia
Jemari itu tak lagi lentik
Kulitnya pun kunjung keriput
Namun tak pernah cinta luruh dari dirinya
Disemainya doa hanya untuk Ananda tercinta
Selalu di setiap waktu
Terima kasih Ananda haturkan tuk Bunda tercinta
Sungguh tiada mampu Ananda membalas segala jasa
Mungkin hanya ini kuasa Ananda tuk lukiskan cinta
Melalui rangkaian kata yang terpahat menjadi karya

Aisya Avicenna

Pencarian

Popular Posts

Arsip Blog