Jejak Karya

Jejak Karya

Friday, March 29, 2013

Aksara Kembara [10] : Ka De eR Te

Friday, March 29, 2013 0 Comments
by Norma Keisya Avicenna (Notes) on Wednesday, March 13, 2013 at 11:32am
 
Keputusan seorang anak manusia untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya, dari sendiri jadi punya pasangan adalah  salah satu perjuangan hidup yang luar biasa. Bagaimana tidak? Namanya saja sudah rumah tangga. Sebuah kata majemuk yang satu katanya erat hubungannya dengan satu kata yang lain. Kita tahu tangga itu identik dengan suatu alat/ benda yang berfungsi untuk memudahkan seseorang menjangkau area yang lebih tinggi. Butuh tahapan-tahapan untuk menaikinya. Dari anak tangga pertama sampai pijakan yang sesuai dengan yang dikehendaki. Tak jarang di pijakan awal sering terpeleset, kurang pas posisinya, bahkan terjatuh karena licin atau baru adaptasi awal karena merupakan pengalaman yang pertama kali dalam hidupnya. Itulah tangga! Pun untuk mencapai posisi yang stabil semuanya butuh proses, butuh usaha yang tak semudah membalikkan telapak tangan.

Adapun rumah itu ibarat organisasi. Coba tengok rumah kita. Ada bagian teras, ada bagian ruang tamu, ada ruang keluarga, dapur, ruang makan, kamar tidur, kamar mandi, gudang, garasi, dsb. Semua punya ‘amanah’ masing-masing. Yang satu saling melengkapi yang lainnya. Yang satu saling menggenapkan fungsi yang lainnya. Misal, setelah seharian sibuk beraktivitas, badan rasanya capek dan butuh kesegaran. Raga pun segera beranjak ke kamar mandi untuk bersih-bersih diri lalu ke kamar tidur dan merebahkan badan menghilangkan rasa lelah.
Yups, rumah tangga!

Lalu kenapa judulnya KDRT (kalau disingkat)? Hehe. KDRT di sini bukan berarti Kekerasan Dalam Rumah Tangga, adopsi dari sebuah buku yang judulnya KDRT juga. Kekonyolan Dalam Rumah Tangga. Saya pun punya KDRT yang lain: Keremphongan Dalam Rumah Tangga, Keharmonisan Dalam Rumah Tangga, dan Kekompakan Dalam Rumah Tangga. Saya ingin share pengalaman saya selama 4 bulan ini mengayuh biduk rumah tangga, masih seumur jagung sih! Namun, saya ingin mengabadikan moment-moment seru bersama seseorang yang Insya Allah menjadi teman hidup saya di sepanjang sisa usia.

KDRT [1] : Keremphongan Dalam Rumah Tangga
Alhamdulillah, sudah 1 pekan ini kami menempati kontrakan yang baru di Istana 77. Keremphongan awal sudah tampak saat kami pindahan dari kost-kostan menuju kontrakan. Alhamdulillah nya, kami mendapat pinjaman mobil pick-up dari DPC Banyumanik. So, ongkos pindahan bisa dihemat. Baru berdua aja barang-barangnya sudah berkardus-kardus. Apalagi kardus-kardus itu kebanyakan milik saya, isinya buku-buku dan pernak-pernik. Haha. Jadi merasa bersalah. Saat boneka Doraemon saya yang super GD (kado pertama saat saya menginjakkan kaki pertama kalinya di kostan kami di Bogor), yang saya kasih nama Sisemon (xixi), terjatuh dari mobil pick up. Saking dia nggak dapat tempat. Untungnya, ada anak Etos yang waktu itu motoran dari belakang (yang juga turut membantu keremphongan kami). Dia yang menemukan dan mengambil Sisemon yang ‘nyungsep’ itu. Hihi. Lucu begete lah…

Keremphongan pun berlanjut, hari pertama kami pindahan -biar capeknya sekalian- akhirnya saya dan suami pun memutuskan untuk lanjut bersih-bersih dan beres-beres. Penataan barang-barang sesuai dengan tempatnya. Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya memiliki seorang suami yang rajin, cinta kebersihan dan keindahan, pantang buang sampah sembarangan, dan selalu penuh kejutan. Wkwkwk. Meski terkadang sifat pelupanya muncul di saat yang kurang tepat. Tapi inilah saatnya saya yang ambil bagian. Haha. Beliau pun sangat berperan besar dalam proses penataan barang-barang kami itu. Dimana harus menaruh kulkas, almari, naruh rak piring, letak tempat sampah, bikin gantungan buat wajan n the gank, dsb. Keremphongan juga terjadi saat kami berdua membeli beberapa perkap yang dibutuhkan.

Keremphongan selanjutnya, tanggal 11 Maret kemarin adalah kali pertama saya ikut arisan PKK ibu-ibu di RT tempat tinggal saya. Perasaan di hati saya waktu itu campur aduk nggak jelas. Tapi saya sudah ngantongi salah satu modal. Gak terlalu penting sih, tapi rasa-rasanya penting juga. Saya sudah cukup hafal Mars PKK. Karena Ibuk dulu pernah beramanah sebagai ketua RT, terus kalau pas ada arisan di rumah, ibu-ibu pasti akan menyanyikan Mars PKK. Jadi ya, saya yang tipe pembelajar auditori sedikit-sedikit hafal di luar kepala. Hehe. Pertama jumpa dengan ibu-ibu se-RT. Wajah-wajah baru dengan beragam karakter. Clingak-clinguk… ups, sayalah anggota termuda. Kebanyakan seusia ibuk saya dan banyak juga yang sudah berstatus ‘yangti’. Tapi, kata Ibuk yang penting PD, siap belajar, dan ramah pada semua orang. Waktu itu setelah acara inti selesai, oleh Bu RT saya diberikan waktu khusus untuk memperkenalkan diri. Uhuy… arisan PKK pertama saya berhasil saya lalui dengan mulus. Alhamdulillah… ^_^

Keremphongan selanjutnya terjadi pada suatu pagi saat saya ingin melanjutkan kembali belajar merajut. Ya, insya Allah saya punya jadwal belajar merajut di hari Jum’at dari pagi sampai siang. Gratis. Dan lokasinya lumayan dekat dari rumah. Waktu itu saya mendadak sibuk mencari hakpen saya (jarum rajut). Perasaan Subuh tadi saya masih lihat hakpen itu di dekat keranjang, tempat biasa saya menaruh charger HP. Saya yakin banget. Duh, dimana ya??? Saya cari dimana-mana tidak ada. Yasudahlah, kegiatan merajut saya alihkan dengan merampungkan membaca novel anak karya Mas Gol A Gong dan Mbak Tias Tatanka. Meski dalam hati masih menaruh perasaan penasaran, dimana ya hakpen itu? Sempat terpikir SMS suami karena siapa tahu nyasar di tasnya. Tapi saya urungkan dan lebih memilih untuk asyik membaca.

Malam harinya saat ngobrol santai dengan suami, saya pun bertanya tentang hakpen itu. Dan apa jawabannya, dengan pasang wajah polos tanpa dosa (halah), suami pun mengeluarkan sebuah buku karya pak Heppy Trenggono, membukanya, sambil senyam-senyum nggak jelas lalu mengeluarkan batangan warna kuning dari bukunya itu. Aih, itu hakpen saya!

“Lha Mas tadi bingung ogh nyari pembatas buku, yasudah to, nemu ini terus Mas pake…” Huaaa, sedetik kemudian suami saya hadiahi banjir cubitan. Wkwkwk. Rasain! ^_^

Sekian kisah Keremphongan Dalam Rumah Tangga yang bisa saya tuliskan, masih banyak kisah remphong yang lain yang membuat hari-hari dalam rumah tangga saya menjadi penuh warna.

KDRT [2] : Keharmonisan Dalam Rumah Tangga
Keharmonisan dan keromantisan adalah saudara kembar. Hehe. Harmonis itu selaras, serasi, dan seimbang. Dan romantis itu tidak hanya sekadar berkata-kata tapi lebih pada aksi nyata Yups, saya dan dirinya ibarat sebuah puzzle. Adanya saling melengkapi dan tiadanya saling mengisi. Apakah saya pernah ngambek? Pernah! Apakah saya pernah menangis? Pernah! Apakah saya pernah jengkel? Pernah! Tapi semuanya menjadi mozaik kehidupan yang sungguh bertabur hikmah.

Ketika saya jengkel, saya tipe orang yang nggak bisa marah dan meledak-ledak. Ya, saya akui itu. Kalau muncul perasaan itu, saya redam dan melegakan hati saya dengan cara menangis. Hehe. Bukan berarti cengeng kan? Tapi bagi saya, air mata juga simbol ketegaran. Dan inilah salah satu cara saya dan perlahan suami pun paham. Kalau saya sudah ‘diem’ (nggak seperti biasanya. Xixixi. Eits, saya kalem kok! *plak!), pasti suami langsung menangkap ada yang tidak beres pada diri saya. Pun ketika tiba-tiba menangis, pasti ia langsung mendekat dan bertanya, “Lho adik kenapa menangis? Mas paling sedih kalau lihat adik nangis…” wkwkwk. Luculah gimana cara suami menghibur saya. Biasanya kami langsung saling memaafkan terus suami langsung ngajak saya jalan-jalan atau nraktir makan atau membelikan sesuatu. Ah, ternyata tips mengatasi saya ketika saya ngambek dulu sudah pernah ia tanyakan kepada kembaran saya. Dasaaar! Jadi ya, saya nggak jadi ngambek deh… ^_^ (maklum si bungsu).

Bagi saya romantis itu tidak sekadar pulang kerja lalu membawa kejutan dengan membawakan seikat bunga. Tapi, ditraktir sebungkus kebab kesukaan saya itu jauh lebih romantis. (Haha, ngemil mulu ni orang!) Apalagi saat ia berinisiatif membantu saya dalam urusan domestik. Tiba-tiba menyetrika semua baju saat saya terlelap tidur siang, tiba-tiba mencuci baju saat saya remphong di dapur, dsb. Itu juga bagian dari romantisme lewat aksi nyata yang sungguh penuh cinta yang membuat saya merah merona.

KDRT [3] : Kekompakan Dalam Rumah Tangga
Jujur, setelah resmi saya menjadi istrinya hal yang paling membuat saya deg-degan adalah bisa nggak ya saya beradaptasi dengan sosok yang baru saja saya kenal itu. Tapi Alhamdulillah, yang namanya jodoh ternyata di banyak sisi kita punya kemiripan. Dalam hal sifat juga, ada yang sama persis ada yang harus saling melengkapi. Pun juga ada sebuah tanda lahir yang sama. Kita sama-sama punya tahi lalat besar di dekat siku tangan kanan dengan posisi yang sama. Hehe. Pertama kali saat kita tahu dulu, kita berdua langsung heboh sendiri. Koyo cah cilik enthuk permen sunduk! Mehehehe…

Kekompakan itu mulai menghiasi hari-hari kita. Kompak dalam banyak hal. Salah satunya ketika memasak. Jujur, saya akui, suami saya jauh lebih pintar memasak daripada saya. Dari kecil, ia sudah terlatih mandiri. Kehilangan sosok ayah, membuatnya lebih bijak dan dewasa. Pun dengan rasa sayangnya kepada keluarga besarnya. Dari beberapa saudara, dialah yang lebih hafal nama-nama para ponakan yang jumlahnya bejibun itu berikut tabiat dan karakternya. Nah, kalau untuk urusan memasak Alhamdulillah sekarang saya pun mulai menyainginya. Nggak mau kalah dong! Bersyukur sekali rasanya punya suami yang nggak malu ketika belanja ke pasar bersama istri, ketika harus memotong sayuran, ketika harus menyiapkan bahan masakan, dsb.

Keterampilan memasak inilah yang selalu membuat saya merindu sosok Babe di Wonogiri. “Cenung temukan sosok Babe di menantumu yang satu ini, Be…” ^_^ Babe yang sangat sabar, humoris, dan jago masak. Kalau pas lagi masak bareng, pembagian tugas itu ‘ngalir’ dengan sendirinya. Kadang saya yang nyiapin bumbu, suami yang nyiapin bahan, terus remphong deh masak berdua sambil sesekali bercerita dan tertawa penuh canda. Ngekngok momentum lah… Yups, sekali lagi saya bersyukur punya suami yang tak segan-segan untuk berkontribusi di urusan dapur. Karena pernah saya dapat cerita dari sahabat saya, suaminya nggak bisa mbedain mana tumbar dan mana merica. Hehe. Ada-ada saja ya…

Kekompakan yang super remphong selanjutnya adalah beberapa waktu kemarin kita nyobain blender (kado dari saudara). Kami jadi heboh sendiri (dengan kekonyolan masing-masing) dan akhirnya sepakat untuk lebih rajin bikin jus buah. Ah, konyol dan errornya kami waktu itu. Hihi. Tapi kami jadi makin kompak lho! (Kompak konyolnya. Hehe)

Setiap ada waktu luang, kami sering ngobrol banyak hal. Paling seru ketika cerita masa kecil dan keluarga masing-masing. Mental pengusaha suami saya sudah tertanam sejak SD dan almarhum bapaklah yang mengajarinya mandiri semenjak kecil. Kalau suami sudah cerita tentang almarhum bapak saya seolah turut merasakan kerinduan yang tengah ia rasakan. “Bapak, semoga engkau bahagia di sana… Kelak, semoga kita dipertemukan di surga-Nya. Aamiin…”

Ya, dan banyak kekompakan-kekompakan lain yang menghiasi hari-hari kami. Saat saya selesai membaca buku (baik itu seputar dunia kepenulisan, kehamilan, dunia anak, kehidupan rumah tangga, dsb) suami saya akan selalu menjadi pendengar yang baik. Karena salah satu kebiasaan saya adalah menceritakan apa yang sudah saya baca. Setelah itu, kadang kami terlibat diskusi yang seru dari yang serius sampai yang super lucu.

Yups, 3 KDRT ini yang bisa saya tuliskan. Pada intinya, pilihan untuk menikah, menentukan pendamping hidup untuk kemudian menjalani kehidupan berumah tangga bersama pasangan itu tidak hanya berlaku 1-2 hari saja tapi sepanjang sisa usia. Dan kepada diri ini, saya ucapkan: “Selamat menjalani hari-hari yang penuh kejutan membahagiakan… Barokallahu fiik…”

Buat rekan-rekan, semoga bisa mempersiapkan dengan sebaik-baiknya, seindah-indahnya... Pun yang sudah berkeluarga semoga senantiasa berjuang untuk melahirkan sakinah, mawaddah, rohmah, menjadi keluarga dakwah dan amanah, bersama sampai ke Jannah. Aamiin...


[Keisya Avicenna, 130313: seorang muslimah yang masih terus belajar  menjadi istri shalihah serta ibu yang luar biasa untuk putra-putrinya kelak. Mohon do’a dari semua, ya…]

Aksara Kembara [9]: “Preparing To Be A Good Mother”

Friday, March 29, 2013 0 Comments
by Norma Keisya Avicenna (Notes) on Sunday, March 10, 2013 at 3:27pm

Ada sebab, ada akibat. Dan akibat yang saya alami berupa ilmu dan pengalaman luar biasa hari ini bermula dari sebuah sebab. Sebab yang tanpa disengaja tapi saya yakin semua sudah tertulis dalam catatan skenario-Nya yang memang harus saya yang jadi salah satu lakon utamanya.

Malam itu (saya lupa tepatnya tanggal berapa) suami tercinta mengajak saya untuk singgah dulu di masjid kampus UNDIP untuk menunaikan sholat Isya’ karena adzan sudah berkumandang. Setelah meletakkan sandal di area rak dekat tulisan ‘batas suci’ kami pun berpisah ke tempat wudhu masing-masing. Setelah berwudhu, saya lanjut naik ke lantai dua karena tempat sholat untuk akhwat memang di lantai dua. Lumayan sepi jama’ah akhwatnya. Paling hanya sekitar 7 orang dengan saya.

Setelah sholat, mata saya seolah tergerakkan untuk menatap sebuah pamfleat dengan judul yang sangat provokatif. Langsung saya mbatin, “Harus ikut nih! Ini yang saya butuhkan!” Saat nulis ini saya jadi teringat ketika masih mahasiswa dulu, kata temen-temen salah satu hobi saya tuh “baca pamfleat”. Hehe. Ya, bahkan dulu saat jalan bareng temen saya dan diselingi obrolan yang seru saya tiba-tiba suka ngilang mendadak. Haha. Temen-teman jadi ada yang ngrasa dicuekin. Lha wong saya ‘nyanthol’ di papan pengumuman yang memuat banyak sekali tempelan pamfleat tentang info apapun, seperti beasiswa, seminar-seminar, bahkan lomba. Malam itu pun saya seolah menemukan kembali hobi saya yang terpendam. Halah… Segera saja saya keluarkan HP kemudian mencatat hal-hal penting yang tertera di pamfleat itu. Termasuk menuliskan cara daftar untuk menjadi peserta. Saya baru tersadar, di sekeliling saya sudah tidak ada orang. Hihi. Dasar!

Saya bergegas turun, tak ingin suami menunggu terlalu lama. Sambil jalan ke parkiran, ngobrol dengan suami dan mendapatkan izin darinya, saya pun menghubungi panitia acara. Terjadilan kontak dengan panitia. Saya juga minta ke panitia untuk mengirimkan SMS publikasi biar saya bisa turut membantu memforward agenda penting itu ke rekan-rekan akhwat yang lain.

[ ]

Sabtu, 9 Maret 2013
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba juga.
“Selesaikan amanah di sektor domestik dulu karena kesuksesan di ranah domestik menjadi salah satu indikator kesuksesan di ranah publik. Jadi, urusan keluarga beres dulu…” Ini salah satu hal yang menjadi pegangan saya sebelum saya memutuskan untuk meninggalkan rumah. Ya, urusan rumah harus beres dulu. Ntah itu mencuci, menyapu, mengepel, memasak, cuci piring, beres-beres ruangan, dsb. Meninggalkan rumah dalam kondisi bersih dan rapi pun akan membuat hati menjadi lebih nyaman dan tenteram. Hehe. Akhirnya, jam 7.30 saya baru bisa berangkat menuju lokasi acara. Alhamdulillah, ada yang mengantarkan. Semoga Allah melipatgandakan pahala untukmu, sayang… Hmm, Sabtu seru saatnya berburu ilmu!

Selama di perjalanan, saya sempat SMSan dengan Ania yang ternyata sudah sampai terlebih dulu. Sekitar setengah jam perjalanan, sampailah saya di pelataran gedung E Universitas Dian Nuswantoro Semarang (UDINUS). Langsung saja, saya pamitan dengan sosok istimewa yang sudah mengantarkan saya itu, mencium punggung tangannya, dan pasang tampang plus senyuman paling manis (halah, gubrak!)

Bergegas saya naik ke lantai 3, registrasi di meja panitia, dan Alhamdulillah dapat bingkisan jilbab, snack, dan blocknote. Asyiiik… Segera saya cari posisi yang strategis meski ternyata bagian kursi terdepan sudah penuh. Sipp, saatnya mengeluarkan pena dan mengabadikan setiap ilmu yang didapat lewat rerangkai kata.

Acara ternyata telah dibuka dan setelah saya duduk ada operet dari adik-adik SMP IT Harapan Bunda. Di akhir terdengar sebuah nyanyian yang sungguh menyejukkan qalbu…
“…hanya sebuah lagu sederhana… Lagu cintaku untuk Mama…”
(huaaa,jadi kangen kedua Ibuk saya)

Lanjut ya, pemateri pertama adalah seorang ibu yang telah melahirkan sebanyak 4x namun putra/putrinya ada 5. Yups, putra beliau ada yang terlahir kembar. Beliau sudah sangat berpengalaman di dunia pendidikan, banyak terlibat dalam pendirian SDIT di Jakarta, seorang pemerhati anak dan remaja. Beliau adalah Bunda Yayah Komariah. Sekilas saat beliau duduk di kursi panggung, saya langsung merasa beliau mirip sekali dengan Almarhumah Bunda Yoyoh Yusroh. Hmm, Masya Allah…ternyata mereka memang bersahabat sangat dekat.

Bunda Yayah menyampaikan materi tentang “BAGAIMANA MENJADI IBU”. Ibu adalah madrasah pertama bagi putra-putrinya. Bunda Yayah juga menekankan bahwa ikut kegiatan parenting itu penting! Yups, saya pun merasakannya. Sejak zaman mahasiswa saya paling senang ikut seminar-seminar yang juga ada hubungannya dengan persiapan pernikahan, kehidupan berumah tangga, dsb. Dan ilmu yang dulu saya dapatkan sekarang perlahan namun pasti saya coba aplikasikan dalam keseharian.

Ohya, apa saja sih persiapan untuk menjadi seorang ibu?
  1. 1.  Persiapan Ruhiyah.
  • Yuks, buka mushaf, baca juga terjemahan dan tafsir dari QS. Ar-Ruum ayat 21. Renungi kandungan isinya!
  • Persiapan ruhiyah meliputi: beribadah dengan benar, mengerti fiqh wanita, ber-akhlaqul karimah.
  1. 2.  Persiapan Aqliyah
  • Banyak membaca
  • Mengikuti parenting
  • Belajar psikologi anak, belajar perkembangan anak, belajar cara berkomunikasi dengan anak..      

  1. 3. Persiapan Mental
  • Bisa mengelola emosi : sabar, tegar, dan tahan banting.
(NB : Saya sempat tergelak, saat Bunda Yayah mengungkapkan: ‘Lebih enak mendidik anak sendiri daripada anak mertua…” Hehe. Saya langsung inget endutku tersayang…#eh)
  1. 4.       Persiapan Keterampilan
  • Manajemen waktu
  • Keterampilan Rumah Tangga
  • Manajemen keuangan
  1. 5.       Persiapan Jasmani
  • Pola hidup sehat
  • Banyak olahraga
  • Makan makanan yang sehat dan bergizi

Pemateri kedua Bunda Hj. Sri Maskufah. Beliau sekarang beramanah sebagai Ketua Persaudaraan Muslimah (SALIMAH) Semarang. Alamat beliau pun di daerah Banyumanik. Sipp, moga kapan-kapan bisa silaturahim ke rumah beliau. Kakak ipar yang pengurus SALIMAH pasti juga kenal. Bunda Sri Maskufah menyampaikan tentang FIQH NIKAH. Pada awal penyampaian kita diingatkan dengan salah satu ayat cintanya, QS. Al Isra’ ayat 36. Hayooo, dibuka lagi yuks mushafnya!

Pada pembahasan kali ini lebih ‘provokatif’ untuk para akhwat yang sudah mempunyai niatan yang kuat untuk segera menggenapkan separuh agama. Hehe. Sip, simak ya…
1.     Perkawinan merupakan fitroh.
 2.     Perkawinan merupakan masalah sosial.
 3.     Perkawinan dengan cara memilih.

Yuks, kita bahas satu persatu…
Kebutuhan fitroh manusia ada 2 hal, yaitu:
1. PENDAMPING HIDUP.
Buka QS. Al-Baqoroh : 168 dan QS. Ar-Ruum : 30.
2. Memenuhi hajat biologis

Perkawinan adalah masalah sosial, karena
  1. Perkawinan dapat memelihara kelangsungan jenis manusia
  2. Memelihara keturunan.
  3. Menjaga keselamatan masyarakat dari dekandensi moral.
  4. Memberikan ketentraman jiwa.
  5. Saling bahu membahu dalam membina keluarga dan mendidik anak.
  6. Menghaluskan rasa kebapakan dan keibuan.

Perkawinan dengan cara memilih. Antara harta, tahta, rupa, dan agama. Tentu, pilihlah yang TERBAIK agamanya. Insya Allah, akan berbuah syurga…

Nah, ini hanya sedikit catatan reportase yang bisa saya tuliskan. Bagi rekan-rekan hebat saya yang saat ini tengah berdebar-debar mempersiapkan peristiwa yang luar biasa istimewa dalam hidupnya semoga dapat bermanfaat. Pun dengan para akhwat yang tengah menjalani fase ‘METAMORFOSA’. Saya ucapkan selamat menanti! Tapi, jadikan penantian itu penantian yang produktif! Terus perbaiki diri dan senantiasa jaga hati. Dulu salah satu prinsip saya, ketika masih ‘ngejomblo’ adalah : “HATI YANG MENJAGA UNTUK HATI YANG TERJAGA”. Dan kini saya merasakan buah manis dari perjuangan rasa sabar di masa lalu. Allahu akbar!

So, lagi-lagi saya kampanyekan: SAY NO TO ‘PACARAN’ BEFORE ‘AQAD’!!!

[Keisya Avicenna, 9-10 Maret 2013 @Istana IPK 77… “4 bulan menyemai cinta bersamamu 10-11-12…10-03-13”]

Aksara Kembara [8] : 77

Friday, March 29, 2013 0 Comments
by Norma Keisya Avicenna (Notes) on Thursday, March 7, 2013 at 10:47am
Eh, pagi ini aku merindukan Yusuf!

[ ]

Rasa-rasanya sudah lama juga aku nggak nulis aksara kembara, ya? Huum, dah lama banget! Jujur, sedikit curcol nih (halah) kesibukan setelah menikah itu jauh berlipat ganda jika dibandingkan saat dulu masih berstatus jomblo… Hehe. Aku akui sesampai di Semarang waktu menulisku menjadi sangat berkurang (tapi aku berjanji, mulai hari ini aku harus lebih rajin dan lebih disiplin lagi *ngiketkepalapakeserbet+krukupiwajan#eh). Dan kesibukan itu semakin bertambah saat kami memutuskan untuk menempati sebuah rumah kontrakan bernomor 77, tidak jauh dari Pasar Damar.

Sabtu-Ahad pekan kemarin menjadi hari-hari super remphong bagi kami. Mulai dari angkut-angkut barang dari kost lama (semenjak pindah dari Bogor dan memutuskan untuk berdomisili di Semarang karena belum langsung dapat kontrakan, kita ngekost dulu selama sebulan). Bayangpun… eh. Sebulan harus pisah dari wajan n the gank karena di kost tidak ada fasilitas dapur. Sebulan tanpa setrika (karena setrika saat itu baru diproses pengirimannya berikut lemari, kulkas, dan kawan-kawannya dari Bogor). Otomatis, sebulan makan di luar dan ngelaundry nyetrika. Aih aih... pemborosan tingkat bidadari sebenarnya. Tapi ya buat pengalaman aja! Hehe. Karena kondisi tidak memungkinkan dan sifatnya hanya sementara.

Dan Alhamdulillah, sekarang kami sudah bisa bernapas lega setidaknya untuk jangka waktu satu tahun ke depan. Kami sudah bisa menempati sebuah istana mungil, istana 77 yang semoga di dalamnya penuh dengan aktivitas-aktivitas yang istimewa. Menjadi baity jannati, menjadi istana yang bersinar benderang karena dinaungi cahaya Al Qur’an. Menjadi hunian yang nyaman dan aman untuk keluarga kecil kami pada khususnya. Bersyukurnya, kami dikelilingi oleh tetangga yang sangat baik dan ramah-ramah. Waktu awal tinggal pun, aku sudah pasang target pribadi. Setiap hari harus tambah kenalan tetangga minimal 2 orang. Suami pun begitu gencar menyemangatiku untuk bersosialisasi. Bahkan waktu hari pertama kita menghuni istana itu, suami langsung ngasih pertanyaan yang membutuhkan jawaban berupa pembuktian, “Dik, kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk masyarakat di sini?”

Bu RT pun memberikan informasi kalau setiap tanggal 11 akan ada arisan PKK di balai RT (tak jauh dari istana 77). Hmm, harus ngapalin mars PKK dulu nih… *ndownload.com! ^_^ (menambah deret aktivitas emak-emak*enjoy aja!)

Konon, kata warga di sekitar kami. Kamilah pasangan termuda. Hehe. Kebanyakan para warga sudah berputra banyak, udah GD-GD, dan sudah punya cucu. Bismillah, semoga kami bisa menjadi warga baru yang baik, yang diterima dengan baik pula, dan mampu memberikan kontribusi yang maksimal, serta senantiasa memuliakan tetangga. "Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga yang jauh." (QS. An-Nisa' [4]: 36).

Sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam... "Jibril tidak henti-hentinya berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, hingga aku beranggapan bahwa ia akan mewarisi." (Muttafaq Alaih). "Barangsiapa beriman kepada Allah, dan Hari Akhir, hendaklah ía memuliakan tetangganya." (Muttafaq Alaih).

[ ]

Ohiya lupa, siapa Yusuf? Yusuf adalah seorang anak kecil yang biasa bermain di dekat kost kami dulu. Aku selalu menyapanya setiap pagi saat asyik mengepel atau menjemur baju. Kadang dia juga bertanya dengan logat khas anak-anak, “Kowe lagi ngopo, Mbak?”. Sering pula aku mendengar tangis Yusuf karena dia terluka atau saat dijahili teman bermainnya.

Sesekali aku pun berbagi kue dan bercerita banyak hal dengannya. Usianya yang baru 4 tahun membuatku semakin gemas padanya. Celoteh anak-anak yang lucu, lugu, dan apa adanya. Masih teringat jelas, tatapan nanar matanya saat aku sibuk angkut-angkut barang edisi pindahan. Tatapan sedih dan kehilangan. Ah, Yusuf… baik-baik di sana ya Nak! Kamu masih terlalu kecil untuk memahami makna sebuah ‘perpisahan’…

[ ]
Mekaten, monggo kulo aturi pinarak wonten gubug kulo…

 [Keisya Avicenna, @Istana IPK 77]
NB: Agenda terdekat di Istana IPK 77: ARISAN CABE (para alumni ETOS) Insya Allah tanggal 12 Maret 2012 jam 13.00 ^_^

Aksara Kembara [7]: “Bersamamu Memintalkan Do’a di Hari Bahagia”

Friday, March 29, 2013 0 Comments
by Norma Keisya Avicenna (Notes) on Sunday, February 3, 2013 at 4:30am
FEBRUARI bertabur CINTA
2 Februari 2010: "Merancang Miniatur Kehidupan: 23 tahun dalam CINTA, CITA, dan CERITA 'tuk menjadi pribadi IPK [Inspiratif, Prestatif, dan Kontributif]”

2 Februari 2011: "24 : untuk jiwaku yang sedang bertumbuh, dalam rindu yang berpeluh, tuk menjadi pribadi yang TEGAR dan TANGGUH!"

2 Februari 2012: "Seperempat Abad Lebih Bercahaya dalam Jejak Kelana Sarat Makna..."

2 Februari 2013: "Menuju 26 SUKSES-BERSINAR: Jadilah engkau pribadi yang tegar dan sabar, terus bersemangat dalam segala do'a dan ikhtiar. Milikilah jiwa yang takkan pernah gentar..."

Inilah suatu masa penuh cinta...
Dalam renungan panjang penghambaanku pada-Nya

Untuk ruang kecil bernama "HATI"

Biarkan ia memecah sepi...

Mencoba hadirkan pendar cahaya dalam nurani

Merangkumnya dalam untaian dua kata: "TEPAT dan TERBAIK"
Di penghujung dua lima...
[Detik-detik pergantian usia]



Ada hati yang penuh bunga hari ini. Alhamdulillah Ya Rabb, atas segala kenikmatan dan anugerah yang Engkau beri. Akhirnya tiba suatu masa saat diri berkurang usia.

Pagi-pagi bersama suami tercinta sarapan bersama “Pecel Perjuangan Bu Mar”. Mak nyuuus banget! Apalagi sambil minum teh madu. Lanjut ngisi amunisi buat si Mega Pro, beli roti goreng then… mbolang ke MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah). Melewati Bukit Kencana, daerah yang baru pertama kali saya lalui. Ada satu pinta yang saya utarakan kepada belahan jiwa tercinta, saya ingin memanjatkan do’a sepenuh cinta di rumah Allah yang sangat istimewa itu, bersamanya…

Sesampai di MAJT masih sepi tapi suasana sungguh menyejukkan hati. Hanya ada beberapa siswa SMA dan gurunya sedang jalan-jalan sehabis olahraga, beberapa pengunjung masih bisa dihitung dengan jari. Akhirnya, saya dan Mas Sis jalan berkeliling dulu. Sambil tebak-tebakan. Hehe.
Saya: “Endut sayang, coba tebak pilar ungu itu ada berapa?”
Mas Sis: “Emangnya berapa?”
Saya: “Ada 25. Coba dihitung! Itu tuh Gaya Romawi. Pilar-pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi-kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul. Di gerbang itu ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“. Masya Allah, kereeen ya?”
Mas Sis: “Hu um…”
Saya: “Tebak lagi, berapa tinggi Menara Asma’ul Husna?”
Mas Sis: “Berapa ya say? Kasih tahu nggak ya?”
Saya: “99 meter say! Mantap!”

Area serambi Masjid Agung Jawa Tengah dilengkapi 6 payung raksasa otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi, Tinggi masing masing payung elektrik adalah 20 meter dengan diameter 14 meter. Payung elektrik dibuka setiap shalat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha dengan catatan kondisi angin tidak melebihi 200 knot, namun jika pengunjung ada yang ingin melihat proses mengembangnya payung tersebut bisa menghubungi pengurus masjid.

Kita pun duduk-duduk sambil menikmati pemandangan yang sungguh mendamaikan hati. Cericit burung, langit biru yang luas membentang, sang bayu yang menyejukkan qalbu, wah… keren lah pokoknya!

Sekitar jam 9, kita kembali ke parkiran. Gelar rapat ‘bisnis’ di sana bersama Nur Isnaini sambil nunggu Imam juga. Alhamdulillah, dapat setangkai bunga mawar putih dari sahabat saya yang satu ini sekaligus kartu ucapan bertuliskan: “Dear Mbak Cenung, duh yang lagi seneng… Met milad ya Mbak. Barokallahu fii umrik. Moga makin langgeng sama misua dan semoga lekas diberi momongan. Aamiin ^_^. Best regards, Iis.”

Rapat pun berlangsung seru, sesaat setelah Imam datang Iis pamit karena harus ke kios. Setelah rapat selesai, saya dan Mas Sis pun kembali ke bangunan utama masjid. Duduk-duduk berdua. Sampai akhirnya, ada orang yang bisa dimintai bantuan untuk mengabadikan moment alias foto-foto. Hehe. Ah, seru dan bahagianya!



Terima kasih, sayang… <3 allah="" coz="" i="" love="" strong="" you="">
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Sebuah hadiah terindah: Ar-Rahman...

Hari ini, di kala sang mentari kembali membuka hari
Dan pagi pun datang mnggantikan shift malam…
Hari baru tlah tiba…

Selamat berkurang usia, Norma…
Semoga kedewasaan semakin terpancar dalam jiwa…
Bersiap merenda impian, dan berjuang mewujudkannya hingga jadi nyata

Berapa saldo usia yang tersisa?
Tak pernah ku tahu jawabnya…
Hanya ikhtiar dan doa penuh kesungguhan yang bisa terus ku lakukan
Semoga dengan bertambahnya usia, dengan berkurangnya jatah usia
Kan menjadikanku semakin dewasa
Menjadi sosok insan yang selalu memberikan kebermanfaatan untuk sekitarnya
Menjadi sumber inspirasi dan motivasi, terlebih untuk diri sendiri…

[Keisya Avicenna, 2 Februari 2013]



"Kaulah hadiah teramat istimewa dalam hidupku, pemberian yang TEPAT dan TERBAIK dari Rabbku..."

Friday, February 01, 2013

Aksara Kembara [5]: “Meminang Surga”

Friday, February 01, 2013 0 Comments

Ketika Imam Syafi’i ditanya sejak kapan beliau mendidik anak, maka jawabannya sungguh diluar dugaan.
"Sejak aku belum menikah,” kata beliau.
"Aku mencarikan istri yang baik lagi shalihah, sebagai tempat lahirnya anak-anakku," lanjut beliau.

Iya, benar.
Karena Istri adalah sebagian dari darah, sebagian dari nyawa yang akan membentuk karakter anak itu kelak.
Maka mengetahui latar belakang akhlak calon istri adalah wajib hukumnya.

Lihatlah bagaimana Umar Ibn Khattab, menikahkan putranya, dengan seorang gadis jujur, yang ia dengar percakapan gadis itu dengan ibunya, dimana gadis itu menolak mencampurkan susu dengan air. Karena itu adalah perbuatan curang lagi tercela, sekaligus dosa.

Maka dinikahkanlah gadis itu dengan putranya. Kelak lahirlah dari rahim gadis itu cucu Umar Ibn Khattab yang kita kenal juga dengan nama Umar. Umar bin Abdul Aziz....Penyelamat sejarah Bani Umayyah, sekaligus termasuk dalam kategori Khalifah ke-5 diluar dari 4 Khalifah yang kita kenal

Maka bagaimana mungkin akan lahir Generasi Rabbani jika calon istrimu memiliki sejarah hitam dalam lumpur maksiat? Maka buanglah ‘cinta semumu’ itu di pojok sejarah...
Carilah Istri, yang shalihah lagi cantik dan baik hati. Disanalah rahim itu akan mencatat generasi baru: Generasi Rabbani.


Engkau Harus Sadar!
Ketika engkau menikah, maka harus mempunyai cita-cita yang tinggi, besar, dan bening…

Surga Allah...
itulah cita-cita kita semua!

Maka jangan biarkan mengalir...
Karena jika mengalir cita-cita itu tak terkendali
Tapi harus…

Dikonsep!
Dievaluasi!


Kalau engkau laki-laki jadilah LELAKI PEMINANG SURGA, dan jikalau engkau muslimah jadilah MUSLIMAH yang DIRINDU SURGA hingga engkau layak dicemburui oleh para bidadari…
Dunia ini tengah menanti para Generasi Rabbani yang lahir dari keturunanmu, keturunanku, keturunan kita semua...
Semoga Allah mencatatnya sebagai cita dan doa yang terijabah…
Aamiin Ya Robb.

***

Subhanallaah!
Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan, agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi buta yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hewani dan penuh kenistaan. Bila cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari Dzat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT. Di negeri yang fana ini atau di negeri yang abadi nanti.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”(QS. Ar-Ruum : 21).

[Keisya Avicenna, serakan inspirasi 30 Januari]

Aksara Kembara [6]: "Hari-hari Meriah Bersama ‘Si Merah’..."

Friday, February 01, 2013 0 Comments

Benar ya, ketika pernikahan memanjangkan ikatan tali silaturahim. Sahabat suami adalah sahabat saya juga. Dan bersyukurnya saya ketika dipertemukan dengan sahabat-sahabat beliau yang keren-keren dan luar biasa. Salah satunya adalah seorang mahasiswi berprestasi UNDIP, pernah menyabet gelar juara III MITI Awards, anak ETOS 2006 (semua anak Etos pasti kenal dia), dan segudang prestasi lainnya. Dan yang jelas darinya saya belajar bagaimana sih sosok seorang muslimahpreneur sejati. Mantap lah!

Kali pertama berjumpa waktu itu adalah hari pertama suami masuk kerja di kantornya yang baru di daerah Pandanaran. Saya pun ikut ke Semarang bawah karena posisi kami belum dapat kostan (berangkat dari KarangJati) sekaligus saya mau survey GO di daerah Semarang. Jadilah jam 9 saya mbolang sendirian di Gramedia Pandanaran sedangkan suami masuk kerja. Iseng SMS sosok muslimah UNDIP itu, pengin ngajak ketemuan sekaligus saya pengin transit di kostnya atau kiosnya. Ternyata balasan SMSnya mengatakan dia sedang ada kesibukan sampai siang. Yasudah, saya puas-puasin baca buku di Gramedia sampai akhirnya saya menemukan sebuah buku yang selama ini saya cari dan saya butuhkan. Adzan Dhuhur berkumandang, sholat dulu di mushola kemudian keluar Gramedia. Terkadang SMS-an juga dengan suami, beliau memastikan posisi dan kondisi saya. Hehe.

Tapak langkah kaki saya membawa jiwa dan raga ini ke toko buku selanjutnya. Masih di Pandanaran. Yups, toko buku Merbabu. Di toko ini saya berhasil melahap habis satu buku yang sangat keren tanpa harus membeli. Hihi. Plus beli camilan karena perut mulai keroncongan.

Hampir saja saya memutuskan pulang ke Banyumanik (ke rumah kakak ipar) karena belum juga dapat kepastian dari muslimah itu. Sampai akhirnya mata fashion saya mengajak untuk singgah di Rabbani. Akhirnya, muncul nama dia di inbox HP saya, dia akan menjemput saya! Asyiiik…

Hmm, pertemuan pertama begitu memesona. Selanjutnya, saya ditraktir makan siang. Soto yang aduhai lezatnya! Pertama kenal langsung ngrasa cocok dan akrab. Berasa kita dah sahabatan cukup lama. Muslimah yang sangat ceria, lucu, dan unik. Hehe. Mungkin 3 kata itu cukup mewakili sosok dia di mata saya. Di sela makan, kita pun ngobrol panjang-lebar. Saya pun diinterogasi terkait “proses” saya dengan suami saya. Lucu banget lah! Setelah makan, saya diajak ke kostannya dan di sanalah saya mendapatkan salah satu pengalaman yang luar biasa. Terapi Lintah di lidah! Wew… ^_^ Muslimah ini sedang mengepakkan sayap bisnisnya di dunia terapi herbal, bekam, punya kios beras organic, sayur organic, nugget organic, dll. Keren lah! Dan kini kita tengah berkolaborasi bersama untuk mewujudkan impian bersama. Inilah sepenggal kisah tentang pertemuan pertama, sampai akhirnya berlanjut dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya yang sungguh lebih istimewa dan penuh makna.

Tapi, yang paling berkesan dan benar-benar mencerminkan keunikan dia adalah peristiwa tertanggal 29 Januari silam. Hehe *izinkan saya tertawa terlebih dahulu. Pagi-pagi saya dan suami sudah meluncur ke Semarang bawah tepatnya ke butik Khair (tempatnya Hani/ fb: Mutiara Hati). Butik yang menjadi markas kita rapat setiap pagi (markas sementara DNA Semarang). Pagi itu Hani tidak ikut rapat karena ada wisuda dan sumpah profesi. Rapat yang biasa ber-6 hanya ber-4 saja, karena Akh. Agus juga gak bisa datang. Usai rapat (sekitar jam 9) dan Mas Sis juga harus ngantor, saya dan dia pun meluncur ke kiosnya. Kesibukan seorang muslimahpreneur pun bisa saya tangkap dengan segenap indera. Setengah jam di sana selanjutnya kami pun ke toko bunga, beli krisan ungu untuk Hani. Ada kejadian konyol karena lupa toko bunga mana yang kemarin dia sambangi waktu beli bunga juga. Aih, parah! Padahal baru beberapa hari yang lalu.

Kejadian konyol selanjutnya. Kita ke Kariadi, ke FK UNDIP. Parkiran penuh. Ada sela sempit di antara dua motor plus ada genangan air dengan diameter sekitar 30 cm (saya lupa nggak ngukur pake penggaris). Dia pun mencoba memarkir motornya di tempat itu. Dan apa yang terjadi saudara-saudara? Praaang! Kluthiiik… Kaca spion sepeda motor tetangga pecah dan jatuh. Kepanikan sesaat pun terjadi. Jujur, saya tidak mampu lagi mengungkapkan kejadian waktu itu dengan kata-kata, yang jelas ekspresi spontannya sungguh membuat saya terpingkal-pingkal (tapi dalam hati). Akhirnya, dia pun berinisiatif menulis pesan singkat di selembar kertas dan ditindihi helm. Selanjutnya kami pun mencari Hani. Tapi ternyata yang dicari sudah sampai di Khair. Muslimah itu pun menelepon dengan sangat histeris. Wkwkwk *pilihan kata histeris kayaknya terlalu lebay. Tapi kamu memang unik! Hihi. Kita pun kembali ke parkiran dan mengedit tulisan di secarik kertas tadi. (Konon sampai pagi tadi sang pemilik motor belum menghubungi nomor yang tertera untuk menuntut ganti rugi. Hehe. Mungkin dah diikhlasin kali ya?)

Ah, ini hanya catatan hijau untuk sahabat saya dengan karakter ‘merah’. Sosok yang keras (pejuang keras pluz keras kepala. Hehe), merah yang penuh semangat, pribadi yang supel, ramah, baik hati, visioner, muslimahpreneur tangguh, dan 3 kata tadi: ceria, lucu, dan unik. Hoho, special thanks untuk suami saya tercinta karena telah mengenalkan saya dengan sosok muslimah yang satu ini. Sehingga hari-hari saya di Semarang pun semakin penuh warna. Haiyyaaah…

Sahabat…
Ceria ini kan selalu mengembang bersama untaian senyummu…
Kebersamaan karena CINTA
Berbalut lembutnya KASIH SAYANG…

Ayo mbolang lagi say… ^_^
Kapan-kapan ajak ke PERKEBUNAN MELATI di Pekalongan dunk! *ngarep

[Keisya Avicenna, penghujung Januari berkisah tentang Nur Isnaini, cahaya Senin. Jangan-jangan kau lahir hari Senin say? Sama donk! hihi *gakpentingtapipueeeeentingbuaaangeeet!]

Monday, January 28, 2013

Aksara Kembara [4]: “Lolipop Diah Cmut dan Aprisa Ayu di Kado Pernikahanku”

Monday, January 28, 2013 0 Comments


 
Lolipop kertas ke-1
Assalaamu’alaykum… Barokallahu buat Tante Cenung dan Om Siswadi. Semoga menjadi keluarga SAMARA. Bahagia dunia dan akhirat.

Lolipop kertas ke-2
Menikah adalah keputusan terindah sepanjang masa *halah! Karena menikah adalah untaian do’a dan restu dari semesta untuk dua insan yang terpadu… *halah meneh! ^_^

Lolipop kertas ke-3
Dan dengan menikah bukan berarti ngemut persun dan choki-choki harus ditinggalkan. Karena choki-choki bukan sekadar coklat, dialah yang membuat kita dekat. Hihihi. Met menikah tante dan om. Wassalamu’alaykum.

Lolipop kertas ke-4
Pelangi punyamu, punyaku, punya kita, dimanapun, kapanpun…

[Diah Cmut dan Aprisa Ayu]

Mungkin kado dari merekalah yang paling unik dan ‘gila’ menurutku, kado yang mencerminkan ke’aneh’an keduanya. Kado yang membuatku heboh sendiri. Sampai ketawa nggak jelas dan dilirik sosok tercinta di sebelah (saat sibuk membuka kado-kado yang bertebaran dimana-mana. Hehe).

Kado ‘aneh’ yang dibungkus terpisah-pisah lengkap dengan ucapan yang diberi nomor dan berbentuk lolipop. Kado yang berisi benda-benda ‘aneh’ tapi memang sangat bermanfaat dalam kehidupan berumah tangga (ada saringan, telenan, sapu mini, kemoceng mini, gelas, sendok sayur, unik banget lah!). Benda-benda yang berwarna hijau, warna favoritku. Tak ketinggalan pula lolipop aslinya. Hadeuuuh, semoga suami kalian nanti adalah sosok-sosok yang sabar menghadapi tingkah polah kalian yang super aneh di atas rata-rata.

Namun demikian, aku sangat mencintai dan merindukan kalian… semoga kalian segera menikah sehingga kalian bisa segera sembuh dan hidup layaknya manusia normal #eh…

Trio Persun akan selalu tersenyum manis semanis permen sunduk, dan persahabatan kita akan selalu erat seperti choki-choki yang lezat dan sungguh terasa nikmat…

[Keisya Avicenna, 28 Januari 2013]

Saat Kepakan Sayapku pun Lengkap

Monday, January 28, 2013 0 Comments

“And theres a couple words I want to say… “

By: Keisya Avicenna





Rerentet aksara ini menari…
Dalam goresan pena dari gerakan jemari
Kertas putih pun pasrah terbentang
Mencoba lukiskan cinta dalam untaian kata
Curahkan kerinduan yang menghentak di dada
Untuk belahan jiwa tercinta

Dunia pun tersenyum menyambut…
Perasaan tulus yang tengah tercipta
Teruntuk sosok istimewa
Kekasih hati pilihan-Nya



Cinta, telah berbilang waktu
Detikku berlalu bersamamu
Dan diri ini tak pernah lelah berharap…
Agar engkau tak pernah jemu
‘tuk bantu aku menjadi sebaik-baik perhiasan duniamu
Cinta, engkaulah yang ‘kan mengantarkanku ke taman akhlak yang mulia
Taman istimewa, taman surga…

 Sayang, aku ingat nasihat emas Rasulullah Saw. :
 “Maka perhatikanlah wahai istri, bagaimana kalian mempergauli suamimu? Sesungguhnya ia adalah surga atau nerakamu.” [HR. Ahmad]
Sayang, aku berharap surga!
Ya, aku sangat berharap surga!
Dan engkaulah salah satu kunci surgaku, Sayang…
Maka, bimbinglah aku!
Buatlah aku mampu melakukan apapun yang membuatmu ridho padaku…
Dengan begitu, Allah pun akan meridhoiku
 




Cinta, aku berharap agar kita selalu melangkah bersama
‘tuk menggapai ridho-Nya
Seandainya ada tinta emas dalam pena perjalanan kita…
Mari kita tulis bersama
Episode cinta kita yang penuh makna!
Karna hanya mendamba surga dan keridhoan-Nya semata
Bersyukurlah kepada-Nya, Cinta…
Sebelum engkau ucapkan kata terima kasihmu padaku





Sayang, asa hadirmu adalah selaksa makna
Selaksa makna yang dapat kutulis di antara kelopak edelweiss
Bermekaran indah nan abadi di taman hati ini
Sayang, jika cinta itu hanya sebuah mimpi…
Mungkin Hawa-pun akan tetap tinggal di surga
dan aku tak akan pernah terlahir ke dunia ini



Sayang, cinta telah membuat dunia ini menjadi hidup
Cinta adalah bagian kehidupan dari manusia
Dimana keindahan tumbuh di saat memberi atau menerima
Di saat berbagi tangis juga tawa
Dan engkaulah cintaku, Cinta…
Bersama kita ‘kan membangun rumah terindah di dunia, jua di surga
Tempat di mana jiwa kita berlabuh…
Tempat di mana rindu kita berteduh…

TOBI

Monday, January 28, 2013 0 Comments
TEPAT dan TERBAIK = Norma dan Siswadi
[J.Co Botani Square, Bogor]

 Ngunduh mantu, 18 November 2012


Inilah MIMPI kita!

 Aksi SUPERTWIN with their SUPERGUARD


 Kepiting penuh cinta [TOBI]


Steak dan TOBI [Bogoromantic]