Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Selamat Datang di Ruang Karya Keisya Avicenna... ^___^ Terima kasih atas kunjungannya... Semoga bermanfaat!

Jejak-Jejak Karya

Jejak-Jejak Karya

Langganan Tulisan dari Blog ini yuk!

My Blue Bird

http://www.bluebirdgroup.com/taxi-mobile-reservation

Waktu adalah Pedang


Home » » Catatan Penting Sebelum Hamil

Catatan Penting Sebelum Hamil

Copy paste dari web  http://rodame.com/lakukan-8-pemeriksaan-kesehatan-fisik-ini-sebelum-merencanakankehamilan/

Lakukan 8 Pemeriksaan Kesehatan Fisik Ini Sebelum Merencanakan Kehamilan

  By Rodame.com   November 18th, 2014
Berapa banyak dari antara perempuan di Indonesia yang melakukan pemeriksaan kesehatan fisik sebelum hamil? Kalau boleh jujur saya sendiri sebelum hamil pertama tidak  melakukannya. Mungkin karena informasi tentang pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan fisik sebelum hamil itu tidak begitu banyak, sehingga banyak kaum perempuan khususnya yang sudah menikah merasa tidak perlu melakukannya. Padahal kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada kehamilan dan anak yang kita lahirkan kelak terutama jika tak pernah melakukan pemeriksaan kesehatan fisik tersebut. Pemeriksaan kesehatan fisik itu berbeda dengan pemeriksaan faktor genetika,  nanti akan saya share di postingan yang berbeda untuk kita bisa pelajari bersama-sama.
Kali ini saya ingin berbagi tentang 8 pemeriksaan kesehatan fisik yang penting dilakukan sebelum merencanakan kehamilan. Ibarat sedia payung sebelum hujan, maka pemeriksaan ini akan memberi manfaat guna mencegah hal-hal yang tak diingini selama hamil dan melahirkan kelak.
8 Pemeriksaan Kesehatan Fisik Sebelum Merencanakan Kehamilan :
1. Pemeriksaan virus Rubella (campak Jerman), sitomegalovirus, herpes simpleks genitalia atau varicella zoster.
Tujuannya : untuk menghindari terjadinya kecacatan pada janin
Jika kesulitan mendapatkan informasi seputar virus rubella atau ingin sharing tentang virus rubella dan dampaknya pada kehamilan dan anak yang dilahirkan kelak, silakan bergabung dengan komunitas ‘Rumah Ramah Rubella’. Komunitas tersebut aktif dalam berbagi informasi dan saling mendukung satu sama lain. Pendirinya adalah seorang ibu yang diserang virus rubella ketika masa kehamilannya, kini ia melahirkan seorang putri yang juga terkena dampak dari virus rubella tersebut.
2. Pemeriksaan virus hepatitis (A, B dan C) dan virus HIV
Tujuannya : untuk menghindari diturunkannya penyakit akibat virus-virus tersebut pada janin
Perlu kita ketahui bersama bahwa HIV adalah virus yang hingga kini disebut-sebut tidak ada obatnya. Dengan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu, bisa diambil tindakan preventif sebelum menulari janin ketika masuk masa kehamilan.
3. Pemeriksaan penyakit toksoplasmosis
Tujuannya : untuk menghindari kecacatan janin maupun abortus (keguguran janin).
Kita sering kali mendengar seorang wanita hamil mengalami keguguran berulang kali, pastilah hal itu tidak diingini. Karenanya tidak ada salahnya melakukan pemeriksaan toksoplasmosis sebelum merencanakan kehamilan agar hal tersebut tidak terjadi.
4. Pemeriksaan penyakit seksual menular
Pemeriksaan ini penting karena jika terlambat penanganannya dapat menyebabkan kematian pada ibu, janin, maupun bayi yang kelak dilahirkan.
5. Pemeriksaan penyakit menurun yang sedang diderita
Apa saja penyakit menurun tersebut? Asthma, Diabetes mellitus dan jantung. Pada wanita hamil penyakit-penyakit tersebut dapat bertambah berat . Jika tidak segera dilakukan perawatan dan pegobatan yang teratur akan sangat membahayakan dirinya dan janin yang dikandungnya. Untuk menghindari kondisi yang membahayakan tersebut biasanya dokter akan memantau secara terus-menerus kesehatan sang calon ibu dan kemudian baru bisa ditentukan kapan kira-kira waktu terbaik untuk kehamilannya.
6. Pemeriksaan penyakit akibat kekurangan zat-zat tertentu misalnya kekurangan zat besi
Baru-baru ini saya dikejutkan oleh kabar dari salah seorang sahabat saya, katanya 2 dokter anak memvonis anaknya terkena thalasemia. Setahu saya, thalasemia itu adalah penyakit bawaan dari salah satu orangtuanya, ibu atau bapaknya. Penyakit carrier-lah. Sudah panik karena divonis thalasemia mayor (tingkatan yang cukup parah). Namun kemudian, sahabat saya penasara dan ingin mengetahui langsung opini dari dokter ahli darah (Hematologist) untuk memastikan kondisi sang putri kecil. Ternyata putrinya tidak menderita thalasemia, melainkan anemia karena kekurangan zat besi.
Kisah tersebut bisa menjadi pelajaran untuk kita semua khususnya para orangtua. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada anak kita kelak. Ketika sudah terjadi, kita yang kebingungan dan panik. Itulah sebabnya perlu melakukan pemeriksaan penyakit akibat kekurangan zat-zat tertentu seperti kekurangan zat besi sebelum merencanakan kehamilan. Mungkin saja, anak dilahirkan terkena dampak dari penyakit yang ada pada sang ibu ketika sedang hamil.
Kekurangan zat besi ketika masa kehamilan juga dapat menyebabkan kelahiran bayi prematur dan keguguran. Mari sikapi dengan bijak dan periksakan diri sebelum merencanakan kehamilan demi kesehatan sang buah hati kelak.
7. Pemeriksaan alat-alat reproduksi pria dan wanita
Jika kondisi dari alat reproduksi istri dan suami normal maka perencanaan kehamilan bisa dilanjutkan namun jika tidak maka terlebih dahulu harus menyelesaikan pengobatannya dan ketika sudah sembuh barulah bisa merencanakan kembali kehamilan yang diingini.
8. Pemeriksaan darah
Pernah mendengar bahwa rhesus atau Rh darah sangat mempengaruhi antibody yang terkandung di dalam sel darah merah? Jika belum, sebaiknya ini perlu disikapi dengan bijak. Pemeriksaan darah sebelum merencanakan kehamilan juga penting dilakukan pada pasangan suami-istri. Hal ini untuk mengantisipasi adanya perbedaan golongan darah dan rhesus antara darah ibu dan bayinya. Perbedaan tersebut ternyata dapat juga mengancam janin dalam kandungan.
Demikian pentingnya pemeriksaan kesehatan fisik dilakukan sebelum merencanakan kehamilan. Kedelapan pemeriksaan tersebut sangat diperlukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita ingini ketika kelak anak terlahir di dunia. Bagaimanapun mencegah lebih baik daripada mengobati. Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Pencarian

Popular Posts

Arsip Blog