Jejak Karya

Jejak Karya

Monday, March 07, 2011

MARET

Monday, March 07, 2011 0 Comments
[M]erangkai [A]ksi, [R]aih prestasi dgn [E]nergi dahsyat dan semangat [T]otalitas!

Saturday, March 05, 2011

Be A Writer : Jangan Mau Gak Nulis Seumur Hidup!!! [FLP Solo Raya feat. Gol A Gong dan Tias Tatanka_behind d’event…]

Saturday, March 05, 2011 0 Comments



Bermula dari SMS Mas Aris El Durra tanggal 16 Februari 2011 yang ngasih tahu kalau dia sedang mengupayakan menghadirkan Gol A Gong ke Solo…sip…kebetulan waktu itu pas Nungma buka statusnya Mas Gola, beliau memang sedang roadshow untuk “RUMAH DUNIA”.
Hm, dan perjuangan itu pun dimulai…

25 Februari 2011 : Rapat perdana pembentukan panitia

Jumat sore, bertempat di Mushola Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta (tempat berinspirasinya Mas Aris.hehe), berlangsung rapat perdana untuk koordinasi event BE A WRITER with Gol A Gong. Waktu itu Nungma tidak bisa datang karena ada jadwal mengajar di Ganesha Operation. Tapi Nungma minta transferan dari duo unyu (Diah Cmut didaulat jadi bendahara dan Ayu’ didaulat jadi sie konsumsi. Kayaknya dua peran itu memang cocok untuk mereka. Haha…sedangkan Nungma jadi sekretaris). SEMANGAT PANITIA!!!

26 Februari 2011 : Aksi publikasi dan penyebaran leaflet

Sebelum kajian di eNHa, Nung sempat ketemu Mas Aris untuk mengambil leaflet dan tiket. Dan aksi publikasi pun dimulai. Ayu’ datang ke NH dan kita berdua mulai berkeliling fakultas demi fakultas di UNS untuk menyebarkannya. Seru euy…^^v. aksi publikasi juga kita gencarkan di Facebook dan via SMS. Di bis kota, tempat-tempat umum juga tak luput dari sasaran kita…(kayak warnet, tempat fotocopian, counter, Toga Mas, dll). Hari itu juga Nung dapat 4 pendaftar.. Salah satunya, tak lain dan tak bukan adalah mysupertwin, Etika Aisya Avicenna yang kebetulan pada saat hari H sedang ada di Wonogiri, cuti dari aktivitasnya sebagai PNS di Kementerian Perdagangan RI setelah dinas 2 hari di kota inspirasi SUPERTWIN, SEMARANG. Yadah deh, dia ikutan. Hehe… publikasi pun semakin gencar dan membabi buta. Hehehe….Bismillah, semoga sukses!!!

1 Maret 2011: Rapat Koordinasi Kedua @Huruhara
…^^v
Setelah mencari-cari tempat untuk rapat dan koordinasi, akhirnya tercetuslah tempat favorit “Trio Permen Sunduk”-nya FLP Pelangi (Ayu-Diah-Nungma).xixixi…hara-kiri, harakanan, huruhara…alias lokasi yang cukup uwenak untuk bersemedi eh salah, untuk berinspirasi n ngademin pikiran. Yupz, di dekat bantaran Sungai Bengawan Solo, tepatnya di bawah jembatan Jurug. Sip…rapat sambil ndegan. Mantabz dah! (apalagi gratisan. Hihihi…terima kasih mas ketupat). Pelaporan perkembangan dari masing-masing Sie. Sip, Konsumsi…OK! Sekretaris…Alhamdulillah, akumulasi data pendaftar yang masuk sudah 29! Waktu itu yang hadir ada Mas Aris El Durra, beliau bawa teman juga, namanya Mas Trims (trima kasih ya Mas…bawain snack. Kurang sih…kurang banyak!!!^^), ada Wahab (pj kolapz..eh korlap), ada Isna (publikasi), ada Nungma (sekretaris), ada Diah Cmut (bendahara), ada Ayu’ (konsumsi), dan ada apa dengan Mas Tyo (perkap). Huaa…Mas Tyo datang di saat kita dah bubar. Xixixi… Rapat siang itu happy ending, terus berjuang lagi agar kuota peserta bisa memenuhi target…

Sesuai dengan jatah waktunya, matahari menggelincir dari titik kulminasinya, hari sudah siang menjelang sore. Awan hitam pun berarak berbaris mewarnai langit. Guruh mulai menggelegar dan batang-batang air mulai turun menghujam bumi. Perlahan lalu menderas…

Huaaa….akhirnya menuju GO Monginsidi dengan berhujan-hujan ria…(karena sistem imun Nungma mungkin sedang kacau kinerjanya, kejadian siang menjelang sore itu berefek samping,hm… terserang virus dah!!!)

3 Maret 2011 : [H-1] Sebelum Pertemuan Dahsyat Itu…

Checking akhir di kepanitiaan. Hm, meski jumlah kita terbatas…SEMANGAT TOTALITAS!!! Update terakhir peserta yang ndaftar ada 38… Alhamdulillah…ada yang dari Salatiga, Semarang…ada yang PNS, guru, dosen, mahasiswa, dll…wah…keren dah!!! Dan hari ini, kondisi fisik Nung agak ngedrop…virus itu semakin dahsyat menyerang…demam n flu berat!! Tapi agak terlupakan karena hari ini KYDEN lengkap dan bisa berkumpul dengan keluarga besar di rumah simbah Nawangan, sebuah desa kecil di selatan kota Wonogiri. Dekat dengan tanah kelahiran penulis asli Wonogiri juga, Mas SAKTI WIBOWO.
Malam hari kembali disibukkan dengan pertanyaan2 dari beberapa peserta dan sms para panitia, tapi kegiatan itu harus diakhiri jam 20.00. Saatnya istirahat total….hihihi…sempat ketawa juga, efeknya kok dahsyat banget yak karena mau ketemu penulis favorit n mewujudkan salah satu impian….hehe…

4 Maret 2011 : SEMUA DIMULAI KETIKA KATA-KATA DISUSUN…

Berdasarkan rapat kedua, panitia kumpul jam 06.30 di Aula Pesma Ar Royyan. Karena harus setting tempat dulu. Tapi berhubung kemarin sore mas Aris dkk sudah cek tempat, jadi panitia kumpulnya jam 7 aja dah. Sarapan-sarapan dulu. (kecuali Mas Tyo, xixi…dia dah datang pagi….salut dah!hehehe…kan pj nyinom!). Nung nunggu mbak Thicko dulu yang datang dari Wonogiri, e…ternyata dia pengin mampir NH dulu buat sholat Dhuha. N dari ceritanya dia banyak ‘menipu’ para akhwat di NH. Yaiyalah, kita kembar sih….hehe…afwan ya ukhti-ukhti….Nung akhirnya berangkat dulu ke Ar Royyan. Jiaah, bendahara n konsumsi datang belakangan. Nung prepare di meja registrasi, nyapu-nyapu, main sama dik Faqih, dll. Ohya, terima kasih juga untuk DIk Denis yang dah nganterin DORALEPITO ke Ar Royyan. Siipp…

Para peserta mulai berdatangan dari berbagai penjuru. Adik-adik panitia juga. Oke dah! Di meja registrasi akhwat ada Nungma n Diah Cmut, yang ikhwan ada Mas Tyo. Ah, banyak kejadian konyol dah….apalagi kalau inget “Circle Crop”. Bikin ngakakgulingguling. Ahihihi…

Sekitar jam 9 an, datanglah dua sosok yang sudah tidak asing. Berjalan beriringan.. Sambil ketawa, Nung persilahkan mereka berdua…”selamat datang, mas Gola..selamat datang mbak Tias…”. Xixixi…Mas Trims dan Mbak Noer yang datang…haha…becanda! Mas Gola n mbak Tias masih mampir sarapan dulu. Ada kejadian lucu lagi. Ni menyangkut reputasi Ayu. Hahaha…..(yu’, gak sah tak critain di sini ya… cukup aku n Diah yang ngakakglundhungglundhung. :D)
Wah, masih deg-degan nih!!! Akhirnya dua sosok penulis favorit Nungma itu datang…Horee….Alhamdulillah, akhirnya impian yang dulu pernah Nungma tuliskan di buku DNA (Dream ‘N Action), hari ini Allah SWT izinkan untuk menjadi kenyataan….terima kasih Ya Rabb…Impian no.133 “Bertemu dan belajar dengan Mas Gol A Gong dan Mbak Tias Tatanka”. Gempita rasa syukur dan bahagia itu sulit untuk diterjemahkan dengan bahasa sastra tertinggi negara manapun…bener2 seneeeeeeeeeeeennnng buangetttt!!!
Kita ke ruang transit dulu, beberapa menit kemudian aksi dua penulis dahsyat itu pun dimulai. Nung yang merangkap jadi peserta pun segera membersamai Mbak Thicko dan segera mengoptimalkan segenap panca indera untuk berinspirasi dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. BE A WRITER = BE CREATIVE!!! Seru banget dah…ada simulasi membuat nama pena (Keisya Avicenna and Aisya Avicenna, ni nama penanya SUPERTWIN. Hehe. Filosofinya juga ada kok. Keisya dari kata “keyza” yang konon kata mbah Google artinya “bidadari yang cantik”.xixixi…Aisya karena terinspirasi dari bunda Aisyah. Tyuz Avicenna karena kita suka dengan tokoh Ibnu Sina). Ada pemutaran film RUMAH DUNIA juga…hm, untuk materi mungkin akan Nungma catatkan di note berikutnya. Ni lagi pengin nulis behind the event ajah…^^v.
***
Break sholat Jumat. Mas Gola pengin sholat Jumat di Masjid Agung Surakarta. Siiiip…akhirnya, berangkat deh ke sana. Masih gak percaya lagi, bisa satu mobil bareng dua penulis favorit. Huahuahua…..senangnya!!! di mobil ada mbak Janoer N Noer (yang tadi bikin nama pena “Nur Ash Sholihaat”…hihi…), ada Mas Aris El Durra yang ngikut juga, Mas Trims gak mau ketinggalan, mas driver (Nung blm tahu namanya), ada my supertwin juga (Etika Aisya Avicenna), duduk di sebelah Mbak Tias Tatanka, dan Mas Gol A Gong duduk di depan. Dahsyat dah….^^. Speechless euy….akhirnya bisa ngobrol seru juga dengan mas Gola dan mbak Tias. Nung paling suka buku mereka yang “INI RUMAH KITA, SAYANG…”. Memoar yang sangat romantic tentang perjuangan dalam hidup. Hehe… baca deh note Nungma yang…”BELAJAR CINTA DARI MAS GOL A GONG DAN MBAK TIAS TATANKA”.
Sampai di pelataran parkir Masjid Agung Surakarta, yang putra segera bergegas ke masjid, sedangkan yang putri (mbak Tias, mbak Noer, si kembar Thicko n Nungma) menjelajah Pasar Klewer. Uhuy….seru euy. Tak lupa foto-foto! Jam 12.45, saatnya kembali ke parkiran. Mas Aris, Mas Trims, dan Mas Driver akhirnya datang…tapi Mas Gola nya mana??? Hehe…mampir-mampir dulu ternyata. Hm, foto-foto dah. Seru..seru…^^v.
Kembali ke Pesma Ar Royyan, makan siang bareng dulu tyuz mulai pelatihan lagi sampai jam 15.30. Sippp…Hujan menambah kesejukan nuansa sore itu. Alhamdulillah, event BE A WRITER berjalan dengan lancar. Berakhir foto-foto dan hunting tanda tangan. Terima kasih buat Mas Gol A Gong dan Mbak Tias Tatanka. Sukses selalu ya!!! Salam buat rekan-rekan di Serang, Banten dan juga RUMAH DUNIA!!! Semoga kelak bisa ke sana. Amin ya Rabb…Hm, IMPIAN No. 151 !!!
***
Pasca Acara: Kehebohan di Ruang Transit (Kantor-nya Ar Royyan)
Mbak Yatik menjaga meja pengambilan sertifikat, ada Mbak Ungu juga yang tumben hari itu tidak pake kostum ungu-ungu. Mbak Fafa juga ada, bantu-bantu Cmut yang mendadak otaknya diare karena jumlah uang tidak pas-pas terus. Hahaha…(akhirnya dia bisa bernapas lega..pas juga endingnya!) ada Ayu’ yang sliweran nata-nata perkap konsumsi. Mas Aris El Durra, sang ketupat, yang juga sibuk sliweran, finishing nata macem-macem dan ngecek barang-barang pinjeman. Ada Mas Tyo yang juga ribut nata perkap.hehe. adik-adik FLP UNS dan UMS (Mega, Wien, Kurnia, dkk) yang didaulat ketupat untuk nyapu n bersih-bersih ruangan. Mbak Thicko yang pamitan mau pulang ke Wonogiri. Hati-hati ya mysupertwin… Sampai bertemu di Solo Islamic Book Fair!!! Hm, bukan bermaksud menularimu virus H4751 (baca :HATSI…influenza.wkwkwk). ada Mas Trims, yang malah duduk manis. Ngalamunin apa mas? Ada Mas Ranu yang sibuk diskusi dengan Pak Syamsudin di dekat pintu. Dan banyak kehebohan n keributan lain di ruangan itu. Lha Nungma??? Huhuhu…Nungma ribut nyari buku LEDAKKAN IDE-nya Mas Gol A Gong, buku berwarna kuning yang tadi pagi dibelikan mysupertwin kok mendadak lenyap??? Salah Nungma juga sih, tadi cuma dibuka sampulnya n lupa belum ngasih nama. Yasudahlah, memaknai “kehilangan” lagi. Semoga buku kuning itu menjadi keberkahan bagi yang menemukan. Amin. Ya..mungkin hari ini harus merasakan “kehilangan” tapi semoga esok dapat “menemukan”, dan mendapatkan ganti yang lebih baik. Amin Ya Rabb…Cukup air mata langit yang mewakili kesedihan atas kehilangan sebuah buku baru itu….hikshiks….Tetap TERSENYUM, Nung!!! ^^v. hehe…

“Ikhlas adalah syarat cinta dan sayang kita mendapat restu dari-Nya…karena dalam keikhlasan dan kesabaran tersimpan suatu janji akan kemudahan dari suatu kesulitan”


Salah satu hikmah hari ini, ya..belajar memaknai kehilangan dan belajar untuk lebih ikhlas jika harus menjalani episode kehilangan…hehe…

Karena setiap peristiwa, pasti ada hikmahnya….

[Keisya Avicenna, *sang sekretaris yang ingin jadi penulis]

Monday, February 28, 2011

Hanya Masalah Waktu

Monday, February 28, 2011 0 Comments
OMG di toko buku Jogja

Yang dibutuhkan hanyalah soal waktu
by Kang Arul on Sunday, February 27, 2011 at 6:11pm

Yogya masih basah oleh bekas hujan tadi pagi saat saya menyerumptut teh pahit hangat; sebuah rutinitas yang harus saya lakukan di pagi hari, dimanapun; tapi waktu itu udah siang banget, saya ketiduran paginya... setelah selama dua pekan ini tidur saya hanya antara 2 atau 4 jam saja. Saya cek gadget saya, memastikan bahwa tidak ada satupun agenda hari ini yang sempat terlewat. Oh, ternyata ada satu hal janji yang saya tunaikan di akhir pekan ini, yakni menyantap mpek-mpek di depan Ambarukmo Plaza... :)

Tapi, sebelum melakukan itu semua, sekitar pukul sembilan saya sudah berada di lobi hotel ternama di Yogyakarta, deket ke bandara AdiSucipto. Di sana ada acara penutupan sebuah partai besar. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka ini; berbekal laptop plus kamera saya pun meluncur ditemani tiga orang teman jurnalis muda. Tujuan saya cuma satu: memotret sosok petinggi partai, siapa tahu foto ini nantinya bisa digunakan untuk salah satu laporan jurnalistik saya.

Selepas itu, saya meluncur ke UGM. Hari ini--selain makan mpek-mpkek itu-- saya punya janji dengan promotor doktoral saya di gedung lengkung. Ok, kita lewati hal akademis itu, yang penting saya ingin menulis sebuah kutipan menarik dari sang dosen,"Saya ingin membimbing mahasiswa yang nantinya akan jadi orang besar dan mengalahkan gurunya. Dulu, saya belajar dari Gertz (antrpologis Jawa.red), saya baca semua bukunya dan sekarang saya banngga karena saya bisa lebih pintar dari guru-guru saya. Memang bisa dibilang terlalu kuno, tapi itulah yang saya inginkan dengan Anda."

Hmm... nice quotes di hari itu.

Sepanjang perjalanan menuju tempat mpek-mpek, saya selalu berpikir bahwa sang dosen pembimbing itu sepertinya sedang menyiapkan saya untuk menjadi "seseorang". Menyiapkan saya untuk bisa memaknai semua hasil belajar dengan semaksimal mungkin. Menyiapkan saya menjadi orang yang berbeda sebelum dan sesudah belajar di kampus biru itu nantinya. Tentu untuk melakukan itu perlu proses, dan proses itu tidaklah mudah dan gampang. Buktinya proposal saya setahun baru bisa menghasilkan kata "oke" darinya, walau proposal itu tebalnya hanya 27 halaman.

Proses itulah yang saya perhatikan juga saat saya makan mpek-mpek. Wah, jangan tanyakan bagaimana lezatnya makanan khas yang satu ini. Saya hanya mengajak Anda membayangkan di piring saya ada mpek-mpek kapal selam, lenjer, dan kulit; 3 in 1 plus segelas es sirop . Saya melihat bahwa tempat ini adalah cabang ketiga yang dibuka oleh merk tersebut; salah satunya berada di sebelah kiri gerbang UGM. Maaf, saya tidak bisa menyebutkan merk mpek-mpeknya karena alasan keamanan.. huahahahha

Membuat tiga cabang memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Uang yang banyak belum tentu bisa membuat cabang-cabang usaha dan sukses. Banyak contoh yang bisa saya berikan untuk mewakili bahwa uang bukanlah penentu satu-satunya dalam berusaha. Yang saya tahu, keberhasilan panganan ini terletak pada kualitas or rasa or taste... dan saya yakin untuk menciptakan itu semua dibutuhkan waktu yang cukup matang.

Kemudian, menjelang sore dan masih menyantap mpek-mpek... lampu merah gadget saya berkedip. Saya buka... ternyata di sana ada sebuah status FB dari seorang

info buku terbaru:“OMG!TERNYATA AKU TERLAHIR SUKSES” karya Rulli Nasrullah (kang arul)&12 Tim Suksesnya (asqa, ayu, bunga,deasy,dina, *Etika*,iecha,kely,rizka,selvi,suri,ummu=>anak2 nonfiksi FLP JAKARTA).InsyaAllah bs dbeli dGRAMEDIA ato toko bku lainny dgn hrga 27rb!


~cocok utk MUSLIMAH YG INGIN SUKSES! Ikhwan jg blh bli dink~


saya cek fotonya.. ow ternyata betul, buku OMG! Ternyata Aku Terlahir Sukses sudah ada di pasaran. Saya cukup terkejut, karena terakhir kabar yang sampai adalah buku itu akan terbit dan saya sendiri belum pegang buku itu. Makanya agenda keesokan harinya (Minggu, 27/2) sengaja saya mencari buku tersebut di toko buku samping UIN Jogya. Ketemu! Saya tersenyum dan bangga sekali...

Buku ini adalah sebuah jawaban dari proses panjang 12 orang anggota FLP Jakarta yang berada di grup non-fiksi. Orang-orang yang saya ingat betul pertama kali saya bimbing di suatu pagi sambil menikmati mie rebus di sebuah kampus; kemudian berlanjut di rumah dengan kondisi mereka selalu menagih kolak, ongol-ongol, atau order makanan lainnya. Untuk yang satu ini saya harus bilang makasih istriku tercinta...

Sejak dahulu bertemu dengan mereka, saya punya harapan yang besar, sebesar harapan dosen pembimbing saya itu; saya ingin mereka menjadi penulis yang bisa mengalahkan guru mereka, menghasilkan karya yang luar biasa, dan tentu saja menjadikan kemampuan menulis untuk berjuang menyebarkan ilmu.

Saya juga ingin mereka untuk tidak menyerah... karena jika sekalipun menyerah, percayalah akan sulit untuk menemukan kembali gairah menulis. Saya juga ingin mereka menyadari bahwa seorang guru atau pembimbing bukan orang yang bisa menjadikan mereka penulis, namun diri mereka sendirilah yang menjadi. Merekalah yang bisa menentukan apakah mewujudkan cita-cita jadi penulis atau sekadar punya keinginan semata. Mereka jugalah yang akan belajar dari setiap kesusahan demi kesusahan menyusun sebuah naskah sehingga menjadi buku yang bisa dibaca ratusan, ribuan, bahkan jutaan pembaca... dan saya percaya buku yang mereka hasilkan itu bisa membawa mereka masuk syurga. Amin.

Tetapi seperti pengalaman saya menyelesaikan S3, pengalaman dosen pembimbing saya, pengalaman penjual mpek-mpek yang sudah punya tiga cabang itu, dan pengalaman 12 orang luar biasa yang menulis buku tersebut.... bahwa semuanya adalah proses menjadi dan dibutuhkan waktu untuk mewujudkan itu semua. Tidak instan atau tiba-tiba seperti mengusap lampu yang langsung keluar jin dengan tiga permintaannya.

Nikmati proses itu, walau kita harus dimarahi, disindir, bahkan dicibir. Geluti proses itu meski dengan keterbatasan laptop, komputer pc, modem, buku, dan waktu luang. Pandai-pandailah menjalani proses itu di tengah kesibukan pekerjaan, tanggung jawab pendidikan, maupun tugas-tugas yang menumpuk. Hargai proses itu sebagaimana kita menghargai sisa hari yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk hidup.

Karena... semua akan ada waktunya

Bisa satu bulan, bisa satu-dua tahun, atau bahkan bertahun-tahun...

Saya merasa plong... karena satu tugas lagi sudah selesai...dan ini baru satu langkah bagi mereka untuk menapaki ribuan langkah selanjutnya yang masih panjang itu. "Dik, percayalah kalian jauh lebih bisa, jauh lebih hebat, jauh lebih pandai dibandingkan perasaan yang selama ini kalian yakini.

Sekarang, bagi saya... tinggal saya mencari orang-orang baru untuk menemani mereka menjalani proses tersebut. Andakah salah satunya? Atau kalian masih mau menjalani proses itu bersama lagi?

Sunday, February 27, 2011

27 Februari 1981 – 27 Februari 2011 : 30 Tahun dalam Cinta

Sunday, February 27, 2011 0 Comments
Babe dan Ibuk tercinta

Sedamai alam raya menghijau luas membentang
Seindah lukisan Tuhan yang tak pernah lelah memuji keagunganNya
Itulah kerinduan... dambaan setiap insan...
Peduli dan hidup damai, tentram dan harmoni
Ayah ibu kami anakmu...
Belahan jiwamu...
Kamii permata hidupmu sebagai cahaya mata
Mahligai rumah tangga bahagia
Lahir dari jiwa
Tak lepas ujian dan cobaan Tuhan
Ia akan terpancar karena taat dan sifat taqwa
Rasa kasih dan sayang, juga tanggung jawab
Itulah rumah tangga yang mendapat rahmat dan berkah Allah
Rumahku surgaku
***
Tak kuasa butiran bening air mata ini menetes tatkala mendengar nasyid di atas dan menuliskan rangkaian kata di pagi yang sunyi ini. Teringat kisah 30 tahun yang lalu, bahkan sebelumnya, yang tertutur dari dua orang yang sangat saya cintai sepenuh hati. Babe dan Ibuk. Babe adalah panggilan sayang kami pada Bapak. Ya, 27 Februari 1981. Tepat 30 tahun yang lalu, terikrarlah janji suci dari Babe yang sepenuh hati ingin menjadikan Ibuk sebagai pendamping hidupnya.
Ada kisah menarik sebelum akad nikah terikrarkan. Babe, waktu itu berusia 27 tahun sedang Ibuk 21 tahun. Suatu hari (November 1981) Ibuk yang memang hobi menjahit, meminjam buku kepada Bu Wiwik (rekan kerja Babe di Dinas Sosial Kabupaten Wonogiri). Waktu itu Babe juga sedang silaturahim ke rumah Bu Wiwik karena rumah tinggal Babe (Babe tinggal bersama pamannya –kami sebut Mbah Sul-). Akhirnya Bu Wiwik minta tolong Babe untuk mengambil bibit MAWAR ke rumah Ibuk. Ibuk mengira Babe sudah punya anak karena waktu itu Babe membawa 3 orang anak kecil (padahal anaknya Mbak Sul).
Bu Wiwik dan Mbah Sul sepakat menjadi ‘comblang’ untuk Babe dan Ibuk. Bu Wiwik menceritakan pada ibuk kalau Babe masih bujang, Ibuk mau nggak? Ibuk belum langsung menjawab iya karena waktu itu banyak pemuda yang juga tertarik dan ingin melamar Ibuk. Ibuk hanya bertekad, siapa yang melamar duluan dan ibuk merasa cocok, pemuda itu yang akan Ibuk terima. Ibuk banyak mendengar kisah hidup Babe dari Bu Wiwik.
Mbah Sul juga melancarkan aksinya. Babe ditanya, sudah punya pacar belum? Babe jawab belum. Mbah Sul pun menceritakan tentang Ibuk. Dari Mbah Sul, Babe tahu kalau Ibuk suka ayam panggang yang dijual di dekat toko Sanur (toko kue di Wonogiri). Dengan berbekal uang saku Rp 2000,- dari Mbah Sul, Babe membeli ayam panggang seharga Rp 1750,- sisa Rp 250,- buat beli tahu kupat. Hujan gerimis mengguyur kota Wonogiri kala itu. Suasana di sekitar rumah masih buruk, jembatan belum ada, juga belum ada listrik. Tapi hari itu, 13 Desember sore, Babe datang ke rumah Ibuk dan langsung nembak, “Kamu saya jadikan istri mau nggak?” Ibuk kaget. Akhirnya menjawab bersedia.
Babe pulang ke rumah Mbah Sul. Babe ditanya Mbah Sul, “Berhasil, nggak?” Babe menjawab berhasil, tinggal urusan orang tua. Mbah Sul menepuk-nepuk pundak Babe, “SATRIYO TENAN KOWE LE” (Kamu benar-benar kesatria). Selang satu minggu, proses lamaran pun berlangsung dan akhirnya tanggal 27 Februari 1981, resmilah Babe dan Ibuk menjadi suami istri. So sweet banget ya kisahnya! TANPA PACARAN dan hal-hal aneh lainnya. Mungkin kisah beliau inilah yang membuat saya juga tidak mau pacaran dengan alasan apapun. Toh, ada ikatan yang lebih mulia dan cara yang lebih afdhol dibanding pacaran. So, kalau mau tanya pengalaman pacaran kepada saya, Anda salah orang! Hehe...
Keluarga sakinah, mawaddah, warahmah... Itulah dambaan setiap orang yang berumah tangga. Saya yakini, dalam keluarga kecil saya ini, ketiga impian itu insya Allah sudah tercapai. KYDEN = Kadri Yati Dhody Etika Norma. Ada ketenangan dan kenyamanan saat berada di tengah-tengah keluarga ini. Setiap hal dibicarakan dengan sangat demokratis, tidak ada arogansi dan  berlebihan dari orang tua pada anak. Ada cinta yang tercurah berlimpah-limpah. Babe yang sangat humoris dan bijak dipadukan dengan sifat sabar dan lembut dari Ibuk membuat kami, ketiga anak beliau, merasakan banyak hal yang luar biasa. Malahan, sikap supel keduanya membuat para tetangga (dari balita sampai lansia), betah berlama-lama di rumah kami untuk sekedar berbagi cerita.
Tiga puluh tahun biduk rumah tangga ini sudah dikayuh. Amukan badai pernah kami rasai bersama. Hembusan angin sepoi sering kami nikmati bersama. Sebuah anugerah terindah memiliki orang tua seperti mereka dan bisa menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga ini. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah... Semoga Engkau berkenan mengumpulkan kami di surga-Mu... Aamiin Yaa Rabb...


***
Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka
Perindahlah ucapanku di depan mereka
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkan hatiku untuk mereka.......
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya,
atas didikan mereka padaku dan Pahala yang
besar atas kasih sayang yang mereka limpahkan padaku,
peliharalah mereka sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan
atau kesusahan yang mereka deritakan karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
maka jadikanlah itu semua penyebab susutnya
dosa-dosa mereka dan bertambahnya pahala
kebaikan mereka dengan perkenan-Mu ya Allah,
hanya Engkaulah yang berhak membalas
kejahatan dengan kebaikan berlipat ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika sebaliknya, maka izinkanlah aku
memberi syafa'at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
bersama dengan santunan-Mu di tempat
kediaman yang dinaungi kemuliaan-Mu,
ampunan-Mu serta rahmat-Mu...
Sesungguhnya Engkaulah yang memiliki Kurnia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan Engkaulah
yang Maha Pengasih di antara semua pengasih.

Amin Ya Rabbal Alamin..

***
Saat rindu bertemu sudah terakumulasi...
Jakarta, 27 Februari 2011
Aisya Avicenna

Saturday, February 26, 2011

Buku Terbaru :OMG! TERNYATA AKU TERLAHIR SUKSES!

Saturday, February 26, 2011 1 Comments
Alhamdulillah, akhirnya buku ini LAHIR juga...



Judul : OMG! Ternyata Aku Terlahir Sukses!
Tebal : 175 halaman
Penerbit : Citra Risalah
Penulis : Rulli Nasrullah
Tim Penulis : Fariecha, Dina Purnama Sari, Ayu Amanulita, Asqarini Hasbii, Rizka, Selvi Anggraeni, Ummu Hanifah, Suri Utami, Deasy Lyna Tsuraya, Etika Aisya Avicenna, Bunga Ramona, Kely Mulyati
Harga : Rp 27.000,00

Muslimah mana sih yang ingin ditimpa kesulitan hidup? Tak seorang pun yang mau. Tapi apa daya bila kesulitan hidup sudah terlanjur datang tanpa diundang? Menyesal pun tak ada gunanya. Cucuran air mata tak mampu mengembalikan kenyataan. Hal ini bisa menyebabkan muslimah sres berkepanjangan. Tapi, apakah muslimah bergitu menderita ketika ditimpa kesulitan? Seberapa dalamkah penderitaan itu? Itu tergantung sudut pandang muslimah dalam menghadapinya. Pada Bab II terdapat quisioner untuk mengetahui cara pandang muslimah menghadapi masalah.

Daripada sedih berkepanjangan, lebih baik bersiap untuk menyikapinya, yuk! Bagaimana cara mensikapinya? Mengenal diri sendiri adalah langkahyang pertama. Tiap muslimah tentu punya karakter yang berbeda-beda. Bagaimana tipe karakter anda? temukan jawabanya dalam quisioner di bab III.

Langkah selanjutnya adalah proses penyikapan masalah. Berat atau tidaknya masalah yang dihadapi sebenarnya tergantung cara kita menyikapinya, lho! Masalah sepele akan terasa berat bila kita salah menyikapinya. Bacalah tip-tip praktis bagaimana cara menyikapinya agar masalah tak lagi menjadi beban hidup, dan akhirnya kita tetap bisa tersenyum pada dunia.

AYO BURUAN BELI BUKU INI DI GRAMEDIA ATAU TOKO BUKU KESAYANGAN ANDA!

Friday, February 25, 2011

Selamat Jalan Bunda Nafsiah

Friday, February 25, 2011 1 Comments
Bunda Nafsiah (foto diambil dari album Kang Taufan E. Prast)

"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Tlh mninggal dunia ibunya Mas Taufan. Tlg kabarin tmen2 yang laen (info by Yusi)"

Sebuah SMS dari Mbak Iecha yang saya terima pukul 19:45:52 tepat saat saya sampai di kost sepulang dari kantor. Membuat saya kaget dan terduduk lemas.

***
innalillahi wa inna ilaihi roji‘un. Semoga Allah menerima segala amalan beliau dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan. aamiin

***

Pertemuan perdana dengan Bunda saat saya dan beberapa rekan FLP Jakarta bertandang ke rumah beliau setelah lebaran. Masih teringat jelas, senyum merekah beliau menyambut kedatangan kami dan bercerita tentang siapa saja keluarga yang juga hadir saat itu. Pertemuan kedua saat beliau terbaring sakit di rumah. Setelah acara Studium General FLP Jakarta angkatan 15, saya dan teman-teman langsung menjenguk beliau. Senyum tersungging manis saat kami semua mengelilingi beliau yang terbaring. Beliau begitu bersemangat saat berkisah tentang pengajian yang beliau rintis. Subhanallah...
Pertemuan ketiga saat saya dan beberapa teman FLP Jakarta menengok beliau di RS Omni. Saat masuk ruang ICU, saya melihat beliau terbujur lemah dengan beragam selang dan ventilator. Beliau sempat menatap saya dan menggenggam erat tangan saya...


Kini, beliau sudah tiada... meskipun begitu, berkesempatan mengenal beliau adalah salah satu anugerah terindah dari Allah Swt yang diberikan kepada saya....


***
Membaca postingan dari Mbak Yusi pagi ini, membuat saya menitikkan air mata di Kopaja 502 saat perjalanan ke kantor.

Terimakasih atas nama Taufan E. Prast, Erawati Heru dan Keluarga
by Yusi Rahmaniar on Thursday, February 24, 2011 at 11:39pm

Kami mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada keluarga besar FLP DKI Jakarta, rekan-rekan, dan handai taulan. Ibu Nafsiah, ibunda dari kang Taufan telah berpulang kepada pemilik kita pada hari kamis pukul 18.31, tepat setelah kami menunaikan shalat maghrib. Ibunda sudah menjalani hampir tiga bulan proses sakit, 21 hari dalam perawatan intensif dan akhirnya Allah memintanya untuk Pulang. Ibu menghembuskan nafas terakhir dengan mudah, hanya sesak beberapa saat saja.

Bulan yang panjang dan penuh perjuangan ini terasa sangat bermakna dengan kehadiran teman-teman di sisi keluarga, memberikan kekuatan moril yang tidak mungkin kami beli dengan uang.

Tak berlebihan ketika ada pepatah bilang bahwa sahabat adalah orang yang ada disamping kita saat suka dan duka.Dan rupanya kita telah lulus dengan predikat cum laude sebagai sahabat, bahkan keluarga.

Mohon Ibunda dapat dimaafkan segala kesalahannya, didoakan kelapangan jalannya, dimudahkan segala urusannya kelak.


***
COPY PASTE CATATAN KANG TAUFAN TENTANG SANG IBU

Seribu Pesan Tak Cukup (1)
by Taufan E. Prast on Tuesday, February 8, 2011 at 1:47pm

Jangan lelah berbuat baik…

“Emaknya udah susah, anaknya jangan sampe…” kata-katanya meledak bagai petasan cabe. Meletus begitu saja. Aku yang mendengarnya seperti tersengat. Walaupun kalimat itu bukan untukku. Tapi ruang makan tak tersekat dengan sumber suara itu...

Yup, itu suara ibuku.

Dia menasihati Bu Bejo, salah satu orang dekat keluargaku. Pernah membantu di rumah beberapa waktu lamanya. Kepada ibu, hampir tak ada rahasia Bu Bejo yang terhijab. Karena tahu persis, ibu mempunyai argumen sendiri bagaimana ’mendidik’ dan ’membuka’ perspektif berpikir ibu tiga anak itu.

”Udah, sekolah... suruh sekolah!” lanjut ibu.

Saminem begitu nama asli Bu Bejo, janda dengan tiga anak kecil ketika suaminya meninggal. Tentu terasa berat hidupnya, dengan kebisaan yang terbatas. Menjadi pembantu rumah tangga saja. Dan ketika semua orang hanya selesai perhatiannya sampai liang lahat Pak Bejo ditutup tanah merah dan ditabur air melati serta bunga. Ibu justru baru memulai...

”Anakmu harus sekolah...” singkat!

”Kamu kerja yang bener...” singkat!

Dan waktu bergerak. Dua kalimat singkat itu adalah penguat bagi Bu Bejo dan motivasi buat anak-anaknya masih kecil. Sisanya... adalah ladang amal ibu yang sulit digambarkan. Sebuah tindakan yang tak lagi pakai kata-kata. Hanya eksekusi demi eksekusi... tanpa lelah, tanpa pamrih.

Dan ketika ibu tergolek di rumah sakit, salah satu anak Bu Bejo sudah bekerja di rumah sakit tempat ibu di rawat. Di sela-sela pekerjaannya, dia menengok, memijiti, atau malah menyediakan air hangat untukku yang menunggu...

Sungguh, ada waktu memetik...

Subhanallah...

***

Seribu Pesan tak Cukup (2)
by Taufan E. Prast on Thursday, February 24, 2011 at 12:35pm

Jangan culas!

Konon setiap kali keluarga besar ibuku berkumpul di waktu kecil dulu, ibu sering memerhatikan satu persatu tingkah laku keponakannya. Memang tampaknya sepintas lalu, tapi beliau sebetulnya sedang merekam beberapa perilaku para keponakannya yang banyak itu ketika bermain denganku.

”Nanti kalau habis main diberesin lagi ya…” pesannya.

Alhasil, setelah puas bermain… tentu dengan koleksi mainanku, mereka akan meninggalkannya dalam keadaan berantakan. Dan akulah yang akan membereskannya. Tetap dengan tenang, dan mungkin masih tersisa rasa senang. Entahlah, apakah elan berbagi waktu itu sudah mulai sublim dalam diriku... aku tak tahu.

Dan ketika selesai membereskan mainan... sering kali koleksi mainanku itu tercecer. Kurang komplit, ada bagian yang hilang... Maka aku pun akan mencarinya sampai ketemu hingga kolong dan tempat tersembunyi lainnya. Selalu demikian, tidak sekali dua kali. Kadang ketemu, kadang nggak ketemu...

Sedih? Tentu saya sedih...

Menangis? Beberapa kali saya menangis. Terutama bila mainan itu adalah mainan kesukaanku. Tentu aku masih kecil waktu itu. Paling menyedihkan adalah manakala mainan itu bukan saja tidak komplit, tapi hilang...

Hilang itu bisa berarti diambil dengan tenang dan riang gembira. Tapi mengambilnya diam-diam, tanpa pernah ada kalimat untuk meminta. Bahasa lainnya adalah mengambil milik orang lain dengan sengaja tanpa seizin pemiliknya. Masih banyak padanan lain dari perilaku tidak terpuji seperti ini.

Ibuku memilih membawaku ke toko mainan lagi untuk memilih mainan sesukaku, atau bila tidak memungkinkan, ibuku akan membawakan mainan yang sama pada hari berikutnya.

”Biarin aja, nanti kamu dapat penggantinya yang lebih bagus...” kata ibu setiap kali aku kehilangan mainan atau barang kesukaanku. Nyatanya memang iya... ”Kamu nggak boleh begitu ya...” ujarnya lagi.

Aku terus mengingat kalimat ini sampai hari ini. Kalimat yang sudah terucap puluhan tahun silam. Saat ibu masih sehat, segar, dan tak ada slang ventilator di mulutnya yang mulia itu...

Thursday, February 24, 2011

Info Kegiatan FLP Jakarta

Thursday, February 24, 2011 0 Comments

Assalamu'alaikum...

Mau gabung dengan FLP Jakarta? Ikuti Pertemuan Pramuda Angkatan ke-15 FLP Jakarta, Insya Allah akan kembali diselenggarakan di Mesjid ARH Salemba UI, letaknya di Jalan Kramat. Acara akan diselenggarakan pada Ahad, 27 Februari 2011, Pukul 09.30-13.00 WIB, dengan pemateri : Arul Khan (Kang Arul) dan topiknya: Menulis Hobi atau Profesi. Kang Arul adalah penulis profesional dengan lebih dari 270 buku yang sudah diterbitkan. Jangan lewatkan kesempatan emas ini...

Info lain : Kunjungilah stand FLP Jakarta yang Insya Allah akan turut memeriahkan Pameran Kompas Gramedia, Istora Senayan, 26-27 Februari 2011.

Wassalamu'alaikum...

Sah jadi PNS

Thursday, February 24, 2011 0 Comments

Alhamdulillah, akhirnya terima SK juga tanggal 23 Februari kemarin...

~saat berganti status.. tidak ada C lagi...~

Allah Sayang FLP Jakarta

Thursday, February 24, 2011 1 Comments
Mas Iwan yang paling kanan (pakai batik)

Rabu pagi (23 Februari 2011), ada satu ‘notification’ di FB. Mbak Lia Octavia posting sebuah pesan di FLP Jakarta Group.
Teman-teman, aku baru teleponan sama ayahnya Mas Iwan, katanya Mas Iwan skrg masih ada di RS Bakti Asih, karang Tengah, Ciledug, ruang Dahlia kamar no. 4. Sampai saat ini keadaannya masih koma. Mas Iwan udah diperiksa dan katanya pendarahan otak. Kalau teman2 mau jenguk, jam besuk siang jam 11-13 & jam 18-20. Menurut ayahnya, Mas Iwan harus dibawa ke RS lain utk dimasukkan ke ICU, tp keluarga masih membicarakannya.

Innalillahi.. aku syok…

Datang lagi postingan dari Mbak Yusi Rahmaniar
Allah maha Besar... yang memberi ujian bagi makhluknya agar lebih kuat.
Setelah ibunda Kang Taufan yang dirawat, nenek dari Mbak Dina semalam berpulang ke pangkuanNya. dan pagi ini, Iwan Setiawan, saudara kita, in Coma di Rumah Sakit Bakti Asih Cileduk, karena pendarahan di otak.
Allah, sungguh engkau maha penyayang. kami mengikhlaskan yang terbaik menurutMu....

 
Aku langsung nulis di wall FB mas Iwan,
kakakku FLP Jakarta yang sama-sama dari Wonogiri... agak terkejut juga mendengar kabar pagi ini... semoga Allah segera memberimu kesembuhan.... semoga sakit yang tengah dirasa sebagai penggugur dosa... cepat sembuh ya Mas Iwan...

 
Siangnya, Kang Tef juga posting di grup
~ Iwan buat saya adalah sahabat yang luar biasa... kabar dari Yusi tadi pagi terus terang bikin saya shock. Semalam saya masih chatting sama beliau, menanyakan kabar kesehatan saya dan Era, tentu saja tanya perkembangan ibu saya... Iwan adalah tempat saya banyak belajar, belajar kesantunan, kerendahatian, dan kerja keras tanpa banyak bicara... hal yang sama sekali tidak saya miliki dan belum tuntas saya belajar pada sosok luar biasa ini. Semoga Allah memberikan yang tebaik untukmu sahabat, karena kamu orang yang baik... Amin.

 
Mas Iwan Setiawan, sosok pemuda luar biasa. Awalnya cuma sama-sama tahu di FB. Kami sama-sama dari Wonogiri dan sama-sama anggota FLP Jakarta. Baru ketemu langsung  waktu acara Studium General Angkatan 15. Meski baru pertama kali bercakap-cakap langsung kami langsung akrab. Mungkin karena Mas Iwan orangnya sangat supel. Kami bercakap-cakap pakai bahasa Wonogiri. Ahh, kalau diingat seru juga ngobrol dengan Mas Iwan waktu itu. Dia menceritakan aktivitasnya dan bak seorang wartawan, Mas Iwan juga tanya macem-macem tentang sejarah saya bisa merantau ke Jakarta. 



Kabar pagi ini tentang kondisi Mas Iwan membuat saya kaget. Ahad sore Mas Iwan masih komen di status saya waktu membahas tentang tembang Asmarandana bareng Mas Gendut Pujiyanto. Malahan Selasa, Mbak Yusi sampai jam 11 malam masih sempat chatting dengan Mas Iwan. Menurut kabar dari adiknya, Rabu jam 02.00 dini hari Mas Iwan ditemukan tidak sadarkan diri di depan computer saat sedang mengerjakan tugas. Mas Iwan segera dilarikan ke rumah sakit. Setelah di scan, diketahui bahwa ada pendarahan otak. Mas Iwan koma. Alhamdulillah, siang harinya ada kabar dari Mbak Yusi kalau Mas Iwan sudah siuman.

Sorenya dapat note dari Pak Arya (Wakil Ketua FLP Jakarta) yang layak untuk dijadikan bahan renungan..
YUK BERDOA UNTUK SAUDARA-SAUDARA KITA
Berbicara tentang doa, ada sebuah kisah menarik. Kisah ini diperoleh ustadz Bobby Herwibowo. Kejadiannya di daerah Timur Tengah. Seorang pengusaha muda divonis bahwa usianya tidak akan lama lagi. Menurut perhitungan dokter, tumor yang diderita pengusaha itu amat berbahaya dan kemungkinan sembuhnya fifty-fifty. Bila operasi berhasil, dia akan sembuh. Jika tidak, nyawa yang menjadi taruhannya.
Hal ini membuat si pengusaha muda hilang semangat hidup. Pada suatu ketika dia pergi bersama supirnya. Dalam perjalanan, dia menemukan sebuah pemandangan yang begitu menakjubkan.
Mobil di parkir dekat tempat pemotongan hewan. Di tempat sampah, nampak tulang-tulang yang teronggok. Di sanalah si pengusaha melihat sebuah pemandangan yang menyentuh. Seorang ibu memilah dan memilih tulang-tulang. Tulang-tulang yang masih dibalut daging walau hanya sedikit, dipilihnya. Terkadang dijumputnya daging yang masih menempel di tulang.
Pengusaha itu begitu tersentuh. Dia mudah sekali memperoleh daging, kapan saja dia mau, berapa pun banyaknya. Tapi ibu itu…harus berjuang. Itu pun hanya beberapa helai dan jumput daging yang diperolehnya.
Pengusaha itu pun, dengan tertatih-tatih berjalan. Sakit yang diderita membuat dirinya tidak segesit sewaktu sehat. Dia menemui pemilik rumah potong hewan itu. Dia katakan, “Tolong berikan ibu ini daging seminggu dua kali selama setahun. Biayanya biar saya menanggungnya.”
Mendengar janji ini, si ibu terkejut dengan serta merta dia berdoa. Panjang sekali doa yang dipanjatkan. Salah satu doanya adalah, “Berilah kesehatan kepada anak muda ini, ya Allah.”
Doa sudah dilantunkan. Anak muda ini kembali ke mobilnya. Namun dengan gerakan yang berbeda. Dia pergi menuju ke mobilnya dengan langkah yang gagah, seperti orang yang tidak sedang sakit.
Hari operasi pengusaha itu pun tiba. Sebelum operasi dilakukan, kondisi kesehatan si pengusaha diperiksa. Betapa terkejutnya si dokter, si pengusaha ternyata telah sehat seperti sedia kala.
Memang benar bila ada ungkapan “Kamu tidak tahu dari mulut siapakah doa akan dikabulkan.”
Mendoakan orang lain tidak harus diawali dengan kebaikan seseorang terhadap kita. Tidak ada ruginya mendoakan orang lain. Karena bisa jadi, orang yang didoakan akan balas mendoakan kita.
Sekali lagi tidak ada ruginya mendoakan orang lain. Karena Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)
Kita berdoa untuk orang lain, malaikat akan mendoakan doa yang sama kepada kita. Bukan sembarangan yang mendoakan kita, malaikat! Doa malaikat, insya Allah dikabulkan.
Oleh karenanya siapa pun yang mempunyai masalah berdoalah untuk saudara kita. Bila kita sedang sakit, doakanlah kesembuhan untuk saudara kita yang sakit. Anda belum bekerja, panjatkanlah doa untuk saudara kita yang masih menganggur.
Ya Allah…Ya Rabbi…berilah kesembuhan pada saudara-saudara kami yang sedang sakit saat ini. Berilah rezeki yang halal dan berkah bagi saudara-saudara kami yang belum bekerja. Berilah jodoh yang shalih dan shalihah bagi saudara-saudara kami yang belum memperoleh pasangan hidup. Ya Allah…Ya Rabbi…berilah segala sesuatu yang menjadi keinginan dan niat baik saudara-saudara kami. Aaamiiin Ya Rabbal ‘Alamin

Informasi terbaru dari Mbak Yusi pagi ini:

Tadi malam saya coba mampir menjenguk mas Iwan. Di Rs Bakti Asih, Cileduk (700 M dari CBD Cileduk).
Ini yang saya baca dari hasil lab dan anamnesa dokter sarafnya mas iwan :
Istilah medis : Terdapat hematoma pada lobus parietal cerebrum dextra = perdarahan yang terjadi pada otak besar sebelah kanan
Artinya : terjadi stroke haemoragik.
Perjalanan penyakitnya : saat sadar dan beraktivitas normal Os mengalami kesakitan luar biasa di kepala, lalu pingsan. Penurunan kesadaran dan merasakan lemas pada sisi yang terserang.
Ini terjadi pada mas Iwan, jam dua malam, Rabu lalu. Dari pukul 02.30-14.00 mengalami in comma (koma total), lalu sopporos comma (bergerak dan bersuara, tapi tidak sadar) sampai saat ini. Dia juga mengalami “kelupaan” pada sisi kiri tubuhnya, terbukti dengan dia hanya menggerakan sisi kanannya, kaki kiri dan tangan kiri tidak merespon. Kemarin sempat merenggut selang infus sampai luka di tangan kiri, dan sampai sekarang tangan kanannya masih diikat supaya tidak “berontak”. Sampai saat ini belum bisa dipastikan seberapa berat “kelumpuhan” yang dialami sisi kiri mas Iwan. Dokter belum bisa memprediksi apakah dia mampu duduk/berjalan.

Dokter menyarankan beberapa terapi obat yang cukup mahal. Dan sekarang keluarga mas Iwan agak kebingungan menghadapi ini. Belum lagi kondisi stroke harus melakukan terapi fisik intensif dalam jangka waktu panjang. Ditambah dengan kestabilan psikis yang biasanya menjadi masalah utama pengidap stroke.
Mohon kiranya teman-teman dapat mengumpulkan sedikit dana untuk membantu kelangsungan pengobatan sahabat kita ini. Bantuan ini sangat dibutuhkan oleh mas Iwan dan Keluarga.
Boleh dikumpulkan ahad besok atau transfer ke rekening mbak astri/yusi...
BNI kc Rawamangun no. 0200677177 (a.n Yusi Rahmaniar)



Ah, Flp Jakartaku, mungkin kau sedang diuji. Mungkin inilah cara Allah menunjukkan sayangNya padamu…
Ya Rabb, berikan kesembuhan untuk mas Iwan Setiawan yang tiba-tiba pendarahan otak.
Berikan yang terbaik dan berikan kesabaran untuk Ibunda dari Kang Taufan E. Prast dan Mbak Erawati Heru Wardhani yang sampai saat ini  masih dirawat di ICU RS Omni.

 Terima amal ibadah nenek dari saudari kami, Dina Purnama Sari.
Ya Rabb, kuatkanlah kami dengan cinta-Mu...amin


FLP Jakarta adalah keluarga terindahku di kota ini…
Luph u all..
Aisya Avicenna

Wednesday, February 23, 2011

‘Sebening Tetesan EMBUN pada Barisan PELANGI’

Wednesday, February 23, 2011 0 Comments


Catatan Februari hari ke-22

Ah, rasa lelah yang teramat sangat masih terasa dan membekas dalam tulang-belulang yang terbalut seonggok daging ini. Ahad kemarin menjadi hari yang luar biasa. Luar biasa memeras otak dan tenaga!!! (reportase di bagian tersendiri yak…Nung belum sempat untuk nylesein). Dan apa yang sudah kita bantai habis-habisan di hari Ahad harus kita presentasikan di hari Selasa. Ya, hari ini…

Senin siang (kemarin) kepala suku Pelangi sempat SMS, minta tolong humas untuk cari orang yang nemenin Kang Nass, presentasi tentang konsep majalah kepada pihak LAZIS JATENG. Nung sebagai humas pun langsung beraksi. SMS balasan berdatangan. Kebanyakan pada gak bisa karena ada aktivitas kalau pagi. Akhirnya, mas Dwi lah yang bisa. Tapi ntah kenapa siangnya (pas Nung di GO), kepsuk malah SMS: “Nung, kw sesuk jam 9-12 free gak? Temeni gw menemui lazis. Pelangi butuh dua wakil”. Hah, Selasa pagi? Nung biasanya ada agenda sampai jam 10. Hm, perdebatan pun terjadi. Hihihi…(pas kayak gini ku jadi inget mbak Santi dengan kata “sewot” nya. Wkwkwk…). Ada SMS dari kepsuk yang belum terbalaskan karena break ngajar cuma 15’ n dia SMSe pas ku dah mulai ngajar lagi. Hihihi…ya maaph. Yadah, akhirnya kuputuskan untuk ikut meski harus merelakan tidak bisa datang di agenda selasa pagi. Heuheu…

Asli, melas banget kepsuk malam itu. Ketawa aja gaya diare. Bener2 otaknya diare akut. Nung tanya bisa bantu apa buat besok. Jawabane: “bantu logistic wae kie!” Haiyyah, koyo’anak pengungsian ae…hm, Nung minta bantuan kiriman doa-doa terbaik aja dari keluarga Pelangi moga besok lancar n dipermudah deh…gak mpe diare beneran….^^v.
Pas buka FB Selasa pagi…membaca perbincangan di “post” nya mbak Santi. Ternyata ada Kang Nass juga yang ngasih komen. Kepsuk ternyata belum kirim email. Akhirnya ku SMS dia. Eh, ternyata semalem koneksi internetnya mati. Hehe…yasudahlah!

Selasa, jam 08.45 Nung dah sampai lokasi pertemuan. Di 13064-13061 alias BOGA-BOGI (tepatnya yang BOGA-BOGI 1, sebelah timur Fajar Indah). Sampai situ, gerbangnya masih ditutup. Walah, mau buka jam berapa ni resto? Nung duduk manis dulu di warung sebelah kanane resto itu. Untung ada kursi merah yang nganggur. Jajan dulu ah, sekalian nanya pemilik warung tu resto buka jam berapa. Hm, ibu itu bilang biasanya buka jam 10.00.oh, awesome!!! >.<. Yadah, Nung baca buku lagi sambil makan wafer Tango.

Selang beberapa saat kemudian, Kang Sofa n Mas Tyo datang dengan tampang-tampang aneh mereka. Gerbang BOGA-BOGI dah dibuka tapi ruanganne baru diberesin n dibersihin. Yadah, bertiga kita nongkrong lagi di depan warung ibu itu. Ngobrol2 gak cetho karena efek otak yang masih diare. Ternyata tadi malem Mas Tyo nemenin Kang Sofa bikin slide presentasi. Mpe ngenez semua tapi so romantic beud. Hahaha….

Sekitar jam 09.30 kita masuk tu resto, pilih tempat yang lesehan. Melewati seorang bapak yang sedang duduk sendiri, berkaca mata dan pakai rompi. Ku bilang ke Mas Tyo, apa bapak itu ya yang dari pihak LAZIS. Hihi, hanya menduga aja. Kang Nass akhirnya datang bersama si sulung Ahya. Ternyata benar, bapak yang duduk sendiri tadi itu Pak Arif, Direkturnya LAZIS JATENG.

Sesi ramah tamah pun dimulai. Kang Nass yang membuka dan mengawali. Saling memperkenalkan diri dan tak lupa order logistic. Pak Arif pun mempresentasikan tentang program LAZIS Jateng. Sampai akhirnya, giliran kepala suku Pelangi yang presentasi. Tentang 12 rubrik yang hari Ahad kemarin sudah bikin otak kita diare akut saat membahasnya bersama :

1. Secangkir Inspirasi
2. Pembaca Menyapa
3. Inspirasi Usaha
4. Pena Redaksi
5. Pelangi Aksara
6. Lentera Keluarga (jadi inget ‘mahligai’.hahaha..)
7. Cerpen
8. Secercah Harapan
9. Telaga Hati
10. Az Zahra (Muslimah corner)
11. Islamopedi
12. Kreasi Unik

Dapat banyak tanggapan dan masukan, kemudian kita tarik benang merah…segmen majalah EMBUN itu tetap bertema besar KELUARGA dengan sasaran pembaca kalangan menengah ke bawah dan kebanyakan ibu-ibu yang membacanya. Setting pointnya tetap menghadirkan inspirasi dan motivasi, khususnya agar pembaca berpikir mandiri (dapat meningkatkan kemampuan ekonominya), serta maju dan berkembang. So, diharapkan majalah EMBUN ini menjadi majalah yang berkualitas. Awesome dah!!!

Pertemuan diakhiri dengan foto bersama. Haiyyah…^^v
Hm, Pelangi banyak dapat PR. So, untuk keluarga Pelangi siapkan jasadiyah, fikriyah, dan ruhiyah yang maksimal untuk pertemuan hari Ahad besok ya!!! (bawa logistik yang banyak dan bersiapsiagalah!!!).

Terima kasih buat Kang NasSirun PurwOkartun yang telah berbagi dan memberikan kesempatan sekaligus KEPERCAYAAN kepada keluarga Pelangi untuk mengaktualisasikan kemampuannya menulis dan berkarya lewat majalah EMBUN, serta Pak Arif yang dah jauh-jauh datang dari Semarang. Terima kasih juga buat keluarga Pelangi yang sudah bekerja keras dan mendoakan.hehe…hm,kami hanyalah sekelompok pemuda/i yang masih kental dengan idealisme dan semangat belajarnya yang sangat tinggi. Dan inilah kesempatan emas kami untuk BELAJAR LEBIH BANYAK. Semoga ‘kerjasama’ ini menjadi suatu hal luar biasa yang penuh keberkahan. Amin Ya Rabbal’alamin….
“EMBUN, Penyejuk Jiwa Perindu Surga”

[Keisya Avicenna, *humazcrew]