Jejak Karya

Jejak Karya

Monday, May 31, 2010

Gaza Tak Butuh Aku

Monday, May 31, 2010 0 Comments

Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.

Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.

Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.

Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran perjalanan-perjalanan ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia “tangan kanan” seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.

Activism

Ada begitu banyak activism, heroism…Bahkan ada seorang peserta kafilah yang mengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan “Heroes of Islam” alias “Para Pahlawan Islam.” Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta’ala.

Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza.

Kalau dibiarkan riya’ akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala.

Mengerem

Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidak-ikhlasan dan riya’? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you to Allah, to Allah’s blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah’s anger and displeasure?

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya… Dari para ‘ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka.

Semua berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.

Gaza Tak Butuh Aku

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.

Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.

Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha… Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!

Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.

Cara Allah Mengingatkan

Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku.

Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku.

Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat…menyumbat lubangnya! Apa yang harus kulakukan? Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak bertanggung-jawabnya aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?

Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu ndableg bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi dengan air sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air – lalu kusiramkan ke toilet.

Masih ndableg.

Kucoba lagi menyiram…

Masih ndableg.

Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri…

Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush. Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet…

Blus!

Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana…

Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.

Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.

Allahumaj’alni minat tawwabiin…

Allahumaj’alni minal mutatahirin…

Allahumaj’alni min ibadikas-salihin…

29 Mei 2010, 22:20

Santi Soekanto
Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza Mei 2010.

Misteri di Balik Dua Ribu

Monday, May 31, 2010 0 Comments

Jumat, 28 Mei 2010
Pukul 07.00, Aisya keluar dari REDZONE-nya. ‘Kantor’ sekaligus ‘Rumah Mungil’-nya yang mempunyai slogan : “hidup bersahaja, namun bahagia... bahagia sampai ke surga” menjadi saksi bisu bahwa pagi itu Aisya sudah berhasil menamatkan satu buku barunya yang berjudul “Jurnalis Narsis”. Sebuah buku fiksi komedi yang cukup membuat Aisya terhibur pagi itu. Lucu!
Oh ya, kembali pada pukul 07.00. Aisya keluar dari REDZONE-nya (replikasi cerita nih!). Pagi itu Aisya tidak berangkat ke kantor, tapi ke pasar. Lhoh? Kok malah ke pasar? Ya ga papalah! Lha wong libur kok!
Pasar Sawo. Itulah tujuan Aisya. Sesampai di Pasar Sawo yang berlokasi tak jauh dari REDZONE-nya, Aisya langsung disambut oleh hiruk-pikuk pasar yang menguji sensitivitasnya sebagai seorang jurnalis (tapi gak narsis lho!). Hmm, pasar pastinya menyimpan banyak inspirasi yang bisa dijadikan bahan tulisan. Begitu batin Aisya. Tapi ya tetap pada tujuan utama maksud kedatangannya ke pasar pagi itu : BERBELANJA!
Beberapa kali transaksi, Aisya sering mengeluarkan uang 2000 rupiah! Cling... inilah inspirasi itu! Misteri di Balik Dua Ribu. Setelah memikirkan, menimbang, dan akhirnya memutuskan bahwa memang banyak transaksi dalam kehidupan sehari-hari yang sering ‘dihargai’ dua ribu rupiah. Apalagi di ibukota ini. Ada banyak hikmah dengan diterbitkannya uang kertas baru pecahan dua ribu rupiah itu.
Sebentar ya, Aisya pengin membahas masalah finansial dulu. Bank Indonesia meluncurkan uang kertas dua ribuan ini secara resmi pada tanggal 9 Juli 2009 silam di Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah mulai tanggal 10 Juli 2009. Uang kertas baru tersebut berwarna dominan abu-abu, bergambar Pangeran Antasari. Penerbitan uang kertas baru tersebut merupakan implementasi kebijakan Bank Indonesia di bidang pengedaran uang, yaitu untuk memenuhi kebutuhan uang rupiah di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup dan jenis pecahan yang sesuai.
Beberapa transaksi di Ibukota yang sering ‘DIHARGAI’ dua ribu rupiah:
1. Ongkos metromini, baik KOPAJA, METRO MINI ORANYE, Bus Jepang 921, dan beberapa metromini lain yang trayeknya hanya di dalam kota. Awalnya Aisya kaget juga waktu masih menjadi penghuni baru di ibukota. Ongkosnya murah banget! Hanya dua ribu bisa kemana-mana!
2. Ongkos kopamilet (angkot biru muda khas ibukota), kalau jarak tempuhnya gak begitu jauh bayarnya juga 2000 rupiah, misal : dari STIS ke Kampung Melayu, dari STIS ke PGC (Pusat Grosir Cililitan), dari STIS ke Stasiun Jatinegara, dll [weh, bukan berarti Aisya berbakat jadi kondektur lho!]
3. Kalau di Pasar Sawo, beberapa bumbu dapur juga sering dibeli dengan harga dua ribu. Sebut saja : ketumbar, cabe campur, bawang merah, bawang putih, tempe, tahu, kelapa yang sudah diparut (bisa buat bikin santan untuk kolak nih! Hmm, nyummy!!!), dan sayur-sayuran (dua ribu bisa dapat seikat bayam dan dua potong jagung => bisa dimasak sayur bening untuk porsi dua orang lho! Hehe... murah meriah! Sehat juga!). Beberapa makanan juga seringnya dibeli dengan harga dua ribu rupiah. Misalnya : sebungkus jamu (ada penjual jamu tradisional di Pasar Sawo ini yang menjadi langganan Aisya yang ternyata berasal dari Sukoharjo), selain itu dengan dua ribu rupiah bisa dapat sebungkus gethuk campur yang berisi ketan dan candil (ni juga favorit Aisya). Lhoh, malah jadi ngomongin camilan.
Wah, pokoknya Aisya sangat merasakan manfaat dengan adanya pecahan uang dua ribu rupiah itu. Bahkan kalau sedekah, sama-sama sekali gerakan, sama-sama selembar uang yang diberikan, tapi dari segi nominalnya, lebih banyak dua ribu rupiah kan dibanding seribu rupiah??? Tapi kalau dibandingkan dengan selembar uang kertas lima ribuan, sepuluh ribuan, dua puluh ribuan, lima puluh ribuan, dan seratus ribuan tentunya nominal dua ribu rupiah ini lebih kecil lah. Tapi pada dasarnya, kalau sedekah, meski sedikit yang penting ikhlas! Deal ya?!
Oh ya, selain itu, dengan selembar dua ribuan bisa keliling Jakarta sepuasnya naik Bus Trans Jakarta lho!!! Asal sebelum jam 7 pagi!!!
Ya sudah... Selamat bertransaksi dan mengambil manfaat dengan adanya uang dua ribuan ini!
Jakarta, 300510_23:05
Aisya Avicenna

Kau, Bagian dari Impian yang Menjadi Nyata

Monday, May 31, 2010 0 Comments

KE-FLP-AN
Ahad, 24 Januari 2010
Bersama : Taufan E. Prast
Keterangan : TIDAK HADIR!
***
Kau, Bagian dari Impian yang Menjadi Nyata
Oleh : Aisya Avicenna*)

“Menjadi Penulis Inspiratif”
Inilah salah satu impian saya!
“Bergabung dengan FLP”
Ini juga salah satu impian saya!

Alhamdulillah, impian itu tak hanya sekedar mimpi. Karena pada akhirnya saya berkesempatan bergabung dengan komunitas penulis yang sejak lama saya impikan. Forum Lingkar Pena (FLP). Mungkin inilah salah satu rahasia Allah yang telah mengirim saya ke kota Jakarta ini. Pasca lulus kuliah di UNS Solo bulan September 2009, saya mengikuti tes CPNS Kementerian Perdagangan di Jakarta pada bulan yang sama. Alhamdulillah, bulan Oktober saya dinyatakan diterima dan pada bulan Desember saya resmi menjadi pendatang baru di ibukota ini. Bukan bermaksud menambah kepadatan kota Jakarta lho ya!
Bermula dari membaca salah satu profil FB teman saya yang merupakan anggota FLP Solo. Saya baca profil teman saya tersebut, dia baru berteman dengan FLP Jakarta. Wah, saya langsung add FLP Jakarta. Alhamdulillah, selang berapa lama langsung di-approve! Terima kasih buat adminnya! Saya membaca profil FLP Jakarta. Wah… ternyata lagi pembukaan anggota baru. Langsung saya tanya-tanya bagaimana caranya. Sebenarnya ada Studium General di UNJ pada tanggal 17 Januari 2010 dilanjutkan pertemuan perdana tanggal 24 Januari 2010 di Masjid Amir Hamzah TIM, akan tetapi pada saat itu saya tidak bisa menghadiri kedua agenda tersebut karena harus pulang ke Wonogiri (kota kelahiran saya). Ya sudah, tapi ternyata masih ada kesempatan untuk mengikuti pertemuan selanjutnya. Alhamdulillah, akhirnya impian menjadi anggota FLP menjadi kenyataan!!! Senangnya…
Saya mengenal FLP sejak di bangku SMA. Saya memang suka menulis sejak SD. Bahkan sejak SD sampai kuliah, saya selalu ditunjuk sebagai sekretaris (hehe… profesinya kan nulis terus!). Saya pernah menjadi juara lomba sinopsis kala masih berseragam putih merah. Saat sudah memakai putih abu-abu, saya menjadi salah satu staff redaksi di majalah sekolah, BASSIC nama majalahnya. BASSIC: Bacaan Asyik Siswa-Siswi Creatif! Saat bergelar mahasiswa, saya kembali berkecimpung dalam dunia kepenulisan. Selama hampir 3 tahun saya memegang amanah menjadi staff redaksi, pimpinan redaksi, dan pimpinan umum pada majalah lembaga tingkat jurusan di kampus saya. LINIER, nama majalah jurusan Matematika FMIPA UNS yang saya kelola. Saya juga bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) tingkat fakultas yang bernama SCIENTA, mengasuh majalah SCIENTA dan bulletin GALAXY. Saya juga pernah menjadi Menteri Departemen Informasi dan Komunikasi BEM FMIPA UNS yang mengelola bulletin REAKTOR yang terbit tiap bulannya. Reportase kegiatan mahasiswa yang saya tulis telah beberapa kali dimuat di media massa, seperti : Solopos, Suara Merdeka, dan Joglosemar.
Berkecimpung dengan dunia jurnalistik dan bertemu beberapa penulis inspiratif di kota Solo seperti Mbak Afifah Afra dan Mbak Izzatul Jannah yang notabene juga aktivis FLP, membuat saya bermimpi suatu saat nanti saya akan seperti mereka, bahkan harus lebih baik! Oleh karena itu, saya bertekad untuk menjadi anggota FLP. Awalnya, saya berniat menjadi anggota FLP Solo. Akan tetapi, mengingat aktivitas saya di kampus yang demikian padatnya, akhirnya keinginan itu hanya sekedar niatan saja. Hingga pada akhirnya saya hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan FLP Jakarta yang pada periode ini diketuai oleh Kang Taufan E. Prast! Jaya terus FLP!!!
Sebuah yel-yel inspiratif yang selalu menjadi motivasi bagi saya dalam menulis. Gubahan dari reff lagu “Jangan Menyerah”-nya D’Massiv yang saya buat secara mendadak waktu mengisi training kepenulisan di salah satu fakultas di mantan kampus saya dulu :
Tulislah apa yang ada
Karya adalah anugerah
Tetap menulis sejak kini
Menulislah yang terbaik…

FLP ADALAH HADIAH TUHAN UNTUK INDONESIA (TAUFIQ ISMAIL)


*) Penulis artikel ini adalah Aisya Avicenna. Selain sebagai penulis, pemilik nama asli Etika Suryandari, S.Si ini juga berprofesi sebagai statistisi di Kementerian Perdagangan RI. Senang membaca, berpetualang, berkontemplasi, dan melakukan hal-hal yang menantang serta full inspirasi. Anggota Pramuda FLP Jakarta angkatan 14 ini, mempunyai rumah maya yang beralamatkan di www.thickozone.blogspot.com. Tulisan-tulisannya juga dapat dibaca di www.mudataqwa.com. Email : akhwat_visioner@yahoo.com, FB : etika aisya avicenna

Be An Extraordinary Activist!

Monday, May 31, 2010 0 Comments

RESENSI BUKU

Judul Resensi : Be An Extraordinary Activist!
Judul Buku : Suplemen Dahsyat untuk Ikhwan dan Akhwat
Penulis : Salman Azka dan Alif Mudda
Penerbit : Qudsi Media
Terbit : Maret 2010
Tebal : 127 halaman
Harga : Rp 18.000,00

Menjadi aktivis dakwah tertarbiyah adalah suatu pilihan yang mulia. Tarbiyah mengarahkan kita untuk tergerak menjadi insan yang siap berjuang berbalut keikhlasan. Kecakapan dalam melihat masalah dan kebijaksanaan untuk memberi jalan keluar pada setiap problematika yang mendera umat merupakan kekuatan yang harus dimiliki oleh setiap aktivis dakwah, baik ikhwan maupun akhwat.
Hadirnya buku ini di tengah-tengah aktivis dakwah menjadi suplemen dahsyat penggugah jiwa, pemberi motivasi pada aktivis agar senantiasa bersemangat dan istiqomah dalam setiap gerak dakwahnya. Buku ini berisi 60 motivasi-motivasi dahsyat untuk memperkuat keimanan, menjaga niat dalam berdakwah, menghadapi masalah dakwah, mempererat tali silaturahim, cara menangani virus merah jambu yang kerap menjangkiti kalangan aktivis, dan motivasi untuk membangun rumah tangga.
Menurut saya, buku yang ditulis oleh dua aktivis dakwah dari Kota Gudeg yang ternyata kembar ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya :
1. Uraiannya singkat, padat, tapi mengena dan relevan dengan realitas aktivitas dakwah di kalangan ikhwan dan akhwat
2. Ukuran buku kecil sehingga sangat praktis dan enak dibaca
3. Disertai tips-tips sederhana yang luar biasa
Tak ada gading yang tak retak. Buku ini pun demikian. Beberapa kekurangan cukup banyak saya temui di dalam buku ini. Meski hanya bersifat redaksional, akan tetapi perlu diperhatikan untuk perbaikan penulisan buku-buku karya penulis selanjutnya. Beberapa kekurangan yang saya maksudkan di atas antara lain :
1. Kurang konsisten dalam penyebutan pembaca : kadang ‘ikhwah’, ‘teman’, ‘sobat’, ‘Friends’, ‘sobat muda Robbani’. Menurut saya, lebih baik satu sebutan saja, misal : ‘saudaraku’ atau ‘sahabatku’, bisa juga ‘sobat ikhwan dan akhwat’
2. Konsinstensi penggunaan kata da’wah atau dakwah.
3. Terdapat beberapa kesalahan:
a. Kata depan : ‘didalamnya’, ‘disaat’, ‘dibaliknya’, ‘ditengah’, ‘dihadapan’, ‘disetiap’, ‘disinilah’, ‘ditengah-tengah’, ‘disekeliling’, ‘disekitar’, ‘dikalangan’, ‘disanalah’, ‘dimata’, ‘di pegang’, ‘ditempat’ (penulisan kata depan ‘di’ seharusnya dipisah)
b. EYD : ‘difahami’, ‘sub-tema’, ‘fondasi’, ‘sekadar’, ‘Gaptek’, ‘menganalisa’, ‘out put’, ‘or-ang’, ‘relaks’, ‘meng-kader’, ‘apa pun’, ‘di Rahmati’, ‘konsekwensi’
c. Salah cetak : ‘jelak’, ‘jahiliah’, ‘Abu bakar’, ‘memesona’, ‘ibada’, ‘memerhatikan’, ‘senin-kamis’, ‘keabadiaan’, ‘kehinangan’, dilaterbelakangi, ‘analisa’, ‘sebab musabab’, ‘kayakinan’, ‘memperemudah’, ‘pendangannya’, ‘kepamahan’, ‘pilihanya’, ‘memercayainya’, ‘keraguaan’, ‘kelumbutan’, ‘oleh karen’, ‘memengaruhi’, ‘memerdulikan’, ‘kegabahan’
d. Penggunaan huruf besar pada penulisan judul
4. Penulisan judul yang kurang efektif :
a. Pada bab pertama berjudul : ‘Sesungguhnya menjaga keutuhan iman adalah fondasi untuk melewati semua masalah’. Akan lebih enak jika judulnya : ‘Utuhnya Iman = Pondasi Selesaikan Masalah”
b. Pada bab ke-30 berjudul : ‘Persahabatan adalah fitrah manusia, begitu juga persahabatan antara ikhwan dan akhwat’. Menurut saya, akan lebih efektif jika judulnya : ‘Persahabatan Ikhwan-Akhwat itu Fitrah’

Terlepas dari kekurangan dalam buku ini yang hanya bersifat redaksional, konten buku ini sangat mengena dan relevan dengan kondisi aktivitas dakwah kita. Penulis sudah berusaha memberikan yang terbaik bagi para pembaca. Semoga kehadiran buku ini benar-benar mampu memberikan suplemen dahsyat untuk ikhwan dan akhwat sehingga makin produktif dan tetap istiqomah dalam mengemban amanah dakwah.
***
Jakarta, 31 Mei 2010
Aisya Avicenna

Fun Bike Bersama Menteri Perdagangan

Monday, May 31, 2010 0 Comments

Kantor Kementerian Perdagangan hari Ahad, 30 Mei 2010 menyelenggarakan sepeda gembira (Fun Bike) dalam rangka meningkatkan kebersamaan karyawan/ti di lingkungan kantor Kementerian Perdagangan. Olah raga sepeda gembira untuk pertama kali di lingkungan Kemendag ini diikuti oleh Menteri Perdagangan dan suami, para pejabat eselon I, II dan seluruh karyawan/ti di lingkungan Kementerian Perdagangan (tapi saying, Aisya Avicenna tidak dapat mengikutinya karena hari Ahad ini dah full agenda.. hehe ^^). Selain diikuti karyawan/ti Kemendag, sepeda gembira kali ini juga diikuti para pedagang jamu gendong.
Kegiatan yang mengambil tema Biar Lokal Sing Penting Hebat ini didukung oleh Perusahaan Jamu PT. Sido Muncul yang memberikan bantuan berupa 100 box tempat jualan jamu serta PT. Sucofindo dan PT. Sarinah yang memberikan bantuan berupa sepeda. Dengan pemberian bantuan sarana jualan jamu gendong ini diharapkan para pedagang jamu gendong akan dapat lebih produktif dan meningkatkan penghasilan mereka.
Dalam sambutannya Menteri Perdagangan mengatakan bahwa kegiatan seperti ini merupakan kampanye 100 % Cinta Indonesia dalam rangka mengangkat produk dalam negeri. Menurut Mendag dengan pemberian sarana box jamu dan sepeda ini akan dapat meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan penjualannya. Kegiatan ini menurut Mendag juga dimaksudkan untuk menjaga kebersamaan Kementerian Perdagangan dalam melayani masyarakat dengan lebih baik lagi.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pengisian produk jamu dan penyerahan Sepeda dan Box Jamu secara simbolis oleh Menteri Perdagangan disaksikan oleh Direktur PT. Sido Muncul, Irwan Hidayat dan Sekjen Kemendag, Ardiansyah Parman serta Direktur Sucofindo dan Sarinah.

Sumber : www.depdag.go.id
Jakarta, 310510_08:56
Aisya Avicenna

Saturday, May 29, 2010

Taman-Taman Orang Sholeh

Saturday, May 29, 2010 0 Comments

Reporter : Aisya Avicenna
Narasumber : Ustadz Ridwan Yahya

Lokasi : Markas Bidara Cina

Hari, Tanggal : Jumat, 28 Mei 2010
Waktu : 16.00-17.30 WIB

Peserta : ± 30 ummahat dan calon-calon ummahat

Topik : Taman-taman Orang Sholeh
***
Prolog : Sore itu Aisya masih asyik di depan laptop. Mengumpulkan kata-kata yang berserakan, kemudian merangkainya menjadi bermakna. Intinya, Aisya lagi menulis sekaligus mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan hari Ahad besok. Saat sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba ada HP Nokia 5300-nya bergetar hebat (tapi ga nyampe terjadi gempa :D). Nomor asing.
“Assalamu’alaykum..” “Wa’alaykumsalam warahmatullahi wabarakatuh..” Jawab suara di belahan bumi sana. Suara yang begitu Aisya kenal. Kemudian, “Ukh… segera ke…. Sekarang! Pengganti agenda besok… Afwan, jarkom ternyata tidak sampai… bla… bla… bla…” Aisya pun segera menjawab, “Oke ukh, segera meluncur!” Laptop langsung di-stand by, siap-siap, memasukkan beberapa peralatan penting ke dalam tas (payung, dompet, bolpoin, note kecil, mushaf, dan dompet). Langsung bergegas menyambut seruan!!! Wah, penting juga ya berSIAP SIAGA!!! Tidak sampai 15 menit kemudian sudah sampai di lokasi. Sebelumnya memang sudah pernah bertandang di markas ini, waktu belajar tahsin bersama Ustadz Hasan Hartanto. Alhamdulillah, acaranya baru sampai pembacaan tilawah. Berikut inspirasi yang berhasil Aisya torehkan dalam note kecilnya.
***

Sebelum memulai materi, ustadz Ridwan bertanya, “Apa problematika terbesar bagi diri Anda?”
Beberapa ummahat menjawab.
Lantas, ustadz pun menyampaikan, “Masalah terbesar dalam kehidupan ini adalah apakah kita bisa masuk surga atau tidak!”
Landasan Syar’i
“Sesungguhnya orang-ornag yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (Q. S. Al Kahfi [18] : 107)
Jenis Taman Surgawi dan Penikmatnya
Sesuatu yang kita yakini dan kita senangi, maka kita harus mengenalnya.
Kita merindukan Allah, maka kita harus mengenal Allah
Kita mencintai Rasulullah SAW, maka kita juga harus mengamalkan sunah-sunah beliau.
Segala sesuatu dimulai dari At-Ta’aruf (pengenalan), termasuk kita mengenal surga, Semua menginginkan menjadi penghuni surga kan? Makanya, harus tahu/mengenal surga itu. Terdapat 7 tingkatan surga :
1.Surga Firdaus
Surga Firdaus diperuntukkan bagi :
a.Peshalat yang khusyu’
b.Orang-orang yang produktif dalam beramal sholeh (jauh dari al-laghwu)
c.Orang-orang yang komitmen berzakat
d.Orang-orang yang menjaga kemaluannya
e.Orang-orang yang konsisten dengan shalat
f.Orang-orang yang komitmen dengan amanah dan janji
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya ” (Q.S. Al Mu’minun [23] : 1-11)

2.Surga Ma’wa
Surga Ma’wa diperuntukkan bagi :
a.Orang-orang yang senantiasa berdzikir
b.Orang-orang yang bersifat tawadhu’
c.Orang-orang yang komitmen untuk shalat malam
d.Orang-orang yang komitmen dalam beriman dan beramal shaleh
e.Para dermawan
Jauhilah sifat sombong (At Takabur). Dua komponen utama sifat sombong : meremehkan orang lain dan menolak kebenaran.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami) mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhan-nya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhan-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Maka apakah orang yang beriman (sama) seperti orang yang fasik (kafir). Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalehm maka bagi mereja surga-surga tempat kediaman sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. As-Sajdah [32] : 15-19)

3.Surga 'Adn
Surga 'Adn diperuntukkan bagi :
a.Orang-orang yang komitmen dalam beriman dan beramal shaleh
b.Orang-orang yang rela terhadap ketetapan dan ketentuan Allah SWT
c.Orang-orang yang memiliki khasyyatullah (perasaan takut kepada Allah)
“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah Surga ‘And yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagii orang yang takut kepada Tuhannya.” (Q.S. Al Bayyinah [98] : 7-8)

4.Surga Na’im
Surga Na’im diperuntukkan bagi: para Al Muqarrabin (Orang-orang yang dekat dengan Allah).
Cara mendekat (taqarub) yang disebutkan Rasul adalah ketika sujud. Maka, perbanyaklah doa pada waktu bersujud.
“Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga kenikmatan”(Q.S. Al-Waqi’ah [56] : 88-89)

5.Surga Dar Muqamah
Surga Dar Muqamah dinikmati oleh orang-orang yang kebaikannya lebih dominant daripada kesalahannya.
Tiga tipologi manusia :
a. Kebaikan < kebaikan
b. Kebaikan = kesalahan
c. Kebaikan > kesalahan
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian ini adalah karunia yang amat besar. (Bagi mereka) Surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra. Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya, di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu (Q.S. Fathir [35] : 32-35).

6. Surga Maqam Amin
Surga Maqam Amin diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa
”Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam tempat yang aman, yaitu di dalam taman-taman dan mata air-mata air (Q.S. Ad-Dukhan [44] : 51-52)

7.Surga Darus Salam
Surga Darus Salam diperuntukkan untuk orang-orang yang melakukan kebaikan “Allah menyeru manusia ke Darus Salam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam). Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya (Q.S. Yunus [10] : 25-26)

Nuansa Panorama Taman Surgawi
1.Nuansa Taman Alam Surga
“Sesungguhnya di dalam surga terdapat sepotong pohon, di mana bayang-bayang pohon itu jika ditempuh oleh seseorang yang bepergian dengan mengendarai kendaraannya membutuhkan waktu seratus tahun tanpa henti.” (H.R. Muslim)
Hadist di atas menggambarkan bahwa surga itu LUAS!!!
2.Cuaca Taman Surga
“Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. (Q.S. Al Insan [76] : 13)
Sejuk, tidak ada yang bekerja, semuanya beristirahat
3.Menu di Taman Surga
“Apakah perumpaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya. (Q.S. Muhammad [47] : 15)
4.Tipikal Sang Bidadari
“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (Q.S. Ar Rahman [55] : 56)
Bidadari yang dimaksud adalah yang pandangannya hanya untuk suaminya

Ibroh :
1.Penggambaran tentang surga membuat kita rindu kepadanya
2.Allah berbahasa dengan bahasa standar manusia dalam menggambarkan keindahan surga lewat firman-firmanNya.
Semoga kita menjadi bagian dari penghuni surga…
Aamiin…
***
Epilog :
Pada akhirnya setiap orang beriman akan masuk surga. Begitu statement terakhir dari ustadz. Perlu digarisbawahi : PADA AKHIRNYA!!! Sedangkan saat ini, kita tidak tahu seperti apa akhir dari hidup kita. Masih MISTERIUS. Bisa jadi saat ini kita sedang dalam kondisi iman yang bagus, tapi kita tak bisa menjamin, pada akhirnya nanti kita seperti apa. Bisa jadi malah dalam kondisi tak beriman. Naudzubillah… Mari terus memperbaiki diri. Terus berproses menjadi perindu surga, hingga pada akhirnya nanti… kita akan berkumpul bersama di surgaNya. Semoga! Aamiin..
Tasqif kali ini berakhir setelah adzan Maghrib berkumandang. Kemudian kami iftor bersama dalam balutan ukhuwah yang indah..
Kami merindu menjadi orang-orang shaleh…
Kami merindu memasuki surgaMu, ya Allah…

Ya Allah, bimbing hamba agar senantiasa istiqomah di jalanMu…

Jakarta, 290510_06:37
Aisya Avicenna

Thursday, May 27, 2010

Pilihan Hidup

Thursday, May 27, 2010 1 Comments

Hidup ini penuh dengan sajian pilihan. Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Tidak sembarangan. Harus dipikir masak-masak. Dipikirkan dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih. Tegaslah dalam memilih tapi juga berhati-hatilah! Jangan sampai salah memilih. Sungguh rugi jika hidup yang indah ini dilewatkan bersama pilihan yang salah.

Jakarta, 260710_05:17
Aisya Avicenna

Wednesday, May 26, 2010

Mencintai itu Menginspirasi

Wednesday, May 26, 2010 0 Comments

Hening, hanya bunyi tuts yang beradu dengan jari..
Sesekali terdengar desingan suara mesin burung besi yang melintas di atas kepalaku..
Suasana ini begitu kunantikan setiap harinya...
Merenung...

Hati kita sering terbeli oleh orang yang berbuat baik kepada kita
Timbullah CINTA...
Cinta yang membuat kita ringan berbuat bahkan berkorban
Kita cinta kepada orang tua yang sudah banyak memberi kebaikan
Kita pun cinta kepada siapa saja yang membuat kita mendapatkan nikmat kebaikan
Tapi sesungguhnya semua sumber kebaikan hanyalah dari Allah
Sedangkan makhluk hanyalah jalan nikmat yang Dia berikan kepada kita
Oleh karena itu jikalau kita akan menumpahkan cinta
Maka cinta sejati kita adalah cinta kepada Sumber Kebahagiaan
Sumber segala kenikmatan dan kebahagiaan yang sampai kepada kita
Dialah Allah, Maha Pencipta
Dialah Allah, yang layak kita cintai dengan sepenuh hati...

Backsongnya kali ini : Cinta di Atas Cinta (The Fikr)

Dalam senyapnya malam
Dalam gundahnya hati
Aku mencari makna sebuah
Cinta yang hakiki

Dalam raga terlena
Resah, hampanya jiwa
Akhirnya temukan
Satu cinta di atas cinta

Kadang cinta bahagia
Kadang cinta jadi menderita
Kadang lupa segala-galanya
Karena itu kembali padaNya

Cinta kawan yang tak sepadan
Cinta guru yang tak berujung
Cinta ibu bapak tak berbalas
Diberikan sepanjang jalan

Cinta Rasul bagaikan air
Mengalir kepada umatnya
Cinta Allah sebuah misteri
Bagi setiap hamba-hambaNya

Fitrah manusia..
Mencintai... dicintai
Setiap insan pasti
Mengalami tentang rasa cinta
**

NB : Eits, nasyid ini juga mengingatkanku pada sebuah penampilan STREAM di Aula FKIP. Kangen STREAM!!! Kapan konser lagi???

**

Jadi teringat status Fbku tadi sore :
” Mencintai Allah membuat kita sadar, bahwa kita terrcipta karena cintaNya. Mencintai Rasulullah membuat kita tahu, bahwa beliau berjuang penuh cinta untuk kemuliaan umatnya. Mencintai orang tua, membuat kita terpaku bahwa kita tak akan mampu membalas pengorbanan cinta mereka. Mencintai sesame, membuat kita tergerak, bahwa kedamaian itu ada karena cinta. Mencintai alam, membuat kita tergugah, bahwa alam menyajikan pesona cinta pelengkap hidup kita. Ya.. karena Mencintai itu menginspirasi! (Aisya dan Keisya Avicenna)
**

Hmm, nasyid di winamp beralih ke Satu Cinta-nya Star Five...

Meneduhkan...
**
Ku memohon dalam sujudku padaMu
ampunkanlah sgala dosa dalam diri
ku percaya Engkau bisa meneguhkan
pendirianku keimananku

Engkau satu cinta yang slamanya aku cari
tiada waktu kutinggalkan demi cintaku kepadaMu
walau seribu rintangan yang menghadang dalam diri
kuteguhkan hati ini hanya padaMu kupasrahkan

oh Tuhan...slamatkanlah hamba ini
dari segala fatamorgana dunia
oh Tuhan... jauhkanlah hamba ini
dari hidup yang sia-sia

***

Ya Rabb... hamba mencintai-Mu... SANGAT!!!
Ya Rabb... tundukkan pandangan mata dan hati ini dari gemerlapnya cinta dunia yang palsu memperdaya jiwa
Ya Rabb... selamatkanlah dunia dan akhiratku dalam cintaMu yang tak terbatas...
Aamiin...


Di sela-sela nulis buat artikel yang dideadline hari ni... ^^
SEMANGAT!!!

Jakarta, 260510_01:06
Aisya Avicenna

LANJUT NULIS!!!

Tuesday, May 25, 2010

Mempertajam Peran Statistician di Lini Ekonomi Syariah

Tuesday, May 25, 2010 0 Comments

Perkembangan perekonomian syariah yang tumbuh cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan minat masyarakat Indonesia mengenai ekonomi syariah semakin bertambah. Dalam perkembangan yang sangat menggembirakan ini disadari oleh banyak pihak bahwa kebutuhan kepada SDM berbasis syariah merupakan suatu keniscayaan. Kebutuhan adanya SDM yang handal sebagai pondasi berkembangnya ekonomi syariah dalam lembaga keuangan dan perbankan syariah merupakan tantangan yang sekaligus mestinya dijadikan sebagai peluang. Sebagaimana dimaklumi melalui berbagai media dan informasi, Bank Indonesia memprediksi industri perbankan syariah membutuhkan SDM sekitar 50 ribu sampai 60 ribu hingga tahun 2011.
Menurut Herman Karta Jaya dan Syakir Sula (2006: 120), beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu penekanan pada aspek moralitas, dewasa ini diyakini sebagai “key success factor” dalam pengelolaan bisnis, lembaga keuangan dan perbankan syariah, yaitu “shiddiq (benar dan jujur), amanah (terpercaya, kredibel), tabligh (komunikatif) dan fathanah (cerdas)”. Sama pentingnya dengan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan. SDM Syariah yang bekerja di lembaga-lembaga keuangan dan perbankan syariah dewasa ini dianggap sebagian besarnya hanya SDM “dadakan” dan “karbitan” untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak, yang memperoleh ilmu kesyariahannya dalam waktu yang sangat terbatas. Tidak mengherankan, hal ini terjadi salah satunya disebabkan keterbatasan jumlah dan kualifikasi yang diperlukan.
Sebuah peluang besar yang bisa dimanfaatkan seorang statistician untuk berkiprah lebih di dunia perekonomian syariah khususnya perbankan syariah termasuk di bidang quality managementnya. Dalam benak berbagai kalangan masih menilai bahwa ekonomi syariah adalah eksklusivitas bagi lulusan fakultas ekonomi saja. Perubahan paradigma itulah yang harus kita cermati. Kita harus memperluas wawasan lebih bagaimana kiprah keilmuan statistika di dunia ekonomi syariah maupun quality management. Termasuk melihat keunggulan seorang statistician yang sangat berperan penting pada decission making process untuk sebuah kebijakan di perusahaan. Seorang statistician bukanlah berkutik seputar angka saja melainkan seorang statistician mampu berbuat/menganalisis lebih terkait penghitungan berdasarkan data sehingga mampu melihat dengan tajam bagaimana dampak yang bisa terjadi ke depan dan bagaimana seharusnya menyikapinya.

Kresnayana Yahya dalam sebuah talkshow mengatakan bahwa bahwa seorang statistician akan dibutuhkan diberbagai lini baik sekarang maupun kedepannya. Sekarang ini dibutuhkan transparansi terkait apapun sehingga apa yang disampaikan haruslah “SPEAK AND ACTION BASE ON DATA ”.
Peran statistician di bidang ekonomi syariah sangatlah diperlukan. Bagi kawan-kawan yang memiliki ketertarikan di bidang ekonomi syariah, mari kita saling berbagi untuk memajukan perekonomian syariah Indonesia yang sedang menggeliat. Saya juga membutuhkan banyak hal, baik informasi maupun hal-hal yang terkait pendalaman apa yang seharusnya kita lakukan sehingga kita bisa berkiprah lebih bagi perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Tentunya sebagai seorang “STATISTICIAN “.

Wassalam,
Bogor, 09 Mei 2010
Puji Kurniawan, S.Si

Editor : Aisya Avicenna ^^v

Monday, May 24, 2010

”Buat ETIKA… Ada yang Mulia dalam Namamu…”

Monday, May 24, 2010 1 Comments

Ahad, 23 Mei 2010 Pukul 08.00 sarapan nasi pecel sambil melihat film kartun favorit, Doraemon. Kali ini film imut asal Jepang tersebut mengisahkan tentang Nobita yang disidang oleh Giant dan Suneo. Nobita diejek Giant dan Suneo bahwa yang dikatakannya tentang adanya monster berwujud dinosaurus hanya omong kosong belaka. Akhirnya, dengan bantuan Dorami (adik Doraemon), Nobita bisa membuktikan omongannya. Hayah, kok malah nyeritain Doraemon. Pukul 08.30 akhirnya berangkat berpetualang!!!
Keluar kost langsung menuju jalan Otista Raya. Alhamdulillah, langsung naik angkot 06 menuju Pasar Rebo. Turun di bawah fly-over dekat Pasar Rebo. Weleh, bingung juga selanjutnya kan naik 510 (berdasarkan petunjuk jalan dari Mba Iecha), tapi bus 510-nya kok ga ada. Pandangan kuedarkan di sekeliling. Malu bertanya sesat di jalan. Akhirnya, bertanya ke penjual koran setelah sebelu
mnya beli korannya dulu. Hehe, taktik! Akhirnya bapak penjual koran itu menunjukkan letak jalur bus 510. Sip, langsung nyebrang jalan (sambil sedikit lari tentunya, maklum... Jakarta!). Di seberang jalan, pas lampu merah, ada 510 berhenti. Langsung naik! Trus mencari kondektur (Lhah, malah cari kondektur dulu daripada tempat duduk). Kondekturnya ternyata bergelayutan di pintu belakang. Langsung kutanya, ”Pak, lewat UIN Ciputat kan?”.
Kondektur itu pun menjawab, ”Oh, Mbak naik 510 yang dari sana!” (sambil menunjuk jalan di sebelah timur)

Akhirnya aku turun lagi dan menyeberang jalan. Saat sampai di seberang, ada ibu-ibu yang mendekati dari arah belakang.
”Mau naik 510 ya Mbak. Saya juga. Bareng aja”
Plong.. alhamdulillah...

Sampai di seberang jalan, berjalan ke arah timur agak jauh. Jalannya becek.. ga ada ojek.. weleh 3x! Akhirnya ketemu juga dengan bis 510. Penuh! Bergelayutan deh. Road to Ciputat!
Sambil bergelayutan, tengok kanan-kiri, cari UIN Ciputat. Setelah kurang lebih 15 menit sampai juga... Alhamdulillah...
Agenda di UIN kali itu ”meeting” bersama 8 orang yang sangat inspiratif di beranda Fakultas Dakwah UIN. Ada tender bisnis yang ha
rus digarap dan aku bagian dari tim tersebut. Bisnis apa??? Hmm, kalau yang ini masih dirahasiakan. Doakan sukses ya!
Saat adzan berkumandang, kami mengakhiri meeting itu. Lanjut ke masjid kampus UIN Syarif Hidayatullah untuk sholat trus makan siang di depan warung depan masjid.
Setelah sholat, berpisah dengan rekan-reka
n. Aku naik angkot 02 putih menuju terminal Lebak Bulus. Sebenarnya mau menuju Kampung Melayu (tujuan utama ke Gramedia Matraman), tanya sopir angkotnya, ternyata dia ga tahu. Weleh... akhirnya turun di dekat terminal Lebak Bulus. Eh, ada Kopaja 20. Tanya ke kondektur, ”Bisa ke Kampung Melayu?”
”Bisa, tapi turun di Mampang.”
Mendung bergelayut. Gelap. Tapi mendung ga selalu berarti hujan kan? Hanya mendung memberikan asumsi pada kita bahwa probabilitas hujan akan turun lebih besar (ga perlu diuji hipotesis kok! Hehe..).
Kopaja 20 yang mengangkutku akhirnya sampai di Mampang juga. Langsung aku didepak. Hehe, ga ding. Ironis banget! Yang bener, aku langsung turun untuk ganti bis. Eh, ada Kopaja 602 jurusan Tanah Abang. Aku pikir pastinya Kopaja ini lewat Kampung Melayu. Seiring berjalannya waktu, aku mulai curiga. Karena Kopaja 602 ini malah menuju ke arah Kuningan. Berarti ga lewat Kampung
Melayu dung! Ya sudahlah, mau turun juga ga enak banger. Hujan turun deras sekali. Beberapa ruas jalan terendam setinggi mata kaki. Banjir euy. Tapi aku sangat menikmati perjalanan ini. Hehe... Pada akhirnya aku turun di depan Blok A Tanah Abang. Jalan kaki lewat jembatan kecil, air masih setinggi mata kaki. Untungnya, trotoar jembatan lebih tinggi dari jalan sehingga tak perlu berbasah-basah ria! Hujan masih turun rintik-rintik.
Gamang.. Mau ke Gramedia Matram
an harus naik Kopaja 502. Tapi kalau naik Kopaja 502 makan waktu lama plus harus siap basah-basahan. Akhirnya, di tengah kemacetan depan Blok A Tanah Abang, ada sebuah taksi yang ikut-ikutan berada di barisan itu. Hehe... Langsung aku ketok kaca jendela sopirnya. Dibuka sang sopir.
”Pak ke Matraman ya?? Gramedia!”
“Ya..”

Langsung masuk ke taksi. Awalnya taksi berjalan begitu pelan. Macet di tengah banjir. Tapi alhamdulillah, bisa keluar dari kemacetan dan melaju menuju Gramedia Matraman. Untungnya ongkosnya ga terlalu mahal (dah ketar-ketir nih... jatah beli buku kan bisa berkurang!)
Sampai jualah di Gramedia Matraman. Inilah salah satu tempat “nongkrong” favorit saya (buka rahasia nih). Selain bukunya komplit, bisa baca buku sampai puas (meski pada kenyataannya ga pernah merasa puas!
).
Langsung meluncur ke Lantai 3. Memilah dan memilih beberapa buku yang wajib dibeli, tentunya disesuaikan dengan budget yang sudah dipatok sendiri (Ingat! Usahakan selalu ”besar tiang daripada pasak”...hehe... terus rajin menabung dan membeli buku... ^^v).
Setelah beberapa buku sudah dibeli (kali ini terpaksa juga beli ”Muslim Padat Karya” juga. Lha penulisnya pelit.. ga mau ngasih gratisan!! Peace boz!), lanjut turun ke lantai 2. Rencana mau bayar di kasir. Eh, ternyata ada BINCANG BUKU bersama Tasaro GK, penulis novel Muhammad : Lelaki Penggenggam
Hujan. Tertarik. Wah, dah penuh... Akhirnya berdiri di deretan belakang. Selang berapa menit, alhamdulillah ada yang meninggalkan tempat. Bisa duduk deh (meski posisinya juga masih di belakang... ga papalah!).
Wah, dah telah nih!!! (agak nyesel : mode on). Tapi alhamdulillah masih ada kesempatan sharing dengan Kang Tasaro. Beliau cerita tentang reaksi penolakan ibunya saat beliau mengungkapkan keinginannya untuk menuliskan novel tentang Muhammad. Ibunya langsung bilang, ”OJO!!!” (Jangan!!!). Tapi akhirnya, Tasaro berhasil menuliskan novel itu dan mendedikasikan novel tersebut pada ibunya (bisa dibaca pada halaman awal novel tersebut)
Dedikasi buku : Kudedikasikan buku ini segenap hati untuk perempuan berbalung baja UMI DARIYAH, Engkau pernah begitu khawatir ketika aku memulai proyek ini. “Bahaya Le. Bagaimana kalau kamu nanti dicerca orang-orang?” tanyamu. Kujawab begini hari ini, “Ibu, jika kelak ada orang yang salah paham dengan terbitnya buku ini, aku yakin itu terjadi karena mereka mencintai Kanjeng Rasul. Dan, percayalah Ibu, aku menulis buku ini, disebabkan alasan yang sama
Hmm, awalnya saya mengenal Tasaro hanya dari seorang teman (inisal ”FC”) yang katanya mau mewawancarai Tasaro untuk komunitas yang kami kelola. Penasaran. Akhirnya, tahu juga kalau Tasaroa adalah seorang penulis novel tentang Muhammad. Tadi sempat mau beli novel itu, tapi akhirnya tertuju pada pilihan buku yang lain. Tasaro G.K lahir di Gunung Kidul, 1 September 1980. Tasaro pernah menjadi wartawan selama lima tahun. Penghargaan yang pernah diperoleh : FLP Award (2006), Penghargaan Menpora (2006), Juara Cerbung Femina (2006), Juara Skenario Nasional Direktorat Film (2006 & 2007), Penghargaan Adikarya Ikapi, 2009, Anugerah Pena (2009). Kini menjalani profesi sebagai editor, dan penulis tentunya! Sudah punya seorang istri, namanya Alit Tuti Taufiq, dan seorang anak : Senandika Himada (nama Himada terinspirasi dari nama Rasulullah SAW dan menjadi judul pada Bab I : Himada! Himada!). Hmm... mangtabz!
Pada bincang buku kali ini, Tasaro juga mengisahkan bahwa sosok yang memberi kritikan terbesar pada novelnya adalah sang editornya.
Pada kesempatan itu, juga ada testimoni dari seorang pengunjung yang beragama Kristen. Beliau sangat mengapresiasi novel karya Kang Tasaro tersebut..
Wah, karena keasyikan, jadi lupa belum bayar!
Akhirnya melangkah ke kasir. Membayar. Trus ke mushola untuk sholat Asar. Setelah sholat, pengin langsung pulang karena udah ada konser di perut (padahal masih sore). Antara kaki dan kepala tidak sinkron. Perut mengatakan : Pulang aja, dah laper! Isi kepala mengatakan : Ikut bincang buku lagi aja! Mumpung ada Kang Tasaro. Ternyata Menang isi kepala. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke lantai 2, melanjutkan bincang buku dengan Kang Tasaro. Rasa lapar langsung ku ’binasakan’, diganti rasa penasaran dan semangat untuk meraup inspirasi dari Kang Tasaro. Sampai di TKP, sudah sampai ke sesi pembagian doorprize. Walah, meski dah angkat tangan, tetap aja ga ditunjuk. Bukan rezekiku kali ya dapat kaos dan tasnya. Hehe...
Pada pembagian doorprize ini, ada seorang peserta yang diminta Kang Tasaro untuk membaca Jejaring Muhammad (setelah kubaca sendiri... DAHSYAT!!!)
Baca ya... nih.. (tapi yang lengkap ada di bukunya.. ini hanya sebagian...)
**
JEJARING MUHAMMAD
Pukul 00.55. Saya masih asyik dengan Facebook. Saya ketakutan. Kepala saya seperti digerayangi kengerian. Merinding. Seperti ada yang memperhatikan saya. Sumpah, ini bukan soal jin tomang, kuntilanak, sundel bolong, suster ngesot, dan pasukannya. Ini lebih… spiritual. . Saya seperti merasakan kehadiran Tuhan. Apapun itu. Media apa pun itu. Ini benar-benar sangat spiritual. Mengerikan, tapi juga menenangkan.
Semua bermula dari kementokan.
Saya tidak sanggup bergerak setelah novel itu sampai di halaman folio 252 spasi satu. Ada yang salah. Saya tahu ada yang salah. Menuliskan kisah Muhammad SAW bukan sekedar mengumpulkan sudut pandang Haikal, Martin Lings, Tariq Ramadhan, karen Armstrong, Ibnu Hisyam , dan para penulis yang memahat namanya pada dinding sejarah Muhammad. Tidak. Bukan sesederhana itu. Sebab, saya telah melakukannya dan tetap saja merasa ada yang salah.
Malam itu, sampai pukul 00.00, editor saya bertandang ke rumah. Sedari Maghrib kami berbincang banyak. Dia pemuda fantastik yang sudah tidak butuh pujian. Orang memanggilmu filsuf muda, saya menjulukinya santri gaul.
“Apa yang akan kita bahas malam ini?” tanyanya.
Saya tahu dia bingung. Naskah saya belum berkembang. Padahal, penerbit ingin naskah ni sudah launching awal Januari 2010. Saya katakan kepadanya, saya merasa ada yang salah. Kami kemudian sedikit sekali berbicara tentang teknis naskah. Kami lebih banyak berbincang tentang hidup dan tentang Muhammad.
Dia meyakinkan saya, tidak ada yang kebetulan. Kami saling mengenal sungguh dengan cara baik. Saya tahu dia, dia tahu saya. Tapi kami belum pernah bertemu. Hingga ada seseorang yang membuat kami tak sanggup lagi menampik “jejaring” itu; kami memang harus saling mengenal. Sebelum penerbit meminta dia menjadi editor saya, sudah sejak lama saya memintanya secara pribadi. Dulu dia selalu menolak. Tiga kali saya minta, tiga kali dia menolak.
Ini tentang Muhammad SAW.
Setelah berbulan-bulan saya menggeluti segala literature tentang Muhammad SAW, saya merasa menyerah. Tak sanggup lagi. Saya merasa terkait dengan Rasulullah. Terkait secara emosional. Yang saya lakukan hanyalah menovelkan kisah hidupnya. Itu tidak cukup. Saya benar-benar menyerah. Salman Faridi, petinggi Penerbit Bentang salah orang ketika mendatangi saya dan meminta saya menulis novel tentang Muhammad SAW.
Salah orang. Saya ini Muslim yang payah sekali. Kualitas keimanan saya belum juga membaik. Saya kadang terlalu rasional. Tidak merasa terkait dengan Tuhan. Shalat sekadarnya saja. Doa tidak dibarengi percaya. Ini benar-benar kecelakaan. Salman salah orang.
Malam tadi, ketika sang editor, Fahd Djibran, pamitan, saya berkata, “Seperti pembuat keris, tampaknya saya butuh sebuah ‘ritual’ khusus. Entah apa itu. Sesuatu yang membuat saya yakin untuk menyelesaikan proyek ini.”
Setelah dia benar-benar pulang, saya merenung. Apa sebenarnya yang terjadi pada saya? Sejak kecil saya selalu meyakini Allah dengan cara sendiri. Lingkungan tidak menjanjikan sebuah pemahaman tauhid yang paripurna. Tapi saya tahu, saya terjaga. Entah bagaimana, bisa. Bahkan saya cuma sesekali ikut TPA. Saya bisa membaca hijaiyah umur 22. Sangat terlambat. Tapi entah bagaimana, saya merasa terjaga. Saya tidak menjadi penyembah keris, pohon, atau klenik lainnya. Saya percaya Allah. Saya menghindari makanan yang diharamkan. Begitu saja. Tanpa ilmu sama sekali.
Kemudian waktu berjalan cepat. Saya tumbuh. Sisi spiritual saya tidak tertatah. Maksiat… oh… maksiat. Mungkinkah itu yang membangun tembok antara saya dan Tuhan. Saya tetap sadar Dia mengelilingi saya dengan “matanya”. Tapi saya tidak terlalu peduli. Saya malas belajar lagi untuk mendekati-Nya. Saya hanya menggulirkan hari-hari. Saya tahu saya religius. Minimal sebagai pengarang, saya tidak menulis dengan gaya Fredy S, atau model Nick Carter (bacaan saya waktu SMP). Tapi religiusitas itu sampai di situ saja. Sampai pada tahap saya tidak mau panen royalti di akhirat nanti. Royalti keburukan. Tidak lebih dari itu.
Saya berpikir lagi. Ada apa dengan saya? Ini kesalahan besar. Orang yang semacam saya, mengapa menulis tentang Muhammad SAW? Siapa saya? Saya bentangkan lagi apa pun yang pernah terjadi pada hidup saya. Perlahan tetapi pasti, saya merasa ada keanehan-keanehan. Iseng saya mengecek koleksi buku saya. Tiga buku tentang Muhammad SAW saya ambil. Sekedar ingin tahu, saya mengecek halaman awalnya. Dulu saya punya kebiasaan mencatatkan tanggal, bulan, dan tahun membeli buku.
Seketika saya merasa ada yang tidak biasa. Tiga buku itu : Muhammad sang Pembebas, saya beli pada 12 November 2003, Muhammad sang Nabi pada 14 November, dan Dialah Muhammad pada 20 Muhammad 2003. Dahi saya berkerut. Saya merasa tidak akrab dengan Rasulullah, tidak berkoneksi dengan baik, tidak mengenalnya. Namun, bagaimana mungkin enam tahun lalu, dalam sebulan saya membeli buku tebal-tebal tentang beliau?
Jeda pembelian buku itu memperlihatkan sebuah antusiasme. Tiga buku itu pun sangat lusuh. Artinya saya tidak membelinya sebagai koleksi. Saya benar-benar membacanya. Jadi, enam tahun lalu saya pernah begitu cinta kepada Muhammad SAW. Sesuatu yang selama bertahun-tahun kemudian mongering. Bahkan saya lupa pernah begitu penasaran terhadap dirinya.
“Keanehan” itu lalu saya beritahukan kepada Fahd melalui SMS, Dia membalas dengan sebuah perintah yang membuat saya shock. “Masih ingat diskusi kita tentang cahaya Tuhan yang ditampakkan kepada Musa? Bacalah Surat Tha Ha/Muhammad (20) ayat 12 dan 14, malam ini juga. Lihat maknanya. Perhatikan konfigurasi angkanya. Tidak ada peristiwa yang kebetulan, bukan?”
Saya belum mandi. Belum berwudu. Merasa kotor. Tapi saya tidak peduli. Saya raih Al Qur’an. Lalu mencari dua ayat itu.
“Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah suci, Tuwa.” (Q.S. 20 : 12)
“Sungguh aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakan sholat untuk mengingat Aku.” (Q.S. 20 :14)
Perlahan tapi sangat pasti, saya merasa ada yang menggerayangi kulit kepala saya. Merinding bukan main. Sedikit histeris ketika akhirnya sadar, angka-angka itu! 12… 14… 20. Tanggal-tanggal itu!
Setelah saya curhat tentang tembok antara saya dengan Tuhan, tidak ada koneksi antara saya dengan Rasulullah, seperti seketika ayat-ayat itu disorongkan ke depan mata saya, “LEPASKAN TEROMPAHMU!” Lepaskan duniamu, logikamu, rasionalitasmu, kesombonganmu! (saat menuliskan ini, air mata saya meleleh, tangis saya muncrat dengan suara jelek sekali).
“Kita tidak pernah tahu apa yang menggerakkan Mas Tasaro membeli buku-buku tentang Muhammad pada tanggal 12, 14, dan 20 dalam satu bulan yang sama. Aku juga tidak tahu (si)apa yang menggerakkan untuk membuka Al-Qur’an surah 20 ayat 12 dan 14 dan menyarankanmu membacanya.”
Itu SMS dari Fahd setelah saya mengabarinya sesuatu yang jarang terjadi, “Fahd, akhirnya aku menangis!”
Setelah detik itu lalu saya mengurai lagi apa yang sebenarnya telah mengantar saya ke hari ini. Sebuah jejaring raksasa pada sebuah nama, sebuah konsep, sebuah keagungan: MUHAMMAD. Yah… ini semua… 29 tahun ini… semua sedang menuju sebuah titik : MUHAMMAD
-bersambung-
Tasaro GK
**
SUBHANALLAH!!!!
***
Setelah acara selesai, aku langsung beli bukunya Kang Tasaro. Trus berjalan ke panggung, minta tanda tangan, kata inspiratif, dan foto bareng deh!!!
Pada halaman depan buku Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan itu, Kang Tasaro menuliskan :
”Buat ETIKA… Ada yang mulia dalam namamu…”
Sempat ngobrol sebentar dan memperkenalkan diri. Kang Tasaro bercerita kalau novel ini digarap dalam waktu 6 bulan. Setelah itu sedikit ”memaksa” Kang Tasaro untuk menuliskan lagi kata inspiratif buatku.
”Menulis sampai mati” (Tasaro GK).
Makasih banget ya Kang Tasaro!!!
***
Pulang dari Gramed langsung update status :
”Laksana burung yg pergi pagi dan pulang di senja hari dgn perut kenyang! Alhamdulillah, seharian ni berPETUALANG yg sungguh INSPIRATIF, pulang bw bnyk "oleh-oleh".. Pngalaman, proyek bisnis, buku2, ilmu, ukhuwah, ktmu ma pnulis trkenal, dll. Terima kasih Ya Allah.. Siap ditulis dan upload d blog.. Jgn lp brknjung k zona inspirasi Aisya Avicenna => THICKO ZONE ^^v”
***
Dalam perjalanan ke kost, membaca cover belakang novel setebal 540-an itu...
Kashva pergi dari Suriah, meninggalkan Khosrou, sang penguasa Persia, tempatnya mengabdikan hidup demi menemukan lelaki itu : Muhammad, Al-Amin yang kelahirannya akan membawa rahmat bagi semesta alam, pembela kaum papa, penguasa yang adil kepada rakyatnya. Kehidupan Kashva setelah itu berubah menjadi pelarian penuh kesakitan dan pencarian yang tiada henti terhadap sosok yang dijanjikan. Seorang Pangeran Kedamaian yang dijanjikan oleh semua kitab suci yang dia cari dari setiap ungkapan ayat-ayat Zardhusht sampai puncak-puncak salju di perbatasan India, Pegunungan Tibet, biara di Suriah, Istana Heraklius, dan berakhir di Yatsrib, sang Kota Cahaya. Hasrat dalam diri Kashva sudah tak terbentung lagi. Keinginannya untuk bisa bertemu dengan Muhammad demikian besar hingga tak ada sesuatu pun yang membuatnya jerih. Bahkan maut yang mengintai dari ujung pedang tentara Khosrou tak juga meyurutkan kerinduannya bertemu Muhammad. Kisah pencarian Kashra yang syahdu dalam novel ini akan membawa kita menelusur Jazirah Arab, India, Barrus, hingga Tibet.
Bagaimana kisah selengkapnya???
Hmm, aku akan segera menemukan jawabannya!!!
Bacaan wajib pekan ini nih...
”Buat ETIKA… Ada yang mulia dalam namamu…”
Tulisan Kang Tasaro itu menginspirasi untuk lebih mengenal siapa sejatinya diri ini. Karena ... dengan begitu akan mengenal Allah SWT dan orang-orang yang dicintaiNya, termasuk Rasulullah SAW..

Jakarta, 24 Mei 2010, 17:07
Aisya Avicenna