Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Selamat Datang di Ruang Karya Keisya Avicenna... ^___^ Terima kasih atas kunjungannya... Semoga bermanfaat!

Jejak-Jejak Karya

Jejak-Jejak Karya

Langganan Tulisan dari Blog ini yuk!

My Blue Bird

http://www.bluebirdgroup.com/taxi-mobile-reservation

Waktu adalah Pedang


Home » » GORESAN TINTA ‘SATU HARI’ INSAN PERINDU SURGA [RAMADHANKU…]

GORESAN TINTA ‘SATU HARI’ INSAN PERINDU SURGA [RAMADHANKU…]



Catatan ini berisi tentang diary seorang muslim selama satu hari dalam kehidupannya di Bulan Ramadhan. Semoga diary satu hari ini dapat menginspirasi dan memotivasi kita, dapat kita pelajari untuk kemudian lebih kita tingkatkan kepada derajat yang lebih tinggi lagi.

1. SHUBUH
Ia tersentak dari tidurnya setelah bunga tidur membawanya ke suatu tempat yang ia sendiri pun tidak tahu, karena ia sangat menikmati tidur tersebut. Ia memang lelah dan letih setelah seharian beribadah (maksudnya ibadah adalah semua detk-detik hidupnya hari itu ia niatkan untuk Allah SWT). Alangkah nikmatnya tidur, terucap dzikir olehnya, “Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi kehidupan kepadaku dan kepada-Nyalah aku akan dibangkitkan”.

Beginilah kiranya hari dibangkitkan, satu kali dongakan, lalu semuanya berkumpul. Ia bangkit, membersihkan dirinya dengan wudhu yang suci sebelum datang bala tentara syaitan yang membuat ia tidur kembali.

Setelah itu ia sahur, bersama sahabat-sahabat kostnya, kemudian ketika mendengar Adzan Shubuh, ia melakukan shalat Sunnah Fajar secara ringkas lalu ia menuju masjid dengan tenang. Imam bertakbir, ia telah mengambil shaf di belakang imam, bertakbir bersamanya.

Allahu akbar, ia angkat tangannya, ia besarkan Allah SWT dalam dirinya, sedangkan dirinya adalah debu yang tidak ada arti. Sekarang, debu itu telah diizinkan menghadapkan Dzat yang Maha segalanya, dengan apa ia harus menghadap? Sedangkan ia seorang yang tidak punya daya dan upaya. Apa yang ia minta kepada Dzat yang memiliki semuanya, dengan sebanyak itu permintaannya, disaat itu sisi pertanyaan lain muncul, layakkah ia meminta dan memohon, sedangkan ia hamba yang sering membangkang kepada majikannya. Untuk bisa diterima berdiri dihadapannya saja sudah sebuah keutamaan, biarlah ia tidak meminta, mengakui dan menghitung kesalahannya saja sudah cukup baginya, begitulah ia dalam shalatnya sampai salam.

Setelah selesai berdzikir, lalu ia berdiri. Ia telah memasang niat untuk kuliah, menuntut ilmu sebagai bekal mewujudkan cita-citanya. Tak lupa sampai di kampus, ia sempatkan untuk sholat dhuha di mushola dan senantiasa mengisi waktu luangnya dengan mengaji dan mengkaji ayat-ayat suci Al Qur’an. Rasanya ibadahnya yang tadi sudah cukup menggoreskan norma ibadah dalam kesibukan dunianya.

2. DHUHUR
Adzan di masjid kampus dikumandangkan, ia tinggalkan semua kesibukan, lalu ia berangkat ke masjid, ia tuangkan air ke anggota wudhunya yang zhahir, dimulai dari muka. Ia sentuh muka yang seharian telah banyak melihat, rasa malu muncul. Bagaimana mungkin ia hanya membersihkan kulit muka tanpa membersihkan batin muka, tidak tahukah ia, kepada siapa ia menghadap? Apakah yang telah ia bangun tadi pagi, harus ia runtuhkan siang ini?? Tidak !!! ia harus kembali meminta dan memohon, ia sadari betul bahwa ia tidak akan bisa lepas dari Penciptanya, ia dapat melihat kesalahan dosanya tersebut jatuh bersamaan tetesan dari air wudhunya. Begitu seterusnya pada anggota wudhunya yang lain. Ia pun shalat dengan caranya yang tadi pula.

Dalam perjalanan pulang ke kost, ia sempat bertemu dengan seorang nenek yang biasa meminta-minta di lingkungan kampus. Wajah yang kian hari kian renta, namun nenek itu sebatang kara, entah dimana sekarang keluarganya. Ia berikan sebagian uang sakunya. Semoga dapat meringankan bebanmu ya nek…

3. ASHAR
Setelah melakukan shalat dan membaca Al Qur’an, ia pulang. Target dalam satu hari minimal 1 juz membaca Al Qur’an dan mentadhaburi artinya. Lalu ia duduk mengetik surat undangan kajian yang telah diamanahkan kepadanya oleh pengurus masjid kampus.
Sambil menunggu waktu berbuka, ia membersihkan kost-kostan yang selama ini sudah ia anggap sebagai miniatur kehidupannya sambil mendengarkan lantunan murrotal yang mengalun begitu syahdu, sambil ia murojaah hafalan Al Qur’an-nya. Telinganya mendengar, hati dan pikirannya meresapi apa yang didengar tetapi tangannya tetap bekerja.

Setelah selesai, ia membersihkan diri kemudian bersiap buka puasa bersama sahabat-sahabat kostnya. Sebagai aktivis masjid kampus, terkadang ia pun bertugas menyiapkan makanan berbuka (ifthor) di masjid. Tapi memang hari ini bukan gilirannya bertugas. Jadi, ia pun menyempatkan diri untuk bisa berbuka puasa bersama sahabat-sahabat kostnya yang sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri.

4. MAGHRIB
Shalat berjamaah adalah hari-harinya. Meramaikan hati dengan perjalanan spiritualnya yang panjang dengan Allah SWT. Setiap pertemuannya dengan Allah SWT, di shalat-shalat itu, lain pula cerita dan lain pula munajatnya, ceritanya dengan Allah SWT jauh lebih panjang dari cerita kehidupan dunianya.

Setiap geraknya ia bawakan kepada Allah SWT, setiap ia berbolak-balik dalam nikmat-Nya, ia pulangkan semuanya kepada Allah SWT. Kadang-kadang keluar dari mulutnya kata, “Alhamdulillah”. Akan tetapi, arti kata itu dalam dirinya begitu mendalam, sejalan dengan nikmat yang telah ia resapi itu. Kalau ia sedang meresapi itu, baru terasa baginya kehidupan.

5. ISYA’, TARAWIH DAN WITIR
Isya’, berangkatlah ia bersama sahabat-sahabatnya ke masjid. Menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat sunah Tarawih dan Witir.

Berangkat dengan niat bertemu kawan-kawannya fillah, bagaimana ia tidak bahagia, mereka-mereka itu adalah manusia pilihan Allah SWT, nafasnya sama dengan nafas mereka, alur pikirannya sama dengan alur pikiran mereka, di saat nafas dan pikiran manusia kebanyakan telah rusak. Baginya, mereka adalah pelipur lara dari keterasingannya. Mereka adalah obat dari segala kesedihannya di dunia. Mereka adalah gambar yang hidup, yang menjadi penyemangat dirinya untuk selalu istiqomah di jalan Allah SWT.

Benar, ia tertawa lepas bersama mereka, karena tertawanya dengan yang lain adalah tertawa yang tertahankan. Mukanya manis dengan mereka, karena manis mukanya kepada yang lainnya adalah manis yang dipaksakan.
Begitulah, sampai ia pulang ke “miniatur kehidupannya” dengan berharap akan surga dan takut akan neraka.

[Keisya Avicenna, sumber inspirasi : Buku ‘BERSEMILAH RAMADHAN’….6 Ramadhan 1431 H]

0 komentar:

Pencarian

Popular Posts

Arsip Blog