Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Selamat Datang di Ruang Karya Keisya Avicenna... ^___^ Terima kasih atas kunjungannya... Semoga bermanfaat!

Jejak-Jejak Karya

Jejak-Jejak Karya

Langganan Tulisan dari Blog ini yuk!

My Blue Bird

http://www.bluebirdgroup.com/taxi-mobile-reservation

Waktu adalah Pedang


Home » » Kepompong Romadhon

Kepompong Romadhon




Seekor ulat berbulu bergelayut di batang pohon jambu. Sebab terpaan angin, ulat tadi tidak mampu bertahan di dahan hingga akhirnya si ulat jatuh. Namun karena ia memiliki jaring yang kuat akhirnya tubuhnya tidak sampai jatuh terbanting ke tanah. Cukup lama ia bergelayut, sementara angin masih bertiup menggoyangkannya. Dan akhirnya, ulat itu berhasil sampai ke tanah. Lalu berjalan mempercepat langkahnya dengan kaki-kakinya yang mungil, tubuhnya tampak bergeliat menggelikan.

Lalu ulat itu naik kembali ke batang jambu, dan berdiam diri hingga lama. Semakin lama ia berubah bentuk menjadi kepompong, dalam waktu kurang lebih 14 hari ulat yang menggelikan ini menjadi kupu-kupu yang cantik dan menggemaskan. Subhanallah, mantap…. Ulat bisa jadi kupu-kupu! Si ulat menjalani prosedur metamorfosa dengan sangat tertib dan taat. Andai ia menjalani aturan seenaknya dan masa bodoh dengan prosedurnya, pastilah gagal dan membusuk.

Nah, Romadhon kali ini hadir sebagai ladang untuk berubah. Sebagaimana niat yang direncanakan, maka perubahan itu sesuai dengan apa yang kita niatkan. Setelah niat direncanakan, mari ikuti prosedur yang ada. Mengapa harus ikut prosedur? Sebab itulah aturan mainnya supaya bisa jadi juara.

Allah memerintahakan orang beriman untuk berpuasa tidak sekedar menahan lapar dan haus, melainkan menahan diri dari segala perbuatan yang tidak baik. Hingga pakar kimia pun tidak berani membuat suatu percobaan dengan sembarangan, apa lagi tanpa mengikuti takaran yang sudah ditentukan. Kelebihan atau kekurangan bahan bisa membuahkan hasil yang mengecewakan.

Maha suci Allah yang membentangkan hamparan pahala sebanyak-banyak di bulan yang berkah. Alangkah ruginya bila wadah untuk menampung curahan pahala itu teramat kecil, lebih baik kita sediakan wadah yang lebih besar. Yaitu dengan totalitas ibadah yang lebih meningkat dari biasanya. inysaAllah….


(Dari Tarbawi, Hidayatullah dan sedikit pengalaman mengamati ulat. ^_^)


selamat menunaikan Ibadah Puasa, Mohon maaf lahir dan batin ya...

0 komentar:

Pencarian

Popular Posts

Arsip Blog