Jejak Karya

Jejak Karya

Thursday, September 24, 2020

KEGIATAN LITERASI UNTUK MENUMBUHKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA ANAK

 


Salah satu langkah yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas sumber daya manusia di suatu negara dapat dilakukan dengan mengukur kualitas literasi masyarakat negara tersebut. Negara-negara maju menggunakan pengukuran literasi sebagai batu pijakan bagi proses perbaikan di bidang pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia.

Budaya literasi membutuhkan beberapa kompetisi dasar seperti Creativity (kreativitas), Communication (komunikasi), Collaboration (kolaborasi), dan Critical Thinking (berpikir kritis), juga bermodalkan HOTS (High Order Thinking Skill). Konsep HOT Skills meliputi konsep mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Perkembangan konsep ini didasarkan pada sifat anak-anak yang cenderung mempunyai daya ingat dan daya pikir yang kuat. Jika diterapkan dalam mendidik anak, konsep HOT Skills dipercaya mampu menumbuhkan keterampilan berpikir kritis.

Kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Namun, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam  masyarakat. Menurut UNESCO, literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.

Deklarasi UNESCO itu juga menyebutkan bahwa literasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Kemampuan-kemampuan itu perlu dimiliki oleh setiap individu dan itu bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat.

Ada enam jenis literasi yang perlu kita ketahui termasuk kegiatan yang dapat dilakukan oleh anak-anak untuk mengasah kemampuan berpikir kritis mereka yaitu :

1.    Literasi Baca dan Tulis

Literasi baca dan tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial. Kegiatan literasi ini yang nantinya akan lebih banyak saya bahas karena setiap hari menjadi aktivitas yang saya tekuni bersama DNA Writing Club.

 

Contoh kegiatan literasi baca dan tulis:

Belajar menulis cerita

Menulis adalah cara terbaik bagi anak-anak untuk mempelajari hal-hal baru dan mengingatnya. Anak-anak yang belajar menulis cerita sejak dini akan mampu belajar dengan mudah, efektif, berpikir secara sistematis, dan lebih percaya diri. 

 

Menurut Ary Nilandari, menulis dapat membantu anak mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Ya, benar sekali. Anak-anak yang terbiasa menulis sejak dini, akan terbiasa membaca kehidupan  di sekelilingnya secara kritis.

 

Dua anak yang melakukan perjalanan dan kunjungan ke suatu tempat yang sama, ketika diminta untuk menuliskan hasil pengamatan dan observasinya di tempat tersebut, akan menghasilkan dua buah tulisan yang berbeda. Dari sini, mereka belajar tentang perspektif atau sudut pandang.

 

Menulis adalah salah satu cara memberikan tanggapan dengan perspektif atau sudut pandang masing-masing. Anak-anak belajar bahwa lingkungan di sekitar mereka begitu kompleks dengan beragam sudut pandang.

 

Read aloud (membacakan buku secara nyaring/suara lantang)

Orang tua dapat memilihkan buku sesuai usia anak, seperti picture book,

cerpen atau dongeng, lalu menyampaikan isi buku/teks, kata demi kata

dengan intonasi yang menarik dan penuh ekspresi.

 

Membaca buku cerita secara mandiri.

Membaca bukanlah sekadar meningkatkan keterampilan berbahasa. Membaca adalah sebuah proses pembaruan pikiran, di mana seseorang akan menerima suatu hal yang dapat membantu terbentuknya sel otak baru dalam setiap penyerapan informasi. Membaca banyak sekali manfaatnya bagi anak-anak.

 

Sebagai orang dewasa yang ada di sekitar anak-anak, tugas kita adalah to educate (mendidik), to empower (menguatkan), dan to enrich (memperkaya cara pandang) anak-anak.

 

Tujuan literasi tidak dapat tercapai tanpa adanya peranan orang tua di rumah. Hal-hal yang dapat dilakukan orangtua untuk menunjang pembiasaan menulis dan membaca seorang anak adalah membacakan buku dan membuat perpustakaan di rumah.

 

Rasa cinta anak terhadap buku bukan timbul secara mandiri, tapi karena distimulasi oleh orang-orang yang ada disekilingnya. Orangtua yang gemar membaca akan diikuti oleh anak-anaknya, karena pada dasarnya anak mengamati dan mencontoh apa yang dilakukan oleh orangtuanya.

 

Memulai dari diri sendiri merupakan langkah awal untuk menanamkan kebiasaan membaca pada anak. Orangtua juga dapat membuat sebuah perpustakaan yang dapat dijangkau oleh anak. Letakkan buku di tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh anak-anak.

 

 

2.     Literasi Numerasi

Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk bisa memperoleh, menginterpretasikan, menggunakan, dan mengomunikasikan berbagai macam angka dan symbol matematika untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari; bisa menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.) untuk mengambil keputusan.

Kegiatan literasi numerasi yang dapat dilakukan dengan anak, antara lain:

Praktik berbelanja di pasar, belajar menghitung benda tertentu, belajar membaca tabel juga grafik, dan masih banyak kegiatan lain yang bisa disesuaikan dengan usia dan tahap tumbuh kembang anak.

 

  1. Literasi Sains

Literasi sains adalah pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasarkan fakta, memahami karakteristik sains, membangun kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual dan budaya, serta meningkatkan kemauan untuk terlibat dan peduli dalam isu-isu yang terkait sains.


Alhamdulillah, di Semarang ada Komunitas Ilmuwan Cilik yang sering mengadakan kegiatan praktik sains untuk anak-anak mulai usia 5 tahun. Tentu saja, hal ini sangat bermanfaat untuk menumbuhkan kemampuan anak-anak dalam berpikir kritis. Selain itu, kegiatan sains bisa kok diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan peralatan sederhana yang ada di sekitar kita. Misalnya saja, ketika mengenalkan konsep mengapung-melayang-tenggelam dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di dapur, mengenalkan pertumbuhan tanaman dengan menanam biji kacang hijau, dan banyak lagi.

 

  1.  Literasi Digital

Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.


Anak-anak sekarang adalah anak generasi alfa yang akrab dengan dunia digital bahkan sejak sebelum mereka lahir. Karena itu, pengetahuan dan pemahaman tentang literasi digital ini patut dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran mereka. Salah satu yang pernah menjadi proyek saya dan anak-anak DNA Writing Club adalah membuat konten positif di media sosial. Waktu itu, kami membuat proyek short movie di channel You Tube “DNA Writing Club”. Alhamdulillah, dari kegiatan ini anak-anak belajar untuk mengeksplorasi potensi mereka masing-masing, mengasah kemampuan berdiskusi untuk menyusun naskah skenario, belajar bekerja sama, dan banyak lagi.

 

  1. Literasi Finansial

Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan, dan motivasi dan pemahaman agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat. Anak-anak harus diajarkan bijak mengelola keuangan sejak  dini. Misalnya, orang tua memberikan pengarahan mengenai penggunaan dan pengaturan uang saku, mengajarkan budaya menabung, berhemat, dan banyak lagi.

 

  1. Literasi Budaya dan Kewargaan

Literasi budaya adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat.

Dalam literasi ini, anak-anak dapat didorong untuk mengenal keanekaragaman budaya di Indonesia, berlatih berpikir kritis dalam menyikapi perbedaan, menyelami makna “Bhinneka Tunggal Ika”, dan banyak kegiatan kreatif lainnya yang bisa dilakukan orang tua bersama anak di rumah.

 

Nah, seluruh elemen mempunyai peranan penting untuk meningkatkan budaya literasi. Membentuk masyarakat menjadi pribadi literat di segala jenjang merupakan tugas bersama dan saling terikat. Kegiatan ini tidak bisa dikerjakan secara parsial.

 

Pemerintah, masyarakat, guru, orang tua, pustakawan, penulis, penerbit dan segala pemangku kebijakan dan kepentingan mempunyai tanggung jawab yang sama untuk meningkatkan kualitas literasi masyarakat Indonesia. Sebagus apapun program pemerintah, jika tidak didukung oleh masyarakat yang di bawah tentu tidak akan menghasilkan.

 

Semakin tinggi kesadaran masyarakat untuk membangun budaya literasi, maka kemampuan berpikir kritis akan semakin terasah. Akhirnya, diharapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional dapat diwujudkan bersama.

 




 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Salam,


Keisya Avicenna